Disclaimer : I do not own Naruto.
Warning : OOC. 17+
Words : 2.165
Knot.
By VikaKyura.
- Bound -
Pagi itu, Sasuke mulai terbangun dari tidurnya.
Ia membuka pelan onyxnya. Iris gelapnya segera menampilkan pemandangan jendela besar sebuah kamar. Keremangan cahaya lampu ruangan itu telah berpadu dengan kilauan sinar mentari yang menyelinap masuk menembus krei jendela. Membuat Sasuke mengerjap-kerjapkan mata.
Ia segera sadar. Ini bukan kamarnya, melainkan kamar adiknya.
Sasuke menghela nafas pelan, seraya otaknya mengingat-ingat. Mereka-ulang memorinya, tentang kejadian semalam.
Ah. Tadi malam ia tergesa memindahkan dirinya dan adiknya ke dalam kamar tidur terdekat. Setelah mereka berdua sama-sama kelelahan akibat melakukan kegiatan . . yang cukup panas.
Pelan-pelan, lelaki itu menarik rangkulan lengannya atas tubuh gadis yang sedang terbaring nyaman di sampingnya. Kehangatan masih menyaluri tubuh keduanya, setelah semalaman mereka terus saling berdekapan erat. Lelaki itu sedikit merenggangkan tubuhnya, agar bisa menunduk untuk memandang adiknya yang masih meringkuk nyaman memeluknya.
Penampilan Ino sedang sangat sensual sekarang. Sasuke kembali menghela nafas.
Perlahan, lelaki itu berangsur bangkit ke dalam posisi duduk. Ia menyenderkan punggungnya ke badan ranjang. Satu tangan langsung meremas puncak kepalanya.
Semalam ia benar-benar telah kelepasan. Menyerang adiknya seperti itu . . Nyaris saja ia lupa diri. Beruntung, mereka bisa berhenti di saat terakhir. Berbahaya jika diteruskan.
Sasuke mendesah dalam.
Semula ia hanya bermaksud untuk memperingati, namun malah terus keenakan. Adiknya memang selalu berhasil membuatnya hilang kendali. Setelah kejadian semalam, apa gadis itu akan berakhir takut padanya? Sasuke mengacak rambut ravennya dengan frustasi.
"Hhh."
Suara helaan nafas kembali mencuri atensi lelaki itu.
Sasuke menoleh ke arah adiknya lagi. Kedua mata gadis itu masih terpejam rapat.
Sasuke memperhatikan Ino yang sedang tertidur pulas. Tubuh gadis itu masih meringkuk nyaman menghadap ke arahnya. Wajah ayunya terlelap tentram. Ekspresinya damai sekali. Bibir ranumnya merenggang, menggoda Sasuke untuk meraupnya. Tapi lelaki itu berusaha mengabaikan.
Lalu pandangan onyxnya merendah.
Selimut yang melapisi tubuh si gadis sedang menyingkap sampai pinggang, membuat tubuh semampai bagian atasnya terbuka. Bercak merah timbul di beberapa titik, tercetak jelas di sepanjang kulit leher dan pundaknya, sampai ke daerah dadanya. Ah, Sasuke yang telah membuatnya. Hickey tersebut.
Tali gaun tidur Ino terlepas dari bahu dan jatuh menjuntai ke lengan atasnya. Mengakibatkan belahan dada gaunnya merendah, membuat semakin banyak kulit putih payudaranya terekspos. Nafasnya yang teratur membuat dada besar Ino tampak naik turun. Bra-nya lepas. Oh, Sasuke yang sudah melepasnya semalam.
Lembah payudara gadis itu itu tampak bebas, dan mengundang. Semalam kedua tangan Sasuke telah memainkan dua gundukan kenyal nan padat itu. Setelah merasakan langsung betapa empuknya, kini Sasuke seakan tidak bisa berkedip memandangnya. Terlebih, kain gaun malam tipis yang sedang dipakai Ino sama sekali tidak berhasil menyembunyikan sepasang putingnya yang sedang menonjol jelas disana. Benar-benar menggoda Sasuke untuk mengulum puncak payudara itu di dalam mulutnya lagi.
Sasuke meneguk ludahnya.
Hn?
