137darkpinku Present

KYUMIN FANFICTION

.

Eloquent Silence

.

Warning : Genderswitch , Typo(s) , kosa kata yang berantakan

Disclaimer : Remake Novel karya Sandra Brown dengan judul yang sama.

.

Don't Like? Just Don't Read ^^

.

.

enJOY it !

.

.


Bab Sebelas

Sungmin menatap ayahnya, mencerna makna kata-katanya.

Kyuhyun berdiri di dekatnya. Sungmin nyaris dapat merasakan tatapan matanya di puncak kepalanya. Ayahnya menunggu tanggapannya. Dia tertawa gugup dan berkata, "Ayah, itu tidak perlu."

"Aku tahu, Sungmin, tapi tolong penuhi permintaanku. Ibumu dan aku tidak senang kau menikahi orang yang tidak pernah kami jumpai dalam upacara di catatan sipil yang dingin. Ketika pernikahanmu ternyata begitu tidak membahagiakanmu dan jangan coba-coba bilang sebaliknya, aku tahu yang sebenarnya kami merasa bertanggung jawab sebab tidak lebih mendekatkan diri dengan kau dan suamimu. Kali ini, aku ingin jadi bagian dari pernikahanmu, keluargamu."

Tatapan matanya melunak, dan dia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan anaknya yang terasa dingin. "Sejak dulu aku amat sangat berharap dapat menikahkan kau dan juga menikahkan Kibum. Aku memimpin upacara pernikahan Kibum, ingat?" Tenggorokan Sungmin serasa tercekik ketika dia mengangguk.

"Kumohon izinkan aku memimpin upacara pernikahanmu dengan Kyuhyun."

Sungmin mencoba bicara, tapi dadanya terlalu sesak, air mata memburamkan pandangannya. Betapa bencinya dia menipu pria baik hati dan penyayang yang telah memberinya kehidupan dan selalu menginginkannya bahagia. Dia membuka mulut untuk memberitahukan yang sebenarnya, namun bibirnya terasa kaku dan tidak bisa digerakkan.

Dia merasakan dukungan kuat lengan Kyuhyun ketika pria itu merangkul bahunya. "Kami akan merasa tersanjung, Abeoji. Aku bicara atas nama kami berdua."

"Bagus. Bagus," kata Yunho, menggenggam kedua tangan Kyuhyun dengan penuh perasaan. Mata kelabunya bersinar gembira. "Biar kuberitahu Ibu. Dia pasti akan senang sekali. Kami akan menunggu kalian di bawah."

Dia cepat-cepat keluar dari kamar dan menutup pintu.

Tidak jelas siapa yang memulai, tapi Sungmin tiba-tiba sudah berada dalam pelukan Kyuhyun, wajahnya tersembunyi di lekuk bahu pria itu. Semua perasaan frustrasi, marah, dan bersalah tertumpah dalam tangisan deras sampai bagian depan kemeja pria itu basah karenanya.

Kyuhyun tidak berkata apa-apa, melainkan terus memberinya dukungan dan hiburan. Mengusap-usap rambutnya dan menepuk-nepuk punggungnya, dia menunggu sampai air mata Sungmin kering dan wanita itu bersandar padanya, kelelahan dan putus asa.

Kata-katanya tidak jelas ketika dia bicara, dan Kyuhyun menunduk supaya bisa mendengarnya. "Aku orang paling munafik sedunia. Aku mencercamu karena kebohonganmu, tapi ternyata aku malah mempertahankannya dengan segala yang kulakukan."

Sungmin terisak keras. "Aku tidak sanggup melukai hatinya."

"Terserah kau mau percaya omonganku ini atau tidak, dan aku ragu kau mau, tapi aku juga tidak ingin melihat mereka kecewa gara-gara aku. Waktu kulihat kau berusaha memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya padanya, aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Aku harus ikut campur."

Dengan lembut didorongnya Sungmin, dan dihapusnya air mata yang membasahi pipinya. "Mari kita jalani upacara pernikahan ini dengan tenang. Kita tahu pernikahan ini tidak berarti apa-apa. Pernikahan ini tidak sah. Nanti kita cari jalan untuk memberi tahu mereka."

