Sorry for the typos I have ever made. Tapi saya juga berusaha sebaik mungkin supaya fic ini jadi enak dibaca.
Ebuset telat update lagi -_- mau jadi apaan nih si Shiney…
Disini humornya sedikit atau bahkan gak ada, maaf ya! Di chapter ini lagi fokus terhadap sesuatu nih!
Anywaay, saya gak punya Vocaloid yah!
The Yellow Melody
Chapter 11 : The Audition
- Len's POV –
Ini sungguh aneh. Awkward. Aku tidak ada salah apa-apa kan?
Oh ya, kalian bingung ya dengan apa yang kukatakan? Jadi begini…. Aku menyapa Rin di sekolah dan mengobrol dengannya, tapi apa yang kudapat malah anggukan, gelengan, dan senyuman saja. Dia tak mau mengatakan sepatah kata apapun. Kalaupun aku mendesaknya lebih lama… Dia akan meninggalkanku.
Aku belum punya salah padanya, kan….
Aku melihatnya yang berjalan kearah bangku Miku, Miku mengajaknya berbicara namun Rin tetap juga tidak mengatakan sepatah kata apapun.
Berarti, Rin tidak marah kepadaku. Ada sesuatu yang sedang mengganjal, memang. Aku dengan beraninya berjalan menuju mereka, agak tidak memperdulikan Miku.
"Rin, kamu kenapa sih?" tanyaku, yang membuat Rin diam sesaat dari isyarat gerakannya pada Miku. Dia menggeleng sambil tersenyum. Hm... Harus pakai cara yang dulu itu lagi...
"Rin, di kepalamu ada laba-laba."
"...!" mulut Rin terlihat berteriak dengan kencang, namun tidak ada suara yang terproduksi. Dia mengacak-acak rambutnya, lalu setelah dia sadar apa yang terjadi...
...
Death glare itu cukup mengerikan.
"Mana suaramu, Rin?" tanya Miku, lalu Rin menjawabnya dengan mulut yang mengkomat-kamitkan kata-kata, tetapi tetap tak ada suara.
Aku berjalan ke pojok kelas dan memanggil Miku untuk datang kepadaku. Awalnya dia merasa ragu, lalu dia jauhkan perasaan itu dan berjalan kepadaku.
"Dengar," kataku agak pelan. "Aku tidak tahu apa yang terjadi pada Rin, tapi aku akan membawanya ke UKS. Kamu tolong mintai ijin kalau gurunya sudah datang, aku juga ingin berbicara sesuatu dengan Rin. Mengerti?" Miku membalasku hanya dengan mengangguk.
Aku berjalan lagi kearah Rin, mengambil tangannya dan menariknya ikut bersamaku. Seperti membaca pikirannya, aku tertawa kecil. "Kita ke UKS. Kita bakal melewati pelajaran ke 1 dan 2."
Raut mukanya berubah menjadi khawatir dan enggan. "Oh? Tenang, Miku akan memberitahu ijin kita, dan nanti kamu pinjam catatan dia saja. Aku sih, pinjam punya Akaito." dan Rin menghela nafas lega, tanda aku telah mengartikan raut mukanya dengan benar dan berhasil.
Sesampainya di UKS, Mako Nagone, atau Mako-sensei yang merupakan guru biologi sekunder sekaligus penjaga UKS, mengalihkan pandangannya dari buku anatomi manusia ke kami. "Wah, ada apa, duo Kagamine?"
"Rin disini sedang kehabisan suara. Aku buntu ide untuk mengembalikannya lagi," jelasku, lalu Rin memberitahu Mako-sensei dengan gerakan isyarat tangannya. Mako-sensei mengangguk.
"Kagamine-kun, bisa tolong tangani Kagamine-san sekarang? Saya harus mengajar kakak kelas kalian, 2-C. Cukup berikan dia segelas teh madu hangat dan suruh dia istirahat sementara, mungkin suaranya habis karena dia kecapaian tentang sesuatu, seperti melatih vokalnya atau apalah. Terima kasih!" lalu Mako-sensei pergi meninggalkan kami berdua.
