Remake dari Abbi Glines "Never Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Threequel dari Prequel: "The Virgin And The Playboy" dan Sequel: "When Us Fall Too Far".

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Yoongi POV

Jimin POV

Rate M!

Romance, Drama, Fluff

Yaoi, boyXboy, Warning !MPreg!

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 11

YOONGI POV

Apa yang salah denganku? Aku berjalan kembali masuk ke dalam kamar Jin dan menutup pintunya. Aku membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Tadi aku telah siap memohon pada Jimin untuk menyetubuhiku disana. Ini adalah akibat dari mimpi bodoh itu. Oke, mungkin mimpi tadi malam tidaklah bodoh tapi amat sangat intens.

Memikirkannya membuatku harus menekan kedua kakiku. Kenapa aku melakukannya sekarang? Mimpi seksual memang terjadi namun sekarang jelas dan sangat nyata aku mengalami mimpi basah dalam tidurku. Ini gila. Tidak sekalipun di Daegu aku merasa sedemikian bergairahnya seperti sekarang. Namun, di Daegu tidak ada Jimin.

Aku merosot pada kasur Jin yang telah dia lepaskan sepreinya karena akan pindahan. Aku harus mengendalikan diriku disekitar Jimin. Dia belum mencoba untuk mendekatiku namun aku telah menjadi pria liar yang kelaparan saat jemarinya menyentuh tanganku. Betapa memalukan. Menghadapinya setelah kejadian tadi akan sulit.

Pintu terbuka dan Jin melangkah masuk dengan sebuah seringai kecil tersungging pada wajahnya. Mengapa dia menyeringai seperti itu sekarang? Dia akan meledekku habis-habisan karena tadi menangkap basah diriku di luar.

"Hormon kehamilan mempengaruhimu," ujarnya setelah pintu dibelakangnya tertutup rapat.

"Apa?" tanyaku kebingungan.

Jin memiringkan kepalanya ke satu sisi.

"Sudahkah kau membaca pamflet yang dokter berikan untuk kau bawa pulang? Aku yakin salah satunya menjelaskan hal ini."

Aku masih kebingungan.

"Mengenai kenyataan bahwa aku tidak dapat mengontrol diriku disekitar Jimin?"

Jin mengangkat bahu.

"Ya. Kukira dia satu-satunya yang dapat membuatmu seperti itu. Tapi kau akan selalu merasa bergairah selama hamil, Yoongi. Aku tahu ini karena sepupuku selalu menjadikannya bahan lelucon tentang istrinya ketika dia sedang hamil. Katanya dia mengalami masa sulit untuk melayani kebutuhan istrinya."

Bergairah? Kehamilan membuatku bergairah? Hebat.

"Barangkali yang akan menjadi masalah hanyalah dengan Jimin. Aku rasa dialah satu-satunya yang dapat membuatmu terpikat dan menginginkannya secara seksual. Jadi akan semakin intens berada disekitarnya. Mungkin sebaiknya kau memberitahunya dan menikmati ini semua. Aku tidak ragu dia akan dengan senang hati membantumu."

Aku tidak bisa memberitahunya. Belum saatnya. Aku belum siap dan begitu pula Jimin. Taehyung akan murka dan saat ini aku tidak mampu menghadapi Taehyung. Lagipula, Jimin akan memilih Taehyung dan aku pun tidak mampu menghadapi hal tersebut.

"Tidak. Dia tidak perlu tahu. Tidak sekarang. Aku akan membaik."

Jin mengangkat bahu.

"Baiklah. Aku telah mengutarakan pendapatku. Kau tidak ingin memberitahunya, kalau begitu tidak usah. Namun kalau kau sudah tidak mampu menahannya dan menyetubuhinya habis-habisan, bisakah kau tidak melakukannya di muka umum? Dan perlahan Yoongi, ingat bayi dalam kandunganmu," ujarnya dibarengi sebuah cengiran, kemudian membuka pintu dan melangkah keluar.

"Hei! Kau harus membungkusnya dengan selimut terlebih dulu. Kau akan menghancurkan bantalku," Jin meneriaki para dua pria itu di luar.

Aku bisa menghadapi Jimin. Dia sama sekali tidak tahu akan hal ini. Aku akan bersikap seolah-olah tidak terjadi apapun. Lagipula aku harus membantu untuk melakukan sesuatu. Aku bisa menyelesaikan mengemas dapur.

