BLACK INVITATION
Created by : jitan88 | 2012 – 2013 |
Disclaimer : Resident Evil character adalah milik Capcom, bisa nggak saya beli hak milik Ada Wong satu hari aja?
Semua nama tokoh dan lokasi yang tercantum tapi tidak terhubung dengan cerita RE yang sebenarnya, adalah fiktif hasil dari pemikiran penulis semata.
Rating : M (fic ini mengandung adegan kekerasan, kata-kata kasar, dan konten seksual).
Weapon's Guide (kalau nggak kebayang bentuk senjatanya) :
- Survival knife : melee, bentuknya mirip yang dipakai Leon.
- Combat knife : melee, mirip yang dipakai Chris.
- 909 : Pistol yang dipakai Jake di campaign RE 6
- Browning Hi-Power, Springfield XD(M), Beretta M9 : pistol yang kalibernya sama seperti 909 yaitu 9 mm.
- Colt M-16 (assault rifle), M4A1 Carbine : amunisi 5.56 x 45mm NATO, baik rifle atau karabin bentuknya paling mendekati ke semi-automatic rifle di campaign Chris dan Leon meski nggak 100% mirip juga. Senjata ini termasuk yang paling banyak dipakai di militer. M4 Carbine adalah versi pendek dan ringan dari M-16 rifle.
- AK-47 (Avtomat Kalashnikova 1947) : assault rifle dengan amunisi 7.62 x 39 mm, lebih mematikan dari M-16 namun bobotnya lebih berat. Senapan ini diadopsi dan digunakan banyak Negara Blok Timur semasa Perang Dingin, dan dijadikan senapan standar Uni Soviet tahun 1947.
- Heckler & Koch MP5 : adalah jenis 9mm submachine gun buatan Jerman, punya tingkat akurasi dan mobilitas yang baik untuk jarak dekat, namun tidak akurat untuk lawan dari jarak jauh.
- M67 grenade : jenis granat tangan, bentuknya bulat seperti bola baseball, bisa dilempar sejauh 30-35 meter, radiusnya sekitar 15 meter (fatal injury 5 meter).
.
.
.
BLACK INVITATION
CHAPTER 11 : DANGEROUS
.
.
Jake Muller berhasil menyusup dari pintu depan, satu-satunya akses masuk dan keluar yang ia ketahui dari markas Black Spider. Di depannya terdapat sebuah lorong tanpa pencahayaan sampai persimpangan di ujung jalan, tidak ditemukan kamera pengawas. Pria ini tahu di persimpangan ia akan berhadapan dengan anggota Black Spider yang menjaga pintu dan dari sanalah perburuan dimulai. Gedung tua ini sangat luas dan tidak semua ruangan pernah dijelajahi oleh Jake, dia tidak tahu dimana Sherry disekap. Satu-satunya jalan adalah mencari satu-satu, atau berharap datangnya keberuntungan menemukan ruang kontrol CCTV untuk melihat semua lokasi yang terekam kamera.
Dengan sedikit mengendap ia melangkah mendekati persimpangan yang diterangi sebuah lampu, dari pantulan kaca di pintu Jake dapat melihat satu orang penjaga mengenakan penutup kepala hitamnya. Dia berjingkat dan menepi di sisi dinding, membelakangi musuh. Pada hitungan berikutnya Jake Muller telah berdiri dan meraup kepala si jubah hitam menggunakan kedua tangan, lalu memutar tulang lehernya tanpa belas kasihan. Sebelum jasadnya terjatuh, dia menahan bobot tubuh pria itu dan menyeretnya menjauhi pintu. Tangan Jake memutar kenop pintu dengan hati-hati, memeriksa keadaan di dalam yang ternyata sepi dari penjagaan.
Ruangan itu adalah tempat dimana ia pernah dilabeli sebagai kode J-025 dan meregisterasi keanggotaannya. Kegelapan mengisi ruangan kosong, pria ini dengan tenang berjalan memasuki lorong panjang berikutnya. Bunyi derap kaki dari arah berlawanan membuatnya waspada, Jake kini telah siaga dengan 909 di tangan kanan. Sebisa mungkin ia tidak ingin menggunakan senjata tanpa peredam karena bunyi tembakan yang menggema hanya akan membuat keberadaannya diketahui. Dua pria dengan senjata api sedang bergiliran menjaga di lorong seberang yang dibatasi oleh pintu. Jake harus bersusah payah merangkak di pinggiran agar badannya tidak terlihat dari pantulan kaca yang ada di sebelah kanannya. Sampai di ujung dan merapatkan diri di sisi samping pintu, tangan kiri Jake berada pada kenop, memutarnya perlahan.
.
Pintu itu dibuka, Jake langsung menyerang pria pertama yang berada di dekat pintu dengan pukulan telak di wajah sementara tendangannya mengarah pada tempurung kaki, pria itu mengerang kesakitan. Dengan satu tangan yang masih berada di leher pria pertama, dia melakukan tendangan high kick pada pria kedua di belakangnya. Tampaknya pria kedua cukup waspada pada bentuk serangan Jake, ia sempat menepis tendangan itu dengan sebelah tangan. Tetap saja kekuatan tendangan Jake yang keras membuatnya sedikit terhuyung mundur, sedetik kemudian tangan si jubah hitam meraih pistol dari holsternya. Dia mulai membidik.