Tapi perkataan Mako-sensei tadi ada benarnya. Kemarin Rin les vokal, jadi mungkin dia kecapaian dan sekarang suaranya habis gegara itu. Yah, semoga.
Aku berjalan menuju rak obat-obatan. "Rin, kamu berbaring dulu sana." suruhku, dan cepat dia tanggapi.
Menyeduh teh dengan madu tidak cukup lama. Setelah selesai membuat teh itu, aku menghampiri kasur Rin dan menunjukkannya teh. "Ini, minum sampai habis lalu istirahatlah."
Dia mengambil cangkir teh yang ada di tanganku lalu diteguknya habis teh tersebut. Matanya lama-lama terlihat berat untuk terus terbuka.
Tugasku selesai sampai disini.
-Normal POV-
Entah sudah berapa lama gadis berambut honey blonde itu tertidur. Perlahan-lahan, dia membuka matanya dan mengusap-usapkan matanya.
'Ah, ketiduran...' gumamnya dalam hati.
Dia menengok kearah kirinya dan sedikit kaget melihat apa yang terlihat di matanya; sosok Len Kagamine yang tertidur di sisi kasurnya dengan kedua tangan yang melipat, menopang kepalanya, sambil duduk di kursi. Rin tersenyum kecil, merasakan perasaan bahagia yang ada padanya sekarang.
Rin memberanikan dirinya untuk mengelus rambutnya yang lembut seperti sutra itu sambil terduduk di posisi tidurnya. Perlahan-lahan, Len menggerakan kepalanya, membuat Rin menarik tangannya lagi dan mengembalikannya ke tempat semula.
"Engg... Rin?" ujar Len yang sudah terbebas dari tidur, lalu membenarkan posisi duduknya. "Bagaimana...? Suaramu sudah kembali?"
Rin mengangkat kedua bahunya. "Coba, bilang satu kata saja deh." kata Len.
"..."
"...Hai."
Ekspresi muka Rin berubah jadi terang dan senyumnya melebar, begitu juga dengan Len. "Itu dia! Akhirnya, Rin!" lalu tanpa sengaja Len memeluk Rin, membuat pipi Rin memerah dan jantungnya berdegup cepat.
"A-anoo... Len...," gumam Rin, meskipun dia sendiri tidak mau Len melepaskan pelukannya. Len yang sepertinya sudah mendapatkan kesadarannya kembali, melepaskan pelukannya segera dari Rin dan pipinya ikut memerah. Rin merasa sedikit kecewa, namun dia hapus perasaan itu.
"Maaf, Rin. Aku cuman terlalu senang, jadi seperti ini deh. Hehe," ucap Len sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yasudah... Tapi kenapa kamu senang begitu? Kan aku cuman kehilangan suara sementara saja," kata Rin yang turun dari kasurnya. Len memandang Rin aneh.
"Kamu lupa ya Rin? Audisi buat klubnya kan 4 hari lagi!" memori-memori Rinpun mulai kembali bersatu dan Rin tertawa.
"Oh iya ya! Ahahaha, sampai lupa! Pantas kamu jadi begitu!"
"Bukan karena itu saja.. Aku ingin kamu bisa lulus audisi, jadi kita bisa bersama."
Jantung Rin serasa berhenti seketika. "Eh?"
"...Ah! B-bukan, bukan apa-apa kok! Ahahaha..." ujar Len salah tingkah, lalu melihat kearah jam yang tertempel di dinding UKS.
"Mungkin sekarang sudah saatnya kembali ke pelajaran. Ayo, Rin."
- 4 days later -
"Rin! Ayooo cepatlah sedikit!"
"Iya iya, Miku! Lagian kenapa sih harus buru-buru? Audisi ini doang kok!" protes Rin. Miku menghela nafas lalu menunjuk kearah ruang musik yang berkumpul beberapa anak yang jumlahnya tidak bisa dihitung.
"Itu dia maksudku biar kamu cepet-cepet." kata Miku lurus, dan Rin kaget dengan pemandangan lautan manusia didepan ruang itu.
"Bujut buset! Segitu banyaknya!" kata Rin tidak percaya.
"Ini kan SMA khusus anak-anak yang berbakat di bidang musik, Rin... Aduuuhhh. Kok lupa,"
"Hehe, bukannya lupa, cuman aku enggak tau peminat audisinya bisa segitu banyaknya."
