Love Trial
Kise Ryouta | Kagami Taiga | Shintaro Midorima | Aomine Daiki
Disclaimer :Kuroko no Basuke (黒子のバスケ), Tadatoshi Fujimaki
Warning! OOC, OOT, Typo everywhere, Alur berantakan, EYD kacau..
Ada unsur Shounen Ai.. Kalo ngga suka Yumi saranin jangan baca.. :3
.
.
Happy Reading.. \(^o^)/
.
.
.
Yumi masih terkejut mendengar perkataan teman masa kecilnya, Aomine. Ia bahkan sampai menepuk-nepuk keras kedua pipinya karena mendengar ucapan Aomine barusan. Aomine menghentikan kedua tangan Yumi dan mengelus-elus kedua pipi Yumi dengan tangannya yang besar dan hangat.
"Baka! Berhentilah menepuk wajahmu seperti itu. Lihatlah, itu membekas…"
"Tu-tunggu… Da-dai-chan?! Ka-kau jatuh cinta?!" Yumi tergagap.
"Ba-baka! Sudah kubilang kan, hanya sepertinya. Bukan berarti aku benar-benar jatuh cinta, kan?"
Aomine berusaha mengalihkan pandangannya dari Yumi. Ia sangat tahu Yumi, Yumi pasti akan langsung menyadari siapa orang yang disukai oleh Aomine saat ini. Tiba-tiba ia merasakan kedua tangan Yumi menyentuh kedua tangannya. Aomine menoleh kearah Yumi dan mendapati Yumi menyentuh kedua tangannya yang masih menempel dipipi Yumi.
"Yu-yumi?"
"Katakan padaku siapa orang yang kau suka?!" Yumi tampak begitu bersemangat.
"E-eh? A-apa maksudmu? Ahaha… A-aku tidak mengerti…"
"Ayolah, Ahomine… mungkin aku bisa membantumu."
Aomine terdiam, ia sangat tidak ingin memberi tahu Yumi siapa orang yang mungkin disukainya saat ini. Ia masih belum yakin dengan apa yang dirasakannya. Ia mengabaikan Yumi dan meneguk coklat hangat yang ada dihadapannya, wajahnya begitu merah karena malu.
"Ka-kagami Taiga.." jawab Aomine lirih.
"Eh?"
"Kagami Taiga! Ta-tapi aku bilang kan mungkin saja.."
Aomine mengalihkan pandangannya dari Yumi. Ia sama sekali tidak ingin menatap Yumi. Aomine merasa sangat malu saat mengatakannya, seolah jiwanya ikut terlepas saat mengucapkan nama Kagami dengan mudahnya.
"Da-daiki-chan? Ka-kau bercanda kan?" Yumi tergagap.
Aomine terlihat sedikit kesal, ia lalu melirik tajam kearah Yumi dan menggelengkan kepalanya. dari tatapan Aomine saja Yumi sudah tahu kalau Aomine sama sekali tidak bercanda padanya. Yumi benar-benar tidak tahu apa yang harus dikatakan, ia hanya bisa menggelengkan kepalanya saja.
"I-itu tidak mungkin, Dai-chan!" seru Yumi.
Langit malam yang gelam sedikit mulai sedikit berubah menjadi terang. Matahari menghapuskan gelapnya malam dan menggantikannya dengan cerahnya fajar pagi hari.
KRIIING! KRIIING! KRIIING!
Kagami yang masih mengantuk mencoba meraba-raba meja yang ada didekatnya. Ia mencari handphonenya yang berdering sangat keras itu. setelah mendapatkannya, ia menerima telpon di handphonenya itu. Kagami masih belum membuka kedua matanya.
"Hello?" Kata Kagami yang masih belum bangun sepenuhnya.
"Sepertinya kau baik-baik saja, Taiga…"
"Hmmm… Dare?"
"Kenapa kau tidak bangun sekarang dan mulai menyapaku dengan baik, Taiga?"
Kagami langsung membuka kedua matanya. Suara itu membuat Kagami tersipu hingga ia segera bangun dari tidurnya dan duduk bersila diatas kasurnya.
"R-ryouta?" Kagami tergagap.
"Yups! Bagaimana keadaanmu, Taiga? Aku sangat khawatir."
"Aku baik-baik saja…"
"Taiga, Aku senang bisa mendengar suaramu.."
"A-aku juga! Aku sangat senang karena kau yang membangunkan ku, walau lewat telpon sih.."
"Hahaha… Hmmm... Taiga, gomen nee…"
"Eh? Kenapa kau minta maaf?"
"…"
Namun Kise hanya terdiam. Ia tidak menjawab pertanyaan Kagami sama sekali, keheningan terasa diantara mereka berdua. Selama beberapa saat Kagami memandangi sekelilingnya, kini ia sudah ada dikamarnya sendirian. Ya sendirian, bahkan ia tidak melihat Kuroko berada disekitarnya.
"Ryouta... ada apa?" Kagami mulai merasa aneh dengan keheningan diantara mereka.
"Iie.. nandemonai. Hmm, jaa nee.."
"Ryouta tung… gu.."
