2060 When The World is Yours
Yuli Pritania
LuMin vers
.
.
.
.
.
.
.
Minseok's Apartment, Seoul, South Korea
09.00 PM
Shim Jong Hyuk duduk tenang diatas kursi yang langsung menghadap ke arah korbannya yang sudah mulai mendapatkan kesadarannya kembali.
Tidak seperti pola yang biasa dilakukannya, dia sama sekali belum menyentuhkan pisau kesayangannya ke tubuh gadis itu, memberikan goresan-goresan penuh seni dengan tinta darah korban sendiri.
Dia dengan sabar menunggu sampai gadis itu sadar kembali dan saat itulah dia akan melakukannya pekerjaannya.Dia masih punya belas kasihan pada korban-korbannya yang lain, menggores tubuh mereka dengan pisaunya saat mereka masih pingsan, sehingga mereka tidak terlalu tersiksa.
Tapi selalu ada yang spesial untuk gadis ini. Persembahannya yang terakhir. Dia akan menyiksa gadis itu dengan perlahan, membiarkan gadis itu berteriak kesakitan setiap kali kulitnya tergores mata pisaunya yang tajam. Dia akan melakukannya sehati-hati mungkin agar gadis itu tidak mati kesakitan sebelum upacara terakhir dilakukan.
Penyaliban.Penutup yang indah. Balas dendam yang memuaskan. Pria itu tersenyum saat Minseok dengan perlahan membuka matanya. Dia cukup terkesan karena gadis itu tidak berusaha berontak saat tahu dirinya terikat, bahkan gadis itu menatapnya dengan pandangan menantang.
" Apa kabar, Lu Min Seok -sshi ? Aku rasa kita perlu berkenalan dulu. Namaku Shim Jong Hyuk. Anak adopsi Shim Dae Ho. Ah, aku rasa kau sangat mengenal ayah angkatku, kan? "
Jong Hyuk berdiri dan melangkah ke arah gadis itu. Dia menyentuh dagu Minseok dengan telapak tangannya, membuat gadis itu berjengit, tidak suka menerima sentuhan dari tangan yang sudah membunuh begitu banyak orang itu. Jong Hyuk tertawa dan tanpa peringatan melayangkan tamparan keras ke pipi Minseok, membuat kepala gadis itu terhuyung ke belakang.
" Kau tahu kesalahanmu, gadis manis? Kau telah membunuh ayahku! Jadi bersiaplah dengan neraka yang akan menghampirimu sebentar lagi. Aku akan menyiksamu sampai kau berteriak memohon agar aku berhenti. Tapi tentu saja, mana mungkin aku berhenti. "
Jong Hyuk mengeluarkan pisau dari sakunya dan menyentuhkan benda itu ke pipi Minseok, namun tidak sampai meninggalkan goresan berdarah.
" Kau ingat tanggal berapa sekarang? 5 Mei. Hari dimana kau membunuh ayahku! Kau tahu alasan kenapa aku membunuh 5 gadis di setiap negara? Kenapa ada 5 lokasi pembunuhan? Angka 5. Angka yg sangat aku benci. Tanggal dan bulan kematian ayahku. "
Dalam satu gerakan cepat mata pisau itu menggores bahu Minseok, membuat darah segar terpercik dari balik blus putih yg dipakai gadis itu. Minseok menggigit bibirnya menahan sakit, bersyukur dengan adanya kain yang menyumpal mulutnya sehingga teriakan sakitnya tidak terlontar keluar, yang hanya akan membuat pria itu puas dengan hasil karyanya.
Pria itu baru akan menghujamkan pisaunya lagi ke lengan Minseok saat pintu apartemen menjeblak terbuka dan beberapa orang menyerbu masuk. Minseok sempat mendengar dua letusan tembakan dan yang dilihatnya sesaat kemudian hanya tubuh Jong Hyuk yang terkapar di lantai.
Ada noda darah besar yang membasahi bagian lengan kemejanya dan tangan pria itu memegangi kakinya yang tampaknya juga terkena tembakan.Minseok mendongak dan menatap Luhan yang berdiri 3 meter di depannya. Lengan pria itu masih terjulur mengacungkan pistol ke arah Jong Hyuk yang sudah terkapar tidak berdaya di hadapannya.
Jelas sekali bahwa pria itulah yang meletuskan tembakan dan ekspresi nya memperlihatkan bahwa dia belum puas sama sekali sebelum membuat Jong Hyuk mati. Raut wajahnya tampak menakutkan dan begitu berkuasa, seolah tidak peduli dengan barisan polisi yang ada di belakanya, yang bisa saja menangkapnya jika dia berani membunuh pria itu.
Luhan tampak berusaha mengendalikan dirinya sekuat tenaga agar tidak menembakkan peluru dari pistolnya lagi sebelum akhirnya berbalik ke arah para polisi dan agen KNI yang berada di belakangnya.
" Bawa dia. Dan jangan ada satu pun yg berani membawanya ke rumah sakit ataupun mengobati lukanya , atau aku akan memecat kalian semua! Kalian dengar? Aku sendiri yang akan memastikan pria ini membusuk di penjara. Jika ada yang tidak mematuhi perintahku, kalian akan berurusan denganku langsung. Kalian mengerti? "
Terdengar gumaman mengiyakan dan beberapa orang polisi maju untuk membawa Jong Hyuk pergi.
" Minseok-ah, kau tidak apa-apa? " seru Kyungsoo yang langsung menghambur ke arah Minseok, menutupi pandangan gadis itu ke arah Luhan. Kyungsoo membuka kain yang menyumpal mulut Minseok beserta tali yang membelit tubuhnya kemudian memeluk gadis itu erat-erat.
" Astaga, aku takut sekali! Untung saja Luhan tahu tempat pembunuh itu menyekapmu. Seandainya aku pulang ke rumah lebih cepat. Ya Tuhan, kau berdarah! "
" Aku tidak apa-apa. Hanya luka gores. Diobati di rumah juga sembuh. " elak Minseokmengabaikan rasa nyeri yang mendera bagian atas lengannya.
Luhan mengawasi kedua gadis itu tanpa beranjak sama sekali dari tempat dia berdiri tadi. Dia bahkan tidak mampu menggerakkan kakinya maju sedikitpun. Dia harus menenangkan dirinya dulu sebelum menemukan tenaga untuk mendekati Minseok . Dia tidak suka terlihat lemah di depan gadis itu.
Dia berusaha meredakan getaran di kakinya yang hampir tidak dapat menopang tubuhnya dengan benar. Membiarkan detak jantungnya yang berantakan kembali Seperti semula. Rasa lega menghantamnya seperti godaan, rasa puas melihat bahwa gadis itu baik-baik saja.
Terluka, tapi masih hidup. Hanya itu yang penting baginya.Dengan cepat gadis itu memegangi jasnya lagi, menahannya di tempat semula dan berbalik menatap Luhan yang berjalan masuk ke kamar dengan wajah marah.
" Aku hanya pergi sebentar untuk memarkir mobil ke garasi dan kau sudah menghilang begitu saja. Kau pikir kau bisa lari dariku? Urusan kita belum selesai! " ujar pria itu tajam sambil menarik lengan Minseok yang tidak terluka.
" Aish, Lu, ini sudah malam. Kalau ada yang mau kau bicarakan besok saja. "
Pria itu tidak menjawab apa-apa dan terus menarik tangan Minseok ke kamarnya, mendorong gadis itu sampai terduduk di atas sofa besar yang langsung ditolak gadis itu mentah-mentah.
