Last:
After Story
[KOOKV]
psst, tentu aku tidak akan meninggalkan kalian menggantung begitu saja (wink)
.
Taehyung menjemur helai pakaian terakhir. Di bawah terikan matahari, ia bersenandung mengingat-ingat alunan musik yang malam kemarin riuh berdendang dari pusat kota. Mulutnya mengulum senyum. Tepat tujuh tahun berlalu semenjak kepergiannya dari hiruk pikuk istana.
Ia melangkah kembali menuju rumah dengan ember kosong di pelukan. Surainya berkilau tertiup sepoian angin hutan. Betul, rumah atau lebih tepatnya gubuk tua Taehyung letaknya memang di pelosok. Ini tempat dulu Taehyung dengan keluarganya tinggal. Dia memutuskan untuk kembali pulang dengan harap kedua orangtuanya masih tinggal disini. Namun tentu saja, keduanya telah lama pergi setelah menukar Taehyung dengan sebongkah emas.
Selain karena tak punya tujuan lain, Taehyung memilih untuk kembali karena disini terdapat lahan yang dulunya sempat dipakai keluarganya untuk bertani. Lelaki itu hobi bertani sejak dulu, bedanya dengan sekarang ia lebih suka memupuk bunga.
Tujuh tahun berlalu. Ratusan kali pula Taehyung jatuh bangun mengangkat diri sendiri. Dimulai ketika hukuman cambuknya berakhir hingga dicap sebagai penyakit, diarak dan diasingkan tidak boleh datang ke pusat kota. Ia berusaha sekuat hati untuk tidak membunuh diri. Namun sebagai ganti, ia mengidap depresi bertahun-tahun.
Dahulu ia berpikir, setelah keluar dari kehidupan istana, dia akan jauh lebih bahagia. Akan tetapi harapan memang tak semulus kenyataan. Kalau sebatas dimaki dan dihina Taehyung pun sudah biasa. Nyatanya jauh dari seseorang yang dicintai lebih mematikan ketimbang apapun. Perasaan yang terlampau kuat tersebut kian menggerogoti lubuk hati. Makanya, dulu hampir setiap malam Taehyung selalu merengek dan menangis sendiri ditemani oleh sebuah api dari lampu teplok.
Tetapi sekarang sudah tidak lagi.
Taehyung sekarang bekerja menjadi buruh cuci dan petani bunga. Sudah puluhan pelanggan yang sebagian besar asalnya dari luar kota ia beri buket bunga pilihan paling cantik. Hidup perlahan membaik. Setidaknya ia telah dapat pergi ke pusat kota dengan menggunakan jubah bertudung.
Lelaki itu sedang memakai jubah hitamnya. Hendak pergi ke pusat kota untuk pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari. Jarak dari hutan menuju kota sedikit jauh. Perlu waktu setengah jam untuk sampai. Jadi Taehyung memasukkan sebuah apel dan air minum kalau-kalau kelaparan di tengah jalan.
Sampai di kota, ia melihat sebuah pawai yang tengah berlangsung. Ternyata Raja Jeon telah kembali dari perang setelah hampir setengah tahun sama sekali tidak menginjakkan kaki di negeri sendiri. Taehyung menyingkir bersamaan dengan ratusan rakyat lain yang berdiri di pinggiran jalan ingin menyambut kedatangan sang raja.
Seekor kuda berwarna hitam lewat. Taehyung grogi dan telah berkeringat dingin sedari tadi. Jari-jari tangannya sibuk meremas ujung kemeja. Akhirnya ia mendongak untuk menatap siapakah penunggang kuda yang gagah dan keren ini. Apakah penunggangnya juga sama gagahnya?
"Jungkook..?" Bisiknya pelan. Sang raja menoleh ke arah sumber suara. Taehyung reflek menurunkan pandangan dan bergegas pergi memisahkan diri dari keramaian.
Apa-apaan itu barusan? Padahal sebelum Taehyung berbisik, Raja Jeon dengan wajah datar cuek bebek hanya menatap ke arah depan tanpa peduli dengan sekitarnya. Mungkinkah dia mendengar Taehyung memanggil namanya? Lelaki itu terus berlari sambil memeluk bahan makanan di dekapannya. Jantung hatinya tak bisa berhenti berdegup kencang.
Taehyung berlari sekuat hati sampai tersandung dan tersungkur. Sifat cerobohnya tak berubah sedari dulu.
"Taehyung?!" Ia menoleh mendapati kakak kesayangannya telah turun dari kuda yang ditunggangi.
"Jimin-hyung!" Taehyung bangkit dan berlari ke arah Park Jimin. Jimin menyambutnya dengan kedua tangan terbuka, menangkap tubuh ramping adiknya tersebut. Senyuman terpatri di kedua wajahnya.
