I DON'T NEED A MAN
.
.
.
.
.
KAISOO FANFICTION
.
.
.
.
.
BY KAISOOLOVERS
.
.
.
.
ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY
.
.
.
.
HAPPY READING
.
.
.
.
ENJOY
.
.
.
.
Aku mencoba memusatkan kesadaranku. Rasanya sangat berat mataku untuk terbuka. Aku memegangi kepalaku yang sedikit pusing. Seperti dihantam batu besar. Bias cahaya mulai memasuki kornea mataku. Aku mencoba membiasakannya. Mataku terus menyipit masih menolak banyaknya cahaya yang masuk.
Hal pertama yang aku lihat adalah langit-langit kamar yang sangat asing. Aku mengedarkan pandanganku. Sebuah kamar yang luas dengan gaya maskulin khas kamar seorang namja. Aku menoleh kearah kananku dan mendapati adikku tidur nyenyak disebelahku.
Aku mencoba mengerakkan tubuhku menyamping menghadap Baekhyun. Aku usap pelan kepalanya. Aku merasa bersalah kepadanya. Aku ingat jika aku telah membongkar rahasiaku sendiri kepada adikku. Mungkin ia tak akan banyak bertanya kepadaku dan itu membuat penyesalanku menjadi-jadi.
Aku bukanlah kakak yang baik untuknya. Aku tak bisa menjaganya dengan baik. Bahkan aku tak bisa melihatnya tumbuh sewaktu kecil. Aku kembali saat ia sudah mulai beranjak dewasa. Sama sekali eomma tak memberitahukan keadaanku kepadanya.
Semenjak itu aku selalu menjaga adikku. Sebagai penebus kesalahan karena telah meninggalkannya bersama eomma. Baekhyun sangat menyayangiku. Mengetahui ia punya saudara ia langsung bahagia dan menempel kepadaku. Bukannya marah tapi aku malah senang. Aku sempat berfikir Baekhyun akan menjauhiku bahkan membenciku.
Aku memeluk tubuh Baekhyun. Berdua dengannya sudah membuatku tenang. Aku tak ingin yang lain. Yang aku butuhkan saat ini hanya menjalani hidupku berdua dengan adikku. Aku tak perlu perlindungan. Tak perlu belas kasihan. Aku hanya butuh adikku. Dia sudah lebih dari cukup. Aku bisa melindunginya dengan caraku.
"Eonnie"
Aku menatap Baekhyun yang sedang mengucek matanya. Suaranya parau khas orang yang baru saja bangun tidur. Aku tersenyum saat matanya memandangku. Baekhyun membalas senyumku.
"Eonnie merasa baikan?" tanya Baekhyun.
"Selalu baik jika kau menemaniku" balasku.
"Apa eonnie mau pulang?"
Aku baru tersadar jika ini bukanlah kamarku. Aku melupakannya. Aku mengangguk. Baekhyun membantuku berdiri. Tubuhku masih merasa lemas. Baekhyun menuntunku menuju pintu. Kami berdua terkejut saat pintu dibuka terlebih dahulu. Mrs. Lee juga terkejut melihat kami yang berada dibelakang pintu.
"Kalian mau pulang?" tanya Mrs. Lee.
"Ne. Kami lebih nyaman dirumah sendiri, ahjumma" jawab Baekhyun.
"Aku akan mengantar kalian"
Mrs. Lee ikut menuntunku. Chanyeol yang menatapku dari luar kamar hanya tersenyum. Tapi senyumannya seakan dipaksakan. Tak sehangat biasanya. Aku melirik kearah namja yang berada disebelah Chanyeol. Semenjak pintu kamar dibuka ia sama sekali tak melihat kearahku. Dan itu sedikit membuatku bingung.
Jongin langsung menghilang saat aku keluar kamar. Aku tak peduli dengannya. Chanyeol ikut mengantarkan kami hingga berada didepan rumah. Sejenak aku menerka-nerka. Kamar siapa yang aku tempati dan rumah siapa yang aku kunjungi. Sebenarnya aku sudah memiliki satu kesimpulan. Dan aku tak mau mengatakannya.
Baekhyun dan aku sudah masuk didalam mobil Mrs. Lee. Aku melihatnya sedang mengobrol dengan Chanyeol.
"Terima kasih dokter Park. Saya sangat berterima kasih karena anda sudah memanggil saya kesini"
"Tak masalah dokter Lee. Saya sangat senang bisa langsung bertemu dengan sunbae hebat seperti anda"
Mrs. Lee langsung masuk kedalam mobil dibelakang kemudi. Sedangkan Chanyeol mendekati kursi penunpang dibagian sebelah pengemudi dimana Baekhyun duduk.
