Destiny of Us
Chapter 10
Main Casts : Park Chanyeol and Byun Baekhyun (GS)
Other Casts : Find it by yourself
Genre : AU, Drama, Family, Marriage Life, Romance
Length : Multichapter
2017©Summerlight92
Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini Chanyeol dan Baekhyun memilih untuk menikmati makan malam mereka di kamar hotel. Chanyeol terlihat menemui pegawai hotel yang mengantarkan menu makan malam mereka, menggunakan trolley makanan. Ia mengenakan setelan santai, kaos berlengan panjang warna abu-abu dengan garis putih, dan bawahan celana panjang katun warna hitam. Bibirnya melengkung, memperlihatkan senyuman tipis usai mengucapkan terima kasih pada pegawai tersebut.
Secara spesial, Chanyeol menata sendiri meja makan dengan hidangan makan malam yang baru saja diantar—tanpa bantuan dari pegawai hotel. Bukan tanpa alasan Chanyeol bersikap demikian. Mengingat suasana hati pria itu tengah dalam kondisi yang sangat baik. Apalagi jika bukan karena pengakuan cintanya terhadap Baekhyun yang juga berbalas serupa.
Rasanya malam ini seperti langkah awal bagi Chanyeol dan Baekhyun dalam kehidupan pernikahan mereka.
"Siap," Chanyeol tersenyum puas atas hasil karyanya menata meja makan. Ia melirik jam tangannya, lalu disusul kerutan samar yang muncul di kening. "Baekhyun kenapa lama sekali, ya?"
Chanyeol meninggalkan ruang makan sejenak, beralih menuju kamar tidur. Sekitar 30 menit yang lalu, Baekhyun diketahuinya masih berada di kamar mandi dalam. Namun hingga pegawai hotel datang dan Chanyeol selesai menata meja makan, gadis itu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Muncul sebersit perasaan khawatir dalam benak Chanyeol.
Tepat saat Chanyeol membuka pintu kamar, Baekhyun terlihat muncul dari kamar mandi. Menemukan keberadaan istrinya, Chanyeol tentu bernapas lega. Namun ketenangan Chanyeol seketika sirna kala mendapati raut pucat wajah istrinya.
"Sayang, kau baik-baik saja?" Ia menghampiri Baekhyun, kemudian menangkup pipi gadis itu. Bola mata Chanyeol nyaris keluar setelah merasakan suhu tubuh istrinya yang terlampau panas. "Astaga, tubuhmu panas sekali!"
Gadis itu menggeleng lemah, "Aku ... baik-baik saja, Oppa," lirihnya berusaha menyangkal. Kendati kepalanya sekarang terasa pusing bukan kepalang. Ia berusaha memasang ekspresi wajah baik-baik saja, tapi tak berhasil. Walau bagaimanapun, Chanyeol termasuk pria yang sangat peka jika sesuatu terjadi pada pasangannya.
"Bagaimana bisa kau mengatakan baik-baik saja, sementara tubuhmu panas seperti ini?!" Terlalu gemas dengan kebiasaan Baekhyun, Chanyeol bahkan spontan berteriak. Ia terlampau panik dan khawatir terhadap istrinya. "Oh, Sayang. Maaf aku tidak bermaksud membentakmu."
Melihat reaksi kepanikan Chanyeol ini, Baekhyun justru merasa senang. "Sungguh, Oppa. Aku—" rasa pusing itu kembali menyerang. Mata Baekhyun terpejam, bersamaan gesture tangannya yang memijat pelipis. Tubuh Baekhyun terhuyung ke depan, yang dengan sigap ditangkap oleh Chanyeol. Pria itu semakin panik menyadari istrinya nyaris jatuh pingsan. Ia membopong tubuh Baekhyun, kemudian membaringkannya di ranjang.
"Akan kuminta pegawai hotel memanggil dokter." Chanyeol sudah beranjak dari ranjang, bersiap mengambil gagang telepon, hingga tarikan kencang di punggungnya membuat pria itu menoleh.
"Tidak perlu, Oppa ..." lirih Baekhyun. Ia mencengkeram bagian belakang kaos Chanyeol, "Kebetulan aku membawa kotak obat di koper. Kurasa ada termometer dan juga obat penurun demam di sana. Kita bisa memakainya, Oppa."
Mata Chanyeol berkedip, "Kau membawanya?" ia bertanya dengan ekspresi takjub.
Baekhyun mengangguk, "Ne, Oppa. Aku sudah terbiasa membawa kotak obat pribadi saat bepergian jauh," ucapnya dengan seulas senyum. Kendati dalam keadaan sakit, senyuman Baekhyun tetap terlihat mempesona.
"Baik, aku tidak akan memanggil dokter." Chanyeol mengikuti kemauan Baekhyun. Dalam hati, ia mengagumi kesigapan Baekhyun yang membawa kotak obat pribadi. "Tapi, khusus malam ini biar aku yang menjadi doktermu."
Tawa merdu lolos dari bibir Baekhyun. Terhibur dengan gaya bicara Chanyeol yang berlagak seperti dokter. Ia pun membalas, "Baik, Dokter Park."
Chanyeol terkekeh, "Cocok juga," responnya yang kembali disambut tawa oleh Baekhyun. Ia kemudian kembali mengambil gagang telepon.
"Akan kuminta pegawai hotel membawakan bubur untukmu. Terserah mereka mau membuat atau membelinya di luar hotel. Aku yakin, lidahmu terasa pahit bila menyantap hidangan makan malam yang sudah kupesan. Meski begitu, kau harus tetap makan untuk minum obat."
Wajah Baekhyun sontak berubah murung. Ia tahu, Chanyeol terlihat antusias saat memesan makan malam untuk mereka. Pria itu bahkan bersemangat ingin menciptakan suasana romantis, kendati mereka memilih menikmati makan malam di kamar hotel. Baekhyun merasa bersalah karena dirinya, mereka gagal menikmati makan malam bersama.
Chanyeol baru saja meletakkan gagang telepon usai menghubungi pegawai hotel. Ia terheran mendapati istrinya tampak murung. "Ada apa, Sayang?"
"Maafkan aku," cicit Baekhyun dengan binar mata yang meredup, "Lagi-lagi aku merepotkanmu, Oppa."
Pria itu menghela napas, lantas tersenyum penuh kehangatan kepada Baekhyun. Ia mengusap lembut kening istrinya, "Kau sama sekali tidak merepotkanku. Sebaliknya, aku justru merasa senang. Kau tahu kenapa?"
Dahi Baekhyun mengerut, disusul gelengan pelan darinya.
"Aku senang karena kau bergantung padaku. Artinya, tugasku sebagai seorang suami untuk menjaga dan merawat saat kau jatuh sakit." Chanyeol mengecup kening Baekhyun. "Jangan pernah merasa merepotkanku dan jangan pernah ragu meminta sesuatu padaku. Katakan saja apa yang kau inginkan, Sayang. Aku berjanji akan selalu memenuhi keinginanmu."
Penuturan Chanyeol ini membuat Baekhyun tersentuh. Rasanya masih seperti mimpi, pria yang awalnya bersikap seperti diktator, kini bersikap sangat lembut. Apalagi setelah mereka saling mengakui perasaan masing-masing. Bisa dipastikan selanjutnya akan ada interaksi yang jauh lebih manis di antara mereka.
"Aku akan sangat senang bila kau bermanja ria padaku," lanjut Chanyeol seraya tersenyum. Melihat bagaimana ekspresi wajah sang suami, gadis itu tersipu malu. Pipinya kini terlihat merona, entah memang karena ucapan Chanyeol yang terkesan cheesy atau pengaruh demam.
"Tunggu sebentar, ne? Aku akan mengambil termometer dan obat untukmu."
Chanyeol terkesiap ketika tangan Baekhyun menarik tangannya. Ia menoleh, mendapati bibir istrinya yang menyunggingkan senyuman.
"Terima kasih, Oppa."
