Bintang bertaburan pada semesta, membentuk gugusan dengan pendaran cantik, berkelip. Kelam langit menyembunyikan misteri. Kenyataan terselubung, yang harus ditelusur, dipelajari untuk diketahui.

Begitu juga dengan hati manusia, tersembunyi, terselubung, hanya saja sulit mempelajarinya, apalagi bila disembunyikan oleh si pemilik hati.

::

::

FOOLISH

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

Story by Mel

Warning :

M rate

Typo(s), AU, Yaoi, DLDR, cover not mine, it's only fictitious

Please enjoy

::

::

Lima tahun….

Yup! Tetsuya rasa itu waktu yang cukup untuk menata semuanya. Memberi jeda atau hanya alasan yang ia tawarkan pada pria berambut merah, untuk meyakinkan perasaan masing-masing.

Agar ia pun mempunyai waktu menyelesaikan pendidikan yang sedang ditempuhnya, kalau memungkinkan melanjutkan ke jenjang berikutnya.

Jika beruntung ia bisa mendapatkan seseorang yang dapat mencintainya, dan ia cintai sepenuh hati, yang dapat menemaninya hingga usianya lanjut, bahkan mungkin sampai ajalnya tiba. Orang yang akan menggenggam jemarinya, menuntunnya pada kebahagiaan yang hakiki.

Matanya menerawang pada gemintang yang bertabur di atas langit Los Angeles. Sementara di depannya terhampar kota besar yang penuh pendaran lampu. Ia bersandar pada tembok putih, sebuah bangunan besar di sebuah lereng, Griffith Observatorium.

"Bukankah dunia begitu luas, Kuroko?" suara Kagami Taiga menggugahnya dari lamunan. Ia hanya mengangguk, rambut birunya seolah berpendar karena pantulan lampu yang menerangi bangunan itu.

"Yeah, bahkan angkasa pun tampak jelas dari sini, Kagami-kun," ia berjalan mengitari sebuah teleskop besar mengarah ke langit, atap serupa kubah terbelah.

Matanya menatap lensa teleskop, menyusur gugusan bintang. Satu yang menarik perhatiannya ketika rona merah itu memasuki retinanya. Pendaran cahaya merah mengingatkannya pada seseorang.

Merah yang cemerlang. Ia hanya mengulum senyum. Seseorang yang berdiri di sampingnya sekarang pun identik dengan warna merah bukan?

"Apa kau akan semalaman di sini, Kuroko?" suaranya memecah perhatiannya pada planet dan bintang yang berserak di angkasa sana. Pemuda itu hanya menggeleng.

"Kita pulang sekarang, lain waktu kau bisa ke sini lagi," ujarnya. Tetsuya hanya mengangguk. Ia mengikuti pemuda tinggi besar di depannya. Entah mengapa, hanya saja Tetsuya merasa punggung tegap itu bisa melindunginya. Apa ia juga mempunyai hati yang besar yang bisa menjaga hati miliknya?

Berkali mata besarnya mengerjap, apa yang ia pikirkan barusan? Apa karena pemandangan yang romantis membuatnya menjadi melankolis? Cepat ia menghapus pikirannya.

Tetsuya tersenyum saat sebuah quote dari Niall Horan terlintas di benaknya , 'Being single doesn't mean you're weak. It means you're strong enough to wait for what you deserve.'

Pemuda itu tidak pernah tahu bahwa di luar sana banyak orang menunggunya, menunggu ia membukakan hatinya.

.

.

Kedua orang itu berdiri berhadapan, satu orang menatapnya penuh afeksi, sedangkan satu lagi hanya melarikan pandangannya pada rumput di halaman samping mansionnya.

"Apa kau tidak merindukanku, Akashichii…" tubuh tingginya membungkuk memeluk tunangannya. Sepasang mata merotasi.

"Lepaskan aku, Ryouta!" baritone itu datar. Tubuh tinggi beranjak, duduk pada kursi kayu kemudian menggenggam kedua tangan yang lebih kecil. Matanya membelalak.

"Mana cincin tunanganmu, Akashicchi, mengapa kau melepaskannya ?" seru pemuda itu.

"Aku memang melepaskannya Ryouta, aku pikir kita tidak bisa bersama lagi, banyak tidaksamaan diantara kita." Sebuah jawaban yang tak pernah ingin ia dengar.

"Tapi, mengapa Akashi-cchi? Kita bisa mulai dari awal lagi, kita bisa belajar saling menyayangi, mencintai, dan setia pada pertunangan ini!" serunya.