"Maafkan aku karena pertemuan kita jadi seperti ini, Baekhyun-ah. Aku harap kita bisa makan malam dengan benar kedepannya"
Baekhyun memalingkan mukanya. Aku tersenyum kecil. Sepertinya tingkat kebencian Baekhyun terhadap Chanyeol semakin tinggi.
"Istirahat yang cukup, Kyungsoo-ah. Aku mewakili temanku mengucapkan maaf karena mengganggu malam kalian dan membuat kekacauan"
"Tak apa, Chanyeol-ssi. Terima kasih sudah membantuku" sahutku pelan.
Chanyeol berjalan mundur memberikan akses mobil kami untuk pergi. Chanyeol melambaikan tangan kearah kami. Aku sedikit membungkuk dan tersenyum. Sedangkan Baekhyun langsung menaikkan kaca jendelanya tanpa mau menoleh kearah Chanyeol.
"Maaf merepotkanmu lagi, Mrs. Lee" kataku penuh sesal.
Mrs. Lee melirik dari spionnya untuk melihatku. Aku mengamati bagaimana raut mukanya dan dia tersenyum.
"Jangan sungkan, sayang. Kau ingat? Kau dan Baekhyun sudah seperti anakku" balasnya lembut.
"Dan membuat anak ahjumma cemburu? Aku tak ingin dia membenciku" sahut Baekhyun bercanda.
Kami tertawa. Anak Mrs. Lee memang sangat mencemburui kami terutama Baekhyun. Mereka seumuran. Dan mereka selalu bersaing. Lebih tepatnya anak Mrs. Lee yang menganggap Baekhyun pesaing.
--:--
Chanyeol memasuki ruang kerja Jongin. Disana Jongin duduk dikursi kebesarannya yang dihadapkan kearah jendela besar yang mengahadap langsung kearah taman. Chanyeol duduk disofa ruangan itu.
"Kau yakin?" tanya Chanyeol ambigu.
"Itu keputusanku" sahut Jongin tenang.
"Kau tak lagi peduli?"
"Buat apa aku peduli?"
Jongin memutar kursinya hingga memghadap kearah sofa. Chanyeol menghela nafasnya.
"Kau tau ini bukan sebuah permainan untuk menyenangkan dirimu, dude. Berhenti main-main dengan hidup seseorang" tegas Chanyeol.
"Ini hidupku, Park. Terserah aku ingin berbuat seperti apa" balas Jongin ketus.
"Kau melewati batas! Hidup seseorang tak bisa seenaknya kau permainkan!" teriak Chanyeol marah.
Chanyeol berdiri memghadap Jongin dengan tangan terkepal. Chanyeol berharap Jongin akan berubah. Bukan bersikap bajingan seperti ini.
"Kau dan segala sikap arogansimu akan menghancurkan segalanya. Aku sangat menantikan hari itu!" geram Chanyeol.
Chanyeol meninggalkan Jongin. Keputusan yang Jongin ambil membuat Chanyeol resah. Ia tak ingin orang sebaik Kyungsoo disakiti Jongin.
Jongin duduk termenung. Ia sudah memikirkan segalanya. Resiko yang akan dia dapat nantinya juga sudah ia perhitungkan. Untuk sekarang ia lebih memilih untuk mengalah dan menunggu kesempatan datang.
Pintu ruang kerja Jongin diketuk. Jongin mendongakkan kepalanya melihat siapa yang masuk. Anak buah kepercayaannya datang dengan menenteng sebuah amplop coklat.
"Kau mendapatkannya?"
"Ne. Semua data ada didalam amplop ini"
Anak buah Jongin menyerahkan amplop itu dan langsung dibaca oleh Jongin. Jongin meneliti setiap detail info dalam berkas itu. Ia tampak berfikir.
"Apa perlu saya ambil tindakan?" tanya anak buah Jongin.
"Tak usah. Sementara kau awasi dulu. Aku tak ingin membuat gerakan yang tiba-tiba" balas Jongin.
"Kau awasi juga Kyungsoo. Laporkan semua aktivitasnya kepadaku"
"Baik, bos"
Anak buah Jongin meninggalkan ruang kerja Jongin. Jongin membereskan berkas itu dan menyimpannya. Saat ini ia harus tenang. Ia tak boleh gegabah.
