Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. saya hanya pinjam.
.
.
Fight
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Fight by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 11
.
.
.
"Dasar perempuan sialan! Sudah sialan, Gila lagi! Semalam menangis darah didekatku, hari ini malah mengajak bertengkar!" Umpat Naruto yang berhasil membuat wajah Hinata memerah.
Blusssssshhh!
"Kayaaaaaaahhhhh!" Hinata yang terbaring dilantai langsung menendang-nendang perut Naruto dibawah kakinya. Sialan! Sialan! Mengapa bisa hal ini terjadi, Kami-sama?
"Sa-sakit bodoh!" kedua tangan Naruto yang tak cukup cepat untuk tendangan seribu kaki mungil Hinata yang membuatnya hanya bisa menghalang serangan itu dengan lengannya.
"Kyaaaaaaaahhh! Sialan! Harusnya kau bilang dirimu yang memohon maaf padaku." pekik Hinata malu. Mengapa? Mengapa ia bisa melalukan hal memalukan itu?
.
.
.
.
"Hentikan, Hinata!" Sasuke yang langsung menarik Hinata berdiri, menjauh dari Naruto begitu juga dengan Shion yang berusaha membantu Naruto berdiri. Ternyata firasat Sasuke benar, tak akan ada hal yang bagus jika nama Naruto dan Hinata dalam satu kalimat.
"Na-Naruto..." panggil Shion terkejut ketika Naruto menepis tangannya di lengannya.
"Haah~"
"Haah~" Naruto mengatur nafasnya. Kedua matanya dan mata Hinata yang masih beradu, berusaha sekuat mungkin agar wajah mereka terlihat menakutkan bukan terlihat merona seperti kepiting rebus.
"Hinata, wajahmu penuh dengan luka cakaran. Aku akan membawamu ke UKS." ucap Sasuke yang diabaikan oleh Hinata yang masih sibuk melototi Naruto.
...
"Hinata?" panggil Sasuke lagi dan Hinata masih mengabaikannya.
!
"Hei! Hei! Apaan ini? Lepaskan aku." rontak Hinata ketika Sasuke langsung mengangkat nya dan mengendongnya dipundak seperti mengendong karung beras yang berhasil membuat Naruto tersentak terkejut. Apaan itu?
"Hei, turunkan aku!" pinta Hinata sambil terus memberontak yang juga diabaikan oleh Sasuke yang terus melangkah pergi menuju UKS.
Seketika saja, Naruto melupakan kegaduhan dengan Hinata tadi. Apaan itu? Mengapa lelaki itu seenaknya saja mengangkat Hinata? Dan mengapa ia tak suka dengan hal itu?
"Na-naruto, aku akan mengobati lukamu." ucap Shion ketika ia menyadari wajah Naruto juga penuh dengan bekas cakaran hingga berdarah.
"Na-naruto? panggil Shion pelan pada Naruto yang membalikkan badannya dan melangkah pergi. Mengapa Shion merasa dirinya selalu terabaikan?
.
.
.
.
UKS.
"Aa.. Sakit." desis Hinata sakit pada obat merah dikapas yang terus menekan lembut pipi dan pelipisnya. Hinata bahkan tak berani menatap wajah Sasuke, dia terlihat marah.
"Kau tahu sakit tapi kau bergaduh lagi dengannya." jawab Sasuke dingin yang membuat bibir Hinata mengerucut.
"Dia duluan yang memancingku." ucap Hinata pelan. Sasuke sangat baik padanya, Hinata merasa dirinya tak boleh melawan Sasuke yang perduli padanya.
"Hinata, kau ini adalah perempuan. Tak seharusnya seorang perempuan melakukan hal seperti tadi, bukan hanya sekali tapi berkali-kali." ceramah Sasuke lelah. Ia sungguh lelah dengan tingkah gadis ini dan sebagai seorang teman, sudah seharusnya Sasuke membantunya untuk menjadi orang yang lebih baik kan?
Hinata tak menjawab. Sejujurnya, ia merasa dirinya sudah menjadi sedikit lebih baik daripada dirinya yang dulu, jika tak ada makhluk kuning itu, maksudnya.
"Bisakah kau tak mengulanginya lagi?" tanya Sasuke berharap.
...
Hinata mengangukkan kepalanya dengan bibirnya yang memanjang. Yaa.. Ia rasa ia bisa, tapi bukan dengan si kuning itu.
...
