"Kurosaki ... Karin."

Sebuah nama terucap dari bibir seorang gadis berpenampilan laki-laki itu. Ia sedang duduk di sebuah tangga panjang yang terdapat di sekeliling air mancur. Di samping tokoh utama kita, laki-laki yang menyamar menjadi Honne Dell, lengkap dengan headphone yang menggantung di lehernya; Hitsugaya Toushiro.

"Eh? Apanya?"

Toushiro meneguk Pocari Sweat-nya, lalu menatap perempuan di sebelahnya dengan alis terangkat. Menunggu jawaban.

Gadis di sebelahnya itu menunduk malu-malu. Menyembunyikan wajahnya di bawah bayangan topi hitam bergambar tengkorak miliknya.

"Nama gue."

Toushiro terdiam sebentar. Bergumam sejenak, lalu bertanya sekali lagi.

"Siapa?"

Karin menatap Toushiro dengan sinis. "Udah dibilangin nama gue."

"Siapa yang nanya, maksud gue."


Hak Cipta: BLEACH © Tite Kubo.
(Semua judul, merek dagang, dan barang bermerek milik pencipta dan pemiliknya masing-masing, dan tidak disebutkan dengan maksud promosi)

Peringatan: OOC, AU, future-fic. Bahasa gaul.

Para Pencuri Wifi —
— Cerita Kesepuluh: Wifi goes to AFK: bagian Ketiga! —


[Kamis, 15 Juli 2016. Pukul 10.00 AM — Sebuah Gudang Tidak Terpakai]

"Kalian mau ngapain gue?"

Rukia memberontak. Tangannya yang terikat bergerak-gerak gelisah di belakang kursi kayu yang didudukinya, mencoba melepas ikatan tali rapiah itu dengan paksa. Ia sedang dalam keadaan tak bisa bergerak bebas di sebuah bangku kayu. Tubuhnya terikat, sedangkan tangannya diikat di belakang sandaran kursi.

Cara yang sangat efektif dalam meredam gerakan.

"Nggak mau ngapa-ngapain, sih. Cuma karena elo ngintip kita-kita aja, kami jadi terpaksa ngiket elo," jawab pemuda berambut kuning—Yukio, sambil memainkan PSPnya seperti biasa.

Rukia memicingkan matanya. Memperhatikan wajah Yukio.

"Oi. Elo Yukio, 'kan? Si Mesum yang maling laptopnya Toushiro, terus maksa-maksa buat ngasih tahu password folder anime hentainya?"

"Iya—siapa yang mesum?! Mesum adalah salah satu hal wajib yang harus dimiliki seorang cowok, tahu! Mesum adalah keadilan!"

Yukio terdiam sebentar, kemudian berdeham. "Ah. Tadinya gue cuma pengen iseng-iseng ngeledakin seluruh tempat acara ini. Tapi nggak gue sangka, musuh bebuyutan gue juga ada di sini."

Rukia menatap Yukio dengan tatapan kesal.

"Tsukishima! Ganti rencana. Jangan ledakin acara ini dulu. Gue punya urusan dengan teman dari perempuan ini. Gue harus mengambil seluruh anime yang sudah bocah itu kumpulkan setelah gue tinggalkan, dan menggunakan software pemecah kode yang gue ciptakan untuk membuka folder anime hentai anak itu."

"Elo mau ngeledakin acara kayak gini cuma demi anime?! Padahal tempat ini sendiri 'kan festival anime! Otak elu lu taruh di mana, Nyet?! Mending lu kasih ke Mbah Frankenstein aja! Mereka nggak punya otak, daripada elu nyia-nyiain otak lu!"

"Dengarkan gue, bitch."

"Bitch?! Barusan elo manggil gue bitch?!"

"Anime adalah sesuatu yang harusnya dinikmati dalam kesendirian. Bukan dibagi-bagi, disombongkan, ataupun digunakan menjadi acara-acara tidak jelas seperti ini! Itu merusak jiwa nijikon-ku!"

Rukia sekarang malah menatap Yukio dengan iba. "Apa elu nggak mau masuk ke maid cafe beneran yang selama ini cuma elo lihat di anime saja?!"

Yukio menggeleng. "Sama sekali tidak. Yang kucintai adalah perempuan dua dimensi. Aku sama sekali nggak tertarik dengan perempuan nyata. Mereka tidak masuk akal, sombong, dan tidak rasional!"

Rukia mendecih, kemudian tertunduk lesu menghadap ke bawah.

