Tittle : Nae Aegya
Chapter : 11 of ?
Disclaimer : Semua pemain milik diri mereka sendiri, Tuhan, dan orang tua mereka tentunya. Saya hanya meminjam nama, dan FF ini pastinya milikku. Mohon maaf jika ada kesamaan alur atau ide, tapi ini murni karangan saya, tidak ada campur tangan orang lain di dalamnya.
Pair : Yunjae
Another Cast : Hangeng, Heechul, Changmin, Yoochun, Junsu, and Hyunjoong
Rated : T
Genre : Hurt/Comfort, Family, Drama, Romance, Friendship
Warning : Yaoi, MPREG, OOC, Typo, Miss-Typo, GS!Heechul, dan lain-lain.
.
Don't Like YAOI or MPREG? Just get out by click the X button!
.
Sebuah ruangan yang lumayan luas dengan cat berwarna putih susu yang mewarnai setiap mata yang memandang. Dan bau obat-obatan langsung tercium indra penciuman saat memasuki ruangan ini. Ruangan yang kurang lebih didominasi warna putih itu, terlihat seorang namja terbaring di atas ranjang rumah sakit, dengan selang infuse yang terhubung lewat tangan kanannya. Seorang namja dengan kaki yang panjang, tengah tertidur di atas sofa panjang yang empuk. Menjaga namja cantik yang terbaring di atas ranjang semalaman membuatnya lelah juga, apalagi jika dia juga yang membawa namja cantik itu ke rumah sakit.
Seorang namja tampan, dengan rambut pirang kecoklatan, tengah duduk di samping ranjang. Memandangi serta menggenggam erat telapak tangan namja cantik itu yang belum bergerak dari tadi. Jaejoong, namja cantik itu memang belum sadarkan diri sejak kemarin malam. Sedangkan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 5:30 AM. Yang artinya Hyunjoong, namja tampan yang masih memandang ke arah namja cantik intens itu, sudah terjaga demi Jaejoong semalaman, tanpa tidur.
Changmin, namja dengan kaki panjangnya yang tengah tertidur lelap di atas sofa itu tampak menggeliatkan tubuhnya kesana kemari. Dan beberapa menit kemudian matanya terbuka perlahan, memandang sekeliling dengan mata sipitnya khas orang bangun tidur. Dia langsung menoleh ke atas ranjang rumah sakit, dimana Hyunjoong masih memandang intens Jaejoong yang masih terpejam.
"Hyung, pulang dan tidurlah. Biarkan aku yang menjaga Jae Hyung, kau butuh istirahat Hyung." Dan Changmin kini sudah berdiri di samping tempat tidur Jaejoong yang lain.
Hyunjoong menatap Changmin yang kini merenggangkan tubuhnya, "Gwaenchana, Min. Kau pulang saja, mandi lalu cari makan, atau kau bisa minta dibuatkan makanan sama maid dirumah…"
Changmin menggeleng, "Ani, Hyung yang pulang, lalu istirahat, ne? Kemarin Hyung langsung datang kesini setelah rapat di kantor, kau pasti lelah."
Hyunjoong pun menggeleng sembari tersenyum, "Ani. Kau pulang saja, Min. Biarkan aku yang menjaga Jaejoong sampai sadar, mungkin ini juga salahku…"
Changmin memilih menghela napasnya, "Hah… Arraseo, Hyung. Jika Jae Hyung sadar, kau harus langsung menghubungiku, Arra?"
Hyunjoong berdiri dari duduknya dan tersenyum ke arah Changmin, ia merogoh sesuatu dari saku celananya, lalu menyerahkannya pada Changmin. "Arra arra. Bawalah mobilku, Min. Ah, kalau kau kesini lagi, bawa pakaianku, ne?"
Changmin memutar bola matanya, "Aish, ne ne."
Hyunjoong tertawa mendengarnya, ia mengacak-acak rambut Changmin, membuat namja bertubuh jangkung itu langsung melengos pergi karena terlalu kesal. Hyunjoong tertawa kecil melihatnya, dan kini pandangannya kembali fokus pada Jaejoong yang masih belum sadarkan diri. Ia jadi merasa bersalah, ia jadi teringat pembicaraannya dengan Isha (dokter) yang memeriksa Jaejoong.