Mata Seijuurou memicing.

"Aku menyayangimu, Ryouta, tapi nyatanya kita tidak bisa saling setia," mata serupa rubi menatap tajam.

"Akashicchi, apa maksudmu, apa kau bermain di belakangku?" mata hazel berkedip, Seijuurou tersenyum miring. Bagaimana mungkin ia lupa gambar-gambar semi-porn, yang menampilkan sosok di depannya.

"Apa karena pelayanmu itu? Aku pernah bertemu dengannya di LA!" suara pemuda itu meninggi. "Kau mengkhianatiku karena pelayan rendah itu kan?" serunya, lagi.

"Tidak, tidak rendahan, Ryouta! Aku menkhianatimu karena aku menyukainya. Bagaimana dengan kau sendiri?" kini mata tajam itu menusuk. "Bukankah kau lebih mencintai pemain basket itu?" suaranya Seijuurou terdengar rendah. Kise Ryouta hanya bisa menganga.

"Kau tidak bisa membohongiku, Ryouta, dan mulai sekarang kita akan saling jujur. Aku melepaskanmu," mata madu itu membelalak, lagi.

"Mana mungkin bisa begitu, Akashicchi, bagaimana dengan keluarga kita? Status kita?" lirih.

Keluarga Akashi, terutama Shiori, memang sudah tidak lagi menghendaki pertunangan ini, bisa saja mereka dengan mudah mengatakan pada keluarga Kise.

"Hubungan kita, hanya sebatas bisnis, Ryouta, aku menyukai orang lain dan kau sendiri sama, akan lebih baik kalau ikatan ini disudahi saja," selembut mungkin Seijuurou berucap tapi bagaimana pun juga tetap saja menggoreskan luka.

"Aku tidak akan lagi membebanimu berhubungan dengan Aomine Daiki," Tekanan pada nada bicara Seijuurou dirasakan seperti sembilu.

"Bagaimana kau bisa memilih orang yang rendah seperti Kuroko Tetsuya, Akashicchi?" mata madu kini nyalang. Namun hanya dibalas senyuman.

"Tidak, kita salah kalau berpikir dia sebagai orang rendah, Tetsuya dari keluarga terhormat, dia anak sahabat ibuku, kalau kau ingin tahu," kata-kata itu membungkam bibir tipis Ryouta.

Tapi pemuda pirang masih saja ingin menyangkal, mempunyai ikatan dengan keluarga Akashi tentu saja sangat membanggakan, tapi ia seringkali merasa tidak nyaman dengan Seijuurou yang terkadang terlalu kaku, atau…atau pria berambut merah itu memang tidak pernah punya perasaan lebih? Seperti rasa yang diberikan seorang Aomine Daiki padanya.

Pria bertubuh kekar itu berkali-kali, atau bahkan setiap kali bisa memuaskannya, membuatnya mengerang penuh nikmat, sentuhannya, ciuman panas yang membekas di seluruh kulit tubuhnya yang mulus, disertai serentet tapak gigitan. Gesekan kulit licin karena peluh yang membasahi kedua tubuh mereka memberikan sensasi yang selalu ingin ia ulangi. Apakah ini perasaan cinta atau hanya sebagai sex partner?

"Akashicchi, apakah suatu saat kita bisa kembali, setelah kita yakin akan perasaan yang kita miliki?" mata madu berharap Seijuurou menjawab, atau setidaknya menganggukkan kepala.

"Tidak, Ryouta, perasaanku sudah jadi milik orang lain, aku ingin kau mengerti dan tidak berharap kita akan bersatu," mata rubi menatap lekat hazel di depannya.

"Apa kau benar-benar mencintainya? Lantas bagaimana mungkin kau menerima pertunangan ini?" sebutir air bening melintas di pipi mulus sang model.

"Maafkan aku, saat itu aku hanya menuruti yang terbaik menurut keluargaku, berharap rasa itu akan datang padamu, tetapi aku salah." ujar Seijuurou dengan tenang.

Entah mengapa ada lega saat Seijuurou menghirup udara, mengisi paru-paru, rasanya ia terbebas dari rasa yang menghimpitnya. Sementara pemuda tinggi itu terhuyung, lesu. Bagaimana mungkin orang itu melepaskannya dengan mudah. Kise Ryouta semakin membenci sosok mungil yang ternyata dicintainya tunangannya.