Tsukishima memperhatikan Rukia dari jauh. Ia kemudian melangkahkan kakinya, berjalan ke arah Rukia. Setelah sampai di depan Rukia, ia mengangkat tangannya. Mengelus rambut perempuan itu dengan ekspresi kosong.

"Jangan pegang-pegang rambut gue! Gue keramasnya susah-susah, tauk!"

Tsukishima mengabaikan teriakan Rukia. Ia mengambil beberapa helai rambut Rukia, kemudian ia sortir menjadi helai demi helai. Ia kemudian mencabut salah satu helai rambut Rukia—dengan kerasnya.

"Akh! S-sakit! Ngapain, sih?!" Rukia mencoba menendang kaki Tsukishima, namun percuma, kedua kakinya diikat ke kaki kursi secara terpisah. Membuat Rukia harus agak melebarkan pahanya—dan lagi, dia memakai rok pendek.

Tsukishima menurunkan tangannya. Mengelus paha Rukia dengan pandangan mesum-tapi-dingin.

"A-apa yang elo lakuin, Kampret?!"

Setelah puas menjahili Rukia, Tsukishima kembali menepuk rambut Rukia.

"Tenang saja. Aku kurang tertarik sama perempuan yang rata."

Rukia memasang wajah kesal. Namun sebenarnya ...

Rukia diam-diam telah memegang HPnya dengan tangannya yang terikat di belakang. Entah usaha apa yang telah dilakukannya hingga HPnya sampai ke tangannya. Rukia menggerakkan jari-jarinya. Dengan pandangan tetap lurus ke depan, ia berusaha agar gerakan tangannya tidak disadari.

Rukia kemudian menekan tombol angka satu cukup lama, mengaktifkan fungsi panggilan cepat ke nomor Toushiro.


[Sementara itu — Tangga Air Mancur]

"Jadi, nama lo siapa?" tanya Karin sambil berdiri dari duduknya.

Toushiro ikut berdiri, kemudian menjawab pertanyaan dari perempuan di sebelahnya, "John Smith."

Karin menonjok pipi Toushiro dengan mulusnya. "Elo bukan Kyon dari Suzumiya Haruhi Series, tahu. Elo terlalu pendek untuk itu. Lagian, sosok lo terlalu nyentrik untuk jadi seorang yang nggak mencolok."

Toushiro mengelus pipinya sebentar, lalu berjalan meninggalkan Karin yang berdiri dalam diam.

"Mau ke mana?" Karin bertanya sambil melihat lelaki di depannya. Tangannya berniat meraih Toushiro, namun berhenti di tengah jalan. Ia akhirnya hanya menatap punggung pemuda yang lebih pendek darinya itu menjauh.

"Mau buang sampah."

Toushiro menaruh botol Pocari Sweat kosongnya itu ke sebuah kardus bertuliskan 'sampah plastik', kemudian berjalan kembali ke arah Karin. Karin melihat wajah Toushiro, kemudian memberanikan diri bertanya sekali lagi,

"Jadi, nama lo siapa—"

Ucapan Karin terpotong oleh dering handphone yang berasal dari kantong celana hitam Toushiro. Toushiro memasukkan tangannya, mencari HPnya. Setelah tangannya meraih si HP, ia mengeluarkannya dan menatap layar dingin handphone tersebut. Ia menekan tombol hijau yang berada di bawah layar sentuh HPnya, kemudian mendekatkannya ke telinga.

"Halo? Rukia?"

Tuk. Tuk.

...

"Rukia?"

Sepuluh detik berlalu, namun tidak ada suara disana. Hanya suara tuk tuk yang berirama yang terdengar.

Tuk. Tuk.

"Rukia? Elo ngejahilin gue, ya? Nggak sayang lagi sama pulsa elo? Mendingan elo transfer pulsa elo ke gue aja, daripada buang-buang pulsa begini."

Karin menatap Toushiro yang sedang menelpon dengan pandangan nanar. 'Rukia itu siapa? Pacarnya?' mungkin itu isi kepalanya saat ini. Ia teringat sesuatu. Seorang gadis yang senyum-senyum sendiri melihat kesadisannya saat di kafe tadi, yang duduknya tepat di samping laki-laki yang berada di depannya sekarang.

Tunggu. Kenapa ia peduli dengan hal semacam itu? Mereka baru saja bertemu beberapa menit yang lalu. Apa mungkin, hanya dalam tiga puluh menit saja, ia telah jatuh cint—menyukai laki-laki di depannya ini?