"Sasuke? Sebetulnya aku ingin menanyakan ini dari dulu. Mengapa kau sangat baik padaku?" tanya Hinata penasaran. Hinata tahu Sasuke memang baik pada semua orang tapi rasanya Sasuke lebih memperhatikannya.
"Tidak ada. Aku hanya merasa kau lebih perlu diperhatikan dari yang lainnya. Atau lebih tepatnya tak ada temanku yang galak dan 'gila' sepertimu." jawab Sasuke apa adanya yang membuat Hinata menundukkan kepalanya. 'Gila' apa maksudnya kata-kata itu?
"Kau tahu? Tiba-tiba saja aku merasa Naruto akan menghajarmu dan itu membuatku kesal." Ucap Hinata tak mengerti dengan otaknya. Mengapa ia tiba-tiba berpikiran seperti itu?
Sasuke tersenyum lucu. "Kau berharap aku dipukul karena mengatakan kau gila?"
Hinata lagi-lagi memanjangkan bibirnya. Apaan itu. Hinata tak mengatakannya, bahkan ia tak berpikir begitu. Tapi sudahlah.. Lagi pula Sasuke tak berbuat apa-apa pada Naruto, jadi untuk apa Naruto menghajarnya?
"Sejujurnya, iya." canda Hinata yang langsung membuat Sasuke menahan tawanya. Gadis ini sungguh sadis.
.
.
.
13.43
Akhirnyaaaa, pelajaran telah selesai.
Hinata baru saja memasuki mobilnya dan meregangkan semua otot-ototnya.
...
"Eh? Aku lupa. Bukuku ketinggalan di meja" pikir Hinata yang langsung keluar dari dalam mobil dan berlari keluar. Aduh.. Jangan sampai ada yang membuka bukunya itu.
.
.
.
.
Pukk! Puk!
Hinata yang langsung membeku diambang pintu ketika ia melihat Sasuke tergeletak di lantai dan tengah di tinju oleh Naruto. tidak tidak, Naruto terduduk diatas perut Sasuke dan meninju pipi Sasuke hingga sudut bibir Sasuke berdarah. Tidak tidak, Sasuke-apapun itu intinya Naruto tengah menghajar Sasuke!
"Naruto!" Hinata langsung mendorong Naruto menjauh dari Sasuke dan menghampiri Sasuke yang terlihat sangat tak berdaya. Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? Mengapa Naruto memukuli Sasuke?
Hinata yang semakin panik ketika ia melihat ringisan sakit Sasuke.
"Kau gila! Apa yang kau lakukan?!" marah Hinata sambil mendorong dada bidang Naruto yang berdiri angkuh di belakangnya tadi.
Naruto tak menjawab, ia hanya memutar bosan bola matanya. Entah, ia hanya sedang kesal dan kebetulan ada si sialan ini. Jadi Naruto hanya sedikit memukulnya. Tidak salah kan?
Hinata kembali bersimpuh didekat Sasuke dan membantunya berdiri dengan satu tangannya yang merangkul pundak Sasuke. Naruto sialan. Tak bisakah dia tak membuat masalah?
.
...
Naruto masih menatap punggung Hinata yang menghilang dibalik pintu. Mengapa sekarang ia menjadi semakin kesal? Sebetulnya apa yang tengah ia rasakan saat ini? Ia sungguh menjadi semakin membenci lelaki sialan itu. Suka sekali mencari perhatian pada Hinata. Mengapa juga ia kesal jika lelaki itu mencari perhatian pada Hinata? Apa urusannya?
...
Haah~ Rasanya malam ini Naruto harus berkeluyuran tengah malam untuk menghilangkan rasa kesalnya yang entah karena apa. Ia sungguh bingung.
.
.
.
.
UKS..
Tangan kanan Hinata yang terus menekan pelan sudut bibir Sasuke yang berdarah dengan kapas yang diberi obat merah.
"Mengapa dia memukulimu?" tanya Hinata. Apakah si kuning itu sudah gila?
"Entahlah, dia terlihat sedang kesal? Sudahlah, itu sudah berlalu. Jangan lagi dipikirkan." jawab Sasuke. Sejujurnya, ia juga penasaran. Mengapa Naruto terlihat kesal? Naruto tiba-tiba saja masuk ke kelas dan menghajarnya tanpa mengucapkan sepatah katapun.
"Mengapa disaat-saat seperti ini kau masih terlihat sangat tenang?" tanya Hinata khawatir. Tingkah Sasuke terlalu tenang baginya, seperti biasanya.