--:--
Kyungsoo diberikan waktu istirahat selama tiga hari oleh bosnya. Ia tak boleh banyak stress dan istirahat total dirumah. Baekhyun senantiasa merawat kakaknya. Dan kejadian beberapa hari yang lalu tak pernah dibahas lagi oleh keduanya.
Saat Baekhyun sekolah, Mrs. Lee akan datang dan melakukan konsultasi dengan Kyungsoo. Kyungsoo awalnya menolak saran Mrs. Lee yang akan membuka lagi sesi konsultasi mereka. Tapi Mrs. Lee bersikeras agar Kyungsoo bisa kembali lagi ke kehidupan normalnya tanpa ada bayang-bayang masa lalunya.
Setelah berdebat cukup lama akhirnya Kyungsoo mau dan memulai lagi konsultasinya. Dan sekarang Kyungsoo sudah bisa kembali ke kantor menyelesaikan kerjaannya.
"Bujangnim! Aku sangat khawatir" rengek Minji sambil memeluk Kyungsoo yang baru saja datang.
"Kau manja sekali" balas Kyungsoo dengan mengusap punggung Minji.
Minji melepas pelukannya.
"Sebenarnya aku ingin ke apartemen bujangnim. Tapi Lee Sajangnim memberikan tugas setumpuk hingga membuatku lembur" adu Minji.
Kyungsoo terkekeh.
"Maaf karena aku ijin beberapa hari. Pasti banyak sekali yang harus kau handle" sesal Kyungsoo.
Minji menggeleng.
"Bujangnim memang butuh istirahat. Tak masalah bagi saya"
Kyungsoo tersenyum menepuk pundak Minji dan berlalu. Ia kembali ke ruangannya untuk segera bekerja. Ia mengernyit melihat sebuah kotak yang diletakkan diatas meja kerjanya. Kyungsoo mengamati seksama kotak itu.
Kyungsoo menekan interkom miliknya hingga tersambung ke Minji.
"Apakah tadi ada yang masuk keruanganku?" tanya Kyungsoo.
"Saya kurang tau, bujangnim. Sebelum anda datang saya juga baru saja datang. Apa ada yang aneh?" tanya Minji dari sebrang.
"Tidak. Terima kasih, Minji"
Kyungsoo kembali berpusat pada kotak itu. Ia mencoba membukanya. Betapa terkejutnya Kyungsoo melihat isi dalam kotak itu. Disana terdapat fotonya yang dirobek menjadi dua dengan lumuran darah didalam kotak. Kyungsoo langsung menutup kotak itu.
Kyungsoo menjauhkan dirinya dari kotak itu. Ia masih tidak percaya ada seseorang yang mengirimi kotak ancaman seperti ini. Kyungsoo menutup matanya dan mengambil nafas sedalam-dalamnya lalu menghembuskannya pelan. Ia bisa. Ia bisa menghadapi ini.
Kyungsoo mengambil kotak itu dan membuangnya ditempat sampah yang berada disudut ruangan. Mungkin hal ini akan terlewati begitu saja. Setidaknya itu harapan Kyungsoo.
Kenyataannya sudah hampir dua minggu semenjak kotak ancaman itu datang hidup Kyungsoo selalu diteror. Setiap harinya ia mendapati sebuah kotak dengan berbagai isi yang tak bisa kalian bayangkan. Kyungsoo selalu membuangnya. Ia sama sekali tak melaporkan hal ini pada siapapun. Kyungsoo tak ingin hal ini sampai menjadi kasak kusuk dikantor.
Selama dua minggu juga Kyungsoo tak pernah sekalipun melihat pengganggunya. Kyungsoo bersyukur akan hal itu. Setidaknya ia tak akan mengalami kekambuhan karena seseorang.
Kyungsoo menghela nafas lelah. Untuk keempat kalinya ia diteror orang melalui telepon. Selain teror kiriman yang masih berlangsung, Kyungsoo beberapa hari ini selalu diteror melalui telepon. Ponselnya akan terus berdering memunculkan nomer tak dikenal. Setiap kali Kyungsoo angkat, akan ada suara serak disebrang sana yang mengatakan 'Kill you' berulang kali.
Kyungsoo mematikan ponselnya. Gangguan-gangguan itu akan terus berlangsung jika ia tidak mematikannya. Kyungsoo melanjutkan pekerjaannya yang tertunda hanya karena mengurusi teror-teror itu.
Sebuah ketukan pintu terdengar. Kyungsoo mendongak kearah pintu dan disana sudah berdiri seorang lelaki. Kyungsoo berdiri dan memberikan senyumannya.
"Apa yang bisa saya bantu, Jo bujangnim?" tanya Kyungsoo geli.