Ia tidak bisa melupakan bagaimana saat ia mengintip Seijuurou yang tengah mengecupi wajah tertidur pelayan itu di atas tumpukan buku. Sorot mata penuh cinta yang tak pernah ia dapatkan. Atau saat sosok kecil itu ada dalam jangkauan mata, iris serupa rubi itu tak penah melepaskan tatapannya.

Apa ia salah bila mencari kesenangannya sendiri di luar sana?

'Akashicchi tidak pernah bisa menutupi rasa rindunya saat menatap pelayan itu, dan lengkung senyum samar di wajah tampan hanya terlihat saat Kuroko Tetsuya ada di sekitarnya,' batin Ryouta.

Sebenarnya Kise Ryouta tahu jatidiri seorang Kuroko Tetsuya. Tapi ia selalu menyangkalnya, tidak ingin kedudukannya tergeser dalam keluarga Akashi.

Puncaknya saat ia mendapati pelayan itu keluar dari kamar tunangannya dengan tertatih di malam saat orang tua Seijuurou pulang berlibur. Amarahnya sudah sampai di ubun-ubun.

'Apa aku sebodoh itu?' Batinnya ngilu. 'Aku bodoh tidak bisa mempertahankan status sebagai calon pendamping pewaris tunggal keluarga itu,' bisiknya. 'Aku bodoh karena tidak bisa membuat Akashicchi mencintaiku,' sambungnya pilu.

Drrrt…drrrt…

"Kise, kau dimana sekarang?" suara berat itu terdengar pada gawainya. Ada rasa khawatir pada nada bicara orang di seberang sana. "Tunggu di sana, aku akan minta temanku menjemputmu!" setelah Kise Ryouta menyebutkan nama sebuah bar, tempatnya duduk sendiri sekarang.

Aomine Daiki tidak mungkin menjemputnya karena berada di belahan dunia lain, atau tepatnya di apartemen milik Kise Ryouta di New York.

.

.

Mayuzumi Chihiro, tengah mempersiapkan dirinya menghadapi persidangan. Tubuhnya berbalut pakaian resmi, sementara Ogiwara Sigehiro tampak membantu membawakan berkas-berkas pada sebuah tas.

Percepatan studi ia peroleh setelah menyelesaikan seluruh administrasi yang harus dipenuhi. Kini ia duduk di luar ruangan yang seolah siap memangsanya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan para dosen yang bergelar professor.

"Aku pasti bisa!" bisiknya, menyemangati dirinya sendiri.

"Tentu saja Mayuzumi-san akan berhasil dalam persidangan ini, dan nilainya pasti sempurna," ujar Shigehiro disertai senyum lebar. Pemuda itu tahu Chihiro adalah salah satu mahasiswa dengan nilai terbaik, walaupun belum bisa mengalahkan rekor nilai milik Akashi Seijuurou, lulusan terbaik juga lulus tercepat.

Pemuda itu mengangguk, lalu menyandarkan punggungnya, mata kelabunya terpejam. Rencana sudah disusun dalam benaknya. Setelah dinyatakan lulus ia akan segera menyusul adik sepupu tersayangnya ke Amerika sana.

Sementara disampingnya sepasang iris coklat menatapnya penuh kagum. 'Kekasihnya' akan segera lulus dan menjadi seorang sarjana, ia tidak harus mencari pekerjaan karena bisnis café-nya semakin maju saja. Apalagi tempatnya sudah mengalami perluasan. Ruko sebelah telah dibeli dari hasil usahanya itu.

Shigehiro berharap waktunya untuk bisa bersama dengan pria itu akan bertambah, karena tidak lagi disibukkan dengan pendidikannya.

.

Mereka berpelukan saat Chihiro dinyatakan lulus.

Pesta kecil diadakan di café mereka, setelah para pelanggan yang sejak siang memadati tempat itu pulang, tinggal mereka – sang pemilik dan beberapa orang pekerjanya.

"Terimakasih untuk semua dukungannya" ucapnya sebelum bersulang.

Ucapan selamat kembali terdengar dari orang-orang yang ada di sana.

"Shigehiro, aku akan titipkan café ini padamu, karena rencananya aku akan meneruskan pendidikanku di Los Angeles," ucapnya membuat pemuda berambut oranye itu tersedak. Bagaimana mungkin keputusan sepenting itu tidak dibicarakan terlebih dahulu dengannya?

"Apa maksudnya Mayuzumi-san?" ia mencoba mengatur nafasnya.