Kagami menatap layar handphonenya. Kise telah mengakhiri telponnya. Kagami sungguh tidak mengerti dengan apa yang terjadi belakangan ini. Ia selalu mendapat banyak masalah dengan laki-laki yang ada disekolah barunya itu.
"Kenapa aku ada dikamarku? Apa Midorima sengaja membawaku kesini? Lalu dimana dia?" Batin Kagami.
"Haah! Mana lagi tuh Si Kuroko?!"
Kagami mengacak-acak rambutnya yang sudah berantakan. Ia terlalu stress untuk memikirkan banyak hal di pagi hari. Ia langsung melangkah turun dari kasurnya, ia melihat sebuah kertas tergeletak dimeja belajarnya.
"Kagami-kun, Maaf Aku akan pergi mencari Yumi. Aku akan sedikit terlambat, berangkatlah duluan. Kuroko."
Setelah membaca tulisan dikertas itu, Kagami langsung berjalan ke kamar mandi. Ia langsung membasuh wajahnya dan menatap bayangan wajahnya yang basah dicermin. Ia menatap tajam dirinya sendiri lalu berguman pelan.
"Andai kau ada disini, Kak.. Aku pasti tidak akan kebingungan seperti ini.."
"Takao, apa semua sudah siap?"
"Iya, Tuan. Tapi apakah mengadakan rapat umum mendadak seperti ini akan menimbulkan banyak masalah?"
"Sudahlah, Takao. Jika kau tidak ingin aku mengadakan rapat umum, sebaiknya panggil ketiga orang itu ke ruang OSIS segera. Dan jangan lupa panggil Kagami juga."
Midorima tampak sibuk merapikan seragamnya didepan sebuah cermin besar dikamarnya. Ia tampak lebih tegas dan keras dari biasanya. Sepertinya ia benar-benar tidak bisa menerima apa yang dilakukan oleh Aomine dan juga Kise pada Kagami-nya(?).
"Tapi, Tuan. Jika anda menghukum Aomine-sama lagi, bagaimana ia bisa menjalani proses belajar disekolah? Ia pasti akan ketinggalan banyak sekali materi pelajaran."
"Kalau begitu jangan skors Aomine. Ayolah Takao, kita bisa terlambat menjemput Kagami jika kita masih membahas masalah itu. Kau pikirkan saja hukuman yang pantas untuk mereka berdua, sekarang kita harus menjemput Kagami!"
"Ba-baik, Tuan."
Midorima dan Takao berjalan keluar dari kamar asrama Midorima. Saat ia berjalan banyak sekali orang yang memandangnya. Banyak gadis pula yang berusaha merebut perhatiannya, namun Midorima hanya mengacuhkan orang-orang itu. Ia sangat tidak peduli dengan orang lain, gadis lain atau siapapun keculai Kagami Taiga.
Kejadian semalam cukup untuk membuat Midorima tidak bisa tidur. Ia masih memikirkan apa yang telah dilakukan oleh Kise pada Kagami-nya(?). Laki-laki berambut kuning itu telah berani-beraninya mencium Kagami tanpa izin Midorima.
Wajah kesal Midorima tampak semakin seram saja pagi ini, ditambah kantung mata Midorima yang tampak jelas dari balik kacamatanya. Midorima terus berjalan menuju asrama Kagami. Ia sudah jarang mengendarai mobilnya jika hanya untuk menjemput Kagami. Ia ingat bagaimana Kagami memarahinya karena ia menjemputnya menggunakan mobil.
"Tu-tuan anda baik-baik saja?" Takao tampak sangat khawatir.
"Ya, aku baik-baik saja. Bahkan aku merasa sangat baik!"
Wajah Midorima terlihat lebih seram saat mengatakannya.
Kagami sudah merapikan pakaiannya. Ia menatap bayangannya dicermin, ia merasa sudah cukup rapi untuk saat ini.
TOK! TOK! TOK!
Tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang mengetuk pintu kamar asramanya.
"Mu-mungkin itu Kise? Atau mungkin Midorima?" pikir Kagami.
Kagami berjalan mendekati pintu kamar asramanya, ia terlihat sedikit kesal namun juga sedikit senang. Kagami segera membuka pintu kamar asramanya, ia sedikit terkejut mendapati orang yang tengah berdiri dihadapannya saat ini, dia bukanlah Kise ataupun Midorima!
"A-aomine-kun?!" Kagami sedikit berteriak.
"Yo! Hoahem.. Bolehkan aku masuk? Aku mau mandi sebentar.."
Aomine berjalan masuk kedalam kamar Kagami. Kagami bahkan belum memberikan izinnya pada Aomine untuk masuk kedalam kamarnya. Tapi Aomine sudah berjalan masuk dan juga sudah mulai menggunakan kamar mandi Kagami seenaknya.
"Aomine-kun! Kenapa kau seenaknya masuk kamar orang lain tanpa izin?!"
Kagami terlihat begiu marah dengan wajah memerah, ia berteriak didepan pintu kamar mandinya. Tentu saja itu karena Aomine sedang berada didalam sana.
"Ayolah Kagami.. sebelum kau tinggal dikamar ini, Akulah yang tinggal dikamar ini.."
Dari luar kamar mandi Kagami dapat mendengar dengan jelas suara gemericik air yang digunakan oleh Aomine untuk mandi. Kagami juga dapat melihat dengan jelas siluet tubuh atletis nan eksotis milik Aomine, wajah Kagamipun semakin memerah karenannya.
