Naruto Belongs to Masashi Kishimoto

.

.

.

.

Don't Like Don't Read

But Read and Review XD

.

.

.

Chapter 11

Untuk sekarang, kehidupan Naruto menginginkan sebuah kebahagiaan sudah tercapai bersama keluarga kecilnya, bersama orang yang dicintainya. Ia tak akan menukarkan apapun untuk itu.

Sudah dua bulan sejak mereka menikah, yang artinya Toru sekarang berumur 6 bulan dan mereka telah menempati rumah Naruto kembali dan kehidupan mereka baik-baik saja sampai sekarang.

2.10 a.m

Tiba-tiba Toru menangis tengah malam, Naruto memaksa dirinya untuk bangun berjalan kearah box bayi tempat Toru tidur. Sejak awal mereka memang memutuskan untuk satu kamar bersama sang putra.

"Kenapa menangis Toru?" Ujar Naruto yang telah menggendong Toru

"Hey diamlah, laki-laki tak boleh menangis" ucapnya mencoba menghentikan tangis Toru yang sepertinya malah bertambah keras.

"Mungkin dia lapar, apa kau lapar hmm?" Ujar Naruto

Naruto berjalan kearah tempat tidur dengan menggendong Toru.

"Shion, bangun sayang" Naruto mencoba membangunkan Shion

"Bangunlah, sepertinya Toru lapar" kata Naruto

"Ngh.. Berisik sekali, suruh dia berhenti menangis" kata Shion masih dengan posisi baringnya

"Tapi dia mungkin lapar sayang" kata Naruto

"Kumohon Naruto-kun, aku sangat lelah, aku sudah menjaganya seharian saat kau bekerja, biarkan aku beristirahat" ucap Shion

"Baiklah, istirahatlah" kata Naruto mengalah

"Maaf ya Toru, kaasan sedang lelah, tolong kau diam ya" Naruto masih mencoba membuat Toru berhenti menangis

Butuh waktu dua jam untuk Toru berhenti menangis, alhasil Naruto harus tidur pukul 4 pagi. Padahal semalam ia pulang larut karena banyaknya pekerjaan dikantor. Dan sepertinya ia akan terlambat bekerja hari ini.

..

Hinata, Hanabi dan Tenten sedang didapur, mereka sedang membuat kudapan. Mengingat sekarang adalah weekend, yang artinya Neji akan ada dirumah saat sore hari dibanding hari biasa Neji akan pulang dari kantor saat malam hari. Mereka selalu membuat kudapan berupa kue untuk dimakan bersama disore hari, menghabiskan waktu becengkerama setiap weekend, dan Houtarou akan dijaga oleh Neji.

Tenten dan Hanabi lebih banyak mengerjakan sesuatu dibanding Hinata, mengingat usia kandungannya sudah 7 bulan. Sebaik mungkin mereka tidak membuat Hinata bekerja terlalu keras.

"Sekarang aku sangat yakin kalau anak Hinata-nee adalah perempuan" ujar Hanabi sambil mengaduk adonan kue

"Kenapa begitu?" Tanya Hinata yang duduk sambil menghias kue-kue diloyang

"Dari awal kehamilan neechan, neechan sangat suka didapur memasak" jelas Hanabi memandang sang kakak

"Sepertinya aku setuju dengan Hanabi" ujar Tenten mengeluarkan kue-kue dari oven

"Mungkin saja dia laki-laki dan ingin menjadi seorang chef suatu hari" jelas Hinata sambil tersenyum

"Neechan... Jangan merusak harapanku" ujar Hanabi

"Ne Hanabi, jadi kau tidak mau punya keponakan laki-laki lagi ya?" Ucap Tenten bertolak pinggang

"Ah bukan..bukan, tentu aku akan senang baik laki-laki maupun perempuan" jelas Hanabi

"Benar begitu..?" Tenten berujar

"Iya Tenten-nee, baik laki-laki atau perempuan, asal Hinata-nee dan bayinya baik-baik saja" jelas Hanabi

Hinata tersenyum mendengarnya.

"Oh ya Hinata-nee, apa Sakura-nee sudah mulai bekerja lagi?" Tanya Hanabi

Hinata menggeleng "tidak, Sasuke menyuruhnya berhenti bekerja dan lebih mengurus Sarada chan" jelas Hinata kepada sang adik.

Sakura memang telah melahirkan sekitar empat bulan yang lalu, dan Sasuke tak mengizinkannya bekerja dulu karena harus mengurus Sarada, nama anak mereka.

"Begitu" kata Hanabi mengangguk mengerti

"Aku jadi tidak sabar menunggu kelahiran anak neechan" tambahnya menatap Hinata

"Daripada itu, lebih baik kau katakan pada neechan mu ini, siapa itu Konohamaru? Neechan penasaran" Ujar Tenten tiba-tiba

"Eh!? Kenapa Tenten-nee tahu? Ups!" Hanabi menutup mulutnya setelah mengucapkan itu

"Hahahaa jadi benar kan? Siapa dia" Tenten mulai menggoda Hanabi

"Hentikan Tenten-nee" ucap Hanabi kesal membuat kedua wanita yang ada disitu tertawa.