Oke. Mungkin itu yang disebut cinta pada pandangan pertama. Tapi—Karin menggelengkan kepalanya. Menghilangkan pikiran-pikiran manis tentang cowok pendek itu dengan cepat.

Sedangkan Toushiro, terdiam dengan pandangan mata yang sulit dijelaskan.


[Sementara itu lagi, — Gudang tempat Rukia disekap]

Rukia mengetukkan HPnya ke bagian belakang Kursinya dengan susah payah. Mencoba memberi pesan kepada Toushiro bahwa dia tidak bisa menerima telpon. Tsukishima menyadari hal itu. Ia kemudian berjalan lagi ke arah Rukia,

"Bagaimana? Apakah kau sudah berhasil menelpon seseorang?"

"Eh? Apa maksudmu?" Rukia mengeluarkan keringat dingin. Tsukishima sendiri meminimalisir jaraknya ke arah Rukia. Merasa terdesak, Rukia melemparkan HPnya sejauh mungkin ke belakang dengan tangan terikat, kemudian mengayunkan tubuhnya sendiri hingga kursi kayu yang didudukinya terjatuh ke belakang.

Bruak!

Rukia mendekatkan mulutnya sedekat mungkin dengan handphonenya, kemudian berbicara dengan suara keras,

"Toushiro! Tolong gue! Gue diculik!"

"Elo di mana?!"

"Gue ada di—"

Trak!

Sebelum sempat Rukia memberitahu keberadaannya kepada Toushiro, handphone Rukia telah ditendang dengan cukup kuat oleh Tsukishima, melayang, menghantam dinding, dan masuk ke sebuah kardus.

"Ah. Gol."

Rukia terdiam. Dengan tendangan yang cukup keras seperti tadi, sudah dapat dipastikan, bahwa, handphone terbaru milik Kuchiki Rukia yang dibelikan oleh sang Ayah dari jualan pulsa dengan susah payah, rusak gara-gara menghantam dinding.

Mata Rukia melirik Tsukishima dengan tajam.

"Elo tau, nggak?! Bokap gue ngumpulin duit susah-susah buat ngebeliin gue HP baru! Dia berusaha, siang dan malam, mencari nafkah, menyisihkan uang sisa pengeluaran tiap harinya demi ngebeliin gue HP baru! Dan elo, elo, elo... Sudah menendangnya begitu aja?! Elo taruh di mana harga diri elo sebagai seorang laki-laki, Kampret?!"

Tsukishima memasang ekspresi kosong mendengar ocehan panjang lebar tinggi Rukia. Tsukishima kemudian mencabut sesuatu dari kedua telinganya—headset nirkabel.

"Ah, ngomong apa tadi?"

Rukia benar-benar dendam kesumat sekarang. Ia bersumpah, jika ia terlepas dari jeratan tali rapiah berwarna pink yang mengikatnya ini, ia akan memanggil naga Indosiar, dan menyuruhnya menelan Tsukishima hidup-hidup.


[Sementara itu, lagi (lagi) — Di tempat Toushiro dan Karin]

"—braak! Tuuut... Tuut... Tuut."

Suara hantaman yang sangat keras terdengar dari HP Toushiro yang tadinya sedang menelpon Rukia. Suara yang cukup keras, setidaknya cukup keras hingga dapat didengar oleh Karin yang sedang duduk di tangga di sebelahnya.

"Apa itu?" tanya Karin sambil memasang ekspresi bingung bercampur terkejut. "Apakah cewek yang make kostum Inaba tadi diculik?"

Toushiro menaruh HP touchscreennya ke kantong celana. Ia kemudian menatap Karin dengan pandangan dingin, kemudian menunjukkan jari jempolnya.

"Tenang aja. Palingan dia cuma bercanda, pengen bales dendam gara-gara tadi gue nge-najis-in dia."

Karin menatap Toushiro dengan pandangan khawatir, "Gimana kalo dia serius?"

Toushiro terdiam, melakukan loading sejenak. Setelah melakukan download file-file yang diperlukan untuk menjalankan sistem otaknya yang memakai operating system Windows 95, ia kembali menjalankan fungsi berfikir yang dimiliki otaknya. Membayangkan jika Rukia diculik atau gimana.

Di dalam khayalan Toushiro... (Kesamaan nama, kejadian, ataupun tempat hanyalah kebet—keisengan belaka).