Dengan gerakan kilat Jake menyeret pria pertama hingga berada persis di hadapannya sehingga peluru dari tembakan pria kedua menghujani badan rekannya sendiri. Jake menggunakan pria itu sebagai perisai hidup, kemudian mendorong tubuh yang sudah tak bernyawa itu hingga menabrak si penembak. Kewalahan menahan bobot tubuh rekannya, Jake tidak menyia-nyiakan kesempatan emas. Ditepisnya pistol berjenis Beretta M9 dari tangan pria kedua, lalu dengan pukulan bertubi-tubi ke beberapa bagian vital pada tubuh… Tubuh si jubah hitam terpental pada dinding sebelum kembali dihantam oleh tendangan Jake. Ia menghabisi nyawa si pria kedua, dari dinding tubuh itu merosot hingga berbenturan dengan lantai.
Pria ini tersenyum setelah menemukan senjata dari pria yang baru saja dia bunuh, dia melepas ujung silencer pada kaliber Beretta M9 lalu dipasang pada 909 miliknya. Dengan peredam suara kini ia bisa menembakkan 909 tanpa ragu.
"Nah-nah… Dimana tempat mereka menyembunyikanmu, Sherry?" gumamnya ketika menengok ke tikungan lorong yang remang-remang dan tampak sama dengan lorong sebelumnya, "Sial. Ruangan disini benar-benar seperti maze."
.
.
.
"Apa yang sedang kau lakukan, Leon?"
Pertanyaan itu membuka keheningan setelah beberapa saat yang lalu agen D.S.O dan partner F.O.S-nya ini tidak saling bicara. Mungkin Hunnigan sedang mencari-cari pembicaraan ketika ia harus tetap terjaga padahal waktu telah menunjukkan hampir pukul dua dini hari. Wanita berkacamata ini dengan setia bersedia lembur di luar misi resmi, dan ia tahu baik dirinya maupun Leon dapat dikenakan hukuman akibat melakukan penyelidikan di luar tugas official. Leon meletakkan tangannya pada wireless headset yang ia kenakan, membenarkan letak posisinya senyaman mungkin.
"Mencoba sarapan di taksi," gumamnya sambil mengunyah Snickers yang tersisa, "Teman-teman Jake di lokasi tidak akan menyediakan sarapan untukku, pastinya."
"Berada dalam misi saat waktu sarapan tiba adalah ciri khasmu, kan?" balas Hunnigan.
"Yeah memang, sejenis nasib buruk." Leon memandang keadaan sekelilingnya yang mulai memasuki daerah sepi dengan bangunan bertembok tinggi seperti kawasan industri, "Ngomong-ngomong soal misi, Hunnigan… Sepertinya sebentar lagi aku sampai."
Dia sedikit terkejut ketika supir taksi tiba-tiba menginjak rem sehingga mobil itu berhenti di tengah jalan. Supir taksi ini menolak membawanya lebih ke dalam seperti yang dilakukan taksi Jake, dia hanya bisa mengantar agen Amerika ini sampai daerah depan dimana dari GPS letak lokasi Black Spider masih cukup jauh ke dalam. Sama seperti halnya Jake, si supir menanyakan apakah pria asing ini salah alamat. Leon tidak punya pilihan lain, ia terpaksa turun dan memberikan uang pada supir taksi. Uang itu tentu saja berupa dollar Amerika, pria berusia tiga puluh enam tahun ini bahkan tidak sempat menukar uang di bandara. Si pemilik taksi menggerutu dengan bahasa lokal ketika menerima lembaran uang asing.
"Itu dollar, maaf aku lupa menukar uang. Ambil saja kembaliannya." ucap Leon seraya membuka pintu taksi, "Have a nice day, Sir."
.
Leon menggantungkan tas ranselnya pada pundak ketika berjalan sambil menghabiskan kopi instan kalengan yang menjadi sarapan pertamanya di Amozi. Pria ini berjalan mengikuti sebuah tanda dari GPS ponsel, memasuki sebuah kawasan penuh dengan pabrik-pabrik yang sebagian besar telah berupa puing. Beberapa diantara gedung itu masih bisa digunakan, hal itu terlihat dari rantai dan gembok-gembok besar yang mengunci gerbang depan, Leon menebak bangunan itu dipakai sebagai gudang penyimpanan. Sesekali langkah kakinya menimbulkan bunyi dari gesekan alas sepatu dan kerikil aspal jalanan. Agen senior D.S.O ini masih mengikuti arah dari GPS sambil mencari-cari petunjuk yang ditinggalkan Jake. Matanya sibuk memperhatikan suasana sekitar yang sunyi dan terasa mencekam.
"Lokasi disini cocok sebagai lokasi film horror…" gumamnya pada diri sendiri yang tentunya terdengar oleh Hunnigan yang terus tersambung melalui alat komunikasi.
"Kau merasa tegang atau takut?" komentar Hunnigan.