" Aku sudah lelah dan tidak punya tenaga lagi untuk bicara denganmu. Aku nyaris mati dan kau masih memaksaku untuk meladeni entah apa yang akan kau katakan begitu? Maaf saja, aku tidak punya waktu! " kata Minseok ketus dan berlalu pergi dari hadapan pria itu.
Tapi langkahnya langsung terhenti saat Luhan mengatakan sesuatu yang membuatnya syok setengah mati. Kalimat yang nyaris tidak mungkin keluar dari mulut pria dingin macam Luhan.
" Buka bajumu. "
" Mwo? "
" Buka bajumu atau kau mau aku sendiri yang harus membukanya? "Sorot mata pria itu tampak begitu serius menunjukkan bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya, sedangkan Minseok sendiri hanya bisa balik menatap pria itu dengan tubuh membeku, terpaku di tengah ruangan.
" Kau terlalu lama." ujar Luhan sambil menarik lepas jas yang menutupi kemeja putih gadis itu yang sedikit robek, hasil kerja pembunuh berantai gila yang berdarah dingin itu. Dia melempar jas itu sembarangan dan mendorong Minseok lagi ke atas sofa.
" Kau mau mati kehabisan darah, ya? Kapan sifat keras kepalamu itu akan hilang, hah? Tunggu disini sebentar. Kalau kau kabur, aku akan pastikan malam ini kau tidur di rumah sakit. "
Dengan refleks Minseok mengangguk patuh saat mendengat kata rumah sakit keluar dari mulut Luhan.
Setidaknya dia tidak perlu menginap di tempat yang berwarna putih yang berbau disinfektan itu. Luhan menghilang sesaat sebelum akhirnya kembali sambil membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil berwarna putih. Dia mengambil obat merah, cairan pembersih dan penghilang kuman, dan kain kasa dari laci meja yang terletak di sudut kamar kemudian berjongkok di depan Minseok.
" Lepaskan kemejamu." perintahnya sambil membasahi handuk kecil itu dengan air hangat dari baskom.
Minseok membuka kemejanya dengan hati-hati, sedikit meringis saat melepaskan kemeja itu dari lengannya yang terluka. Kainnya sudah melekat karena basah oleh darah, sehingga dia merasa sedikit kesulitan saat melepaskannya, ditambah lagi rasa nyeri yang berdenyut-denyut, membuat gadis itu sedikit meringis.
Dia bisa mendengar nafas Luhan yang sedikit tertahan dan mata pria itu yang menyipit marah saat akhirnya dia bisa melihat luka itu dengan jelas.Tapi anehnya pria itu tidak berkata apa-apa dan mulai membrsihkan luka di lengan Minseok dalam diam.
Keheningan yang menyusul setelah itu membuat Minseok merasa sedikit tidak nyaman. Pria itu berada terlalu dekat, bahkan Minseok bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat saat pria itu mendesah untuk membalutkan perban di lukanya.
Mendadak dia merasa kedinginan karena AC di kamar yang langsung menyentuh kulitnya yang terbuka karena saat itu dia hanya mengenakan tank top tipis, walaupun alasan sebenarnya bukan karena itu.
Ini pertamakalinya mereka dalam jarak sedekat ini tanpa saling berteriak satu sama lain dan itu benar-benar aneh. Setidaknya menurut pendapatnya pribadi. Minseok menahan nafasnya saat menyadari bahwa dia tidak bisa melepaskan tatapannya dari wajah pria itu. Kenyataan bahwa suaminya itu tampan memang sudah tidak perlu diragukan lagi, tapi ada hal lain.
Seolah dia sudah mengenal pria ini sebelumnya. Dan... pria ini nyaris membuatnya tidak berkedip hanya karena terlalu mengagumi apa yang terdapat di wajahnyayang tampan itu.
Luhan menyelesaikan pekerjaannya setelah mengikatkan perban tersebut dengan rapih dan saat dia mendongak, yang dia dapatkan malah wajah gadis itu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, dengan mata cokelatnya yang jelas-jelas sedang menatap wajahnya tanpa berkedip.
Dia selalu memastikan kendali dirinya terkontrol dengan baik saat dia berada di dekat gadis itu. Hal yang sulit, tapi dipermudah dengan kenyataan bahwa gadis itu tidak pernah memberi tanggapan apapun padanya.Tapi sekarang, saat gadis ini menyiratkan dengan jelas ketertarikannya, dia nyaris tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik gadis itu mendekat dan menciumnya detik itu juga.
Alih-alih melakukan itu, dia malah memiringkan wajahnya, seolah meminta izin atas hal yang sangat ingin dilakukannya.Minseok diam saja, tidak bisa bergerak dibawah tatapan mata Luhan yang hampir membekukannya. Ini bukan situasi yang biasa, dimana dia bisa balas membelalakkan matanya ke arah pria itu dan memulai adu argumen yang pada akhirnya akan selesai tanpa pemenang.
Saat ini mereka benar-benar berada di situasi yang biasa dilihatnya di drama-drama ataupun novel yg dibacanya, saat si pria meminta izin si wanita untuk mendapatkan sebuah kecupan sebelum mereka berpisah setelah berkencan seharian.Entah siapa yang memulai, detik berikutnya bibir mereka sudah saling bertaut dalam sebuah ciuman liar dan panas, seolah mereka saling lapar satu sama lain.
Ciuman Itu terasa begitu kasar dan menuntut, sekaligus hati-hati dan lembut disaat yang bersamaanMinseok merasakan tubuhnya sedikit terdorong ke sudut sofa saat ciuman mereka dengan cepat menjadi semakin intens.
Bibir Luhan melumat bibir atas dan bawahnya bergantian,mencari celah untuk masuk, sampai akhirnya Minseok membuka bibirnya sedikit, memberi izin lidah pria itu ubtuk bergerak di dalam mulutnya.
Minseok mencengkram bahu Luhan saat dia mulai kehabisan oksigen untuk bernafas, sedangkan pria itu mengerang frustasi dalam usahanya melepaskan secarik kain yang masih menutupi bagian atas tubuh Minseok dengan hati-hati agar tidak menyakiti lukanya. Saat dia berhasil, dia menyentuh punggung gadis itu dengan telapak tangannya,merasakan sensasi saat kulit mereka bersentuhan yang bahkan melebihi imajinasinya sendiri.
Minseok merasakan tubuhnya sedikit meremang, saat bibir Luhan menyentuh leher dan permukaan atas dadanya, meninggalkan jejak-jejak basah dan memerah. Tangan pria itu berada di pinggulnya, dan sesaat kemudian dia sudah berada di dalam dekapan Luhan yang membawanya naik ke atas tempat tidur dengan bibir yang sudah bergerak kembali ke atas bibir Minseok.
Percintaan mereka berlangsung cepat, liar, dan panas, begitu memuaskan untuk satu sama lain. Saat itu semua berakhir, mereka terbaring dengan tungkai kaki yg saling membelit dan selembar selimut putih yg menutupi tubuh mereka dengan acak-acakan.
Minseok mendengar nafasnya sendiri yang menderu cepat, sedangkan punggungnya menyentuh dada Luhan yang memeluknya dari belakang dengan lengan yang melingkar ringan di pinggangnya.
Semuanya terasa begitu mengejutkan untuknya, walaupun dia sama sekali tidak menyesali apa yang sudah terjadi.
Menyerahkan keperawanannya pada pria yang sudah menjadi suaminya sama sekali bukan dosa yang harus diratapi, kecuali mengingat kenyataan bahwa mereka menikah bukan dalam kondisi saling menyukai satu sama lain.