"Ta-tapi.."
SRAAAAKK!
Belum sempat Kagami menyelesaikan perkataannnya, Aomine sudah membuka pintu kamar mandinya. Ia sama sekali tidak menggunakan selembar kainpun ditubuhnya. Bahkan Kagami saat ini benar-benar bisa melihat tubuh atletis dan kulit eksotis Aomine yang ter-expose- dihadapannya.
Wajah Kagami semakin memerah. Kenapa tidak?! Tetesan air yang mengalir di seluk beluk tubuh atletis Aomine, ditambah Aomine yang tengah mengeringkan kepalanya yang basah dengan handuk. Kulit gelapnya yang begitu eksotis. Dan jangan lupakan tubuh bagian bawah Aomine yang tidak tertutup selembar kainpun. (Jangan sampai ngiler ya... :P )
Aomine menatap bingung Kagami, ia tidak mengerti kenapa Kagami terlihat membatu dengan wajah semakin memerah seperti itu. Kagami terlihat tengah menahan sesuatu dalam hati dan juga pikirannya.
"Kau kenapa?" tanya Aomine dengan wajah bingung.
"Ka.. ka.. Kau.."
"Aku? Kenapa denganku?"
"Ka.. ka.. Kau bo-bodoh!"
Kagami melemparkan sebuah handuk kering tepat kewajah Aomine. Ia lalu berlari menuju kasurnya dikamar asramanya itu sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Aomine masih terpaku, ia sama sekali tidak mengerti kenapa Kagami melemparnya dengan handuk sambil mengatainya bodoh seperti itu.
"A-aku salah apa?" pikir Aomine.
Sementara Aomine masih sibuk memikirkan kesalahannya, Kagami tengah menggerutu tidak jelas di bawah selimutnya.
"Apa yang ia pikirkan? Kenapa ia telanjang seperti itu dikamar orang lain? Benar-benar bodoh!"
Kagami masih terus bersembunyi dibawah selimutnya. Ia bahkan tampak sesekali mengintip dari bawah selimut untuk memastikan kalau Aomine sudah keluar dari kamar mandi dan ia berharap Aomine sudah berpakaian lengkap tidak seperti tadi.
"A-a-apa kau sudah meamkai pakaianmu?!" teriak Kagami.
Namun Aomine sama sekali tidak memberikan jawaban apapun. Karena kesal Kagami memutuskan untuk beranjak dari kasurnya. Ia turun sambil membawa selimut yang ia gunakan tadi. Kagami menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan mengunakan selimut itu.
Deg! Deg! Deg! Deg!
Dengan jantung yang berdebar kencang Kagami berjalan mendekati pintu kamar mandi. ia mengeluarkan salah satu tangannya dari selimut yang digunakan agar ia dapat membuka pintu kamar mandi tersebut. Tapi belum sempat tangan Kagami menyentuh pintu kamar mandi itu, tiba-tiba saja..
SRAAAK!
Aomine sudah berdiri dibalik pintu itu dan membukanya. Aomine bahkan masih saja belum mengunakan pakaian, namun ia sudah menggunakan handuk yang dilemparkan oleh Kagami padanya. Tentu saja untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Ka-kagami?" Aomine sedikit terkejut.
BLUUUUSSH!
Wajah Kagami memerah, ia hanya berada beberapa senti saja dari Aomine. Tubuh atletis nan eksotis itu tepat berada di depan kedua matanya.
"Ka-kau baik-baik saja?" Aomine tampak sedikit khawatir.
"KYAAAAAA..hmmmb!"
Kagami berteriak dengan sangat keras, namun Aomine dengan cepat membungkam mulut Kagami dengan tangannya yang besar. Ia bahkan mendorong mundur tubuh Kagami hingga ia terjatuh diatas tempat tidurnya.
Kagami berusaha untuk melepaskan diri dari Aomine, tapi Aomine lebih kuat menahan Kagami. Aomine telah mengunci kedua tangan Kagami dengan menggunakan tangan kanannya. Dan tangan kiri Aomine telah membungkam erat mulut Kagami. Aomine juga menggunakan berat tubuhnya untuk menahan tubuh Kagami yang berada dibawahnya. Kagami benar-benar tidak bisa bergerak!
"Bodoh! Apa yang sebenarnya kau pikirkan?! Kenapa kau berteriak seperti itu, Kagami?!" Aomine tampak kesal.
"Hmmmb.. mbbbb.."
"Tenanglah! Kau bisa membuat orang lain salah paham!"
Tes!
Aomine terkejut melihat wajah Kagami saat ini. Air mata mengalir dari kedua mata Kagami, wajah Kagami pun terlihat semakin memerah. Aomine juga bisa merasakan kalau tubuh Kagami bergetar begitu hebat, hingga ia sendiri juga ikut bergetar karenanya.
"Ka-kawaii..." pikir Aomine.
Wajah Aomine pun ikut memerah dan jantungnya berdebar tidak karuan. Baru kali ini Aomine merasakan sesuatu seperti itu pada seseorang.