"Eneng, eneng cantik banget, sih~ Abang culik, ya~" ujar preman bertampang om-om mesum, sambil menghampiri Rukia.

Rukia diam saja. Ia kemudian membalik tubuhnya, dan menatap preman itu dengan pandangan sinis.

Preman yang merasa diberi jalan, mendekati Rukia. Namun saat Sang Preman nyaris memeluk perempuan bertubuh mungil itu, Rukia langsung menendang (sensor) milik Preman itu.

Preman itu berteriak kesakitan, dan kemudian menghilang setelah kotak persegi yang berada di atas kepala preman tersebut kosong, dan menunjukkan warna merah yang berkelap-kelip. Namun beberapa saat kemudian, rombongan pasukan VUDO anak buah Rasputin tiba-tiba menyerang Rukia. Rukia yang merasa dalam keadaan terdesak, akhirnya menunjukkan wujud aslinya.

Di tangan Rukia muncul sebuah gauntlet aneh yang (sensor), kemudian ia bergaya persis seperti (sensor).

"Satria garuda... BIMA!"

Tiba-tiba, terdengar sebuah lagu, "Telah, aku temukan~ arti nafas ini untuk siapa~"

Setelah muncul soundtrack dari band (sensor) dengan lagu berjudul (sensor), akhirnya Rukia mengalahkan mereka semua dengan menghancurkan (sensor) mereka, menghilangkan harapan untuk membuat anak dengan cara (sensor).

Rukia kemudian menunjuk langit dengan sombongnya, sambil berteriak,

"RASPUTIN! Serahkan ketujuh bola naga yang engkau punya, atau akan kuhancurkan (sensor)-mu! Dan jangan lupa, bayarin martabak yang barusan gue pesen! INGAT ITU, RASPUTIN! INGAT ITU!"

Dan kemudian, Rukia menjadi bajak laut, menjelajahi lautan bernama (sensor) untuk menemukan One Piece, baju renang kesukaannya. Dengan bercita-cita menjadi seorang Hokage, dan menjadi suami dari (sensor), dan melakukan (sensor) dengannya, dan menciptakan (sensor) yang sangat (sensor).

Selesai.

[Mode mengkhayal Toushiro: Nonaktif]

"Harusnya begitu, 'kan?"

"Harusnya begitu apaan?! Elu nggak ngomong apa-apa daritadi!" sewot Karin sambil melempari kepala Toushiro menggunakan botol Pocari Sweat—entah punya siapa.

Toushiro mengelus kepalanya yang sakit gara-gara terkena lemparan itu. Dia kemudian tersenyum sambil memandang langit.

"Tenang saja. Rukia itu ... Kuat. Dia pasti akan membunuh pria yang berani macam-macam dengannya. Meskipun aku, si Keima palsu, Niizuma Eiji palsu, dan si Bossun palsu bergabungpun, kami tidak akan dapat mengalahkannya. Ya ... Dia adalah bintang kami semua, Kuchiki Rukia."

Karin menatap Toushiro dengan pandangan kagum. Setelah tersadar dari pesona Toushiro, ia langsung nyeletuk.

"Oi. Mata elu nggak pedes ngeliatin langit mulu? Meskipun matahari udah nggak kelihatan lagi, tapi cahayanya masih nembus awan, tauk."

"Ah. Pantesan mata gue pedih daritadi."

Entah kenapa Karin merasa menyesal karena tadi sempat menatap Toushiro dengan pandangan kagum.


[Pukul 04.00 PM — Di Depan Maid Cafe]

"Rukia mana?" tanya Ishida. Di tangannya terdapat piala kecil berwarna merah jambu dengan bentuk bulat dan bertuliskan Osu!. Di depannya sudah ada ketiga anggota klub WIFI yang lain, kecuali Rukia. Ditambah satu makhluk tidak dikenal.

Ulquiorra menggeleng sambil menjenjeng piala mini berwarna emas di tangannya. Hirako juga ikutan geleng-geleng. Toushiro cuma bisa mengangkat bahu.

"Terus, elu siapa?"

"Ah. Tanyakan pada rumput yang sedang bergoyang poco-poco." jawab Karin males. Toushiro akhirnya mewakili Karin buat mengenalkan dirinya,

"Dia Mbak Maid berjidat lebar yang bawa-bawa pisau tadi. Tadi kami nggak sengaja ketemuan di Alfamaret. Dan entah kenapa dia malah ngekorin gue ke mana-mana."