Dia sudah mengantisipasi semuanya dari awal dan tidak merasa heran saat dia menyadari bahwa dia sudah terjerat dalam pesona pria ini dan jatuh cinta mati-matian dalam waktu singkat.
Yah, ketakutan yang diutarakannya pada ibunya itu terbukti benar. Dia jatuh cinta pada pria bernama Lu Han ini walaupun tahu dengan jelas bahwa cepat atau lambat, mungkin saja mereka akan bercerai.Luhan mengeratkan pelukannya dan menghirup nafas di rambut gadis itu.
Tidak masalah apapun yang dipikirkan gadis Itu tentangnya, tapi dia tahu bahwa sudah tiba saatnya dia harus mulai memperlakukan gadis itu dengan benar, sesuai statusnya sebagai istrinya dalam beberapa hari terakhir ditambah dengan puluhan tahun ke depan yang tidak ingin dia ketahui kapan akhirnya.
Tentu saja dengan segala cara yang akan dipastikan dengan tepat bahwa gadis ini tidak akan terlepas dari genggamannya. Persetan dengan omong kosong tentang perceraian yang dulu sempat disinggungnya.
Gadis ini tidak akan kemana mana. Tidak saat Luhan juga tahu bahwa gadis ini juga memiliki perasaan yang sama dengannya tidak pedulibahwa kalimat itu tidak akan pernah terucapkan secara terang-terangan.
Yang pasti dia sudah menemukan posisinya yang tepat, satu- satunya kedudukan yang diinginkannya. Menjadi suami dan pemilik sah dari gadis yang berada dalam dekapannya ini.
" Aku sudah bisa menjawab pertanyaan Eunhyuk oppa sekarang." ujar Minseok dengan suara pelan sambil berbalik ke arah Luhan dengan wajah yang kentara sekali menahan malu.
" Mwo? " tanya Luhan sama pelannya. Jarinya sibuk memilin-milin rambut panjang gadis Itu.
" Dia bertanya tentang... bagaimana seorang Lu Han yang dingin jika berada di tempat tidur. "
" Lalu kau mau jawab apa. ?" Kali Ini ada senyum yang bermain di sudut bibirnya, membuat Minseok sedikit terpana karena pria Itu jarang sekali tersenyum kecuali untuk menggodanya.
" Kau yakin kau tidak pernah meniduri wanita lain? "Luhan terkekeh geli Dan dengan santai menggeleng.
" Ada satu alasan kenapa aku tidak pernah tertarik dengan wanita lain dan nanti kau akan tahu jika sudah tiba saatnya.Tapi... apa aku sehebat itu ?" Godanya
" Karena ini juga pertama kalinya untukku, jadi menurutku sia-sia saja kalau kau bertanya padaku, Tuan Lu." Ujar Minseok sambil memegangi selimut yang menutupi tubuhnya dan berniat bangkit berdiri sebelum Luhan menariknya sampai berbaring lagi di atas ranjang.
" Aku harus kembali ke kamarku. Kau tidak mungkin bermaksud menahanku semalaman disini, kan? " protes Minseok dengan mata menyipit kesal.
" Apa aku bilang bahwa aku sudah selesai denganmu, Nyonya Lu? Kita belum selesai sama sekali dan kalau kau mau tahu, sebagai istriku, tempatmu yang seharusnya memang disini." Ujar Luhan sebelum bibirnya menyapu permukaan bibir Minseok lagi dengan hati-hati.
Berbeda dengan percintaan mereka yang pertama, yang terkesan liar, panas, dan tergesa-gesa, kali ini Luhan melakukannya dengan pelan, lembut, nyaris memabukkan, seolah pria itu bermaksud mengambil apa yang belum sempat didapatkannya dalam ketergesaannya tadi.
Dan Minseok yakin bahwa pria itu bermaksud membunuhnya perlahan dengan setiap sentuhannya. Dan saat akhirnya mereka berhenti, Minseok menemukan kenyataan baru bahwa tiba-tiba saja pelukan Luhan menjadi tempat tidur favoritnya.
Hal yang menyenangkan sekaligus hal yang membuatnya takut setengah mati karena dia tahu bahwa itu berarti dia tidak akan bisa lepas lagi dari jeratan pria ini.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Luhan's Home, Yeoju, South Korea
08.00 AM
Minseok membuka matanya perlahan dan mengerjap. Tangannya menyentuh tempat tidur yang sudahkosong di sampingnya dan mendadak kesadarannya kembali dengan begitu cepat. Gadis itu terduduk sambil mencengkram kemeja putih yang terlihat kebesaran di tubuhnya dan mengalihkanpandangannya ke sekeliling kamar.
Ingatan tentang kejadian semalam membanjiri otaknya. Penculikan, bunyi tembakan, dan...Dia menggelengkan kepalanya, terpana sendiri dengan begitu pesatnya kemajuan dalam hubungan pernikahannya dengan Luhan.
Oh baiklah, itu tidak buruk sama sekali. Setidaknya Minseok tidak merasa menyesal melakukannya.Gadis itu mendadak menyadari rasa nyeri yang berdenyut-denyut mengerikan di lengan bagianatasnya. Cukup sakit untuk membuatnya meringis, walaupun terasa lebih lumayan dari padasemalam.
Dia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya dan sedikit menunduk, menghirup wangiyang menguar dari kemeja putih yang dipakainya.Ada campuran bau cologne dan bau tubuh pria itu disana, dan entah kenapa Minseok berpikir bahwadia sangat menyukainya.
Hal tersebut sukses membuat gadis itu memaki-maki dirinya sendiri.Apa memang semudah itu untuk jatuh cinta kepada seorang Lu Han?Minseok bangkit dari tempat tidur dan melangkah masuk ke kamarnya melalui pintu penghubung.
Diamenarik keluar celana pendek dari lemari pakaiannya dan mengenakannya dengan cepat, secepat yangbisa dilakukan tangannya yang terluka, lalu masuk ke kamar mandi untuk membasuh muka.
Dia melirikbayangannya sekilas di kaca dan langsung melotot kaget. Ada banyak bercak merah di sekelilinglehernya dan dia langsung bergidik ngeri memutar otaknya dengan cepat untuk menyembunyikan bekas itu sebelum berangkat ke Kantor nanti. Sepertinya dia memiliki blus dengan kerah tinggi yg mungkin bisa membantu, tapi tidak mungkin dia memakainya.
Akan sangat sulit mengenakan baju itu nanti, mengingat luka yang sedang dideritanya. Pakaian yang bisa dikenakannya sekarang hanyakemeja dan mustahil jika dia mengancingkannya sampai ke leher, semua orang pasti akan menatapnya dengan aneh nanti.
Aish, pria itu menyusahkanku saja, geram Minseok dalam hati.Dia memutuskan menyingkirkan pikiran itu dulu selama beberapa saat ke depan saat mendengarperutnya berbunyi minta diisi.
Gadis itu melangkah keluar kamar, pergi menuju ruang makan yang terletak di bagian utara rumah,tersambung dengan taman belakang yang menjadi latar pemandangan. Bukan sekedar taman belakang, tapi sebuah taman bunga besar yang terhubung dengan hutan pinus, tempat yang bisadigunakan jika kau menginginkan ketenangan.Langkah Minseok terhenti saat melihat bahwa ruang makan itu tidak kosong.
Ada Luhan yang sedang berdiri di depan AuthoChef, menunggu makanan yg sudah diprogramnya.Pria itu menoleh saat mendengar Minseok memasuki ruangan, kemudian tersenyum simpul.
