Title : Catch Me. If You Wanna.
Author : Sherry Kim
M. Cast : Jung Yunho
Kim Jaejoong
Other
Genre : Romance, Drama, Friend Ship, Family, Comedy, etc...
Rate : T ~ M
WARNING.
Yaoi. Don't like Don't Read. Cerita ini milik saya seorang. Alur maju mundur tidak jelas. Yang masih nekat baca jangan menyesal.
.
.
Jung Yunho mendengarkan dengan tenang setiap kata yang ibunya ucapkan dengan nada menegur dan merintah. Wanita itu menerobos masuk ke dalam kamarnya pagi pagi sekali hanya untuk bertemu dan berceramah panjang tanpa ujung.
"Apa yang membuatmu sibuk akhir akhir ini, Yunho? Sampai kau lupa menemui tunanganmu."
"Kantor Umma. Dan aku belum memiliki tunangan" jawab Yunho santai. Pria itu berusaha mengabaikan ibunya meski tidak mudah ketika wanita itu mengekor di belakang kemanapun ia berjalan di kamarnya yang luas itu.
"Hari ini Ahra ulang tahun, apa kau ingat?"
"Tahu saja tidak!"
"Sebagai kekasih seharusnya kau tahu segalanya tentang dia. Astaga, tidak heran jika tidak ada wanita manapun yang mendekatimu."
Mengikat dasi di leher dengan cekatan Yunho menjawab sambil lalu. "Aku yang tidak berminat, dan aku bukan kekasih Ahra."
"Tentu saja kau kekasihnya."
"Menurut Umma, ya." Yunho yakin mendengar ibunya menggumamkan sesuatu, tapi ia tidak yakin apa yang ibunya itu katakan. "Umma yang menginginkan pertunangan ini, jika Umma ingin memberi hadiah dan sebagainya silahkan Umma berikan sendiri kepada Ahra, jangan sangkut pautkan aku dengan masalah ini" Jas telah terpakai rapi, ia mengambil tas kantor dari atas meja nakas dan bersiap untuk keluar saat ibunya itu mengatakan sesuatu tentang 'aku ingin mati'. Ya Tuhan.
"Dasar kau anak nakal, tidak bisakah kau membahagiaan ibumu dengan permintaan kecil ini." Bahkan ibunya itu berpura pura menangis. Yunho merasa kepalanya mulai pening jika terus di bebani masalah ini.
Selama ini ia berusaha mengabaikan dn bersikap dingin kepada semu orang, itu melelahkan. Karena ia hanya menggunakan sikap dingin itu sebagai pembalasan dendam kepada orang tuanya yang mengabaikan dirinya di waktu muda. Ia telah tumbuh dewasa dan ia benci jika masih harus bersikap manis demi mendapat perhatian mereka yang tida pernah ia dapatkan dulu.
Sekarang, mereka merada berhak menentukan masa depannya Yu ho sendiri setelah apa yang kedua orang tuanya lakukan di masa lalu.
Baiklah, ia memang anak yang susah di atur, dingin dan bertempramental buruk terhadap anggota keluarganya sendiri, tapi bukan berarti ia tidak punya hati dan membiarkan ibunya itu menangis histeris. "Baiklah," ia menyerah. "Aku akan menemuinya untuk mengucapkan 'selamat ulang tahun' seperti yang Umma minta." lalu mengakhiri semuanya dengan wanita itu.
Tangisan Mrs. Jung semakin keras, Yunho tahu itu hanya pura pura namun tetap saja. "Ok, makan malam." Saat ibunya ingin memprotes ia menambahkan. "Hanya itu Umma, atau lupakan jika aku ingin menemuinya." Ajaibnya, tangisan ibunya mereda dan di gantikan seyum secerah mentari pagi di bibir merahnya.
Yunho menggerm sebelum berbalik, samar samar ia mendengar teriakan ibunya dari dalam kamar. "Ingat untuk memberi tahu Ahra lebih awal untuk makan malam jam delapan nanti Yunho."