Leon berpikir sebentar, setelah apa yang dialaminya selama berhadapan dengan bio terorisme, semua lokasi berbahaya, menyeramkan, dan membekas di ingatannya. Namun tidak dapat dipungkiri, pengalaman pertamanya sebagai polisi rookie di Racoon City adalah kondisi paling menyeramkan yang tidak pernah bisa ia lupakan, juga yang paling sering menghantuinya lewat mimpi. Pria ini menghela napas ketika membiarkan otaknya sedikit mengingat-ingat peristiwa naas tahun 1998 yang membuatnya pertama kali melihat B.O.W, bergabung dengan agen keamanan Amerika, sekaligus memulai perannya sebagai orang tua asuh Sherry Birkin.
"Umm… Rasanya seperti berada di depan rumah pacar dan sebentar lagi akan bertemu orang tuanya yang galak?"canda Leon untuk mencairkan suasana.
.
Dia mendekati sebuah bangunan luas yang terletak di bagian dalam kawasan itu, menyerupai gudang berukuran besar dengan gerbang berwarna hijau tua yang terbuka. Cat dindingnya telah mengelupas bekas terbakar, seng bangunan warna hitam berkarat menambah kesan berat dan mencekam. Intuisinya berkata disanalah tempat yang harus ia tuju, sesuai dengan arah posisi terakhir Jake yang ditandai di GPS. Dia tidak menyadari keberadaannya terlihat oleh sebuah kamera tersembunyi yang tersambung dengan monitor CCTV Black Spider. Setelah berjalan beberapa langkah ke depan, Leon akhirnya melihat petunjuk yang ditinggalkan Jake. Papan using bertuliskan 'WELCOME' yang ditancapkan oleh sebilah pisau. Dengan sedikit kekuatan ia menarik survival knife yang terpatri di gerbang depan hijau tua itu, lalu memperhatikan detil pisau yang mirip dengan miliknya.
"Jake meninggalkan hadiah yang cukup bagus," komentarnya sambil menggenggam pisau itu, "Hunnigan, aku sudah menemukan lokasi Jake. Kuharap di dalam ada tempat penitipan tas atau semacamnya... Sial, ternyata barang bawaanku cukup mengganggu."
Akhirnya Leon memutuskan menaruh tasnya di luar gerbang, dia hanya membawa beberapa perlengkapan penting lalu meninggalkan tas beserta sisa barangnya di sebuah tumpukan tong air kosong yang tidak terpakai lagi. Dia masih bersiap-siap ketika Hunnigan memberikan pengarahan seperti yang biasa dilakukannya dalam misi resmi. Sesekali pria ini menganggukkan kepala meskipun Hunnigan tidak bisa melihat gesturnya.
"Jika keadaan di dalam memburuk atau tercium sesuatu mengenai B.O.W, segera informasikan kepadaku. Aku akan minta tolong pada kedutaan besar Amerika Serikat di Amozi untuk mengirimkan bantuan." kata wanita itu dengan suara lugas, "Kembalilah dengan selamat, Leon."
"Roger that, Hunny… Lagipula aku sudah janji mentraktirmu makan malam," Leon menjawab dengan nada flirting seperti biasa, "Aku meninggalkan tas ranselku sebagai petunjuk apabila bantuan yang kau katakan benar-benar akan datang."
.
Setelah berkata demikian Leon menapakkan kakinya ke dalam, memasuki gerbang hijau tua dan dengan siaga ia berjalan menyusuri lorong gelap gulita. Satu-satunya cahaya yang berada di ujung ruangan langsung memperlihatkan satu sosok berpakaian jubah hitam dalam posisi telungkup. Leon mempercepat langkahnya, ia berlutut dan memeriksa nadi pria di hadapannya. Setelah menyadari tubuh itu tidak lagi bernapas, tangan agen D.S.O ini memeriksa barang-barang yang dibawa sang mayat. Tidak menemukan granat tangan maupun rompi anti peluru, setidaknya Leon menemukan sebuah senjata jenis Springfield XD(M) yang merupakan singkatan dari X-treme Duty-More. Senjata api dengan silencer dan berjumlah peluru sembilan belas butir itu pun langsung berpindah tangan.
"Well… Sudah kubilang nasibku dan senjata berjalan selaras, meski aku rindu pada Wing Shooter kesayanganku." gumamnya sambil terus memeriksa.
Dia juga menemukan sebuah kartu, seperti sebuah akses masuk ke sebuah ruangan yang dikunci menggunakan swipe card. Berpikir mungkin kartu ini akan berguna, ia mengantongi benda tersebut pada saku celananya. Selesai memeriksa jasad itu Leon segera berdiri dan melanjutkan perjalanan ke dalam ruangan yang dipisahkan oleh pintu. Ruangan gelap yang kosong membawanya pada lorong dimana ia menemukan dua orang pria yang lagi-lagi telah dijatuhkan Jake dengan hand-to-hand combat skill, sehingga tanpa kesulitan Leon menyusuri ruangan berikutnya. Belum ada satu pun tanda-tanda keberadaan musuh, meski buku-buku jari pria ini masih terasa beku ketika menggenggam pistolnya.
