I only need a world that has you in it….

Rated: T for this chap

Main pair: Sasuke X Naruto,

Slight pair: Sasuke x Sakura, Gaara x Naruto

Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto

Genre: Romance, Drama,Hurt/Comfort, Angst,

Warning: pastinya YAOI donkzzzz…. Xexexxe xp…narUKE- saSEME…fuufuufufuufufuuu…. #plak ga penting…. Maaf kalau masih banyak typo di chapter ini, #ojigi.

Summary:

'Sasuke.. setelah 3 tahun akhirnya kau kembali, walaupun kini status kita sebagai saudara, tapi dengan kau disini itu sudah cukup bagiku, tetaplah seperti ini, disisiku menemani rasa sepi yang akau rasakan, temani aku disini, selamanya…'

#previews chapter

"Berjuanglah kakak, cemoga kakak tidak tellambat" ujar sesosok bayangan transparan yang melihat kepergian Sasuke dari taman itu, menampakkan senyuman yang sama dengan yang di foto itu.

Bodoh…..

"Bagaimana keadaanmu?"

"Entahlah, aku tak begitu ingat apa yang kulakukan beberapa hari ini."

"Kalau begitu, datanglah nanti ke tempatku, aku akan memeriksamu sekali lagi."

"Baiklah."

Kututup sambungan telepon dari dokter yang mengurusku selama aku berada disini, Tsunade. Seorang dokter yang diperkenalkan padaku oleh Jiraiya sensei sebelum aku pergi meninggalkan tempat itu.

Sudah setahun sejak aku pergi meninggalkan kota itu, dan selama itu pula penyakitku beberapa bulan terakhir ini sering kambuh, kata Tsunade baasan aku harus segera menjalani perawatan di rumah sakit, tapi aku menolak, aku belum siap dan belum ingin berada di sana. Masih belum, aku masih belum boleh berada ditempat itu, moment yang aku kumpulkan masih kurang, aku masih ingin mencari lebih banyak lagi. Aku tak boleh menyerah sekarang. Setiap harinya aku menekankan motivasi itu dalam diriku, aku masih bisa dan aku pasti bisa mengumpulkan beberapa moment lagi.

Dan sekarang aku tengah berada di Negara Perancis, sudah sekitar 3 bulan aku berada disini, Negara yang sengaja kupilih karena aku ingin mengumpulkan banyak kenangan di kota ini, kenangan sebelum nanti aku pergi. Sebelumnya aku tinggal berpindah-pindah dari satu negara ke negara yang lain, dari satu kota ke kota lain, menikmati berbagai macam keindahan tempat-tempat yang ada di dunia ini dan mengabadikan setiap moment yang bisa kudapat, menyimpannya dalam sebuah kotak dengan berbagai tulisan tanganku didalamnya. Hal yang bisa mengingatkan aku walaupun kemungkinannya sangat kecil yang akan aku gunakan suatu hari nanti jika ajal sudah mendekatiku.

Aku menjadikan alasan meneruskan kuliah di salah satu universitas terkenal di Perancis untuk bisa pergi dari kota itu dan itulah yang kukatakan pada tousan sebulan sebelum aku pergi meninggalkan tempat itu. Namun, aku tidak benar-benar langsung pergi ke sana, aku memang sempat mengajukan surat permohonan beasiswa ke Negara ini, dan suratkupun diterima dari pihak universitas disana, namun itu sebelum aku tahu bahwa aku mengidap penyakit ini. Dan setelah aku tahu, kurasa aku tak akan bisa untuk melanjutkan kuliahku lagi.

Alasan sebenarnya pengajuan besiswa keluar negeri itu karena aku ingin menghindari dia untuk sementara waktu, untuk bisa menata lagi hatiku kembali agar ketika aku bertemu dengannya setidaknya aku bisa memberikan senyum tulusku padanya, namun sepertinya Tuhan berkehendak lain, umurku sudah tak panjang lagi, hanya sampai disini batasku dengannya, seperti benang kapas yang dengan sekali tarikan akan putus, seperti itulah aku.