Ting

Tong

Tawa mereka terhenti saat terdengar bunyi bel rumah.

"Sepertinya ada tamu" ujar Tenten

"Biar aku yang buka!" Suara Neji teriak dari ruang keluarga

Neji berdiri dengan menggendong Houtarou yang sekarang telah berumur satu tahun lebih, ia berjalan keluar menuju pintu.

Ceklek

Neji menaikkan alisnya sebelah melihat siapa yang datang.

"Kau mau apa?" Tanya Neji menatap orang itu

"Apa kau tak mau membiarkanku masuk terlebih dulu?" Tanya orang itu yang ternyata seorang pria

"Baiklah, masuklah" ajak Neji berjalan masuk lebih dulu

Neji dan orang itu telah duduk diruang tamu, saling berhadapan.

"Houtarou Hyuuga, dia sudah besar ya dan dia sangat persis denganmu" ujar orang itu memandang Houtarou dalam gendongan Neji

"Ya, kau bisa melihatnya" kata Neji

"Jadi, apa tujuanmu kemari?" Tanya Neji ke pertanyaan awal

"Baiklah Neji, kau memang tidak suka basa-basi" kata orang itu

"Aku ingin melakukan hal yang sama dua bulan yang lalu saat aku datang kemari" jelas pria itu

"Dan kau akan mendapatkan jawaban yang sama seperti dua bulan yang lalu" balas Neji

"Aku sangat mencintai adikmu, Neji" jelas pria itu yang ternyata Toneri

"Kau tak akan mendapatkan jawaban lain" kata Neji

"Sekarang pulanglah Toneri" usir Neji

"Kalau begitu, izinkan aku menemuinya" kata Toneri

"Tidak mungkin" jawab Neji

"Kau sangat keras kepala" kata Toneri mulai kesal

"Kau sangat pemaksa" balas Neji

Brakk

Toneri menggebrak meja dihadapannya.

"Biarkan aku menemuinya!" Bentak Toneri

"Ini rumahku, jangan seenaknya!" Balas Neji tak kalah

"Kau fikir aku akan menyerah hanya karena dia menolakku kembali" kata Toneri menatap Neji

"Kau fikir aku akan membiarkanmu" balas Neji masih tak kalah

"Sekarang kau keluar dari sini!" Usir Neji dengan menunjuk pintu

Sedang Houtarou sudah menangis sejak mereka meninggikan suara mereka, dan Tenten yang mendengar kegaduhan diruang tamu segera berlari kesana.

"Ada apa ini?" Ucapnya lalu berjalan mendekati Neji

Neji mengalihkan Houtarou pada Tenten.

"Sekarang keluar dari rumahku" kata Neji lagi

"Tidak sebelum kau membiarkanku menemuinya" Toneri masih bertahan dengan keinginannya

"Jangan memaksa, dia tak mau menemuimu" Tenten angkat bicara

"Kenapa kalian sangat menyembunyikannya" kesal Toneri

"Aku ti-

"Niisan"

Semua orang diruang tamu memandang kearah seseorang yang bersuara yang ternyata Hinata. Toneri menatap Hinata tanpa berkedip. Terkejut, sangat terkejut.

..

"Jadi, karena hal ini ya" ujar Toneri

Toneri dan Hinata sedang berada di taman belakang kediaman Hyuuga. Mereka berdua sedang duduk bersebelahan disalah satu tempat duduk di taman tersebut.

"Apa...anak Naruto?" Tanya Toneri yang memandang kedepan.

Hinata mengangguk dan bergumam kecil sebagai jawaban, ia juga memandang ke arah yang sama.

"Apa ia tahu?" Tanya Toneri

"Tidak" jawab Hinata singkat

"Kenapa kau pergi?" Tanya Toneri

Hinata tak menjawab.

"Maaf, aku harusnya sudah tahu" ucap Toneri

"Kau tahu, aku mencintaimu, sangat. Apa aku tak bisa menjadi ayah dari calon anakmu? Apa aku tak bisa menjadi pendamping hidupmu?" Kata Toneri

"Maafkan aku" ucap Hinata

"Aku tahu" balas Toneri

Toneri memandang kearah Hinata yang masih memandang kedepan.

"Apa kau masih mencintainya?" Tanya Toneri

Hinata tak menjawab.

"Begitu ya, aku tak akan pernah punya kesempatan" ucap Toneri kembali memandang kearah depan

"Kenapa kau sangat mencintainya? Dia telah menyakitimu" Toneri masih bicara

"Dan kau harus menanggung semua ini sendiri" tambahnya

"Aku punya orang-orang yang mendukung dan menyayangiku disekitarku" kata Hinata

"Kau memang wanita yang kuat, itulah kenapa aku sangat memuja dan mencintaimu" kata Toneri

Hinata menggenggam tangan kanan Toneri membuat Toneri tersentak dan mangarahkan pandangannya kesamping dimana Hinata juga menatapnya.