Ruangan minim cahaya, berbau lembab dan terasa dingin menambah suasana hening di sekitar berubah menjadi lebih mencekam. Pria ini berharap secepat mungkin menemukan Sherry dan Jake lalu keluar dari tempat yang terkesan angker dan berbahaya. Bukannya menemukan titik terang, lagi-lagi ia harus memilih tikungan yang mirip. Sebuah ruangan yang dipisahkan oleh pintu – lorong – dan tikungan, antara lorong satu dan ruangan lainnya tidak terlihat berbeda. Leon merasakan dirinya berada dalam sebuah maze berukuran besar tanpa peta atau denah. Membingungkan. Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara derap kaki, Leon segera mencari sebuah tempat gelap untuk bersembunyi.
.
.
.
Sherry Birkin berusaha berteriak tapi suaranya tertahan oleh kain yang berada di antara mulutnya, membuat semua suara berubah menjadi erangan. Kira-kira satu jam yang lalu tubuhnya yang tergantung dipindahkan pada sebuah kursi kayu. Kedua kakinya diikat pada kaki-kaki kursi, sementara tangannya pun terbelenggu di belakang punggung kursi. Setelah sempat berseteru dengan para penculiknya, Sherry lagi-lagi harus menyerah karena kekuatannya tidak sanggup melawan jumlah para pria dari Black Spider. Wanita ini mengerang, tubuhnya semakin melemah sementara staminanya ikut terkuras.
Sebelum tangannya dibelenggu, untuk kedua kalinya jarum suntik berhasil dicabut dari kulit lengan Sherry, orang-orang ini mengambil darahnya untuk sampel. Kegiatan yang menjadi makanannya sehari-hari ketika berada di perlindungan pemerintah Amerika Serikat, mereka berlomba-lomba membuat anti-G yang mengakibatkan masa kanak-kanak Sherry Birkin diisi dengan berbagai percobaan hingga ia tidak tahan lagi. Dan hal itu kembali berulang di Lanshiang dimana saat itu Jake Muller pun ikut menjadi hewan percobaan, dia muak pada penelitian. Semua orang hanya tertarik pada kekuatan yang ia miliki dari G-Virus, penyembuh.
Mereka berpikir itu adalah sebuah anugerah, tanpa pernah tahu pengorbanan apa yang harus ia jalani akibat superpower yang tidak pernah sekali pun dimintanya. Tidak jarang ketika remaja ia muak pada keadaan yang dianggapnya tidak adil. Dia ingin hidup normal. Meskipun demikian, semua ini tidak membuat Sherry menyalahkan apa yang diwariskan oleh kedua orang tuanya. Darah yang mengalir di tubuhnya adalah bukti cinta dari Arnette Birkin untuk menyelamatkan nyawanya. Dia tidak membenci darahnya, juga tidak membenci serangkaian penelitian dari tetesan darahnya demi mencari obat penawar bagi umat manusia. Satu-satunya yang ia benci adalah sifat serakah manusia yang menyalah-gunakan hasil penelitian, dan membuat keadaan bertambah buruk dengan kehadiran senjata biologis.
Salah satu anggota Black Spider masuk ke ruangan, ia mendekati Allan Groves dan mengatakan sesuatu yang membuat atasannya itu tampak tersenyum dingin dan menganggukkan kepalanya. Groves memerintahkan orang yang mengambil sampel darah Sherry untuk segera pergi.
"Bawa sampel darah itu ke tempat penyimpanan, kita akan menjualnya di market." ucapnya sambil melirik lalu pandangannya kembali pada Sherry, "Dan ada berita bagus untukmu, Nona. Sepertinya ada seseorang yang tertangkap kamera CCTV, tentunya dia datang untuk menyelamatkanmu? Duduklah dengan manis sampai kubawa mayatnya ke hadapanmu…"
Sherry terkesiap.
Apa Jake benar-benar datang menyelamatkannya?
.
Bibir Sherry berusaha mengatakan sesuatu, tapi tertahan oleh ikatan kain di mulutnya. Allan Groves sama sekali tidak peduli pada gerakan frustasi agen wanita di hadapannya, dia mengabaikan rontaan Sherry. Entah ini puntung yang ke berapa, tangan kanannya hanya peduli pada sebuah cerutu yang menyala dan jemarinya membantu menyelipkan benda tersebut ke sela-sela bibir Groves.
"Urus sebaik-baiknya tamu kehormatan kita, A-002…" katanya sambil menghirup cerutu lalu menghembuskannya, "Anak buahmu boleh menggunakan 'benda itu', atau langkah apa pun yang bisa kau gunakan. APA SAJA."
Orang yang dipanggil A-002 itu mengangguk. Setelah mengambil senjata jenis M4A1 yang menjadi versi carbine dari M-16 rifle, si jubah hitam memberi komando dan keluar dari ruangan, meninggalkan atasannya dan dua orang yang bertugas menjaga Sherry Birkin. Allan Groves kembali ke tempat duduk untuk menikmati tiap hisap dari puntung berasap itu tanpa berkomentar apa-apa. Sifat tenang dan dingin pemimpin Black Spider ini mau tidak mau membuat Sherry sedikit khawatir, insting naturalnya berkata kekuatan yang dimiliki Allan Groves benar-benar berbahaya. Dia berdoa untuk keselamatan partnernya… Jake Muller.