Jimin memperhatikanku. Setiap kali dia kembali ke apartemen untuk memindahkan sesuatu yang lain matanya menatapku. Aku menjatuhkan mangkuk, menumpahkan sekotak sereal dan membuang sebuah dus berisi peralatan makan akibat dari tatapan membara itu. Bagaimana aku bisa berkonsentrasi dan tidak menjadi seorang idiot yang kikuk di bawah tatapan matanya yang memandangiku seperti itu?

Ketika dia berjalan memasuki apartemen lagi kali ini aku memutuskan untuk mengemas barang-barang yang ada di kamar mandi. Berikutnya mereka akan akan memindahkan meja dapur dan kursi dan aku tidak bisa menangani hal tersebut. Kemungkinan aku akan memecahkan semua gelas yang dimiliki Jin.

Aku melangkah memasuki kamar mandi dan tiba-tiba ada tubuh berada di belakangku yang mendesakku masuk lebih dalam. Panas yang menguar dari dada Jimin yang menekan punggungku membuatku gemetaran. Sialan. Aku tidak akan mampu menghadapi ini.

Pintu kamar mandi tertutup dan suara akrab dari kunci pintu hanya membuat jantungku berdegup kian kencang. Dia menginginkan lebih dari apa yang telah terjadi di luar dan aku merasa kepayahan dengan berada sedemikian dekat dengannya, aku tidak akan bisa berpikir jernih.

Tangannya membelai leherku dan saat kehangatan dari bibirnya menyentuh kulitku aku mungkin telah merintih. Kedua tangannya diletakkan di pinggulku dan dia menarikku hingga makin menempel padanya.

"Kau membuatku gila, Yoongi. Gila, baby. Amat sangat gila," bisiknya pada telingaku.

Dibutuhkan seluruh tekadku untuk tidak membiarkan kepalaku bersandar di dadanya.

"Apa yang terjadi di luar itu tadi? Kau membuatku tidak berdaya hingga aku tidak bisa berpikir lurus. Yang dapat aku lihat hanya kau."

Tangannya bergerak pada sisi tubuhku lalu bergerak keatas perutku. Penempatan tangan yang hampir protektif, walaupun dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dia lindungi membuatku berkaca-kaca. Aku ingin dia tahu. Namun aku pun ingin dia memilihku... dan bayi kami.

Aku pikir dia tidak akan bisa melakukan itu. Jimin mencintai adiknya. Aku sangat takut dengan penolakan seperti demikian dan aku tidak akan membiarkan bayiku merasa ditolak.

Aku mulai melepaskan diri dari dekapannya ketika tangannya bergerak keatas untuk mengelus putingku dan mulutnya mulai menggigit pelan cekungan leherku. Oh sial. Aku mungkin tidak mempercayainya dengan hatiku tapi aku ingin mempercayainya dengan tubuhku. Walaupun hanya untuk sekali ini saja.

"Apa yang sedang kau lakukan?" aku bertanya terengah-engah.

"Berdoa pada Tuhan agar kau tidak akan menghentikanku. Aku adalah pria yang kelaparan, Yoongi."

Dia berhenti sejenak menunggu jawabanku. Ketika aku diam saja, dia memutar tubuhku sehingga kami berhadapan. Dia lalu mengangkat kausku hingga dadaku terpampang telanjang.

"Sial, baby. Kulit mulusmu dan putingmu sangat merekah," kata Jimin saat tangannya memelintir putingku.

Seketika itu juga kejantananku yang masih terbungkus celana dalamku terasa semakin mengeras dan lututku melemah. Aku memegang dinding untuk bertahan. Tidak ada yang pernah terasa senikmat ini. Sebuah suara penuh kebutuhan menyeruak keluar dari mulutku dan aku tidak yakin itu apa. Tiba-tiba saja aku diangkat dan tubuhku dibalik.

Mulut Jimin menutupi mulutku dan tangannya membuka cepat celana pendek dan celana dalamku lalu kemudian bokongku didudukkan diatas counter. Aku tidak akan bisa menghentikan ini. Aku menginginkannya seperti aku ingin bernapas. Sebelumnya aku tidak pernah membutuhkan berhubungan seks jenis apapun tapi ini merupakan sesuatu yang tidak mampu aku kontrol.

Ciuman Jimin liar dan selapar yang aku rasakan. Dia menggigit bibir bawahku dan menarik lidahku kedalam mulutnya dan menghisapnya. Kemudian dia beralih menarik putingku dengan mulutnya yang ahli dan aku tersesat.

