Katakan dimana letak salah dari Jeon Jungkook atau dimana kesan berlebihan dari sikap Kim Taehyung.

Hingga sudah hampir seminggu sejak kejadian itu keduanya bungkam total. Tidak berbicara, tidak bertegur sapa, tidak saling membantu dan tidak lagi tidur sekamar.

Jungkook diam karena merasa sakit, hatinya sakit dan menolak untuk mengalah akhir-akhir ini. Bisa jadi karena perasaannya yang makin naik turun.

Tapi yang dilakukan Taehyung akhir-akhir ini pun, membuatnya semakin kesal.

Bagai orang asing yang tinggal serumah, mungkin memang Jungkook sadar itu salahnya, terlalu kelewatan namun hati kecilnya enggan untuk berkata maaf terlebih dahulu. Egoisnya menang.

Siang ini Jungkook berencana untuk memasak didapur yang sudah beberapa hari ini Ia titipkan ke bibi Jung, setelah tadi pagi Ia hanya duduk makan masakkan yang dibuat bibi Jung jadi sekarang Ia ingin kembali memasak.

tetapi saat sesampainya Ia di dapur dia melihat bibi jung yang sedang sibuk dengan seorang wanita yang duduk rapih dimeja pantry.

Jina.

"Bibi masukkan mericanya jangan terlalu banyak. Taehyung tidak begitu suka pedas.. " Jungkook mencuri dengar.

"Ya nyonya.." balasan dari Bibi Jung yang masih repot dengan adukan dipanci miliknya.

Hingga akhirnya Jungkook mendekat.

"Bibi masak apa? "Dia bertanya dengan pelan sembari menengok isi dalam panci. Bibi Jung menoleh dan tersenyum senang melihat Nonanya yang satu lagi keluar kamar disiang hari ini. Karena sebelumnya, Jungkook akan selalu memilih didalam kamar hingga makan siang tiba.

"Nyonya Jina ingin membuat sup seafood, Nonaa.. "Jawabnya. Sembari tetap mengaduk masakkannya.

"Uhmm, apaa ada makanan yang lain? " Tanyanya. Sekedar informasi, Jungkook itu alergi makanan laut.

"Hari ini special permintaan dari Nyonya Jina, makanannya serba Seafood.. " Jawabnya lagi, Jungkook beralih menatap Jina yang menatapnya kosong.

"Kenapa kau tidak suka Jungkook? Taehyung sangat menyukainya, kupikir kau suka.. Maafkan aku karena sudah seenaknya mencampuri urusan dapurmuu.. " Jina berkata, membuat Jungkook menatapnya bingung.

Lalu mengangguk.

Mengalah lebih baik,pikirnya.

"Kurasa aku akan makan diluar, Bibi.. " Setelahnya melenggang pergi menuju ruang televisi.

Menyisakan Bibi Jung yang mengangguk mengerti.

Menonton teve mungkin meredakan emosi yang akhir-akhir ini kurang stabil, ucapnya dalam hati.

Duduk disofa dan meraih remote, mencari-cari chanel bagus.

Dapat.

Sebuah reality show tentang hewan anjing yang begitu Setia dan ingat kepada sang majikan walaupun sudah bertahun-tahun hilang. Reality show itu membungkus cerita dengan apik.

Jungkook hampir terbawa suasana,sebelum sebuah suara kursi roda terdengar berjalan mendekatinya.

Tidak dekat,namun juga tidak begitu jauh posisinya dengan Jina sekarang.

Jungkook mencoba abai,lalu mereka terhanyut.

Hingga lima belas menit kemudian.

Sebuah suara menginterupsi "Bahkan, anjing yang hilang arahpun dan tidak memiliki perasaan yang utuh seperti manusia akhirnya akan kembali ke pemiliknya yang pertama, Walaupun sudah bertahun-tahun ilang arah.. Aku sangat terkesan, bagaimana denganmu?" Jina menoleh kearahnya, dan seperti menunjukkan sedikit senyum miring.

Jungkook termangun, kaget. Sangking kagetnya sampai tercekat saat ingin menjawab.

Kenapa Jungkook jadi berfikir tentang Suaminya?

Tidak mungkinkan, istri pertama suaminya ini menyamakan Taehyung dengan Anjing?

Atau memang Ia?

Lalu ini semacam bendera yang Jina kibarkan untuknya mendeklarasikan kubu mereka?

Akhirnya Jungkook bangkit, terlalu banyak fikiran jadi membuatnya pusing.