Jiraiya sensei sudah menyuruhku agar aku dirawat dirumah sakit, setidaknya bisa memperlambat perkembangan penyakitku, itulah yang ia katakan padaku. Tapi, kurasa hal itu tak ada gunanya, biarkanlah penyakit ini tetap seperti ini, aku tak ingin memperlambat ataupun mempercepatnya, jika memang sudah waktunya maka itulah akhir hidupku, akan tetap saja bukan? Hanya saja waktunya yang berbeda.

Sebenarnya akupun akhir-akhir ini merasa bersalah pada orang-orang yang berada disekitarku, aku selalu merepotkan mereka, sangat merepotkan malah, terutama pada Tsunade baasan. Aku juga tak mengerti, kadang-kadang aku menemukan diriku berada ditempat yang sepertinya kukenal tapi tak ada dalam memori dikepalaku, tak bisa mengingat nama-nama orang yang beberapa bulan ini akrab denganku, sering tersesat, sering melupakan barang-barangku, dan juga sudah beberapa kali ketika ayahku menghubungiku aku tak mengenal suaranya dan juga nomor yang tertera di layar ponselku, namun aku mengingatnya lagi setelah beberapa jam kemudian.

Ada satu yang ingin aku katakana, satu hal yang sangat kutakuti saat ini. Bukannya aku takut akan kematian, namun aku takut, sangat takut jika semua memori berhargaku ini akan hilang, memori tentang ayah dan ibuku, teman-temanku, sahabat-sahabatku, guru-guruku, tetangga-tetanggaku, dan juga memoriku tentangnya. Setiap aku mengingat rasa takut ini, bisa dipastikan aku pasti menangis, bukan mauku memiliki penyakit ini, dan juga bukan mauku jika suatu hari nanti aku benar- benar kehilangan hal yang paling berharga dalam hidupku, memori. Siapa orang yang ingin kehilangan semua kenangannya bersama orang-orang yang ia kasihi, hanya karena sebuah penyakit seperti ini. Aku membayangkan ketika nanti aku akan mati nanti tak ada satu memoripun yang akan aku ingat. Jika boleh memilih aku tak ingin mati tanpa bisa mengingat apapun. Hanya itu yang ingin aku negosiasikan dengan Tuhan, dan itupun adalah hal yang sangat tak mungkin bukan?

'Nee, Suke san masih ingatkah padaku' batinku saat ini, kusandarkan punggungku di sisi salah satu jendela di apartementku menatap jalanan yang saat ini ramai, orang-orang berkeliaran dibawah sana, ditengah hawa dingin saat ini. Pandanganku beralih kepada salah satu mahkluk dibawah sana, orang yang tadi kupikirkan. Astaga!

Kukerjap-kerjapkan mataku, penglihatanku masih jelas aku tak memiliki penyakit mata selama ini setauhuku jika tak salah, tapi sosok yang kini memanggul tas berwarna hitam dan menggunakan coat panjang berwarna biru dongker dengan rambut ravennya dan juga kulit putihnya.

"Sasuke!" pekikku dengan suara kecil, kututup mulutku, tanganku bergetar, kaki ku lemas tak kuat lagi menopang berat tubuhku, air mataku tiba-tiba mengalir, nafasku terasa tercekat diudara, aku terduduk di beranda memegangi dadaku dengan sebelah tangan, entah kenapa perasaan dalam dadaku berkecamuk, senang, bahagia, kaget, sedih, benci, kecewa bercampur menjadi satu. Tiba-tiba kurasakan kepalaku berdenyut sakit, serasa dipukul dengan menggunakan beratus-ratus martil, kupegangi dengan kedua tanganku masih dengan arah pandangan kebawah sana. Rasa sakit dikepalaku semakin keras, kualihkan pandanganku pada benda bewarna orange didekat sisi jendela diseberangku.