Sikap malu-malu yang diperlihatkan Baekhyun ini membuat Chanyeol gemas. Ia tidak bisa lagi menahan diri, dan berakhir mendaratkan ciuman manis di bibir gadis itu. Chanyeol terkekeh melihat mata Baekhyun mengerjap kaget. "Maaf, kau terlalu menggemaskan. Aku tidak tahan untuk tidak mencium bibirmu, Sayang."
"Oppaaaa~" gadis itu merengek malu dan refleks menarik selimut hingga menutupi wajahnya. Sontak saja Chanyeol tertawa melihat reaksi Baekhyun yang menurutnya terkesan imut. Pria itu pun beranjak dari ranjang. Mulai membongkar koper Baekhyun untuk mengambil kotak obat yang sudah dibeberkan gadis itu.
Menyadari Chanyeol tidak lagi duduk di tepi ranjang, Baekhyun menurunkan selimutnya kembali. Diam-diam memperhatikan suaminya yang tampak sibuk membongkar isi koper. Untuk kesekian kali, Baekhyun merasa tersentuh dengan sikap Chanyeol yang begitu perhatian kepadanya. Perubahan sikap Chanyeol ini membuat Baekhyun mengubah stigma tentang pernikahan mereka. Terlepas bagaimana awal pertemuan mereka, sekarang Baekhyun merasa beruntung memiliki suami seperti Chanyeol.
..
..
..
Chanyeol menutup kembali koper Baekhyun setelah menemukan termometer dan obat penurun demam. Ia bergegas menghampiri Baekhyun yang sekarang tertidur. Mendapati wajah istrinya semakin pucat ditambah tubuh yang menggigil hebat, membuat hati Chanyeol tercubit. Rasanya sakit bila melihat seseorang yang begitu dicintainya terbaring lemah seperti ini.
Segera Chanyeol memeriksa suhu tubuh Baekhyun dengan termometer yang dia ambil dari koper gadis itu. Sambil menunggu bunyi indikasi termometer selesai bekerja, Chanyeol merapikan selimut yang membalut tubuh Baekhyun.
"38,6 derajat."
Bola mata Chanyeol seolah hendak keluar saat membaca angka yang tertera pada termometer. Bibir pria itu berkedut, menahan diri untuk tidak semakin panik usai mengetahui suhu tubuh Baekhyun. Pandangan matanya bergulir pada dahi Baekhyun yang mulai dipenuhi butir-butir keringat.
"Dia bahkan sampai tidak merespon sentuhanku. Pasti tubuhnya sangat lemas," gumam Chanyeol semakin panik.
Dengan tergesa, Chanyeol berjalan menuju ruang makan. Memeriksa lemari gantung yang ada di sana, berharap menemukan wadah yang bisa ia pergunakan untuk menampung air. Senyuman merekah di wajah Chanyeol kala menemukan baskom stainless. Ia pun bergegas ke kamar mandi, mengisi baskom tersebut dengan air biasa. Chanyeol ingat handuk kecil miliknya yang ada di dalam koper. Ia gunakan saja handuk tersebut untuk kompres di kening Baekhyun.
Tak lupa Chanyeol menyiapkan air putih untuk Baekhyun. Banyak meminum air putih sangat disarankan bagi mereka yang terkena demam. Sebab, mampu menurunkan demam secara alami.
"Sayang?"
Baekhyun terbangun mendengar suara Chanyeol, disusul guncangan pelan pada tubuhnya. Ia benar-benar tersiksa dengan suhu tubuhnya yang begitu tinggi. "Oppa ..."
Chanyeol meringis mendengar suara Baekhyun yang begitu lirih. Ia mengambil gelas berisi air putih yang sudah diberi sedotan. "Minum ini pelan-pelan, Sayang. Kau harus banyak minum air putih agar demammu bisa turun secara alami," ucapnya penuh pengertian.
Baekhyun menuruti saja ucapan Chanyeol. Sedikit memiringkan posisi tubuhnya, ia mulai menyerot minuman itu secara pelahan.
Keduanya mendengar suara bel berbunyi. Chanyeol meletakkan gelas di atas nakas, kemudian bergegas menuju pintu utama. Ia tersenyum lega mengetahui pegawai hotel datang membawakan pesanannya. Bubur untuk Baekhyun.
Setelah memberikan tips kepada pegawai tersebut, Chanyeol segera meletakkan nampan berisi mangkuk bubur tersebut ke atas nakas. Beruntung Baekhyun masih terjaga dan kini memperhatikan gerak-gerik Chanyeol menyiapkan bubur untuknya. Ia mencoba bangun, tapi Chanyeol buru-buru menahan tubuhnya, memaksa untuk berbaring kembali.
"Tidak perlu bangun. Biar aku yang menyuapimu," tutur Chanyeol seraya mengusap lembut pipi Baekhyun yang memerah. Sorot mata Baekhyun yang begitu sayu membuat Chanyeol kian khawatir. Ia berharap setelah memakan bubur dan meminum obat nanti, kondisi Baekhyun lekas pulih seperti sedia kala.
Aroma dari bubur sangat menggiurkan, ditambah perut Baekhyun yang sudah keroncongan. Namun ia ragu apakah lidahnya dapat merasakan makanan itu dengan baik.
"Bagaimana?" Chanyeol bertanya pendapat Baekhyun setelah memakan satu suapan.
"Aromanya sedap, Oppa. Tapi rasanya pahit," Baekhyun tersenyum kecut. "Kau benar, sepertinya lidahku sedang tidak berfungsi dengan baik karena sakit."
"Paling tidak kau masih memiliki nafsu makan, Sayang." Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun mengangguk-angguk. Benar-benar imut seperti anak kecil. "Sebaiknya seharian besok kita di kamar hotel saja. Aku ingin kau beristirahat penuh sampai kondisimu benar-benar pulih."
"Tidak mau." Baekhyun menggeleng kencang, "Pasti membosankan jika di kamar hotel seharian, Oppa. Aku ingin jalan-jalan ke luar."
"Tidak, kau harus—"
"Setelah minum obat dan tidur, besok pagi demamku sudah turun, Oppa. Kita bisa tetap jalan-jalan ke luar." Baekhyun menatap wajah Chanyeol dengan sorot mata memelas. "Ayolah, Oppa. Aku tidak mau seharian di kamar hotel."
Chanyeol menghela napas, kemudian berdeham pelan. Hampir saja pertahanan dirinya kalah setelah mendapat serangan mematikan dari puppy eyes milik Baekhyun.
"Sayang, dengarkan aku." Chanyeol meraih tangan Baekhyun, meremasnya dengan lembut. "Aku tidak ingin mengambil resiko lebih besar. Kondisimu yang seperti ini saja sudah membuatku khawatir dan panik setengah mati. Aku ingin kau beristirahat penuh sampai kondisimu benar-benar pulih, Sayang."
Bibir Baekhyun mengerucut kesal karena rengekannya tidak berhasil. Ia bahkan memalingkan wajah ke arah lain, tanda sedang merajuk pada Chanyeol yang dianggap tidak mau menuruti keinginannya.
Melihat sikap merajuk istrinya, Chanyeol terkekeh gemas. "Lusa aku janji akan mengajakmu ke tempat-tempat yang menarik. Juga mencicipi kuliner lokal. Bagaimana?"
"Yaksok?"
Chanyeol tidak kuasa lagi menahan tawanya melihat ekspresi menggemaskan gadis ini. "Yaksok. Dengan syarat, kondisimu harus benar-benar pulih."
"Arraseo." Baekhyun melirik mangkuk bubur di tangan Chanyeol. "Aku akan menghabiskan buburnya dan meminum obat. Oppa jangan lupa untuk makan malam, ne? Aku tidak mau kalau Oppa juga jatuh sakit."
Chanyeol mengangguk seraya tersenyum lebar. "Tentu, Sayang. Aku juga akan menuruti ucapanmu," sahutnya kemudian mencium kening Baekhyun.