"Apakah aku harus berteriak-teriak dan bergaduh dengannya seperti yang kau lakukan tadi pagi?" Tanya Sasuke balik yang membuat Hinata melototinya.
"Aa.. Sakit, Hinata!" Desis Sasuke sakit ketika Hinata menekan kuat luka di didekat matanya.
"Oo, sakit? Aku kira tidak, karena kau sangat tenang." balas Hinata sinis. Sialan! Orang itu suka sekali bertindak seenaknya, mentang-mentang saja dia calon pemilik sekolah ini dan karena Sasuke memang dalam keadaan tak menguntungkan yang membuatnya hanya bisa diam.. Gggrrr.. Semoga saja suatu saat nanti, Sasuke akan membalas menghajar wajah sialannya itu. Huh! Hinata jadi sangat kesal saat ini.
.
.
.
.
23.32
"Fih fih fih.." Hinata kembali menjalankan mobilnya ketika rambu-rambu lalu lintas menunjuk warna hijau. O.. Malam-malam begini masih sangat ramai dan terlihat sangat meriah. Sebaiknya dirinya cepat membeli apa yang ia butuhkan dan pulang karena ia tak mau Shion menunggu terlalu lama dirumahnya.
.
.
.
"Terima kasih." ucap seorang pelayan disebuah toko roti sopan.
.
Blamm..
Hinata menjalankan mobilnya setelah meletakan sekantong roti bermacam jenis yang ia beli tadi ke kursi di sebelahnya.
.
.
.
23.41
Terlihat seorang lelaki bersurai kuning tengah berjalan melewati jalan pintas ke tempat dimana mobilnya diparkir lewat sebuah gang kecil yang terlihat sangat sepi. Tunggu? Mengapa juga ia harus memakirkan mobilnya jauh dari tempat tujuannya? Aaaaa.. Naruto sungguh bodoh.
Mata Naruto menatap keatas dan kembali ke bawah, langkahnya yang terkadang linglung. Ia terlihat mabuk. Iya, ia tengah mabuk tapi hanya mencapai 50persen. Sejujurnya, ia lebih terlihat sedang kesal dari pada mabuk.
"Aaaaaaaa! Sialan!" teriak Naruto frustasi. Harusnya ia menghabiskan satu malam dengan beer di bar tapi ia baru sadar bahwa ia tak punya teman dan terduduk sendirian sangat tak terlihat keren. Jadi, Naruto putuskan untuk tak pergi bar.
Tunggu? Jika Naruto tak pergi bar. Mengapa ia terlihat mabuk?
Entahlah.. Tak ada yang tahu mengapa ia terlihat sedikit mabuk tapi yang jelas suasana hati Naruto sungguh terlihat sangat buruk.
!
"Hei! Hati-hati kalau jalan!" marah Naruto sambil mendorong dada salah satu dari tiga lelaki yang entah sengaja atau tidak menabrak lengannya. Aaaaarrrgghh! Naruto sungguh pusing hingga ia tak tahu apa yang ada di otaknya kini. Ia pasti sudah gila. Ini pasti kerena si gadis jadi-jadian itu dan si lelaki sialan itu. Mengapa mereka?
Entahlah.. Naruto sungguh tak bisa berpikir dengan benar sekarang. Otaknya terasa berasap.
"Hoi! Kau tak perlu mendorongku!" marah lelaki yang tak terima didorong oleh Naruto sambil membalas mendorong kuat dada Naruto.
Puk! Satu tinju yang berasal dari kepalan tangan Naruto untuk pipi lelaki yang telah berani mendorongnya dan kejadian saling tinju pun terjadi.
Naruto seorang dan kini dihajar oleh seorang lelaki tadi dan dua teman lelaki itu turut membantu temannya karena tak terima temannya tiba-tiba dipukul.
.
Puk! Bamm! Pukk!
"Aa!" ringis Naruto yang sudah tergeletak tak berdaya di lantai. Mengapa hal ini bisa terjadi?
"Berharaplah kami tak bertemu lagi denganmu!" ucap lelaki itu kesal yang langsung melangkah pergi.
.
.
Naruto masih tergeletak tak berdaya dilantai, rasanya ia ingin disini untuk beberapa jam kedepan. Tubuhnya terasa sangat sakit setelah di tendang dan wajahnya terasa sangat pedih kerena habis di tinju. Ia pasti sudah gila, berhasil dikalahkan oleh tiga lelaki sialan itu. Sialan! Mengapa hari ini dirinya sangat kecau?!