Aku membutuhkan t-shirt-nya terlepas sekarang. Aku mencengkeram t-shirt-nya dan kusentakkan hingga dia melangkah mundur sedikit kemudian kuloloskan melalui kepalanya. Lalu dia melahap mulutku.

Tangan Jimin melakukan hal-hal yang nikmat di bola-bolaku dan aku tidak dapat membuatnya cukup dekat padaku. Sebuah ketukan terdengar di pintu dan Jimin menarikku mendekati dadanya sehingga putingku yang basah menempel padanya. Aku menggigil dan memejamkan mataku karena nikmat.

Dia membalikkan kepalanya kearah pintu.

"Enyahlah," bentaknya kepada siapapun yang ada di luar sana.

Gelak tawa tertahan adalah yang kami dengar sebelum Jimin mencium menuruni leherku dan melintasi tulang selangkaku hingga mulutnya mengambang di atas puting kananku. Panas dari napasnya membuatku gemetaran dan aku mencengkeram rambutnya dan memaksanya lebih mendekati permohonanku dalam diam.

Dia terkekeh, kemudian menarik putingku kedalam mulutnya dan mulai menghisap. Denyutan yang ada dikejantananku dan kejantanannya yang masih terbungkus jeans-nya itu semakin membakar atau setidaknya terasa seperti itu. Kalau saja dia tidak memelukku dengan tubuhnya aku mungkin telah melesat menembus langit-langit.

"Oh Tuhan!"

Aku berteriak, tidak peduli jika ada yang sampai mendengarku. Aku hanya membutuhkan ini. Reaksiku mengakibatkan Jimin semakin rakus.

Dia berpindah ke putingku yang satu lagi dan mulai memberikan perlakuan sama saat tangannya merambat naik dari bola-bolaku ke bagian manhole-ku. Pemikiran bahwa dia akan menyentuh lubangku yang berkedut membuatku semakin bergairah. Kemudian satu jemarinya memasuki manhole-ku dan aku tidak mempedulikan apapun lagi.

"Sial. Kau sangat sempit."

Jimin mengerang dan menguburkan wajahnya di leherku. Napasnya kencang dan tidak beraturan.

"Sangat panas."

Jari keduanya menyelinap ke dalamku mengakibatkanku seperti tersulutnya kembang api di sekujur tubuhku. Kucengkeram bahunya dengan erat. Kuku tanganku menorehi kulitnya namun aku tidak mampu menghentikannya. Dia menyentuhku. Mulutnya bergerak ke telingaku saat dia menciumku dan napasnya yang berat menggelitik kulitku.

"Lubang yang sangat ketat. Ini adalah milikku, Yoongi. Ini akan selalu menjadi milikku."

Kata-kata nakalnya ketika jarinya menyelusup keluar-masuk padaku mengirimku mendekati tepian lagi.

"Jimin, kumohon," aku mengiba sambil mencakarinya.

"Mohon apa? Kau menginginkan aku mencium penis manismu? Karena itu terasa sangat keras dan basah, aku butuh untuk mencicipinya."

Dia menarik lepas celana dan celana dalamku yang menggantung dilututku.

"Duduk bersandarlah," perintahnya, mendorongku sehingga punggungku menyentuh dinding.

Kemudian dia memegang kedua tungkaiku dan dibengkokkan ke arah atas hingga telapak kakiku berada di counter dan aku terbuka lebar untuknya.

"Sial, itu merupakan hal terseksi yang pernah kulihat seumur hidupku," bisiknya sebelum berlutut dan menutupi ereksiku dengan mulutnya.

Belaian pertama dari lidahnya dan aku pun seakan mencapai puncak lagi.

"Oh Tuhan, Jimin tolong, astaga, ahhhhh," aku menjerit ketika kupegang kepalanya tidak mampu menghentikannya.

Terlalu nikmat. Belaian lidahnya pada kepala kemaluanku sangat luar biasa. Aku membutuhkan lebih. Aku tidak menginginkan ini berakhir. Jarinya meluncur memasuki manhole-ku dan menahannya agar tetap terbuka saat dia menjilati dan menciumiku disana.

"Milikku. Ini milikku. Kau tidak boleh meninggalkanku lagi. Aku... aromamu sangat sempurna. Tidak akan ada lagi yang akan sesempurna ini untukku," gumamnya, saat dia merasakanku.

Aku siap menyetujui apapun keinginannya.

"Aku harus berada didalammu," katanya, mengangkat matanya untuk menatapku.