Pasangan suami-istri itu tertawa bersama. Meskipun sempat gemas karena Baekhyun sedikit keras kepala untuk dibujuk, akhirnya gadis itu mau menuruti nasehat Chanyeol. Ia senang bisa menghibur Baekhyun dalam situasi seperti ini.
..
..
..
Hampir 2 jam Baekhyun tertidur setelah makan dan meminum obatnya. Chanyeol bisa bernapas lega melihat bagaimana istrinya terlelap. Dengan penuh perhatian, Chanyeol mengganti kompres Baekhyun. Meski jam sudah menunjukkan pukul 10 malam, Chanyeol masih terjaga demi merawat Baekhyun. Ia sendiri sudah menghabiskan makan malamnya. Mengikuti nasehat Baekhyun agar dirinya tidak jatuh sakit karena kelelahan merawat gadis itu.
Chanyeol hendak mengganti air pada baskom, ketika sesuatu berbunyi dari dalam tas Baekhyun. Chanyeol menebak, sumber suara tersebut berasal dari ponsel istrinya yang berdering keras.
Ia mengambil ponsel Baekhyun dari dalam tas. Kemudian menemukan nama kontak ibu Baekhyun di layar ponsel.
"Setahuku di Seoul sekarang jam 6 pagi," gumam Chanyeol. "Untuk apa ibu menelepon pagi-pagi sekali?"
Tanpa membuang waktu lagi, pria itu menekan tombol hijau di layar. "Yeoboseyo?"
"Chanyeol?"
"Iya, Ibu."
"Ah, maaf jika ibu menelepon waktu jam tidur kalian."
Chanyeol tersenyum, "Tidak apa-apa, Ibu. Kebetulan aku belum tidur." Ia mendengar suara tawa pelan dari seberang sana.
"Kalau kau yang menjawab telepon dari ibu, berarti Baekhyun sudah tidur? Lalu kenapa kau masih terjaga, Yeol?"
Chanyeol melirik Baekhyun lagi. Sejujurnya ia ragu apakah harus menceritakan pada ibu mertuanya tentang kondisi sang istri. Bisa dipastikan Yoona akan khawatir mengetahui Baekhyun jatuh sakit.
"Chanyeol?"
Pria itu sedikit tersentak karena suara Yoona. "Baekhyun ... dia sudah tidur, Bu."
"Kenapa suaramu terdengar lesu, Yeol? Apa terjadi sesuatu?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya sejenak, lalu menarik napas panjang. Tidak ada salahnya berkata jujur pada ibu mertuanya. "Ngg ... sebenarnya Baekhyun sedang dalam kondisi tidak bagus, Bu. Dia sakit."
"Baekhyun sakit?!"
Reaksi Yoona sudah diperkirakan oleh Chanyeol. "Baekhyun hanya demam, Bu. Suhu tubuhnya sudah berangsur turun. Ibu tidak perlu khawatir. Aku sudah memastikan Baekhyun menghabiskan bubur untuk makan malam dan meminum obat penurun demam." Dengan hati-hati, Chanyeol menjelaskan situasi yang dialami Baekhyun. Sekaligus menenangkan ibu mertuanya agar tidak terlalu panik. Mengingat kondisi Baekhyun sudah mulai membaik dibandingkan beberapa jam lalu.
"Syukurlah, kalau kondisi Baekhyun sudah membaik. Ibu lega mendengarnya, Yeol. Pantas saja, pagi ini ibu ingin sekali menelepon kalian. Semalaman ibu tidak bisa tidur dengan nyenyak."
Bibir Chanyeol melengkung sempurna. Ia tidak terkejut mendengar pengakuan Yoona. Sebaliknya, Chanyeol merasa salut karena naluri seorang ibu memang tidak bisa dibantah. Sejak awal melihat interaksi Yoona dan Baekhyun, Chanyeol tahu bahwa putri bungsu di keluarga Byun ini sangat dimanja oleh orang tuanya.
"Apa saja yang sudah kalian lakukan, Yeol? Kenapa Baekhyun bisa jatuh sakit dan demam? Seingat ibu, saat menelepon Baekhyun, dia baik-baik saja."
"Saat ibu menelepon siang waktu di sini, kami memang sedang jalan-jalan. Sesampainya di hotel, kami berendam di jacuzzi, Bu. Setelah itu, kami tidak pergi ke manapun. Kami bahkan berniat makan malam di kamar hotel saja. Aku tidak tahu kenapa Baekhyun tiba-tiba terserang demam saat jam makan malam," jelas Chanyeol panjang lebar.
"Tunggu, kalian berendam di jacuzzi?"
"Iya, Ibu."
"Apa kalian berendam dalam waktu yang cukup lama?"
Sebelah alis Chanyeol terangkat. Heran sekaligus bingung dengan maksud pertanyaan Yoona. Namun mengingat kejadian beberapa jam lalu, ia menyadari bahwa mereka berendam di jacuzzi terlalu lama, karena sekalian menunggu momen matahari terbenam.
"Iya, Ibu ..." Chanyeol bisa mendengar helaan napas panjang dari Yoona. Membuat pria itu didera rasa gugup sekaligus khawatir. "Apa ada yang salah?"
"Sejak kecil, Baekhyun memiliki sensitivitas terhadap suhu. Dia mudah sekali terkena demam setelah berendam terlalu lama dalam air panas, Yeol. Apalagi jika di tempat yang terbuka."
Chanyeol sampai kehabisan kata-kata untuk menanggapi penjelasan Yoona.
"Chanyeol, kau masih di sana?"
Pria itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya secara perlahan. Kembali, ia merasa bersalah karena belum mengenal Baekhyun dengan baik. "Maafkan aku, Ibu. Aku lalai menjaga Baekhyun. Andai saja aku mengetahuinya lebih awal, aku tidak akan membiarkan Baekhyun berendam terlalu lama di jacuzzi tadi. Aku benar-benar menyesal."
"Tidak, Yeol. Kau tidak perlu merasa bersalah. Ini bukan salahmu sepenuhnya, karena ibu yakin, kalian belum terlalu mengenal kondisi masing-masing. Yang terpenting kau sudah menjalankan kewajibanmu sebagai suami dengan merawat putriku yang sedang sakit. ibu sangat berterima kasih padamu."
Chanyeol sangat tersentuh mendengar ucapan Yoona. Sekarang ia tahu, dari mana sikap baik hati Baekhyun berasal."Ini memang sudah kewajibanku, Ibu."
Kali ini Yoona tertawa merdu. Membuat suasana hati Chanyeol merasa lebih baik. Keduanya hendak mengakhiri obrolan, sebelum kalimat Yoona kemudian memancing rasa penasaran pria itu.
"Apa kau ingin tahu, tips agar demam Baekhyun lekas turun dengan cepat?"
"Ibu tahu caranya?" Ekspresi wajah Chanyeol terlihat antusias. Ia mendengarkan penjelasan Yoona dengan seksama, hingga perlahan raut wajah kembali berubah. Muncul semburat rona merah di pipi Chanyeol.
"Ya sudah, Ibu tutup telepon dulu, ne. Sampaikan salam ibu untuk Baekhyun."
"Ne, Ibu. Terima kasih."
Setelah memasukkan ponsel ke dalam tas, Chanyeol memandangi istrinya. Ia mengambil kompres dari kening Baekhyun, kemudian memeriksa suhu tubuh Baekhyun dengan tangannya.
"Masih hangat," gumam Chanyeol. Pria itu teringat lagi pesan yang disampaikan Yoona beberapa menit lalu. Tips untuk menurunkan demam Baekhyun lebih cepat.
Metode kangguru
"Haruskah aku melakukannya?" gumam Chanyeol ragu. Setahunya, metode kangguru biasa digunakan pada bayi yang terkena demam. "Aigo, apa aku harus benar-benar melakukannya?"
