Chapter 11

"Sudah tenang Jong?" Yixing bertanya kepada Jongin yang masih menyandar dipundaknya.

"…" tidak ada jawaban yang didengar Yixing. Ia akhirnya menengok Jongin yang nampak terlelap dibahunya.

"Hmm,….. tidurlah Jong."

"Xing…Kau di-" ucapan Suho terpotong melihat Yixing menempelkan jari telunjuk dibibirnya. Isyarat yang menyuruh dirinya untuk diam.

"Bantu aku Hyung….." Yixing berucap dengan pelan.

"Arra…" Suho menjawab dengan pelan pula.

Tubuh Jongin yang lebih tinggi dari Suho sedikit menyulitkannya.

SRET….

Sosok tinggi besar tiba-tiba datang dan menggendong Jongin ala bridal style membuat Suho dan Yixing melongo seketika. Sosok itu, Yifan datang menggendong Jongin yang terlelap karena kelelahan menangis.

"Dibawa kemana Jongin?" Tanya Yifan pelan.

"Bawa keruanganku saja …" Suho tersadar dari keterkejutannya.

Yifan menggendong Jongin menuju lantai 2 ruang milik Suho. Terdapat sebuah ranjang yang biasa digunakan Suho ketika menginap di café.

Setelah membaringkan Jongin di ranjang kemudian Yifan segera keluar dari ruangan tersebut. Sebenarnya Yifn ingin sekali menunggui Jongin yng nampak sangat polos ketika tertidur. Namun melihat pandangan heran dan tatapan mengintimidasi dari Yixing maka Yifan memutuskan segera keluar dari ruangan tersebut.

Luhan dan chanyeol masih menunggu di lantai satu café. Saat meliht Yifan turun, Chanyeol segera menghampirinya.

"Bagaimana?" Chanyeol bertanya begitu Yifan sampai dihadapan mereka.

" Kelelahan dan tertidur." Yifan berujar singkat.

"Sebaiknya kita segera pulang. Besok atau lusa kita dapat menemuinya lagi." Luhan berujar.

"Arraso." Jawab dua pria setinggi tiang listrik tersebut.

Saat hendak membuka pintu café Luhan nampak begitu terkeut melihat Sehun hendak masuk ke dalam café. Mereka bertatapan dalam diam,

.

.

.

.

.

" Aku ingin bicara." Sehun mematahkan tatapan mereka.

Luhan segera mengikuti Sehun yang berjalan keluar café.

"Kalian pulanglah duluan. Aku bisa pulang sendiri." Luhan berteriak kepada dua sahabatnya tersebut.

.

.

.

.

Sehun mengemudikan mobilnya menuju arah Seoul. Tidak ada pembicaraan yang terjadi diantara kedua pria tersebut. Mereka masih nampak diam dalam keheningan.

" Apa yang ingin kau bicarakan?" Luhan bertanya memecah keheningan.

" Apa yang kau rencanakan? " Sehun bertanya.

" Maksudmu?"

"Sekali kau menyakiti Jongin.. aku tidak akan memaafkanmu." Sehun berujar dingin

DEG

Jantung luhan serasa nyeri tertusuk jarum begitu mengetahui maksud sehun.

"Apa aku sejahat itu ? Heh?" Luhan bertanya sinis menutupi sakit hatinya.

"Kau dapat melakukan apapun untuk mencapai tujuanmu." Sehun berujar.

"…"

"Buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya. Aku mengenal betul bagaimana tuan Xi….. dan aku masih belum lupa orang yang duduk disebelahku juga adalah seorang Xi." Sehun berucap sangat dingin dan menusuk.

Hati luhan serasa ditusuk belati mendengar ucapan dingin sehun. Ia sadar keluarganya memang tipe dictator, tapi apa sehun tidak bisa melihat jika luhn sama seperti ayahnya tentu saja Jongin sudah tidak mungkin hidup baik-baik saja saat ini. Luhan memilih diam tak menanggapi ucapan sehun kali ini.

.

.

.

.

.

Sore telah menjelang, Jongin segera bangun begitu menyadari dirinya belum menyelesaikan pekerjaan di shiftnya.

" Ah… sudah bangun Jong?" Yixing bertanya kepada jongin yang nampak menuruni tangga dengan mengucek matanya.

Yixing jadi gemas sendiri melihat Jongin. Meski Jongin lebih tinggi dari dirinya tapi keimutan Jongin bahkan menyamai anak balita. Yixing yang gemas segera menarik Jongin dan mendudukannya di sebuah kursi. "Sudah bangun hemm?" Jongin hanya menjawab dengan menganggukan kepalanya.

"Hyung, aku tidur berapa lama?" Akhirnya Jongin membuka suara seraknya khas bangun tidur.

"Hmmm kau lihat sendiri,… ayo bantu hyung merapikan tempat ini dan segera pulang."

"Ne…. A-appa? Aku tidur lama sekali hyung?"

"Sudah tak apa, ayo…. Malam ini hyun akan menemanimu di flat."

"Gomawo hyung." Yixing tersenyum mengacak surai jongin lembut.

.

.

.

.

.pagi menjelang, jongin sudah siap dengan seragam sekolahnya. Yixing pun telah siap dengan pakaian casualnya. Mereka kini tengah menyantap sarapan sederhana yang dibuat yixing.

"Hyung, besok kita ke tempat baek hyung ne?"

"Arra, tapi sebentar saja ne… dokter bilang biar hyungmu tenang terlebih dahulu."

"Ne.. Hyung.. Kajja.." Jongin berucap ceria.

.

.

.

.