Lelaki itu cepat-cepat menghembuskan nafas berat. Mengenyahkan fikiran kotornya. Ah, dirinya pasti sedang gila semalam tadi. Dan kegilaan itu masih tersisa sampai sekarang.
Seharusnya, ia sudah terbiasa melihat tubuh Ino yang memang sering diekspos itu. Tapi kenapa sekarang, hanya dengan menatap pemandangan tersebut saja sudah berhasil membuatnya terangsang? Biasanya ia selalu bisa mengendalikan diri. Apa ini efek dari kegiatan mereka semalam?
"Kenapa?" Bisikan suara gadis itu tiba-tiba saja terdengar.
Sasuke mengerjap. Refleks ia menaikkan pandangannya. Ino sudah terjaga sekarang, dan tengah menatap lurus ke arahnya. Gadis itu mencermati ekspresi kakaknya yang sedang tampak sedikit gusar.
"Apa nii-chan sedang ingin menyerangku lagi?" tanya gadis itu, polos. Pipinya sedang bersemu merah.
Deg.
Sasuke terpaku. Ia tak menjawab. Obsidian hitamnya melebar. Tapi si lelaki segera menata diri. Ia balik menatap gadis itu dengan ekspresi kalem. Kini ia melihat Ino mulai tersenyum jahil menggodainya.
Lalu, Sasuke merespon dengan mulai menyondongkan tubuhnya, seraya mengulurkan satu tangan untuk meraih kedua belah pipi Ino menggunakan jemarinya.
Cup.
Sasuke mencium lembut bibir gadis itu. Ino tidak menolak, tentu saja.
"Aku tidak akan melakukannya lagi." Bisik Sasuke, mencoba mengelak.
Setelahnya, si lelaki segera menarik kembali dirinya. Ia mulai menyingkap selimut yang menutupi kakinya, lalu meringsut ke tepian ranjang. Hendak beranjak turun dari kasur. Barangkali, itulah yang dinamakan grogi bagi seorang Uchiha Sasuke.
Greb.
Tapi Ino segera memegang satu lengan lelaki itu, menahannya untuk pergi.
Sasuke menengok ke arahnya lagi.
"Apa aku akan ditinggal begitu saja . . setelah nii-chan puas menikmati tubuhku semalam?" ucap gadis itu polos, agak cemberut.
Sasuke kembali terpaku. Darimana adiknya belajar mengatakan kalimat seperti itu dengan wajah lugu nan merona manis begitu?
Tapi selanjutnya Sasuke terkekeh. "Kau benar-benar tidak takut aku menyerangmu seperti itu lagi, hm?" Ia menatap serius gadis itu. "Bagaimana jika aku benar-benar hilang kendali?"
Ino menggeleng. "Aku percaya kakak tidak akan melewati batas, jadinya aku tak perlu repot-repot menghentikan." Jawabnya.
"Kheh." Sasuke mendenguskan tawa. "Naif sekali."
Ino hanya balik menatap lelaki itu, seraya mengedikkan bahu. Tersenyum.
"Ayo bangun." Ajak Sasuke, mulai menarik lengan gadis itu.
Akan berbahaya jika mereka terus berada di atas ranjang seperti ini. Terlebih dengan penampilan berantakan adiknya yang menggoda iman seperti demikian. Bisa membuat pertahanan Sasuke kembali goyah.
Namun Ino tak segera bangun. Ia malah berkata manja. "Badanku sakit karena terus kau tindih dan remas-remas semalaman." Ia lanjut terkekeh. "Terutama di bagian sini." Gadis itu menangkup dadanya.
Ah. Apa gadis itu sedang mencoba menggodanya lagi? Sasuke berusaha bertahan. Ia menaikkan pelipisnya. "Jadi, kau ingin aku melakukan apa?" tanyanya.
Tapi Ino hanya merentangkan dua tangannya. "Gendong." Pintanya, masih dengan nada manja. Ia menyeringai cantik.
Heh. Lengkungan tipis terbentuk di sudut bibir Sasuke. Baguslah. Setelah diperlakukan olehnya seperti semalam, si gadis benar-benar tidak bersikap canggung. Malah terlihat nyaman. Membuat lelaki itu tak perlu khawatir Ino akan berubah sikap karena takut padanya.
Maka, Sasuke segera menuruti keinginan adiknya. Ia turun duluan dari kasur, lalu membungkuk untuk merengkuh tubuh Ino ke dalam gendongan.
