Veei
###11###
Disclaimer :
Naruto © Masashi K.
Harry Potter © J.K. Rowling
a. YU-GI-OH! © Kazuki Takahashi
b. La Clef du Royaume © Kyoko Shitou
rating : T
π SasuNaru π
ππDraRryππ
•
•
•
Warning!'
1• Fic ini mengandung BL atau yaoi. Dengan segala hormat, yang tidak suka yaoi bisa menepi atau meninggalkan fic ini...
2• Gagal EYD masih ada...
3• M-preg mengikuti...
4• Typo masih berseliweran... walaupun Est udah berusaha menguranginya...
['`:_:'`]
{•_•}
V
"Gandora, yang memiliki nama panjang 'Gandora the Dragon of Destruction' adalah Naga penghancur yang konon katanya berasal dari dimensi lain, karena kemunculannya hampir sebagian dataran Eropa yang utuh hancur. Suatu yang sangat mengerikan pada saat itu, dan para Muggle menyalahkan para penyihir atas kemunculannya, mungkin itu sebabnya para penyihir jaman dahulu harus menepi dan menyembunyikan dirinya. Dan untuk menghentikan amukan Gandora, Raja pengendali Naga menyegelnya pada empat menara tak terlihat, setiap menara ditunggui oleh satu jiwa Naga penjaga yang tubuhnya disegel pada bagian tubuh Gandora untuk menekan pergerakannya, pertama Naga Biru : Seiyanus penjaga tubuh dan ekor Gandora, seorang pemilik jiwa dari Naga langit Saiyanus Draconia, salahsatu suku Naga yang dikorbankan. Kedua Naga Putih : Darius Draconia penjaga Mata Gandora pemilik jiwa Naga Air, ketiga Naga Hitam : Gaiyus Draconia, penjaga dari Jantung Gandora, pemilik jiwa Naga Bumi. Dan yang terakhir Naga Merah : Clavius Draconia, penjaga Kedua sayap dan kaki Gandora, pemilik jiwa Naga Api, dan dialah Raja Naga yang menyegel Gandora dengan mengorbankan dirinya serta murid dan kedua putranya, mereka adalah suku Naga terakhir yang masih hidup setelah pertarungan antara suku Naga melawan para Elf dan Firenze (Centhaurus), benar begitukan Ojii-Sama?" Setelah lama bercerita Louwis meminta pendapat akan kebenaran ceritanya pada sang kakek moyang. Mendengar penjelasan Louwis yang cukup rinci Arata hanya membalasnya dengan senyum simpulnya, memandang penyihir lain termasuk empat shinobi yang berda diruangan tersebut melihat Louwis dengan pandanga kagum dan berbinar membuat sebuah kebangan tersendiri bagi jiwa yang menyatu pada lukisannya tersebut. Melirik kearah kirinya ia melihat Phineas yang tengah menatapnya dengan pandangan iri yang ketara, ia membalas pandangan tersebut dengan senyumnya kembali, 'ada apa Phineas-kun?' Tanyanya pura-pura tidak tahu.
'Kau mempunyai keturunan yang jenius, sedangkan aku, Sirius tidak pernah serius denga semua petuahku,,, hanya Regulus yang bisa kuandalkan saat ini, andai ia ada disini...' curcol Phineas dengan aura suram disekitarnya.
'Dia pasti kembali Phineas-kun'
'Kau memang baik Arata,,,' ungkap Phineas dengan mata yang berbinar-binar menghadap kearah Arata.
"Nee~~ kakek dan kakek ini juga mahoan ya?" Tanya Naruto yang sudah berdiri dihadapan kedua lukisan tersebut dengan pose mencubit sedikit dagunya dan memiringkan kepalanya kekiri.
'Ctak'
'Ctak' muncul urat-urat yang menonjol keluar di pelipis kedua orang yang ada dilukisan tersebut dan membentuk sebuah perempatan jalan yang mungkin bisa dilewati kutu(?) ''AKU NGAK MUNGKIN MAHONAN SAMA DIA BOCAH RUBAH'' saling menunjuk satu sama lain, Phineas dan Arata saling membuang muka kearah yang berlawanan.