Aku hanya mengangguk.

"Aku tidak memiliki kondom," jedanya dan memejamkan matanya dengan erat,

"Tapi akan kutarik keluar."

Hal itu tidak menjadi masalah sekarang. Namun aku tidak bisa mengatakannya. Aku hanya mengangguk lagi. Jimin berdiri dan dengan segera celana jeans-nya turun.

Dia mencengkeram pinggulku dan menggeserku kembali ke tepi counter hingga kepala dari ereksinya menyentuh manhole-ku. Gairah yang tersirat dimatanya tidak dapat diragukan walaupun dia tidak mengatakannya. Aku turun menyongsong dan mengarahkan ereksinya memasukiku.

"Ya Tuhan," Jimin melenguh ketika dia menekankan sisa kejantanannya sehingga memenuhiku.

Aku merasa seutuhnya dipenuhi oleh Jimin. Aku membungkuskan lenganku disekeliling lehernya dan memeluknya. Hanya untuk sedetik aku butuh memeluknya. Ini bukan tentang hormon-hormon gilaku. Sekarang saat dia ada didalam aku merasa nyaman. Utuh dan aku akan menangis.

Sebelum aku mempermalukan diriku dan membingungkannya kuangkat kepalaku dan berbisik di telinganya.

"Setubuhi aku, perlahan Jimin..."

Itu seperti seakan aku telah menarik pelatuk dari sebuah pistol yang terisi penuh. Jimin mencengkeram pinggulku dengan kedua belah tangannya dan melepaskan raungan sebelum memompa pelan keluar-masuk di dalamku.

Pendakian spiral kearah puncak yang kuhapal telah mulai terbangun lagi dan akupun menungganginya. Menikmati saat penyerahan dirinya dan kebebasan yang sepenuhnya ketika dia membawa kami semakin mendekati klimaks yang kami butuhkan.

"Aku mencintaimu, Yoongi. Aku sangat mencintaimu hingga terasa menyakitkan," Jimin tersengal dan merendahkan kepalanya untuk menghisap putingku.

Tubuhku bergejolak karena klimaks-ku dan aku meneriakkan namanya. Jimin mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke mataku, mulai menarik keluar kejantanannya dan aku menjepitkan kedua kakiku di seputaran pinggangnya. Aku tidak ingin dia menarik keluar.

Kepahaman atas keinginanku menghantamnya dan dia membisikkan namaku sebelum menengadahkan kepalanya saat dia memompakan pelepasannya didalamku.

.

.

.

JIMIN POV

Yoongi mundur dan turun dari meja sebelum aku bisa menjernihkan pikiranku dari klimaks-ku didalam dirinya.

"Tunggu, aku harus membersihkanmu," kataku padanya.

Aku sebenarnya hanya ingin untuk membersihkannya. Aku menyukainya. Tidak, aku sangat menyukainya. Mengetahui aku disana dan aku menjaganya begitu berarti untukku.

"Kau tidak perlu membersihkanku. Aku baik-baik saja," jawabnya saat dia meraih celana dalamnya yang dibuang dan memakainya kembali tanpa menatapku.

Sial. Apakah aku melakukan kesalahan padanya? Kupikir dia menginginkan ini. Tidak. Aku tahu dia menginginkan ini. Dia sangat lapar untuk ini.

"Yoongi, lihat aku."

Dia berhenti dan mengambil celananya. Aku menelan ludah dengan kasar saat dia memakainya dan menyelipkannya kembali ke tubuhnya. Aku membutuhkannya lagi. Dia tidak bisa pergi begitu saja dariku sekarang. Aku tidak bisa melaluinya jika dia melakukannya.

"Yoongi tolong lihat aku," pintaku.

Berhenti, dia mengambil nafas dalam kemudian mengangkat matanya untuk bertatapan denganku. Kesedihan bercampur dengan sesuatu hal yang lain. Rasa malu? Tentu tidak. Aku mengulurkan tangan dan menangkup wajahnya dengan tanganku.

"Ada apa? Apakah aku melakukan hal yang tidak kau inginkan? Karena aku mencoba untuk tidak hilang kontrol. Aku berusaha keras melakukannya dengan perlahan... melakukan apa yang kau inginkan."

"Tidak. Kau... kau tidak melakukan sesuatu yang salah."

Dia mengalihkan matanya dariku lagi.

"Aku hanya butuh berfikir. Aku butuh waktu. Aku tidak ingin. Aku tidak akan… kita tidak seharusnya melakukannya."