.
.
.
Hinata menghentikan mobilnya didepan seorang lelaki bersurai kuning yang tengah tergeletak tak berdaya di lantai di jalanan yang hendak ia lewati.
...
? Berapa banyak lelaki disini dengan rambut kuning itu? Pikir Hinata aneh. Dan mengapa dia terlihat babak belur seolah habis di keroyok?
...
Hinata yang masih menimbang-nimbang untuk memutar mobilnya atau turun dan melihat lelaki itu tapi hujan tiba-tiba saja turun yang membuat ia mau tak mau turun dari mobilnya dan menghampiri lelaki yang masih tak bergerak, meskipun terkena air hujan.
"Naruto!" panggil Hinata terkejut. Ternyata benar. Itu Naruto.
Tanpa ba-bi-bu lagi. Hinata langsung merangkul Naruto, membantunya berdiri dan menyeretnya ke dalam kursi penumpang didalam mobilnya. Naruto tak pingsan. Ia terlihat hanya malas untuk bergerak.
.
.
.
.
Hinata diam-diam membawa Naruto ke kamar Hanabi, membuangnya keatas ranjang tanpa menghiraukan Naruto yang meringis kesakitan. Sebaiknya ia memelankan suaranya kerena Shion berada di kamar sebelah. Ia sungguh tak ingin seribu pertanyaan dari Shion soal Naruto yang babak belur.
.
.
"Ini!" Hinata melempar sepasang piyama yang ia ambil dari kamar Neji di kamar utama ke Naruto yang masih tergeletak di ranjang king size adiknya.
"ganti bajumu dan aku akan mengobati lukamu." bisik Hinata ketika ia mendudukan dirinya didekat Naruto yang masih tak bergerak.
"Hei, nanti kau demam dengan baju basah itu." bisik Hinata lagi sambil menatap mata Naruto yang masih belum terbuka. Lelaki ini sungguh sialan. Sudah bagus Hinata mau membantunya tapi ia malah bertingkah seolah sudah tak bernyawa.
"Ganti.. sendiri.." suara pelan dan malas Naruto tanpa membuka matanya. Yaa.. Ia malas untuk bergerak. Bukankah sudah Naruto katakan? Bahwa ia masih mau tergeletak untuk beberapa jam kedepan?
Hinata menghela nafasnya. Lelaki ini sungguh menjengkelkan. Sudah bagus Hinata tolong, ia malah bertingkah seperti ini.
"Kalau tak mau ya sudah. Duduk yang benar. Biar aku mengobati luka di wajahmu." ucap Hinata yang lagi-lagi diabaikan Naruto. Lelaki ini sungguh!
"He!.." tidak. Hinata tak boleh meninggikan suaranya. Ia sungguh tak ingin Shion tahu Naruto disini dan dia pasti khawatir pada wajah sialan ini yang seolah baru habis kena hajar.
...
"Naruto.. Ganti bajumu.. Aku akan mengobati lukamu." pinta Hinata lembut yang membuat Naruto membuka satu matanya dan melirik ke Hinata. Tumben gadis ini berbicara sangat lembut?
"Kau tak ingin sakit kan?" tanya Hinata sambil menyodorkan kembali piyama yang ia lemparkan ke arah dada Naruto tadi. Ee! Ingin sekali Hinata menikam lelaki menjengkelkan ini.
"Aku mengerti." jawab Naruto mengalah sambil menerima piyama yang Hinata sodorkan yang cukup membuat sebuah senyuman bangga dibibir Hinata. Si sialan ini akhirnya menurut.
!
"Hei, ganti di kamar mandi." ucap Hinata terkejut sambil membalikkan badannya, membelakangi Naruto yang menanggalkan baju dan celananya setelah ia mendudukan dirinya dari posisi baring.
"Aku tengah terkena penyakit malas, jadi aku tak mau pergi ke kamar mandi yang sangat jauh itu." jawab Naruto apa adanya yang membuat Hinata menghela nafasnya. Terserahlah..
"Jangan mengintip badan indahku penuh dengan otot kekar ini." ucap Naruto sinis yang langsung membuat bulu kuduk Hinata berdiri. Menggelikan.. Dia masih bisa bercanda disaat -saat seperti ini?
"Menjijikan.."
.
.
.
Naruto terduduk bersandar ditiang ranjang dan Hinata yang terduduk didekatnya.