Baiklah! Yunho harus menggunakan kesempatan ini untuk bicara terus terang kepada Ahra. Sekali dan selamanya, ia ingin ini selesai secepatnya sebelum kekasih manisnya mendengar pertunangan ini dari mulut orang lain.
Bibir hati Yunho melengkung ke atas hanya dengan mengingat Jaejoong. Ia tidak sabar untuk menunggu hari cepat siang dan mendapat bekal yang sudah di janjikan Jaejoong akan di antar ke kantornya siang ini.
"Apa yang mereka rencanakan?"
Telinga Jaejoong bergerak tak kasat mata saat mencoba mencuri dengar. Segerombolan teman temannya sedang berkumpul membentu kelompok di bangku depan, tidak jauh dari bangku kursinya. Namun tidak cukup baik bagi Jaejoong untuk mampu mendengarkan bisikan apapun yang sedang mereka diskusikan.
Melirik Changmin, pemuda itu duduk di kurai sebelahnya, alis Jaejoong mengeryit melihat teman baiknya itu memakai kaca mata hitam sejak tadi pagi. "Kau bisa melihat papan tulis dengan kaca mata itu?"
"Dengan sangat baik aku bisa melihatnya."
Jaejoong tidak yakin itu. "Matamu terluka." Tanpa meminta ijin, Jaejoong menarik kaca mata hitam Changmin. Pemuda itu terkejut, mencoba mengambil kaca matanya kembali sampai kehilangan keseimbangan dan jatuh dari bangku dengan suara jatuh yang cukup keras ketika bokongnya mencium lantai.
Suara benturan keras itu menarik kumpulan pemuda di depan sana. Mereka lebih penasaran dengan apa yang membuat si kucing cantik Kim Jaejoong tertawa keras ketimbang membantu ataupun memperhatikan Changmin.
"Panda." ujar Jaejoong. Ujung matanya mulai berair yang di yakini teman temannya adalah air mata tawa.
Munculnya Changmin kembali membuat tawa seisi kelas meledak. "Ada yang salah?" bentak Changmin sengit.
"Tidak ada yang salah, sungguh. Hanya saja dengan sebelah matamu menghitam seperti itu kau terlihat konyol." salah satu sahabat mereka berkata sambil tertawa terpingkal.
"Tertawa di atas penderitaan orang lain, di mana tata perikemanusian kalian."
Di sela tawa, Jaejoong bertanya. "Di surga. Dan dari mana kau mendapatkan kenangan indah itu?"
"Kakakmu." jawaban Changmin membuat tawa Jaejoong lenyap seketika. "Nuna? Siapa?"
"Semua kakakmu." bentak Changmin.
Demi apa. Ia kapok melelang Jaejoong jika bayaran yang ia dapat adalah di keroyok enam wanita muda yang mengamuk mencari adik mereka. Salahkan Yuri yang datang ke sekolahan mereka untuk menjemput Jaejoong saat Jaejoong baru saja pergi bersama Yunho sabtu lalu.
Dan terkutuklah para murid Saphire dengan mengatakan ke mana dan kenapa Jaejoong tidak bersama dengan mereka. Changmin sudah sangat lega saat Yuri hanya melotot galak kearahnya lalu pergi. Siapa sangka. Kakak dari sahabat yang ia lelang datang berkunjung malam harinya dan memberikan kenang kenangan indah untuk Changmin.
"Aku tidak percaya Nuna-nuna Jongie yang baik hati itu tega memukulmu."
"Tapi kenyataannya mereka berani." Meskipun tidak begitu kenyataannya.
Saat itu ia hanya mencoba kabur dari keenam kakak Jaejoong yang mengrikan dan tanpa sengaja ia sendirilah yang menyodorkan wajahnya kerah kepalan tangan Sunny, yang kebetulan gadis itu sedang mengancam akan menonjoknya.
