Disclaimer:

Naruto milik Masashi Kishimoto

Sword Art Online milik Reki Kawahara

.

.

.

Multipairing:

Naruto x Asuna

Kirito x Shino

Genre: adventure/scifi/family/romance

Rating: T

Setting: Canon (Sword Art Online)

Note: cerita agak berbeda dari canon-nya. Tapi, ada adegan yang ambil dari canon-nya, dengan sedikit pengubahan yang disesuaikan dengan kondisi fic ini.

Minggu, 28 Agustus 2016

.

.

.

Fic request untuk Firdaus Minato

.

.

.

SELAMAT MEMBACA YA!

.

.

.

MY BROTHER, YOU ARE THE BEST

By Hikasya

.

.

.

Chapter 11

.

.

.

FLASHBACK

.

.

.

"Maksudmu, apa, Lis?"

"Kapanpun kamu selesai clearing, datanglah ke sini, dan biarkan aku merawat equipment-mu. Setiap hari, dari sekarang, terus menerus."

Detak jantung Lisbeth meninggi tanpa batas. Baik perasaan ini dari badan virtualnya, atau mungkin dari jantungnya yang sebenarnya, yang juga berdebar dengan cara yang sama. Dia penasaran tentang itu di sudut pikirannya. Kedua pipinya terbakar. Setiap bagian wajahnya benar-benar sudah berwarna merah sekarang.

Bahkan Kirito, yang selalu menjaga poker face-nya, sepertinya sudah sadar makna di balik ucapan Lisbeth. Lisbeth menundukkan kepalanya karena malu. Dia selalu mengira kalau Kirito lebih tua, tapi setelah melihat Kirito dalam kondisi begitu, kelihatannya Kirito dari generasi yang sama, atau bahkan mungkin lebih muda darinya.

Dia mengumpulkan keberaniannya dan maju selangkah ke depan, merangkul lengan Kirito.

"Kirito... Aku..."

Dia meneriakkan kata-kata itu begitu keras saat dia dan Kirito kabur dari serangan sang naga, tapi saat membicarakannya sekarang, lidahnya menolak bergerak. Dia terus menatap bola mata hitam Kirito, berharap kata itu keluar entah bagaimana. Saat itulah, perasaannya mulai terbuka untuk berterus terang.

"Kirito... Aku... Suka... Kamu..."

DEG!

Kirito sangat kaget mendengarnya. Kedua matanya sedikit membulat. Tapi, setelah itu dia berwajah kusut dan langsung menjawabnya.

"Aku... Sangat menghargai perasaanmu itu. Tapi, maaf... Aku tidak bisa menerimamu, Lis. Kuharap kamu mengerti."

Lisbeth tersentak dan memasang wajah kecewa.

"Aku mengerti... Apa ada gadis lain di hatimu?"

Dengan pelan, Kirito mengangguk. Saat bersamaan...

KLAK!

Pintu ruang kerja Lisbeth dibuka dengan paksa. Dia refleks melepaskan tangan Kirito, dan terloncat.

"Kirito, aku khawatir sekali!"

Orang itu, yang menyerbu masuk seketika, berlari cepat menghampiri Kirito dengan kekuatan yang sama dengan suatu hantaman badai selagi berteriak dengan suara besar. Syalnya yang berwarna coklat itu menari lembut di udara.

"Ah, Sinon..."

Sinon lanjut berbicara tanpa jeda, menatap wajah Kirito dari dekat. Kirito terkunci dalam ekspresi tercengang, setiap saat.

"Pesan-pesan tidak bisa sampai padamu. Posisimu di peta bahkan tidak bisa dilacak. Ditambah lagi teman-temanmu, tidak ada yang tahu apa-apa. Jadi, kemana kamu pergi kemarin malam? Aku sampai pergi ke Kastil Besi Hitam untuk mengeceknya, tahu!"

"Ma... Maaf. Aku terjebak di labirin sebentar..."

"Dungeon!? Kirito, kamu pergi sendiri!?"

"Tidak, bersama orang itu..."

Kirito menunjuk ke arah Lisbeth dengan telunjuknya. Sinon berputar ke arah belakang dengan bosan. Ia membeku dengan mata dan mulutnya terbuka kosong. Mengikutinya, dengan suara yang terkesan curiga.

"Siapa dia, Kirito?"

"Eeeh... Di-Dia?"

Kali ini, Lisbeth yang terkejut. Dia memandang Kirito, yang sedang berdiri tegak, seperti Sinon. Kirito terbatuk kecil, lalu bicara seraya berwajah wibawa.