Gadis itu masih menyeringai senang. Ia segera melingkarkan tangannya untuk merangkul erat leher sang kakak.
"Aku mencintaimu." Bisiknya pelan, seraya mencium lembut pipi Sasuke, lalu menyandarkan kepalanya di pundak lebar kakaknya.
Si lelaki mengeratkan gendongannya. "Aku lebih mencintaimu." Ujarnya.
Ino terkikik. "Lalu?" si gadis masih mendekap manja kakaknya.
Lelaki itu memelankan langkah. Ia menunduk untuk menatap serius gadis dalam gendongannya.
"Aku akan menjadikanmu, milikku." Ujar Sasuke.
x x x
Beberapa waktu lalu, Ino telah menjalani prosedur pergantian identitas diri untuk mengubah namanya kembali pada marga ibunya, Yamanaka, saat ia hendak memutuskan untuk pergi berkarir setelah lulus kuliah.
Ini dilakukan tanpa persetujuan Sasuke. Akibatnya, gadis cantik bermata biru itu sempat menyulut pertengkaran -yang lumayan serius- antara dirinya dengan sang kakak. Namun kini keputusan Ino tersebut malah berguna. Meski marga Yamanaka hanya bisa disandangnya untuk beberapa hari saja. Sebab gadis itu akan segera berakhir dengan menyemat marga Uchiha lagi.
Saat ini keduanya sedang berada di Shiyakusho kota itu.
Seorang petugas kantor tengah memeriksa surat-surat yang telah diserahkan padanya. Pasangan muda tersebut duduk di hadapan mejanya.
"Berkas yang diperlukan telah lengkap." Gumam sang petugas, sambil memandang dokumen di tangannya dengan tatapan gugup. Barangkali akibat Sasuke terus memandangnya tajam sedari tadi.
"Pernyataan izin menikah," sambungnya, kembali mengecek. "Surat keterangan tidak terikat," tambahnya. "Sak—"
"Lewat saja basa-basinya." Ujar Sasuke dingin. "Cepat berikan kami formulirnya."
Petugas yang sedari tadi menunduk tersebut langsung dibuat mendongak, dan seketika mengangguk. Ia menelan ludah, kentara sekali sedang tegang.
Saat ini Sasuke dan Ino sedang mendaftarkan pernikahan mereka secara hukum di kantor catatan sipil kota setempat.
Mereka telah menyelenggarakan upacara pernikahannya pagi tadi. Cukup sederhana saja, dengan dihadiri oleh orang-orang terdekat, yang juga tidak banyak. Sasuke tidak merasa perlu mengundang banyak orang. Cukup sedikit saja yang mengetahui bahwa status hubungan kakak-adik mereka telah berubah menjadi suami-istri.
Ino pun oke-oke saja. Lagipula, jika berita pernikahannya tersebar, pasti akan terjadi kehebohan besar karena banyak orang yang akan patah hati dibuatnya.
Setelah cukup kelagapan menyusun dokumen yang dipersiapkannya, cepat-cepat petugas kantor itu mengulurkan formulir registrasi pernikahan kepada pasangan di depannya. Sasuke dan Ino segera mengisinya. Begitu pula dengan para saksi yang disediakan kantor tersebut. Setelah prosedur registrasi pernikahan itu selesai dilakukan, maka keduanya telah resmi menjadi suami istri. Secara hukum.
Yeay.
.
.
"Hahaha. Barusan lucu sekali. Kau benar-benar menakutinya, nii-chan."
Sekeluarnya mereka dari tempat itu, Ino belum juga berhenti tertawa.
"Jika dia lambat melakukan tugasnya, wajar saja bila perlu ditegur." Ujar Sasuke enteng.
Ino terkekeh lagi. Ia melingkarkan tangannya erat di lengan Sasuke. Sementara lelaki itu balik meremas kuat jemarinya.
Mereka hendak berjalan menuju mobil.
"Kau benar-benar akan mengajakku pergi ke luar kota?" Ino melanjutkan pembicaraan mereka yang sempat tertunda sebelumnya. "Untuk bulan madu?" tanyanya penuh harap.
"Untuk pindah rumah." Jawab Sasuke.