Dia melihat kilatan marah di mata wanita itu dan menebak sebabnya. "Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku juga akan ikut bertanggung jawab. Sekarang, cucilah mukamu. Mereka sudah menunggu kita." Dia mencium sekilas kening Sungmin sebelum wanita itu pergi untuk membersihkan muka.

.

.

.

"Dengan ini kunyatakan kalian sebagai suami-istri. Apa yang telah disatukan Tuhan, tidak boleh dipisahkan manusia." Yunho mengucapkan kata-kata yang, jika saja pernikahan ini sah, akan menyatukan hidupnya dengan Kyuhyun. "Kau boleh mencium mempelaimu, Nak."

Kyuhyun memegang bahu Sungmin dan memutarnya ke arahnya. Matanya menjelajahi wajah wanita itu, berusaha membacanya sebelum menunduk dan mencium mesra bibirnya. Ciumannya sebentar, tapi penuh perasaan, dan Sungmin merasakan efeknya di sekujur tubuhnya.

Mereka dikelilingi Yunho dan Jaejoong, juga Ryeowook dan ketiga anak-anak, yang diminta Jaejoong supaya hadir juga.

Dia menelepon Ryeowook dan mengundangnya datang ke upacara ini. Ryeowook menangis selama upacara singkat ini, namun anak-anak berdiri tenang, mendengarkan dengan terpesona dan mengamati tangan Yunho ketika pria itu dengan hikmat mengisyaratkan kata-katanya untuk Minhyun. Sungmin dan Kyuhyun pun menggunakan bahasa isyarat untuk janji perkawinan mereka.

Di lain waktu, Sungmin pasti menganggap ini upacara pernikahan paling indah. Meskipun tempat dan pakaiannya bukan seperti dalam upacara konvensional, dia tahu bahwa ketika mengucapkan janji perkawinan pada Kyuhyun, dia bersungguh-sungguh. Kesadaran itu sangat menyentuh. Pada pria itu dia menjanjikan cintanya dan kesetiaan lahir maupun batin, dan itu bukan karena para saksi mengharapkan dia mengucapkan kata-kata yang tepat. Dia mengucapkannya karena ingin mengatakannya pada Kyuhyun dan memberitahu pria itu bahwa dia serius.

Kerinduan mendalam, tak tertahankan, dan menyenangkan yang dirasakannya terhadap Kyuhyun ini pasti cinta. Cinta. Ya, dia mencintai Kyuhyun. Dia mengetahui kelemahan-kelemahan pria itu, dan mengenal temperamennya, tapi semua itu tidak mengubah perasaannya. Kyuhyun bisa membuatnya sangat marah, tapi dia tetap mencintainya.

Semua ini sia-sia, Sungmin memperingatkan dirinya. Karena Kyuhyun pernah mencintai seseorang, cintanya dalam dan abadi, dan tak ada tempat di hatinya bagi wanita lain selain mendiang istrinya. Dia jujur pada Sungmin, Sungmin tidak bisa berbuat lain. Dia mengakui cintanya, jika bukan pada pria itu, maka pada dirinya sendiri.

Kyuhyun mencium pipi Ryeowook sekilas, dan wanita itu pura-pura akan pingsan. Lalu Kyuhyun tertawa dan memeluk Jaejoong, bersalaman dengan Yunho yang menepuk-nepuk punggungnya. Dia berlutut dan menggendong Minhyun, menggelitik pipi gadis kecil itu dengan hidungnya, perbuatan yang selalu membuat si anak mengikik.

Orang-orang pasti percaya ini acara gembira bagi semua orang sampai mereka melihat wajah mempelai wanita.

Wajahnya pucat, dan berkali-kali sekujur tubuhnya bergetar, seolah berusaha keras menahan emosi.

Tak berapa lama kemudian suami-istri Lee berangkat. Tas-tas mereka sudah dimasukkan ke bagasi mobil sewaan, dan mereka berdiri di teras depan untuk mengucapkan salam perpisahan. Mata Jaejoong berkaca-kaca waktu dia mencium Minhyun, yang membalas ciumannya tanpa malu-malu. Sungmin memeluk orangtuanya satu per satu, begitu erat seolah mereka pelampung yang dapat menyelamatkannya.

Setelah masuk mobil dan meluncur di jalan masuk yang curam, mereka melambai dan berseru-seru mengucapkan salam perpisahan dan janji untuk menelepon dan mengirim surat. Selama itu Kyuhyun berdiri di samping Sungmin, berperan sebagai suami penuh cinta. Di tangan yang satu lagi dia menggendong Minhyun. Tangan yang lain memeluk pinggang Sungmin.