Dia hendak berjalan menuju kamar Jimin sebelum kembali terdengar suara.

"Heii, anjing tempat mu bukan disana.. "Langkah Jungkook terhenti dan lalu menatap Jina menyerit tidak suka yang menatap lurus kearah teve.

Hendak berbicara, namun mata Jungkook ikut mengikuti arah mata lawannya.

Oh anjing itu?

Menghela nafas lalu kembali berjalan sembari mengelus perutnya yang agaknya terasa kurang nyaman.

-Kim-

Jimin tertidur dengan tenang siang ini, terlihat dari cara dia memeluk guling kuningnya dengan lembut. Jungkook tersenyum. Berada didekat anak ini membuat hatinya tenang.

Dia mulai merebahkan badan disamping tubuh mungil Jimin, lalu mencium pelipis sang anak. Dia merogoh ponselnya lalu memberika sebuah pesan teks ke seseorang. Tersenyum. kecil lalu beralih kembali memeluk Jimin dan menghirup aroma telon yang sangat menghangatkan.

Tak lama matanya memberat lalu tertidur.

Jungkook membuka mata disaat dirasanya seseorang menoel-noel pipinya geli.

"Mommy, bangun.. bangun.. hihihi"Disambut dengan wajah sumeringah anaknya. Jungkook ikut tersenyum lalu mencium singkat sebelum matanya beralih kearah jam yang berada nakas samping ranjang Jimin.

Pukul empat sore.

"Bangun Chim, mandi lalu makan.. Pasti lapar kan? Kenapa tidak ada yang membangunkan untuk makan siang? "Jimin bangkit diikuti sang mommy yang masih sibuk berfikir.

"Mommy chim lapar, nanti makannya nambah-nambah boleh? " Jungkook tertawa kecil.

"Sampai Chim puas, mommy perbolehkan.. "Jawabnya.

Setelah memandikan Jimin dan membersihkan diri yang diikuti pula oleh Jimi yang menunggu dikamar sang mommy akhirnya mereka keluar kamar untuk bertemu bibi jung.

"Kenapa tidak dibangun kan, Jimin jadi tidak makan siang, Bi.. "

Bibi Jung, menyerit.

"Nyonya sudah bangunkan, tapi kalian tidak mau bangun katanya Nona.. " Jawabnya. Jungkook menukikan alisnya.

Apa Ia dan Jimin selelap itu?

"Lalu dimana Kak Jina, Bii? "

"Ikut, Tuan .. Nona,katanya merasa sendirian dan memaksa ikut ke kantor.. "

Ahhh paham, jadi gitu yah.

Baiklah.

"Mmy lapar... "rengek sang anak.

Jungkook mengangguk.

"Mau makan apa anak mommy? "

"Sosis besar boleh mmy? Tapi banyak, Chim lapar.. "

Jungkook mengangguk pelan lalu menyuruh Jimin duduk diam di kursi makan sebelum dia memasak makan malam untuk anak tercinta.

Sudah masuk makan malam bukan.??

Setelah makan malam keduanya duduk diatas kasur milik Jungkook sembari menonton teve yang menampilkan gambar pororo.

"Ade bungsu kapan kelual mommy? Chim ingin cepat-cepat sekolah.. "Jimin mengelus perut mommynya sejenak teve dilupakan.

"Sabar sayang tunggu sembilan Bulan dulu, karena kalau cepat-cepat nanti adiknya keluarnya kecil.. "

Jelasnya, Jimin mengangguk ingin kembali bertanya namun suara soundtrack film tersebut mengurungkannya dan malah kembali asik bernyanyi. Jungkook tersenyum kembali.

Hah, bisakan Jimin kita bersama sampai akhir? Mommy baru mengenalmu, tapi mommy sayang sekali padamu, sungguh. Ucapnya dalam hati sembari mengelus sayang rambut Jimin.

"Jungkook.. "Kedua terkesiap. Kaget.

Belum selesai mereka kaget pintu terjebeleban terbuka.

"Ada apa ,Taehyung? "Tanya Jungkook bingung, Jimin sangking kagetnya memeluk Jungkook erat.

Tatapan pria itu tajam, kesal, marah. Jungkook berdiri dengan masih Jimin dipelukkannya.

"Aku bertemu dengan seseorang didepan pintu saat ingin memasuki apartement, kupikir aku mengenalnya... "

Datar sekali berbicaranya, membuat Jungkook menghela nafas. Suaminya semakin marah ya?