"Siapa yang ngekorin elu?! Gue cuma males pulang. Di rumah nggak ada kerjaan soalnya."

"Emang lo punya rumah?"

Karin langsung menjitak kepala Toushiro pelan.

Ulquiorra memperhatikan HPnya daritadi. Menunggu SMS balasan dari Rukia. Sedangkan Hirako, sedang membaca buku yang dibagikan saat seminar tadi.

"Ada balasan?" tanya Ishida ke Ulquiorra. Ulquiorra mengangkat kepalanya. Melihat ke arah Ishida sejenak, kemudian menggelengkan kepala.

Setelah pertimbangan yang sangat panjang, dan sangat berat, akhirnya Toushiro memutuskan mengorbankan pulsanya demi menghubungi wakil ketuanya itu. Toushiro menggerakkan jarinya di atas layar HP touchscreennya, kemudian menempelkannya ke telinga.

"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, atau berada di luar jangkauan. Silahkan coba beberapa saat lagi. Sorry, your—tuuut."

Toushiro menghela nafas. Bahkan nada tunggu tidak terdengar; tanda bahwa HP Rukia sedang dalam keadaan tidak aktif; alias nonaktif; mati.

Dia kemudian teringat akan sesuatu; kejadian yang terjadi tadi pagi. Saat Rukia menelponnya, namun yang terdengar hanyalah bunyi ketukan, kemudian terdengar suara bantingan yang keras.

Otaknya jeniusnya menggerakkan roda gigi syaraf otaknya, memaksanya berfikir tentang apa yang terjadi.

Kenapa Rukia mengetukkan HPnya? Kalau bukan karena iseng, pasti karena dia tidak dapat berbicara. Lalu, kenapa dia tidak dapat berbicara? Karena mulutnya sedang penuh? Tidak. Karena mulutnya tak bisa meraih HPnya? Mungkin saja.

Lalu, kenapa setelah terdengar suara benturan yang cukup keras, Rukia langsung berteriak minta tolong, dan sebelum sempat Rukia memberitahu di mana keberadaannya, telponnya sudah mati karena suara benturan yang sangat keras?

Kemungkinan, tangan Rukia dalam keadaan terikat dan diawasi. Karena keadaan sudah tidak memungkinkan untuk dilakukan secara diam-diam, akhirnya Rukia memutuskan untuk melakukannya secara cepat. Namun sebelum sempat Rukia memberitahukan di mana dia berada, HP miliknya dilempar, dipukul, atau dihancurkan.

"Gue daritadi penasaran. Kenapa cukup banyak orang yang memakai jaket, masker, dan membawa-bawa tabung gas elpiji? Padahal kalau mereka cuma petugas restoran 'kan, nggak perlu sampe make masker segala."

Ucapan Ishida barusan menyadarkan Toushiro akan sesuatu.

"Ternyata bener. Rukia disekap."

Meskipun tidak ada hubungannya.

"Kenapa nggak bilang daritadi?!" tanya Ishida. "Elo tahu darimana?!"

"Tadi pagi, sekitar jam 10an, kami pisah. Nggak lama, Rukia nelpon gue. Dia teriak-teriak kalo dia diculik, dan pas gue nanya dia ada di mana, telponnya udah mati."

"Terus, kenapa nggak nyari dari tadi siang?!" teriak Hirako sambil menggoncang pundak Toushiro. Toushiro menggeleng sambil menunduk.

"Maaf. Gue kira dia cuma bercanda. Soalnya membayangkan Rukia yang kekuatannya kayak Super Saiyan bisa ditangkep itu rasanya suatu hal yang mustahal."

"Ah. Bener juga, sih. Gue juga bakal mikir begitu ..." jawab Hirako dan Ishida.

"Di mana?" tanya Ulquiorra singkat. Toushiro mengangkat bahu.

"Seandainya gue tahu kita udah kesana daritadi."

Ishida melepaskan kacamatanya, dan membersihkan kacanya menggunakan tisu, lalu memakainya kembali. Terkesan keren, padahal itu cuma keharusan yang dilakukan dua jam sekali. Ishida menghela nafas, melirik Toushiro yang ekspresi wajahnya gelisah.

"Toushiro. Gimana kalo elo gunakan kejeniusan otak elo sekarang? Kayak pas mecahin kode dari Yukio waktu itu."

Toushiro geleng-geleng, "You don't say?! Seandainya gue bisa, udah gue lakukan daritadi kali."