Demi ibunya yang cantik. Ayahnya malah menertawakan Changmim dan mengatakan dengan enteng "Bagus. Itu ganjaran yang pantas untuk bocah nakal sepertimu." Ya Tuhan, apakah ia anak pungut sampai ayahnya diam saja melihat putranya yang tampan di keroyok enam wanita muda yang sedang marah.
Melihat Changmin yang melamun dengan senang hati Jaejoong memukul kening sahabatnya itu dengan buku yang ia baca. "Kau mengabaikanku."
"Apa?"
"Aku bilang kau pantas mendapatkan memar itu," bentak Jaejoong gemas. "Ngomong ngomong aku akan dengan senang hati memberimu satu memar lagi agar sebelah matamu memiliki warna yang sama. Dengan begitu kau tidak perlu memakai kaca mata hitam lagi, panda."
"Berani melakukannya aku akan mencekikmu." ujar Changmin geram.
Semua murid yang mendengar perdebatan mereka tertawa semakin keras. Changmin mendelik kearah mereka. "Diamlah atau aku akan memberi kalian memar yang sama."
Melirik Jaejoong yang tersenyum lebar kearahnya, Changmin mampu menduga bahwa sunsana hati kucing nakal itu dalam mood yang baik. Serigai jail muncul di ujung bibir tipisnya. "Ceritakan kepadaku bagaimana kencanmu minggu lalu."
Wajah merona Jaejoong menjawab pertanyaan Changmin. Pemuda itu berdecak sebal karena tidak bertanya lebih awal. "Kalian sudah jadian?" Jaejoong mengangguk.
"Apakah Yunho Hyung sudah menciummu?"
Dalam hati Changmin berjanji akan menguliti beruang itu dan menjual kulitnya dengan harga mahal karena telah menodai kesucian kucing kesayangannya. "Ya Tuhan. Kau harus menikah dengannya."
Jika wajah merah merona Jaejoong masih bisa lebih merah lagi, pemuda itu sudah pasti akan di kira demam. "Me... menikah?"
"Ya. Ajushi itu sudah menodai bibirmu yang menggoda dan aku sebagai teman terbaikmu tidak akan berdiam diri melihat Ajushi mesum itu melakukan hal yang tidak tidak kepadamu."
"Tapi Bearku tidak melakukan hal ya tidak-tidak, dia melakukan hal yang iya-iya." Jaejoong meralat.
"Bearku?" panggilan apa itu.
Ingin rasanya Changmin mencakar wajah kucing nakal seperti Jaejoong andai ia tidak takut kepada keenam kakak pemuda itu akan membalas dendam lagi kepadanya. Tidak. Satu kali merasakan tinju mereka sudah cukup untuk selamanya.
Menghela napas, Changmin merasa ia lebih tua sepuluh tahun setiap kali berhadapan dengan sahabatnya ini. "Bayangkan apa yang akan di lakukan keenam kakakmu jika mereka tahu adik kesayanganya telah di lecehkan."
"Tapi Jongie rela di lecehkan jika Yunnilah orang yang melecehkan Jongie."
Buku yang baru saja Jaejoong baca mendarat indah di kening pemuda itu. "Sakiiii...t." Teriakan Jaejoong semakin menggema. Tangan pemuda itu mengusap keningnya berulang kali karena pukulan itu lebih keras dari pukulan yang ia berikan kepada sahabatnya tadi.
Dengan enteng Changmin berkata. "Kau pantas mendapatkannya."
"Kalian bertengkar?"
"Tidak."
"Ya."
Keduanya saling menatap lalu mendangus sebelum memunggungi satu sama lain.
Seunghyun, pemuda yang bersandar santai pada sisi meja Changmin itu tersenyum melihat tingkah keduanya. Semua orang tahu sejak kejadian pelelangan minggu kemarin keduanya terlibat perdebatan. Hanya saja keduanya mengelak ketika di katakan mereka bertengkar atau sebagainya.
"Sore ini, kau ada acara Jongie?" duduk di bangku meja depan Jaejoong, pemuda itu menunggu penuh harap.