.
"Lari dari masalah itu tidak keren, tahu?"
.
Kalimat Jake di dermaga Canzoni Bay terlintas di kepala Sherry, membuatnya sedikit tenang. Wanita berusia dua puluh tujuh tahun ini mengulang kata-kata Jake dalam hati seperti sebuah obat penenang yang membuat pikirannya tetap berjalan logis. Dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap optimis dan waspada, percaya pada Jake Muller. Sama seperti perkataan pria itu, Sherry tidak akan lari, dia harus menghadapi masalah ini… Menyelamatkan chip data yang menjadi misi utamanya lalu menghancurkan Black Spider sampai benar-benar tuntas. Dan tentu saja, semua rencana harus dimulai dengan mencari cara melepaskan diri dari ikatan yang membelenggu tubuhnya.
.
.
.
"Makan ini, keparat!"
Dengan tubuh sedikit membungkuk yang merupakan kuda-kuda khas Jake, pria ini maju menerjang komplotan laba-laba hitam yang mengepungnya di luar ruangan dimana ia pernah bertemu Groves untuk menerima misi. Beberapa menit sebelumnya Jake mendapati ruangan itu kosong, ia berjalan mendekati meja kayu berwarna cokelat dan memeriksa berkas-berkas yang tertinggal di atas meja. Pandangannya tertuju pada sebuah map bertuliskan 'D.S.O Agent' dan di dalamnya terdapat seluruh data mengenai Sherry Birkin. Ketika pria ini membuka laci meja mantan bosnya, ia menemukan tumpukan amplop-amplop berisi uang yang tidak terhitung banyaknya. Lebih mengejutkan lagi, di antara selipan amplop itu terdapat sebuah jepretan foto amatir yang menangkap sosok Jake dan Sherry di Raito Inn.
Kedatangan anggota Black Spider terpaksa membuat Jake menghentikan langkahnya mengobrak-abrik laci meja Allan Groves. Kepalanya menunduk tepat waktu ketika rentetan peluru dari AK-47 melubangi dinding ruangan, Jake menyembunyikan tubuh di balik meja dan mengambil kesempatan untuk menembakkan 909. Baru saja menjatuhkan satu orang, terdengar suara derap kaki jubah hitam lain yang sedang berlari ke arah ruangan itu. Mengambil ancang-ancang, membungkukkan tubuh, lalu berlari menerjang lawan dari arah lorong, Jake menghancurkan barisan penyerang. Tubuhnya bergerak cepat, dengan mengandalkan dinding ia memaksa kaki kanannya bertumpu pada tembok yang solid sementara kaki kirinya menendang salah satu anggota laba-laba hingga terpental.
.
Berada dalam jarak dekat yang menyulitkan mereka menembak tanpa melukai rekan sendiri, Jake Muller memanfaatkan keadaan itu. Kepalan tinjunya menghajar satu per satu musuh yang mencoba melawan, sementara pistol 909-nya juga terus bekerja menembus tubuh si pria berjubah. Kecepatan gerakan ditambah dengan kekuatan fisik yang diwarisinya dari mendiang sang ayah menguntungkan situasi Jake dalam pertarungan. Dia juga berhasil melucuti senapan lawan dan menembak pasukan yang tersisa hingga amunisinya habis. Seseorang berhasil melukai Jake dengan pertarungan jarak dekat menggunakan melee, pria berambut kemerahan ini terhuyung memegangi perut yang nyeri karena berhasil diserang. Kondisi itu membuatnya lengah, seorang lagi mencekik leher Jake dari belakang.
Dia melihat salah satu penyerang mengarahkan pistol ke arah tubuhnya yang dikunci dari belakang, Jake Muller meraung mencoba melepaskan diri. Sebelum berhasil menarik pelatuk, kaki jenjangnya lebih dulu melucuti pistol itu dengan satu serangan kilat, Jake langsung menyikut pria yang mencekiknya menggunakan sikut kanan dan membuat kuncian pada leher terlepas. Dia membalikkan badan lalu dengan tangan kosong ia menghantam kepala itu hingga membentur tembok. Darah segar akibat benturan keluar dari mulut lawannya, Jake sama sekali tidak memperlihatkan rasa iba. Ketika 909 sudah terarah pada jantung pria itu, mendadak ia diserang dari belakang.
Dia melupakan prajurit yang ia serang sebelumnya masih bernyawa. Tubuhnya mengalami dua kali tendangan telak di perut juga lutut, dan serangan tersebut sukses membuat Jake jatuh berlutut karena kehilangan keseimbangan tubuh. Matanya menangkap senjata laras pendek yang mulai diarahkan pada kepalanya. Sial! Pria ini mengumpat dan berusaha bangkit tapi refleks tubuhnya mengisyaratkan untuk tetap merunduk. Mereka akan menembakku!
.
DORR! DORR!