"Sakit goblok." marah Naruto pada Hinata yang terus saja menekan kuat luka diwajahnya dengan kapas yang diberi obat merah.
"Ini lah yang disebut karma. Kau memukul Sasuke dan kau dipukul. Dia sakit, kau juga sakit." jawab Hinata tak perduli. Entah apaan ini. Kebetulan sekali, sialan ini juga kena hajar. Baguslah.. Setidaknya Hinata tahu karma masih berlaku.
"Ini, aku tak di pukul. Aku jatuh terkena lantai." ucap Naruto cepat. Ia sungguh sial. Mengapa hal ini malah terjadi dan mengapa ia harus bertemu dengan gadis sialan ini? Apakah tak ada manusia lain dijepang selain sialan ini?
"Aku tak bodoh." jawab Hinata jijik. Orang yang tak memiliki otak pun tahu lelaki ini habis dihajar.
"Jika kau mau babak belur lagi, silahkan hajar seseorang lagi." sambung Hinata sambil menekan kuat pipi Naruto yang lembam dengan salep di jari telunjuknya.
"Sakit bodoh!" marah Naruto langsung mendorong Hinata yang membuat Hinata terjungkir ke belakang.
"Dasar sialan! Dasar banci! Begini saja sakit!" Hinata membalas mendorong Naruto.
"Jika kau tak mau sakit ya jangan lakukan! Kau tahu kan apa yang disebut karma! Kau memukul, kau dipukul. Kau mendorong, kau didorong. Kau memarahi, kau dimarahi. Ya begitu lah!" sambung Hinata kesal. Dasar, tak tahu berterima kasih. Harusnya tadi Hinata membiarkannya mati di jalanan.
"Sudah, sekarang baring. Aku akan mengambilkan air agar kau bisa mencuci otak sialanmu itu!" Hinata menurunkan suaranya sambil beranjak dari posisinya.
Ia membantu Naruto berbaring dan membuat bantal ditiang ranjang ke atas kepala Naruto tapi Naruto malah tak sengaja menyenggol tangannya di atas ranjang yang menahan berat tubuhnya yang membuatnya terjatuh, menindih Naruto.
Matanya yang langsung terbuka lebar, menatap mata Naruto yang hanya berjarak beberapa cm dari matanya.
Naruto membeku, tangannya tak sengaja meyenggol tangan Hinata yang membuat Hinata terjatuh dan menindihnya. Harusnya Naruto berteriak kesakitan karena anggota wajah Hinata menekan kuat di bibirnya yang terluka tapi karena benda yang mendarat di bibirnya adalah benda yang sangat seharusnya tak mendarat di bibirnya membuat rasa sakitnya seolah menghilang.
...
"Aa.. Aa..ano.." Hinata mendorong dada Naruto, menjauh satu langkah dan menggaruk pelan kepalanya yang tak gatal. Jantungnya menggila, darahnya terasa berdesir sangat deras dan cepat.
"Ka-kau baring, aku akan mengambil air minum untukmu." ucap Hinata gugup yang langsung melangkah pergi tapi Naruto malah mengengam pergelangan tangannya yang membuat langkah Hinata terhenti.
"Tadi kau bilang apa yang disebut dengan karma, ha?" Tanya Naruto berpura-pura bego pada Hinata yang masih membelakanginya.
"Heee!" dengan satu tarikan yang langsung membuat badan Hinata terhuyung kebelakang dan berakhir dengan terduduk di atas ranjang.
"Kau memukul, kau dipukul? Kau memarahi, kau dimarahi? Jadi jika kau menciumku?" tanya Naruto pada Hinata yang masih menghindari tatapannya. Astaga.. Mengapa hal ini bisa terjadi? Bisakah lelaki itu berpura-pura hal barusan tak terjadi?
"Aaa.. Ano.. Aku akan pergi dan mengambil minuman." Hinata mengubah topik pembicaraan tapi wajah Naruto malah mendekat kearahnya yang membuatnya mau tak mau memundurkan wajah dan badannya dengan kedua tangannya menahan dibelakang agar badannya yang terbaring di ranjang.
"Kau tahu? Selalu ada dua cara untuk menjinakkan seseorang. Jika tak kasar ya sebaliknya." ucap Naruto ketika wajahnya berjarak lima cm dari wajah Hinata.
"Dan seberapa galaknya seorang perempuan. Dia tak akan bisa tak jinak pada sentuhan seorang lelaki tampan sepertiku." sambungnya yang kemudian langsung menempelkan bibirnya ke bibir Hinata.