"Benarkah? Naru pikir kalian mempunyai hubungan yang iya-iya seperti..."
"Naruto, hentikan! Sebaiknya kita fokus masalah Death Eaters dan Gandora" menghentikan keusilan Naruto yang mulai kamuh Sasuke sengaja menyiapkan kalender dan peta yang ditaruhnya dimeja untuk mengalihkan fokus Naruto pada kedua orang penghuni lukisan tersebut. Beruntung pengalihan tersebut berhasil, kini naruto tengah duduk dilantai yang beralaskan bantal sofa yang disiapkan Sasuke sebelumnya, dengan kedua tangan dilipat dan ditaruh diiatas meja ia menperhatikan peta dan kalender(?) Yang ada dihadapannya dengan pandangan bertanya.
Sedangkan yang lain ada yang duduk dengan alas karpet tebal yang penuh bulu dan ada juga yang duduk disofa, terlihat Harry, dan ke-lima ninja yang tengah duduk dibawah mengitari meja dengan posisi Sasuke dan Naruto yang duduk berdampingan disisi panjang meja, lalu dihadapan mereka berdua ada Juugo dan Suigetsu, lalu disamping kiri Suigetsu ada karin yang menopang dagunya dengan tangan kananya, sedangkan diseberang meja Karin, kini terlihat Harry dan Ron yang juga masih bingung kenapa Sasuke membuka kalender dimeja. Sedangkan para senior aka. Para orang yang lebih tua memperhtikan dengan duduk disofa, serta sikembar Weasley yang berbagi sofa tunggal,
"Untuk apa peta dan kalender ini Sasuke-kun?" Tanya Karin dengan nada malas.
"Akan ku jelaskan nanti, sekarang Naruto kau tandai letak Horcrux yang kau rasakn tadi!" Perintah Sasuke sambil mengeser sepidol permanent(?) kehadapan Naruto.
"Ummm... *sreet* Grimmauld place, *sreet* disini, lalu *sreet* bank Gringotts, hemm terus *sreet Hogwarts, dan yang terakhir selain Harry *tak* disini, aku merasa ditempat ini ada dua jiwa"
"Paman, apa anda tahu tempat apa saja yang dilingkari Naruto?" Menyerahkn peta pada Louwis yang langsung memperhatikan peta tersebut. Dan menaruhnya lembali pada meja.
"Grimmauld place, Hogwarts, Bank Gringotts, kalau disini (menunjuk salah satu lingkaran yang dilingkari Naruto) kalau tidak salah pondok Gaunt, tapi disini,,, setahuku tidak ada apa-apa disini, hanya ada padang rumput yang tak terawat"
"Coba kulihat," mengulurkan tangannya kearah Louwis, Dumbledore lalu memperhatikan peta tersebut dengan teliti, "tempat ini... manor Roddle kah?" Dengan ragu Dumbledore mengucapkan nama tersebut.
"Baiklah, manor Riddle, berarti ada lima tempat yang harus kira kunjungi" menarik salah satu sudut bibirnya, dengan percaya diri Sasuke menerima kembali peta tersebut dari tangan Dumbledore, lalu Sasuke menaruhnya kembali disamping kalender yang masih ada dimeja.
"Akan aku jelaskan kita memiliki waktu enam bulan dua belas hari lagi sampai aphelion nanti, karena perkiraanku aphelion akan jatuh pada empat Juli nanti. Kita gunakan sisa waktu tersebut untuk mencari Horcrux selain Harry dan Voldemort, dan kita akan membentuk team dengan tiga sampai lima orang untuk mencari Horcrux tersebut dengan masing-masing anggota harus memiliki kemampuan medis dan sensor. Untuk menghancurkan Horcrux kita fikirkan nanti setelah kita mengumpulkannya"
"Kita bisa langsung menghancurkannya dengan taring basilisk dan pedang Godric Gryffindor," dengan pengetahuannya tentang sihir yang memadahi Dumbledore memberi usulan.