"Apa kita tak bisa berteman?" Ucap Hinata

Toneri sedikit menunduk "teman ya?" Ia kembali menatap Hinata "kurasa tidak buruk" ucapnya tersenyum

Hinata tersenyum mendengarnya.

"Untuk awal, berilah pelukan hangat untuk teman barumu ini, yahh untuk menghilangkan rasa sakit hatiku juga" ujar Toneri membentangkan kedua tangannya dihadapan Hinata.

"Kurasa tidak buruk" ucap Hinata bercanda lalu memeluk Toneri.

"Berjanjilah untuk mendapatkan cinta yang lebih baik" kata Hinata mengelus punggung Toneri

Toneri mempererat pelukannya mendengar ucapan Hinata.

"Dan berjanjilah untuk selalu bahagia" ucap Toneri pada Hinata

"Uhm" Hinata mengangguk dan tersenyum dalam pelukan Toneri.

Toneri melepas pelukan mereka.

"Jika Neji melihat, dia akan membunuhku" katanya bercanda, Hinata terkikik mendengarnya.

"Sudah berapa bulan?" Tanya Toneri melirik perut Hinata

"Tujuh" jawab Hinata tersenyum mengelus perutnya

"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang paman" kata Toneri

"Yah, dia juga berharap mempunyai seorang bibi secepatnya" kata Hinata menyindir Toneri

"Kau ini, kau baru saja menolakku, tidak secepat itu" jelas Toneri

Hinata terkekeh "maaf, maafkan aku" ucapnya

"Ayo kedalam, kita minum teh bersama" ajak Hinata

"Baiklah, jika kau memaksa" kata Toneri

Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki rumah dengan menampilkan senyum lega masing-masing.

"Setidaknya perasaanku terasa lega" batin Toneri tersenyum

..

7.30 am

Pagi ini dikediaman Naruto, Naruto baru saja bangun tidur.

"Ck, kepalaku sakit sekali" ucap Naruto memijit pelipisnya

"Dimana Shion?" Ucapnya lagi menatap kosong disebelahnya

"Ohayou Naruto-kun, kau sudah bangun" Shion masuk kamar tiba-tiba, ia berjalan ke arah lemari mengambil sesuatu sepertinya.

"Kau mau kemana sayang?" Tanya Naruto memandang Shion yang terlihat berpakaian rapi

"Aku harus pergi, ada urusan" jawab Shion tanpa menatap Naruto, masih sibuk dengan lemari pakaian.

"Urusan apa? Dimana?" Tanya Naruto

"Yah aku punya urusan, maaf aku harus cepat" jawab Shion, ia berjalan cepat menuju pintu kamar.

"Tapi, bagaimana dengan Toru?" Tanya Naruto yang mulai turun dari tempat tidur berjalan mendekati Shion.

Shion yang belum sempat keluar berbalik menatap Naruto yang telah berada dihadapannya.

"Kau bisa membawanya dulu kerumah ibumu" kata Shion

"Hey, dia juga ibumu" kata Naruto

"Iya..iya, jadi kau bawa kesana saja ok? Aku harus pergi sekarang" kata Shion terlihat terburu-buru

"Dia sudah makan kan?" Tanya Naruto

"Maafkan aku Naruto-kun, saat bangun aku langsung bersiap karena harus bergegas" jawab Shion

"Tapi-

"Aku harus pergi" Shion memotong ucapan Naruto lalu mencium pipi kanan Naruto dan bergegas pergi.

"Setidaknya pamitlah pada Toru" ucap Naruto

"Hah~"

..

Saat Shion telah pergi, Naruto langsung bersiap untuk berangkat ke kantor dengan membawa putranya kerumah orang tuanya lebih dulu.

"Eh? Ada Toru rupanya" ucap Minato memandang Toru dalam gendongan istrinya

"Iya, tadi Naruto menitipnya" kata Kushina

"Ibunya?" Minato bertanya

"Naruto bilang, pagi-pagi sekali Shion keluar" jawab Kushina

"Keluar?" Minato menatap Kushina bingung

"Ya, ada urusan katanya" jawab Kushina

"Urusan? Naruto tak membiarkan Shion bekerja kan? Lalu urusan apa?" Minato bingung

"Aku tidak tahu, biar jadi urusan mereka" ucap Kushina acuh

"Kau semakin berat ya Toru-chan, ayo temani baachan nonton tv" ucap Kushina berjalan meninggalkan Minato sendiri.

"Hmm.." Minato menggeleng

..

4.05 p.m

"Hah~" Naruto menghela nafas panjang

Sekarang ia tengah duduk dalam ruangannya, memijit pelipisnya karena terlalu lelah mengerjakan pekerjaan kantor.

Naruto mengecek ponselnya, menggeser ibu jarinya kesana kemari, ingin menghubungi ibunya.

"Halo Naruto"

"Halo kaasan, bagaimana Toru?"

"Dia sedang tidur, sepertinya kelelahan setelah bermain dengan ibu"

Terdengar suara kekehan ibunya dari seberang sana.