Midorima berjalan memasuki gedung asrama Kagami. Dia berjalan dengan wajah datar, ia tampaknya sedang memikirkan sesuatu. Takao yang berjalan dibelakang Midorima saja dapat melihat dengan jelas aura hitam kelam yang menyelimuti Midorima.
"Hahaha... sepertinya ia masih sangat marah.." pikir Takao.
"LEPASKAN AKU!"
Midorima dan Takao berhenti berjalan. Mereka berdua mendengar suara teriakan yang begitu keras dari kamar Kagami. Midorima menoleh kearah Takao dengan wajah khawatir. Mereka lalu mengangguk dan berlari dengan cepat menuju kamar Kagami.
Saat tiba didepan kamar Kagami, Midorima mendapati pintu kamar Kagami sama sekali tidak terkunci. Perasaan khawatir semakin menyelimuti Midorima. Dengan kasarnya, Midorima membuka pintu kamar Kagami.
"Kagami, ada apa?!"
DEG!
Betapa terkejutnya Midorima mendapati apa yang dilihatnya saat ini. Ia mendapati Kagami yang tengah terbaring diatas kasurnya dengan wajah memerah dan air mata yang berlinang dari kedua matanya. Dan yang paling mengejutkan adalah keberadaan Aomine! Aomine tengah menindih tubuh Kagami dan mencengkram kedua tangan Kagami dengan kuatnya.
Aomine dan Kagami menoleh kearah Midorima bersamaan. Mereka sama sekali tidak bergerak sedikitpun. Mereka berdua seolah membatu dengan kehadiran Midorima yang begitu mendadak.
"Mi-Midori... ma.." ucap Kagami dengan suara bergetar.
"Mi-Midorima..." Aomine tampak menelan ludah.
Midorima mulai memikirkan hal-hal negatif yang sedang dilakukan oleh omine pada Kagami-nya. Midorima tampak begitu marah, ia sampai mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Midorima berjalan mendekati kedua orang itu.
"AO-MI-NE!"
"Mi.. Mi.. Midorima, I.. ini tidak seperti yang kau..."
Aomine tampak berusaha menjelaskan sesuatu pada Midorima. Ia bahkan baru melepaskan kedua tangannya dari tangan Kagami. Ia tampak begitu kebingungan dan keringat dingin membasahi tubuhnya. Ia merasakan hawa ingin membunuh yang begitu kuat dari Midorima yang tengah berjalan mendekatinya dan Kagami.
DUUUUAAAAKK!
Midorima memukul keras wajah Aomine hingga membuat Aomine terlempar dari kasur Kagami. Aomine sendiri tidak sempat menghidari pukulan Midorima barusan. Midorima segera mendekati Kagami sesaat setelah ia melihat Kagami terbaring dengan wajah beruraian air mata.
Midorima menyeka air mata Kagami dengan kedua tangannya. Kekhawatiran tampak masih menyelimuti wajah Midorima. Bahkan setelah Midorima menyeka air mata Kagami, Kagami langsung memeluk erat tubuh Midorima. Midorima dapat merasakan tangan Kagami yang bergetar saat memeluknya.
"Mi-midorima.. hiks.."
"Tenanglah, Kagami. Aku ada disini.."
Midorima membalas pelukan Kagami dengan mendekap erat laki-laki berbintang leo dihadapannya itu.
"WOI, BODOH! KENAPA KAU MEMUKULKU, MIDORIMA?!"
Aomine berdiri disebelah kasur Kagami sambil memegangi pipi kanannya yang tadi dipukul oleh Midorima. Ia tampak begitu kesal pada perlakuan Midorima padanya barusan. Namun Midorima hanya membalasnya dengan tatapan tajam seolah ia menyatakan kalau Aomine bersalah.
"Takao-san! Apa lagi kesalahanku?! Kenapa orang itu menatapku seperti itu?!"
Aomine sedikit berteriak. Ia bahkan mengacungkan telunjuknya tepat ke wajah Midorima. Ia terlihat seperti seorang anak kecil yang tengah mengadukan perbuatan temannya pada kakak laki-lakinya.
"Apa maksudmu dengan orang itu, Aomine?!"
"Hah?! Jika aku tidak boleh memanggilmu begitu, kenapa kau bersikap seolah aku bersalah?!"
"Karena kau memang bersalah Aomine!"
"Apa?! Apa maksudmu aku bersalah?!"
Aomine dan Midorima terus saja berdebat. Kagami yang berada di antara kedua orang itu merasa bingung, ia menatap Midorima dan Aomine bergantian. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang diperdebatkan kedua orang itu.
"Midorima.. Aomine.." panggil Kagami lirih.
"Apa?!" Aomine dan Midorima bersamaan.
"Eh?" Kagami sedikit terkejut.
Pfft...
Tiba-tiba mereka bertiga mendengar suara seseorang tengah tertawa. Mereka menoleh kearah pintu kamar Kagami. Mereka mendapati Takao tengah tertawa sambil mendekap erat mulutnya, bahkan air mata Takao saja sampai mengalir karena ia tertawa.
"Ta-takao.." Aomine dan Midorima bersamaan.
"Hahahaha... Maafkan aku tuan.. Hahaha.."
"Kenapa kau tertawa?!"
"Pfft.. hahaha.. Eheem.."