Ulquiorra memperhatikan seorang pria tinggi berjaket hitam yang memakai masker dan membawa gas elpiji. Karena mempunyai insting bahwa itu adalah orang jahat, Ulquiorra lalu memberi bahasa isyarat kalau dia mau mengikuti orang itu.

Toushiro mengangguk. Akhirnya berlima dengan Karin sebagai pengganti Rukia mengikuti pria tinggi bermasker itu.

Mereka terus mengikutinya, hingga Pria itu berhenti di sebuah panggung yang sekarang sudah kosong. Pria itu berjongkok, menaruh gas tabung elpiji 5 kilogram berwarna hijau itu disana. Setelah melakukan beberapa gerakan yang tak dapat dilihat oleh Toushiro dan kawan-kawan karena mereka melihat dari belakang, akhirnya Pria itu pergi.

"Benar-benar mencurigakan. Kenapa Om itu naruh tabung elpiji disitu? Padahal jelas-jelas di sana nggak bakal ada acara masak atau apapun yang membutuhkan gas."

Setelah selesai berbicara, Toushiro melirik ke arah Pria tadi. Melihatnya telah pergi agak jauh, ia mendekat ke tabung elpiji itu. "Hirako, Ishida, tolong awasin Om tadi. Ikuti terus. Kalo elo menemukan sesuatu, SMS gue."

Hirako menunjukkan tanda OK menggunakan tangannya. Dia kemudian berlari, mengikuti Pria tadi.

"Kenapa gue juga? Kenapa nggak Ulquiorra aja?!" sewot Ishida karena merasa dapat tugas yang berbau bahaya. Toushiro diam sebentar, kemudian menjawab.

"Yaah... Soalnya Ulquiorra pinter, sih. Wawasannya lebih luas daripada elu. Lo 'kan nggak bakal terlalu berguna di sini, jadi mendingan elo bantuin Hirako aja sana."

Ishida menghela nafas. Ngikutin orang aja mesti dibantuin.

Akhirnya, Ishida berlari mengikuti Hirako yang sudah agak jauh meninggalkannya.

Toushiro sekarang berjongkok, memperhatikan tabung elpiji itu. Tabung tersebut dililit memutar menggunakan lakban berwarna hitam, sedangkan di salah satu sisi tabung elpiji tersebut, ada sebuah HP yang ikut tertempel oleh lakban. Melekat pada tabung gas.

"!" Ulquiorra menutup mulutnya tidak percaya.

Toushiro yang menyadari reaksi dari Ulquiorra kemudian langsung bertanya, "Ada apa, Ulquiorra?!"

Ulquiorra menarik nafas, kemudian berkata dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar tanpa unsur kecacatan dalam huruf besar dan huruf kecil.

"Ini... Nokia 3310."


[Di tempat Ishida dan Hirako]

Hirako dan Ishida masih membuntuti pria tadi. Mereka terus berjalan, melewati kios-kios, sela-sela antar bangunan, hingga kemudian tiba di sebuah gudang yang lumayan besar dan tak terpakai.

Pria itu masuk ke dalam gudang melalui pintu gerbang. Karena Hirako dan Ishida tidak mungkin ikut masuk lewat sana, akhirnya mereka bersembunyi di dekat jendela gudang tersebut. Memasang telinga, dan sesekali mengintip ke dalam.

Di tengah gudang tersebut, dapat terlihat dengan jelas. Seorang perempuan berpakaian cosplay anak sekolahan yang menggunakan rok mini dengan rambut pendek yang sedang terikat di sebuah kursi, dengan mulut yang ditutup dengan lakban hitam.

Rukia.

"Bagaimana, Ginjou?"

Ishida memasang ekspresi kaget. Itu suara Yukio. Dia jelas-jelas hapal dengan suara si kuning ngambang itu, karena mereka sebelumnya pernah main bulutangkis sambil teriak-teriakan. Karena telah menemukan Rukia, Ishida kemudian mengirim SMS ke Toushiro, namun tiba-tiba, layar HPnya menjadi gelap.

"Semua gas elpiji yang siap diledakkan telah selesai disebarkan. Tinggal gunakan HP kita untuk menelpon Nokia 3310 yang telah diatur agar meledak saat ditelpon yang tertempel di tiap tabung gas," jawab pria bermasker tadi yang kini telah melepas maskernya—yang dipanggil Yukio Ginjou.

Hirako menelan ludah.