"Apa Shion telah datang?"

"Ah, dia belum datang"

"Belum? Apa ia tidak menghubungi kaasan?"

"Tidak, dia belum menghubungimu?"

"Belum, aku akan menghubunginya"

"Baiklah, ibu akan menutup telponnya"

"Ya"

Naruto memeriksa jam tangannya.

"Sudah sore, dimana dia?" Tanyanya pada diri sendiri

Naruto kembali menyalakan layar ponselnya untuk menghubungi Shion yang ternyata lebih dulu menghubunginya.

"Halo Shion, kau dimana?" Tanya Naruto ketika menjawab panggilan Shion

"Aku sedang dirumah temanku" jawab Shion

"Kenapa kau begitu lama dan tak mengabariku?" Tanya Naruto

"Maaf Naruto-kun"

"Baiklah-baiklah, kapan kau pulang?"

"Mm.. Bisa kau datang menjemputku Naruto-kun?"

"Sekarang? Baiklah, dimana alamatnya?"

"Akan ku kirimkan padamu"

"Baiklah, tunggu aku"

"A-ano Naruto-kun"

"Ya?"

"Gunakan mobilku ya"

"Kenapa? Aku bisa menggunakan mobilku saja"

"Mm..kumohon.."

"Hah~ iya sayang baiklah, tunggu aku"

"Aku mencintaimu"

"Aku mencintaimu"

Klik

Dan panggilan itu berakhir, tanpa pikir panjang Naruto langsung bergegas keluar dari ruangannya untuk pergi menjemput Shion. Tapi sebelum itu, ia harus kerumah lebih dulu untuk menukar mobilnya dengan mobil yang pernah ia hadiahkan pada Shion sesaat setelah mereka menikah. Bingung memang, tapi Naruto tetap melakukan apa yang dikatakan Shion. Terlalu cinta mungkin.

..

Naruto telah sampai di tempat sesuai alamat yang diberikan oleh Shion. Didepannya Naruto bisa melihat sebuah rumah mewah yang cukup besar, meski tak bisa mengalahkan rumah mewah miliknya.

Naruto menekan bel yang terletak disamping pintu, tak membuatnya menunggu lama pintu telah terbuka menampilkan seorang wanita dengan mengenakan pakaian maid.

"Aku ing-

"Silahkan masuk" maid tersebut memotong ucapan Naruto

Naruto berjalan memasuki rumah besar itu mengikuti maid yang berjalan didepannya. Entah kemana maid itu membawanya, mereka sedang menaiki tangga menuju lantai atas.

"Silahkan" ucap maid itu menyuruh Naruto masuk ke sebuah ruangan

Sedikit bingung, tapi Naruto tak bertanya. Ia memasuki ruangan itu yang langsung menampakkan seorang laki-laki bertubuh gagah duduk disebuah kursi kebesaran.

"Silahkan Namikaze-san" laki-laki itu menunjuk sebuah sofa dalam ruangan itu untuk Naruto duduk. Naruto sedikit was-was menatap laki-laki didepannya, ia tak bergerak menuju sofa yang ditunjukkan laki-laki itu, memilih berdiri karena ia sedang tak ingin berlama-lama.

"Dimana istriku?" Tanya Naruto langsung to the point

"Istri...mu?" Laki-laki itu berucap dengan nada meragukan

"Ya, dia bilang dia ada disini" jawab Naruto

"Apa kau serius dengan ucapanmu?" Kata laki-laki itu

"Tentu, dia yang mengirimkan alamatnya" jawab Naruto

"Maksudku, kau serius dengan ucapanmu bahwa ia adalah istrimu?" Kata laki-laki itu

'Apa maksud laki-laki itu' pikir Naruto. Ia sedang lelah dan sekarang laki-laki itu membuang-buang waktunya. Lagipula, siapa laki-laki itu dan kenapa Shion bisa berada disini, itu yang ada difikirannya sekarang.

Namun, keterkejutan membuat Naruto melebarkan kedua matanya. Menatap tak percaya apa yang ia lihat, seseorang yang menjadi tujuannya tengah berjalan mendekat kearah laki-laki itu dan menciumnya mesra. Shion, orang yang dicintainya sedang dicium mesra oleh laki-laki tersebut, bukan, tapi Shionlah yang mendatangi laki-laki itu dan menciumnya. Panas, bahkan Shion sedikit mendesah karena ciuman mesra yang menjadi panas yang mereka lakukan dihadapan Naruto.

Naruto mengepalkan kedua tangannya melihat itu, ia sangat marah, ia begitu murka.

"Apa yang kau lakukan pada istriku hingga ia seperti ini!" Teriaknya pada laki-laki itu membuat pasangan itu melepaskan ciuman panas mereka.

Naruto hampir saja berjalan untuk memberi pelajaran pada laki-laki itu, namun ada dua pasang tangan kekar yang mencegatnya, menarik kedua lengannya dan sedikit mundur kebelakang. Ia tak tahu sejak kapan dua orang bertubuh kekar itu berada dibelakangnya.