Ino menaikkan alisnya. "Kita akan pindah ke luar kota, dan tinggal di sana?" tanya gadis itu, kaget. Ia baru pertama kali mendengar berita ini. "Lalu pekerjaanmu?"
Sasuke mengangguk. "Aku bisa cari pekerjaan baru." Jawabnya santai.
"Tapi kenapa—"
"Aku memang berencana untuk pindah dari kota ini setelah menikahimu." Ungkap Sasuke. "Lagipula kuliahmu sudah beres."
Ino terkesiap. "S-sejak kapan kau merencanakannya?"
"Sejak dulu." Jawab Sasuke enteng.
Ino berkedip. Ia menghela nafas. "Wow. Nii-chan kau menakutiku. Ternyata kau sudah mengincarku sedari dulu, ya?"
"Ya." Lelaki itu dengan mudahnya mengaku. "Jadi kau takut," Ia menoleh ke arah Ino. "Padaku?" Sasuke balik bertanya.
Ino terkekeh. "Tidak." Ia menggeleng. "Aku malah suka." Seringainya. "Tapi kenapa kau yakin sekali bahwa aku akan mau padamu?"
"Tentu saja kau harus mau." Timpal lelaki itu yakin. "Selama ini kau sudah ku nafkahi. Jadi kau mau atau tidak, aku tetap berhak atasmu."
"Ha? Kau akan memaksa?" Ino tertawa tidak percaya. Sang kakak tetap bersikap posesif seperti biasa.
Sasuke hanya mengedikkan bahu.
Mereka sudah sampai di depan mobil. Lelaki itu segera membukakan pintu untuk Ino.
"Hooo." Desis gadis itu pelan, sembari mendengus satu kali.
Huwaaa. Dasar curang. Dalam hati Ino meringis tidak percaya. Jadi selama ini, Sasuke sudah bisa masuk ke dalam skenario gadis nakal itu dengan sendirinya tanpa perlu digoda-goda?
Terus bersikap kalem, padahal dengan senang hati menikmati kelakuan bandel Ino, hm? Bisa saja. Selalu sukses membuat gadis itu merasa galau, baper dan terjebak dalam perasaan untuk hampir tiga tahunan. Kenapa tidak langsung bilang saja kalau suka dari dulu?
Ino memperhatikan Sasuke menduduki jok kemudi. Lelaki itu mulai menyalakan mesin mobil, dan menjalankannya pergi.
Si gadis mulai tersenyum seduktif. Bukankah yang terpenting, kini Ino sudah bisa memiliki sang kakak sesuka hati tanpa perlu dimodus-modusi lagi?
"Jadi nii-chan ingin istri yang bagaimana?" Celetuk Ino tiba-tiba. "Wanita karir yang mandiri? Ibu rumah tangga yang luwes dan pintar? Atau nyonya rumah yang manis dan anggun? Aku bisa jadi semuanya."
Tapi Sasuke hanya diam saja. Membuat Ino mendengus.
"Kau terus seperti sekarang saja." Ujar lelaki itu pada akhirnya.
"Hm?"
"Aku tak keberatan meski kau tetap manja dan terus bergantung padaku seperti ini."
"Hhhhm?" Ino tertawa pelan. "Padahal kau pernah mengataiku menyusahkan." Komentar Ino.
Ugh. Sasuke mendadak menengok ke arah gadis yang kini sudah menjadi istrinya itu. "Kau tahu aku tidak serius mengatakannya kan?"
Ino hanya tertawa pelan sambil mengedikkan bahu. Ia membuang pandang.
"Ino?"
"Jadi, kau suka istri rasa adik ya?" ucapnya, mengalihkan topik pembicaraan. "Onii-chan, kau bisa saja."
Sasuke kembali fokus pada kemudinya. "Berhenti memanggilku begitu." Pinta Sasuke.
"Hm?" Si gadis menaikkan alis. "Berhenti untuk memanggilmu nii-chan?"
"Ya."
"Ah. Kau tidak mau dipanggil onii-chan oleh istrimu?" Ino terkekeh. "Tapi aku masih adikmu juga." Cuapnya. "Wew. Kau lucu seka-aawpft!"
Tiba-tiba Sasuke menjulurkan satu lengannya dan menjembel pipi gadis itu. Meski tahu si gadis sedang bercanda, tapi ia tetap tidak suka diolok begitu. "Kau sudah bukan adikku lagi." timpalnya.