Pria itu melirik Baekhyun. Cukup lama berpikir, hingga kemudian terdengar desahan frustasi yang begitu keras. "Persetan dengan rasa malu. Akan kuikuti saran ibu mertuaku."
Chanyeol membalik posisi duduknya menghadap Baekhyun. Sedikit merangkak mendekati istrinya dengan gerakan super pelan agar tidak membangunkan gadis itu. Chanyeol menyibak selimut, hampir saja melupakan fakta bahwa Baekhyun masih memakai gaun santai. Sambil menahan gairahnya yang mulai terpancing, Chanyeol melucuti gaun warna peach tersebut. Beberapa kali, Chanyeol menahan napas ketika jemari tangannya bersentuhan dengan kulit mulus Baekhyun.
Glek! Pertahanan diri Chanyeol benar-benar sedang diuji. Ia bahkan sampai kesulitan meneguk ludahnya begitu disuguhi pemandangan super menggoda. Di hadapannya kini Baekhyun hanya memakai pakaian dalam.
Sejenak, Chanyeol memalingkan wajah. Bersamaan kedua matanya yang terpejam. Geraman frustasi lolos dari bibirnya. "Astaga, lama-lama aku bisa gila!"
Ujian untuk Chanyeol masih berlanjut. Setelah pria itu menanggalkan pakaiannya dan hanya menyisakan celana dalam, ia berbaring di samping Baekhyun. Gadis itu agaknya masih terbawa pengaruh obat, sebab sama sekali tidak terusik dengan apa yang dilakukan suaminya. Chanyeol sibuk mempersiapkan diri—lebih tepatnya menahan gairah—sebelum melakukan metode kangguru mengikuti saran Yoona.
Chanyeol menarik napas panjang-panjang. "Hhhh ... kau harus menahannya, Park Chanyeol."
Pria itu mengubah posisi berbaring dengan menghadap arah Baekhyun. Ia membawa tubuh Baekhyun ke dalam dekapannya secara perlahan. Mata sebulat kelerengt itu sempat melotot lucu, ketika dada bidangnya bersentuhan dengan dua bongkahan kenyal milik Baekhyun—payudara.
"Ugh ..."
Chanyeol masih sibuk dengan fantasi liarnya. Tanpa menyadari bahwa sang istri terbangun.
"Ngg ... Oppa?"
Suara itu menyentak kesadaran Chanyeol. Ia dilanda kepanikan setelah mengetahui Baekhyun sedang menatap ke arahnya. Sejak kapan gadis ini terbangun?
"Oppa?"
Chanyeol berdeham pelan, sambil sesekali menarik napas panjang. Kemudian ia tersenyum kepada Baekhyun, merapatkan posisi mereka yang kini berpelukan erat di balik selimut.
"Tidur lagi, ne?" Chanyeol mengusap-usap pucuk kepala Baekhyun. "Aku ingin membantumu untuk menurunkan demam."
Tidak ada respon apapun yang diberikan Baekhyun. Pengaruh obat kembali menyedot kesadarannya, hingga tak berapa lama terdengar kembali dengkuran halus dari gadis itu. Menyadari keheningan di dalam kamar, Chanyeol melirik wajah Baekhyun. Ia bernapas lega mengetahui Baekhyun kembali terlelap.
Chanyeol lantas menyamankan posisinya sebelum menyusul istrinya ke alam mimpi. Pria itu memandangi Baekhyun dengan senyuman lebar.
Ya Tuhan, kuharap 'adik kecilku' ini tidak terbangun di tengah malam nanti ...
.. Destiny of Us ..
Jam 5 pagi waktu setempat, tidur Chanyeol mulai terusik setelah mendengar suara desiran ombak dari arah jendela. Maklum saja, kamar yang ia tempati bersama Baekhyun memang langsung menghadap ke arah pantai. Terkadang suara desiran ombak membangunkan mereka lebih dulu dibandingkan alarm pada ponsel yang mereka pasang malam sebelumnya.
Pria itu membuka kedua matanya secara perlahan. Sedikit meringis ketika menyadari kedua tangannya terasa kebas karena semalaman memeluk tubuh Baekhyun.
"Ugh ... jam berapa sekarang?" Chanyeol menggumam seraya mengerjapkan matanya berulang kali. Ia hendak mengambil ponsel miliknya yang semalam diletakkan di atas nakas. Namun teringat kondisi Baekhyun, Chanyeol pun memeriksa suhu tubuh istrinya terlebih dahulu. Senyuman lebar penuh kelegaan menghiasi wajah Chanyeol pagi ini.
"Syukurlah, demamnya sudah turun."
Ia menunduk, bermaksud melihat wajah Baekhyun. Detik selanjutnya, mata Chanyeol membulat sempurna setelah menyadari kondisi mereka yang hanya memakai pakaian dalam. Hawa panas kembali dirasakan Chanyeol—tepat di sekitar wajahnya yang kini merah padam. Buru-buru, ia memutuskan untuk bangun, berusaha melepas kedua tangan Baekhyun yang memeluk tubuhnya.
Malang bagi Chanyeol, salah satu kaki Baekhyun justru melingkar erat di sekitar pinggangnya. Seolah menganggap Chanyeol sebagai guling yang nyaman untuk dipeluk. Pria itu menahan napas ketika merasakan payudara Baekhyun kembali menyentuh dada bidangnya. Entah apa yang sedang dimimpikan Baekhyun, gadis itu malah dengan sengaja merapatkan diri dalam pelukannya.
"Oh, astaga!" Chanyeol memekik panik saat lutut Baekhyun tidak sengaja mengenai 'adik'nya. Alarm bahaya seketika berbunyi dalam diri Chanyeol—memaksa pria itu untuk segera turun dari ranjang. Namun karena terburu-buru dan kurang berhati-hati, kaki kanan Chanyeol terlilit selimut, hingga akhirnya dia jatuh terjerembab ke lantai.
BRUK!
"Argh!"
Suara keras disusul erangan kesakitan itu sontak membuat Baekhyun terbangun dari tidurnya. Mata gadis itu sudah terbuka. Diikuti ekspresi kepanikan setelah menemukan keberadaan sang suami yang duduk di lantai. Chanyeol terlihat kesakitan sambil mengusap bagian punggungnya yang tidak sengaja membentur tempat tidur.
"Oppa, kau kenapa?" tanya Baekhyun panik.
Chanyeol berjengkit kaget, sebelum menoleh ke belakang dengan ekspresi was-was. Ia terkejut bukan main, mendapati istrinya sudah bangun dan kini tengah menatap ke arahnya.
"Oppa?"
"Ah ... aku ..." Chanyeol menahan napas karena pandangannya kembali pada penampilan Baekhyun. "A-Aku hanya sedikit tergelincir."
"Jinjja?! Katakan padaku, mana yang sakit, Oppa?!" pekik Baekhyun semakin panik. Membayangkan bagaimana rasanya teratuh dari ranjang, pasti sakit sekali.
"Tidak perlu panik, Sayang. Aku baik-baik saja. Sungguh," kata Chanyeol berusaha menenangkan Baekhyun. Sedikit terkejut dengan reaksi sang istri yang kelewat panik. Bahkan melebihi kepanikannya semalam saat gadis itu terserang demam.
Baekhyun menautkan kedua alisnya, "Kau yakin?" ia masih tidak percaya dan justru semakin cemas. Baekhyun berniat turun untuk menolong suaminya, tapi di luar dugaan Chanyeol justru berdiri dari posisi semula. Baekhyun sempat menangkap raut gugup yang begitu kentara di wajah sang suami.
"Aku ke kamar mandi sebentar, ne?"
Secepat kilat pria itu melesat kabur ke dalam kamar mandi. Bahkan sampai tak sengaja membanting pintu hingga menimbulkan suara debuman cukup keras. Mata Baekhyun berkedip-kedip. Ia masih bingung dengan gelagat Chanyeol, tetapi otaknya justru memutar kembali rekaman memori bagaimana penampilan suaminya yang hanya memakai celana dalam.