Dua tembakan yang ternyata tidak terarah padanya membuat Jake otomatis mengarahkan senjata, tapi ia malah mendapati dua lawan terakhirnya sudah terjengkang. Pistolnya segera membidik satu sosok lain yang berdiri tegap di tengah lorong. Di hadapannya berdiri seorang pria dengan kemeja biru dilapis jaket kulit hitam yang senada dengan warna pakaian lain yang melekat. Rambut pirangnya masih tetap berkilau dan bermodel 'boyband' dari yang diingatnya terakhir kali saat bersama-sama bertarung melawan Ustanak. Pria bernama Leon Scott Kennedy, dengan Springfield XD(M) di tangan kanan dan sebuah benda menyerupai perisai di tangan kiri. Leon menyelamatkan nyawanya dari si jubah hitam. Keduanya saling berpandangan, Leon tersenyum kecil ketika menemukan Jake selamat.
Reuni antara Leon dan Jake di markas Black Spider.
"Kau baik-baik saja, Jake?" Leon menyapa lebih dulu sambil berjalan mendekat, "Tembakanku cukup jitu rupanya…"
.
Jake tersenyum geli melihat penampilan agen Amerika itu.
"Woah woah lihat siapa yang datang," balasnya sambil menurunkan senjata dan menunjuk perisai di tangan kiri Leon, "Captain America?"
Alis Leon terangkat ke atas seraya membuang protector yang dipegangnya dan benda itu jatuh menimpa salah satu jasad, "Perisai dari salah satu jubah hitam ini menyelamatkanku dari peluru, kiddo. Dan kenyataannya aku baru saja menyelamatkanmu dari mereka… Tidak ada ucapan terima kasih?"
"Che. Maaf mengecewakanmu, tapi aku cuma terpeleset."Jake meringis sambil berdiri dari posisi berlutut.
"Funny… Jangan sampai aku menyelamatkanmu lagi dengan alasan lantainya licin, kid." Leon mengambil senjata api yang tergeletak di lantai, memeriksa isinya.
"Uh-huh, jangan menyulitkan langkahku juga om blonde…" dengan nada sarkastik Jake menanggapi sambil mengganti satu magazine 909 yang kosong lalu mengokangnya, "Aku tidak ingin kau tiba-tiba berteriak minta tolong ketika kesulitan membunuh mereka."
.
Kedua pria ini terdiam, masing-masing sibuk melucuti semua senjata yang kemungkinan berguna. Leon mendapatkan satu set rompi anti peluru juga senjata rifle M-16 sedangkan Jake harus cukup puas dengan AK-47 dan beberapa magz peluru yang tertinggal di ruangan. Ia juga melanjutkan kegiatan memeriksa meja kerja Groves. Selesai melucuti, Jake Muller menerima sebilah pisau yang ditinggalkannya di gerbang depan dari Leon. Sedikit menyeringai mendapati senjatanya kembali tanpa setetes pun darah, ia menyimpannya ke dalam holster. Jake juga melemparkan chip data berlogo D.S.O dari saku celana pada Leon, agen senior itu lebih pantas menyimpannya. Dengan demikian Jake merasa data tersebut telah jatuh ke tangan yang tepat.
"Mendapatkan sesuatu yang menarik sebelum ini?" Tanya Jake kaku.
Leon hanya melirik sekilas, "Banyak menemui mayat dan lorong-lorong seperti maze, awalnya aku mendengar derap kaki dan berhasil sembunyi. Ketika mendengar keributan juga bunyi tembakan, kuikuti dan akhirnya bertemu denganmu. Ada tanda-tanda dimana Sherry?"
Jake menggeleng, "Nope. Gudang maze ini membuatku muak."
.
Pernyataan ironis, mengingat fakta bahwa Jake Muller pernah tergabung dan eksis di tempat ini…
.
.
Baik Jake maupun Leon kini melanjutkan perjalanan, memilih beberapa tikungan lalu menyusuri lorong yang berakhir pada sebuah jalan buntu, mereka berdua tampak heran. Jake tidak pernah mengunjungi tempat ini sebelumnya, ruangan Allan Groves adalah ruangan terjauh dan terakhir yang pernah ia pijak dari markas Black Spider. Apa mereka salah memilih tikungan? Lorong buntu tanpa satu pun sumber penerangan membuat mereka berdua menyalakan senter dan mencari-cari petunjuk tentang ruangan gelap tersebut. Selain sebuah lemari arsip dengan debu tebal, nihil.
Jake Muller telah menyerah, ia berbalik arah dan bersiap-siap mencari jalan lain ketika tangan Leon menepuk punggungnya. Jake menoleh, ia melihat Leon menunjuk sisi lemari di sebelah kanannya. Senternya mengarah pada sebuah sudut rak di lemari arsip. Mengandalkan pencahayaan minim dari senter, mereka melihat satu-satunya sisi lemari yang bersih dari debu. Meninggalkan jejak berupa bekas jemari yang terbentuk dari kikisan debu di satu sisi lemari, timbul keganjilan di mata agen senior D.S.O itu.