"Jaejun–kun tidak apa-apa. Namun yang saya dapatkan ketika memeriksa tubuhnya, apa dia sedang hamil? Karena saya melihat pendarahan yang berasal dari rahim."
"Mwo?! Pendarahan? Really? Lalu, lalu apa yang terjadi dengan kandungannya, Isha?"
"Jaejun–kun terlihat stress, sepertinya ia banyak memikirkan hal berat. Kandungannya baik-baik saja. Anak kalian kuat."
"A – ani, aku bukan suaminya, Isha. Apa tadi Isha bilang, kalau Jaejoong stress?"
"Ya, dia terlalu banyak pikiran. Jadi agar ia bisa cepat pulih, jangan biarkan dia memikirkan hal-hal berat lagi. Ah Hyunjun, ku peringatkan saja, karena kehamilan yang dialami Jaejun–kun ini tidak seharusnya, berhati-hatilah. Karena mungkin bisa membahayakan Jaejun–kun yang mengandungnya. Atau bisa saja kandungannya tidak bisa diselamatkan, untung saja lelaki tinggi tadi cepat membawanya kesini…"
Kata-kata itu seolah kembali berputar dipikirannya. Jika saja saat itu ia tidak menyatakan cintanya, mungkin saja Jaejoong tidak stress seperti kata Isha tadi malam. Ia yakin jika ungkapan cintanya kemarin membuat Jaejoong terlalu banyak berpikir keras. Sebenarnya ia tidak ingin mengungkapkan cintanya, namun ia sudah terlalu lama memendamnya, dan ia tidak kuat menahannya lagi. Dulu, ia memang pergi ke Amerika karena Appanya sakit, namun beberapa minggu setelahnya, seharusnya ia bisa pulang lagi ke Korea. Tetapi karena takut sakit hati mendengar penolakan dari Jaejoong, ia memutuskan tinggal lama di Amerika. Hah, ia jadi merasa serba salah sekarang.
Hyunjoong menyenderkan tubuhnya pada senderan kursi. Lelah, ia mengakuinya sekarang. Namun ia ingin menjadi orang pertama yang dilihat Jaejoong. Egoiskah dia?
.
.
.
Mobil berplat nomor Jepang itu berhenti tepat di depan pagar sebuah rumah. Pengemudinya keluar dengan wajah lelah. Namja dengan tubuh jangkung itu memutuskan untuk langsung mandi begitu memasuki rumah. Namun apa yang ada di luar rumah menghentikkan langkahnya. Tubuhnya menegang, tangannya langsung berpegangan pada pagar rumah. Matanya menatap tajam pada objek yang kini duduk dan tersenyum menatapnya.
"Annyeong Changmin–ssi," seorang namja dengan mata musangnya yang kini menyipit karena ia tersenyum langsung berdiri begitu mendapati salah satu orang yang dicarinya ada di hadapannya.
Changmin melangkah dengan angkuh, ia menatap nyalang pada namja di depannya, "Apa yang kau lakukan disini, Yunho–ssi?!"
Yunho melangkah maju, setelah berjarak satu meter, namja berwajah kecil itu berhenti, "Apa kabarmu?"
Changmin berdecih, "Untuk apa kau disini?! Mengganggu kehidupan Jae Hyung, huh?! Atau mau membahas masalah perceraian kalian?! Kau bisa bicara denganku masalah itu, karena aku pengacaranya."
"Mana Jaejoong? Apa dia baik-baik saja?" Cukup sudah, Yunho sudah tak ingin bertele-tele lagi, daripada Changmin mensinisinya terus.
Changmin memutar bola matanya, "Mau apa kau? Apa kau masih peduli padanya setelah selama ini tidak mencoba mencarinya? Aish!" Changmin jadi sebal sendiri membayangkannya.
Yunho menggeleng pelan, "Ani. Aku bukannya tidak peduli padanya, Min. kau tahu kan kalau pekerjaan kantorku banyak? Waktuku habis untuk mengurusi pekerjaanku, apalagi dengan perginya Jaejoong. Membuatku harus mencari sekertaris baru secepatnya," Yunho menghela napas.