"Ada lagi?"
"Mungkin mantra Fiendfyre bisa," sahut Sirius.
"Mantra Fiendfyre terlalu berbahaya karena tidak bisa dikontrol," tolak Remus dengan serius,
"Bagaimana dengan Avada Kedavra? Itu bisa membunuh dengan Extreme," celetuk Fred.
"Terlalu hitam, dan pengunanya bisa dimasukan Azkaban," tolak George sehingga membuat yang lain melihatnya dengan aneh karena ini pertama kalinya ia berbeda pendapat dengan saudara kembarnya.
"Huffz... gunakan saja kusanagi Sasuke atau suruh Sasuke mengeluarkan Amaterashu untuk menghancurkan Horcrux" dengan tampang malas Naruto nengucapkan usulnya sambil mengelus perut buncitnya.
.
'WHUSSH' suara perapian yang menyala membuat mereka menolehkan kepalanya pada satu-satunya perapian disana, setelah api hijau dalam perapian tersebut menghilang kini muncullah Severus Sape yang dengan tergesa menuju kearah mereka "Lucius,,, maaf aku tidak bisa menghentikan_"
"Bukan salahmu Sev,,, bukan salahmu..." ucap Lucius dengan tegar.
"Ada apa Sev? Kenapa kau gelisah?" Tanya Narcissa
"Benar juga, Dumbledore... Voldemort mendapatkan ramalannya, dia menyuruh Nott dan orang dalam kementrian mengambilnya di departement misteri," jelas Severus dengan cemas,
"Ramalan? Ramalan apa Professor?" Tanya Harry ingin tahu
"Ramalan antara kau dan Voldemort"
"Apa isinya?" Sahur Ron ingin tahu.
"Isinya... bahwa a_"
"Sirius... Harry masih kecil,,, dia belum waktunya tahu"
"Tidak Remus,,, sudah saatnya dia tahu tentang isi ramalannya"
"Bagaimna jika dia tidak siap?"
"Aku siap, lagian siap tidak siap Voldemort akan tetap mengejarku kan? Tolong katakan Padfoot" pinta Harry memelas
"Biar aku yang memberi tahunya Sirius, kau tahu Harry, saat Trelawney melamar pekerjaan sebagai pengajar Hogwarts dia mengeluarkan sebuah ramalan tentang kau dan Voldemort, karena suatu hal Voldemort mengetahui sebagian isi ramalan tersebut, dan isi ramalannya adalah 'Yang memiliki kekuatan untuk menaklukkan Pangeran kegelapan sudah dekat…dilahirkan kepada mereka yang telah tiga kali menantangnya, dilahirkan bersamaan dengan matinya bulan ketujuh…dan Pangeran Kegelapan akan menandainya sebagai tandingannya, tetapi dia akan memiliki kekuatan yang tidak diketahui Pangeran Kegelapan…dan salah satu harus mati di tangan yang lain, karena yang satu tak bisa hidup sementara yang lain bertahan' karena ramalan tersebut Voldemort mengicar anak dari orang yang pernah tiga lali melawannya, yang kebetulan ramalan tersebut mengarah padamu dan Neville, kalian sama-sama lahir pada matinya bulan ketujuh dan orang tuamu dan orang tua Neville sama-sama pernah melawan Voldemort tiga kali,"
"Jadi Harry adalah anak dalam ramalan ya? Ngomong-ngomong Naruto juga anak dalam ramalankan?" celetuk Suigetsu enteng
'Cetak'
"Adaww... apa-apaan kau melempari ku dengan sepidol, sakit tahu" marah Suigetsu pada Naruto selaku pelaku peremparan sepidol yang memakan korban kepala Suigetsu.