Tikaman di dadaku mungkin tidak terasa menyakitkan. Aku ingin menariknya dan melakukan semua yang pria lakukan untuk menyatakan dia adalah milikku dan tidak bisa meninggalkanku. Tapi kemudian aku bisa kehilangannya. Aku tidak bisa menjalaninya lagi.

Aku akan melakukan sesuai dengan caranya. Aku membiarkan tanganku jatuh dari wajahnya dan aku mundur jadi dia bisa pergi. Yoongi mengangkat wajahnya untuk menatapku lagi.

"Aku minta maaf," bisiknya, kemudian membuka pintu dan kabur.

Dia baru saja meruntuhkan duniaku dengan seks panas yang menakjubkan dan dia minta maaf. Fantastik. Ketika akhirnya aku keluar dari kamar mandi Yoongi telah pergi. Namjoon menyeringai dan Jin meminta maaf untuknya. Aku tidak ingin berada di sini juga.

Setelah aku yakin bahwa semua barang-barang berat telah dipindahkan dan koper dan kotak Yoongi telah tersusun aku pergi. Aku tidak bisa tetap di sini sementara mereka berdua menatapku. Mereka mendengar kami. Yoongi berteriak keras.

Aku tidak malu, aku hanya lelah karena mereka menatapku dan menungguku mengatakan sesuatu untuk menjelaskan kepergian Yoongi.

.

.

.

Aku memberi Yoongi beberapa hari untuk datang kepadaku. Tapi dia tidak datang. Aku tidak terkejut. Tapi dia meminta waktu dan aku memberinya semua waktu yang bisa kuatasi. Aku tidak menghubungi siapapun untuk bermain golf bersamaku. Aku tidak ingin siapapun ada disekitarku ketika Yoongi muncul.

Kami perlu bicara. Tanpa gangguan atau permintaan untuknya agar pergi. Semua itu terdengar seperti rencana yang bagus tapi setelah enam lubang golf dan tidak ada pria kereta aku mulai bertanya-tanya. Baru saja aku akan berjalan ke lubang golf selanjutnya aku mendengar suara kereta.

Aku berhenti dan berbalik. Darah mulai terpompa di aliran darahku karena ide untuk bertemu Yoongi disini dan memilikinya sendiri membeku ketika aku menyadari bahwa pria itu adalah pria yang kulihat menjalani pelatihan beberapa kali dengan Jin. Sialan.

Aku menggelengkan kepala dan memintanya pergi. Aku tidak ingin minuman darinya. Dia tersenyum cerah dan menuju ke pemberhentian selanjutnya.

"Disini panas. Kau yakin kau tidak ingin sesuatu?"

Suara seorang pria bertanya dan ketika aku berbalik untuk melihatnya, Luhan berada di sana, memakai celana tenis putih dan kaus polo.

"Pria kereta yang salah," jawabku dan menunggunya mendatangiku.

"Apa kau hanya membeli dari satu orang?"

"Ya."

Luhan terlihat berpikir dalam kemudian mengangguk.

"Aku tahu. Kau punya perasaan untuk seorang pria kereta."

'Rasa' bahkan tidak menggores ke permukaan terhadap apa yang kumiliki untuk Yoongi. Aku menarik tas golf ke atas bahuku dan mulai berjalan ke lubang golf selanjutnya. Aku tidak akan menjawab komentarnya.

"Dan dia ahli tentang itu," gurau Luhan.

Kata-kata itu menggangguku.

"Atau ini bukan urusanmu."

Dia bersiul pelan.

"Jadi ini lebih dari sekedar rasa."

Aku berhenti dan menatapnya. Hanya karena dia pria pertama yang bercinta denganku bukan berarti kami terikat atau bersahabat. Perkataannya membuatku marah.

"Jangan ikut campur," aku memperingatkan.

Luhan berkacak pinggang dan ternganga.

"Oh Tuhan... Jimin jatuh cinta. Sialan! Aku tidak pernah berpikir ini akan terjadi."

"Kau tidak bertemu denganku selama sepuluh tahun, Luhan. Bagaimana mungkin kau tahu sesuatu tentangku?"

Gertakan terganggu dari suaraku bahkan tidak membuatnya pergi.