!
Hinata langsung membeku dengan matanya yang langsung terbuka lebar.
Kedua tangan Naruto berpindah ke tengkuk Hinata, menarik wajah Hinata mendekat kearahnya.
...
Hinata masih membeku. Ia sungguh tak bisa bergerak. Tolong Lah siapapun. Hinata sungguh ingin menghilang dari sini, detik ini juga.
Naruto kembali mengulum bibir bawah Hinata dengan matanya yang masih tertutup. Hinata sialan. Seharusnya dia tak membawa Naruto ke sini dan sengaja memancingnya.
...
Naruto tersenyum lucu ketika ia menatap Hinata yang masih membeku.
Jantung Hinata sungguh sudah tak berdetak lagi, ia bahkan lupa bernafas.
Naruto kembali memejamkan matanya dan menikmati bibir manis Hinata.
Mengulumnya, menggigitnya dan mengecupnya. Naruto ingin lebih dari ini. Entah karena apa ataupun entah sejak kapan, ia rasa ia sangat ingin mencium dan menyentuh Hinata.
... ?
!
Naruto menjauhkan wajahnya dari wajah Hinata ketika ia sadar apa yang sedang ia lakukan dan ia pikirkan tapi masih dengan tingkahnya yang sangat keren seperti beberapa menit lalu. Tidak! Apa yang Naruto pikirkan. Ia tak boleh melakukan hal seperti ini.
"Terima kasih karena telah menolongku. Aku akan pulang, ini sudah sangat malam." ucap Naruto yang langsung menyadarkan Hinata dari acara membekunya.
...
"Aa.. Ini sudah malam. Aku tak keberatan jika kau tinggal disini, lagipula kau tak membawa mobilmu kan?" ucapan yang tiba-tiba meloncat keluar dari bibir Hinata tanpa aba-aba ketika Naruto menjauh darinya sejauh dua langkah kaki kecil. Hinata yang langsung menundukkan wajahnya yang sudah merah matang. Apa yang baru saja ia katakan?!
Naruto menatap Hinata yang menundukkan kepalanya sambil terus berpikir. Sejujurnya, apa yang Hinata katakan benar. Ia tak membawa kendaraan dan sekarang sudah tengah malam. Tak akan ada bis maupun taxi yang lewat disini.
"Baiklah." jawab Naruto pasrah. Lagipula menginap disini tak buruk.
"Ka-kalau begitu kau boleh mengunakan kamar ini, aku pergi dulu." Hinata yang langsung beranjak dari tempatnya dan berlari keluar. Habis sudah dirinya. Bagaimana bisa ia menawarkan hal ini pada Naruto setelah kejadian tadi? Ini sungguh memalukan! Hal ini tak seharusnya terjadi!
.
.
.
?
"Shion?" panggil Hinata ketika ia memasuki kamarnya dan tak melihat Shion.
Ia yang menghampiri ranjang king sizenya dan menemukan selembar kertas disana.
'Maafkan aku, aku tak bisa menginap hari ini. Shion..' Hinata meletakkan kertas tadi ke meja kecil didekat ranjangnya yang kemudian mendudukan dirinya dipinggir ranjang. Harusnya ia bercanda dengan Shion kini tapi malah begini yang terjadi.
Persetan dengan Naruto. Ia mau tidur dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
.
Hinata merobohkan dirinya kebelakang dengan badannya yang masih terlapis hotpants dan kaos berwarna putih.
Satu tangannya yang perlahan terangkat dan menyentuh bibir nya tanpa sadar. Jantungnya lagi-lagi mengila. Apa maksud dari hal tadi? Apakah Naruto hanya menciumnya untuk mengerjainya? Sebetulnya, Hinata tak perduli dengan ciuman, karena baginya itu hanyalah dua buah bibir yang menempel tapi mengapa harus dia? Apakah Hinata harus mengatakan sesuatu yang buruk?
Sesuatu yang buruk itu adalah, ini adalah ciuman pertamanya!
..
Hinata menutup wajahnya yang sudah sangat merah dan panas dengan kedua telapak tangannya, bahkan telinganya terasa sangat panas. Ia ingin merasakan ciuman hangat dari sialan itu lagi. Ia suka bagaimana cara Naruto menciumnya dan tersenyum padanya.
Bluusssshhh!
Hinata berguling-guling diatas ranjangnya. Ia pasti sudah gila, otaknya pasti sudah tak beres. Mengapa ia malah memikirkan hal ini?!