"Tidak. Jongie sibuk... sangat sibuk malah. Jangan ganggu Jongie." ucapan itu di lontarkan kepada Seunghyum, namun pandangan pemuda manis itu terarah ke samping. Di mana Changmin menyipitkan mata kearahnya dengan lengan terlipat angkuh di depan dada.
"Apa kau akan mencoba mengajakku bertengkar Jongie?" Berdiri dari tempatnya duduk, Changmin berkacak pinggang
Jaejoong tidak mau kalah dan berujar dengan suara yang lebih keras. "Oh, kau tidak akan berani melawanku. Sore ini Nuna akan menjemputku jika kau ingin tahu."
Serigai pada bibir cherry Jaejoong begitu sangat menyebalkan. Kedua tangan Changmin tergenggam erat di kedua sisi tubuhnya menahan amarah. Apa kucing nakal ini sedang menakutinya. "Mengancam eoh?"
Mengikat kedua lengan di depan dada Jaejoong bersikap angkuh. "Tidak. Tapi aku tidak keberatan jika kau menganggap itu ancaman. Kau takut?"
"Tidak!"
Geryitan samar di antara kedua alis Changmin meyakinkan Jaejoong bahwa pemuda itu takut dengan keenam kakaknya.
Seunghyun menyela. "Tidak bisakah kalian tenang. Aku hanya ingin mengajak Jongie makan sore ini. Itupun jika kau tidak keberatan."
Kata makan menarik perhatian Changmin. "Kau harus mengikut sertakan aku." lengan pemuda itu merangkul bahu Jaejoong akrab. Mengabaikan Jaejoong yang menggeliat ingin lepas. "Kami kan satu paket."
"Kau pikir kita parsel di jual paketan. Singkirkan tanganmu dari tubuhku." kepada Seunghyun Jaejoong berkata. "Maaf, tapi sore ini aku ada acara bersama Nuna-deul untuk melihat lihat kado apa yang ingin kami beli untuk ulang tahun pernikahan orang tua... mereka." imbuhnya lirih di bagian akhir. "Maaf. Mungkin lain kali."
Jaejoong berhasil lepas dari rengkuhan menyebalkan temannya setelah memberi gigitan sayang di lengan pemuda itu. Changmin mengaduh kesakitan karenanya. "Aku bisa menemanimu." ujar Changmin dengan senyum lebar kearah Seunghyun.
"Aku rasa itu ide bagus. Karena aku tidak suka pergi sendirian untuk makan malam bersama kakak dan calon kakak iparku."
"Ahra Nuna bertunangan?" Jaejoong lah yang bertanya.
"Ya. Segera."
Anggukan kepala Jaejoong yang mengakhiri berbincangn aneh mereka, Changmin terlihat sangat bersemangat untuk segera pulang. Pemuda itu sepertinya sudah tidak sabar untuk segera menemui kekasihnya. Makanan. Apalahi makanan gratis.
Belum genap dua minggu lalu sejak terkhir Jaejoong datang ke Mall ini, terakhir kali itu bersama Yunho. Rasanya sudah sangat lama karena Jaejoong merindukan kekasihnya itu.
Keduanya tidak bertemu sejak sabtu malam kemarin, setelah Yunho menyatakan perasaannya kepada Jaejoong. Pria itu sibuk, keluar kota. Itulah yang di katakan Yunho sampai mengabaikan Jaejoong yang manis ini. Sekarang sudah hari rabu dan Yunho belum juga mengajaknya bertemu lagi. Tidak tahukan dia bahwa Jaejoong merindukan kekasihnya itu.
Napas Jaejoong terdengar kasar saat pemuda itu mendesah. Bahunya bersandar pada dinding pembatas ruang ganti menunggu kakaknya yang sedang mencoba gaun yang akan ia kenakan pada pesta sabtu ini.
Keempat kakaknya masih sibuk memilih dan tersebar di butik luas salah satu milik sahabat baik ibu mereka. Jaejoong sudah menemukan jas serta kemeja yang ia kenakan. Putih, lagi. Sungguh menyebalkan, ia juga ingin mencoba warna lain seperti hitam misalnya.