"Aku sangaat merindukanmu Tae.." katanya sambil mengecupi pipi sang adik. Taehyung masih tersenyum mengangguk.
"Kau habis dari mana Tae? aku baru saja ingin mengunjungi rumahmu.." Jimin menarik diri sambil merapihkan rambut cokelat Taehyung yang panjang sampai menutupi tengkuk lehernya. Raut wajah Taehyung berubah seketika.
"U-hm aku habis dari kota hyung.." Taehyung mengalihkan pandangan.
"Lalu?"
"Aku.. aku bertemu dengan T-Tuan, l-lalu Tuan menoleh ke arahku." Jimin mengangkat kedua alisnya. Dia menyingkirkan poni adiknya tersebut dan mengecup keningnya kemudian tersenyum.
"Jangan dipikirkan, anak itu memang terlalu sensitif terhadap suara bahkan suara orang bernafas pun bisa terdengar jelas di telinganya."
Taehyung mengangguk.
"Naiklah duluan ke atas. Aku menyusul setelah membersihkan kekacauan yang telah kau buat ini.." Jimin mencubit hidung Taehyung gemas. Taehyung hanya tertawa dan melangkah untuk menaiki kuda kesayangan Jimin.
Jimin menghela nafas selagi memungut sayur mayur dan buah-buahan di tanah.
'Matilah aku..'
Keesokan hari Jimin pulang setelah semalaman menghabiskan waktu bersama Taehyung. Bercerita, memberikan Taehyung banyak hadiah dan berbagi pelukan selagi tidur. Tetapi Taehyung merasa masih ada yang kurang. Yaitu kehadiran Yoongi-hyung dan Jin-hyung. Karenanya ketika kembali ia harus membawa kedua orang itu untuk ikut berkunjung.
Sepatu boots hitamnya berbunyi mengisi ruang dalam koridor. Struktural bangunan istana tak pernah benar-benar berubah. Sebagian besar masih terlihat sama seperti dahulu. Hanya saja banyak lukisan-lukisan di dinding yang telah diganti. Seperti sekarang, lukisan besar Raja Jeon Jungkook terpampang dengan gagah tepat di pertigaan ujung koridor.
Panjang umur, tiba-tiba datanglah Raja Jeon dengan wajah datar dari arah yang berlawanan dengan Jimin.
Jimin ingin sekali menghilang dari tempat saat itu juga.
Akhirnya ia bersikap sok-cool dan melangkah melewati Jungkook dengan santai. Ketika ia merasa semuanya berakhir baik-baik saja, lengannya ditarik dengan kuat. Untungnya dia punya reflek yang sangat bagus sehingga tidak ikut terbawa ke belakang.
"Kemarin kemana saja kau?"
"Mohon maaf Yang Mulia, tetapi itu bukan urusan anda." Jawabnya singkat selagi menghempaskan lengannya.
"Aku melihatnya kemarin."
"Maksud anda apa Tuan? Aku tidak mengerti."
"Tak usah berpura-pura lagi. Aku tahu apa yang kau sembunyikan dariku sejak lalu." Ketika Jimin ingin membuka mulutnya, Jungkook bicara lagi.
"Kalau kau tak mau memberitahuku, tidak apa. Akan kutemukan sendiri dimana Taehyung-ku berada."
"Percuma. Taehyung tak akan mau bertemu denganmu lagi."
"Kau tak berhak atas apapun!" bentak Jungkook pada Jimin.
"Begitu juga denganmu. Kau tak tahu apa-apa tentang Taehyung. Aku, hanya aku yang tahu dirinya lebih dari siapapun di dunia ini, jadi berhentilah sok tahu Tuan Raja Jeon Jungkook Yang paling Mulia." Kompor Jimin.
"Dan satu lagi, aku tak keberatan jika harus mati untuk melindungi adikku. Taehyung sudah cukup menderita selama ini."
Wajah sang raja sudah memerah menahan amarah. Buku tangannya memutih. Karenanya kini ia melampiaskan seluruh rasa amarahnya dengan cara meninju kaca besar yang terdapat di sebelah kirinya.
Prang!
Seketika kaca tersebut runtuh dan hancur berkeping-keping.
Dengan itu Jimin melenggang pergi dengan senyuman menang di wajah, meninggalkan Jungkook yang terengah dan membatu di tempat.
"Astaga hyung, kau harus tahu betapa menyeramkannya Jungkook tadi!" Jimin menenggelamkan wajahnya pada perut Yoongi. Yoongi menarik kedua alisnya sambil terus membelai rambut Jimin.
"Memangnya apa yang barusan kau lakukan?"