Changmin melotot, jadi Yunho menyalahkan Jaejoong sekarang, "Mwo?! Jadi, kau menyalahkan Jae Hyung begitu?! Yah! Kau lebih memperhatikan pekerjaanmu daripada istrimu sendiri, kau tahu?!"
"Yah! Siapa yang menyalahkan 'namja' itu?! Aku hanya bilang kalau dia tidak ada, aku jadi repot. Aish!" Yunho lagi-lagi menghela napasnya setelah berteriak pada Changmin karena terlalu kesal.
Changmin semakin melotot, "Yah! Itu sama saja, pabbo! Aish!"
"Sudahlah, katakan dimana Jaejoong sekarang!"
Changmin menyeringai dibalik wajahnya yang kini sedikit tertunduk, "Dia ada di rumah sakit sekarang. Tadi malam dia mengalami pendarahan."
Yunho melotot tak percaya, "Mwo? Yah! Kenapa kau tidak bilang padaku dari tadi?! Katakan dimana rumah sakitnya sekarang!"
Changmin mengangkat wajahnya lalu mendorong-dorong tubuh Yunho keluar pagar, "Akan aku kirimi alamatnya ke emailmu! Kka! Pergilah!"
Dan Yunho pergi dengan cepat sembari menunggu email dari Changmin yang berisikan alamat rumah sakit yang merawat Jaejoong saat ini.
.
.
.
"Jae, makan dulu, ne? Kau butuh nutrisi sekarang, apalagi kemarin kau pendarahan kan?" Hyunjoong berusaha membujuk Jaejoong yang bar sadar setengah jam yang lalu.
Jaejoong menggeleng dengan bibir mengerucut lucu, "Anio, aku tidak mau, Hyung…"
Hyunjoong menggeleng, "Lalu kau mau makan apa? Atau kau mau jalan-jalan ke taman rumah sakit?"
Kedua mata besar Jaejoong menatap Hyunjoong tak percaya, "Jinjja Hyung? Kau tidak bohong kan?"
Hyunjoong tersenyum dan mengangguk, "Ne ne, tapi kau nanti makan ya disana? Arrachi?"
Jaejoong mengangguk antusias, "Arrachi!"
.
.
.
Yunho berjalan pelan ke kawasan rumah sakit besar Kyoto. Dengan sebuket bunga lily putih ditangannya, namja yang lahir tanggal 6 Februari itu juga membawa keranjang buah di tangan lainnya. Bibir hatinya menyunggingkan senyuman, senyuman yang berhasil membuat beberapa perawat maupun yeoja yang lewat terpukau. Ia menggumamkan nama Jaejoong di setiap langkahnya. Sedikit rasa takut menghinggap di hatinya, rasa takut akan penolakan seperti yang Changmin lakukan tadi. Ah, untung saja ia sudah mendapat alamat serta nomor kamar ruang rawat Jaejoongnya dari Changmin. Jadi, dia langsung saja menuju ruangannya.
CKLEK
"Jaejoongie…"
Kakinya melangkah masuk semakin dalam. Namun ia tidak menemukan siapapun di atas ranjang rumah sakit. Tangannya menaruh keranjang buah ke atas meja, dan kakinya melangkah keluar ruang rawat itu.
"Jaejun, tulisan Jepang ini benar. Lalu dimana dia?" ia menggumam setelah membaca papan nama yang memang diletakkan di samping pintu.
"Ah, wait!" Yunho menghentikkan seorang namja yang memakai pakaian perawat yang kebetulan lewat di depannya.
Namja itu berhenti dan mengernyitkan dahinya, "Ye?"
Yunho menghela napas, "Kau orang Korea?"
Dan namja itu mengangguk.
Yunho mengangguk lalu tersenyum, "Apa kau tahu orang yang dirawat di ruangan itu? Jaejoong."
Namja itu memasang wajah berpikirnya sejenak, "Ah! Ne, ne. Dia sedang di taman rumah sakit sekarang, sekitar sepuluh menit yang lalu mereka kesana."
Yunho mengernyitkan dahi, "Ye? Mereka?"