Detik demi detik, menit demi menit. Rin dan Miku yang duduk karena kecapaian berdiri menunggu nama mereka dipanggil belum juga dipanggil untuk audisi. Tapi...
"Miku Hatsune!"
Muka Miku mencerah dan dia berdiri seketika. "Rinny! Doakan aku, ya~!" lalu dia lenyap masuk kedalam ruang musik, dan Rin tertawa kecil. Dasar Miku, tentu saja Rin akan mendoakannya untuk berhasil!
4 menit setelah itu, Miku keluar dari ruangan dengan muka ceria. Rin bingung, cepat sekali audisi Miku. Bertepatan dengan keluarnya Miku, nama peserta lainpun dipanggil.
"Rin Kagamine!"
Rin mulai merasa gugup dan jantungnya berdetakcepat. Miku memberikannya kedipan 'selamat berjuang!' pada Rin, dan Rin membalasnya dengan senyuman.
Rin memasuki ruangan besar tersebut dan menemukan Lola dan Leon, juri audisi sekaligus guru musik kakak kelasnya, kelas 2 dan 3. Rin merasakan kegugupannya menambah karena suasana yang sunyi, namun Rin bertekad untuk menutupi rasa gugupnya itu dengan semangatnya.
"Silahkan menggunakan mic yang ada didepanmu, lalu setelah itu, kalau kau bisa, mainkan sebuah alat musik yang kamu bisa. Kalau tidak bisa juga tidak apa-apa." jelas Leon, dan Rin mengangguk.
Dia mengambil mic-nya dan menghela nafas dan membuangnya. Dia sepakat pada dirinya untuk menyanyikan lagu SPiCa, lagu yang pernah ditulis oleh Miku dan yang selalu dinyanyikannya saat les.
"kimi to nagameteta
hoshi wo atsumeta mado ni
utsushiteta
mata yubiori kazoeta
toki wo kasaneta yoru ni
toikaketa,
toki wo tometa
suki da yo to ieba hagura ka shita
ki ga tsukanai FREE wa
mou yamete…"
Entah bagaimana caranya, Rin selalu memikirkan Len pada saat menyanyikan lagu ini, seakan-akan lagu ini teruntuk padanya, sehingga nyanyian Rin terdengar lebih semangat dan indah.
"oikakete ukabu PANORAMA
gosen no ue de nagareboshi
ima utau kara terashite yo ne SPICA!"
Selesai menyanyi, Leon dan Lola menuliskan hasil pengamatan mereka di kertas. "Baik, Kagamine-san bisa alat musik apa?" tanya Lola.
"Umm.. Piano."
"Boleh kami dengar permainan anda?"
Rin mengangguk kecil dan berjalan menuju grand piano putih yang terlihat sangat bagus dan mewah. Tiba-tiba teringat akan suatu memorinya, dimana pertemuan pertama Rin dan Len di ruangan tersebut dengan Len yang sedang berada di depan pintu ruang itu, ingin mendaftar klub juga. Rin duduk di piano tersebut. Jemari tangannya bersiap di posisi kunci yang seharusnya, dan dalam hitungan di dalam hatinya, dia mulai memencet tuts-tuts piano tersebut.
Permainan piano yang sangat indah, namun bagi Rin, permainannya belum seberapa. Sambil memainkan nada-nada, Rin mengingat apa yang dia ingat dulu di pertemuan pertamanya.
"Hai, kau pasti mau mendaftar ekskul kan?"
"Hm? Oh kau. Ya, aku mau mendaftar."
Tersenyum kecil, dia mencoba mengingat-ingat lagi apa yang pernah dia katakan padanya.
"Aku tidak tega melihat seorang perempuan bermuka inosen sepertimu pulang kerumah pada saat matahari mau tenggelam dan diculik."
Itu dia. Kata-kata pertamanya yang membuat pipinya merona dulu.
Dentingan piano itu selesai dimainkannya. Rin bangun dari bangku piano tersebut dan membungkuk.
"Baiklah, terima kasih Kagamine-san. Sekarang kamu boleh keluar."