" Kau sudah bangun? Aku kira kau akan tertidur beberapa jam lebih lama lagi." komentarnya sambilmeraih semangkuk corn soup yang masih panas dan membawanya ke meja makan.
Wangi yang keluar dari asap yang masih mengepul dari mangkuk itu menggelitik lidah Minseok untuksegera mencicipinya. Minseok berdiri salah tingkah di depan pintu dengan tangan yang memegangi tengkuknya. Entah kenapadia selalu berkeringat dingin jika berada di dekat pria itu. Tanda bahwa pria itu selalu berhasilmembuatnya gugup.
" Aku pikir kau sudah berangkat ke kantor." ujar Minseok sambil menarik kursi dan duduk di atasnya.
" Aku meliburkan diri hari ini. " jawab Luhan santai sambil memasukkan seiris croissant ke dalammulutnya dan mengunyahnya perlahan.Minseok menghentikan gerakan tangannya yg sedang memegang segelas jus jeruk di udara, batalmeminumnya begitu saja karena ucapan Luhan yang sangat mengagetkan itu
" Mwo? Kau meliburkan diri? Aku... tidak salah dengar, kan? " seru Minseok syok.
" Tidak. Mengingat hari ini kau pasti tidak mau aku larang pergi bekerja, aku memutuskan untuk ikutcampur dan menemanimu ke STA.Hari ini kita harus mewawancarai pembunuh itu, kan? "
" aku, bukan kau! " sergah Minseok
" Sama saja. Lagipula kau juga akan membutuhkan bantuanku. Kau lihat saja apa yang bisa aku lakukannanti. Dan jangan lupa, pria itu awalnya juga mengincar nyawaku jika dia berhasil membunuhmu danaku tertarik untuk mengetahui apakah ada yg menyuruhnya atau tidak."
" Tapi..."
" Anggap saja sebagai balas jasa karena aku menyelamatkan mu semalam. Bukankah posisi kita jaditerbalik? Seharusnya kau yang melindungiku, bukan sebaliknya. " ujar Luhan dengan senyumterkulum.
Pria itu meraih mangkuk corn soup tadi dan menyendoknya, meniupnya hati-hati agar supitu cukup dingin untuk dimakan.
Minseok baru akan membuka mulutnya lagi untuk mengajukan pembelaan saat Luhan tiba-tibamemasukkan sup itu dengan paksa ke dalam mulutnya, meredam protes gadis itu sesaat.
" Tanganmu sakit. Pakai baju saja sudah susah, kan? Dan pergelangan tanganmu. Aku sudahmengoleskan salep tadi pagi, mungkin memarnya akan sedikit berkurang nanti. "
Minseok melirik pergelangan tangannya dan baru menyadari bahwa ada memar biru besar disana,bekas ikatan kuat tali yang mengikatnya kemarin.
" Mmm? " gumam Luhan dengan sendok teracung lagi ke arah Minseok.
" Aku bukan anak kecil! " desis Minseok, tapi tetap membuka mulutnya untuk menerima suapan itu.
" Siapa bilang kau anak kecil? " gumam Luhan dengan senyum tersungging di bibirnya.
" Bukankah semalam kau baru saja menjadi wanita dewasa? "
" YAK!!!"
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Aish!!!! " teriak Minseok frustasi saat menyadari bahwa dia salah memasangkan kancing bajunya.Kemeja itu jadi panjang sebelah karena semua kancingnya terpasang di lubang yang salah, padahalgadis itu sudah berusaha sekuat tenaga memasangnya dengan tangannya yang berdenyut-denyutnyeri. Tangan kirinya sama payahnya karena ada memar yang cukup menyakitkan di bagian pergelangan.
" Perlu bantuan? "Minseok berbalik saat mendengar suara Luhan di belakangnya. Pria itu bersandar santai di pintudengan tangan bersedekap di depan dada.Sepertinya dia sudah cukup lama berdiri disana.
" Sejak kapan kau ada disana? Kau Ini tidak sopan sekali! Ini kamar perempuan, kau tahu tidak? "
Luhan mengedikkan bahunya tak peduli dan mulai melepaskan semua kancing kemeja Minseok sebelum memasangkannya lagi ke lubang yang tepat. Wajah gadis itu langsung memerah karena diasama sekali tidak memakai tank top sebagai dalaman, jadi Luhan bisa langsung melihat bagian atas tubuhnya yang hanya tertutup bra.
Dia sengaja memakai bra dengan pengait di bagian depan agar tidakterlalu sulit saat memakainya dan dia tidak suka jika suaminya berhasil melihat semua bagian tubuhnya sebanyak dua kali kurang dari 12 jam terakhir. Tapi raut wajah Luhan biasa saja. Pria itumemegangi bahu Minseok dengan hati-hati setelah menyelesaikan pekerjaannya.
" Kau benar-benar mempermainkan kendali diriku, kan? " gumam Luhan dengan suara yang sedikitberat.
"Asal kau tahu saja, aku sedang berpikir untuk mendorongmu ke tempat tidur lagi danmenghabiskan waktu seharian disana"Minseok melongo syok mendengar ucapan terus terang pria itu, tapi Luhan langsung melepaskannya, seolah mengaggap bahwa gadis itu benar-benar berbahaya dan dia sedang tidakpunya waktu untuk bermain-main.
" Kau mau kupanggilkan nuna untuk menyisir rambutmu? " tawar Luhan, seakan-akan dia sudah mempertimbangkan semua pekerjaan yang akan sulit dilakukan Minseok dengan tangan yang seperti itu.
" Ne? "
" Aku akan memanggilnya. Kalau sudah selesai, aku tunggu di mobil." ujar Luhan sambil mengacakrambut Minseok pelan sebelum menghilang di balik pintu kamar, meninggalkan gadis itu berdiriterpana sendirian
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
STA Building
11.00 AM
Luhan mematikan mesin mobilnya di depan gedung STA dan turun, memutar untuk membukakanpintu mobil untuk Minseok. Gadis itu beharap bahwa dia bisa menemukan satu kekurangan pria itu sekarang. Se-gentle apapun tindakan membukakan mobil untuk seorang wanita, gadis itu tidakpernah menyukainya sama sekali.Minseok mengerjap saat melihat tangan Luhan terulur ke arahnya, membantu gadis itu turun.
" Ini untuk pertama kali dan terakhirnya aku membukakan pintu mobil untukmu, eo?Hanya kebaikan hatiku melihat kau sedang terluka saja, kalau tidak aku tidak akan melakukan ini.Bukan gayaku sama sekali. " ujar pria itu tiba-tiba dengan kening berkerut, membuat jantung gadisitu mencelos.
" Mmm? " Luhan menggoyangkan tangannya yang masih terulur di depan Minseok, membuat gadisitu tersadar dari lamunannya dan menerima uluran tangan itu, yang langsung disambut Luhan dengan genggaman ringan.
Pria itu melempar kunci mobilnya ke arah penjaga pintu yang sudahmenunggu mereka di depan gedung dan menarik Minseok masuk ke dalam.Minseok melirik penampilan pria itu dari samping. Hari ini Luhan hanya mengenakan jas santai putih dan kaus dalaman berwarna senada, plus celana jins hitam dan sepatu kets putih, membuatpria itu terlihat lebih muda beberapa tahun dari umurnya.
Ditambah dengan kacamata hitam yang masih bertengger di hidung mancungnya, membuat Minseok tersadar bahwa beberapa pegawai perempuan yang berpapasan dengan mereka tidak bisa mengalihkan pandangan mereka sedikit pundari pria itu.
