*Balasan review non-login:

#HakachiiAii: Iya, Ted gampang mabok perjalanan. Biar greget XD

Ini udah dilanjut, makasih ya udah mau baca '-')b


Class 2 – E

Genre: Friendship, and (slight) Romance

Pairing: Random (kadang ada yang un-mainstream/crack pairing)

Vocaloid © Yamaha dan sejenisnya

Setting: Junior High School

Warning: OOT, Gua-Lu bahasa, Bahasa non-baku, Miss Typo's (namun ada beberapa yang disengajakan), Full Author/Normal POV, School Life, and Based on Author's Real Story

Summary: Kelas 2 – E memang kelas yang terbawah. Tapi percayakah jika suatu saat kelas 'ajaib' ini justru mengalahkan kelas A?

*) Special for Atmosfer or RE8AL, for All My Virtual Friends, for All Silent Readers, and for YOU

.

.

.

Chapter 11:

Study Tour Day 2

(Jalan-Jalan di Yogya)

.

.

.

Semua murid menghela nafas. Didepan mereka terdapat hotel bintang seperempat itu. Walau didepan mereka terdapat papan besar yang menyatakan kalau itu hotel, tapi tetap saja, pemandangan yang ada dihadapan mereka ialah sebuah lossman. Sebuah lossman 2 tingkat dengan masing-masing 6 kamar disetiap lantainya.

"Bintang seperempat," gumam Rin. "It's so wonderful."

"Nah, sebaiknya kalian segera bawa koper-koper kalian ke lantai paling atas. Sepertinya Yuuma-sensei akan memberikan pengarahan," kata Meito-sensei.

Semua murid mengangguk. Dengan sekuat tenaga mereka mengangkat koper-koper berat mereka.

"Hosh, hosh, ini berat cuy!" seru Len.

"Yaelah, lu kan cowok. Masa' kalah sama cewek," ledek Kaiko.

"Ya … kan lu cewek jadi-jadian. Wajar aja kalau lu kuat," balas Len ketus.

"Kurang asem lu," sahut Kaiko.

"Sudah, sudah, kalian jangan bertengkar," kata Miku sambil meleraikan kedua anak berbeda warna rambut itu. "Kalian bikin macet jalan tahu nggak!"

Gadis berambut hijau panjang itu menunjuk kearah belakangnya, dimana banyak adik kelas dan anak kelas mereka yang mengeluh karena macetnya jalan ditangga kecil tersebut.

"Yayayaya …," kata Len.

Pada akhirnya, mereka sampai juga dilantai 3. Disana nampak Yuuma-sensei terlihat (sok) keren.

"Ohayou, minna-san!" sapa Yuuma-sensei dengan cengiran lebar.

"Ohayou," balas semua murid dengan kuapan lebar.

"Wih, banyak pesawat ya!" komentar Kaito.

"Norak lu!" sahut Nero. "Disini kan deket ama bandara."

Ngingg! Syuss! Tiba-tiba saja muncul helikopter diatas hotel /ralat/ lossman itu.

"Ohayou, minna!" sapa Master sambil melambaikan tangannya dari helikopter tersebut.

"MASTER?" pekik semuanya kaget.

"Yo, biar saya umumkan," kata Master sambil membuka gulungan. "Ladies kelas 2 dan kelas 1 kamarnya ada dilantai 2 sedangkan boys kelas 2 kamarnya ada dilantai 1 lalu boys kelas 1 kamarnya ada dihotel sebelah. Terima kasih."

"Hah? Kita mesti turun lagi gitu? Oh my God!"

"Good job! Koper gua berat banget nih."

"Kenapa kagak dikasih lift?"

"Gua tendang aja kali ya nih koper biar turunnya gampang?"

"Bikin capek aja dah."

Begitulah, beberapa komentar mulai keluar dari mulut siswa-siswi kelas 2 sementara adik kelas mereka hanya sweatdrop memerhatikan kelakuan kakak kelas mereka.

"Oya, nanti kalian sampai jam setengah 8 harus udah siap ya," kata Mizki-sensei. "Yang telat, entar ditinggal."

Semua murid kelas 2 – E langsung mengangguk dan masuk ke kamar masing-masing.


*Kamar Cewek*

"Katanya kita satu kamar dulu ya? Baru entar ditentuin sekamar sama siapa," kata IA.

"Yup, begitulah katanya," balas SeeU.

"Eh, gue mandi duluan ya bareng Clara," kata Tei dan Clara sambil nyelonong masuk ke kamar mandi.

"Btw, tadi disuruh jam berapa?" tanya Iroha.