"Jangan mengingatkannku anak ikan"
"Aku tidak mengingatkan,,, kau saja yang terlalu sensitif kue ikan"
"Aku tidak terima dengan pencemaran nama baikku anak ikan"
"Siapa yang mencemarkan nama baikmu?"
"Kau! Kau mengataiku anak dalam ramalan"
"Aku tidak mengataimu... tapi aku mengatakan kalau kau itu anak dalam ramalan"
"Aku tidak suka titik."
"Itu masa_"
"Sui get su..." desis Sasuke menghentikan ucapan Suigetsu.
"Ya ya ya.." jawab Suigetsu sambil memutar kedua bola matanya.
"Kau tidak tahu saja, hiks,,, bagaimana rasanya beban semua orang berada dipundakmu..." lirih Naruto menundukkan kepalanya, serta menutup matanya dengan lengan tangan kanannya "Kuso... gara-gara hamil Naru sekarang jadi lebih mudah nangis hiks" tidak ingin Naruto menangis lebih lama lagi Sasuke lalu mengelus surai pirang Naruto dengan tangan kirinya,
"Jangan menangis! Kau lebih tampan jika tersenyum Naru," ucap Sasuke
"Benarkah? Berarti Naru lebih tampan dari Sasuke kan?" Tanya Naruto penuh harap,
"Hem... kau lebih tampan dari ku," melihat Naruto yang tidak menangis lagi Sasuke kembali menfokuskan diri pada Gandora dan Horcrux yang menjadi pembahasan kali ini.
"Aku lanjutkan, selama pencarian Horcrux kita juga mencari keempat orang yang ditawan oleh para Death Eaters untuk mencegah kebangkitan sempurna Gandora." Jelas Sasuke
"Kenapa bisa begitu?" Tanya Karin yang masih belum mengerti penuh penjelaan Sasuke
"Kalian ingat kebangkitan Juubi kan, dimana kebangkitannya yang tidak sempurna karena ia tidak mendapatkan chakra Hachibi dan Kyuubi secara penuh. Dan dari cerita paman Louwis aku menyimpulkan kalau keduanya memiliki kesamaan dalam pembangkitannya."
"Aku mengerti, lanjutkan Teme!"
"Paman Severus, bisa kau jelaskan dengan rinci pasukan yang dimiliki oleh Voldemort!" Pinta Sasuke
"Sepengetahuanku dia sudah mendapatkan dukungan dari Troll dan para manusia serigala serta Dementor"
"Perang,,,, khekhekhekhe sudah lama pedangku tidak memenggal kepala" ungkap Suigetsu dengan tawa anehnya.
"Jadi kau berencana membiarkan Gandora bangkit walau tidak sempurna? Tapi Teme bagaimana dengan kerusakan yang akan terjadi jika membiarkannya bangkit?"
"Kita fikirkan nanti, hn... edo Tensei mungkin bisa"
"Kalian ternyata memiliki pengalaman yang lebih tentang perang?" Tanya Sirius dengan mata berbinar.
"Kami harus selalu siap dalam situasi apapun Sirius-san" jawab Juugo dengan nada tenangnya
"Tapi... kalian akan membunuh dipeperangan nanti," ucap Harry lirih "bahkan mungkin saja kalian akan terbunuh..." dengan suara bergetar ia menundukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya erat dipahanya.
"Dalam peperangan hal membunuh atau dibunuh itu akan menjadi hal yang wajar Potter, jika kau tidak ingin membunuh, kau bisa pergi dan larilah sejauh yang kau mau! Menangislah dan kau hanya akan kenyaksikan orang-orang kau sayangi mati satu-persatu," desis Naruto
"TAPI BAGAIMANA DENGAN MEREKA YANG TIDAK BERSALAH... MEREKA JUGA AKAN MATI NARUTO... dan itu semua karena aku, mereka bodoh karena menumpukan harapan mereka pada anak lemah sepertiku" dengan suara yang semakin menghilang ia mengusap lelehan air mata yang hampir menetes didagunya.
