Phase 3

~Tutoring~


Hari ini Yuuki agak berbeda dari biasanya. Entah apa yang gadis itu pikirkan semenjak pagi. Jam tidurnya di kelas lebih banyak dan dia bersikap dingin pada teman sekelasnya pada jam pelajaran. Bel istirahat pun berbunyi. Yuuki pun keluar dan berjalan-jalan tanpa tujuan. Biasanya sih dia selalu berada di atap bersama Shouko, Keiichi, atau paling tidak berdua dengan Aoi. Tapi sepertinya saat ini ia tidak tertarik dan lebih memilih untuk sendiri.

Tanpa disadari oleh dirinya, ia sudah sampai di taman sekolah. Ia menatap sekelilingnya dengan penuh kebingungan.

'Kok bisa nyasar disini ya?' pikirnya dalam hati.

Matanya mengamati sekelilingnya. Senyum simpul ia pasangkana ketika melihat senior-seniornya yang sedang bersembunyi di balik semak-semak.

Ia pun berjalan ke sana, mendekati.

"Aku masih tak percaya kalau senpai-tachi mengintip Kei dan Shouko-chan." Yuuki sedikit bergumam lalu melirik ke sosok di sampingnya. "Terutuma kamu, Aoi-san."

Seluruh mantan peserta kompetisi musik ditambah Manami dan Nami sibuk memperhatikan kedua adik kelas mereka. Azuma tersenyum seperti biasanya. Kazuki terlihat menikmati pemandangan manis di hadapnya. Len dan Ryo, mereka terlihat bosan dan ingin sekali pergi. Sedangkan Manami, Nami, dan Kahoko terlihat sangat senang. Terutama Nami yang terus mengabadikan momen Keiichi dan Shouko.

Yuuki pun ikut bersembunyi di balik semak. Melihat adik kembarannya akan melakukan hal yang menarik mungkin akan sedikit menghiburnya.

"Aku sudah menjelaskan soal pacaran, jadi menurutmu hubungan kita namanya apa?" Keiichi mengambil roti isi di dalam kotak bekal yang ditawarkan oleh Shouko.

"H-hm, sepertinya pacaran." Shouko hanya menunduk menatap ke ujung sepatunya.

"Baguslah, lalu apa lagi?" Keiichi masih tetap menikmati roti isinya.

"Ciuman itu apa? Kemarin mereka menanyakan itu padaku. Aku merasa yang mereka pikirkan bukan seperti ciuman orang tua ke anak. A-aku benar-benar bingung." Shouko memainkan jarinya. Sambil memiringkan kepalanya saat mengingat-ngingat cara temannya bertanya kemarin.

Keiichi terdiam. Sama halnya dengan Keiichi, gerombolan orang yang mengintipi mereka ikut terdiam. Senyum Azuma semakin mengembang. Wajah Kazuki mulai memerah. Yuuki tetap datar, begitupun Aoi, Len, dan Ryo. Sisanya, mereka semakin bersemangat.

"Aku bisa mengajarkannya," Kelopak sayu Keiichi mulai terbuka. "Ciuman itu sama seperti musik."

"Eh? Mengeluarkan bunyi?" Shouko menengok ke arah Keiichi. Keiichi tertawa kecil melihat kepolosan Shouko.

Snap

"Yes, tawa langka Shimizu-kun." Nami tersenyum puas melihat hasil jepretannya.

"Ssttt, jangan berisik." Kata Kahoko.

"K-kok tertawa?" Shouko yang merasa malu langsung mengalihkan pandangannya.

"Tidak apa-apa," Keiichi berhenti tertawa dan kembali berbicara seperti biasa. "Bukan karena itu, tapi..."

"Tapi?" Shouko balik menengok Keiichi lagi.

"Kalau musik hanya mengandalkan teori, makna lagunya tidak akan sampai. Begitu kata Kaho-senpai,"

Di balik semak, Kahoko agak kaget. Ya, memang sih dia pernah berbicara seperti itu, tapi apa maksudnya dibawa-bawa saat seperti ini.

Keiichi menghela nafasnya. Ia memutar kepalanya menghadap Shouko. Matanya kini terbuka sepenuhnya.

"Kau benar-benar ingin tahu ciuman itu seperti apa?" tanya Keiichi.

Shouko mengangguk.

Keiichi tersenyum. Ia sentuh dagu Shouko, membuat gadis itu mengangkat wajahnya. Mengabaikan rona di pipi Shouko, Keiichi langsung menciumnya. Awalnya lembut, tapi lama kelamaan nafsu menggiring mereka ke ciuman yang lebih panas.

Bibir mereka berpisah. Keduanya merona dan kesulitan mengatur nafas mereka. Shouko menatap Keiichi.

"B-boleh... A-aku memintanya lagi lain kali?" dengan tatapan polos, ia bertanya.

Keiichi tersenyum.

"Tentu, tapi tidak di tempat umum seperti ini."

"Kenapa?" Shouko bingung.

"Karena aku akan kesulitan mengajarkan hal lain padamu." Keiichi memasang senyum yang berbeda dari biasanya. Dan ini, entah mengapa membuat Shouko merona semakin jadi.

Shouko mengangguk dan mengikuti Keiichi yang hendak pergi.

Yuuki orang yang paling terkejut mengenai apa yang telah di lihatnya barusan.

'Apa yang telah terjadi pada adik kembaranku? Kenapa dia jadi mesum?'

Sama halnya dengan Yuuki, Len dan Ryo mendadak pucat. Bahkan mereka yang umurnya di atas Keiichi tak pernah berani mencium pasangan mereka. Kazuki juga sama saja, ia nyaris pingsan karena melihat perilaku adik kelasnya. Azuma masih terus tersenyum. Ia sangat senang melihat, ehm, anak didiknya menggunakan ilmu yang ia berikan padanya.

"Astaga! Itu benar-benar tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Shimizu-kun ternyata pandai melakukannya!" Nami terlihat senang. Kahoko mengangguk setuju, begitu juga Manami.

"Yup, beda banget sama yang di sini." Manami melirik beberapa orang tertentu.

"Hei-hei Yuuki-chan, pasti kau yang mengajarkannya pada Shimizu-kun, kan?" Kahoko bertanya pada Yuuki yang masih syok.

"Gila." Jawab Yuuki dengan dingin lalu berdiri meninggalkan mereka semua.

Seua mata tertuju pada Aoi.

"Mungkin dia haya terlalu kaget." Jawab Aoi dengan senyumnya yang biasa.

Kazuki melirik Azuma.

"Kurasa kau terlalu berlebihan mendidiknya, Yunoki."

"Kenapa, Hihara? Kau iri?" senyum Azuma masih terpasang di wajah cantiknya.

"T-tidak, terima kasih." Kazuki langsung menjaga jaraknya dengan Azuma. Ah tidak, sekarang dia malah pergi meninggalkan mereka. Ya, Kazuki tidak mau lagi kembali ke masa lalu.

Len dan Ryo yang terus diam hanya berharap, kapan mereka bisa berhenti terjebak di antara orang-orang yang ingin ikut campur seperti mereka.


Phase 3

~Tutoring~

[COMPLETE]


A/N:

Yup, langsung dua bagian. Anggap saja ini hadiah tahun baru dari penulis yang lama update. Kalau sedikit dan gak memuaskan ya maap atuh.

Selanjutnya adalah... jengjengjeng... seseorang yang monolog di Phase 2. Siapakah dia? Siapakah dia?

Maaf kalau banyak typo dan deskripsi kissu-nya gak banget. Aku suka baca yang begitu, tapi kalau nulis sendiri aku rada-rada.

Ayo di review...