.

.

.

"Wah, hari yang luar biasa, Minhyun," kata Kyuhyun sambil menghela napas, menjatuhkan diri ke sofa dan memangku anaknya. "Sungmin, jangan masak apa-apa untuk makan malam. Kita makan seadanya saja malam ini. Aku tahu kau pasti lelah juga."

"Baiklah, Kyuhyun. Biar kusiapkan dulu beberapa makanan." Sungmin masuk ke dapur cepat-cepat. Kenapa dia mendadak gelisah berada seruangan dengan pria itu?

Setelah mereka menikmati makanan seadanya, Minhyun dimandikan dan dibaringkan di tempat tidur. Anak itu kecapekan karena berbagai peristiwa hari ini. Ia sudah mulai menampakkan kelelahannya saat makan tadi, ketika dia jadi gampang marah.

Sungmin lega ketika anak yang sedang rewel itu akhirnya tidur. Dia kembali ke dapur untuk mencuci piring, tapi melihat Kyuhyun telah mendahuluinya. Pekerjaan itu sudah hampir selesai.

"Mestinya kau tidak usah repot-repot begitu, Kyuhyun. Aku pasti akan membereskan semua ini."

Pria itu tersenyum sambil menoleh. "Kau kan harus mengurus Minhyun. Aku memilih pekerjaan yang gampang."

"Dia kecapekan. Tidak biasanya dia bandel begitu, terutama kalau ada kau. Kuharap dia tidak sakit."

Kyuhyun tertawa ketika mendatanginya dan memeluknya. "Omonganmu persis omongan seorang ibu," bisiknya serak di rambut Sungmin.

"Oh, ya?" Sungmin bertanya tak acuh, lalu menjauh dari pria itu dan pergi untuk minum. Ia pura-pura sibuk ketika mengisi gelas dengan air dan meminumnya.

Kyuhyun tak gentar dengan sikap dingin wanita itu dan mendekatinya dari belakang, menopangkan tubuhnya di permukaan konter dengan meletakkan kedua tangannya di kiri dan kanan Sungmin. Dengan hidungnya disibakkannya rambut di leher wanita itu dan mulai menggodanya dengan gigitan-gigitan mesra.

"Kyuhyun—"

"Ini lembut sekali," gumam Kyuhyun.

Perasaan nikmat menyambar sekujur tubuh Sungmin ketika dia merasakan ujung lidah pria itu membelai bagian belakang telinganya.

"Kumohon, Kyuhyun—" Dia berusaha berbalik, dan pria itu mengizinkannya cuma supaya mereka berhadap-hadapan.

Sekarang bokong Sungmin menekan konter, dan Kyuhyun memenjarakannya dengan tubuh tegapnya.

Pria itu meraih tangan Sungmin dan meletakkannya di dadanya, menekan telapak tangannya sampai Sungmin bisa merasakan debar jantungnya, dan kehangatan yang memancar dari kulitnya di balik kemeja.

"Sungmin, tahukah kau bahwa dalam masyarakat tertentu suatu pernikahan tidak dianggap sah kalau pasangan itu tidak menikah di gereja dan diberkati Tuhan? Kalau begitu kita sudah menikah. Upacara formal sering tidak ada artinya."

Tangannya menyisir rambut Sungmin. Kyuhyun menghentikan jari-jarinya di kulit kepala wanita itu dan memijat pelipisnya dengan ibu jari dengan ritme yang membuatnya terbuai.

Mulai dari kening, dia mencium Sungmin lembut sebelum bergerak di atas kelopak matanya yang terpejam menuju pipi. Setiap ciuman perlahan dan penuh perasaan, seakan dia ingin melekatkan bibirnya di kulit wanita itu.

Dia menempelkan bibirnya di bibir Sungmin, menggodanya, memikatnya, sebelum betul-betul menciumnya. Kyuhyun menggesekkan tubuhnya ke tubuh wanita itu. Secara fisik jelas ciumannya cuma melambangkan sebagian kecil gairah yang menggelegak dalam dirinya, untuk memiliki Sungmin secara total.