"Tsu..nade baa..san," gumamku pelan, masih dengan tangan memegangi kepalaku dan satunya terjulur menggapai ponselku.

"Ta..suke..te, baasan.. ittai…" gumamku lagi, pandanganku semakin berkunang-kunang, sedikit lagi, sedikit lagi ponsel itu kugapai.

Setelah kudapat, kutekan tombol panggilan darurat yang terhubung langsung dengan Tsunade baasan, selanjutnya aku sudah tak ingat apa-apa lagi, gelap semua yang terlihat kini gelap.

'Inikah akhir hidupku saat ini?' batinku sebelum aku benar-benar tenggelam dalam gelapnya dasar kegelapan.

Konoha..

"Kapan kau berangkat?"

"Besok, jisan."

"Baiklah, satu pesanku hati-hatilah disana, walaupun kau bukan anak kandungku tapi aku masih punya tugas menjagamu disini, dan tolong bawa dia kembali kesini, Sasuke."

"Hn. Aku mengerti, jisan."

"Tidurlah."

"Hn."

"Oyasumi, Sasuke."

"Hn."

"….."

'Aku akan segera menemukanmu, Naru dobe.'

PRANG!

"Eh?" ujar Tsunade terkejut saat menemukan vas bunga yang berada diatas mejanya terjatuh dan pecah. Raut wajahnya menunjukan kecemasan, aka nada sesuatu buruk yang segera terjadi batinnya. Belum sempat ia membereskan pecahan-pecahan keramik dari vas itu, ponselnya berdering. Dilangkahkan kakinya menuju ke meja dimana ponselnya berada, diambilnya sesaat kedua keningnya berkerut sebelum ia menggumamkan nama "Naruto" dan kemudian mengangkat panggilan tersebut.

"Ada apa bocah?"

"…"

"Bocah?"

"…"

"Hoe! NARUTO!" jeritnya kemudian karena orang yang berada diseberang sana tak kunjung membalas. Ia semakin cemas, pasti ada sesuatu yang telah terjadi lagi pada orang yang ia panggil "Bocah" itu, seketika itu juga ia menutup sambungan telepon itu dan secepat yang ia bisa mengambil kunci mobil beserta tasnya berlari menuju ke parkiran dan melajukan mobilnya kea rah tempat tinggal sang bocah. Selama perjalanan ia terus mengumpat, mengoceh, mengomel dan sebagainya.

"Kuso! Bocah itu, apa lagi yang terjadi padanya kali ini, tsk."

10 menit kemudian….

TOK TOK TOK

"Naruto! Buka pintunya ini aku Tsunade."

"Kuso!"

Ia kemudian mencari sebuah kunci cadangan yang kalau tak salahia letakkan dibawah keset, dan untungnya kunci itu masih disana, diambilnya kemudian di bukanya pintu itu.

Ia melangkah dengan sangat tergesa memasuki ruangan itu, mencari sosok berambut pirang dan berkulit tan kecoklatan.

"NARUTO!" pekiknya ketika melihat yang ia cari tengah terbaring disalah satu sisi jendela.

"Hoi! Naruto bangun! Naruto! Kuso!" diambilnya ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Tuut..Tuut..Tuu – cklek

"Tsunade?"

"Cepat dating ke apartemen Naruto sekarang juga! Aku membutuhkan tenagamu segera."

"Ba—baik, tunggu aku."

CKLEK Tuut—tuutt –tuutt…

'Cepatlah Jiraiya, aku mohon cepatlah,' batinnya sambil memeluk tubuh pemuda berambut pirang itu.

"Sasuke?"

"Hn."

"Apakah kau sudah sampai?"

"Ya, aku tiba tadi sore."

"Sasuke, satu permintaanku, tolong bawa dia pulang ya?"

"Tentu, jisan."

"Bawa dia kembali dengan senyumannya ya, aku mohon."

"Pasti. Aku pasti akan membawanya pulang."