Takao berusaha untuk berhenti tertawa. Ia segera berjalan mendekati Midorima, Aomine dan Kagami. Takao membungkuk dalam pada ketiga orang yang ada dihadapannya seraya meminta maaf atas perlakuannya tadi.
"Maafkan aku, Midorima-sama, Aomine-sama. Tapi saat melihat kalian berdua tadi, aku teringat 10 tahun yang lalu. Kalian juga pernah seperti ini sebelumnya.."
Dalam sekejap saja suasana diantara Aomine dan Midorima mendadak berubah menjadi sangat suram. Suasana suram itu bahkan mempengaruhi Kagami, ia jadi merasa tidak nyaman berada diantara Midorima dan Aomine.
"Su-suasana macam apa ini?" batin Kagami.
"Takao! Berhenti membicarakan masa lalu itu!"
"Ha.. Benar, Takao-san. Itu hanyalah masa lalu saja. Tidak perlu kita bicarakan lagi."
Midorima dan Aomine memberikan penekanan yang sangat dalam saat berbicara pada Takao barusan. Namun Takao hanya membalas dengan senyuman diwajahnya. Kagami sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, ia sampai melamun sendiri karena memikirkan apa yang baru saja terjadi.
"Kagami, Kau baik-baik saja? Apa yang dilakukan makhluk hentai ini padamu?"
Tiba-tiba saja Midorima menyentuh kedua pipi Kagami. Midorima berhasil membuyarkan lamunan Kagami, bahkan Midorima membuat jantung Kagami berdebar sangat kencang dan wajahnya semakin memerah.
"Apa maksudmu dengan makhluk hentai?!" Aomine terdengar marah.
"Karena kau memang hentai.."
"Teme! Apa kau bilang?!"
Aomine menarik kerah seragam Midorima, tapi dengan cepat Kagami menahan tangan Aomine. Ia menatap Aomine dan Midorima bergantian dengan tatapan memohon agar mereka berdua segera berhenti bertengkar.
"Bisakah kalian berdua berhenti?" pinta Kagami.
"Ba-baiklah.. A-aku akan berhenti hanya karena Kagami yang memintaku, ingat itu Aomine!"
"Hah?! Kau pikir Aku berhenti karena dirimu?" Aomine membalas dengan senyum sinis.
Mereka berdua kini tampak saling menatap dengan tatapan sinis. Bahkan Kagami dan Takao dapat melihat percikan kilat yang mempersatukan sepasang mata kedua orang itu. Kagami menjadi semakin tidak tahan melihat kedua orang itu masih saja seperti itu.
"Cukup! Jika kalian ingin bertengkar pergilah dari sini!" bentak Kagami.
"Tapi, Kagami.." Midorima dan Aomine bersamaan.
"Cukup! Atau biarkan aku keluar dari sini!"
Kagami melepaskan diri dari Midorima. Ia beranjak turun dari kasurnya, ia hendak meninggalkan ruangan itu. Namun Midorima dan juga Aomine menggenggam tangan Kagami seolah tidak mengizinkannya untuk pergi meninggalkan mereka.
"Apa lagi?!" tanya Kagami dengan sedikit membentak.
"Baiklah kami akan benar-benar berhenti sekarang. Jangan pergi, Kagami.."
Kagami menatap Midorima cukup lama. Ia lalu menatap Aomine seolah menunggu jawaban dari Aomine, sambil menghela nafas panjang Aomine hanya mengangguk pelan seakan mengiyakan apa yang di pinta oleh Kagami.
"Haaah... Kalau begitu aku akan berpakaian dulu.." Aomine melepaskan tangannya dari Kagami.
Ia berjalan kembali menuju kamar mandi, sekilas Midorima dapat melihat wajah Aomine yang sedikit memerah dan juga senyuman yang sedikit mengembang di wajah Aomine itu. Bahkan ia melihat Aomine tersenyum sambil menatap tangannya yang ia gunakan untuk menyentuh tangan Kagami tadi.
"Apa-apaan ekspresinya itu?" Midorima menggerutu pelan.
"Kau mengatakan sesuatu, Midorima?"
Kagami seraya duduk disebelah Midorima. Ia menatap Midorima dengan tatapan khawatir. Kedua pipinya tampak merona, entah itu karena ia malu atau karena apa Midorima tidak tahu. Namun ia merasa senang karena Kagami sepertinya mulai sedikit peduli padanya.
"Ha? Iie..nandemonai.. Ngomong-ngomong kau tidak apa kan? Dia tidak melakukan sesuatu yang buruk kan?"
Tiba-tiba saja Midorima menggenggam erat tangan Kagami. Dengan cepat Kagami segera menarik tangannya dan menjauh dari Midorima. Ia tidak sedikitpun memandang wajah Midorima, ia menggenggam tangannya yang baru saja disenth oleh Midorima.
"Ti-tidak.. Di-dia tidak melakukan apapun.." jawab Kagami tergagap.
"Eh?"
"A-aku benar-benar tidak apa.. Ka-kau tidak perlu khawatir padaku.."
"I-ini hanya perasaanku saja, atau memang Kagami tampak begitu gugup?" batin Midorima.
GLUP!