"Hinata?"
"Kyyaaaahh!" pekik Hinata terkejut sambil mendudukan dirinya ketika ia mendengar seseorang menyebut namanya.
"Mengapa kau disini?!" tanya Hinata terkejut pada Naruto yang entah sejak kapan berdiri dihadapannya.
"Aku ingin tidur disini." Naruto yang langsung meloncat ke atas ranjang Hinata tanpa menunggu jawaban dari Hinata. Sejujurnya, ia hanya tak mau sendirian saat ini atau lebih tepatnya ia hanya ingin disebelah Hinata yang baik sedikit lebih lama. Kalian tahu kan? Sangat jarang Hinata berlembut mulut padanya dan jarang untuk tak mengajaknya bergaduh.
"Terserah.. Ini bukan pertama kalinya kau disini." jawab Hinata pasrah. Kalian tahu kan? Brengsek ini tak akan pergi meskipun di seret keluar sekalipun?
...
"Kalau begitu tidurlah. Aku akan tidur disini karena aku tak tenang ada orang asing tidur dikamarku yang dipenuhi barang berhargaku." Ucap Hinata jujur yang kemudian langsung membaringkan dirinya, membelakangi Naruto.
.
.
Deg.. Deg..
Mata Naruto yang masih terfokus pada punggung Hinata. Ia.. Ia tak tahu apa yang ingin ia lakukan disini. Dan pernahkah Naruto katakan pada Hinata? Jika dia tak seharusnya berada disatu tempat sepi dengan seorang lelaki? Aaarrrgghh! Sungguh membingungkan! Mengapa Naruto tak mengerti apa yang ia inginkan saat ini? Cangung sekali.
Deg..
Mata Hinata yang masih menatap lurus kedepan. Ia merasa Naruto tengah memperhatikannya dan itu sungguh membuatnya tak tenang. Seharusnya, ia pindah ke kamar Hanabi tapi sudah terlambat untuk itu. Hinata tak ingin Naruto tersinggung karena dirinya tiba-tiba pindah kesebelah tapi keadaan saat ini sangat canggung dan membingungkan. Apa yang sebenarnya mereka inginkan?! Mengapa hati Hinata dan Naruto seolah saling tarik menarik?
.
.
...
(Puasa dilarang baca.. Wkwkwkw)
Hinata membalikkan badannya dan langsung terdiam ketika matanya bertemu dengan mata Naruto sejauh setengah meter yang ternyata benar, sedang memperhatikannya.
...
"Maafkan aku karena kejadian tadi pagi. Harusnya aku tak berbuat curang dan hal itu tak akan terjadi." ucap Hinata menyesal. Sedikit pembicaraan sangat bagus untuk menghilangkan rasa canggung kan?
"Maafkan aku karena telah menghajar wajah si brengsek itu. Aku hanya sedang kesal." ucap Naruto menyesal. Sejujurnya, setalah ia pikirkan. Untuk apa ia kesal pada lelaki itu? Hinata bukan istrinya, jadi mengapa ia harus kesal? Tunggu. Mengapa Naruto jadi berpikir jika ia kesal karena kedekatan Sasuke dengan Hinata? Sebetulnya apa yang ada di hatinya saat ini? Ia sungguh bingung.
"Harusnya kau minta maaf pada nya." jawab Hinata apa adanya. Hinata ingin lebih dekat dengan Naruto.. Salahkah jika dirinya berharap Naruto lebih mendekat dan memeluknya? Tidak! Apa yang ia pikirkan?! Ia pasti sudah gila. Mengapa Hinata tak mengerti perasaannya sangat ini? Sebetulnya apa yang ia rasakan dan ingin kan kini?
Naruto mengubah posisi baringnya menjadi duduk yang membuat Hinata reflek dan ikut mendudukan dirinya.
"Apa?" tanya Hinata ragu pada tatapan Naruto yang entah dalam artian apa.
"Hinata.." panggil Naruto sambil melambaikan tangannya, pertanda agar Hinata mendekat.
...
Hinata yang akhirnya mendekatkan wajahnya ke Naruto atau lebih tepatnya mendekatkan telinganya ke bibir Naruto dengan jarak beberapa cm.
"Maafkan aku karena kejadian tadi." bisik Naruto yang langsung membuat Hinata membeku. Mengapa Naruto mengingatkannya pada hal itu lagi? Padahal ia baru saja melupakannya..
Kedua tangan Naruto mendarat di kedua pipi Hinata, mengubah posisi wajah Hinata agar bersejajar dengan wajahnya.