Laki-laki itu menatap Naruto yang berusaha melepaskan diri dengan hasil yang sia-sia, sedang Shion berdiri disamping laki-laki itu.

"Hahahahahaa hahahahahaa"

Laki-laki itu tertawa keras, menggelegar diseluruh ruangan.

"Bahkan seorang Namikaze tak bisa berbuat apa-apa dihadapanku" ucap laki-laki itu

"Brengsek, siapa kau!? Lepaskan Shion! Jangan memperalatnya!" Naruto berteriak dengan keras pada laki-laki itu, masih berfikir bahwa Shion dalam pengaruh laki-laki tersebut.

"Kau masih belum mengerti ya, Shion tidak dalam pengaruh apa-apa" jelas laki-laki itu

"Dan perkenalkan, namaku Hidan" ucap laki-laki yang mengaku Hidan itu dengan membuka kacamata hitam yang ia kenakan sejak tadi, ia menyisir surai putihnya kebelakang.

"Dan aku adalah suami Shion"

"!"

"Hentikan omong kosongmu itu! Lepaskan Shion! Aku akan memberikan apapun yang kau minta! Berapapun yang kau minta!" Naruto masih bertahan dengan pemikirannya

"Cih, apa kau berpikir kau selalu bisa menyelesaikan masalah dengan uang? Tapi mungkin benar, tapi kau juga begitu bodoh hingga tak mengerti apa yang kukatakan" ucap Hidan

"Baiklah, jika kau sangat tidak percaya, biar Shion yang menjelaskan semuanya padamu" sambung Hidan

Shion duduk di atas paha Hidan, membuat mereka terlihat intim.

"Jadi kau sangat ingin tahu, Namikaze-sama?" Ucap Shion seolah bertanya

Naruto menatap tak percaya pada Shion, sejak kapan wanita yang dicintainya itu memanggilnya dengan sebutan seperti tadi. Tapi ia diam, ia masih menunggu untuk mendengar apa yang akan dikatakan wanita yang berstatus istrinya itu.

"Kau harus tahu, apa yang dikatakan Hidan-kun itu benar" ucap Shion

"Kau harus tahu, semua yang kita lalui hanya kepura-puraan, hanya bagian dari sebuah rencana" tambah Shion

"Rencana apa maksudmu!" Teriak Naruto

"Rencana yang ku buat secara sempurna" ucap Hidan menyeringai menjawab Naruto

"Sebenarnya, masih enam bulan lagi sampai kami memberitahumu semua kebenarannya, tapi.. Aku sudah sangat merindukan wanitaku" jelas Hidan merangkul pinggang Shion

Naruto menatap jijik kedua orang didepannya.

"lalu apa yang kalian inginkan sebenarnya?"

"Yah, seperti yang kau banggakan tadi, harta kekayaanmu, uangmu. Akan sangat sia-sia jika aku tak memanfaatkan kekayaanmu yang melimpah itu" jelas Hidan

"Jika hanya karena kekayaanku saja, kenapa kalian harus melakukan sejauh itu, hingga membuat wanita itu mengandung anakku!" Kata Naruto berteriak

"Kau terlalu lambat dalam bertindak, kau terlalu lama menyingkirkan mantan istrimu itu, jadi biar kami yang menyingkirkannya untukmu" kata Hidan

Jadi selama ini Shion hanya berpura-pura, sejak awal wanita itu hanya ingin memperalatnya, dia tak pernah mencintai Naruto. Bahkan pesona seorang Shion tidak bisa membuat dirinya menyadari bahwa wanita itu hanya seorang penipu. Dia ingat, dia pernah mendapati Shion bersama pria lain, dan sepertinya Hidan adalah pria yang sama.

"Kh, kau menghianatiku Shion" ucap Naruto

"Menghianatimu? Apa yang kau tahu tentang menghianati? Kau tidak tahu!" Shion berucap menatap benci pada Naruto

"Kau harus tahu, ibuku harus merasakan sakit hati karena telah dihianati. Dia tidak salah, dia hanya seorang wanita baik yang sedang jatuh cinta, sedang mencintai seorang pria" jelas Shion

"Seorang pria brengsenk, ayahku. Dia adalah seorang pria kaya yang menjalin hubungan dengan ibuku, tapi ia meninggalkannya begitu saja saat tahu ibuku hamil, saat aku berada dalam kandungannya, dia mengatakan bahwa ibuku telah bermain dengan pria lain. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh ibuku, dia hanya wanita simpanan dari seorang pria kaya yang bahkan dengan mudahnya melakukan banyak hubungan dengan wanita lain tiap saat, hanya dengan uang yang ia miliki ia bisa melakukan apapun, termasuk mencampakkan ibuku begitu saja" Shion terlihat begitu kesal menceritakan masa lalu ibunya, sedang Hidan duduk manis sambil menghisap sebatang rokok.