Gadis itu juga mendadak menyadari bahwa ini pertama kalinya mereka tampil berdua di depanumum secara terang-terangan sejak pesta pernikahan mereka beberapa hari yang lalu dan tampaknyahal ini menarik begitu banyak peminat, merujuk pada kerumunan pegawai yang berdesakan melihat mereka.
" Kau bisa berteriak menyuruh mereka kembali bekerja." bisik Minseok pelan kepada Luhan. Priaitu menoleh ke arahnya dan menyunggingkan senyum setengahnya.
" Biar saja . Jarang-jarang kan mereka melihat pemandangan gratis seperti ini." jawab pria itu enteng dan malah melingkarkan lengannya ke pinggang Minseok, membuat gadis itu sedikit terlonjakkarena perlakuan yang begitu tiba-tiba itu.
" Semuanya, bekerjalah dengan baik. " teriak Luhan sambil sedikit membungkukkan tubuhnya.
" Ye, sajangnim." sahut mereka semua serempak.
" Minseok-sshi, apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu? " salah seorang pegawai pria majuke depan dan bertanya dengan sopan ke arah Minseok yang tampak sedikit terkejut.Minseok sering melihat pria itu, tapi tidak tahu namanya .
" Ne? Ng... gwaenchana. Gwaenchana." jawab gadis itu salah tingkah, cepat-cepat menarikLuhan ke lift.
" Gosip cepat menyebar, kan? " cetus Minseok dengan wajah masam saat mereka sudah berada didalam lift.
" Aku malah heran jika ada pegawai yang masih tidak tahu tentang kejadian semalam " ujar Luhan sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Dia melirik ke arah istrinya itu sesaat dan menghela nafas.
Pria itu mengeluarkan tangannya lagi dan membetulkan letak kemeja Minseok yangsedikit melorot di bagian bahunya. Gadis itu memang suka sekali memakai kemeja yang kebesaran, tapiitu tidak membuatnya terlihat aneh. Bahkan sepertinya, bagaimanapun penampilan gadis itu,Luhan merasa dia akan menyukai nya.
" Jangan memperlakukanku seolah aku ini gadis cacat. " gerutu Minseok dengan pandangan mencela.
" Aku hanya membetulkan letak kemejamu saja. Apa kau mau memamerkan bercak-bercak merah di lehermu itu ke semua orang? " ejek Luhan, membuat gadis itu mendelik, jelas sedang berpikiruntuk menendang Luhan atau tidak.Tapi hal itu terhalang karena pintu lift berdenting membuka.
" Hei, ruang interogasi masih dua lantai lagi." protes Minseok saat Luhan menariknya keluar.
" Aku akan membawamu ke suatu tempat dulu. "
Minseok mendecak kesal. Kapan pria di sampingnya ini tidak akan berbuat seenak perutnya sendiri?Benar-benar jenis orang yang selalu mendapatkan semua keinginannya, tidak mau ditolak.
Luhan membuka salah satu pintu yang terletak di sebelah kiri dan mendorong Minseok masuk. Dahigadis itu langsung berkerut bingung saat melihat Jongdae dan Kyungsoo disana.
" Jongdae, gedung kantormu kan di sebelah"
" Suamimu menyuruhku membawakan obat untuk mengobati lukamu, makanya aku kesini. "
Jongdae berdiri dan menyodorkan sebuah tube berisi salep ke arah Minseok.
" Oleskan di lukamu, awalnya akan terasa sangat sakit, tapi setelah satu jam tidak akan apa-apa lagi.Kau bahkan akan mengira bahwa kau tidak terluka sedikitpun. Tapi bekas lukanya mungkin baru bisamenghilang setelah dua hari. "
" Ah, gomawo. " ujar Minseok dengan ekspresi penuh rasa terima kasih.
" Interogasinya sudah aku undur sampai satu jam lagi. Obati dulu lukamu, tunggu sampai rasasakitnya hilang. Nanti kalau kau sudah siap, hubungi aku. Ada urusan yang harus aku selesaikansebentar. Hmmm? " kata Luhan sambil mengacak rambut Minseok pelan.
" Kyungsoo-sshi, mohon bantuannya. "
" Ne, sajangnim. " jawab Kyungsoo sambil membungkukkan badannya sopan. Mata gadis itu sedikitmelebar saat melihat perlakuan refleks Luhan kepada sahabatnya itu.
Luhan dan Jongdae berlalu keluar ruangan dan dengan cepat Kyungsoo menarik Minseok duduk ke atassofa dan melotot ke arah gadis itu.
" Jadi, beritahu padaku apa saja yang sudah aku lewatkan dalam waktu semalam. " desak Kyungsoo tidak sabar.
Tangannya dengan cekatan membuka tutup botol tube berisi salep yg diberikan Jongdae tadi danmeletakkannya di atas meja, melakukan pekerjaan selanjutnya, membuka kemeja Minseok. Gadis itu terpekik pelan saat melihat beberapa bercak merah yang jelas-jelas adalah kiss mark. Diamembulatkan matanya dan menatap Minseok, menuntut penjelasan.Minseok mengusap tengkuknya pelan dan meringis malu.
" Kau sudah dewasa untuk menebak apa yang sudah terjadi. " jawab gadis itu tanpa berniatmemberikan penjelasan lebih jauh.Mulut Kyungsoo menganga lebar dan dia mendengus tak percaya
" Jadi... kau tidur dengannya? Baru dua hari menikah kau sudah tidur dengannya? Astaga, Lu Han benar-benar pria paling hebat di dunia! " seru Kyungsoo sambil mengacungkan tinjunya keudara.
" Hei hei, apa yang terjadi diantara kami bukan urusanmu." desis Minseok
" Tentu saja itu menjadi urusanku. Kau paling anti dengan yang namanya pernikahan dan tidak pernahterlihat dekat dengan pria manapun seumur hidupmu, tapi saat Luhan masuk ke dalam kehidupanmu, semuanya berubah drastis, kan?Seorang Kim Min Seok akhirnya menikah, terlihat sangat bahagia dengan pernikahannya, dansekarang. .. kau bahkan sudah tidur dengannya. Aish, itu bisa dimasukkan ke dalam Guinness Book ofRecord." celoteh Kyungsoo tanpa henti.
" Jadi beritahh aku, apa dia hebat? Bagaimana caranya bisa mengajakmu ke tempat tidur? Hmm?Ayolah, beritahu aku? Eo? "
" Obati saja lukaku, kau ini cerewet sekali. " bentak Minseok dengan wajah memerahKyungsoo mendecak dan membuka perban yang membalut lengan Minseok, sedikit tesentak saat melihat luka mengerikan itu dan mulai mengoleskan salep ke atasnya.
" Karena wajahmu memerah, jadi aku menarik kesimpulan bahwa dia itu hebat sekali. Ah, tapi tentusaja, itu tidak perlu diragukan lagi. Pria dengan image seperti itu tentu saja selalu sempurna dalamsegala hal. Aish, hidupmu beruntung sekali. Kapan ya aku bisa sepertimu? " desah Kyungsoo dengan pandangan yang sedikit menerawang.
" Kau sudah bertemu dengan Suho? Kalian sudah berbicara? " Minseok tersenyum saat melihat keningKyungsoo berkerut.
" Eunhyuk oppa menceritakannya padaku saat kami berdua makan malam. "
" Ani. Aku sudah ke rumahnya kemarin, tapi eomma nya bilang dia sedang pergi ke luar negeri. "jawab Kyungsoo dengan wajah kecewa.