"Lelaki ini menitipkan ini, dia bilang untuk nyonya besar yang sedang hamil.. Ah, itu temanmu yang waktu itukan?? "

Jungkook masih terdiam, sedangkan Jimin masih terlihat memeluk Mommynya. Dan Taehyung seperti tersadar bahwa didepan mereka ada jimin.

"Jimin tinggalkan Mommy dan Daddy, main diluar dengan Mama dulu, maukan? "Tanya Taehyung pada sang anak yang dijawab oleh gelengan dengan wajah cemberut khas anak-anak.

"Daddy ingin berbicara dengan Mommy sayang.. "Bujuk Taehyung, sikecil kembali menggeleng.

"Daddy mau mayah mayah sama Mommy, Chim sayang mommy, mommy gak boleh dimayahi. Daddy jahat sama mommy.. "Mencelos, Taehyung memang agaknya lumayan fatal hampir meluapkan emosinya didepan sang anak.

"Daddy tidak memarahi mommy sayang.. "Suara Jungkook lembut sekali. Jimin menatap sang mommy.

"Tapi tadi Ddy, teliak teliak mmy.. Chim takut.. "Keluhnya, matanya malah memerah ikut merasakan sepertinya.

"Tidak sayang, daddy sayang mommy. Tidak mungkin daddy marahin mommy.. Sekarang main dulu dengan mama, okeh? "

"Chim tidak mau ddy, chim mau dengan mommy. Ihhhh"

Kedua menghela nafas emosi Taehyung hendak mencapai puncak,dengan sigap Jungkook meraih tangannya. Mengelusnya pelan.

Sepertinya mengalah untuk kali ini akan lebih baik.

"Aku akan tidurkan sebentar,nanti kita bicara lagi.." Dengan itu Jungkook membawa Jimin didalam gendongannya menuju kamar Jimin.

Tiga puluh menit berlalu, Jungkook memasuki kamarnya. Taehyung duduk dipinggir kasur dengan pakaian santainya.

Menatap Jungkook lelah, hati Jungkook meringis. Rindu akan aroma milik Taehyung yang beberapa hari ini tidak berkeliaran disekitar nya.

Sibungsi yang rindu Daddynya juga, sepertinya menambah kadar rindu semakin kuat.

"Jangan lakukan ini lagi, kumohon.. "Taehyung memulainya Jungkook berdiri tepat didepannya.

Diam sebagaii jawaban.

"Kumohon, Kook.. Jangan lakukan ini.. Aku sudah cukup brengsek saat ini, jangan sampai aku harus tambah brengsek hanya karena sikapmu.. Kumohon.. "

Jungkook agaknya sedikit mendengus.

Pikirnya Jungkook tidak sama tersiksanya, tidak sama sakitnya?

Melihat Taehyung tidur dengan istri pertamanya itu.

Taehyung meraih pergelangan tangan Jungkook, menciumnya dalam.

Sengatan listrik itu kembali.

Jungkook terkesima, bagaimana cara Taehyung yang sederhana membuat segala perasaan kacaunya hilang seketika itu luar biasa hebat.

"Aku mencintai Jina, sungguh.. "

Dan Jungkook kembali menarik tangannya, si bodoh ini. Pikirnya.

Taehyung kembali menarik tangan Jungkook sekaligus menarik badannya, menaruh tangan itu di pundaknya sendiri.

"Dengarkan aku dulu, sayang.. "

Cih.

"Aku mencintai Jina, sangat. Dia dan Jimin segalanya bagikuu--"

Ucapannya terputus, hampir membuat Jungkook jengah.

"--Itu dulu. Sebelum kamu datang, kamu datang memberikan aku yang tiga tahun ini selalu sepi menjadi terisi, memberikan aku yang dingin ini menghangat. Tidak bisa dipungkiri. Kali ini, aku jatuh Cinta telak padamu.. Hingga rasanya sesak menahan sendiri.."Dengan tarikan nafas, Jungkook terpaku lidahnya kelu.

Taehyung mengutarakan isi hatinya? Saat ini? Now? Jigeum?