'Mereka ingin meledakkan acara ini menggunakan gas elpiji? Cara yang cukup aneh, namun sepertinya efektif—bukan saatnya gue berpikir tentang efektivitas cara ini, sialan,' pikir Hirako sambil menggaruk rambutnya. Dia melirik ke arah Ishida, lalu berbicara dengan bisik-bisik,

"Psst, Ishida! Sudah lo SMS belum?"

Ishida menggelengkan kepalanya. "Batere HP gue habis. Tadi pagi lupa gue charge, dan terpaksa gue bawa dalam keadaan batere tinggal sebatang. Elo aja yang SMSnya. Bilang, Yukio yang nyulik Rukia."

Hirako melakukan facepalm. Dia kemudian mengeluarkan HPnya, dan mengirim SMS ke Toushiro.

[Rukia telah ditemukan. Di sebuah gudang di dekat (sensor), di tepat di depan area lomba (sensor). Rukia diculik oleh seseorang bernama Yukio.]

"Siapa di sana?!" teriak sebuah suara dari dalam gudang. Suara Ginjou, sepertinya. Ginjou berjalan ke arah jendela, lalu membuka jendela tersebut ke samping dengan cukup keras, hingga menghantam dinding luar.

Untungnya, Ishida dan Hirako telah bersembunyi di balik kardus yang bertumpuk di dekat sana.

"M-meong ..." Hirako mencoba meniru suara kucing dengan agak mencemprengkan suaranya. Ishida menatap Hirako dengan pandangan 'lu-lagi-ngapain-bego?!'. Yang untungnya, dapat menipu si Ginjou.

"Kayaknya cuma kucing lewat yang nyari makanan." ujar Ginjou sambil melangkah menjauhi jendela.

Ishida dan Hirako menghela nafas lega. Lalu akhirnya, mereka tetap bersembunyi di sana, menunggu ketua mereka datang.


[Di tempat Toushiro, Ulquiorra, dan Karin]

"Lalu, Ulquiorra. Apa yang akan terjadi pada tabung elpiji yang ditempeli Nokia 3310 ini?" tanya Toushiro sambil memandang gas elpiji tersebut.

Ulquiorra kembali menggunakan Virtual Connector yang tadi dilepasnya, kemudian berbicara melalui alat tersebut. "Nokia 3310 adalah HP yang bisa dibilang, gampang meledak—sebenarnya itu cuma lelucon buatan orang-orang di (sensor) doang, sih. Tapi kemungkinan, berdasarkan lelucon tersebut, mereka telah menciptakan Nokia 3310 yang benar-benar bisa meledak."

Ulquiorra berhenti berbicara sejenak, membiarkan ketuanya memahami. Kemudian melanjutkan penjelasannya.

"Jika ini ditempel pada tabung elpiji ini, yang jelas-jelas gampang meledak jika bocor, jelas-jelas ini akan menciptakan sebuah ledakan yang cukup merusak. Dan lagi, coba elo deketin hidung elo ke tabung ini. Tabung ini sudah bocor. Tinggal disulut dengan ledakan kecil, maka akan menciptakan ledakan yang lebih besar."

Karin yang daritadi hanya mendengarkan berjongkok, mendekatkan hidungnya ke gas elpiji. "Benar. Ada bau gas yang bocor."

Di saat mereka sedang mendiskusikan hal tersebut, HP Toushiro yang berada di kantong celananya bergetar. Memberikan kenikmatan tersendiri—ohok, maksudnya, membuat Toushiro mengambil HP miliknya. Ia menatap layarnya sebentar, membaca SMS yang masuk. Dia kemudian berdiri.

"Rukia beneran diculik. Dan penculiknya adalah ... Yukio."

Ulquiorra memasang ekspresi terkejut—meskipun sebenarnya perbedaannya dengan ekspresinya yang biasa hanya matanya yang sedikit membesar.

Ulquiorra dan Karin ikutan berdiri. Toushiro kemudian menghela nafas sesaat, dan memasang pose berfikir dengan mengelus poninya—niatnya ngikutin Houtarou Oreki, gitu. Toushiro mengangkat wajahnya, kemudian berkata.

"Gue punya rencana."