" Kenapa tidak kau susul saja? "
" Ne? Mwo? Kau gila? Aku bukan gadis agresif seperti itu! "
" Lalu maumu apa? Ini semua kesalahanmu dan kaulah yang harus minta maaf duluan. Sudah saatnya kau bertindak sedikit... ekstrim. " Kyungsoo menatap Minseok syok. Sejak kapan sahabatnya itu memberikan nasihat berbahaya seperti Itu?
" Bergaul dengan Lu Han membuat otakmu terkontaminasi ya, Lu Min Seok. "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
STA Building
11.45 AM
Kai mencengkram erat tangan Sehun saat pria itu bemaksud turun dari mobilnya yang berhenti didepan gedung STA. Mendadak keringat dingin membanjiri punggung gadis itu, tanda bahwa diabenar-benar sedang gugup.
" Tidak bisakah kita membatalkannya saja? Aku rasa... aku tidak sanggup bertemu denganatasanmu itu. " ujar Kai dengan suara begetar.
Siang Itu mereka memang berencana untuk menemui Luhan karena kebetulan pria itu memilikiurusan pekerjaan dengan Sehun.
" Gwaenchana." ucap Sehun menenangkan sambil mengusap kepala gadis itu.Dia benar-benar bermaksud untuk menenangkan Kai karena dia sedikit cemas melihat wajah pucat gadis itu. Entah sejak kapan dia menjadi terlalu memperhatikan keadaan gadis itu.
Memastikan bahwa gadis itu merasa nyaman dan aman. Dia hanya merasa bahwa gadis itu perludilindungi dan Sehun memang sudah lama tidak memiliki seseorang yang berada di bawah tanggungjawabnya.
Seseorang yang harus dijaganya dengan baik. Hal itu terasa baru baginya, tapi jugamembuatnya sangat bersemangat untuk mencari tahu lebih jauh.
" Kita harus bicara dengan Luhan agar dia bisa membantumu dari CIA. Mmm? Hanya dia yang bisamelakukannya. Apa kau tidak sadar bahwa kau sekarang sedang diawasi oleh agen CIA? Mereka bergantian berjaga di dekat rumahmu. Aku tidak bisa mengambil resiko dan membuat merekamenangkapmu. Jadi turunlah. Kita benar-benar harus menemuinya."Kai menahan lengan Sehun lagi saat pria itu membuka pintu mobilnya.
" Boleh aku tahu kenapa kau melakukannya? " tanya Kai dengan raut wajah serius.
Dia menatap mata Sehun, memberi tanda bahwa pria itu harus menjawabnya. Jawaban pria ituakan sangat berarti. Mungkin akan mengubah banyak hal.Sehun sesaat terdiam. Matanya memandang wajah gadis di depannya dengan sedikit terpaku.
Diaselalu merasa bahwa gadis itu memiliki wajah yang unik. Terlihat dewasa sekaligus terlihat kekanakan disaat yang bersamaan. Warna kulit gadis itu sedikit lebih gelap dari pada orang Korea kebanyakan,tapi itulah yang membuatnya terlihat lebih menarik dari pada gadis-gadis lain di sekitarnya.
" Karena jika aku bisa membuatmu terlepas dari mereka, aku akan mendapat kesempatanmenahanmu disini dan aku bisa melupakan bahwa kau pernah berniat untuk mencuri penemuanku lalu... kita bisa memulai semuanya lagi dari awal. "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Masih terasa sakit? " tanya Luhan dengan tangan terbenam di saku celana jinsnya.Mata pria itu menyipit menatap Minseok, memastikan bahwa gadis itu terlihat baik-baik saja.
" Apa kau tidak mempercayaiku, Luhan-sshi? " sela Kyungsoo dengan wajah sedikit cemberut.Dia berdiri bersedekap di samping Minseok.
" Aku sudah memastikan bahwa istrimu ini dalam keadaan baik-baik saja. Dia bilang lukanya sudahtidak terasa sakit lagi, kau sudah bisa tenang sekarang. "
" Gamsahamnida. " ujar Luhan singkat.
" Berikan aku libur tiga hari dan aku akan menerima rasa terima kasihmu. " kata Kyungsoo cepat.
" Ne? "
" Dia mau mengejar Suho ke Irlandia. Memperbaiki hubungan mereka. " potong Minseok denganraut wajah senang karena berhasil membuat temannya itu malu.Sesaat kemudian dia sedikit meringis merasakan injakan Kyungsoo di kakinya.
"Aaaa, arasseo. Ambillah libur sesukamu" ujar Luhan enteng
" Kajja. Interogasinya akan segera dimulai." beritahu Luhan sambil menarik tangan Minseok lagi.
" Aish, baiklah. Lakukan saja sesuka kalian. Haaah, membuatku iri saja. Awas kalau aku berhasilmemperbaiki hubunganku dengan Suho oppa nanti, aku juga akan membuat kalian iri " desis Kyungsoo kesal.
Melihat kemesraan orang lain di saat dia sendiri sedang terombang-ambing dalam kesalahpahaman, membuat gadis itu benar-benar merasa sensitif dan ingin memukul sesuatu dengan kepalan tangannya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
" Kau sudah datang." sapa Luhan saat melihat Sehun yang sudah duduk di salah satu kursiyang menghadap ke arah kaca besar yang menampakkan pemandangan ruang interogasi di baliknya.
Sehun berdiri dan menepuk pelan punggung Luhan lalu mengalihkan pandangannya kepada Minseok yang menatapnya penuh selidik.
" Aku Sehun. Luhan bilang kau memasukkanku ke dalam daftar tersangka, ya? " ujar Sehun dengan senyum yang bermain di sudut bibirnya.
" Sepertinya kau tidak keberatan. " sahut Minseok santai.
" Tidak sama sekali. Aku juga perlu permainan yang mengasyikkan. Menjadi tersangka kedengarannyaboleh juga. "
Minseok tersenyum. Mendadak menyukai pria itu dan mengingatkan dirinya agar cepat mencoretnama pria itu dari daftar. Dia selalu mempercayai instingnya, dan sekarang dia percaya bahwa priaini tidak terlibat sama sekali.
" Luhan-ah, ini Kai. Gadis yang aku ceritakan semalam." terang Sehun sambil menunjukseorang gadis yang duduk di sampingnya tadi. Gadis bernama Kai itu berdiri dan membungkuksopan.
" Kai imnida." ujar gadis itu dengan suara pelan.
" Sehun sudah menceritakan masalahmu. Aku harap kau bisa bekerja sama dengan baik dantidak mencoba mencari celah untuk kabur ataupun berkhianat. Kalau kau mau berjanji, aku akanmemastikan kau aman tinggal di negara ini. Sehun memang mempercayaimu, tapi aku tidak semudah itu mempercayai seseorang. Jadi berhati-hatilah dengan tindakanmu. Aku tidak pernahmempercayai satupun anggota CIA. Tidak peduli jika Sehun menyukaimu sekalipun." ujarLuhan tajam.
Minseok bisa melihat dengan jelas bahwa tubuh gadis itu menegang dan ada sorot takut di matanya.
" Kau tidak perlu membuatnya takut seperti itu, Luhan " sela Sehun memperingatkan.
" Kau kan tahu bahwa apapun yang menyangkut CIA selalu berhasil membuatku kesal. Mengirimutusan mereka kesini untuk mencuri penemuanmu? Cih, benar-benar bukan tindakanberpendidikan."
" Sudahlah, kau tidak usah takut padanya. Kau sudah aman sekarang." ujar Sehun dengan nadamenenangkan seraya mengelus punggung Kai.