"Uh- aku hanya sedikit menggoda si tukang cemberut dan pemarah itu.."
"Menggoda bagaimana?"
Jimin menceritakan segala yang terjadi barusan. Yoongi terkekeh. Anak itu setelah ditinggal Taehyung jadi semakin tempramen dan pemarah. Terlebih sekarang Jungkook betul-betul hampir tak pernah tersenyum atau menunjukkan emosi selain marah. Kecuali di depan ketiga anaknya.
Yoongi menghela nafas.
"Hati-hati saja, Jungkook itu betul-betul orang yang sangat berambisi. Sekali dia mengatakan sesuatu, pasti akan dipenuhi betul-betul." Jimin mengangguk.
"Tetapi, kalau memang begitu, kenapa tidak sedari dulu saja ia cari Taehyung?" Yoongi mengedikkan bahu.
"Entahlah. Kurasa ia menunggu waktu yang tepat?" Jimin mengangguk lagi. Kemudian merangkak ke atas dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher kekasihnya.
"Aku sangaat merindukanmu hyung.. kau tak tahu bagaimana rasanya enam bulan terakhir ini aku harus tidur sendiri bersama dengan bau-bau ketek para tentara lain.."
Yoongi kembali terkekeh dan tersenyum kemudian memeluk balik Jimin.
"Oh satu lagi! Taehyung bilang dia juga sangat merindukanmu dan Jin-hyung. Dia betul-betul mengharapkan kehadiranmu ketika aku mengunjunginya lagi." Yoongi tersenyum lagi ketika mendengar adik kesayangannya merindukan dirinya pula.
Sebulan dua bulan Jungkook berusaha keras mencari tahu keberadaan Taehyung tanpa bantuan sama sekali dari Jimin. Kerap kali Jimin melihat Jungkook mabuk sendirian di ruang kerja sambil membaca berulang kali surat terakhir yang diberikan oleh Taehyung. Kadang-kadang dia mabuk ditemani oleh Namjoon yang sama tak bisa berbuat apa-apa selain mendengarkan seluruh ocehan dari sang raja.
Jimin merasa iba. Dengan mendiskusikannya terlebih dahulu dengan kekasihnya, Namjoon dan Jin-hyung, mereka sepakat untuk memberi tahu dimana keberadaan Taehyung setelah tujuh tahun lamanya. Atas izin dan sepengetahuan Taehyung sendiri, tentunya. Awalnya memang Taehyung menolak tetapi keempat orang yang sudah ia anggap sebagai keluarga dan saudara ini berhasil meyakinkan untuk kembali memperbaiki segalanya.
Lelaki itu melangkah menuju ruang kerja sang raja. Mengetuk dan masuk ke dalam. Ia menghela nafas. Mendapati meja kerjanya dipenuhi kertas-kertas berserakkan.
Jimin melangkah masuk memungut sebuah kertas dari meja kerjanya. Nyatanya itu sketsa wajah Taehyung yang tengah tersenyum sambil memegang setangkai bunga.
Jungkook tiba-tiba membuka mata, ketus bertanya "Mau apa datang kesini?"
"Woah, kalem nak!" Jimin menaruh kedua tangan di depan dadanya sebagai bentuk defensi.
"Katakan saja apa yang kau inginkan dan lekas pergi." Jungkook membetulkan duduknya dan bersedekap. Menatap Jimin datar, seperti biasa.
Jimin menghela nafas, melempar gulungan kertas ke arahnya yang tentu ditangkap dengan baik oleh Jungkook. Sang raja langsung membuka gulungan tersebut. Lantas pria itu membulatkan mata.
"Pukul sepuluh nanti jangan sampai telat." Jimin berbalik pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Jungkook masih membeku tak percaya. Akhirnya. Akhirnya, momen ini datang juga. Jungkook berkali-kali mengucap syukur kepada Tuhan.
Hari ini sungguh dia akan berdandan dengan sangat rapi dan tampan.
Di sisi lain, Taehyung mulai menyisir surai cokelat gondrongnya dengan lembut. Sekarang hampir pukul setengah sepuluh pagi. Lelaki itu memakai kemeja putih gombrong yang paling bersih, celana cokelat tua sepergelangan kaki dan sepatu pantofel usangnya. Ia mulai menyemprotkan parfum yang dibuat sendiri menggunakan bunga hasil tanian.
Ia melihat refleksi wajahnya sendiri melalui kaca kecil di tangannya. Menghela nafas dan tersenyum. Taehyung bangkit beranjak keluar rumah untuk menyirami peliharaannya. Tak lupa memakai topi jerami untuk melindungi dari panas matahari. Taehyung benar-benar terlihat manis hari ini.