"UHUK! Dia Lisbeth, blacksmith dan sekaligus pemilik toko ini. Dia teman party-ku saat pergi berburu naga putih di lantai 55, kemarin itu."

"Oh...," Sinon manggut-manggut dan tersenyum pada Lisbeth."Aku Sinon, salam kenal ya."

"Ah, iya. Salam kenal juga," jawab Lisbeth yang berusaha tersenyum ramah.

Kembali pandangan Sinon tertuju pada Kirito. Kali ini tatapannya menajam.

"Aku sangat mencemaskanmu. Tadinya aku ingin mengajakmu berparty. Tapi, kamu langsung datang ke sini. Padahal kalau kamu memberitahu aku, aku bisa menemanimu."

Kirito hanya tersenyum geli sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lisbeth melihat pipinya itu dibubuhi bayangan berwarna merah muda.

Lisbeth mengerti keseluruhan situasinya.

Gadis yang disukai Kirito di hatinya adalah Sinon. Dialah yang berhasil membuat wajah Kirito menjadi merah seperti itu.

'Aku harus bagaimana...? Aku harus bagaimana?'

Sesuatu yang meliuk berputar-putar di pikiran Lisbeth, hanyalah kalimat itu. Lisbeth merasa panas dari seluruh tubuhnya pelan-pelan mengalir keluar dari ujung kaki. Dia tak punya kekuatan. Dia tak mampu bernapas. Emosinya bertingkah, tanpa ada cara untuk melepaskannya.

Berbalik menghadap Lisbeth yang sedang kaku, Sinon berkata dengan santai.

"Orang ini, apa dia mengatakan hal yang kasar pada kamu, Lisbeth? Dia mungkin meminta satu atau dua hal yang aneh, kan?"

Lalu dia sedikit memiringkan kepalanya ke samping, persis ke arah Kirito.

"Eh... Tapi artinya, Kirito bersama Lisbeth tadi malam?"

"Ya... Yaaa..."

Seketika itu juga, Kirito maju selangkah, menggenggam tangan kanan Sinon, dan membuka pintu ruang kerja Lisbeth. Kirito melihat Lisbeth sejenak, dan lekas bicara sambil mencoba untuk tidak memandang wajah Lisbeth.

"Tolong, tunggu sebentar, Lis. Kami akan segera kembali, jadi..."

Dia menarik tangan Sinon seperti itu, keluar lewat konter. Menutup pintunya, mereka pergi keluar toko melalui celah di antara display windows.

"Tunggu, tunggu, Kirito, ada masalah apa?"

Meski mendengar suara Sinon yang bertanya pada Kirito, tanpa suara, Lisbeth keluar dari tokonya dan mengarah ke jalan utama, terus berlari dengan tempo cepat.

Lisbeth tidak kuat lagi untuk berdiri di hadapan Kirito. Jika dia tidak kabur, sepertinya dia akan sadar bahwa dia kehilangan jalan.

Dia menemukan jalan kecil yang menghadap timur, berlari secepatnya lalu menemukan sebuah kafe kaki lima yang terlihat seperti tersembunyi oleh dinding batu yang tinggi. Dia terus berlari dan berlari menuju plaza gerbang, ke tempat di mana dia tidak bisa melihat kafe terbuka itu, diambilnya belokan pertama, membelok ke selatan. Dia bertahan di ujung kota, menyasar wilayah tanpa pemain, berlari tanpa jeda untuk satu tujuan.

Saat penglihatannya kabur, dia menyeka air beningnya yang berjatuhan dengan tangan kanan. Menyekanya lagi dan lagi, saat berlari seperti ini.

Saat dia sadari, dia sudah mencapai dinding kastil yang mengelilingi kota. Sebelum rentangan dinding yang melengkung lembut itu, pohon-pohon besar ditanam dengan jarak teratur satu sama lain. Dia memasuki bayangan salah satunya, berdiri diam dengan tangannya di batang pohon itu.

"Huhuhu... Huhuhu... Huhuhu..."

Suaranya merembes dari tenggorokan, tanpa upaya apapun untuk meredamnya. Air mata yang telah ditahannya mati-matian mengalir keluar satu demi satu, lenyap setelah mengucur menuruni pipinya.