"Aku merasa brengsek untuk Jina, sungguh aku mencintainya sampai sekarang pun masih. Tapi entah sejak kapan perasaan itu berubah untukmu lebih besar, aku tidak suka saat kamu berbincang dengan lelaki lain, tidak suka saat tersenyum untuk mereka tidak suka saat diam saja disentuh mereka, aku juga tidak suka kamu abaikan, tidak suka kamu anggap sebagai angin. Aku suamimu, aku mencintaimu tapi aku juga merasa bodo karena memberikan hati disaat hati ini seharusnya terkunci untuk satu orang... Aku tidak bisa memilih satu diantara kalian, kalian berharga Jungkook, kamu dengan Jimin dan sibungsu.. Dan Jina yang selama tiga tahun ini aku tunggu.. "

Jungkook masih diam mendengarkan, dia dapat melihat sebagaimana frustasinya Taehyung bahkan mata suaminya ini memerah.

Tanpa sadar Jungkook mengelus bahu itu pelan. Dia seorang psikolog. Tentu tau dan dapat merasakan perasaan apa yang Taehyung rasakan saat ini.

Tapi dia menolak tegas untuk semakin hayut, posisinya sekarang bukanlah seorang dokter jiwa tetapi istri yang menjadi alasan lelaki didepannya bimbang dengan perasaanya sendiri.

"Dan kamu perlu tahu, isi hati ini bahkan sudah dipenuhi olehmu, kumohon jangan jadikan aku brengsek untuk kedua kalinya untuk kalian"

Akhirnya Jungkook mengalah dan memeluk Taehyung erat, dimana posisinya sama seperti diawal. Jungkook yang berdiri dan Taehyung yang terduduk.

"Maafkan aku, aku mencintaimu.. "

Jungkook mengangguk dalam pelukannya.

"Akupun, aku juga mencintaimu, Taehyung.. "Setitik air mata jatuh tidak banyak hanya setitik. Tanda perasaan lega

-KJ-

Mereka sudah terlentang dikasur bersebelahan dengan tangan yang masih saling genggam.

"Aku meminta Mingyu, karena aku tahu pasti keluar tanpa meminta izin akan jadi masalah.. "Jungkook. tersenyum sembari menyamankan posisi kepalanya didada bidang Taehyung.

"Aku lupa, ternyata Mingyu sudah didepan apartement terlalu sibuk oleh chim.. "

Saat hendak membalas bunyi ponsel terdengar.

Taehyung meraih dan mengangkatnya.

"Ya Jina? "

"Perutmu sakit? "Taehyung melirik Jungkook yang mendongakkan kepalanya dari dada Taehyung.

"Ya, baiklah akan ku temani.. "

Lalu telepon tertutup.

"Ada apa? " Tanya Jungkook, wajahnya tidak dapat dijelaskan.

"Jina merasa perutnya sakit.. "Taehyung bangkit, dimana membuat Jungkook pun bangkit.

"Lalu? "

"Dia ingin aku menjaganya dikamarnya.. "

Jungkook. merenggut.

"Tapi kamu baru bilang bahwa mencintaiku..."

Taehyung menghela nafas.

"Aku mencintaimu Kook sangat, tapi dia juga prioritasku.. "

Bangkit hendak berjalan, "Kalau kamu pergi--"

"Jangan egois ,Kook.!!! "Nadanya tegas.

"Jahat, Taehyung aku bahkan baru ingin tidur tenang setelah seminggu kemarin susah tidur! "

Lagi dan lagi.

"Maafkan aku ,sayang. Kumohon mengerti posisiku.. "

"Terserah.!! "Jungkook menyelimuti dirinya hingga tak terlihat. Merajuk berharap Taehyung membatalkan niatnya menghampiri Jina.

Tapi tak lama bunyi pintu terbuka dan tertutup datang sebagai sebuah jawaban.

Dan entah kenapa Jungkook kembali menangis untuk malam ini.

TBC.

Dubidubidu, Pliseu ini ga akan jadi uttaran. Palingan jadi anak jalanan atau ga Cinta pitri yang pny segudang season. Hahahahahahahaha.

Terimakasih buat pembaca yang manis manis, walau sebagian sudah hilang respek sama ini cerita.

Hiks, dibaca dan direview plispliseuuuuu...

Kalau emg love sm ini Cerita.

aoiyaa, SELAMAT ULANG TAHUN PACAR SAYANG [ Semoga kedepannya semakin baik, ganteng rezeki lancar. terus juga hal-hal yang sempet jadi beban dihapuskan. 2018 jadi tahunnya kamu sama Bts semoga yang ditakutkan tidak terjadi dan yang jadi hanya hal-hal baiknya saja.

Goodluck ya Pacar Kookie [

Triple kill,

Barengan up sama Angry Kim's dan Crt baru.

Candnim.

Love.