"Oh, ya ampun. Pasti ada yang tidak beres dengan mataku." Baekhyun menangkup kedua pipinya yang kini terasa panas. Ia menunduk demi menyembunyikan wajahnya yang kian merah padam. Namun Baekhyun justru mendapati hal yang aneh dengan penampilannya.
Hening.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Dan ...
"KYAAAAAAA~"
..
..
..
Pegawai hotel sedikit bingung saat disuguhi wajah Chanyeol yang sedikit tidak bersahabat. Setelah mengantarkan sarapan untuk Chanyeol dan Baekhyun, pria berkacamata itu lekas pergi meninggalkan kamar mereka. Ia bahkan tidak peduli bila Chanyeol belum memberikan tips, karena lebih memilih menyelamatkan diri sebelum mendapat amukan.
Ketahuilah, wajah garang Chanyeol benar-benar terlihat menakutkan.
Sebenarnya, Chanyeol sengaja memasang wajah sedemikian rupa, hanya untuk menyembunyikan perasaan geli atas insiden yang terjadi pagi ini. Di satu sisi, Chanyeol juga merasa malu atas keterlambatannya melarikan diri dari Baekhyun. Alhasil, gadis itu melihat penampilannya yang hanya memakai celana dalam. Namun saat ia kabur ke kamar mandi, Chanyeol tidak bisa menahan tawa begitu mendengar teriakan Baekhyun yang begitu kencang.
"Oppa?"
Perhatian Chanyeol beralih pada sosok Baekhyun. Istrinya itu baru saja selesai mandi dan sudah mengenakan gaun selutut warna sky-blue dengan potongan lengan panjang. Baekhyun terlihat cantik dan manis dalam balutan gaun sederhana tersebut.
"Kau sudah selesai?" tanya Chanyeol.
Baekhyun mengangguk kecil. Lantas berjalan mendekati Chanyeol yang sudah duduk di ruang makan. Karena masih terbayang insiden pagi ini, Baekhyun merasa canggung berhadapan dengan suaminya.
"Duduklah, Sayang. Kita sarapan bersama," ajak Chanyeol. "Maafkan aku atas kejadian tadi, ne?"
Lagi, Baekhyun hanya merespon dengan anggukan kepala. Setidaknya gadis itu sudah bersedia duduk di hadapan Chanyeol. Baekhyun terlihat berusaha keras mengusir perasaan canggung yang masih menggelayutinya. Beberapa kali, gadis itu kedapatan menghela napas dan mencuri pandang ke arah Chanyeol.
Menyadari sikap diam sang suami, lama-lama Baekhyun gemas karena terus dikuasai rasa penasaran. "Oppa, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kenapa kita hanya memakai pakaian dalam saja?"
Chanyeol yang sudah menikmati menu sarapan mereka, sedikit tersedak karena pertanyaan Baekhyun yang terkesan frontal. Ia buru-buru mengambil gelas minuman.
"Ngg ... itu ...," Chanyeol terlihat kikuk. "Aku hanya ingin membantu menurunkan demammu. Dengan menggunakan metode kangguru."
Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Metode kangguru?"
Chanyeol mengangguk, "Semalam ibumu menelepon lewat ponselmu. Tapi karena kau sudah tidur, aku yang menjawab teleponnya. Sekalian memberitahu ibu kalau kau terserang demam."
"Dan mama yang menyarankan metode kangguru padamu, Oppa?" tebak Baekhyun. Ia ingat, metode itu memang kerap dilakukan Yoona padanya semasa kecil. Berbeda dengan kakaknya—Seohyun, yang lebih mudah menurunkan demam hanya dengan obat saja. Demam Baekhyun akan turuh lebih cepat jika memakai metode kangguru.
"Ne," aku Chanyeol sambil tersipu. "Aku tahu metode itu biasa digunakan untuk Baekhyun. Tapi ... aku rela melakukannya asal demammu cepat turun."
Wajah Baekhyun merona malu. Namun suatu pemikiran jahil muncul dalam otaknya. "Oppa ... tidak memanfaatkan keadaan untuk menyerangku semalam 'kan?"
Sesuai perkiraan Baekhyun, wajah suaminya langsung berubah merah padam. "Tentu saja tidak, Sayang. Aku bersumpah tidak melakukan apapun, kecuali memelukmu sepanjang malam," sangkal Chanyeol dengan cepat. Pria itu kembali fokus menikmati sarapan, berusaha menghindari Baekhyun yang dirasa masih ingin membahas kejadian semalam dan pagi ini.
Chanyeol mendongak kaget setelah mendengar tawa khas dari Baekhyun. Gadis itu rupanya sudah berjalan mendekat ke arahnya. Apa yang dilakukan Baekhyun kemudian membuat Chanyeol nyaris memekik. Tiba-tiba saja Baekhyun dengan santai mendaratkan pantatnya di atas pangkuan Chanyeol. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Chanyeol, kemudian mengecup singkat bibir pria itu.
"Hadiah untukmu, Oppa." Baekhyun menunduk karena merasa malu atas sikapnya yang sedikit agresif. Ia hanya ingin meluapkan rasa bahagia atas perhatian yang diberikan Chanyeol. "Terima kasih Oppa sudah merawatku.
Perlahan suasana canggung itu mencair. Chanyeol tersenyum lebar setelah mendapat hadiah manis dari Baekhyun. Ia pun balas mencium bibir Baekhyun, kemudian menyentuh kening istrinya. Memastikan kembali suhu tubuh Baekhyun. "Masih sedikit hangat. Setidaknya demammu sudah turun dibandingkan semalam. Sesuai kesepakatan, hari ini kau tetap harus beristirahat seharian di kamar hotel.
Wajah Baekhyun berubah murung, "Arraseo."
Melihat wajah merajuk sang istri, Chanyeol terkikik gemas. Ia mengusap pipi Baekhyun, "Besok aku janji akan membawamu ke tempat yang menyenangkan."
Mau tak mau Baekhyun tersenyum lebar mendengar ucapan Chanyeol, "Ne, Oppa. Aku pegang janjimu."
"Jja, sebaiknya kau mulai memakan sarapanmu, Sayang," bujuk Chanyeol. Namun ia terheran karena Baekhyun tak kunjung beranjak dari pangkuannya. Gadis itu justru semakin nyaman memeluk Chanyeol.
"Suapi aku, Oppa ...," cicit Baekhyun dengan nada merengek khas anak kecil. Chanyeol menatap tak percaya. Ini untuk pertama kalinya Baekhyun bersikap sedemikian manja—tanpa harus merasa malu seperti sebelumnya.
"Baik, Tuan Putri."
Baekhyun tergelak mendengar balasan Chanyeol. Keduanya pun menikmati sarapan dengan interaksi yang sangat manis. Saling menyuapi satu sama lain dengan gelak tawa yang menghiasi kebersamaan mereka.
Setelah menghabiskan sarapan, mereka bersantai di ruang tamu. Baekhyun duduk dengan nyaman sambil memeluk Chanyeol. Sementara Chanyeol memainkan setiap helaian rambut Baekhyun, dan beberapa kali mengecuk pucuk kepala istrinya tersebut. Tiba-tiba suara dering ponsel Chanyeol menyela kegiatan mereka. Chanyeol terpaksa melepaskan pelukan mereka sejenak untuk mengambil ponselnya yang ada di atas meja.
"Siapa, Oppa?" tanya Baekhyun penasaran.
"Ibumu." Chanyeol terkekeh pelan saat melihat bola mata Baekhyun berbinar terang. Ia kemudian menjawab panggilan yang masuk. "Yeoboseyo?"
Namun di luar dugaan, bukan Yoona yang berbicara.
"DADDY!"
Chanyeol buru-buru menjauhkan ponselnya karena terkejut mendengar teriakan sang putri. "Aigo, Hyoje. Kau membuat telinga daddy sakit, Sayang."