Ini kedua kalinya dia menangis sejak datang ke dunia ini. Sejak waktu dia panik dan menangis di hari pertama dia masuk, dia menyakinkan dirinya bahwa dia tidak akan pernah menangis lagi. Dia memikirkan bahwa dia tidak butuh air mata ini, yang dipaksa mengalir oleh sistem ekspresi emosi. Tapi, dia tidak pernah merasakan air mata yang lebih panas, lebih menyakitkan dari yang mengalir di pipinya sekarang, meski dibandingkan dengan di dunia nyata sekalipun.

Saat dia berkenalan dengan Sinon, ada satu hal yang tidak pernah berhasil keluar.

'Apakah Sinon yang disukai Kirito?'

Ucapan ini nyaris keluar berkali-kali. Tetapi, tidak mungkin dia bisa mengatakannya.

Di tokonya, sesaat setelah dia menyaksikan Kirito dan Sinon berbicara satu sama lain, dia mengerti bahwa tidak ada tempat untuknya di samping Kirito. Sebabnya adalah di gunung bersalju itu, dia membahayakan nyawa Kirito. Tidak seorangpun bisa berdiri di sampingnya, selain orang yang memiliki hati sama kuatnya. Ya, misalnya, seseorang seperti Sinon.

Dia baru teringat bahwa Sinon termasuk anggota guild GC (Guardian Cats) yang terkuat dan merupakan ketua guild GC yang bergerak di garis depan untuk misi clearing lantai. Sinon dikenal sangat gesit dalam bertarung dan melompat tajam seperti kucing. Dia disebut "Cat Girl" yang ahli dalam berpedang.

Keduanya terhubung oleh gaya tarik yang kuat, layaknya sepasang pedang dengan sarungnya yang dibuat dengan cermat. Itulah yang sangat dirasakannya. Di atas segalanya, pasti Sinon sudah memikirkan Kirito berbulan-bulan, dan dengan kerja keras yang dilakukannya agar jarak di antara mereka menyempit sedikit demi sedikit, hari demi hari, tidak mungkin dia bisa melakukan sesuatu seperti tiba-tiba melemparkan dirinya ke dalam hubungan tersebut.

Benar, dia baru mengenal Kirito selama seharian penuh. Pergi melakukan petualangan yang tidak biasa bersama orang yang tak dikenal, hatinya pasti cuma terkejut karenanya. Ini bukan kebenaran. Ini bukanlah perasaannya yang sesungguhnya. Jika dia jatuh cinta, dia tak akan buru-buru, pelan-pelan memikirkannya. Dia seharusnya selalu dan selalu berpikir seperti itu.

Tapi, mengapa, mengapa air mata ini terus saja mengalir?

Suara Kirito, kelakuannya, semua ekspresi yang ditunjukkannya selama dua puluh empat jam ini mengambang di depan kelopak mata Lisbeth yang tertutup satu demi satu. Sensasi Kirito membelai rambutnya, memegang lengannya, tangan Kirito menggenggam tangannya.

Kehangatan Kirito, panas dari jantung yang berdetak itu. Selagi ingatan membara mengenai hal-hal itu menghampirinya, rasa sakit yang tajam menggema jauh di dalam dadanya.

Lupakan. Semua itu mimpi. Cuci semuanya dengan air mata ini.

Memegang erat batang pohon di pinggir jalan, dia menangis. Memandang ke bawah sambil meredam suaranya, dia terus menangis. Air mata ini akan kering cepat atau lambat di dunia nyata, akan tetapi tampaknya cairan pencuci yang meluap dari matanya ini tak punya niat untuk berhenti mengalir.

Lalu dari belakangnya, terdengar suara itu.

"Lisbeth!"

Seluruh badan Lisbeth gemetar kaget begitu namanya dipanggil. Suara yang halus, lembut itu, masih tersisa dengan gema dari nada kelaki-lakian aslinya.

Ini pasti mimpi. Tidak mungkin dia bisa ada di sini. Memikirkan hal itu, dipalingkannya wajahnya ke atas, bahkan tak menghiraukan untuk menyeka air matanya.

Kirito berdiri di situ. Mata di balik gombak hitam itu, memperlihatkan rasa sakit dari duka yang unik untuknya, memandangnya. Lisbeth balas melirik sepintas pada mata itu, lalu segera berbisik disertai gemetar dalam suaranya.

"Ini tidak bagus, datang ke sini sekarang. Aku juga baru akan kembali pada Lisbeth yang semangat seperti biasa sebentar lagi."

"..."

Kirito maju selangkah tanpa suara, ia mencoba menjangkau Lisbeth dengan tangan kanannya.

Lisbeth menggelengkan kepalanya dengan ringan, menghentikan Kirito.