"Ibuku yang seorang wanita miskin dan hidup seorang diri, harus mengurus dan menghidupi bayinya dengan susah payah, sampai saat aku berumur 10 tahun, ia memilih bunuh diri dan meninggalkanku, bahkan sampai selama itu ia masih merasakan sakit hati" jelas Shion

"Kau fikir, apa yang akan dilakukan anak kecil berumur 10 tahun sendiri didunia ini? Sampai aku bertemu dengan Hidan dan keluarganya, mereka menyelamatkanku, menyanyangi dan merawatku hingga kedua orang tua Hidan meninggal dan kami berdua menikah" jelas Shion

"Aku telah bersumpah atas diriku, akan melakukan apapun yang Hidan dan keluarganya katakan, akan melakukan apapun perintah Hidan bahkan saat ia memintaku untuk melakukan rencana ini, harus menjalani hubungan dengan pria seperti mu!" Shion menunjuk Naruto

"Tapi aku berfikir, mungkin ini saat yang tepat untuk membalaskan dendam kepada orang-orang seperti kalian" kata Shion

Wanita itu masih melanjutkan kalimatnya "meski aku harus selalu menatap jijik diriku yang selalu disentuh oleh dirimu, aku harus menderita selama 9 bulan lamanya saat mengandung benihmu, aku harus bersusah payah berlutut dihadapan kedua orang tuamu saat itu, perutku harus disobek saat melahirkan anakmu dan harus menahan rasa sakit selama 2 bulan setelah melahirkan anakmu itu Namikaze-sama yang terhormat"

"Dia juga anakmu!" Teriak Naruto menatap Shion

"Jangan mengklaim anak itu sebagai anakku, dia adalah anakmu yang hanya pernah menumpang hidup diperutku" kata Shion

"Wanita brengsek! Bahkan karena kepura-puraanmu, aku harus menyakiti hati seorang wanita" ucap Naruto

"Kenapa sekarang kau mengingat mantan istrimu itu hah? Oh, atau kau benar-benar mencintainya sekarang" kata Shion

"Wanita sialan!" Teriak Naruto memandang Shion

"Jangan menyebutku seperti kau menyebut mantan istrimu dulu, jangan menyamakannya dengan diriku" kata Shion

"Cukup" Hidan berdiri dari duduknya setelah mengucapkan satu kata itu. Ia berjalan mendekat kearah Naruto yang berusaha melepaskan diri dari kedua jerat bodyguard Hidan.

"Aku harus berterima kasih padamu" ucap Hidan saat benar-benar berada dihadapan Naruto

"Karena, setelah kau berikan sebuah pulau pribadi beserta seluruh aset didalamnya pada Shion dan atas nama Shion, kekayaanku saat ini sudah mencapai lima persen dari seluruh kekayaanmu" jelas Hidan

"Meski hanya lima persen saja, bahkan lima persen itu membuat diriku seolah pria terkaya didunia ini, entah seperti apa kekayaan yang kau miliki Namikaze-sama yang terhormat" ucap Hidan

"Tapi, aku juga harus memberi hadiah padamu" ucap Hidan

Cssshh

"Sshh.."

Naruto harus menahan perih saat Hidan mematikan sebatang rokok tepat dikulit lehernya.

"Meski aku yang membuat rencana ini dan menyuruh Shion untuk menjadi pemeran utama, aku sama sekali tak suka saat kau menyentuh wanitaku" ucap Hidan

"Jika kau sangat tidak suka saat aku menyentuhnya, lalu kenapa kau menyuruhnya menjadi seorang wanita jalang murahan!" Naruto berteriak didepan wajah Hidan

Bugh

"Argh.."

Hidan mendaratkan sebuah pukulan di perut Naruto dengan keras.

"Jangan menyebutnya seperti itu saat kau sendiri terjerat kedalam pesona yang dimiliki oleh wanitaku" kata Hidan dengan wajah datar

Bugh bugh bugh

Bugh bugh bugh

Hidan memukul Naruto secara brutal, ia bahkan tak memberi Naruto jeda hanya untuk menjerit kesakitan. Ia mendaratkan pukulan diperut, didada, dan diwajah tampan Naruto yang sekarang sudah lebam dan membiru.

"Hah.."

Hidan menghentikan pukulannya, kedua bodyguard Hidan melepaskan tangan Naruto saat mendapat isyarat dari sang bos. Naruto jatuh kelantai begitu saja, dengan bersimbah darah, dengan luka lebam diwajah dan sekujur tubuh, ia bahkan tak bisa mengeluarkan jeritan kesakitannya karena kekurangan tenaga.

"Apa kau harus mecium kakiku agar bisa kulepaskan" ucap Hidan menatap kebawah, dimana Naruto tepat berada diatas salah satu sepatu yang ia kenakan.

Bruk

Hidan menggerakkan kakinya hingga membuat Naruto berubah posisi menjadi telentang.

"Lihat apa yang kau lakukan pada sepatu kesayanganku" ucapnya memandang sepatunya yang penuh dengan darah Naruto.