Selanjutnya Chanyeol mendengar tawa menggemaskan dari Hyoje. Dengan penuh perhatian, ia mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Hyoje.
Baekhyun yang mengetahui siapa yang sedang berbicara dengan Chanyeol, terlihat semakin antusias. "Oppa, Hyoje yang menelepon?" tanyanya memastikan.
Chanyeol mengangguk kecil, "Oh, Hyoje ingin bicara dengan Mommy?" ia melirik Baekhyun yang tampak semakin bersemangat. Bahkan ketika ponsel itu berpindah ke tangan istrinya, senyuman di wajah Baekhyun kian mengembang.
"Hyoje, ini mommy, Sayang?" sapa Baekhyun dengan riang.
"MOMMY?!"
Tawa Chanyeol pecah usai melihat Baekhyun melakukan hal yang sama dengannya—menjauhkan ponsel dari telinga karena teriakan Hyoje yang melengking keras.
"Kata daddy mommy sakit?"
"Ne, tapi mommy sudah sembuh, Sayang."
"Jinjja? Mommy tidak bohong 'kan?"
"Tentu saja tidak," Baekhyun terkekeh mendengar pekikan gembira dari Hyoje. Perlahan ekspresi wajah gadis itu berubah. Ia tak mampu lagi menahan perasaan haru atas ucapan Hyoje yang mendoakan dirinya selalu sehat. Baekhyun tahu, Hyoje memang bukan anak kandungnya. Namun setiap berinteraksi dengan Hyoje, apalagi perhatian kecil yang selalu diberikan anak itu padanya, Baekhyun seolah merasakan kebahagiaan yang lengkap sebagai seorang ibu.
Perasaan apakah ini? Baekhyun tidak tahu, kenapa ia selalu ingin menangis setiap kali berinteraksi dengan Hyoje.
Chanyeol menyeka sudut mata Baekhyun yang tanpa disadari gadis itu mulai meneteskan air mata. Ia membawa Baekhyun ke dalam pelukannya dan ikut menyimak obrolan mereka. Chanyeol bahkan sesekali bergabung dengan pembicaraan kedua bidadarinya yang penuh keceriaan.
Sungguh momen manis dari keluarga yang harmonis, ne?
..
..
..
Sehun meletakkan ponselnya di atas meja. Lalu menatap layar komputer dengan ekspresi datar. Pikirannya berkelana, menentukan beragam cara untuk menangkap kurir paket yang ditujukan untuk Chanyeol. Seperti yang sudah ia selidiki bersama Eunjung, pelaku pengiriman paket tersebut tidak lain adalah orang dalam perusahaan. Sehun tidak boleh gegabah mengambil langkah. Bila tidak ingin berakibat fatal untuk Chanyeol sendiri dan juga mereka.
"Sehunnie!"
Lamunan Sehun buyar setelah seruan keras itu terdengar. Ia tersenyum mendapati sosok istri dan putri kecilnya. Sehun lekas berdiri dan memeluk Yujie yang segera melompat ke arahnya.
"Papa, ayo makan ciang!" seru Yujie ceria. Sehun yang tidak tahan melihat kegemasan sang putri langsung saja menciumi setiap jengkal wajah gadis mungil itu. Yujie merengek kesal karena geli mendapat ciuman bertubi-tubi dari ayahnya. Ia bahkan sampai memanggil Luhan untuk meminta pertolongan.
Setelah dihentikan oleh istrinya, Sehun balas memeluk Luhan. Hampir saja ia kelepasan hendak mencium bibir Luhan di hadapan putri mereka. Andai cubitan manis itu tidak segera mendarat di pinggangnya.
"Ini di kantor," desis Luhan mengingatkan. Mata rusanya melotot lucut, membuat Sehun terkekeh geli. Tidak ibu tidak anak sama saja. Luhan dan Yujie dengan mata rusa mereka selalu terlihat menggemaskan.
"Kajja, kita makan bersama di dalam ruangan," ajak Sehun menggandeng Luhan dan Yujie menuju pintu ruangan Chanyeol.
Luhan menautkan kedua alisnya, "Tidak apa-apa memakai ruangan Chanyeol?"
Sehun mengangguk, "Jangan khawatir. Chanyeol sudah memberikan tanggung jawab penuh padaku untuk menjaga ruangannya, beserta isinya. Lagipula, terkadang aku juga harus mencari beberapa data di ruangan Chanyeol jika aku kesulitan untuk mengerjakan laporanku," jawabnya.
"Arraseo," Luhan mengikuti Sehun yang kini beralih menggendong Yujie. Mereka menempati area yang biasa diperuntukkan para tamu. Luhan dengan cekatan menata meja kecil itu dengan aneka hidangan lezat yang sengaja ia siapkan secara spesial untuk Sehun.
Celotehan Yujie yang penuh semangat membuat Sehun tergelak. Memang, kehadiran istri dan buah hati kecilnya selalu berhasil memperbaiki mood Sehun yang terkadang stress, juga lelah akibat pekerjaan yang menumpuk. Apalagi selama Chanyeol dan Baekhyun bulan madu, Sehun harus menangani pekerjaan lebih banyak, termasuk menggantikan Chanyeol menghadiri pertemuan dengan rekan kerja. Ia bersyukur Siwon ikut membantu mengambil alih beberapa pekerjaan Chanyeol.
"Kau sudah menghubungi Chanyeol?" tanya Luhan di sela kegiatan makan siang mereka.
Sehun menggeleng pelan, "Untuk apa? Mengganggu pasangan suami-istri yang sedang berbulan madu?"
Luhan terkekeh pelan, "Biasanya sesama pria tetap menyempatkan diri untuk membahas pekerjaan."
Mau tak mau Sehun ikut tertawa mendengar sindiran yang diutarakan Luhan. Ia teringat kembali momen mereka saat berbulan madu dulu, di mana Sehun tetap menyempatkan waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang diminta Chanyeol. Hanya yang dirasa darurat dan penting. Maklum saja, Sehun merupakan sahabat sekaligus asisten terbaik yang dimiliki Chanyeol. Tidak heran jika pria itu sangat mengandalkan Sehun.
"Tidak semua pekerjaan harus kubicarakan dengan Chanyeol, kecuali jika itu benar-benar darurat dan penting, Sayang. Aku senang Paman Siwon ikut membantuku." Sehun mengedipkan sebelah mata, "Jangan berpikir kau ingin membalas apa yang sudah dia lakukan dulu saat bulan madu kita."
"Ck, siapa suruh dia mengganggu bulan madu kita," dengus Luhan sambil melipat tangan di dada.
Sehun tergelak, "Hei, itu sudah berlalu. Lagipula dia juga sudah memberikan tambahan gaji padaku. Bukankah kau paling suka jika aku mendapat bonus?"
Mendengar pertanyaan itu, wajah Luhan merona. Ia tersenyum malu dan sukses membuat suaminya kembali tertawa.
"Papa?"
Sehun menunduk, menatap wajah imut Yujie yang tengah memperhatikannya dengan senyuman lebar. "Iya, Sayang?"
"Ngg ... kapan kita pelgi jalan-jalan ke kebun binatang lagi?" tanya Yujie dengan mata mengerjap lucu.
Sehun tersenyum penuh minat, "Yujie ingin jalan-jalan ke kebun binatang?"
Yujie mengangguk dengan penuh semangat. Pola tingkahnya yang lucu selalu membuat kedua orang tuanya tertawa.
"Arraseo. Akhir pekan ini kita pergi ke kebun binatang," kata Sehun.
"YEAY!"
Tepukan penuh kegembiraan Yujie membuat pasangan suami-istri itu kembali tergelak.
"Ah iya, aku lupa menceritakan sesuatu padamu, Sehunnie," ucap Luhan tiba-tiba dan sukses membuat suaminya terheran.
"Soal apa?" Sehun tak melirik sedikit pun ke arah Luhan, karena Yujie minta disuapi olehnya.