Dengan itu, Rin keluar dari ruang musik dan melepas nafas hebat. Dia baru saja melewati rintangan besar yang telah lama ditunggunya sejak berhari-hari. Miku mendatanginya dan mereka berdua pergi berjalan-jalan yang pastinya bukan di rumah, karena audisi itu dilaksanakan pada jam pulang sekolah.
"Rinny~ mau kemana nih kita? Mumpung loh!" ajak Miku dengan ceria, efek audisi tadi mungkin. Rin tertawa melihat tingkah laku sahabatnya itu.
"Mau karaokean gak, Miku?" ajak Rin, dan Miku mengangguk. "Ya, terserah Rin aja deh!"
Mereka memasuki tempat karaoke yang mereka temukan; Inul Vizta. Mereka menghampiri tempat resepsionis dan menemukan dua laki-laki berambut merah cabai dan honey blonde yang sedang mengantri—tunggu. Bukannya itu Akaito dan Len…?
"Akaito? Kagamine-kun?" panggil Miku, dan kedua laki-laki itu menengok kearah Miku dan betapa kagetnya keempat manusia ini.
…
"LOH? KOK KALIAN KARAOKEAN?" jerit Rin tidak percaya sambil menunjuk kearah mereka. Akaito terkekeh-kekeh.
"Kalian enggak tau? Ini kan tempat favorit aku dan Le—" BUAGH.
"Aku enggak, To." ucap Len tegas, yang tidak mau disama-samakan dengannya.
Rin memesan satu ruangan untuknya dan Miku, lalu dia membayarnya untuk satu jam. Selesai membayar, dia dan Miku mau berjalan masuk kearah ruangan mereka, namun Akaito menepuk pundak Rin langsung. "Kenapa, Akaito?"
"Kamu kenapa pesen kamar sih? Kenapa gak bareng kita aja? Kita udah pesen padahal…" ujar Akaito.
"Yeee, kamu gak bilang-bilang dulu—ah." tiba-tiba Rin teringat akan satu hal.
Dia belum menemukan alasan kenapa Len dan Miku tidak menyukai satu sama lain. Ada dua ruangan karaoke yang sudah terpesan. Rin harus menggunakan kesempatan ini, sekarang juga.
"Anoo~ aku dan Akaito mau karaokean berdua di ruangan yang sudah dipesan Akaito saja! Len sama Miku di ruangan yang sudah dipesan olehku, ya!" kata Rin sambil menarik lengan Akaito. Ekspresi muka Miku enggan untuk menyetujui suruhan sahabatnya ini.
"Rin, aku tidak mau…" kata Miku.
Seperti membaca pikiran Rin, Akaito dan Rin mendorong Miku dan Len secara paksa kedalam ruangan karaoke yang dipesan Rin dan menguncinya dari luar. Rin memandang aneh Akaito.
"Darimana kau bisa mendapatkan kunci ruangan itu yang awalnya ada didalam ruangan itu?" tanya Rin heran.
Akaito hanya terkekeh. "Aku dapat kunci itu dari meja resepsionis, kamu lupa mengambilnya dari meja itu. Tadinya aku ingin memberikannya padamu, tapi sekarang berguna juga. Dan, tidak ada kunci didalam knop pintu ruangan itu."
Akaito tumben-tumbenannya pintar.
Rin dan Akaito masuk kedalam ruangan yang dipesan Akaito, dan Rin membuka topik pembicaraan. "Jadi Akaito... Kau tahu apa yang ada didalam pikiranku tadi?" tanya Rin.
"Iya... Aku memang bisa membaca pikiran orang kalau kelihatannya terlalu timbul. Jadi pikiranmu terbaca, deh." jawab Akaito sambil memainkan kabel mikrofon yang sedang dia pegang.
"Kamu juga belum tahu kenapa Len dan Miku...?"
"Belum. Len tidak pernah mau memberitahuku, padahal kami satu SMP, terlebih lagi sekarang satu SMA. Dia sering menceritakan tentang Miku dengan muka berseri-serinya di kelas kami dulu. Pada suatu hari... Mungkin pas awal liburan menjelang masuk masa SMA, Len datang ke rumahku, lalu memberitahuku bahwa dia dan Miku sudah berakhir dan mukanya tampak datar sekali."
