Everybody give me an attention!
When I still didn't know a thing and had no choice but to just keep moving forward (This is the story of my glory road)

Ono Kensho ZERO


Sewaktu pembagian rapot sekaligus acara temu antara wali kelas dan orang tua atau wali murid, Okaasan mengambil jatah cuti demi acara tersebut. Selama acara berlangsung, aku terus memandangi selembar kertas yang berisi nilai dari hasil ujian akhir semester yang kukerjakan. Nilai-nilaiku naik semua. Bahkan nilai pelajaran fisik yang biasanya harus ikut remedial pun jadi lebih dari nilai kkm.

Itu kali pertama aku merasakan kerja kerasku dalam belajar benar-benar terbayar.

Okaasan sempat memuji, begitu juga wali kelasku.

"Nilai Kuroko-kun meningkat, pelajaran sejarah juga berhasil mendapat nilai sempurna. Selamat, ya," kata wali kelas.

"Nilainya harus dipertahankan, Tetsu-kun," ucap Okaasan padaku.

Aku hanya mengangguk lalu tersenyum tipis.

"Telpon Otousan sana supaya tiketnya dibeli hari ini. Pertandingan finalnya 'kan besok," kata Okaasan lagi seraya memberikanku ponsel flipnya. Ia sempat mengacak rambutku pelan.

Aku menurut lalu keluar ruang kelas yang dijadikan tempat dari acara itu.

Setelah beberapa detik menunggu, sambungan pun terhubung. 'Ya? Ada apa, Yui?'

"Otousan! Ini Tetsuya!" Suara tawa menjadi sahutan darinya. "Aku berhasil! Tidak ada nilai merahnya! Pokoknya Otousan harus jadi belikan tiket nonton hari ini sebelum kehabisan!" Dengan sekali tarikan napas aku mengabari berita tersebut pada Otousan.

'Baiklah. Mudah-mudahan tidak kehabisan, ya.'

"Otousan! Pokoknya nggak boleh kehabisan! Titik!"

'Iya, Tuan Muda Tetsuya. Selamat kalau begitu.'

"Ehehehe."

Begitu mengingat kenangan itu, aku langsung menghampiri Otousan yang ada di ruang keluarga bersama Okaasan dan Obaasan. "Tumben Tetsuya keluar kamar jam segini," katanya menyapaku saat aku berdiri di ambang pintu ruang keluarga.

Aku terdiam. Baru tersadar kalau beberapa hari terakhir ini lebih memilih mendekam di kamar.

"Sini, Tetsu-kun. Duduk di samping Okaasan," ajak Okaasan sambil tersenyum senang.

Kakiku melangkah mendekatinya lalu duduk di atas karpet berbulu. Obaasan dan Otousan duduk di atas sofa, menonton TV. Okaasan terlihat sibuk menyulam. "Sudah berapa lama aku mendekam di kamar?" tanyaku bingung.

"Mm, entahlah. Yang terpenting Tetsu-kun mulai mau kumpul lagi. Iya 'kan, Bu?"

Obaasan tersenyum menanggapi pertanyaan Okaasan.

"Ada banyak hal yang kupikirkan. Maaf," kataku sedikit meringis tidak enak.

"Apa ada yang ingin Tetsuya katakan?" tanya Otousan.

Mataku memandanginya sebentar sebelum beralih ke siaran televisi yang menyiarkan program talkshow. "Aku hanya teringat waktu pertama kali menonton pertandingan basket. Otousan ingat, kan? Waktu itu Otousan yang menjanjikannya padaku," ceritaku seraya menengok lagi padanya.

Ia menggaruk kepalanya yang sudah sedikit memutih walau masih bisa tertutupi dengan rambut biru langitnya. "Oh, itu ya. Yaaa, 'kan sudah janji. Janji adalah hutang. Ingat itu baik-baik, Tetsuya. Terutama kamu itu laki-laki. Tidak boleh melanggar janji, apalagi janjinya pada perempuan," jelasnya panjang lebar, sekaligus memberikan nasihat padaku.

Aku tertawa pelan, "Iya."

"Tetsu-kun, tidak boleh pacaran dulu sekarang," tukas Okaasan.

Alisku mengkerut. "Otousan hanya menasihatiku. Aku juga belum memikirkannya."

"Bagus! Itu baru anak Okaasan!"

"Bilang saja tidak mau diduakan Tetsuya," sahut Otousan dengan nada jahil.

"Memang~" Okaasan yang duduk di samping kiriku memeluk leherku dan menempelkan pipi kami. "Okaasan masih mau memanjakanmu lebih lama lagi," katanya.

Aku tersenyum tipis. Sekali lagi aku menengok ke arah Otousan. "Otousan ingat soal pertandingannya?"

"Mm, kalau tidak salah, waktu itu kita melihat putaran final antar universitas daerah Tokyo," jawabnya dengan jari telunjuk memegang dagu. "Kalau tidak salah, Universitas Tokyo lawan Universitas Wasedai. Universitas Tokyo menang dengan selisih skor tipis di menit-menit terakhir. Kenapa memangnya?"

"Tidak, hanya ingin bertanya saja," jawabku seraya tersenyum tipis.


Ujian selesai. Rapot pun sudah dibagikan. Nilaiku di atas rata-rata semua, minus pelajaran fisik yang hampir merah. "Janji adalah hutang," kata Otousan. Hanya aku dan Otousan yang pergi ke pertandingan final itu.

~ Tetsuya's 11th Paper End ~


Terima kasih sudah meluangkan membaca fanfic ZPS! #bow \(^~^)/

Balas review : Saya baca review-review ZPS, banyak yang minta angst. Saya berusaha memahami perasaan dan karakter Tecchan demi fanfic ini. ._. Tapi saya takut, angst versi saya kurang dari ekspektasi readers. Ahaha, demo ganba desu! ^^

CHAU!