" Aku akan mengurus surat pengunduran dirimu sebagai agen. Aku rasa aku sudah menemukansesuatu untuk mengancam mereka.Mencuri adalah tindakan kriminal dan aku bisa menuntut mereka untuk itu. Aku rasa kita akan aman dari gangguan mereka untuk waktu yang lama. Kau mau tinggal dengan Sehun berapa lama? "tanya Luhan, sedikit merendahkan nada suaranya.
" Itu bukan urusanmu, Luhan. Dia tanggung jawabku." sergah Sehun cepat.Luhan tertawa kecil dan mengangkat bahunya tak peduli.
" Bersikaplah dengan benar kalau kau memang menyukainya. Tinggal bersama bukanlah tindakan yangbijaksana, kau tahu? "Sehun buru-buru menutup telinga Kai dengan kedua tangannya sambil mendelik kesal ke arahLuhan.
" Aaaah, kau belum memberitahunya bahwa kau menyukainya? Hahaha, kau lucu sekali. "Minseok melihat wajah Sehun berkedut, seolah sedang menimbang-nimbang apakah dia harus menghajar Luhan atau tidak.
Sedangkan Luhan sendiri terlihat sangat menikmati permainanbarunya menjahili Sehun. Tapi akhirnya pria itu mengedikkan bahunya dan membuka pintu ruanginterogasi, kemudian mengalihkan tatapannya ke arah Minseok.
" Kau mau mulai sekarang? Tahanan kita sudah datang. "
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Minseok, Luhan, Kyungsoo dan Kris duduk dalam satu barisan, menghadap ke arah kursi berantaiyang mengikat lengan dan kaki Shim Jong Hyuk yang keadaannya tampak lebih parah dari pada semalam.
Sepertinya semua orang memang takut dengan ancaman Luhan dan membiarkan pria itudikurung dalam sel tahanan tanpa diberi pengobatan apa-apa. Darah kering menempel di kemejadan celana yg dipakainya dan tampaknya hanya menunggu waktu saja sampai pria itu pingsankehabisan darah atau mungkin... mati?
" Kalau seperti itu bagaimana kau bisa membuatnya membuka mulut? " dengus Minseok.Mata pria itu bahkan tidak terbuka sama sekali, walaupun dadanya masih bergerak nauk turun,menandakan bahwa dia masih bernafas.
" Itu bahkan belum cukup untuk menebus kesalahannya." ucap Luhan sadis. Dia mengulurkansebuah serum ke arah Minseok yang balik menatapnya bingung.
" Serum kejujuran. Kau bisa bertanya apa saja padanya dan dia akan membukakan seluruhrahasianya padamu. Ciptaan Sehun. "
" Ada serum seperti itu? " cetus Kyungsoo tertarik.
" Memangnya apa yg tidak bisa ditemukan ilmuawan SRO menurutmu? " gurau Kris.
" Menurutmu apa lagi yang masih disembunyikannya? Aku merasa dia tidak bekerja sendirian. Ada yang membantunya. Kalau tidak begitu dia tidak akan bisa mengetahui seluruh kegiatanku dengan sangatjelas. Dan... dia sepertinya juga dijebak. Kita terlalu mudah menangkapnya. Apa itu tidak mengherankan? Selama ini dia tidak meninggalkan jejak sama sekali, tapi saat menculikku,gerakannya terlalu mudah dibaca. "
" Memang pada dasarnya dia saja yang bodoh. Kita tidak mengenal korban-korban sebelumnya dankita tidak tahu metode kerjanya. Tapi setelah korban kedua puluh empat, kita sudah mengetahuicara kerja pembunuh ini, tidak mengherankan kalau kita bisa menangkapnya dengan cepat. " ujar Luhan dengan raut wajah marah.
Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa pria sialan itu berhasil menculik istrinya danmeninggalkan bekas luka ditubuh gadis itu.Seharusnya pria brengsek itu bersyukur bahwa dia tidak mati di tangan Luhan. Walaupun Luhan cukup senang karena sepertinya umur pria itu tidak akan lama lagi.
" Siram dia." perintah Luhan dingin pada salah seorang staf yang berdiri di sudut.
Pria itu mengangguk dan menarik selang yang berada di ruangan itu, yang biasanya memang digunakan untuk saat-saat seperti ini. Selang itu diarahkan tepat ke wajah Jong Hyuk, tapi keadaan pria itutampak begitu parah sehingga nyaris dibutuhkan waktu satu menit untuk membangunkannya.
Jong Hyuk perlahan membuka matanya dan mengerjap ngerjap untuk membiasakan penglihatannya dengan cahaya terang ruangan.
Mata pria itu sedikit terbelalak melihat orang-orang yang duduk di hadapannya, tapi dia langsungmemperbaiki raut mukanya dan memasang wajah tanpa ekspresi.Minseok memberi tanda ke arah Kris yang langsung berdiri, memutar ke belakang Jong Hyuk danmenyuntikkan serum tadi ke lengan pria tersebut.
" Apa yg kalian suntikkan ke tubuhku? Aku perlu pengacara! Aku tidak akan mengatakan apa-apatanpa didampingi pengacaraku! "
" Tutup mulutmu sebelum aku habis kesabaran dan menembakmu, KNI mengambil alih semua kasus pembunuhan yang kau lakukan dan itu berarti kau tidak berhak didampingi pengacara sedikitpun.Hukuman untukmu sudah ditetapkan, langsung di bawah perintah presiden. Hukuman mati di ataskursi listrik. Atau... kau mau mati disalib seperti yg kau lakukan kepada gadis-gadis itu? " teriak Minseok emosi.
Tangan gadis itu terbentang di atas meja yang memisahkan mereka. Matanya terpancang tajam kearah pria itu, membuat pria itu langsung terdiam dan bergerak gelisah di kursinya.Kyungsoo menyenggol lengan Luhan dan mengedikkan dagunya ke arah Minseok.
" Sudah melihat nya seperti itu? Keren sekali, kan? "Luhan mengangguk setuju dengan mata yang terfokus ke punggung Minseok yang berdiri membelakangi mereka. Dia selalu menyukai ekspresi apapun yang dikeluarkan gadis itu dan merasa semakinketergantungan dari hari ke hari.
Gadis itu bisa terlihat begitu diam, tapi dalam waktu singkat jugabisa berubah menjadi berapi-api. Luhan merasa kelelahan sendiri saat mencoba menemukan satuhal saja yang tidak disukainya dari gadis itu.
" Siapa yang menyuruhmu? " tanya Minseok tanpa basa-basi saat melihat mata Jong Hyuk menjadi tidakfokus, tanda bahwa cairan serum itu sudah mulai bekerja.
" Lu Tae Hwa " jawab pria itu lemah, tapi berhasil membuat Luhan menegang di kursinya.
Minseok berbalik menatap Luhan, ekspresi wajahnya tidak terbaca, dan gadis itu sama sekali tidakmengatakan apa-apa. Kyungsoo dan Kris saling bertatapan, tapi tidak mengeluarkan suara untukmenyuarakan isi kepala mereka. Mereka tahu bahwa keadaan baru saja berubah menjadi begitu genting. Baik untuk Luhan maupun Minseok sendiri.Minseok menarik nafas dalam-dalam, menenangkan dirinya dan mulai berbicara dengan pria itu lagi.
" Jelaskan padaku apa saja rencana kalian. "
" Kami berada dalam satu perkumpulan agama. Disanalah kami bertemu dan menjadi dekat. Ituterjadi jauh sebelum kau membunuh ayahku. "Pria itu berbicara dalam satu nada datar yang terdengar membosankan. Jelas dia benar-benar beradadi bawah pengaruh obat sekarang.