"Bagaimana kamu menemukan tempat ini?"

Mendengarnya, Kirito termenung, dan menunjuk ke arah tengah kota.

"Dari sana..."

Di ujung jari itu, jauh sekali dari sini, puncak menara gereja, dibangun berlawanan dengan gerbang plaza, menonjol di atas riak-riak bangunan.

"Aku mengamati seluruh kota, dan menemukan kamu."

"Hehehe..."

Air mata Lisbeth diam-diam terus mengalir turun seperti sebelumnya, namun setelah mendengarkan jawaban Kirito, senyum mengambang dari mulutnya.

"Kamu tidak masuk akal seperti biasanya, hah!"

Bagiannya yang itu pun, Lisbeth menyukainya. Hingga tingkat yang sia-sia.

Dia merasa gelora menangis lain lagi memancar di dalam dirinya. Dia menahannya dengan panik.

"Maaf, aku... Baik-baik saja, lihat, kan? Buruan dan kembali pada Sinon sana."

Saat di mana Lisbeth berhasil berucap dan baru akan berbalik, Kirito melanjutkan perkataannya.

"Aku... Aku ingin berterima kasih pada Lis."

"Eh...?"

Bingung oleh ucapan tak terduga itu, ditatapnya wajah Kirito.

"Aku, dulu, ada saat di mana anggota guild-ku terbunuh... Dengan itu, aku memutuskan untuk jangan lagi, untuk pernah dekat dengan orang lain."

Kirito sepintas bermuka masam, mengunyah bibirnya.

"Itulah kenapa, biasanya, aku menghindari membentuk kelompok dengan siapapun. Meski begitu, kemarin, momen di mana Lis mengajakku untuk melakukan quest itu, hasilnya baik-baik saja, entah mengapa. Aku selalu berpikir bahwa ini aneh sepanjang hari itu. Kenapa aku berjalan beriringan dengan orang ini..."

Lisbeth lupa rasa sakit di dadanya untuk sekejap, dipandangnya Kirito.

"Sampai sekarang, siapapun yang memintanya, kutolak mereka semua. Saat mereka yang kukenal... Tidak, bahkan mereka yang namanya aku tidak tahu pun, cuma dengan menonton orang lain bertarung, aku cuma membeku ketakutan. Aku merasa ingin melarikan diri saja. Itulah kira-kira kenapa aku selalu mengasingkan diri di tempat terdepan di bagian terdepan dari garis depan, di mana orang jarang datang. Waktu kita hampir diserang dua naga putih itu, aku bahkan berpikir kalau lebih baik untuk mati bersama daripada menjadi yang ditinggalkan, itu jelas bukan bohong."

Kirito menunjukkan senyuman samar. Rasanya seperti sejumlah tak terbatas rasa menyalahkan diri sendiri terletak jauh di dalamnya, nafas Lisbeth terambil.

"Tapi, kamu hidup. Aku tak menyangka, namun fakta bahwa aku bisa terus hidup bersama Lis membuatku sangat senang. Dan, malam itu... Saat kamu memberikan tanganmu padaku, semuanya terbuka jelas. Tangan Lis terasa hangat... Orang ini masih hidup, itulah yang kupikir. Aku, dan juga semua orang, kita pastinya tidak hidup hanya demi menyambut kematian suatu hari nanti. Aku yakin kita hidup demi melanjutkan hidup. Jadi... Terima kasih, Lis."

"..."

Kali ini, senyuman sejati bangkit jauh dari dalam hati Lisbeth. Dikendalikan oleh emosi kuat yang misterius, dibukanya mulutnya.

"Aku juga sama... Aku juga sama. Aku selalu mencarinya. Untuk sesuatu istimewa yang sejati, di dunia ini. Buatku, itu adalah kehangatan tangan kamu."

Mendadak sekali, duri es yang menusuk jauh di dalam hati Lisbeth mencair dengan lembut, rasanya mirip seperti itu. Air matanya juga telah berhenti beberapa saat lalu. Untuk jangka waktu yang singkat, mereka menatap satu sama lain tanpa suara. Sensasi yang muncul sewaktu mereka terbang berjalan masuk sekali lagi, bersentuhan dengan hati Lisbeth hanya untuk sekejap, dan lenyap.

Lisbeth diganjar. Itulah yang diyakininya.

Kata-kata dari Kirito tadi menelan kepingan-kepingan hancur dari cintanya yang telah merekah, dan dirasakannya tenggelam jauh di suatu tempat dalam dirinya.