Penjelasan Akaito yang cukup lebar, namun bersifat informatif bagi Rin. Rin juga berpikir, padahal Miku adalah sahabatnya sejak kecil, tapi kenapa dia tak mau memberitahukannya tentang ini...? Sedangkan Len memberitahu Akaito? Apa mungkin hanya pendapat Miku untuk merahasiakannya saja?
Dipikir-pikir lagi, Miku anaknya hiperaktif dan sangat over-lebay dalam masalah percintaan. Harusnya dia memberitahu Rin dengan gaya lebay-nya yang khas, atau kalaupun di rahasiakan, Miku akan dengan tidak sengaja keceplosan mengatakannya.
Ribet.
"Kenapa kau tahu rencanaku, Rin?" tanya Akaito tiba-tiba, yang mendapat tatapan bingung dari Rin.
"Eh? Maksudmu?"
"Begini... Selama ini sebenarnya aku curiga dengan diantara Len dan Miku. Semakin lama Len jadi agak tertutup, membuatku khawatir juga."
"Lalu?"
"Aku mengajaknya ke tempat karaoke, rencananya ingin mengunci mereka disana dan mendengarkan apa saja yang mereka bicarakan dengan... Alat sadap! Lalu tadi seharusnya sehabis aku memesan kamar, aku mau meneleponmu."
Tunggu, alat sadap? Macam apa anak ini...?
"Bukan alat sadap sih... Aku gak punya alat kayak gituan. Kita yang nguping di depan pintu ruangan mereka."
"Ooh okedeh. Tapi, Akaito, kamu barusan ngebaca pikiran naratornya, bukan aku." ujar Rin santai, dan Akaito masang muka 'bodo-amat-ah'.
Mereka keluar dari ruangan mereka dan standby di depan pintu ruangan Len dan Miku. Tapi... Bukannya tiap pintu ruang karaoke itu tebal?
"Emang, tapi barusan Rin mesen kamarnya yang bobrok banget, jadinya tipis kayak pintu biasa deh." jawab Akaito pelan.
"Menghina? Aku emang kere, pesennya yang bobrok. Puas?" gerutu Rin.
Akaito, plis stop baca pikiran saya.
"Bodo, aku kan jadi pemeran utama sementara di chapter ini!"
Apa-apaan...?
"Miku-san." ucap Len, yang membuat telinga Rin dan Akaito makin fokus, tanda perbincangan telah dimulai.
"Ya?"
"Maaf."
"..."
"Maaf karena selama ini tingkahku terlalu berlebihan seperti sangat membencimu, namun tingkahmu seperti orang biasa saja. Aku akui, tingkahmu yang itu benar."
"Aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Kalau kamu mau, benci aku juga tidak apa-apa. Toh, salahku ini, kan?"
"Bukan! Aku... Ingin memulai segalanya denganmu dari awal. Dari teman dan hanya sebatas sahabat saja. Bagaimana?"
"...Aku... Suka ide itu."
"Baguslah," dapat diduga Len tersenyum saat mengatakannya.
"Kalau begitu, jangan panggil aku Miku-san. Miku saja."
"Dan jangan panggil aku Kagamine-kun. Len saja."
Lalu, kedua tawa makhluk itu terlepas dari mulut mereka, tanda perselisihan sudah berakhir. Rin memajang senyum di mulutnya, meski belum mendapat detail cerita asli Len dan Miku. Namun mendengar kedua temannya ini berbaikan, rasanya sungguh senang.
Akaito membuka kunci pintu itu dan membuka pintunya, membiarkan dirinya dan Rin melihat Len dan Miku yang sedang tersenyum tanpa paksa.
"Maaf ya yang tadi, Miku... Ini semua demi kamu!" kata Rin lalu memeluk Miku. Miku tersenyum dan memeluk balik Rin.
"Tidak apa-apa, dan terima kasih Rin, sudah mau memperbaiki hubunganku dengan Len." katanya, lalu mereka lepas dari pelukan itu dan berpegangan tangan. Akaito berdehem.