Lelaki itu berjalan mengambil sebuah gembor berwarna hijau dari belakang rumah kemudian mengisinya dengan air bersih. Ia mulai menyirami perkebunan bunganya dengan telaten selagi bersenandung. Sesekali ia ajak bicara bunga-bunga cantiknya tersebut.
Beberapa saat kemudian terdengarlah suara ketukan kaki kuda. Namun sayangnya ia terlalu fokus menyirami bunga-bunga itu sehingga tak begitu peduli dengan sekitarnya.
Jungkook melongo. Tatapannya terus terpaku kepada sesosok manusia yang sedang berdiri di kelilingi mawar merah. Cantik. Oh tuhan, cantik sekali.
Kakinya terus melangkah mendekati sang dewi. Gila. Tak aneh apabila Jungkook tergila-gila sampai saat ini.
"Taehyung?" Taehyung diam menghentikan aktivitasnya. Ia menoleh, menatap wajah seseorang yang ia rindukan bertahun-tahun. Jeon Jungkook tengah berdiri dengan kemeja putih dilipat selengan, membalut seluruh otot atletisnya yang dengan rapih dimasukkan ke dalam celana. Rambutnya ditata rapih menampakkan kening serta alis tebal. Jungkook tak kalah menawan hari ini.
"Tuan.." Taehyung menjatuhkan gembor hijaunya kemudian mulai menangis. Jungkook yang melihat pujaan hatinya menangis pun melangkah dengan cepat lantas memeluk erat tubuhnya.
"Ssh sayangku…" Jungkook dengan suara selembut angin yang meniup keduanya berusaha menenangkan kekasihnya.
"Kookie… m-maaf-" Taehyung sesenggukan melingkarkan kedua lengannya pada leher Jungkook. Sang raja semakin erat memeluk punggung serta pinggangnya.
"Sayang.. jangan meminta maaf. Kau tidak melakukan apapun yang salah, aku mengerti.." Jungkook terus membelai rambutnya lembut.
Setelah beberapa saat berpelukan di tengah kebun, Jungkook menarik diri. Mengusap wajah Taehyung yang telah dibasahi oleh butiran air mata dengan kedua ibu jarinya.
"Aku sangat mencintaimu, Kim Taehyung.." Jungkook membelai pipi kanan Taehyung. Taehyung menutup kedua mata, menggesekkan wajahnya pada telapak tangan Jungkook yang kontras dengan permukaan kulit halusnya, merasakan kehangatan yang selama ini selalu ia cari dan rindukan.
"Aku.. aku juga tuan. Aku mencintaimu juga." Jungkook tersenyum begitu manis.
Ia memperhatikan seluruh detail wajah kesayangannya tersebut. Kelepasan, Jungkook berbisik, namun cukup untuk didengar oleh Taehyung.
"Manisnya.."
Taehyung merekah tersipu malu. Kedua netra kakaonya ia lemparkan ke arah lain. Jungkook tentu tidak suka. Lantas meraih dagu lelaki yang lebih tua darinya tersebut mengangkatnya naik.
"Tatap aku sayang.." Taehyung malu-malu menaikkan pandangannya lagi. Jungkook bergerak semakin dekat menutup celah di antara keduanya. Taehyung perlahan menutup kedua mata.
Cup!
Akhirnya kedua bibir jadi satu. Jungkook mencium bibir ranum Taehyung dengan lembut. Tak ada nafsu apalagi paksaan. Murni cium tulus dan sayang. Taehyung tersenyum dalam kecupannya. Semakin memperdalam ciuman tersebut dengan mengeratkan pegangannya pada leher sang raja. Jungkook menahan beban tubuh Taehyung dengan sebelah tangan yang ia eratkan pada pinggang.
Keduanya melepas tautan. Menempelkan keningnya masing-masing sambil tersenyum.
Hari ini merupakan hari yang sangat cerah bagi pasangan ini setelah bertahun-tahun kedua hati ditutupi awan kelabu.
Fin
Halo semua!
Akhirnya cerita ini resmi selesai setelah setahun lebih terpublikasi di ffn...
aku mau mengucap banyak terima kasih kepada teman-teman pembaca setia maupun yang hanya mampir sebentar, terutama yang sudah mensupport aku dengan cara mengirim review,memfavorit cerita ini serta mem-follow juga. tanpa dukungan kalian aku nggak akan bisa menyelesaikan cerita ini di tengah kesibukanku yang betul-betul.. ah sudahlah tidak usah dibicarakan.
pokoknya kalian terbaikk (love) (love)
akhir kata aku kembali mengucap banyak terima kasih dan kalau tertarik silakan baca cerita-ceritaku yang lainnyaa..
Terima kasih!
Jadenumb,
30 September 2017 - 18 November 2018