"Dengar, Jimin. Hanya karena kau tidak bertemu denganku selama sepuluh tahun bukan berarti aku tidak melihat atau mendengar tentangmu. Aku selalu kembali ke kota ini beberapa kali tapi kau selalu berpesta dan bersetubuh dengan setiap pria dengan tubuh sempurna yang datang padamu. Aku tidak melihat perubahan terjadi dalam hidupmu. Tapi ya, aku mengenalmu dan seperti semua orang di kota ini. Aku tahu kau kaya, playboy yang luar biasa yang bisa memilih teman tidurnya."

Aku terdengar dangkal. Aku tidak suka gambaran yang dia tujukan untukku. Apakah Yoongi melihatku seperti itu? Tidak hanya dia tidak percaya padaku untuk memilihnya dan melindunginya tapi dia pasti berpikir aku akan berpindah hati saat seseorang yang lain datang. Tentu saja dia tahu itu tidak benar.

"Dia menakjubkan. Tidak... dia sempurna. Segala hal tentangnya sangat sempurna," kataku keras kemudian mengarahkan pandanganku kembali pada Luhan.

"Aku bukan hanya mencintainya, dia memilikiku. Semuanya. Aku akan melakukan apapun untuknya."

"Tapi dia tidak merasakan hal yang sama?" tanya Luhan.

"Aku menyakitinya. Tidak seperti yang kau pikirkan sebelumnya. Caraku menyakitinya sulit dijelaskan. Begitu banyak rasa sakit atas apa yang terjadi yang aku tidak tahu jika aku bisa mendapatkannya kembali."

"Apakah dia pria kereta?"

Dia benar-benar menggantungkan makna kata pria kereta.

"Ya benar," aku berhenti dan bertanya-tanya jika aku seharusnya mengatakan padanya siapa sebenarnya Yoongi.

Mengatakannya dengan keras dan mengakui ini mungkin akan membantunya mengerti semuanya.

"Dia dan Taehyung punya ayah yang sama."

Aku tidak bermaksud mengatakannya seperti itu.

"Sial," gerutu Luhan.

"Tolong katakan padaku dia tidak seperti adikmu yang jahat itu."

Taehyung punya beberapa penggemar. Luhan jelas bukan salah satunya. Aku tidak akan mengingkari tuduhan bahwa dia jahat. Dia yang membawanya pada dirinya sendiri.

"Tidak. Dia tidak seperti Taehyung."

Luhan diam beberapa saat dan aku bertanya-tanya jika pembicaraan ini lebih jauh lagi apa yang akan terjadi. Kemudian dia menggeserkan kakinya dan menunjuk ke arah club house.

"Kenapa kita tidak pergi makan siang dan kau bisa mengatakan padaku tentang keadaan yang sangat aneh ini dan aku akan melihat jika aku dapat memberikan sebuah nasehat yang bijak atau paling tidak saran dari seorang teman."

Aku memerlukan semua saran yang bisa aku dapatkan. Tidak ada teman dalam hidupku yang bisa kumintai tolong.

"Ya, oke. Kedengarannya menarik. Kau memberiku saran yang bisa aku gunakan dan makan sianglah denganku."


-TBC-

[Here we go... nostalgia daily update n midnite update wehehe *special utk reader "wuftf" yg katanya kangen rutinitas ky gini wkwk*]

[Gimana NC-nya?]

[Hormon lagi hamil Yoongi top markotop dah ya hahaha]

[Udah lama gak ngintip ena2nya mereka bikin deg-degan gak? huehehe]

[Ayo para #anakbuahjiminbantetmesumtapisayangselalu pasti pada demen kan naena, ngaku :p]

[brb mau rendam di air es dulu habis nulis chapter ini (='_'=)]

.

.

.

Preview: Chapter 12

-Yoongi POV-

Aku merasa sakit. Nampanku bergetar dan Jokwon mengambilnya dariku. Aku membiarkannya. Aku hampir menjatuhkannya. Dia bukan milikku. Tetapi... aku mengandung bayinya. Dia tidak tahu. Tetapi... dia bercinta denganku, aku membuat dia bersetubuh denganku, di kamar mandi Jin hanya 3 hari yang lalu. Ini menyakitkan. Sangat buruk.

.

-Jimin POV-

"Dia sakit?"

Aku tidak tahu dia sakit. Dadaku sakit. Dia sakit sendirian. Aku meninggalkan dia sendirian dan dia menderita. Udara tidak masuk ke paru-paruku.

"Ya, kau sialan bodoh, dia sakit. Itu terjadi pada situasinya. Tetapi dia sudah lebih baik. Sekarang aku akan pergi dan mengejarnya. Menyingkirlah," Jungkook memperingatkan.