"Sekarang, siapa yang mau karaokean di ruanganku yang lebih bagus daripada ruangan yang ini? Nanti ruangan ini aku cancel saja." ajak Akaito, spontan Rin, Miku, dan Len mengangkat tangannya.
"AKU!"
"Tsumi no kajitsu ga kuchi hateta toki
futatabi meguri au sono hi made..!"
"Oke, nyanyian yang bagus, Rin dan Len! Oh ya, tadi judul lagunya apa?" kata Miku sambil menyeruput jus daun bawangnya.
"Makasih, Miku! Hmm, kalau tidak salah sih, Secret - Black Vow." jawab Len yang menaruh mikrofonnya di meja dan duduk di sofa.
"Kurasa ini sudah satu jam. Ayo kita pulang," lalu dengan perkataan Akaito itu, keempat manusia itu keluar dari tempat karaoke tersebut.
Berdiri di luar bangunan tersebut, mereka mulai mengucapkan kata-kata perpisahan. "Jadi... Sudah dulu ya! Udah mau jam 6 juga, nih. Aku dan Miku pulang dulu!" pamit Rin.
"Ya! Daah, Akaito dan Len!" Miku ikutan pamit. Akaito hanya terkekeh dan mengangguk, lalu Len yang ada di sebelahnya tersenyum dan memandang Rin.
Rin yang merasa dipandangi oleh Len, memerah sedikit. "A-apa sih Len?"
Len berjalan menuju Rin, dan tanpa sengaja...
CUP!
"E-EEEEHHH?" sahut Rin yang mundur beberapa langkah sambil memegangi pipi kanannya, bekas dicium oleh Len.
"Hehe, itu tanda terima kasih dariku karena sudah memperbaiki hubunganku dengan Miku. Terima kasih, Rin!" jawab Len, lalu lari entah kemana bersama Akaito.
Rin dan Miku yang ditinggalkan, berdiam tetap di posisi mereka. Miku terkekeh-kekeh sambil menggebok pundak Rin, sementara Rin berdiam dengan muka super merahnya.
"LEN KAGAMINEEEEEEEE!"
"Oh tuhan. Oh tuhan. Oh tuhan. OH TUHAN!" jerit Rin sambil menutupi mukanya dengan bantal. Miku yang terus tertawa geli hanya mendapatkan pukulan dari Rin.
"Aduh, Rin! Jangan main pukul, dong!" protes Miku.
"Makanya jangan ketawain aku! Uuh!"
"Lagian kamu lucu sih! Ahaha, gimana tuh rasanya dicium Len~?"
"A-aku gak dicium Len kok! Dicium di pipi aja!"
"Sama aja, Rinny~"
Sekarang Rin sedang menginap di rumah Miku, karena sudah lama dia tidak menginap di rumah sahabatnya itu.
"Oh ya Miku... Mikuo mana?" tanya Rin sambil melepaskan jepitan rambut dan pitanya, lalu diletakkan diatas meja rias Miku.
"Dia? Ada di kamarnya. Emang ada apaan?" jawab Miku yang melepaskan kedua kuncirannya itu.
Rin bangun dari kasur Miku. "Aku mau ngobrol sama dia sebentar, ah! Udah lama nih, gak ngomong sama dia." lalu Rin meninggalkan kamar Miku, dan menuju kamar disebelahnya, yaitu kamar Mikuo. Dia mengetuk pintunya pelan.
"Mikuo~! Boleh masuk?" pinta Rin.
"Rin-tangan, ya?"
Rin mendobrak masuk dengan kesal. "Sekali lagi, namaku bukan Rintangaaannn! Aku Rin, bodoh!"
Mikuo tertawa. "Iya iya, Rin-chan. Kenapa ke kamarku tiba-tiba?"
"Aku tidak boleh datang ke kamar sahabatku yang tercinta ini? Ooh oke!" ucap Rin sambil menggembungkan pipinya, lalu mengempiskannya dan tersenyum.
"Boleh kok. Eh Rin, aku ingin cerita, mau dengerin gak?"
"Mau!"
"Jadi begini...," Mikuo mengambil nafas. "Aku lagi suka sama seseorang. Udah dari lamaaaa banget, dan kita juga udah nempel banget. Tapi tiba-tiba ada satu orang yang menghancurkan hubungan kita, dan perempuan yang aku suka jadi jauh sama aku. Menurutmu aku harus bagaimana?"