" Kami berdua memiliki pemahaman yang sama tentang para atheis, jadi karena itu aku menjadi sangatdekat dengannya dan mempercayainya. Aku menceritakan semua rahasiaku padanya. Termasuk rencanaku untuk membunuh gadis-gadis itu. Dia membantuku menyediakan alat-alat yang akubutuhkan untuk membunuh. Hal mudah baginya karena dia adalah orang yang sangat kaya."
" Dia selalu membantuku dan aku berkata padanya jika ada yang dibutuhkannya dariku, aku akanmelakukan apa saja untuknya. Apa saja. Dia bilang dia mungkin akan membutuhkan bantuanku suatu saat nanti, jadi aku bersabar. Aku tahu bahwa dialah yang membunuh Lu In Ho.Aku termasuk orang yang berbahagia mendengar kematian pria itu. Tentu saja. Aku membenci apapunyang berkaitan dengan kematian ayahku. Dan Lu In Ho adalah donatur utama KNI tentu saja diaharus lenyap dari muka bumi."
" Akhirnya aku mendapat kesempatan membalas budi sahabatku baikku. Dia ingin akumenyingkirkanmu karena kau mengganggu jalannya untuk melenyapkan semua keturunan Lu In Ho. Tentu saja aku senang sekali. Kau memang target utamaku. Kau harus kusingkirkan. Dan dialahsumber informasiku selama Ini. Apa saja rencana kalian, sejauh apa kalian mengetahuo gerak- gerikku. Semuanya"
" Kau tahu, Minseok-sshi? Kejadian lima tahun yang lalu? "Bulu kuduk Minseok meremang saat mendengar ucapan pria itu.Lima tahun yang lalu... lima tahun yang lalu adalah kematian ayahnya .
" Ayahku membenci Lu In Ho. Awalnya ayahku memiliki bisnis. Bisnis legal. Dia adalahorang yang baik. Ayah yang baik. Tapi Lu Corporation merebut semuanya. Semua tender ayahku.Mereka merebut semuanya sampai membuat ayahku nyaris bangkrut. Dia harus berjuang lagi dari awal dan satu-satunya cara hanyalah terjun ke bisnis ilegal. Ayahku berniat balas dendam dan akumendukungnya. Saat Itu, Lu Tae Hwa sudah menjadi sahabat baikku dan dia memberikan banyakInformasi dan rencana-rencana untuk menyingkirkan pria itu. Kebetulan sekali bahwa ayahmuadalah pengawal pribadi In Ho waktu itu. Jadi saat dia berencana menangkap kami, kami sudah menyiapkan kejutan lain untuknya. Tae Hwa sudah memperingatkan kami bahwa mereka akan datang jadi kami menyambut mereka semua. Dan kau tahu? Ayahmu mati karena tembakan dari ayahku. Hahaha. Kau pasti tidak tahu halitu, kan? Anggap saja kita impas. Kau memang membunuh ayahku, tapi ayahku jugalah yang telah membunuh ayahmu. "
DOOOORR!!!
Minseok tidak tahu sejak kapan tangannya tergerak mengambil pistol yang diselipkan di saku celana nya dan sejak kapan jarinya menarik pelatuk. Dia tidak berniat membunuh pria itu. Dia hanya menambahsatu hiasan berdarah lagi di lengan pria terkutuk itu, memikirkan bahwa dia harus membuat pria itumati menderita dengan kesakitan yang tak tertahankan.
Gadis itu merasakan tubuhnya ditarik dari belakang dan pistol itu diambil dari tangannya. Dia bisamerasakan tubuhnya sendiri gemetar dan nyaris tidak bisa berdiri dengan benar. Tangannya terkepaldi samping tubuh dan matanya menangkap siluet wajah Luhan yang terlihat kabur.
" Lanjutkan interogasinya. Aku akan mengurus Minseok. " ujar pria itu dengan suara berat danlangsung memapah Minseok keluar ruangan.
Luhan baru menutup pintu saat tubuh Minseok merosot jatuh ke lantai. Wajah gadis itu terbenamdiantara lututnya dan bahunya terguncang. Untuk pertama kalinya Luhan melihat bahwa gadis itu tidak baik-baik saja.
Pertama kalinya gadis itu tidak bersikap sok kuat dan bersikeras bahwa dia tidak apa-apa. Pertama kalinya gadis itu terlihat begitu rapuh dan membutuhkan tempat bersandar.Luhan menggertakkan giginya, berdiri kaku di depan gadis itu. Dia akan memastikan bahwa pria didalam itu tidak akan hidup sampai besok pagi.
Itu sudah lumayan, karena Luhan masih berbaikhati untuk tidak menghambur masuk lagi ke dalam dan membenturkan kepala pria itu ke tembokkemudian mematahkan lehernya. Dan pria bernama Lu Tae Hwa itu, akan mendapat balasan yangserupa. Dia sudah dicoret dari daftar keluarga Lu sekarang.
Luhan menarik nafas dalam-dalam, berusaha meredakan emosinya yang memuncak. Dia akanmemiliki waktu untuk melampiaskan emosinya nanti, yang penting sekarang adalah gadis di hadapannya ini. Dia tahu betapa gadis ini sangat mencintai ayahnya dan betapa kenyataan yang barusaja diucapkan pria itu di dalam tadi mengguncang hidupnya.
Luhan berlutut di depan Minseok , menarik gadis itu perlahan ke dalam dekapannya tanpa berkataapa-apa . Tidak ada gunanya menghibur gadis itu sekarang, karena hiburan dalam bentuk apapuntidak akan membantu sama sekali.Gadis itu menangis sesenggukan dan bahunya semakin berguncang.
Sesaat isakan itu berubahmenjadi tangisan histeris dan yang bisa dilakukan Luhan hanya menggeratkan pelukannya di tubuhgadis itu, mencaci maki dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk menghentikansemua ini.
" Appa... appa!!!"
Luhan mencengkram baju Minseok saat mendengar suara serak yang dikeluarkan gadis itu darimulutnya. Dia menggigit bibirnya sendiri, berusaha menahan teriakannya atau apapun yang sangat ingin dilakukannya sekarang. Dia benar-benar ingin membunuh dua orang itu. Benar-benar inginmembuat mereka merasakan apa yang sudah dialami ayah Minseok dan ayahnya sendiri.
Luhan melepasakan rangkulannya dan memegangi bahu Minseok dengan kedua tangannya. Diamengusap air mata yang mengalir di wajah pucat gadis itu, benar-benar berusaha keras menahankakinya untuk tidak berdiri dan menghambur masuk ke dalam.
" Kau tahu? Aku sangat ingin masuk lagi ke dalam dan menghabiskan peluru pistolku untukmenembak bajingan itu. Kau pasti ingin melakukannya juga kan , Minseok-ah? Tapi kau tahu kita tidak bisa. Dan... tanganmu terlalu berharga untuk digunakan membunuh pria kotor itu.Dia tidak akan hidup lama. Tenang saja. Aku akan memastikan dia tidak akan membuka matanya lagi besok pagi. Aku tidak peduli jika itu legal ataupun tidak."
Dua bola mata cokelat gadis itu menatap Luhan dengan raut wajah polos. Dia terlihat begitu muda... dan rapuh. Dan seseorang sudah menyakiti hati gadis ini sampai tidak bisa diobati lagi.Luhan memajukan tubuhnya dan menundukkan wajahnya, berbisik ke telinga gadis itu.
" Tenanglah... ada aku. "
To be continue