Kaki Sungmin tak berdaya karena perangkap tubuh Kyuhyun, otot-ototnya seakan lumer. Namun lengannya terasa bertenaga ketika dia menyusuri dada pria itu dan memeluk lehernya. Dia bergerak makin dekat, merasakan tubuh keras pria itu kontras dengan kontur lembut tubuhnya sendiri. Sekali lagi dia jadi menyadari betapa serasinya tubuh mereka, tubuh jantan Kyuhyun berpadu dengan tubuh feminimnya.

"Sungmin," kata Kyuhyun parau, "kau membuatku berada di antara surga dan neraka. Tapi aku berani bersumpah bahwa neraka ini lebih nikmat dari apa pun yang pernah kuketahui." Diciumnya leher Sungmin, tapi wanita itu tidak melawan, menyerah pada bibir, gigi, dan lidah Kyuhyun, yang seakan lebih mengetahui tubuhnya daripada Sungmin sendiri. Dia tidak mencari titik-titik yang sensitif, melainkan tahu secara instingstif dan langsung menyerangnya dengan gairah yang tak ada habis-habisnya.

Sungmin bisa menjadi istrinya dalam setiap arti kata itu. Dia ingin menjadi istrinya, dan dalam hati dia sudah menjadi istrinya. Secara moral perasaannya tanpa beban. Di hadapan Tuhan dan pendeta yang berhak menikahkan, dia telah menjanjikan hidup dan cintanya pada pria ini.

Tidak ada yang dapat menggoyahkan keyakinannya bahwa janji-janji yang diberikannya pada pria ini sahih dan mengikat.

Namun Kyuhyun tidak memberikan janji-janji seperti itu.

Dia mengucapkan kata-kata puitis itu, mengulangi kalimat-kalimat familier itu, tapi semua itu tidak berasal dari hatinya. Untuk melindungi Sungmin dan karena menghormati orangtuanya, Kyuhyun memainkan perannya dan melakukannya dengan meyakinkan. Tapi Sungmin tahu motivasinya, yang jelas bukan cinta. Cintanya telah hilang, terkubur, dan Sungmin tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubahnya.

Kyuhyun membutuhkannya sekarang. Dia dapat merasakan keputusasaan dalam cara pria itu memeluknya. Ciumannya yang panas mengindikasikan gairahnya. Jika dia mau bercinta dengannya sekarang, berapa lama gairah itu akan sanggup bertahan? Berapa lama sebelum Kyuhyun menarik diri ke dalam dunianya sendiri seperti Jungmo dulu? Ketika dia membutuhkan cinta Kyuhyun untuk mengobati lukanya, apakah pria itu akan memberikannya? Dia tidak mau mengambil risiko. Lebih baik dia hidup tanpa cintanya sama sekali daripada cuma memperoleh jiplakannya.

Kyuhyun butuh waktu beberapa detik untuk menyadari bahwa gerakan-gerakan Sungmin bukan karena gairah.

Wanita itu memberontak. Dia begitu kaget sehingga segera membebaskannya. Sungmin mendorongnya dan berlari keluar ruangan. Ketika wanita itu sudah menaiki setengah tangga, Kyuhyun memanggilnya.

Suaranya lembut, tapi justru jadi lebih berpengaruh. "Sungmin."

Sungmin langsung berhenti. Dia tidak berbalik. Jika dia melihat pria itu, tekadnya pasti akan buyar. Sekarang pun, kalau saja Kyuhyun mengatakan bahwa dia mencintainya, dia akan terbang ke pelukan pria itu dan menemukan akhir dari siksaan yang mencengkeramnya ini. Katakan kau mencintaiku! jeritnya dalam hati.

"Sungmin-" Kyuhyun tidak melanjutkan kalimatnya dan tampak ragu-ragu. Akhirnya dia cuma mengatakan

"Selamat malam", hingga membuat Sungmin kesal sekali.

.

.

.

Sesuatu membangunkan Sungmin. Dia tersadar dari tidur nyenyak karena instingnya memberitahu ada yang tidak beres. Memasang telinga sebentar, dia tidak mendengar sesuatu yang bisa membangunkannya, meskipun begitu dia tetap menyibakkan selimut dan turun dari tempat tidur. Mantelnya tergeletak di kursi, dan dia memakainya sebelum melangkah ke koridor gelap.