Dia mengedipkan matanya sekali dengan cepat, melepaskan tetesan-tetesan kecil, dan membuka mulutnya untuk bicara dengan senyuman.

"Kata-kata tadi, pastikan Sinon mendengarnya juga. Gadis itu juga menderita. Bagaimanapun, ia ingin kehangatan Kirito."

"Lis..."

"Aku tidak apa-apa."

Lisbeth mengangguk lembut, digenggamnya dadanya dengan kedua tangan.

"Perasaan sakit ini akan membekas hanya sedikit lebih lama lagi. Jadi... Kumohon, Kirito, akhiri dunia ini. Aku pasti akan bekerja keras sampai saat itu. Tapi, begitu kita kembali ke dunia nyata..."

Lisbeth menyeringai dengan senyuman nakal.

"Kita langsung masuk ronde kedua."

"..."

Kirito juga tersenyum, mengangguk dalam-dalam. Selanjutnya, ia mengayunkan tangan kirinya, membuka sebuah layar. Saat Lisbeth penasaran dengan apa yang ingin ia lakukan, "Elucidator" dilepas dari punggungnya, disimpan ke inventaris. Mengikutinya, ia memanipulasi susunan equipment-nya, mewujudkan sebuah pedang baru menggantikan pedang sebelumnya. "Dragon Bone", pedang putih yang terbuat dari logam putih yang didapatkan dari item jatuh yang ditinggalkan oleh naga putih, diisi oleh emosi Lisbeth saat Lisbeth membuatnya. "Mulai hari ini, pedang ini menjadi rekanku. Biayanya akan... Diselesaikan untuk di dunia lain."

"Oh, sekarang kamu sudah bilang begitu. Harganya akan cukup lumayan."

Sambil berbagi tawa, mereka beradu tinju satu sama lain.

"Ya, balik ke toko yuk. Sinon pasti sudah capek menunggumu... Aku juga lapar sih, sebenarnya... Bagaimana kalau aku, kamu dan Sinon makan siang bersama sekarang?"

Lisbeth mengatakan itu, dan mulai berjalan setelah beranjak di depan Kirito. Untuk kali terakhir, disekanya matanya dengan tegas, menghamburkan air mata terakhir yang masih berada di sudut matanya, dan air mata pun lenyap menjadi butiran cahaya.

Diacunginya jempol pada Lisbeth, Kirito tersenyum lagi. Wajahnya berbinar-binar.

"Boleh juga. Pasti Sinon senang makan bersama kita. Tentunya begitu."

.

.

.

FLASHBACK END

.

.

.

Itulah yang terjadi sejak setahun yang lalu. Masih diingat dengan baik oleh Kirito sampai sekarang.

Dia sudah berada di lantai dua di toko milik Agil sejak kemarin itu. Dia duduk di bangku yang terbuat dari batu. Kakinya menyilang dan meminum teh yang rasanya aneh, yang tidak bisa dipikirkannya mungkin itu adalah produk gagal. Dia juga sedang dalam mood yang tidak baik.

Kemarin itu, tidak, mungkin Naruto dan Asuna akan baik-baik saja setelah kembali dari lantai 55 itu. Mereka membentuk sebuah guild bersama Lisbeth dalam memburu bongkahan logam langka yang berada di perut sang naga putih. Lisbeth yang merupakan gadis yang pernah menyatakan cinta padanya, sampai sekarang dia tidak berani untuk bertemu dengan Lisbeth sebelum menyelesaikan game ini.

Penyelesaian sebuah lantai, yang berarti membutuhkan kekuatan yang sangat besar. Apalagi semakin tinggi lantai yang diselesaikan, pasti boss monster yang akan dihadapi semakin bertambah kuat. Mengingat sekarang adalah garis depan berada di lantai 75, sudah cukup untuk memulai banyak sekali rintangan. Menjelajahi labirin yang sangat sulit. Tapi kali ini, dia belum berniat untuk ikut campur dalam misi clearing lantai. Karena dia masih dalam keadaan cuti sementara waktu dari guild KoB.

Entah bagaimana keadaan mereka - Naruto, Asuna dan Lisbeth - sejak mengirim pesan padanya bahwa mereka pergi ke lantai 55 untuk menjalani quest tersebut. Setidaknya dia yakin bahwa sang kakak bisa menjaga kedua gadis itu dengan baik. Meskipun kakaknya belum mengabarkan apapun padanya sampai detik ini.