Midorima menelan ludahnya sendiri. Dengan sedikit ragu, ia turun dari kasur Kagami. Ia berjalan mendekati Kagami, lalu ia memeluk Kagami dari belakang.
DEG!
Midorima terkejut, ia bisa merasakan debaran jantung Kagami yang begitu kencang dan semakin kencang saja. Bahkan wajah Kagami kini semakin memerah saat Midorima mengeratkan pelukannya.
"Kagami.." bisik Midorima.
"Hmm... Mi.. Midorima.."
DEG! DEG! DEG!
Suara Kagami terdengar begitu lirih, namun juga terdengar begitu manis ditelinga Midorima. Midorima ingin mencobanya sekali lagi, ia ingin sekali mendengar suara Kagami lagi yang seperti itu. Ia bahkan tidak menghiraukan Takao yang sejak tadi berada diruangan itu bersama mereka.
"Kagami.."
Kini Midorima kembali berbisik ditelinga Kagami, namun kali ini ia berbisik sambil menggigit kecil daun telinga Kagami hingga membuat seluruh tubuh Kagami bergetar.
SRAAAK!
"Bukankah kau juga bisa dipanggil Hentai, Midorima?!"
DEG!
Midorima segera melepaskan Kagami. Ia dan Kagami segera menoleh kearah suara itu berasal. Mereka berdua mendapati Aomine tengah berdiri diambang pintu kamar mandi dengan tatapan kesal.
"Se-sejak kapan kau disana?!" Midorima terkejut.
"A-aomine.." Kagami tergagap.
Kagami sedikit terpesona saat melihat Aomine. Ia sudah menggunakan seragamnya dengan rapi dan benar. Bahkan Aomine terlihat sama kerennya dengan Midorima. Aomine pun tersenyum pada Kagami, ia kemudian berjalan mendekati Kagami. Saat ia sudah berada didepan Kagami, Aomine mengangkat dagu Kagami dan mendekatkan wajahnya.
"Sudahlah Kagami.. Tidakkah sebaiknya kau meninggalkan laki-laki seperti dia.."
"Eh?"
"Lebih baik kau bersamaku saja.. chuu~"
Tanpa ragu-ragu Aomine mengecup pelan hidung Kagami.
"Bagaimana, Kagami?" Aomine mengerling pada Kagami.
"A.. a.. a.. Aku.." wajah Kagami memerah.
"Tidak! Aku tidak akan menyerahkan Kagami dengan mudahnya padamu, Aomine!"
Midorima menarik Kagami kedalam pelukannya, namun tangan Aomine masih menahan tangan kiri Kagami. Kagami merasa bingung dengan apa yang terjadi. Kepalanya terasa berputar-putar, rasanya seluruh pikirannya kacau. Ia tidak sanggup berpikir lagi saat ini.
"Ehem! Midorima-sama, Aomine-sama.. Sebaiknya anda hentikan semua ini segera. Lihatlah Kagami-sama tampak begitu kebingungan."
Aomine dan Midorima saling memandang. Mereka lalu menatap Takao yang kini sudah berdiri dihadapan mereka. Mereka bahkan tidak menyadari kapan Takao bergerak ke depan mereka, dan mereka sebenarnya telah lupa kalau Takao juga berada diruangan itu.
"Pfff.. Hahaha.. kau terlalu serius seperti biasa, Midorima."
Aomine melepaskan tangan Kagami dan berjalan menjauh darinya. Ia mengeluarkan handphonenya dari saku celananya, ia tampak sedikit terkejut saat menatap layar handphonenya itu.
"Ah, sudahlah.. Aku harus pergi sekarang, bisa-bisa aku terlambat.." ujarnya seraya menutup handphonenya.
"Mau kemana kau, Aomine?! Jangan kabur lagi!" bentak Midorima.
"Huh? Kabur?"
Aomine hanya menyeringai penuh arti pada Midorima. Aomine hanya berbalik dan menatap tajam Midorima. Ia sebenarnya merasa sedikit kesal pada sikap Midorima yang seenaknya sendiri itu, namun ia tidak mau memperlihatkannya didepan Kagami.
"Aku bukanlah pengecut, Midorima.."
"..."
"Aku hanya ingin memberitahumu hal ini.. Aku harus pergi sekarang, sebelum pesawat yang ditumpangi Yumi berangkat.."
DEG!
"A-apa maksudmu barusan Aomine?"
Kagami lagsung melepaskan diri dari pelukan Midorima. Ia lalu berlari mendekati Aomine dengan wajah khawatir. Ia bahkan menggenggam kuat kedua tangan Aomine yang ada dihadapannya saat ini. Aomine hanya membalas Kagami dengan tatapan datar, walau sebenarnya jantung Aomine sendiri tengah berdebar kencang bagikan pacuan kuda.
"Yumi akan pergi ke Paris. Itulah yang dikatakannya padaku semalam."
"Semalam? Jadi kau bertemu dengannya? Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?"
"Kau sudah pergi bersama pria bermotor kuning itu! Bagaimana bisa aku memberitahumu!"
Kagami menunduk dalam, ia teringat dengan apa yang terjadi semalam. Bagaimana Kise telah memperlakukannya, dan semua yang telah terjadi padanya seolah kembali muncul dalam benak Kagami.