"Arigatou, Sasuke."

"Hn."

'Aku pasti akan membawanya pulang kembali jisan, pasti,' ujarnya dalam hati. Ditengadahkan kepalanya menatap langit yang semakin sore, matahari yang hampir tenggelam pertanda malam akan segera dating. Tapi entah mengapa perasaannya saat ini tak nyaman.

'Semoga tak akan terjadi hal buruk padamu, Dobe,' ujarnya masih dalam hati, melangkahkan kakinya lurus menggenggam sebuah kertas yang bertuliskan sebuah alamat dengan tinta yang berwarna biru, alamat seseorang yang tengah ia cari selama setahun ini. Sosok yang ia rindukan dan juga yang ia cintai. Kekasih hatinya…

"Kenapa bisa begini?"

"Aku juga tak tahu, tiba-tiba saja ia kudapatkan tergeletak didekat jendela."

"Penyakitnya sudah semakin parah, entah sampai kapan ia akan bertahan, kemungkinan terburuk jika ia sadar nanti ia tak akan ingat apapun, baik itu tentang dirinya sendiri ataupun orang lain. Tapi jika ia terus seperti ini, kemungkinan kecil ia akan bisa bertahan."

"Apakah benar-benar tak ada jalan lain?"

"Sayangnya tidak. Aku ingin menolongnya tapi tak ada yang bisa kulakukan kecuali memperlambat penyebaran penyakitnya."

"Kenapa harus dia?"

"Jangan tanyakan padaku."

TOK TOK TOK

"Permisi Tsunade Sensei, ini buku dari pasien yang tadi anda bawa, terselip didalam kantung bajunya." Ujar seorang perawat sambil menyerahkan sebuah buku kecil berwarna orange pada Tsunade.

"Arigatou." ujar Tsunade setelah mengambil buku itu dari tangan perawat itu.

"Apa itu?" ujar seorang lagi, berambut putih dan mempunyai tato berwarna merah di pipinya – Jiraiya – yang kini duduk disamping Tsunade.

"Entahlah, buku ini punya bocah itu," ujarnya sambil mengamati buku yang berada ditangannya.

"Buka saja, mungkin ada sesuatu yang penting didalamnya," ujar Jiraiya.

"…" Tsunade kemudian membuka buku itu dan mulai membaca beberapa tulisan yang tertera disana, semakin lama ekspresi wajah Tsunade berubah.

"Apa yang kau temukan?" ujar Jiraiya penasaran.

"Entahlah, aku juga tak terlalu mengerti. Tapi setelah aku membacanya kurasa ia sudah tau hari ini akan terjadi," ujarnya dengan pandangan yang menyiratkan rasa keterkejutannya, kecemasannya, dan prihatinya.

"Apa maksudmu?" ujar Jiraiya masih belum jelas.

"Di buku ini, ia mencatat semua hal-hal yang ia pikirkan. Dan dua halaman dari belakang, ia menyebutkan bahwa jika suatu hari nanti seorang datang mencarinya dan juga apabila nanti ia sudah mencapai batasnya, kita diminta untuk tidak memberitahukan apapun mengenai keadaannya pada orang itu, " ujar Tsunade.

"Begitu ya.." gumam Jiraiya masih tak percaya dengan apa yang ia dengar

"Lalu, ia juga mengatakan tolong berikan kotak berwarna cokelat yang berada di laci almarinya ketika saat saat terakhirnya datang, karena disana terdapat harta berharganya," lanjut Tsunade

Jiraiya hanya bisa membulatkan mata mendengar ucapan dari dokter yang merupakan sahabatnya itu.

"A..apa.. yang harus kita lakukan?" ujar Tsunade menatap Jiraiya

Jiraiya hanya bisa menggelengkan kepalanya, pertanda tak ada hal lain yang bisa ia lakukan lagi.

"Bocah itu, aku tak ingin ia mengalami semua ini."