"Tentu saja paket-paket untuk Chanyeol. Aku sudah mengatakannya pada Sooyoung-ahjumma," lanjut Luhan. Kali ini Sehun menoleh dengan raut wajah sedikit kaget.
"Kau mengatakannya pada Sooyoung-ahjumma?" tanya Sehun memastikan dan diangguki oleh Luhan. "Bagaimana reaksinya?"
"Aku tidak yakin, tapi dia terlihat sangat syok, Sehunnie. Kau tahu, aku semakin curiga jika sebenarnya mereka sudah tahu siapa ibu kandung Hyoje, tapi sengaja menyembunyikan dari Chanyeol," tutur Luhan mengutarakan intuisinya.
"Ya, kau benar." Sehun sependapat dengan Luhan.
"Lalu bagaimana dengan kurir itu? Kau sudah berhasil menemukannya?" tanya Luhan penasaran.
"Aku masih mencoba mencarinya," Sehun mengusap wajah Luhan. "Kita tidak boleh gegabah, Lu. Sepertinya dia mulai sadar jika sedang diawasi. Hari ini, untuk pertama kali paket itu tidak datang ke ruangan Chanyeol."
Luhan mengangguk paham. "Kau harus selalu berhati-hati, Sehunnie. Aku tidak mau terjadi hal buruk padamu."
"Arraseo, aku akan selalu berhati-hati ..." Sehun mencium kening Luhan. "Ngomong-ngomong ... bukankah sekarang kakakmu sedang berada di Spanyol?"
Mata Luhan berkedip lucu, "Benar juga. Semalam aku memberitahunya lewat pesan kalau Chanyeol dan Baekhyun sedang berbulan madu di Marbella."
"Aku bertaruh, dia pasti langsung pergi menemui Chanyeol untuk membuat perhitungan," ujar Sehun yang langsung disambut tawa.
"Tentu saja. Gege pasti tidak terima karena didahului Chanyeol dalam hal pernikahan," Luhan kembali tergelak membayangkan ekspresi wajah kesal kakaknya saat bertemu dengan Chanyeol nanti. Well, di balik perawakan jangkung dan wajah tampan bak model papan atas, kakak laki-lakinya itu memang memiliki kepribadian yang kelewat unik. Bahkan mendekati absurd.
..
..
..
PIP!
Baekhyun melempar remote televisi ke sembarang tempat. Ia bosan karena tak ada totontan yang menarik. Baekhyun pun memilih pergi dari ruang tamu, kemudian berpindah menuju balkon. Menikmati pemandangan indah di sekitar pantai.
"Ugh, kenapa Oppa lama sekali?" gumam Baekhyun kesal. Ia kembali masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya. Dua jam yang lalu Chanyeol pamit ingin pergi keluar sebentar. Mengaku ingin menemui temannya yang kebetulan sedang berada di Spanyol, tepatnya di kota Barcelona. Sayangnya, hingga memasuki jam makan siang, suaminya itu belum juga kembali.
Jari lentik Baekhyun bergerak lincah mencari nomor kontak Chanyeol. Ia bermaksud menelepon pria itu, tetapi sebuah ide lain justru melintas dalam kepalanya. "Mungkin lebih baik aku pergi mencarinya keluar," gumamnya pelan. Ia pun mengambil cardigan yang ada dalam kopernya, kemudian bergegas keluar meninggalkan kamar. Tak lupa Baekhyun membawa kunci kamar hotel yang dititipkan Chanyeol padanya.
Mengingat berada di tempat asing, Baekhyun selalu memasang sikap waspada. Apalagi setiap berpapasan dengan sesama penghuni hotel ataupun pegawai di sana—khususnya para pria, Baekhyun kerap mendapat lirikan mata dari mereka. Tentu saja, tidak akan ada yang mampu mengabaikan pesona kecantikan Baekhyun.
Setelah sampai di lobi, Baekhyun bergegas keluar dari lift dan berjalan cepat menuju pintu utama hotel. Namun karena tak memperhatikan jalan dengan baik, Baekhyun tidak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita yang baru saja memasuki hotel.
"Sorry ..." Baekhyun refleks mengucapkan permintaan maaf dalam Bahasa Inggris. Ia terus membungkuk, sementara wanita itu hanya melirik sekilas ke arahnya. Tak mendapat respon, Baekhyun pun mendongak. Rupanya wanita itu sudah pergi dari hadapan Baekhyun.
Kedua alis Baekhyun tertaut sempurna ketika menyadari postur ataupun perawakan wanita itu serasa tidak asing.
"Baekhyun?"
Perhatian gadis itu beralih saat mendengar suara bass dari belakang. "Oppa!" ia memekik senang dan bergegas menghampiri suaminya yang baru saja kembali ke hotel. Ia melirik was-was pada sosok pria yang datang bersama Chanyeol.
"Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk beristirahat di kamar?" cerocos Chanyeol tanpa jeda.
"Aku bosan, Oppa." Baekhyun mencebilkan bibirnya. Membuat Chanyeol berdeham pelan karena keimutan istrinya harus menjadi konsumsi publik. Terutama sosok pria yang berdiri di sampingnya.
"Hyung, jaga pandanganmu!" teriak Chanyeol karena pria berambut pirang itu terus memperhatikan Baekhyun tanpa mengedipkan mata.
Pria berperawakan jangkung itu tergelak. "Maaf, Yeol. Aku hanya tidak menyangka, gadis seimut dia mau menikah denganmu," tuturnya santai.
"YA!"
Baekhyun hanya mengerjapkan matanya bingung, kembali memperhatikan Chanyeol dan pria berambut pirang di hadapannya.
"Ah, maaf kau pasti bingung." Pria itu tersenyum ramah, "Namaku Xi Yifan. Ini pertama kalinya kita bertemu. Aku minta maaf karena tidak bisa hadir dalam pernikahan kalian. Salahkan suamimu yang tidak memberitahuku, Nona cantik."
"HYUNG!"
Pria yang diketahui bernama Yifan itu tersenyum lebar. Sama sekali tidak takut dengan ekspresi cemburu yang diperlihatkan Chanyeol.
Dahi Baekhyun mengerut heran. Ia merasa tidak asing dengan marga pria yang baru saja memperkenalkan diri kepadanya.
"Dia kakaknya Luhan," sambung Chanyeol seolah menyadari arti di balik ekspresi Baekhyun yang tampak kebingungan.
Baekhyun mengangguk paham, "Senang berkenalan denganmu, Oppa. Aku—"
"Aku sudah tahu namamu. Luhan sedikit banyak bercerita tentangmu padaku. Dan hari ini aku mendengarnya lebih banyak dari Chanyeol. Harus kuakui, Chanyeol sungguh beruntung mendapat istri secantik dirimu," Yifan kembali bersikap jahil dengan sengaja mengedipkan mata untuk Baekhyun.
Cukup terkejut atas sikap Yifan, Baekhyun sedikit tersipu malu. Kontan saja pemandangan itu membuat emosi Chanyeol terpancing.
"Jangan sampai aku melaporkan pada Luhan bagaimana kelakuan kakaknya!" semprot Chanyeol.
"Santai saja, Yeol. Hawa di sini sangat sejuk, kenapa kau terlihat kepanasan?" goda Yifan semakin membuat Chanyeol emosi.
Kedua pria dengan tinggi badan di atas rata-rata itu kembali berdebat seperti anak kecil. Membuat Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan keduanya pun tertawa geli. Perdebatan Chanyeol dan Yifan berhenti setelah mendengar suara aneh di sekitar mereka. Kedua pria itu kompak menoleh ke arah Baekhyun yang kini tengah memegangi perutnya. Bibir keduanya pun berkedut menahan senyuman.
"Aigo, sepertinya istriku sudah kelaparan," kekeh Chanyeol sambil mengusak gemas kepala Baekhyun. Gadis itu langsung menghambur ke pelukan Chanyeol karena merasa malu. Mengabaikan keberadaan Yifan yang harus menyaksikan momen mesra pasangan suami-istri tersebut.