"Kau hanya perlu menemaniku minum teh dan berbincang. Apa aku menganggumu?" balas namja itu.
"Tidak tentu saja. Akan sangat menyenangkan bila punya teman mengobrol. Saya akan meminta Minji menyiapkan teh"
"Tidak perlu. Aku sudah memintanya" cegah Jo bujangnim.
Minji kemudian datang membawa dua cangkir teh. Ia letakkan di meja depan bosnya dan tamunya.
"Apa aku memiliki jadwal hari ini, Minji?" tanya Kyungsoo.
"Tidak ada. Bujangnim bebas mengobrol dengan bos tampan ini" kekeh Minji lalu pergi meninggalkan ruangan Kyungsoo.
Kyungsoo melirik kearah Jo bujangnim.
"Sejak kapan anda dipanggil bos tampan?" tanya Kyungsoo.
Jo bujangnim mengangkat cangkirnya dan meminum tehnya. Ia tersenyum geli mendengar nada pertanyaan Kyungsoo yang penuh selidik.
"Entah sejak kapan aku tak tau. Yang jelas setiap karyawan memanggilku begitu bila dibelakangku" sahut Jo bujangnim dan meletakkan cangkirnya kembali.
"Sejak kapan kau diteror?" tanya Jo bujangnim serius.
Tak ada lagi lontaran candaan dan senyuman manis. Hanya ada tatapan mata serius dengan aura tegang didalamnya. Jo bujangnim menatap mata Kyungsoo lurus membaca setiap detail ekspresi yang Kyungsoo hasilkan.
Kyungsoo cukup terkejut saat Jo bujangnim mengetahui dirinya diteror. Ia tak bisa menghilangkan keterkejutannya. Pandangan penuh selidik dari Jo bujangnim membuat Kyungsoo tak bisa berkutik.
Kyungsoo memutuskan kontak mata mereka. Tangannya bergerak gelisah diatas pangkuannya. Remasan-remasan kecil menambah kesan gugup Kyungsoo. Semua jelas terlihat dimata Jo bujangnim. Ia mendesah kesal.
"Kau tak perlu menyimpannya sendiri Kyungsoo. Bukan maksudku mencampuri urusanmu. Hanya saja aku peduli padamu" tutur Jo bujangnim.
"Saya mohon apa yang anda ketahui jangan sampai tersebar kemana-mana. Saya akan menyelesaikannya sendiri" ucap Kyungsoo pada akhirnya.
"Aku tau kau bisa melakukannya sendiri. Kau gadis yang paling tangguh yang pernah aku kenal. Aku hanya tak ingin adik kecilku terluka"
Kyungsoo tersenyum paksa. Ia tau jika teman sesama kepala bagian ini begitu peduli padanya. Tapi Kyungsoo selalu menegaskan kepada dirinya jika ia bisa melindungi dirinya dan adiknya. Kyungsoo hargai setiap pertolongan yang diberikan namja itu tapi prinsipnya selalu ia pegang teguh.
Jo bujangnim berdiri dan merapikan jasnya. Ia tersenyum kearah Kyungsoo.
"Aku selalu siap sedia jika kau membutuhkan bantuanku" ucap Jo bujangnim.
"Gomawoyo, oppa" balas Kyungsoo.
Jo bujangnim meninggalkan ruangan Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo masih duduk terdiam. Ia sandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Matanya terpejam. Ia mencoba merilekskan pikirannya dan tubuhnya.
Saat ia memasuki alam bawah sadarnya, Kyungsoo melihat sekilas bayangannya dimasa lalu. Bayangannya berjalan didepannya dengan sesekali menoleh kebelakang. Seakan ingin diikuti. Kyungsoo dengan ragu mengikutinya.
Terdapat sebuah pintu yang menjulang didepan Kyungsoo. Bayangannya bergerak mendekati pintu. Kyungsoo melihat bagaimana bayangannya membuka pintu itu pelan dan mengintipnya. Rasa penasaranpun muncul dibenak Kyungsoo. Ia mendekati bayangannya. Entah ada tarikan darimana, tangannya terjulur ke ganggang pintu dan digenggamnya. Kyungsoo merapatkan tubuhnya kecelah pintu yang sedikit terbuka. Tangannya gemetaran berada diganggang pintu. Agar akses penglihatannya lebih luas, Kyungsoo sedikit mendorong pintu itu. Dan betapa terkejutnya apa yang dilihatnya.
"ANDWE!!!" jerit Kyungsoo terbangun dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.