"Jam setengah dela …pan?" jawab Kaiko. "Heh? 20 menit lagi jam setengah delapan?"

Semuanya langsung melirik jam dinding yang ada diruangan tersebut.

"Woi, Clar! Tei! Mandinya cepetan!" seru Lily menggedor-gedor pintu kamar mandi.

"Sabar woy! Gue baru sabunan!" sahut Tei. "Gue juga mau keramas nih!"

"Halah … jangan sok cantik lu! Lu kan nggak dibales perasaannya sama Len!" seru Lily pedes.

"Yaudah … nggak usah segitunya juga kali," kata Tei sambil menahan tangis.

"Woy, kalau mandi cepetan!" seru IA nggak sabaran.

"Iya, iya, sabar bro! Baru aja masuk," balas Clara.

Clek! Pintu dibuka, menampakkan sosok Mizki-sensei.

"Kalian sedang apaan sih? Berisik amat," tanya Mizki-sensei.

"Tuh, nungguin dua orang lagi mandi," jawab Iroha.

"Yaudah, tapi agak cepat ya!" seru Mizki-sensei. "Waktunya tinggal 10 menit lagi loh."

Clek! Blek! Setelah pintu tersebut ditutup oleh Mizki-sensei dan Mizki-sensei pun segera keluar dari kamar tersebut. Lalu kemudian, kegaduhan pun terjadi.

"WOI! MANDINYA CEPETAN!"

Sebuah teriakan massal yang sempat mengganggu burung-burung pun kita telah terlaksana.


*Situasi anak cowok kelas 2 – E*

"Gua capek! Pegel nih!" keluh Len sambil merenggangkan tangannya.

"Yaelah, koper lu ringan kali Len!" komentar Big Al. "Beratan juga koper gua."

"Koper lu kan penuh dengan makanan, wajar aja berat," celetuk Gumiya.

"Apa lu kata?" tanya Big Al dengan nada dingin.

Clek! Pintu dibuka menampilkan sosok Yuuma-sensei.

"Kalian, cepetan mandi! Tinggal 20 menit lagi nih!" seru Yuuma-sensei.

"Iya, sensei," balas Big Al. "Ngomong-ngomong, entar sarapannya kapan?"

"Makan mulu dipikiran lu, Big," komentar Kaito.

"Yaudah sih," balas Big Al sewot.

"Sarapannya entar di-bus. Lebih baik kalian cepetan mandi," kata Yuuma-sensei menjawab pertanyaan Big Al.

"Oke, deh!" kata Leon.

Blek! Clek! Pintu bercat coklat itu kemudian ditutup oleh Yuuma-sensei.

"Eh, yang mandi tadi siapa?" tanya Kaito.

"Itu sih Piko," jawab Bruno.

"Kok lama banget ya?" tanya Akaito.

Semua anak kelas 2 – E langsung melirik kearah jarum jam. Kemudian mereka langsung melirik kearah pintu kamar mandi.

"Piko no Baka! Cepetan mandinya!" seru Kaito menggedor-gedor pintu.

"Eeeh, gua duluan yang mandi!" seru Len.

"Gua duluan!" kata Gumiya

"Gua!" kata Big Al

"Udah daripada kalian ribut, mending gua duluan deh," kata Leon mencoba memberi 'jalan tengah'.

"ITU BUKAN SOLUSI, LEON!" teriak keempat anak itu.

"Cih, lama amet mandinya, Pik!" celetuk Akaito.

"Sabar dikit napa, gua kebelet boker," balas Piko diluar kamar mandi.

"Huwatt! Lu boker! Iyuhh," komentar Nero alay.

"Awas aja nanti waktu gua masuk kamar mandinya jadi bau," kata Lui.

"Udah, ih! Cepetan!" kata Len nggak sabaran.

"Tahan … bentar lagi nih! Uhh!" kata Piko.

Clek! Pintu dibuka, kali ini menampilkan sosok Meito-sensei.

"Kalian berisik deh!" komentar Meito-sensei.

"Habisnya, Piko lama mandinya," balas Leon.

"Sudahlah, kita berangkat masih sejam lagi kok," kata Meito-sensei.

"Heeeeh?"


*Kamar anak cewek*

"IA! Iroha! Mandinya cepetan!" seru Kaiko.

"Sabar!" teriak IA dari dalam kamar mandi.

"Aduh, kalian berisik deh!" celetuk Luka-sensei yang tiba-tiba saja masuk kekamar mereka.

Semuanya (kecuali IA dan Iroha tentunya) langsung menoleh, mendapati Luka-sensei yang berdiri dengan tegak didepan pintu kamar mereka.