Pastinya Jaejoong akan terlihat sangat tampan dengan kemeja hitam jas putih di padu dengan dasi hitam. "Kau tidak cocok memakai hitam."
"Itu untuk pria tua yang akan pergi ke kantor."
"Jongie kita terlalu manis untuk memakainya, putih, merah muda atau biru muda akan semakin membuatmu terlihat manis dengan warna lembut ini."
Itulah yang keenam kakaknya ocehkan tadi saat ia berniat mencoba jas hitam yang mereka beli untuk ayah mereka. Kado rahasia telah mereka beli dan kini tinggal menunggu keenam kakaknya memilih gaun.
Demi apa. Menunggu satu gadis sudah membuatnya kejang apalagi harus menunggu enam gadis. Jangan salahkan Jaejoong jika ia membenci mereka wahai kaum wanita. Ia hanya perlu waktu sepuluh menit untuk memilih pakaian yang akan ia kenakan. Tapi kakaknya itu membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencoba sebuah gaun sederhana yang menurut Jaejoong biasa saja.
Ujung sepatu Jaejoong mengetuk lantai dengan malas. Ia tidak berniat duduk karena bokongnya sudah sangat panas duduk selama lebih dari dua jam.
"Bagaimana menurutmu gaun ini Jongie?"
Doe Jaejoong memperhatikan Jessica yang mengenakan gaun entah model apa Jaejoong tidak tahu dan tidak ingin tahu. "Kau akan kedinginan dengan bahu terbuka seperti itu Nuna. Ac gedung sangat ganas, kau tahu."
"Ini mode, mode kau tahu."
Jaejoong menggeleng. "Aku tidak akan pernah memahami wanita. Kalian semua tidak suka seorang pria menatap kalian lapar tetapi masih suka memakai pakaian yang terbuka."
Yuri muncul dari bilik lainnya. Kakaknya yang satu itu memkai gaun hitam yang menurut Jaejoong seperti penyihir kejam dengan ujung bagian depan pendek, panjang di bagian belakang menjuntai sampai ke lantai. "Kau mengerikan." ujarnya tanpa berpikir.
Yuri mendelik kearah adiknya, berteriak kesal. "Yah... tidak bisakah kau memberi pujian 'Nuna kau sangat cantik' untuk membuaku senang?"
"Kalian memang sangat cantik," dengan sikap percaya diri yang tinggi Jaejoong menambahkan. "Dan aku juga tampan. Tapi kau Nuna terlihat seperti nenek sihir dengan pakaian hitam, warna hitam cocok untuk Jongie yang cowok ini."
Yoona melenggang melewari mereka dan masuk ke bilik ruang ganti. Dari dalam gadis muda itu berteriak. "Kau akan seperti kakek sihir jika mengenakan warna itu."
Wajah Jaejoog merah padam mendengar tawa Sunny dan Tiffany dari tangah butik. Ia mendelik kearah kedua kakanya itu galak yang hanya di abaikan oleh keduanya.
Kaki Jaejoong menghentak sebal menjauhi mereka, pemuda itu menghampiri Taeyeon yang berdiri begitu dekat dengan kaca dinding bagian samping butik. Bahkan kakaknya itu juga mencondongkan tubuh ke depan untuk meperhatikan sesuatu.
Jejoong bergabung dengan kakaknya itu. Menatap keluar kaca dan hanya melihat orang orang berlalu lalang. "Apa yang Nuna lihat?"
Taeyeon melirik Jaejoong sekilas. "Aku melihat temanmu bersama putra putri saingan perushaan kita." "kepada adiknya gadis itu bertanya. Kenapa Changmin bisa bersama Seunghyun?"
"Changmin? Di sini?" pandangan Jaejoong mengamati seluruh bagian luar butik. Ia tidak melihat temannya itu di manapun. "Seunghyun memang mengatakan dia akan makan malam bersama kakak dan calon kakak iparnya. Hanya saja aku tidak tahu dia akan ke sini."