Ino segera menghempas pelan tangan Sasuke. "Hati-hati kalau sedang menyetir." Komentarnya. Ino sempat mengerucutkan mulutnya, lalu kembali menyeringai.
"Kalau begitu kupanggil begini saja," Ino mulai terkikik jahil. Ia menyondongkan tubuhnya ke samping. "Oppa~" ucapnya dimanja-manjakan ala gadis-gadis korea.
Sasuke menaikkan alis. Ia kembali memutar kepala, hanya memandang gadis itu datar. "Opa? Aku bukan kakekmu." Ujarnya hambar.
"Hahahaha." Sontak saja Ino tertawa terpingkal-pingkal.
Tentu saja kakaknya tidak akan tahu panggilan kakak ala budaya korea seperti itu. Sementara Sasuke melihat si gadis dengan tatapan keheranan. Karena Ino terus saja tertawa, lelaki itu memutuskan untuk mengabaikannya saja. Ia kembali fokus melihat jalanan di depan.
"Sasuke-kun." Panggil Ino tiba-tiba.
Deg.
Yang disebut namanya langsung menegang.
"Apa kakak ingin kusebut dengan nama saja seperti itu? Sasuke-kun," Gadis itu berfikir, "Ah, atau Sasuke-san, bara—"
CKIIIT.
Mobil yang ditumpangi mereka berhenti. Sasuke mendadak menginjak rem.
Ino mengerjap kaget. Ia segera menoleh heran ke arah lelaki itu.
"Sasuke-nii—I!"
Kali ini Sasuke menyondongkan badannya ke samping dan segera membekap mulut Ino.
"Cukup panggil aku kakak saja." Ujar Sasuke cepat.
Ino mendelik bingung ke arahnya. Lah? Tadi katanya tidak mau?
"Jangan nii-chan, onii-chan atau yang lain. Kakak saja." Jelas si lelaki, memandangnya serius.
Entah mengapa Sasuke merasa aneh saat Ino menyebut langsung namanya. Seumur hidupnya, ia tidak pernah dipanggil seperti itu oleh si gadis. Adiknya jarang sekali memanggilnya langsung dengan nama, apalagi tanpa ada embel-embel nii-chan. Mendengar namanya disebut langsung oleh mulut gadis itu, membuat Sasuke bergidik. Geli saja rasanya.
"Oh," Ino masih menautkan alis. Tapi selanjutnya ia bergumam mengiyakan. "Oke jika itu maumu. Kakak sayang~" Ia lanjut menyeringai.
Sepertinya Ino mulai tahu satu kelemahan Sasuke, yang bisa ia manfaatkan untuk ke depannya. LOL.
-TBC-
Sasuke-kuuuunnn~ Chapter ini gaje. Tau ah (?) *nyengir lebar*
Di chap 8 aku lupa nulisin persoal Ino yang ganti marga lagi jadi Yamanaka, jadinya kutulis sekarang aja karena diperlukan. Itu pun setelah melakukan diskusi cukup panjang dengan Matryoshka04-chan yang sudah mengingatkan, thanks yaa wkwkwk
Fyi, sasuino tidak bisa mendaftarkan pernikahan secara hukum jika mereka masih berstatus saudara.
Disini aku mengambil prosedur nikah ala Jepang. Tapi isinya aku mengarang bebas, jadi harap maklum. Oya, Ino manggil sasu sesuai kondisi dan suasana hatinya. Kalo lagi bermanja-manja manggil onii-chan (?), lagi akur manggil nii-chan (?), kalo lagi biasa2 aja manggilnya kakak doang (?) BEDANYA APA ? Entahlah, hanya sekenaku aja sih :p *abaikan/
Ditunggu lagi reviewnya, terimakasih.
Updated : 05.02.2017
Iyaa aku juga suka pake banget sama kaleido star. Ceritanya, latarnya, grafiknya, karakternya, semua suka. Apalagi Layla Hamilton, Leon Oswald dan Rosetta. Aww, udah beberapa kali aku tonton ulang pula~ Anime terfavorit setelah one piece dan HxH~ *gakditanya/
SasuIno udah halal nih. Khukhu. Sanak sodara? Anggap saja mama miko sedang berada entah dimana nun jauh disana, jadi tak perlu dibahas XD