~ Bersambung ~


Catatan Penulis:

Daftar Pustaka:

1. Bitch = perempuan jalang. Tapi bisa juga anak gukguk. Tapi kalo di telinga bisa didengar sebagai pantai.
2. Kalimat Yukio yang di-bold: Diambil dari monolognya Katsuragi Keima, dari anime TWGOK season 3, episode 1, yang baru tayang kemarin.
3. You don't say?! = Sebuah ekspresi (?) yang menyatakan ke'iya'an. Semacam, 'emang iya!' dalam bahasa Indonesia. Biasanya saya pake buat ngisengin guru yang pengumuman, "hari ini adalah hari rabu, besok hari kamis."
4. Nokia 3310 = Hape Nokia yang (katanya) kekuatan ledakannya setara dengan bom nuklir. Lelucon yang ada di Meme Comic. Yang sering buka FPnya atau 1cuk pasti ngerti.
5. John Smith = Nama samaran Kyon saat pergi ke masa lalu. Ini adalah nama yang unforgetable bagi yang penggemar Suzumiya Haruhi kayak saya.
6. Gas elpiji ijo 5 kg = Nggak tahu? Go home, child. You're drunk. (?)


Curhat Anonim Bersama Kira Kajuki. Curhat, dong, maaas:

Pertama, untuk mas darries:

Halo. Salam kenal dan salam sejahtera. Semoga anak-anakmu kelak akan bangga, ketika kamu cerita "Ripiu Ayahmu ini dulu pernah dibales di fanfiksinya Kira Kajuki, lho!". Oke. Maaf. Tiba-tiba jiwa overpede saya bangkit.

Jawaban untuk pertanyaanmu adalah tabung gas elpiji. Selamat, kamu benar. Tapi sayang sekali, karena kamu ngasih dua jawaban (ditambah dengan kentut Tsukishima), jadi kamu gugur. Sayang sekali. Jangan menyerah. Teruslah menggosok Ale-ale. Kalo udah dapet hadiahnya bagi-bagi, ya.

Kedua, untuk mbak nami:

Nasib Rukia? Ya gitu-gitu ajah. Di-friendzone-in oleh Toushiro. AAAHH! SPOILEEERR! Yang baca segera pergi ke mas-mas MIB buat dihapus ingatannya.
No. Jika Toushiro yang diculik, saya mau cerita pake siapa. Secara, Toushiro 'kan kepala keluarga. Kalo Toushiro diculik, itu sama aja seorang Bapak diculik. Anaknya bisa ngapain?

Ketiga, untuk mbak Shiina:

Iya. Itu Karin. Kemarin nggak sengaja ngasih sop-iler di Catatan Penulis. Padahal tadinya mau dirahasiain dulu. Poor myself.
Renji? Renji ada, kok. Coba kamu flashback ke chapter belakang. Ada, kok, adegan Renji menebak bel akan berbunyi. Terus dijuluki titisan Mama Laurier. Untuk selanjutnya, mungkin nggak. Palingan dia cuma muncul sebagai figuran kapan-kapan.

Keempat, untuk mas philip schiffer:

Hiks... Hiks... Saya juga terharu. Akhirnya dialog Ulquiorra jadi tambah panjang, ya, nak. Chapter depan saya panjangin lagi, deh. Spesial buat kamu. #modus
Ngomong-ngomong, mas Philip, Shoutarou-nya mana? Ah, maaf. Saya ketuker sama pasangan Philip-Shoutaro dari Kamen Rider Double.

Curhatan untuk yang lainnya telah dibalas ke PM masing-masing. Atau ada juga yang nggak dibalas karena emang nggak perlu dibalas.


Pojok Curhat Penulis:

Oke. Pertama mau bilang; tolong jangan tuduh saya hobi nonton Bima Satria Garuda gara-gara ada Stella JKT48nya. Saya nonton Bima karena pengen lihat perubahannya aja, kok. Ah, I M LIED! #plak

Arc ini ternyata nggak bisa dikompresi menjadi tiga chapter. Padahal saya sudah menggunakan segala macam program kompresi, mulai dari Winrar, 7zip, sampe Bye-bye Fever. Tapi ternyata emang nggak cukup. Daripada saya panjangin lagi, dan anda males baca, akhirnya saya potong jadi empat bagian.

Semoga aja, chapter depan bisa menjadi penutup dan klimaks yang bagus untuk arc ini. Dan enggak gaje kayak arc sebelumnya; karena disini Toushiro akan beraksi menggunakan kejeniusannya. Atau keanehannya?

Akhir kata. Sampai jumpa, dan selamat meninggalkan jejak. Kalo ada yang mau curhat juga, silahkan, kok. Asal curhatnya bukan tentang membantu anda menemukan gender anda yang sebenarnya. Karena sesungguhnya, itu adalah tugas dokter Boyke.