Namja itu mengangguk antusias, "Ne! Namja tampan, dengan rambut kepirangan. Setahuku namja itu pengusaha terkenal di Jepang. Ah namanya, ehm, Hyun – joong, ne, Hyunjoong!"
"Mwo?! Baiklah, khamsahamnida!"
Yunho langsung berjalan cepat ke arah taman. Pikirannya kacau, ia berpikir kenapa ada namja lain yang tidak dikenalnya dekat dengan Jaejoongnya? Ia berjalan cepat dengan meremas ujung tangkai-tangkai bunga lily yang dibawanya.
.
.
.
"Jae, sesuap lagi, ne? Baru setelah itu kau ku belikan es krim double coklat sesuai keinginanmu, bagaimana?" Hyunjoong menyodorkan suapan bubur pada Jaejoong yang menutup bibirnya rapat-rapat.
Jaejoong menggeleng, "Jebal, Hyung… Aku sudah mual, dan aku ingin es krim itu sekarang!" tatapan matanya menyiratkan sebuah keharusan, namun matanya berkaca-kaca. Seolah sangat menginginkannya. Puppy eyes.
Hyunjoong tersenyum mendengarnya, "Kau ngidam, huh?"
Dan pipi Jaejoong merona mendengarnya, ia berusaha menutupinya dengan membuat wajah kesal. Bibir plumnya mengerucut maju dengan sedikit melengkung ke bawah, matanya menatap tajam pada Hyunjoong yang kini terkikik geli. Ingin rasanya Hyunjoong mencium bibir plum yang dari dulu menggodanya.
CHU~
Dan Hyunjoong berhasil membuat Jaejoong melotot sempurnya.
"Kau cantik jika sedang kesal, Jae…" setelah mengucapkannya, Hyunjoong langsung berlari pergi membawa piring yang menjadi wadah bubur yang Jaejoong makan. Meninggalkan Jaejoong yang masih mematung.
Jaejoong mengarahkan jarinya pada bibir plumnya sendiri. Merasakan sisa-sisa kecupan singkat Hyunjoong. Ia tidak marah pada namja yang ia sukai dulu itu, namun ia juga tidak terlonjak kesenangan setelah mendapatkan kecupan mendadak itu. Entah kenapa sebagian hatinya ada yang melonjak senang, tapi ada juga yang berubah suram. Dan jantungnya, kenapa tidak bisa berkompromi? Ia sudah menikah, yah walau pernikahannya mungkin diambang batas, namun ia juga telah memiliki seseorang yang ia cintai, dan itu bukan Hyunjoong. Namun kenapa jantungnya berdebar tak menentu begini?
Jaejoong duduk di kursi roda sendirian. Karena Hyunjoong bilang akan menaruh piring kotornya dahulu, baru membelikannya es krim di kedai khusus es krim. Jaejoong masih diam termenung. Tangannya masih menyentuh bibirnya, seolah meresapi sisa kecupan Hyunjoong yang terasa begitu ambigu baginya.
Dan tanpa Jaejoong sadari, sepasang mata musang menatap kesal juga tajam padanya.
.
.
.
TBC
A/N : Ah mianhae! Jeongmal mianhae, aku udah dua hari engga ngelanjutin fic ini, hari minggu aku ngga bisa karena capek kena jetlag pula. Dan hari senin ngga bisa karena sibuk bikin oneshoot untuk Yunjae Anniversary. Yang belum baca, baca ne? Udah di update langsung setelah bikin, makanya mungkin agak aneh hehe. Ah dan buat mama My Beauty Jeje, gomawo untuk penjelasan singkat mengenai rumah sakit, ngga tau benar atau engga aku tulis di atas, mungkin gagal hehe. Dan yang udah follow serta nemenin mentionan, gomawo... Aku lagi agak down nih, yang review berkurang, huaaa~ See ya later!
.
Oneshoot Yunjae Anniversary : www fanfiction net/s/9376113/ – Han Jaejun – 김재중
Follow twitterku sekalian ya hehe, baru ganti username, jadi pemberitahuan sekalian... JasGriffo25
.
Review ne? Please :)
.
Jeongmal Gomawo 11/6/2013 16:30 PM – Australia Time
.
Jason