Yang pertama dipikirkannya adalah Minhyun. Dia pergi ke pintu kamar gadis kecil itu. Tempat tidurnya kosong. Sungmin menahan panik yang melandanya dan melintasi kamar menuju kamar mandi di sebelahnya. Minhyun tidak ada juga di sana.

Sungmin menuruni tangga, dengan tersandung-sandung karena menginjak ujung mantel, untuk memeriksa kamar-kamar di lantai dasar. Tidak ada Minhyun.

Berpikir, berharap, anak itu bangun karena haus atau ingin makan kue, dia pergi ke dapur dan menyalakan lampu. Minhyun tidak ada di ruangan itu, tapi pintu belakang terbuka lebar, memasukkan udara malam yang dingin. Jantung Sungmin bagai berhenti berdetak.

Diculik!

Itulah pikiran yang langsung muncul di benaknya. Kyuhyun selebriti. Dia dan anaknya merupakan sasaran sempurna bagi orang sinting yang mencari kekayaan atau ketenaran seketika.

Keinginan pertamanya adalah berlari ke luar dan menemukan sendiri anak itu, namun di tengah ruangan dia berhenti. Bagaimana kalau mereka masih ada di luar sana? Mereka bisa mengalahkannya. Di luar gelap dan dingin. Dia tak bersenjata.

Dia berlari ke kamar Kyuhyun dan tanpa ragu memegang bahu telanjang pria itu dan mengguncangnya.

"Kyuhyun, bangun." Suaranyakah itu yang bergetar ketakutan? Kedengarannya mirip isakan. "Kyuhyun, kumohon bangunlah."

Pria itu langsung duduk tegak dan memandangnya dengan tatapan liar, kosong, dan kaget seperti layaknya orang yang mendadak dibangunkan. "Sungmin? A-ada apa?"

"Minhyun. Dia tidak ada. Aku terbangun, mendengar sesuatu, kurasa pintu belakang. Kupikir, barangkali penculik-"

Dia tergagap-gagap dan omongannya tak jelas, namun Kyuhyun tahu wanita itu ketakutan, dan dia cukup memahami kata-katanya sehingga bisa menebak sisanya.

Kyuhyun menendang selimut dan berlari meninggalkan tempat tidur dengan gerakan sigap bak binatang.

Ia menyambar mantel dari cantelan di belakang pintu dan buru-buru mengenakannya sambil bergegas menyusul Sungmin, yang sudah kembali ke dapur.

Dia langsung pergi ke pintu dan memandang kegelapan pekat di luar. "Kita telepon polisi?" tanya Sungmin gemetar sambil meremas-remas tangan. "Kyuhyun, apa-" Dia tidak sanggup melanjutkan. Dia menangis tersedu-sedu.

"Tenanglah, Sungmin. Tidak ada gunanya histeris. Ya, telepon polisi. Aku akan ke gudang di luar dan mengambil senter-"

"Tapi mereka mungkin saja masih di luar sana. Oh, Kyuhyun, tidak-"

"Siapa 'mereka'? Kita bahkan tidak tahu apa yang terjadi. Tapi demi Tuhan aku bersumpah kalau terjadi apa-apa pada Minhyun, akan kubunuh-"

"Kalian berdua mencari si Pengelana Malam?" kedua orang panik yang berdiri di tengah ruangan itu menoleh dan ternganga memandang Ryeowook, yang menggendong Minhyun.

"Oh, Tuhan," kata Sungmin, menutup mulut dengan tangan karena lega, lalu cepat-cepat mengambil anak itu dari pelukan Ryeowook. Didekapnya Minhyun dan dibuainya, masih tidak percaya dia sudah pulang dalam keadaan selamat.

"Apa yang terjadi?" tanya Kyuhyun, dan Sungmin mendengar suara pria itu bergetar. Kyuhyun memegang punggung Minhyun dengan sikap melindungi.

"Aku sedang tidur nyenyak," Ryeowook menjelaskan, "ketika mendengar ada orang di pintu belakang. Tentu saja, aku langsung mengira itu pasti pencuri atau pemerkosa dan nyaris panik. Aku takkan pernah bisa membiasakan diri dengan Yesung yang selalu pergi dan aku harus sendirian."

Mata bulatnya lalu kembali ke dada telanjang Kyuhyun yang amat menggoda, yang kelihatan karena bagian leher mantelnya rendah.