"Jangan-jangan ini… Pintu rahasia?" gumam Leon pelan sambil mencoba meraba sisi lemari yang bebas dari debu, mencari jalan masuk alternatif.
Tangan pria itu mencoba menggeser lemari arsip, menarik rak atau menekan buku-buku, mencari tombol dan sebagainya namun berakhir dengan kegagalan. Sampai akhirnya tanpa sengaja ia menggeser sebuah buku di lemari arsip lalu menemukan tuas kecil di baliknya, dia sempat melirik pada Jake yang berdecak kagum. Ditariknya tuas tersebut, bagaikan atraksi sulap lemari arsip itu secara otomatis bergeser ke kiri dan di baliknya terdapat sebuah celah selebar satu meter dengan tangga turun yang gelap gulita.
Berhasil menemukan letak pintu tersembunyi, Leon menjentikkan jarinya sebagai selebrasi, "Bingo!"
"Heh, ternyata tidak perlu kata sandi Open Sesame atau semacamnya?" nada sarkastik lagi-lagi meluncur dari mulut Jake untuk membalas seringai Leon.
Keduanya kini bersamaan turun sambil tetap siaga dengan senjata dan senter, menuruni satu per satu anak tangga dan berakhir di depan sebuah pintu yang terkunci. Jake mencoba membukanya dengan paksa namun pintu itu sama sekali tidak bergeming, dia kesal. Sepertinya ruangan ini cukup mencurigakan karena letaknya yang tersembunyi di balik lemari arsip, pasti Black Spider menyembunyikan sesuatu. Jake berharap menemukan petunjuk mengenai keberadaan Sherry Birkin.
Di atas kenop pintu terdapat sebuah alat yang menggunakan akses berupa kartu, dengan indikator lampu berwarna merah yang mengindikasikan bahwa pintu dalam keadaan terkunci. Leon terkesiap, ia teringat pada kartu swipe card yang didapatinya pada jasad pria pertama yang ditemukan di pintu masuk. Leon merogoh saku dan mengeluarkan kartu tersebut, menyinari benda tipis berbentuk persegi panjang dengan penerangan senter. Tidak terdapat keterangan apa pun disana, pria ini hanya berharap kartu itu bisa digunakan tanpa menggunakan nomor kombinasi.
"Kuharap ini hari keberuntunganku," katanya sambil memasukkan kartu lalu menggeseknya pada alat pendeteksi di pintu.
.
Dan indikator lampu yang berwarna merah berubah menjadi hijau.
Terbuka?!
.
Leon tidak dapat berkata apa-apa untuk menanggapi raut Jake yang tercengang karena terkejut pada keberuntungan yang dialaminya. Pria Amerika ini hanya mengangkat kedua bahunya dengan bangga, "Hari keberuntunganku? Well… Yang barusan juga bukan Abracadabra atau Open Sesame lho..."
Jake hanya mendengus geli.
Komentar sinis bernada sarkastik Jake Muller yang ditanggapi dengan candaan santai khas Leon Kennedy, sepertinya itu adalah jalan mereka dalam berkomunikasi satu sama lain. Keduanya dalam kondisi siaga penuh ketika Jake perlahan-lahan membuka pintu lalu mendorongnya ke dalam. Ruangan itu memiliki pencahayaan yang otomatis menyala ketika akses pintu terbuka. Begitu daun pintu bergeser, insting Leon berkata mereka menemukan sebuah bahaya. Dan sepertinya benar, hal ini terbukti dari aroma busuk yang berhambur keluar padahal pintu baru terbuka sekitar beberapa sentimeter. Aroma neraka- begitulah umpatan Jake dalam kondisi saat itu.
.
Bau busuk menyengat, membuat perut terasa bergolak.
Menahan rasa jijik dan mual, keduanya siap membidik begitu pintu benar-benar terbuka lebar. Dan pemandangan di dalamnya jauh lebih mencengangkan lagi. Baik Leon dan Jake hanya menatap dari luar ruangan, tidak berani mengambil satu langkah pun sebelum mengamati semuanya. Suasana bernuansa putih dengan lampu-lampu di atasnya menerangi ruangan yang tampak seperti kamar tidur. Terdapat sebuah ranjang di sisi kanan yang tersambung dengan satu set meja dan kursi. Deretan lemari berisi piala, buku-buku, juga foto kenangan terhampar di hadapan mereka. Suasana yang umum dilihat di sebuah kamar pada rumah tinggal.
Hal ini bertolak belakang dengan kehadiran sebuah jeruji hitam besar di sisi kirinya, dengan pipa besi yang pipih namun kokoh seperti jeruji penjara. Dari sanalah bau hanyir menyengat itu berasal, dimana di dalam jeruji tampak genangan darah dan tubuh seseorang dalam keadaan menganga dan tiap bagian tubuhnya tercerai berai satu sama lain. Juga tidak dapat dipastikan korban naas itu berjenis kelamin pria atau wanita. Kondisinya tidak utuh lagi, benar-benar mengenaskan.