"Kita berangkat masih sejam lagi loh," lanjut Luka-sensei lagi.

"Loh? Kok gitu?" tanya Gumi.

"Soalnya kita baru akan berangkat jam 9. Jadi, kita makannya dihotel bukan dibus," jawab Luka-sensei. "Lagi pula kalian pasti mandinya ngantri. Ah, sudah ya! Sensei mau siapin sarapan dulu."

Blek! Pintu itu ditutup, tepat saat Luka-sensei keluar dari kamar.

"Ih, labil banget sih jamnya!" komentar Rin singkat. Lalu semuanya pun mengangguk setuju.

Setelah sarapan berupa nasi goreng dan teh hangat (yang untungnya dikasih gula bukan garam), mereka semua segera berangkat ke pabrik gula. Adik kelas mereka? Ehm, kelas 1 – E rupanya pergi ke keratin. Naik apa? Ya … jalan kaki. Kan bus-nya udah dipake buat kelas 2- E ke pabrik gula. Poor 1 – E!


*Sejam kemudian*

"Eh? Ini pabriknya?" tanya IA. "Kok nggak kayak pabrik ya?"

"Ini kantornya, IA-san. Pabriknya ada disebelah sana," jawab Meito-sensei sambil menunjuk sebuah pabrik besar disebrang kantor tersebut.

"Oh … begitu," kata IA mangut-mangut.

"Nah, ayo masuk! Kita akan mempelajari cara pembuatan gula," kata Master.

Semua murid langsung mengangguk mantab.

"Wah, anak-anak LHS kelihatan keren dan dewasa ya kalau pakai almamater," puji seorang karyawan disana.

Semua murid langsung tersenyum bangga.

"Tapi kok yang pendek itu rasanya kurang cocok ya?" lanjut pegawai itu.

Len yang merasa ditunjuk pun itu hanya bisa ngedumel.

"Makanya, jangan jadi pendek," ledek Miku sambil menepuk bahu Len.

Len langsung pudung dipojokan sambil ngomong-ngomong nggak jelas.

"Eh, Len nggak apa-apa tuh?" tanya Tei.

"Sudahlah, itu memang sudah takdirnya kok," jawab Clara enteng.

Jleb! Len merasa ditusuk ribuan paku payung.

"INIKAH NASIB SEORANG BERTUBUH PENDEK?" tanya Len histeris.

"Untung … gua udah beli susu 'Hai, Elo!' yang katanya bikin tubuh tambah tinggi itu," gumam Piko sweatdrop.

"Yasudahlah, acara udah mau dimulai tuh," tegur Yuuma-sensei.


(Skip Time XD)

Bus kini telah sampai dipenginapan. Kunjungan dipabrik gula memang cukup melelahkan. Tapi serunya itu waktu naik kereta uap yang jalannya super 'cepet' sampai diliatin semua orang kayak artis gitu. Greget, kan?

"Onii-chan, jam berapa mau ke Taman Pintar?" tanya Akaiko.

"Jam 4 sore," jawab Akaito.

"Heh? Masih lama dong!" seru Akaiko.

"Begitulah …."

"Akaito! Main bola diteras lantai 3 yuk!" ajak Leon.

"Ayo, ayo!" balas Akaito.

Pada akhirnya anak cowok pada main bola diteras lantai 3.

"Uwaah, indahnya sunset itu!" seru Kaiko dengan mata berbinar-binar.

"Indah apanya? Wong, mataharinya ketutupan pohon gede gitu!" komentar Gumi sweatdrop.

Kini, anak cewek kelas 2 – E sedang duduk-duduk diatap sambil menikmati pemandangan sore yang 'menakjubkan'. Yah, sekalian ada beberapa cewek yang modus lah. Wkwkwkw …

"Semuanya, ayo ke Taman Pintar sekarang!" seru Meito-sensei.

"Uwaah … disaat ngantuk seperti ini?" tanya Miku sambil menguap lebar.

"Ini kan sudah sore, Miku," kata SeeU mengingatkan.

"Are? Kemana Iroha dan IA?" tanya Kaiko heran.

"Ne, ne, bukankah mereka sedang tertidur dikamar," jawab Gumi.

"Souka? Kalau begitu biar aku dan Lily yang membangunkan mereka, sisanya pergi duluan saja," kata SeeU sambil menarik tangan Lily.

"Ah, iya," kata Kaiko menyetujui.

Kini, nampak 11 orang berjalan kaki menuju sebuah tempat wisata.

"Miku, awas!" teriak Piko.

"Eh?"

Nyaris, gadis itu nyaris saja tertabrak sebuah mobil.