"Dan maafkan aku untuk kejadian ini." sambung Naruto yang kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Hinata.
...
Naruto tak tahu mengapa ia melakukan hal ini. Ia hanya senang berada didekat Hinata yang lembut dan tenang seperti saat ini. Naruto sangat ingin mencium Hinata lagi.
Hinata masih membeku ketika ia merasakan jelas Naruto mengecup penuh nafsu bibirnya. Sejujurnya, apa maksud dari hal ini? Mengapa Naruto menciumnya dan mengapa ia menginginkannya? Sebenarnya, apa hubungan mereka? Ia sungguh tak mengerti. Apakah hal ini terjadi sungguh hanya karena nafsu semata? Atau ada artian lain dari hal ini?
...
Mata Hinata yang perlahan terpejam. Perlahan, ia membalas kecupan bibir Naruto. Harusnya mereka tak melakukan hal ini kan? Akal sehat mereka terus menolak dan memberontak tapi hati, perasaan dan tubuh mereka sama sekali tak ingin mendengarkan teriakan akal sehat mereka.
Naruto membaringkan pelan Hinata tanpa melepaskan bibirnya dari bibir Hinata.
Satu kecupan di dagu Hinata dan berpindah ke leher Hinata. Semakin ia mencium Hinata, ia menjadi semakin menginginkan Hinata. Bagaimana bisa ia melakukan hal ini? Tubuhnya sungguh tak mau menuruti otaknya yang terus memberontak. Katakan? Bagaimana bisa ia mencium Hinata yang bahkan bukan temannya? Ia sungguh tak mengerti perasaannya sendiri tapi yang paling jelas dan pasti untuknya kini, adalah ia menginginkan Hinata.
..
Jantung Hinata yang masih menggila, tapi dirinya masih terdiam, membiarkan Naruto meninggalkan kissmark di lehernya. Hinata sungguh merasa dirinya sungguh sudah gila. Bagaimana bisa ia membiarkan lelaki yang bahkan tak akrab dengannya menciumnya dan meninggalkan bekas ciuman di lehernya? Ia tak mengerti apa yang ia rasakan kini tapi satu hal yang pasti. Ia menginginkan Naruto yang lembut dan dewasa, Naruto yang berbeda dari biasanya.
.
Cup.. Naruto mengecup mata kiri Hinata dan mengecup pangkal hidungnya.
Ia membalas tersenyum pada Hinata yang tersenyum lucu padanya.
Hinata melingkarkan kedua tangannya dileher Naruto, menarik turun wajah tampan itu hingga bibirnya menempel di bibir Naruto. Rasanya sangat nyaman didekat lelaki ini..
Ruangan yang terang dan sepi. Yang terdengar hanyalah suara jam dinding, ac dan suara malam. Tak lupa suara ciuman penuh nafsu tapi lembut dari kedua manusia tadi.
Bukankah rasanya sangat aneh? Dimana mereka yang selalu bertengkar setiap kali bertemu bisa saling menginginkan? Dan mengapa bisa mereka saling menunjukan sisi tenang mereka? Sisi tenang dan lembut dimana sisi yang tak pernah mereka tunjukan pada siapapun. Bagaimana bisa Naruto membuat Hinata mengeluarkan sisi tenangnya ini dan begitu juga sebaliknya. Bagaimana bisa Hinata membuat Naruto mengeluarkan sisi tenangnya ini yang belum pernah ia tunjukan pada siapapun?
.
.
Mereka sungguh merasa sangat tenang ketika bersama...
.
.
Tapi mereka harus sadar bahwa mereka bahkan bukan teman..
Mereka bagaikan Tom&jerry..
.
.
.
.
.
To be continue..
Uhuk.. Nii sedikit cerita. Dulu waktu author sekolah.. Author kan punya banyak teman lelaki. Mereka itu kalau di depan orang-orang Dinginnya kayak es sampai gak mau panggil author tapi ketika mereka dibelakang orang-orang. Baiknya kayak kapas.. Wwkkwkwk.. Yaa.. Jadi bisa kalian simpulkan. Hinata dan Naruto hanya malu-malu kucing.. Ego mereka lebih tinggi dari rasa cinta mereka. Itulah sebabnya mereka tak sadar mereka mungkin sudah saling jatuh hati.
Dan no Lemon.. Wkwkw.. Lagi puasa..
Moga suka.. Moga bagus..
Bye byee..