"Yah, begitulah," Ryeowook melanjutkan, "kuputuskan bahwa pemerkosa itu tidak terlalu pandai karena dia ribut sekali waktu berusaha membuka pintu. Kurasa aku lebih penasaran daripada takut. Aku pergi ke dapur dan mengintip ke luar jendela. Minhyun berdiri di tangga, mencoba membuka pintu. Ketika kusilakan masuk, dia langsung ke kamar Ryeosung. Tadi siang dia meninggalkan Bunny di sana. Setelah memperoleh apa yang diinginkannya, dia berjalan pulang. Kupikir sebaiknya kutemani dia dan memastikan anak itu sampai di sini dengan selamat. Bisa kalian bayangkan bandit kecil ini keluar sendirian tengah malam tanpa seizin kalian?"

"Dia lelah sekali ketika tidur, sehingga mungkin tidak merasa kehilangan Bunny. Ketika terbangun tengah malam dan menyadari boneka itu tidak ada, dia pergi untuk mengambilnya." Sungmin meneruskan cerita itu. Dia tersenyum pada Minhyun, yang memeluk Bunny dan menguap. Sungmin menyibakkan helai-helai rambut ikalnya dari pipi ketika menciumnya.

Kyuhyun meraih anaknya dan mengangkatnya ke depannya, sementara dia berjongkok. "Minhyun, kau nakal sekali!" dia mengisyaratkan dengan tegas untuk menekankan maksud omongannya. "Jangan pernah pergi tanpa seizin aku atau Sungmin. Kami jadi-" Dia tidak tahu bahasa isyarat takut dan memandang Sungmin untuk meminta pertolongannya. Sungmin memberitahukannya dan dia melanjutkan, "Kami jadi takut dan sedih. Kami tidak tahu kau ada di mana. Kalau kau pergi tanpa izin lagi, aku terpaksa harus memukulmu."

Bibir bawah Minhyun mulai bergetar, dan dia tahu ayahnya tidak main-main. Lalu tangan Kyuhyun merangkulnya dan pria itu memeluknya erat-erat, memejamkan mata karena ngeri memikirkan kejadian-kejadian buruk yang bisa menimpa Minhyun. Tangan Minhyun memeluk lehernya, meskipun dia tetap memegang Bunny kuat-kuat. Kyuhyun mengangkatnya dan mereka berjalan keluar dapur.

"Terima kasih, Ryeowook. Tidak bisa kukatakan betapa leganya aku melihatmu bersamanya. Aku baru saja membangunkan Kyuhyun, dan kami tadi sudah membayangkan yang tidak-tidak." Sungmin berterima kasih pada tetangganya itu tapi sedang tidak ingin mendengar celotehan Ryeowook.

"Aku harus pulang. Selamat malam. Kembalilah ke keluargamu di atas." Dia menyentuh lengan Sungmin untuk menenangkannya dan bergegas keluar lewat pintu belakang. Sungmin menguncinya. Ketakutannya masih belum hilang.

Di kamar Minhyun, Kyuhyun duduk di tepi tempat tidurnya, mengusap-usap kening anaknya, walaupun gadis kecil itu sudah tidur pulas. Digenggamnya tangan Sungmin ketika wanita itu membungkuk dan mencium Minhyun.

Mereka meninggalkan kamar itu bersama-sama. Ketika mereka sampai di koridor, Kyuhyun berkomentar, "Kau gemetar."

"Aku tidak tahu apakah karena dingin atau takut."

"Kau mau segelas anggur?"

"Tidak, aku akan baik-baik saja," katanya waktu mereka tiba di depan pintu kamar tidur utama. Dia mendongak dan tersenyum, tapi senyumnya memudar waktu melihat kerinduan yang tampak jelas di wajah pria itu, yang terlalu memikat untuk diabaikan. Mereka saling berhadapan dan lama berpandang-pandangan.

Kyuhyun tidak menyentuhnya, tapi memang tidak perlu. Sungmin sangat menyadari keberadaan tubuh pria itu, yang tampak seperti tertarik ke arahnya, walaupun Kyuhyun tidak bergerak. Bagai magnet yang kutubnya berlawanan, mereka saling mendekat. Hasrat naluriah yang tak bisa dibantah mereka, merupakan kekuatan dan datang begitu mendadak hingga tak bisa dilawan.