Melihat Kagami bertingkah seperti itu membuat Aomine yakin jika telah terjadi sesuatu semalam, dan jika mengingat bagaimana laki-laki bermotor kuning itu merebut Kagami darinya semalam sudah membuat Aomine menjadi kesal.
Perlahan tapi pasti, Kagami melepaskan genggamannya dari tangan Aomine. Ia lalu melangkah mendekati lemarinya dan mengambil sebuah jaket merah dari dalam. Ia lalu menggandeng tangan Aomine dengan lembutnya dan menariknya perlahan keluar dari kamar.
"Kita harus ke bandara! A-aku inggin mengucapkan salam perpisahan pada Yumi.." wajah Kagami memerah dan suaranya terdengar begitu lirih.
Deg! Deg! Deg!
Jantung Aomine berdebar semakin kencang. Rona merah tampak menghiasi kedua pipi Aomine. Ia pun hanya bisa mengangguk pelan dan membalas genggaman tangan Kagami yang begitu lembut dan hangat.
"Hmm.." jawab Aomine pelan.
Semakin Aomine dan Kagami berjalan menjauh, semakin kesal pula Midorima menatapnya. Sedari tadi ia sudah mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar tidak bisa menerima apa yang baru saja dilakukan oleh Kagami. Melihat Midorima seperti itu membuat Takao menjadi khawatir.
"Tu.. tuan.."
"Takao..." suara Midorima terdengar berat.
"I-iya, tuan.."
"Batalkan semua jadwalku hari ini! Aku tidak bisa membiarkan dia merebut Kagami-ku dariku!"
Midorima segera berjalan dengan cepat. Ia berjalan mengikuti jalan yang dilalui oleh Aomine dan Kagami. Kepalanya terasa sangat panas, hatinya terasa pedih seolah dicabik-cabik.
"Kagami!" teriak Midorima.
Kagami dan Aomine langsung berhenti berjalan. Kagami segera menoleh ke arah Midorima, ia terkejut mendapati wajah Midorima yang tampak marah di kejauhan. Terakhir kali Kagami melihat Midorima seperti itu adalah semalam, dan Kagami yakin akan menjadi hal buruk jika ia tidak menenangkan Midorima sekarang.
"Mi-midorima.." Kagami tergagap.
Ia segera melepaskan genggamannya daari Aomine dan berjaan mendekati Midorima.
"Kau, ikut denganku!"
"Eh? Ta-tapi.. Yu-yumi.."
Tanpa berkomentar apapun, Midorima segera mengandeng tangan Kagami. Ia menggengam erat tangan itu dan menariknya agar mengikuti Midorima kemanapun ia membawanya. Sesaat Aomine tampak ingin menghentikan langkah Midorima, tapi percuma saja, Midorima memberikan tatapan membunuhnya pada Aomine seolah mengatakan 'jangan berani menghalangiku!'.
"Mi-midorima.." guman Kagami lirih.
Ia terkejut merasakan genggaman tangan Midorima. Tangannya memang sama hangatnya seperti biasanya, namun Kagami merasa ada yang berbeda kali ini. Tangan hangat yang biasa menyentuh Kagami itu, kini bergetar dengan hebatnya saat menggengam tangan Kagami!
"Nona.. Sebentar lagi anda akan berangkat. Anda yakin tidak mau menghubungi Kuroko sebelum kau berangkat, nona?"
Seorang pria setinggi 2 meter memberikan sekotak pocky pada gadis yang ada dihadapannya. Ia lalu duduk disamping gadis itu. Ia membawa sekantung penuh jajanan ditangannya. Rambut ungunya yang sedikit panang dibiarkan tergerai.
"Tidak, Mukkun.. Aku ingin melupakan semuanya.. Jadi, akan lebih baik jika aku tidak bertemu dengannya."
"Tapi Nona Yumi, Kau terlihat begitu sedih. Haruskah aku menghancurkannya?"
Yumi langsung mengerutkan dua alisnya dan menatap tajam Murasakibara. Ia juga mem-prout-kan bibirnya seolah ia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh Murasakibara barusan.
"Maaf, aku bercanda.." jawab Murasakibara dengan nada malas.
"Apa kau pikir Aomine dan Midorima akan datang? Aku sudah meminta mereka untuk datang, tapi sebentar lagi aku harus masuk terminal dan mereka belum juga datang?!"
Melihat Yumi menggerutu tidak jelas seperti itu membuat Murasakibara tanpa sadar membelai pelan kepala Yumi. Yumi langsung menatap Murasakibara, ia sangat terkejut dengan perlakuan lembut Murasakibara ini.
"Ke-kenapa?"
"Hmm?"
"Kenapa kau lakukan ini, Mukkun?"
"Walau mereka semua tidak datang, Aku tetap datang kan? Aku akan selalu setia padamu, nona.."
Air mata mengalir dari kedua mata Yumi. Dengan cepat Yumi langsung memeluk erat tubuh besar Murasakibara. Ia merasa sangat senang mendengar apa yang dikatakan oleh Murasakibara padanya barusan.
"Arigatou, Mukkun.. Jangan lupakan Aku, ya.." guman Yumi.
"Yes, Your Highness.."