Brakk
KRAKKKK
"Jika kau merasa lemah maka buktikan kalau kau bisa menjadi kuat dan mampu mengemban beban yang kau pikul dengan sunguh-sunguh Potter! Tunjukan pada musuh-musuhmu kalau The Boy Who Lived tidaklah lemah, kalahkan Voldemort dan selamatkan orang-orang yang berharga bagimu dari ketakutan hidup yang dibuat Ular Tua itu!" Setelah mengebrak meja dihadapannya dengan kuat hingga membuat meja yang terbuat dari kayu terbaik tersebut terbalah ia langsung mencekram kerah baju Harry yang membuatnya geram.
Hufzz,, menghela nafas lelah Naruto dengan malas melepaskan cengkramannya dan keluar dari ruangan tersebut, sebelum mencapai pintu keluar Naruto berhenti sejenak dan menoleh pada Sasuke yang juga tengah berdiri dan menuju kearahnya.
.
.
.
.
.
Beberapa saat setelah perginya Naruto dan Sasuke mereka yang berada dalam ruangan tersebut masihlah mengunci mulut mereka guna mencerna semua ucapan yang keluar dari mulut pemuda blonde yang beberapa saat lalu meninggalkan mereka. Hingga sebuah mantra Reparo mengalun dari mulut sang Kepala Sekolah Hogwart sehingga meja yang tadinya terbelah kini menjadi utuh kembali.
"Semua yang dikatakan Naruto benar Harry, setidaknya jika kau-"
"Tahu apa kau Professor ... aku yang tertekan, bukan kalian ataupun Naruto yang mengalami."
"KAU YANG LEBIH BERUNTUNG DARI NARUTO YANG SEBAIKNYA DIAM! ATAU KUBIKIRIBŌCHŌ-KU YANG AKAN MEMENGGAL KEPALAMU SIALAN" bentak Suigetsu yang entah bagimana telah mengeluarkan Zanbato miliknya dan mengatahkannya kearah kepala Potter muda tersebut.
"Suigetsu, tenanglah! Dia masih terlalu muda untuk mengerti arti takdir yang sebenarnya." Mencekal tangan kiri Suigetsu yang sudah dikuasai amarah, Juugo menarik Suigetsu untuk duduk kembali.
"Cih... aku akan menyusul mereka." Setelah mengucapkan kata tersebut, tubuh Suigetsu meleleh menjadi air yang bergerak menuju keluar.
"Maaf, Suigetsu memang lebih mudah marah jika sudah menyangkut orang-orang yang ia kagumi" ungkap Juugo pelan tapi masih bisa didengar oleh penghuni lain yang berada ditempat itu.
"Dasar tsundere..." gerutu Karin.
"Apa maksudnya kalau Harry lebih beruntung dari Naruto?" Tanya Dumbledore penasaran.
"Setahuku hidup Naruto lebih berat dari Harry, orang tuanya meninggal hanya beberapa jam setelah kelahirannya, mengalami diskriminasi dari orang-orang didesanya, bahkan menjadi target pembunuhan dari beberapa orang yang memiliki dendam pada Kyuubi yang berada dalam tubuhnya. Dia juga menjadi anak dalam ramalan sepertimu, walaupun ditakdirkan membunuh, tapi setahuku dia belum pernah membunuh" dengan bibir terangkat Juugo menceritakan sedikit kisah Naruto yang ia tahu dari Sasuke.
"Bahkan setelah menjadi pahlawan dalam perang shinobi ke-empat dia harus kehilangan mimpinya karena orang-orang yang sebelumnya mati-matian ia lindungi tega menghianatinya" dengan senyum miris Karin menyahut cerita singkat Juugo.
.
.
.
.
.
.