Kyungsoo mengatur nafasnya yang berantakan. Hirupan udaranya lebih sedikit dibanding helaannya. Paru-parunya seakan kosong dan butuh pasokan udara yang banyak. Kyungsoo memijit kepalanya. Entah mimpi apa itu tapi Kyungsoo yakin itu bagian dari masa lalunya. Ia tak ingin teringat lagi bila membuatnya menderita.
--:--
Jongin berjalan santai menuju ruangannya. Dibelakangnya Daehyun sibuk membaca note kecilnya dimana jadwal Jongin tercatat jelas. Daehyun terlalu sibuk dengan notenya hingga tak sadar jika bosnya sudah berhenti melangkah. Daehyun menabrak tubuh Jongin. Ia mengaduh mengusap keningnya. Merasa ada yang janggal, Daehyun mendongak melihat bosnya masih berdiri tegap. Daehyun menggeser tubuhnya hingga bisa melihat ada apa didepan Jongin.
Mulut Daehyun membentuk bulatan kecil saat tau kenapa bosnya hanya berdiam diri. Ia melirik kearah bosnya dengan wajah datarnya. Apapun yang dipikirkan Jongin, Daehyun tak ingin mengetahuinya.
"Kenapa kau kemari?" tanya Jongin penuh ancaman.
Daehyun mundur satu langkah. Ia melihat bagaimana orang yang berdiri disana tersenyum genit kearah Jongin. Dikibaskannya rambut panjangnya itu hingga ingin membuat Daehyun muntah.
"Apa salah mengunjungi teman lama?" tanya gadis didepan Jongin dengan suara manjanya.
"Ayolah, Jongin. Kau terlalu kaku" lanjut gadis itu berjalan kearah Jongin dan memegang lengannya.
Jongin menarik lengannya dan berjalan menjauhi gadis itu. Gadis itu tersenyum remeh dan mengikuti Jongin hingga masuk kedalam ruangannya.
"Kau tak rindu padaku?" tanya gadis itu melangkah duduk disalah satu sofa Jongin dan mengangkat kedua kakinya diatas meja.
Jongin tak menghiraukan celotehan gadis itu dan memilih menyibukkan diri dengan kertas-kertasnya. Gadis itu tak menyerah. Ia terus berbicara tak jelas.
"Kau tau kan jika aku masih mencintaimu? Bagaimana jika kita kembali lagi?"
Gadis itu bangkit dari duduknya dan beejalan kearah Jongin. Ia putari meja kerja Jongin hingga berada disampingnya. Tangannya mulai menyentuh Jongin dari bahu hingga kesiku. Gadis itu terus mengulangi kegiatannya dengan gaya sensual. Jongin masih diam tak melakukan apapun.
Gadis itu mencondongkan tubuhnya hingga mulutnya berada didepan telinga Jongin.
"Bagaimana jika kau bermain denganku dibandingkan bermain dengan wanita kolot yang sedang kau incar?" bisik gadis itu dengan suara yang didesah-desahkan.
Tangan Jongin mengepal. Ia gebrak meja kerjanya hingga sang gadis berjingit kaget. Jongin meraih dagu gadis itu dan mencengkramnya kuat. Rintihan keluar dari mulut sang gadis tanpa dipedulikan Jongin. Jongin memandang jijik wanita didepannya. Ia muak dengan segala tingkah lakunya.
"Kau sentuh dia sedikit saja maka hidupmu akan berakhir saat itu juga" ancam Jongin.
Jongin menarik dagu wanita itu hingga berada didepan wajahnya. Segala rengekan yang keluar dari gadis itu sama sekali tak mengurungkan niat Jongin untuk melepas cengkramannya.
"Ingat kau pernah menamparnya sekali dan aku belum membalasnya. Bila sampai kau melakukannya lagi aku tak akan segan-segan membunuhmu"
Jongin melepaskan cengkramannya kasar hingga wanita itu terjatuh.
"Kau tak akan bisa melindunginya!" seru wanita itu marah.
Jongin memandangnya datar.
"Kau harusnya paham siapa aku. Aku tak perlu berkata dua kali untuk membuktikan ucapanku"
Jongin meninggalkan wanita itu.
"Aku akan menghancurkannya!" teriaknya dan menghentikan langkah Jongin.
"So...I'll kill you" ucap Jongin tanpa menoleh.
05.07.17
Huwaa...Maafkan aku ngaret banget, huhuhu. Setelah lebaran malah ga bisa ngapa2in. Sumpah ini pendek banget. Momen Kaisoo juga ga ada. Dan masalahpun dimulai.
REVIEW JUSEYO~~~~~