Jongin telah sampai dikelasnya. Ia merasa sangat bahagia saat ini. Memiliki teman baru dan seosangnim yang juga baik kepadanya. Tak ada hal istimewa yang terjadi hari ini pelajaran berjalan sesuai hari kemarin. Teman-teman Jongin juga berlaku baik kepadanya.

"Jong kau mau ikut kami nanti sepulang sekolah?" Seorang teman baru Jongin bernama taemin bertanya.

"Ah .. odieya?"

" Kita ingin ke game center .. kita sudah lama tidak pergi ke game center." Ujar taemin.

"Ah mian… mungkin minggu depan saja, aku tadi sudah ada janji dengan hyungku… mianhe.."

" Gwenchana. Katakan pada kami kalau kau ingin pergi ke suatu tempat. Kami akan menemanimu,…" taemin berujar.

"Gomawo."

"Cheonma"

Bel pulang sekolah telah berdentang, Jongin masih membereskan peralatan sekolahnya sementara taemin dan yang lainnya telah keluar terlebih dahulu.

Tap… tap.. tap..

"Jong… ada yang mencarimu." Taemin kembali lagi.

"Nugu?"

"Entah… orangnya tinggi."

"Ne,…. Gomawo taemin.."

"Arra… aku pergi dulu ne…"

Jongin bertanya-tanya, tidak mungkin itu Yixing karena Yixing tidak tinggi. Jongin segera berlari keluar menuju gerbang. Ia sangat mengenal betul sosok pria tinggi yang menunggunya dengan tersenyum tersebut. Berbanding terblik dengan sikapnya dulu. Ah bukan satu orang, lebih tepatnya sepasang tiang listrik datang kesekolahnya, nampak mereka masih mengenakan celana seragam mereka namun mengenakan kaos bebas sebagai atasannya.

"Jonginie… Anyoeng." Chanyeol menyapa terlebih dahulu sambil tertawa lebar.

Jongin jadi merasa aneh dengan orang dihadapannya ini,…. Kenapa ia menjadi tampak seperti orang idiot sekarang.. jauh berbeda dengan imagenya dulu yang selalu memandang rendah dirinya.

Jongin melewati mereka begitu saja. Ia bahkan tidak menoleh. Ke arah mereka berdua.

Grep

Yifan menggenggam tangan Jongin menyebabkan Jongin menghentikan langkahnya.

"Kami menjemputmu." Yifan berujar lembut.

"…." Jongin diam tak menjawab.

"Jong… kami berangkat dulu… Yakin tidak mau ikut?" salah satu teman sekelas Jongin bertanya kepadanya dari atas mobil yang ditempati beberapa temannya.

"Tidak,.. Daehyun-ah… aku sudah ada janji… gomawo.." Jongin menjawab sambil tersenyum. Tak sadar membuat dua pria di depannya membeku karena menyadari Jongin bisa tersenyum manis dengan orang yang mungkin baru dikenalnya. Setelah semua teman Jongin pergi, ia kembali ke mode es.

"Jongie…. Kau bisa tersenyum?" Chanyeol melontarkan pertanyaan bodoh dengan wajah idiotnya.

Plak..

Yifan segera menggeplak kepala Chanyeol karena pertanyaan bodohnya.

"Appo tiang!" Chanyeol berteriak.

Tak sadar Jongin tersenyum amat tipis dan berjalan meninggalkan mereka. Setelah sadar Jongin meninggalkan mereka, Yifa dan Chanyeol segera berlari mengejar Jongin.

Belum sempat mereka menyamai langkah Jongin, sebuah mobil berhenti di depan Jongin. Orang dalam mobil tersebut tidak turun dari mobil namun nampak memberikan sebuah gulungan ke arah Jongin dan meninggalkannya.

Yifan dan Chanyeol segera berlari mengejar Jongin lagi.

"Siapa itu tadi Jongie?" Chanyeol bertanya lagi

"Bukan urusanmu." Ketus Jongin.

"Bagaimana kalau kami antar dengan mobil kami saja?" Chanyeol masih berjuang menaklukan Jongin.

"Hyung!..."

Yifan dan Chanyeol terkejut mendengar Jongin berteriak. Mereka merasa pendengaran mereka salah karena Jongin memanggil mereka hyung,.. Namun memang mereka salah, nampak dari arah depan Yixing melambaikan tangannya.

'ternyata bukan memanggilku' batin mereka kompak.

"Ayo hyung kita berangkat…" Jongin menggeret Yixing yang baru saja sampai di hadapannya.

"Ne… kalian mau ikut?" Yixing berujar ramah bertanya kepada Yifan dan Chanyeol.

"Apa boleh?" Chanyeol bertanya.

"Hmm tentu."

"Huft…" Jongin menghembuskan nafas kasar dan mempoutkan bibirnya tanda protes. Oh… nampaknya ia tak sadar dua pria tinggi disampingnya menatapnya lapar.

Cup…

Yixing mengecup pipi kiri Jongin karena gemas.

"Aish.. hyung selalu saja.." Jongin memprotes tingkah Yixing. Sementara yang diprotes hanya nyengir.

Dua pria disampig Jongin kesal memendam amarah.

'Harusnya pipi itu hanya untukku.' Batin mereka.

'awas kau pendek' tatapan tajam mereka arahkan pada Yixing. Namun karena YYixing termasuk manusia yang tidak peka jadi ia pun tidak sadar mendapatkan tatapan membunuh dari dua pria disana.

"Eh,…. Apa itu Jong?" Yixing bertanya melihat gulungan di tangan Jongin.

"Oh,,… ini…."

TBC

Yorobun… mianhamnida saya telat update,… mulai sekarang akan saya usahakan 1 minggu sekali,…. Semoga masih ada yang menunggu FF abal saya

Kamsahamnida

Bow