Disalah satu dahan pohon yang cukup besar terlihat seorang berambut pirang dengan tiga garis halus dimasing-masing pipinya tengan duduk bersandar pada dada bidang seorang pria berambut raven yang bersandar pada dahan pohon yang lebih besar. Menikmati belaian lembut dari tangan kekar sang raven pada perutnya yang mulai membuncit, pemuda pirang tersebut semakin menyamankan posisinya dalam dekapan pria raven dibelakangnya, sedangkan disalahsatu dahan pohon yang tidak jauh dari kedua pemuda tersebut, terlihat pemuda yang tengah menutup kedua matanya menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.
"Naruto," terdengar suara barithone yang berasal dari pemuda berambut raven yang masih mengelus perut buncit pemuda lain yang berada didekapannya.
"Hem..."
"Apa kau yakin ikut dengan ku dan Suigetsu mencari informasi dan Horcrux?"
"Aku yakin Teme"
"Bagaimana dengan kandunganmu? Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang bisa mencelakai kalian"
"Aku masih kuat Teme... lagian masih lima bulan sembilan hari menjelang kelahiran..."
"Sebentar lagi... aku akan menjadi ayah, terimaksih Naruto, terimakasih sudah membiarkan dia hidup dalam rahimmu,"
"Bicaramu aneh Teme..."
"Sungguh... aku benar-benar bahagia_"
"Diamlah... aku ngantuk, biarkan aku tidur sebentar untuk perjalanan nanti," ucap Naruto memutut omongan Sasuke.
.
.
Pagi hari setelah Sasuke membawa pulang Naru yang masih tertidur dalam gendongannya kini terlihat Naruto yang tengah menyiapkan keperluannya dalam pencarian nanti dan menyimpannya dalam gulungan penyimpan miliknya. Sedangkan Sasuke yang sudah menyiapkan perlengkapannya sejak semalam kini tengah menunggu Naruto dengan tenang sambil mengawasi si pirang disamping pintu kamar Naruto. Setelah selesai menyimpan semua gulungan di fuin yang ada pada lengannya dengan senyum secerah mentarinya Naruto menarik Sasuke keluar dari kamarnya dan menuju ke dapur untuk sarapan dan pamit pada pamannya.
"Apa kalian benar-benar akan berangkat sekarang?" Tanya Louwis yang merasakan kehadiran Naruto dan Sasuke.
"Iya paman, semakin cepat semakin baik, kami harap kami menemukan Lisyla dan Draco secepatnya," jawab Naruto sambil memakan roti yang sudah disiapkan oleh Louwis sebelumnya.
"Kami selesai paman, ayo Suigetsu! Juugo, Karin, tolong jaga paman dan yang lain yah... Kami berangkat"
Setelah pamit pada sang paman, akhirnya ketiga shinobi tersebut keluar dari mansion Namikaze.
'Merlin... tolong lindungi mereka...'
.
.
.
.
.
.
÷÷÷÷÷÷÷÷÷tbc÷÷÷÷÷÷÷÷
.
.
.
Huwe... maaf pendek... udah gitu up datenya lama lagi...
Tolong jangan beranggapan kalau est nelantarin Veei, Est punya alasan yang bisa mengugurkan(?) hal-hal negatif yang ada...
Oh... makasih juga sama minna-san yang mau menyempatkan review, fav atopun follow cerita est yang masih abal ini...¡_¡... #bungkuk badan 90°
- Drarry : gelang? Gelang apa? #pasang muka polos
- Iyeth620 ahahaha ... est juga ngak nyangka kalo ada yang suka, terimakasih infonya senpai...
- keSemutAnt : ahahaha... #garuk-kepala, maaf est baru bisa up date.
- Guest : un... udah lanjutkan...
- Blueonyx syiie : un... est berencana mempercepat perangnya, yang disiksa... siapa yah? Mau tahu? Baca terusya(!)
- Lee Ya 242 : belum kepikiran... tapi kalo udah mentok gak dapat nama bagus, yah est kasih nama Menma aja...
- Vilan616 : sama, est juga bingung... sampai-samai est susah ngejruntutin chap ini(?) #alasan. Yosh... GOOD NIGHT TO... Vilan-san...
akhir kata,,,, dadah...