"Di lantai atas Jongie, restoran Cina sebelah sana." pandangan Jaejoong tertuju ke arah yang di tunjukan kakak pertamanya. Itu memang benar Changmin, Jaejoong mengenalinya dari kaca mata yang di kenakan pemuda itu. "Bagaimana Nuna bisa mengenalinya ketika mereka berada di tempat yang cukup jauh?"
"Itulah keahilanku." ujar kakaknya bangga. "dan banyak keahlian lain tentunya. Bagaimana kalau kita ganggu mereka."
Ide itu sangat buruk. Tapi terdengar menggoda karena ia juga penasaran dengan calon kakak ipar Seunghyun. Cengiran lebar kakaknya mengatakan bahwa keduanya memiliki pemikiran yang sama tentang mereka.
Taeyeon mengembalikan gaun yang ia pegang ke tempat gantungam untuk menyusul Jaejoong yang sudah berjalan menuju pintu. Oh, ini akan seru karena mereka berdu berniat mengganggu acara makan malam itu.
Di tempat lain. Changmin menatap hambar makanan yang tersaji di hadapannya. Semangat yang tadi menggebu akan menyantap makanan yang sudah sangat lama tidak ia santap lenyap sudah ketika mereka bertemu dengan kakak dan calon kakak ipar yang di maksud Choi Seunghyun. Dan dari ratusan pria tampan di dunia kenapa harus Jung Yunho. Astaga, Jung Yunho.
"Kau tidak makan Changmin? Atau kau tidak suka makanan China?"
"Tidak." Changmim berkata pelan. Meskipun sebenarnya ia ingin berteriak keras. Ia tidak boleh merusak hari di mana kakak dari sahabatnya ini di lahirkan.
Bagaimanapun juga Ahra adalah wanita yang baik. Changmin pernah bertemu dengan wanita itu beberapa kali dulu, bahkan Jaejoong pun sama. Sorot matanya tajam menatap ke seberang meja, di mana Yunho yang diam diam juga mencuri pandang kearahnya.
Pria itulah yang harus ia salahkan di sini. Dan bodohnya ia karena menawarkan Jaejoong yang polos kepada srigala berbulu domba seperti Jung Yunho. "Kapan kalian akan bertunangan?"
Wajah Ahra berbinar bahagia, sangat berbeda dengan wajah Yunho yang tenang setenang danau dengan lumpur hisap di dalamnya.
Ahra sudah akan berucap saat mereka di kagetkan dengan kehadiran seseorang yang berdiri di sisi kiri Changmin. Changmin mendongak dan menemukan pemuda yang tidak ia harapkan akan ada di sini.
Pemuda itu mendelik dengan kedua lengan terlipat di dada angkuh. "Kau benar benar menyebalkan, dasar muka badak." Jaejoong mendeliksangat kepada Changmin.
Tidak biasanya Changmin berdiam diri saat ia caci maki. Alis Jaejoong menggeryit heran. "Kenapa? Kau terkejut melihatku ada di sini? Atau kau tidak suka melihatku berada di sini?"
"Dua duanya." jawab Changmin. Pemuda itu melirik ke seberang meja, ke tepat Yunho yang juga memucat dengan kehadiran temannya itu.
Pucat? Astaga. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah wakil directure tampan itu menunjukan wajah selain wajahnya yang dingin. Dan itu karena ulah kucing nakal Jaejoong.
Pertanyaan yang di ucapkan kakak Jaejoong yang muncul di belakang pemuda itu membuat wajah Yunho benar benar seperti mayat. "Jadi ini tunanganmu itu. Hai Ahra."
Musang Yunho tertutup. Pria itu menahan diri untuk tidak menunjukan wajah atau tindakan apapaun yang gegabah karena bisa berkemungkinan menyakiti siapapun. Sebelum ini mungkin ia bisa mengendalikan segalanya dengan sangat mudah, namun menghadapi pemuda yang ia cintai berdiri di hadapannya dengan wajah terkejut yang berubah marah dengan kedua mata doe yang sangat ia ia sukai mengerjap sebelum berubah warna menjadi merah.