Ketika akhirnya bergerak bersama, mereka berpelukan erat, menyatu karena takut dipisahkan.

Sungmin tidak melawan waktu Kyuhyun menggendong dan membawanya ke kamar, dan membaringkannya dengan lembut di atas bantal. Dengan sigap Kyuhyun melepas mantel dan pakaian dalamnya. Telanjang bulat ia berbaring di samping Sungmin, dan dengan gerakan sensual bagai dewa purba melaksanakan upacara cinta itu.

"Sungmin, jangan bicara. Jangan berpikir. Kumohon, jangan berpikir. Rasakan saja. Rasakan."

Tangannya menyusuri kembali lekuk-lekuk tubuh Sungmin.

Kyuhyun tidak terburu-buru, pelan-pelan ia membuka mantel Sungmin. Tapi dia ingin melihat dan mengetahui semuanya. Disibakkannya mantel itu, diangkatnya bahu Sungmin ketika melepaskannya dari tubuhnya.

Ditariknya wanita itu dan dipeluknya dengan penuh perasaan. Mulutnya mencium sementara tangannya membelai, menggoda, membangkitkan kenikmatan di tubuh Sungmin.

Bahu, dada, dan perut Sungmin mengenali sentuhannya dan menikmatinya. Kyuhyun menghujani dada Sungmin dengan ciuman-ciuman panas. Kemudian dengan sentuhannya, Kyuhyun mendapati Sungmin telah siap menyambutnya.

Sentuhannya sangat lembut dan begitu intim sehingga Sungmin tersentak lalu mencengkeram bahu Kyuhyun karena merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya.

"Sungmin. Kau wanita... cantik... yang diciptakan untukku."

Ucapannya terputus-putus. Tapi kalaupun dia tidak bicara, Sungmin bisa mengetahui apa yang dipikirkannya.

Bibir Kyuhyun yang membelai dan sentuhannya yang luar biasa sudah mengatakan semua yang perlu diketahuinya.

Kata-kata Jungmo terngiang. Sungmin tidak pernah membuatnya senang. Sekarang dia sadar bahwa dulu dia tidak peduli sehingga tidak ingin memberi suaminya itu kenikmatan. Tapi sekarang dia ingin membuat tubuh Kyuhyun merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan tubuhnya.

Tangannya menjelajahi tubuh tegap itu, memijat otot-otot di bawah tangannya. Disingkirkannya perasaan malu dan segan dan disentuhnya pria itu, dibelainya.

"Sungmin... ya, Sayang. Kenalilah aku," kata Kyuhyun sambil menahan napas ketika membenamkan kepala di leher Sungmin dan mencengkeramnya kuat-kuat.

Reaksinya membangkitkan kepercayaan diri Sungmin, dan kata-kata Jungmo terlupakan waktu dia mendengar erangan-erangan nikmat tertahan Kyuhyun.

Pria itu membisikkan namanya berkali-kali, napasnya mengembus telinganya.

Kyuhyun memegang wajah Sungmin dengan dua tangan dan melumat bibirnya dengan ganas. Setelah ragu-ragu sejenak ia berhenti sebelum menyatukan tubuh mereka.

Dia mengangkat kepala dan memandang Sungmin. Sungmin menyentuh wajahnya dan menyusuri bagian-bagian yang dicintainya itu. Jari-jarinya mengusap bibir pria itu. Mata mereka terus bertatapan.

"Sungmin." desah Kyuhyun.

Sungmin merasakan sentuhan awalnya. Sambil memejamkan mata, ia menarik kepala Kyuhyun ke bantal.

Dia mendesahkan nama pria itu dengan takjub ketika tubuh mereka melebur jadi satu.

Dan hebatnya, kenikmatan ini tidak berhenti sampai di situ, seperti biasanya selama ini. Kyuhyun membisikkan rayuan-rayuan, dan menikmatinya. Sensasi di dalam tubuh Sungmin menyebar, memacu jantungnya, dan melanda jiwanya. Kyuhyun meneriakkan namanya ketika mencapai puncak. Sungmin mendengarnya sedetik sebelum tubuhnya serasa meledak.

Dan ledakan itu berlanjut terus...

.

.

"Aku belum pernah merasa seperti ini," bisik Sungmin lemah dalam kegelapan.