Lebih dari itu, di samping mayat menganga itu kini bangkit dua orang – atau lebih cocok disebut 'dua sosok' yang tidak asing lagi di ingatan. Berkulit pucat dengan luka-luka busuk berwarna hijau dan keunguan, urat mencuat di seluruh bagian tubuh, juga keseluruhan bola mata berwarna putih. Bibirnya penuh dengan darah dan terdengar satu-satunya nada suara yang dapat mereka keluarkan tanpa berpikir. Erangan yang membuat bulu kuduk kedua pria ini berdiri, merinding seketika. Leon menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya, tidak salah lagi pemandangan yang sedang dilihatnya adalah salah satu produk B.O.W yang disebut infected, atau yang biasa dinamakan…
.
Zombie.
.
Lagi-lagi terdengar raungan lapar dari si mayat hidup dalam jeruji.
"Oh, son of a b*tch! What the hell is that?!" Jake tidak sanggup menahan umpatan dari mulutnya.
"Infected," gumam Leon bersamaan dengan kalimat umpatan Jake, "Sial, apa yang sebenarnya kita hadapi disini?!"
.
.
.
Bersambung
.
.
Author's Note :
Yeah Chapter sebelas selesai! Sulitnya membayangkan adegan full action dan kombinasi hand-to-hand combat Jake lalu diubah jadi tulisan, kepala saya berasap. Bisa dibayangkan & dimengerti nggak sama readers sekalian? *harap-harap cemas*
Chapter ini membahas Jake dan Leon yang berhasil masuk ke markas Black Spider, plus mereka gabung buat selametin Sherry. Hunnigan juga setia nungguin Leon padahal itu bukan misi resmi, dan panggilan Hunny yang mirip 'honey' (itu antara love-interest atau hubungan kepercayaan setelah sekian lama? Terserah pembaca melihatnya kayak apa ya, no comment dari saya xD).
Duo combo Leon-Jake kayaknya cukup kuat kalo bener ada di RE series, apalagi partner Leon hampir semuanya wanita (kecuali Krauser, jangan dihitung wanita lho!). Interaksi partneran mereka saya coba tulis kayak di atas, sindiran ala Jake ditanggapi pake candaan khas Leon dan dua-duanya serba sarkastik, secara nggak mungkin partnership mereka ala Chris-Piers. Plus no offense buat penggemar Captain America dan tamengnya, hahaha. Oh dan buat ending chapter ini, sebenarnya baru terlintas waktu ngetik… Rasanya nggak lengkap kalau nggak ada zombie / puzzle ruang rahasia seperti di game RE, jadi saya tambahin deh. :D
Balasan review chapter 10 :
RedApple790 : wah akhirnya senpai mampir juga, sibuk ya? Saya usahakan nggak akan lebih dari 15 chapter, pusing mikirnya xD. Endingnya juga saya belum kepikiran sih…
Fika : Ooh jadi searchnya langsung dari judul cerita ya, bener juga. Cuma saya suka lupa judul, kadang lanjut baca fanfic juga dibaca dulu chapter pertamanya (memastikan pernah baca apa nggak, swt.) Ini sudah update sist :D
Roquezen : Allan Groves pegang-pegang? Mumpung sist dapet tawanan cantik. Iya kalau panjang-panjang makin pusing nyusun ceritanya apalagi nggak beres-beres. :D
Foetida : FB dan twitternya Jake minta ke Leon ya, saya aja nggak punya dan nggak ngerti LOL. Ooh maunya Sherry diapa-apain ya, ehem ketauan nih Foe memikirkan sesuatu *nyengir*. Requestnya sudah saya penuhi belum nih? Semoga adegan actionnya cukup ya, master~
Zenobia : Thank you buat reviewnya! Update kilatnya nggak kilat-kilat banget, ditunggu komennya?
Saika Tsuruhime : ya ya ya let's party? *getok Tsuru-chan* Tapi thank you reviewnya. xD
Vanbrugman89 : thank you kalau Allan Groves cukup oke buat villain, artinya ini musuh nggak terlalu cupu dibandingin penjahat lain di RE. :D
Ray : Thank you gan reviewnya. Iya mau tamat tapi masih beberapa chapter lagi kok tenang, kalau nggak tamat saya juga yang pusing. Endingnya belum kepikiran tapi kalau nggak happy ending gimana? (takut ditimpuk). Hahaha makasih banget buat pujiannya gan, saya masih jauh dari kata bagus kok, banyak kekurangan sana-sini. WAH SAMA BANGET SAYA JUGA CINTA ADA WONG, tapi sepertinya susah masukin Mbak Ada disini… Saya tampung dulu idenya. Kalau buat saya Ada Wong itu spy badass yang punya rencana sendiri, dia termasuk salah satu orang yang pegang 'kunci' tentang keterkaitan bioterorisme di RE (karena lingkup pekerjaan dia luas dan berhubungan sama orang-orang penting).
Baiklah, seperti biasa saya tunggu komentarnya untuk chapter kali ini, segala bentuk review, (syukur kalo follow dan fave), atau ide, kritik, kasih SEKALI LAGI kepada tiap pembaca yang mau meluangkan waktu untuk baca dan me-review cerita ini.
Sampai jumpa di chapter berikutnya!
-jitan88-