Lelaki tampan itu tersenyum, "Aku akan menyusul Tetsuya ke Los Angeles, dan melanjutkan pendidikan magisterku di sana," ucapnya mantap.

Shigehiro hanya mampu menatapnya, hatinya terluka. Apa maksud semua ini? Mengapa semuanya selalu terkait dengan Kuroko Tetsuya?

Selama ini ia selalu meyakinkan hatinya bahwa kedua sepupu itu saling menyayangi, layaknya adik kakak. Apakah Mayuzumi-san mencintai Tetsuya lebih dari itu?

.

"Kau sedang apa, Shige?" saat Chihiro melihat pemuda itu duduk di salah satu kursi tinggi, tangannya memutar-mutar gelas berisi kopi hitam.

Shigehiro masih belum juga mengangkat wajahnya dari depan permukaan kopi, tampaknya ia juga tidak berniat untuk meminumnya.
Ia tahu Chihiro duduk di depannya.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan?" Ucap pria tinggi itu, tangannya bersidekap di atas meja. "Apa tentang keputusanku untuk melanjutkan studi di LA?" Diakhiri hembusan nafas.

"Mayuzumi-san, apa kau pergi ke LA karena Kuroko ada di sana, dan kau ingin menyusulnya?" suara Shigehiro lirih. Kedua alis kelabu bertaut.

"Tentu saja, karena adikku ada di sana, dan aku ingin menjaganya!" ucap pria itu ringan.
"Tapi dia sudah dewasa, kenapa kau harus selalu bersamanya?" suaranya meninggi. Membuat mata abu-abunya memicing.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku harus selalu bersamanya!" ujar Chihiro tak kalah tinggi. "Apa kau lupa saat ia pergi dari rumah bahkan berbulan-bulan, aku tak ingin seperti itu lagi!" ia menambahkan.

"Mayuzumi-san, a apa apakah mencintai Kuroko lebih dari padaku?" kepala berambut oranye itu diangkat, sepasang mata menatap lekat pria di depannya.
"Dia adikku, sepupuku!" balas Chihiro.
"Benarkah? Kau hanya sepupunya. Tapi sepertinya kau sangat berlebihan mencintainya, kau menginginkannya, bahkan saat kita bercinta, kau tidak pernah menyebut namaku!" nada protes tampak nyata.

Wajah tampan itu mengeras. Sedari awal ia memang mencoba mengalihkan perhatiannya dari Tetsuya, mendekati pemuda yang diajak adiknya tinggal bersama. Tapi rasa sayang berlebihan itu tak pernah bisa dialihkan.
Kalau boleh berterus terang, ia mencoba menyukai apa yang Tetsuya sukai, termasuk orang yang ada di depannya.

"Apa maumu sebenarnya?" sebuah pertanyaan meluncur begitu saja. Shigehiro terkesiap.
"A aku kekasihmu, aku hanya ingin jadi kekasihmu. Aku tidak mau ada orang lain diantara kita!" nadanya meninggi, membuat mata Chihiro memicing.

Alangkah egoisnya orang ini! rutuknya, bagaimana mungkin ia bisa menyingkirkan Tetsuya dari benaknya, ia mencintainya, sangat mencintainya. Tak ada yang dapat menggantikan eksistensinya, Chihiro jatuh cinta sejak Tetsuya mulai masuk sekolah menengah.

Pemuda itu selalu menjaga Tetsuya, dan akhirnya tak ada yang berani mendekati adik kecilnya. Kalau pun ada yang berani maka dengan sigap ia akan menghalaunya, mengintimidasi bahkan mengancam. Jangan disangka Tetsuya tidak laku, mahluk semanis dia serupa magnet.

Chihiro hanya ingin menjaga hati si kesayangan - untuknya saja.

Namun ternyata tanpa ia duga, sepupunya jatuh cinta pada pemuda yang kini ada di depannya, diklaim sebagai sahabat sejak kecil.

"Mayuzumi-san, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu, aku hanya ingin jadi satu-satunya untukmu, apa keinginanku terlalu berlebihan? Kita bahkan sudah berbagi tempat tidur," ucapnya sambil mengusap kasar wajahnya.

Mayuzumi Chihiro hanya mampu menatapnya, penyangkalan demi penyangkalan hinggap di kepalanya. Ia tidak dapat menyampaikan hasratnya pada orang yang begitu ia cintai, lalu melampiaskannya pada sosok itu, selalu wajah Tetsuya yang hadir setiap kali pemuda itu dalam dekapannya. Ia lebih egois bukan? Dan satu lagi, dia tak punya hati!