"Astaga, mata suciku ternodai," kata Yifan mendramatisir dan sukses dibalas pelototan tajam oleh Chanyeol.
"Jangan sok suci, Hyung."
Yifan terkekeh pelan. "Bagaimana jika kita makan siang bersama? Aku yang traktir," usulnya kemudian.
"Meski aku menolak untuk ditraktir, kau akan tetap memaksa 'kan, Hyung?"
Tawa Yifan kembali pecah. Ia menepuk-nepuk bahu Chanyeol, membuat keduanya tertawa bersama. Baekhyun ikut tertawa dan tampaknya menyukai kepribadian kakak Luhan itu. Meski baru pertama kali bertemu, ia menilai di balik ekspresi wajah Yifan yang terkesan cool, pria itu memiliki selera humor yang tinggi.
Baekhyun merasa sangat senang bisa mengenal orang-orang di sekeliling Chanyeol.
..
..
..
Usai makan siang bersama Yifan, Chanyeol dan Baekhyun kembali ke kamar hotel mereka. Chanyeol tak pernah melepas sedetik pun pelukan tangannya dari pinggang Baekhyun. Membuat istrinya tertunduk malu dengan pipi merona parah. Sebab sikap Chanyeol itu membuat mereka menjadi pusat perhatian penghuni hotel lainnya.
"Oppa?"
Chanyeol menoleh lantas terkejut mendapati wajah Baekhyun merah padam. Ia sempat mengira panas gadis itu kembali naik. Namun gerak-gerik Baekhyun selanjutnya mematahkan dugaan Chanyeol. "Wae? Kau malu, hm?"
Anggukan kecil Baekhyun membuat Chanyeol kembali tergelak.
"Aigo, kenapa harus malu?" Chanyeol justru semakin memperlihatkan interaksi intimnya bersama Baekhyun. Kali ini ia mencium kepala gadis itu, bahkan berpindah ke setiap jengkal wajah Baekhyun yang segera disambut pekikan protes dari istrinya. Hal itu membuat Chanyeol semakin gemas ingin menggoda Baekhyun.
"Oppa, berapa lama kita berbulan madu?" tanya Baekhyun di sela interaksi manis mereka selama berjalan menuju kamar hotel.
"Kurang lebih sekitar 2 minggu. Memangnya kenapa?" tanya Chanyeol memastikan.
"Aniyo, aku hanya ingin bertanya saja," sahut Baekhyun gugup. Pasalnya, mau bagaimanapun selama mereka berbulan madu, ia akan tetap menjalankan ritual malam pertama yang belum mereka lakukan semenjak resmi menikah.
Menyadari perubahan ekspresi wajah istrinya, Chanyeol kembali mengulum senyum. Ia mengusap gemas kepala Baekhyun, "Aku tahu apa yang kau pikirkan, Sayang. Aku akan melakukannya jika kau benar-benar sudah siap. Yang terpenting, kita sekarang sudah memiliki perasaan yang sama. Saling mencintai satu sama lain."
Baekhyun mengangguk, lantas balas memeluk pinggang Chanyeol dengan sangat erat. Tak lama setelahnya, perhatian Baekhyun beralih pada sosok wanita di belakang mereka. Sepertinya wanita itu saja keluar dari kamar yang berada di deretan yang sama dengan kamar mereka.
"Oh!"
Chanyeol terheran mendapati Baekhyun tiba-tiba berseru sambil memperhatikan arah belakang. "Ada apa, Sayang?"
Baekhyun menggeleng pelan, "Aniyo, hanya orang itu ... tadi aku tak sengaja bertabrakan dengannya di dekat pintu hotel. Jika dilihat dari perawakannya kupikir dia orang Asia sama seperti kita, Oppa."
Chanyeol memperhatikan sosok yang ditunjuk Baekhyun. Tanpa diduga, wanita itu menoleh ke arahnya.
Mata Chanyeol nyaris tak berkedip. Ia merasa tidak asing dengan perawakan dan gaya berpakaian wanita itu—khususnya paras wajah. Chanyeol tanpa sadar melepas pelukannya dari Baekhyun, hingga berjalan menuju arah yang dilalui wanita tadi.
"Oppa?"
Bahkan suara Baekhyun diabaikan oleh Chanyeol. Ia justru berlari menyusul wanita itu, setelah menangkap gerak-gerik mencurigakan.
Saat berada di persimpangan lorong, Chanyeol membungkukkan badannya sejenak. "Hhh ... hhh ..." ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, lantas mengumpat kesal karena kehilangan jejak wanita tadi. "Sial! Ke mana dia pergi?!"
Masih diliputi perasaan kesal, Chanyeol menoleh kaget saat mengetahui Baekhyun turut mengejar dirinya.
"Oppa!"
"Kenapa kau berlarian, Sayang? Bagaimana jika kau kembali jatuh sakit?!" pekik Chanyeol kelewat panik, hingga tanpa sadar menaikkan nada suaranya.
"Aku hanya khawatir karena Oppa tiba-tiba berlari begitu saja," Baekhyun mengatur napasnya yang sedikit tersengal. Membuat kekhawatiran Chanyeol kian bertambah.
"Maaf, aku hanya—"
"Oppa mengenal orang tadi?" tanya Baekhyun kemudian. Seolah bisa membaca pikiran Chanyeol melealui sorot matanya.
Lama terdiam, Chanyeol akhirnya menggeleng pelan. "Sepertinya aku salah orang. Kajja, kita kembali ke kamar. Kau harus beristirahat, Sayang. Bagaimana jika jatuh sakit lagi? Memangnya tidak mau pergi jalan-jalan denganku besok?"
"Tentu saja aku mau, Oppa! Aku tidak mau seharian di kamar hotel lagi, itu membosankan!" seru Baekhyun dengan bibir mencebil imut. "Pokoknya besok kita harus jalan-jalan."
Chanyeol tergelak, lalu mengacak rambut Baekhyun. "Tentu, Sayangku."
Baekhyun tersenyum senang dan segera memeluk Chanyeol. Ia membawa pria itu kembali berjalan menuju kamar hotel mereka. Tanpa tahu jika Chanyeol sesekali melirik belakang.
Mungkin hanya perasaanku saja bila perempuan tadi mirip sekali dengan Seohyun ...
..
..
..
Sosok wanita itu terlihat keluar dari pintu darurat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, memastikan situasi sudah aman. Ia kemudian bersandar di dekat pintu salah satu kamar hotel, mengatur napas yang tersengal akibat aksi kabur dari orang yang diduga mengenali identitasnya.
"Kenapa harus seawal ini bertemu dengan mereka?" wanita itu mendengus frustasi, sambil mengibas rambut panjangnya. "Hah ... sepertinya aku harus berhati-hati ..."
Setelah berhasil menenangkan diri, ia kembali berjalan menuju lift terdekat. Wanita itu menunggu dengan tidak sabar, berharap pintu lift segera terbuka. Atau akan ada orang lain yang kembali mengenali identitasnya.
TING!
Wanita itu bernapas lega dan bergegas masuk ke dalam lift. Tanpa ia tahu pintu lift yang ada di belakangnya juga terbuka secara bersamaan. Memunculkan sosok pria yang spontan menatap ke arah punggungnya dengan ekspresi sulit diartikan.
Saat wanita itu hendak menekan tombol untuk mempercepat proses penutupan pintu lift, tiba-tiba ada seseorang yang mengulurkan tangan—menahan agar pintu lift kembali terbuka.
"Tidak kusangka kita bertemu di sini, Seohyun ..."
DEG!
Wanita itu mendongak. Bola matanya nyaris keluar saat mengetahui sosok pria yang kini telah berdiri di hadapannya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kau ..."
TO BE CONTINUED
01 Desember 2017
A/N : Thanks for reading and reviews, see you next time =)