Hidan menginjakkan sebelah kakinya diatas dada Naruto yang terlihat masih sadar, meski Naruto benar-benar tak memiliki tenaga

"Ka-kau.. brengsek" ucap Naruto susah payah

"Menurutmu begitu? Tapi kau harus berterima kasih padaku, karena aku tak akan membunuhmu. Akan sangat merepotkan jika seorang pengusaha kaya yang terkenal tiba-tiba menghilang dan ditemukan telah tak bernyawa" ucap Hidan dan memberi tendangan terakhir pada Naruto

"Keluarkan dia" perintah Hidan pada kedua bodyguardnya

Tanpa bertanya, kedua bodyguard itu melaksanakan perintah bosnya. Mereka mengangkat tubuh lemas Naruto dan membawanya keluar dari ruangan itu.

"Oh ya, terima kasih karena telah membawakan mobilku, tapi sepertinya kau harus pulang dengan berjalan kaki" ucap Shion sebelum mereka benar-benar membawa Naruto keluar dari ruangan itu.

..

Naruto membuka kedua matanya perlahan, mengerjap-ngerjap sampai sepasang mata itu benar-benar terbuka. Ia menggerakkan tubuhnya mencoba untuk mendudukkan dirinya. Entah ia ada dimana, tiba-tiba terbangun dan sudah berada ditempat sepi, sempit, dan gelap yang sepertinya sebuah gang kecil yang tak pernah orang-orang lewati. Sepertinya ia pingsan saat setelah kedua bodyguard itu membuangnya ketempat ini.

"Sshh.." Naruto berdesis masih merasakan sakit di kepalanya

"Sudah jam 10 malam, kaasan pasti mengkhawatirkanku" ucapnya setelah melihat jam tangan yang ia kenakan

Naruto mencoba berdiri, meski sedikit terhuyung tapi ia berusaha agar ia tak jatuh mencium aspal.

"Sial mereka semua, membuatku seperti ini, ck" ucapnya menggerutu

Naruto memandang bergantian jalan didepannya dan dibelakangnya, ia tak tahu berada dimana dan ia tak tahu harus kemana, tidak tahu harus memilih jalan yang mana.

"Kusso, bahkan ponselku tertinggal dimobil wanita itu"

Naruto berjalan dengan susah payah, membawa kakinya dengan tertatih entah kemana, darah telah mengering di wajah dan kemeja kerja yang masih ia kenakan, sekilas wajah tampan itu tak bisa dikenali sebagai wajah seorang Namikaze Naruto karena terlalu banyak luka lebam dan berwarna gelap.

Butuh waktu 20 menit sampai ia keluar dari gang itu, meski orang lain hanya butuh waktu lima menit, namun karena kondisinya yang seperti itu, yah seperti itulah. Ia melihat sekelilingnya, terang dunia malam, banyak orang berlalu lalang meski ini waktu untuk mereka beristirahat untuk tidur.

Ia terus berjalan dengan bersusah payah menggerakkan kedua kakinya.

Bruk

Namun ia terjatuh.

Tap tap tap

"Kau tak apa?"

Naruto menengadah mencari tahu siapa yang bertanya, dan ia menemukan seorang wanita tengah menatapnya.

"Kelihatannya anda tidak baik tuan" ucap si wanita

"Biar ku bantu" wanita itu mencoba menyentuh Naruto untuk membantunya berdiri

Plak

Namun Naruto menepis tangan si wanita membuat wanita itu memekik sakit. Naruto mengangkat tubuhnya, kembali mencoba berdiri sendiri.

"Apa yang kau inginkan dariku? Uangku hah!? Wanita sialan! Jangan mendekatiku!" Naruto meneriaki dan mengatai wanita itu

Seorang pria tiba-tiba datang mendekat, "hey, apa yang kau lakukan padanya?" Tanya pria itu marah, sepertinya ia kekasih dari wanita itu.

"Wanita ini mencoba mendekatiku, dia menginginkan harta, uang. Hanya itu yang ada dikepala mereka!" Naruto berujar dengan keras

"Biar ku bunuh dia" Naruto mendekat dan meraih leher sang wanita dan hampir saja mencekiknya jika sang pria tak mendorong Naruto dengan kuat ke tanah.

"Dasar tidak waras!" Maki pria itu pada Naruto

"Apa yang kau fikirkan, wanita itu penipu, mereka hanya berpura-pura, mereka hanya menginginkan uang! Semua wanita seperti itu!" Naruto mengoceh dengan menunjuk-nunjuk sang wanita, sedang pria itu tak mendengar ocehan Naruto, ia memilih pergi bersama sang kekasih meninggalkan Naruto yang masih mengoceh.

"WANITA SIALAN!"

..

11.45 p.m

Kushina sedang bergerak gelisah dikamarnya. Ini sudah hampir tengah malam dan Naruto belum juga pulang. Sebagai ibu yang melahirkan putranya itu, ia sangat khawatir. Bahkan sedari tadi ia menghubungi nomor Naruto tapi tak aktif.

"Disaat seperti ini, Minato sedang tidak dirumah" ucapnya

Minato sedang pergi keluar kota siang tadi bersama Kakashi sang bawahan. Tapi Kushina telah menyuruh beberapa bawahannya untuk mencari keberadaan Naruto.