.

"Aku akan selalu menunggu Mayuzumi-san di sini, dan menjaga cafemu, sementara kau melanjutkan pendidikan di sana!" ucapnya saat mengantar Chihiro di koridor bandara Narita.

Entah mengapa Chihiro terenyuh mendengarnya, ia kecup kening pemuda itu.

"Aku pergi, sampai nanti!" ucapnya sebelum menghilang belokan setelah melewati pintu kaca.
Shigehiro tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Ia seperti melepas seorang suami yang akan berjuang, atau malah seperti melepas suami yang akan menemui istri keduanya. Menyakitkan!
Ia tidak bisa mencegah pujaannya pergi.

Rasa sakit terasa menggumpal di dadanya.
Bagaimana ia tidak cemburu pada sosok sahabatnya? Mungil, cantik, dan begitu mempesona, dan dicintai kekasihnya. Jadi, apa arti dirinya? Ia hanya berdoa Chihiro bisa melihatnya utuh.

Meski ia tahu Tetsuya menyukainya, tapi Shigehiro lebih berharap Chihiro yang memiliki dirinya.
Yup, ia lebih memilih Chihiro yang tampan dan tinggi, dari pada Tetsuya yang nyata-nyata menyukainya.

Shigehiro merenung sendiri, ternyata menjadi salah satu pelaku cinta segitiga itu menyakitkan. Apalagi ketiganya bertepuk sebelah tangan.

Bodoh bukan?

Kembali ia bertanya, mengapa ia bisa sebodoh ini, tapi bukankah seseorang tidak bisa menolak bila cinta sudah datang?

Entahlah.

.

.

"Kau harus pindah ke apartemenku, Tetsuya!" suatu siang sang kakak menyuruhnya. Tapi Tetsuya menolak, "Aku mau tinggal dengan Kagami-kun, nii-san, tempatmu terlalu jauh dari kampus!" mencoba berargumen.

"Aku akan membeli kendaraan bila kau merasa kecapean," nadanya serius. Tapi Tetsuya menggeleng. "Kenapa nii-san pemaksa sekali?" ucapnya kesal.
"Tetsuya, kita bersaudara wajar bila tinggal bersama, aku kakakmu, aku akan selalu menjagamu!"
"Tapi aku bukan anak kecil lagi!" nada kesal sangat kentara.
"Kau akan selalu menjadi adik kecilku, kesayanganku!"
"Nii-san berlebihan!"
"Aku begini karena aku mencintaimu, Tetsuya!" seru Chihiro tak terbendung.
Mata berwarna biru membulat, mencoba mencerna perkataan kakak sepupunya.
Kedua tangan mengepal, dada bergemuruh marah.
"Nii-san keterlaluan!" teriaknya marah. Ia tendang kaki sang kakak.

Nii-san no baka! ucapnya berulangkali, kini tangannya siap-siap memukul.
Yang ada di kepala Tetsuya, bagaimana mungkin kakaknya bisa sejahat itu padanya dan Shigehiro.

"Tinggalkan aku sendiri, nii-san!" ujarnya lirih.
"Tetsuya, tolong jangan membenciku, aku sangat menyayangimu, aku berusaha mengalihkan rasa ini tapi aku tak bisa!"

"Bagaimana mungkin kau melakukan ini semua, bahkan Ogiwara-kun sudah kau tiduri," kalimat tak lulus sensor meluncur begitu saja dari mulut mungil di depannya.

Tetsuya menggelengkan kepala. Tambah tidak mengerti. Tidak ingin mengerti.
Baginya Mayuzumi Chihiro adalah kakaknya, titik. Tidak ada urusan romansa apa pun.

Chihiro tersiksa dengan sikap yang ditunjukkan adiknya, kesayangannya, cintanya.
'Aku memang bodoh, jatuh cinta padanya, Tetsuya tidak sekali pun punya perasaan berlebih padaku, selain rasa seorang adik pada kakak,' batinnya.

Kuroko Tetsuya selalu berusaha menghindari kakaknya, ia pening, kenapa permainan petak umpet ini harus dia lakukan lagi seperti dulu, saat ia menjadi pelayan di rumah Akashi.

.

.

tbc

.

.


.

.

Note:

Dearest readers arigatou sudah berkenan membaca & komen...

gomeen... chapter ini saia mempermainkan banyak hati... XD

Love

Mel~