"Kau memang ceroboh, Miku," kata Kaiko dengan senyum watados.

"Makanya, jangan kepikiran yang aneh-aneh melulu!" seru Len.

"Uwah … kalian mengkhawatirkanku, aku senang sekali!" pekik Miku polos.

"Aku jadi tidak mengerti kenapa aku bisa sekelas dengan Miku," gumam Rin sweatdrop.

"Hey, sebentar lagi kita sampai noh!" kata Big Al bersemangat.

"Yosh! Semangat masa muda gua kini mulai membara!" seru Bruno bersemangat.

"Lu mengatakannya seperti orang yang mengalami penuaan dini," komentar Nero.

"Seperti biasanya, komentarmu selalu tajam, Nero," kata Gumi dingin.

"Lu dingin banget, Gum," kata Gumiya merinding.

Gedung dengan pagar besi panjang itu kini telah terlihat.

"Etto … maaf ya. Rupanya tempatnya sudah ditutup dari jam 4 sore," kata Meito-sensei sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

"Uwaah … jahatnya!" kata Tei.

"Ah, tahu begini gua ikut Leon, Akaito, Kaito, Lui, Ted, dan Yohio aja yang katanya mau dateng telat dikit," kata Len ketus.

"Iya ya, mending ikut SeeU, Lily, IA, Iroha, dan Clara aja deh," tambah Kaiko.

"Yasudah, bagaimana kalau kita makan pizza aja?" tanya Meito-sensei menawarkan. "Sensei yang bayarin deh!"

"Arigatou, Meito-sensei."

"Meito-sensei baik deh!"

Begitulah, berbagai pujian dan sanjungan diberikan kepada Meito-sensei. Tapi … 'Habis! Pasti uangku habis 300 ribu untuk mentraktir mereka! Tapi ya … mau bagaimana lagi? Aku tidak tega melihat raut muka kecewa mereka,' inner Meito-sensei. Hey, hey, rupanya Meito-sensei itu guru yang pengertiannya?


#At Hotel 06.00 pm

Langit berubah menjadi biru gelap. Mentari telah menghilang berganti bulan. Semilir angin bertiup pelan membawa kesejukan.

"Langit malam yang indah! Yogya memang keren ya," kata Kaiko.

"Ya, aku berharap tahun depan kita kesini lagi buat mengukir kenangan," balas Miku.

"Hey, hey, kalian tidak ke Malioboro?" tanya SeeU. "Gue udah beli topi buat persiapan di Borobudur loh!"

"Topi? Untuk apa?" tanya Miku heran.

"Kalian tidak ingat? Di Borobudur kan panas banget! Jadinya kita beli topi untuk melindungi rasa panas!" jawab SeeU bersemangat.

"Kalau begitu, ayo kita ke Malioboro!" ajak Kaiko.

"Ayo!"


*Disisi lain*

"Kaito, apa lu nggak beli kebanyakan?" tanya Len heran.

Orang-orang berjalan melewati mereka. Suasana ramai Malioboro dimalam minggu terasa sesak dengan lautan manusia yang ingin membeli oleh-oleh untuk keluarga tercinta.

"Masa'? Gua rasa nggak kebanyakan. Kan cuma 1 set gaun loli buat Mokaiko, Baju batik buat Mokaito dan Otou-san, Gitar akustik dengan tulisan Yogya buat Okaa-san, terus juga ada gantungan buat semuanya," jelas Kaito.

"Itu banyak, Kaito! Lagi pula kenapa lu nggak patungan aja sama Kaiko? Kalian kan kembar," tanya Leon heran.

"Nggak usah, ah! Uang gua masih banyak," jawab Kaito dengan muka watados.

Len dan Leon pun langsung sweatdrop ditempat.

"Hey, kalian mau minum teh sekalian makan sate?" tanya Big Al menawarkan.

"Mau," jawab Kaito bersemangat.

"Kami tunggu dilesehan ya!"

"Iya."

Sungguh hari-hari yang panjang sebagai murid kelas 2.

.

.

.

To be continue

.

.

.

Next chapter: Study Tour Day 3 (Tugas, Candi, Turis, dan Bakpia)

"Makanan gua tumpah!"

"Kenapa … kenapa cuacanya SEPANAS INI?"

"Wih, gua nemu hp!"

"Dasar OMDO!"

"Juju raja, gua maunya dikelompok Miku atau nggak dikelompoknya Ted."

Maaf kalau yang ini nge-bosenin. Habisnya saya buntu ide! Buntu ide! *nangis kejer*

Makasih udah nyempetin waktu buat baca ya! XD