"Tak ada yang bisa kita lakukan, kau maupun aku tahu itu. Kita hanya bisa melihatnya dan memberikan bantuan untuknya hanya itu."

"Tapi…"

"TSUNADE SENSEI!" terdengar sebuah teriakan dari luar ruangan itu.

"Ada apa?!" ujar Tsunade sedikit terkejut. Diletakkannya buku kecil itu diatas meja kerjanya, kemudian menghampiri perawat yang tadi memanggilnya, bersama Jiraiya.

"Sensei, pasien itu sudah sadar." Ujar perawat itu.

"Apa?! Baik kita ke kamarnya sekarang. Ayo!" ujarnya kemudian berlari menuju keruangan sang pasien.

DRAP DRAP DRAP

Begitu sampai didepan ruangan itu mereka kembali dikejutkan dengan sesuatu. Sosok yang kini terbaring di ruangan serba putih itu, membuka matanya namun yang membuat mereka kaget adalah di kedua bola matanya yang berwarna biru itu tak lagi memancarkan kehidupan, kosong seperti sebuah boneka, tanpa jiwa.

"Na..ruto,"ujar Tsunade kemudian melangkah mendekati ranjang pasien.

"Na.. ruto," ujarnya sekali lagi, berharap ada tanggapan dari sang pasien namun nyatanya sosok itu hanya terdiam tanpa ada respon apapun, menatap kearah langit-langit kamar.

"Naruto!" kali ini ia meninggikan suaranya, berharap ia memberikan sedikit respon dari panggilan itu, namun hasilnya tetap nihil.

"Na.. ruto, hiks,, hiks.. NARUTO!" emosinya meluap yang sejak tadi ditahan kini akhirnya ia keluarkan. Ia tak menyangka bocah yang selama berbulan-bulan terus meneriakinya dengan suara khasnya itu kini tak ada lagi, hanya sosoknya saja yang mirip namun isinya lain, sosok yang kini berada dihadapannya bukanlah Naruto yang ia kenal selama setahun ini, bukan pemuda yang bodoh yang terus meneriakinya ketika menyuruhnya untuk melakukan pemeriksaan ataupun pengobatan, bukan, sosok ini bukan pemuda itu.

Di ruangan Tsunade…

Buku kecil berwarna orange itu terbuka perlahan tertiup angin yang berasal dari jendela yang terbuka, berhenti pada sepuluh halaman terakhir dimana dibawah halaman itu tertulis tipis, "Aku ingin melihatmu sekali saja, sebelum aku kehilangan semuanya, aishiteiru yo, sayounara".

Tsuzuku….

Hola hola hola hoo~ ~

Yeeiy ku datang lagi, maaf yan updatenya lama. Ku masih sibuk urusan kuliah hehehe kyyaaa ngeles #ditabok pake bakul nasi hohoho

Oke balas review dulu dikit hehe

BlackXX: hehehe arigatou black san, ini sdh ku lanjutin.. makasih sdh mereview.. ^^

Devilluke ryu shin: wah, kalau itu sih ku juga blom tau pasti mau di bawa kemana~ *kok kaya lagu ya? Masih bingung enaknya mau dgimanain nasibnya naru hehe, ya semoga saja harapannya shin san terkabul hehe, makasi udah review ^^

Guest: hehe makasi, wah ga jamin ya.. hehe makasih udah review, ini udah lanjut kok.

Chooteisha yori: makasih ^^ yaps, yah itu ku masih belajar, maaf kalau eydnya amburadul hehe, yosh makasih udah review, ini udah dilanjut ^^

Maaf ya kalau chap ini ceritanya jadi aneh, dan mengenai penyakit Alzheimer itu aku kurang tau gimana cirri-ciri detail pengidapnya, jadi mungkin disini agak kurang pas sama kenyataannya, ku terlalu mendramatisir, hehe tapi ku harap masih ada yang mau mereview fic ini, terimakasih….

Akhir kata

Jaa, neee….