Doe Jaejoong mengerjap dengan bibir terbuka lebar tanpa suara. Keheningan tanpa suara di pecahkan oleh ucapan Ahra. Wanita itu meraih lengan Yunho, menyelipkan lengannya sendiri di sana. "Hai Taeyeon. Kenalkan tunanganku... "
"Kita belum bertunangan Ahra." ujar Yunho.
"Belum. Tapi sebentar lagi akan."
Tatapan Yunho tertuju kearah Jaejoong meski lawan bicaranya adalah wanita yang duduk di sampingnya. "Aku tidak mengatakan bahwa aku mau bertunangan denganmu, dan sampai kapan pun tidak."
Pernyataan itu menarik semua mata tertuju kearah Yunho. Pria itu mengalihkan pandanganya dengan tidak rela dari Jaejoong untuk menatap Ahra tajam. "Tidak akan pernah. Itu hanya diskusi antara dua keluarga. Tidak akan pernah ada pertunangan jika aku tidak mengatakan iya."
Ahra tetap diam ketika jemari Yunho menepis tangannya. Wanita itu tersenyum meskipun sorot mata itu menunjukan rasa sakit hati karena ucapan pria yang telah mencuri hatinya ini. "Jadi aku belum berhasil mengubah keputusanmu?"
"Keputusanku tidak akan pernah berubah."
Ketika Ahra sudah akan berkata. Jaejoong mengahut untuk mendapatkan perhatian mereka. "Maafkan kami, sepertinya kedatangan kami mengganggu acara kalian. Maaf." Jaejoong menunduk sebelum berlari keluar restoran. Namun Yunho maupun Changmin menangkap wajah sedih pemuda itu sebelum pemuda itu kabur.
Taeyeon salah tinggkah bergumam. "Kami minta maaf" lalu berlalu menyusul Jaejoong.
Seunghyun beserta Changmim berdiri di saat yang bersamaan. Keduanya terlihat sangat marah denga alasan berbeda namun di tunjukan untuk orang yang sama. "Kau benar benar iblis." komentar adik dari Ahra itu.
"Apa kau benar-benar seorang laki laki? Teganya kau menyakiti Ahra Nuna dan... " Changmin menahan lidah. Ia tidak akan mempermalukan Jaejoong di depan semua orang. "Maafkan aku Nuna, aku harus pergi." pemuda itu menunduk memberi salam lalu pergi.
Yunho menatap Seunghyun. Pemuda itu terlihat sangat marah, namun ia tidak ingin membodohi siapapun dan menyakiti Jaejoong. Tidak akan ia biarkan siapapun menyakitinya, tidak juga dirinya. "Aku minta maaf." bangkit berdiri Yunho mengeluarkan kotak dari saku jas. "Selamat ulang tahun, aku benar benar minta maaf."
"Kau... "
"Seunghyun." Ahra berdiri untuk menahan adiknya. "Tidak. Menaklukan Yunho tidak akan membuahkan hasil jila kau menggunakan kekerasan."
"Nuna..."
"Jangan ikut campur masalah pribadiku Choi Seunghyun."
Pemuda itu menggeram marah dan kembali duduk. "Aku tidak paham apa yang kau sukai dari laki-laki dingin itu."
"Kau tidak akan pernah memahami cinta sebelum kau merasakan cinta itu sendiri."
Tapi Seunghyun tetap diam tanpa mengatakan bahawa ia telah jatuh cinta. Kepada seseorang yang terlarang baginya.
*TBC*
Hai. Kembali lagi. Typo di mana mana alur tidak jelas.
Tinggalkan jejak jika anda suka. Menerima kritik dan saran
Baca juga ffku yang lain. Dan ff baru ku SAY YOU LOVE ME. Yaoi.