Kepalanya bersandar di dada Kyuhyun ketika pria itu memeluknya, kaki mereka saling membelit di balik selimut. Kyuhyun mengusap-usap punggungnya.

"Tidak pernah?" tanya Kyuhyun lembut, bangga. "Tidak dengan-"

"Jungmo? Tidak," kata Sungmin sambil tersenyum sedih dan menggeleng pelan. Dada Kyuhyun terasa hangat. "Tak kusangka aku bisa," dia mengaku.

Tawa menggemuruh di dada pria itu dan terdengar keras di telinga Sungmin. "Yah, sekarang kita sudah tahu, bukan?" Ditepuknya bokong Sungmin, lalu tangannya berhenti di sana dan membelai-belai.

Sungmin mestinya merasa bersalah atas apa yang telah terjadi, namun dia tidak bisa membangkitkan perasaan itu. Dia malah sama sekali tidak menyesalinya. Dan dia tahu dia akan terus bercinta dengan Kyuhyun. Hal itu sekarang tak bisa dihindari, dan dia tidak lagi memiliki keinginan atau tekad untuk melawannya. Dia bergelung makin rapat pada pria itu.

"Kau kedinginan?" tanya Kyuhyun lembut.

"Sedikit," jawabnya.

"Semua selimut tertendang ke kaki tempat tidur," kata Kyuhyun pura-pura bingung. "Bagaimana bisa?"

Sugmin terkikik.

Mereka segera menarik selimut-selimut itu. Kyuhyun menciumi telinganya sambil menarik Sungmin. "Aku berjanji kali ini tidak akan membuat selimut-selimut tercampak."

"Kali ini?" tanya Sungmin terkesiap. "Maksudmu... lagi? Sekarang?"

"Kau tidak mau?" Kyuhyun bertanya. Dalam kegelapan pun Sungmin bisa melihat alisnya naik.

"Yah, aku-"

Namun kepala pria itu sudah menunduk dan bibirnya membujuk. Sungmin mendengar dirinya menyetujui dengan suara pelan tapi mendesak.


.

.

.

To Be Continued

.

.

.


Halo ^^

I'm back with GK BAB 11 ! enJOY it ^^ Ini kan yang kalian inginkan? XD

For Hamano Hiruka, coba ngaku, kamu siapa? XD

For Guest yang tahu nama asli aku, pertama panggil aku pinku XD , kedua, siapakah dirimu?

For nugu , nuguseoyo? Pasti kamu orang XD Remake My Girlfriend is Gumiho? Bukannya itu udah ada yang meremake dengan pair KyuMin ya?

BIG THANKS TO

Kyu rin 71 , abilhikmah , Baby niz 137 , TiffyTiffanyLee , Frostbee , nurindaKyumin , danactebh , Joyers , 137lee , ssuxzy , Pspnya kyu , orange girls , inyezreceel92 , youlliana , alit , minnieGalz , anum, Sri Kencana , Lee Minry , hyunmiie , sanmayy88 , cho kyumin137 , Deliadelisa , nova137 , ryeota Hasu , joy04 , PaboGirl , faizlovely , rahmaotter , shanakanishi , Girls in awesome world , ikakyuminss , chocoyaa , Prince Changsa , GyeOmindo , Mara997 , lee hye byung , nabeshima , Cho Kyuna , mayasiwonest everlastingfriends , SuniaSunKyu137 , LauraChoilau324 , onew's wife , keykyu , nuralasyid , kyushiii , PumpkinEvil137 , Fitri , jin , parklili , Park Heeni , Lilly Aylia , choikyumin , chopurple3 , Acho137 , kimpichiadjah , Michiko Haru , Hamano Hiruka , KyuMinJoy137 , farla 23 , Harusuki Ginichi 137411 , ismayminniELF , gyumin1408 , Shengmin137 , lee kyuza , mandwa , gogoflo55 , kyuna36 , Loving Kyu and Ming , Anisa Jung , kaissss , Cho Minseo , gaemxian137 , arinafebianca07 & Guest.

(Yang di cetak tebal itu Reviewer di BAB 10 dan Reviewer di BAB sebelumnya yang baru masuk maupun yang baru review. Untuk yang namanya belum disebut, mungkin reviewnya belum masuk. Apabila ada kesalahan dalam pengetikan nama, mohon maaf ^^)

Once again! Thank you ^^