Rin memasang pose berfikir. "Hmmm... Ah! Begini saja, kamu tetap kejar dia saja! Karena aku yakin, meski hati perempuan itu sudah jatuh di tangan seseorang yang menghancurkan hubungan kalian, kamu masih bisa mendapatkannya kembali!"
"Benarkah?"
"Ya! Siapa sih, yang enggak suka sama kamu?"
"...Ya, makasih ya Rin-chan." ujar Mikuo sambil tersenyum, lalu Rin membalas senyumannya dan pergi keluar dari kamar Mikuo dan masuk lagi ke kamar Miku.
Terdengar suara gosipan yang kurang jelas dari kamar sebelah. Ekspresi muka Mikuo menjadi agak gelap.
"Tetap mengejarmu, ya?"
.
.
.
.
.
.
"Pengumuman para murid yang lolos dan masuk klub musiknya hari ini, ya?" tanya Rin kepada Teto yang sedang memakan roti tercintanya.
"Yap! Aku juga ikut audisinya loh. Semoga kita lolos, ya!" jawab Teto, mengedipkan matanya pada Rin.
Jam istirahat yang tenang. Rin, Miku, Teto, dan Gumi sedang makan bersama di kelas. Gumi yang mengusulkan ide ini, karena dia pikir kalau Rin dan Miku hanya makan berdua, akan tidak seru.
Tiba-tiba, pintu kelas mereka terbuka, memperlihatkan seorang gadis berambut bob hitam. "Kertas pengumumannya sudah dipajang di papan pengumuman!"
Lalu langsung saja Miku, Rin, Teto, dan Gumi berjalan menuju papan pengumuman sekolah mereka yang cukup besar. Sesampainya disana, banyak murid yang berkumpul. Muka-muka mereka terlihat kecewa. Rin menjinjit dan akhirnya bisa melihat isi kertas itu yang bertuliskan:
Anggota klub musik SMA Yamarypton
. . .
1. Gakupo Kamui – 2-C ( Drum )
2. Len Kagamine – 1-B ( Lead Singer )
3. Luka Megurine – 1-A ( Keyboard )
4. Meiko Sakine – 2-D ( Saksofon )
5. Miku Hatsune – 1-B ( Gitar )
6. Rin Kagamine – 1-B ( Main Singer )
. . .
Penanggung jawab: Kaito Shion ( Bass )
. . .
Selamat untuk para anggota klub! Menangkan lomba-lomba dan meriahkan Yamarypton dengan musik kalian!
"KITA LOLOOOOOOOOOOSSS!" sahut Miku dan Rin bahagia, berpelukan satu sama lain. Teto hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka.
"Yah, aku memang tidak lolos…. Tapi selamat ya buat kalian!" kata Teto. Miku dan Rin membalasnya dengan senyuman.
Rin melihat kertas itu sekali lagi.
Dia akan menjadi penyanyi utama, sedangkan Len yang akan memimpin mereka. Len dan Rin… akan berpasangan. Lagi.
"Tunggu. Kok Luka ikut klub musik? Bukannya dia tennis?" tanya Rin bingung kepada Gumi, yang lumayan akrab dengan Luka.
"Dia bilang, tennis bukan keinginan dia, tapi orang tua-nya. Jadi dia bilang, dia mau mengikuti hati dia, yaitu musik. Dia audisi paling pertama, ketika ruangan sangat terlihat sepi. Jadi para peserta audisi yang lain tidak bisa melihat dia." jawab Gumi.
Yah, semoga hari-hari kedepan…. Bisa lebih bagus dari hari ini!