Cklek

"Naruto" ucap Kushina menatap Naruto yang membuka pintu kamarnya. Wanita itu berjalan mendekat kearah sang putra.

"Apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Kushina menatap kondisi Naruto yang sangat mengkhawatirkan

Naruto diam, bahkan tak ia tak menatap ibunya, ia berjalan melewati Kushina, ia berdiri disamping tempat tidur memandang Toru yang sedang tertidur lelap. Kushina berlari mendekati Naruto yang tiba-tiba menggendong Toru yang masih tertidur.

"Naruto, kau mau membawa Toru kemana?" Tanya Kushina yang tak digubris oleh Naruto

Naruto berjalan menuju pintu kamar, namun Kushina masih mencegatnya.

"Apa kau mau pulang sekarang? Biar kaasan merawatmu dulu"

Naruto masih mengacuhkan sang ibu, kembali berjalan melewatinya.

"Naruto, katakan pada kaasan apa yang terjadi? Dan, apa Shion sudah kembali?"

"Jangan sebut namanya!" Naruto berbalik dan meneriaki Kushina

"Naruto.." Lirih Kushina

"Dia menghianatiku kaasan, dia menipuku, membodohiku, wanita itu hanya berpura-pura!" Teriakan Naruto membuat Toru terbangun dari tidurnya dan menangis.

"Diamlah cengeng!" Bahkan Naruto membentak sang putra, ia kembali berjalan menuju pintu.

"Naruto, kau mau kemana? Lihat, Toru menangis" kata Kushina

"Ibunya hanya berpura-pura, dia bukanlah anakku, aku akan membinasakannya" kata Naruto

Dengan cepat Kushina mendekati Naruto dan mengambil alih Toru kedekapannya.

"Apa yang kau katakan Naruto! Dia adalah putramu!" Kushina membentak Naruto yang berusaha mengambil Toru darinya.

"Kaasan, wanita itu hanya berpura-pura, biarkan aku membunuh anaknya" kata Naruto

"Naruto!" Kushina meneriaki nama Naruto

Hening

"Jangan seperti ini Naruto, kau harus kuat, dia adalah putramu, dia adalah malaikat kecilmu" ucap Kushina mencoba menenangkan sang putra

"Tapi kaasan, ibunya.. Wanita itu, sejak awal ia hanya berpura-pura, sejak awal wanita itu membohongi dan membodohiku, sejak awal ia tak pernah mencintaiku, ia hanya menginginkan harta, uang, dan kekayaanku" kata Naruto

"Tapi Toru hanya bayi kecil yang tak mengerti apapun, ia tidak melakukan kesalahan apapun, ia adalah kebanggaanmu, ia adalah putramu" kata Kushina menyentuh pipi Naruto

"Apa kaasan.. Kaasan mau menerimanya?" Tanya Naruto ragu

"Tentu" Kushina mengangguk dengan penuh yakin

"Ia adalah putramu, ia adalah cucu kaasan dan tousanmu. Kami menyayanginya seperti kami menyayangimu" kata Kushina

"!"

Kushina menatap tak percaya pada putranya. Putranya yang selama ini tidak pernah ia lihat menangis sejak usia 6 tahun hingga saat ini malah mengeluarkan air mata sekarang. Bahkan saat kakek Naruto meninggal, orang yang sangat dekat dan ia sayangi, Kushina tidak melihat bahwa Naruto akan menangis. Dan sekarang.. Apa Naruto begitu sakit dengan kenyataan dan kebenaran tentang Shion? Kenapa wanita itu sangat bisa membuat putranya menjadi seperti ini.

"Kaasan, aku tidak menangis karena apa yang dilakukan wanita itu" kata Naruto seolah tahu maksud tatapan ibunya padanya.

"Aku menangis, karena wanita itu, karena dia yang membuatku menjadi anak yang buruk pada orang tuanya, pada ibunya. Ia membuatku membantah perkataanmu, melawan dirimu, tak mendengarkanmu, bahkan tadi aku membentakmu kaasan. Maafkan aku.." Ucap Naruto menundukkan kepalanya dihadapan sang ibu.

Kushina ikut menangis mendengar ucapan Naruto. Tentu, tentu ia akan selalu memaafkan sang putra, memaafkan kesalahan seorang anak dan menuntunnya kejalan yang lebih baik.

Kushina memeluk Naruto, Toru juga masih dalam gendongannya.

"Tentu, kaasan akan selalu memaafkanmu, sebanyak apapun kesalahan yang kau buat" kata Kushina berderai air mata

"Kaasan memang wanita terbaik. Sekarang aku sadar, hanya kaasan..hanya kaasan wanita yang mencintai dan menyayangiku dengan tulus di dunia ini. Hanya kaasan.." Ucap Naruto memeluk erat ibunya.

'Harusnya kau tahu Naruto, masih ada 1 wanita lagi'

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Maaf atas segala kekurangan,

Terima kasih yg udah mau read, review, fav dan follow.

Mell desu~