Yumi tersenyum senang. Ia lalu melepaskan pelukannya dari Murasakibara. Ia dan Murasakibara lalu bangkit dari bangku yang mereka duduki. Yumi dan Murasakibara berjalan menuju terminal pemberangkatan, sesekali Yumi menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari teman-temannya. Namun ia sama sekali tidak dapat menemukan satupun dari mereka.
"Tetsu-kun.. Sayonara.." batin Yumi.
"Nona, nikmati perjalanan anda.."
"Hai.. Sayonara, Mukkun.."
Murasakibara berhenti di dekat antrian penumpang yang akan masuk terminal. Ia lalu membungkuk dalam pada Yumi, dan Yumi pun membalasnya. Sesekali Yumi tampak menarik nafas panjang setiap kali ia melangkah mendekati pintu terminal.
DEG!
Tibalah saatnya Yumi menyerahkan karcis dan juga paspornya. Ia membiarkan petugas memeriksasirinya. Setelah selesai diperiksa, dengan nafas tertahan dan langkah berat Yumi memasuki terminal pemberangkatan itu.
"Haaahh.. Mulai dari sini, kita tidak akan bertemu lagi... Tetsu.." gumannya pelan.
Yumi ingin sekali mentap Murasakibara untuk terakhir kalinya sebelum ia benar-benar melewati gerbang itu. Saat ia menoleh kearah Murasakibara, betapa terkejutnya ia mendapati seseorang yang tengah berlari di kejauhan.
Orang itu berlari dengan nafas berat, seragam yang dipakainyapun tampak basah dan berantakan, nafs orang itu tampak tersengal. Orang itu berlari dengan wajah sedih, ia terus berlari dan semakin mendekat ke arah Yumi.
"YUMI!" teriak orang itu dari kejauhan.
Entah kenapa, dada Yumi terasa begitu penuh dan sesak. Perasaan rindu meluap-luap dalam dirinya. Air matanya tidak terbendungkan lagi, air mata itu mengalir dengan derasnya. Yumi bahkan menjatuhkan tas kecil yang dibawanya saat ini.
"YUMI!"
Lagi-lagi dia memanggil nama Yumi dengan suara yang begitu keras. Suara yang benar-benar dirindukan oleh Yumi selama ini, suara yang selalu mendamaikan perasaan Yumi kapanpun itu. Ya, laki-laki berambut biru muda yang selalu dirindukan oleh Yumi, Kuroko Tetsuya!
"TETSU!" Yumi berteriak dengan suara bergetar.
Yumi hendak berlari mendekat ke arah Kuroko, namun petugas gerbang terminal menahan tangan Yumi dan tidak membiarkan Yumi untuk kembali dari gerbang itu.
"Maaf Nona. Tapi anda tidak boleh kembali lagi, anda harus segera masuk terminal pemberangkatan."
"Ta-tapi a-aku.."
"Maaf Nona, peraturan tetaplah peraturan. Silahkan.."
Dengan berat hati Yumi mengikuti permintaan petugas itu. Ia segera memungut tas kecilnya dan berjalan masuk kedalam terminal pemberangkatan. Ia berjalan masuk sambil menoleh kebelakang, menatap wajah Kuroko yang tengah berlari dari kejauhan dengan wajah sedih.
"Sayonara.. Tetsu.." guman Yumi.
Kuroko begitu terkejut melihat gerak bibir Yumi. Ia tahu apa yang baru saja dikatakan oleh Yumi barusan. Dan ia menolak untuk mempercayai apa yang ia lihat barusan. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri.
"YUMI! TUNGGU!" lagi-lagi Kuroko berteriak.
Kuroko memperlambat tempo larinya, ia sudah tidak sanggup lagi berlari. Ia berlari kecil dan terus mendekat ke arah terminal pemberangkatan itu. Ia berjalan sempoyongan melewati Murasakibara tanpa menghiraukannya sedikitpun. Hatinya telah hancur sekarang.
Kuroko terus berjalan mendekat ke arah gerbang terminal pemberangkatan itu. Ia berusaha menghiraukan petugas yang berusaha menghentikannya. Di kedua matanya hanya ada bayangan Yumi yang tengah berada di balik pintu kaca dihadapannya. Yumi sedang menangis, tanpa sadar air mata Kuroko pun ikut menitik bersamaan dengan jatuhnya air mata Yumi.
"Maaf nak, kau tidak boleh masuk!" seorang petugas menghentikan Kuroko.
"Aku harus bicara padanya!"
"Ini sudah peraturannya!"
"Tapi aku harus bicara dengannya! Aku sudah menyakitinya, aku harus minta maaf padanya!"
"Maaf, tidak bisa.."
"Cih!"
Kuroko berusaha menerobos petugas itu, namun Kuroko terlalu kecil untuk menjadi lawan petugas berbadan besar itu. Dengan mudahnya Kuroko terlempar, bahkan petugas itu langsung memarahi Kuroko dan mengusirnya.
To be Continue…
Yosh!
Akhirnya Yumi bisa nge-post lagi! T^T
Maaf pasti luuuuaaaammmaaaa ya?
Habisnya Yumi sibuk Try Out dan Ujian Sekolah..
Jangan lupa reviewnya ya? xD
See You, Next Chapters…:*