Bersambung~
A/N: setelah beberapa bulan lamanya…. Fic ini berhasil di-updateee! Yeaaahhh~! Karena plot-nya sudah di edit…
Oh ya, bales review~! Udah lama gak bals review ihiy ;_;
Chapter 9
Asakuro Yuuki : yap, Mikuo super lebay seperti kakaknya disini, heuehuheheue! Hehe, makasih udah bilang fic ini baguuuss :D
Hikari Kamishiro : yap ada, saya aja takut kalo ada badut mabok tiba-tiba nyerang kota =_= saya malah mules kalo naek roller coaster wuehehehe~
Rinkaro-love-shiney senpai : enggak bosen di ffn kok, cuman lagi kena writer's block aja ;) terima kasih atas kata-katanya yang membuat saya semangat buat nulis ff! ^^
Iin cka you-nii : my lovely reviewer comes back! Yeeeyyy :"D Lenny-kun emang tsundere~~ kalau anda telat review, saya telat update hiks ;_; makasih yaah reviewnya muah muah :*
Kiseki Choumikata : YEAHAHAHA AY EM BEK 8D jangan kesel sama Mikuo dong, keselnya sama Mikuo aja :3 #samaajabusetdah
Rin . aichii : yah memang disitu banyak typo, jadi semua chapter yang ada salahnya saya edit lagi kok~ MENGERTIII! Oke-oke, saran dimasukkan dan itu berguna banget buat saya ^o^ thanks yaaa~!
Jarquielle 12 : kalau cerita sama Len-nya keren… author-nya keren, gak? :3 #ayobakarshiney #gerakanantishiney hmm.. kalau untuk selesainya di chapter berapa, mungkin 15 keatas?._.
arasa koneko : haaii Arasa-chan~ makin seru? Terimakasih sekaliii! ^3^
Ren-Mi3 NoVantA : gakpapa telat bales, saya telat update, hiks ;A; tentu saja saya bakal semangat! Makasih yaaa!
Rinkaro-chan : maaf Rinkaro-chan maaaff ;_; saya masih peduli kok, udah di update
Dio anime lover : ide dari… sebenarnya dari kisah nyata kalau dikejar badut hehehe~ yap, RinLen! Oke, saya bakal masukan request anda~ X3
Chapter 10
Ficchii : uwaaaa makasih yaaa mau di fave hiks :'3 diusahakan ;D
Ruuya : APA! TIDAAAAK, ITU TIDAK MUNGKIN KAN? YA KAN? PANGGILIN SAYA LEN KAGAMINE AJA! #gerakanantishiney #mariberantasshiney yaaa sukurlah situ bisa ketawa ^^
Kuro 'Kumi' Mikan : yeeeeyy pembaca setia hihihihi :3 weawea saya ikutan naik roadrollernya yaah~ # #gerakanantishiney yaps! Makasih yaaa rifiu nya :*
VocaloidKagamineRinLenLover : maafkan atas ketelatan updae fic sayaaaa :( thanks for your review :D
arasa koneko : saya udah berapa bulan gak update iniii yahhh… hati-hati jangan banyak ketawa, entar mimpiin saya terus lho~~ #whatthehell #berantasshiney #ayokitapastibisa BERGUNA KOK! ENGGAK ENGGAK GUNAAAA ;A;
rinkaro-chan : sepertinya thebel~? X) okeee *cipok maut rinkaro-chan sebanyakbanyaknya*
Ren-Mi3 NoVantA : kerenan bagian satenya atau authornya? #berantasshiney #ayokitapastibisa iyaa, makasih lagiii X)
Hikari Kamishiro : tau tuh, kenapa ga boleh ya? Aneh… (?) yipsyips terima kasih yaaa I love youuuu ;*
Iin cka you-nii : capek menunggu gak? Maaafff ini telat banget ;A; Rin udah gila berkat saya 8D #fansrinbakarshiney
mikaru hatsumine : ( Chapter 5 ) enggak kok, yang penting bisa jadi bahan ceritanya dan readers bisa tahu dan puas ^^ ( Chapter 6 ) yap, Len selalu ambil kesempatan -_-
Akai Himuro : gapapa ngubek-ngubek, silakan ajaa~^^ 0k3H d3Ch s4Ya uPd4t3!
Thanks buat semua readers dan reviewers yang mau baca fic ini! Saya sangat sangat berterima kasih! Dan atas saran/kritiknya, jadinya saya bisa lebih tahu! Lagi, MAKASIH SEMUANYAAAAA!
Jangan lupa review yaa~ tinggalkan saran, kritik, atau pesan supaya Shiney bisa lebih keren #whatthehell #abaikan
Ja ne~!