Baginya, Naruto adalah kakaknya yang terbaik dan menjadi idola di hatinya.

"Bagaimana keadaan Aniki-sama, Lisbeth dan Asuna ya? Semoga mereka baik-baik saja dan selamat dari ancaman naga putih itu..."

Ketika Kirito menggumamkan perasaan cemasnya tanpa henti, Agil berjalan mendekatinya dengan sebuah senyuman.

"Hei, pasti mereka baik-baik saja kok. Atau mungkin saja mereka sedang terperangkap di sebuah jurang dan tidak bisa keluar dari sana untuk selama-lamanya."

"JANGAN BERCANDA!"

Kirito berteriak dan melempar gelas yang ada di tangan kanannya, mengincar area yang berada 50 cm di sebelah kanan kepala Agil. Tapi, tanpa sadar dia melakukan gerakan yang mengaktifkan skill "Melempar Senjata" dan melemparkan gelas itu ke dinding dengan kecepatan tinggi. Gelasnya meninggalkan jejak cahaya sebelum mengenai dinding dengan suara yang kencang. Untungnya, ruangannya adalah benda yang tidak bisa dihancurkan, jadi tidak ada apapun yang terjadi selain munculnya tulisan "Immortal Object". Jika dia mengenai sebuah hiasan, benda itu pasti akan hancur.

"Ah, apa kau mau membunuhku untuk kedua kalinya, Kirito!?"

Kirito mengangkat tangan kanannya sebagai tanda minta maaf dan kembali bersandar di kursi setelah mendengar teriakan berlebihan yang dikeluarkan sang pemilik toko.

Agil sedang memeriksa barang yang didapatkannya dari penjelajahan di labirin lantai 74 kemarin. Setiap beberapa lama dia mengeluarkan suara yang aneh, yang kemungkinan besar ada barang yang cukup berharga di dalamnya.

Dia berencana untuk membagi rata uang yang didapatkannya dari menjual barang-barang itu pada Sinon, tapi ini sudah lewat batas waktu janji pertemuan dan Sinon masih belum datang. Kirito sudah mengirimkannya sebuah pesan, jadi Sinon pasti tahu di mana Kirito sekarang.

Kirito dan Sinon berpisah di jalan utama dari gerbang teleport Algade kemarin. Sinon berkata kalau dia akan memantau keadaan para anggotanya dan pergi ke markas GC di lantai 65. Kirito bertanya padanya jika Kirito harus ikut dengannya, mengingat mereka sudah menikah dan takut akan terjadi sesuatu yang buruk dengannya.

Tapi, Sinon mengatakan kalau dia baik-baik saja dengan sebuah senyuman lembut di wajahnya. Jadi, Kirito melupakan niatnya itu.

Sudah dua jam sejak waktu perjanjian. Jika dia telat seperti ini, apa itu berarti sesuatu telah terjadi? Tidakkah seharusnya Kirito pergi dengannya? Kirito meminum teh yang ada di gelas dengan sekali teguk untuk menenangkan rasa khawatirnya.

Sesaat setelah Kirito meminum habis teh di poci teh yang ada di hadapannya, dan Agil menyelesaikan pemeriksaan item-itemnya, Kirito mendengar suara langkah kaki berlari menaiki tangga. Kemudian, pintunya dengan cepat terbuka.

BRAK!

"Hei, Sinon…"

Kirito hampir saja mengatakan "Kamu terlambat" tapi dia menghentikannya. Sinon mengenakan seragamnya seperti biasa tapi disertai mantel berwarna biru muda, tapi wajahnya pucat dan matanya menunjukkan rasa khawatir. Dia menaruh kedua tangannya di depan dadanya, menggigit bibirnya dua atau tiga kali, dan kemudian berkata

"Apa yang harus kita lakukan... Kirito…?"

Dia memaksakan untuk mengeluarkan suara yang hampir terdengar seperti tangisan.

"Sesuatu… Yang buruk telah terjadi…"

Beberapa menit kemudian...

Setelah meminum sedikit teh yang baru dimasak, wajah Sinon sedikit kembali cerah dan dia mulai menjelaskan dengan sedikit ragu. Agil turun kembali ke lantai pertama setelah menyadari suasananya.

"Kemarin ... Setelah aku kembali ke markas di lantai 65, aku mengadakan rapat bersama para anggotaku. Kemudian aku mengatakan kalau aku ingin mengambil cuti dari guild dan kembali ke rumah. Kupikir, aku bisa bersantai sejenak selama pertemuan pagi rutinitas guild…"

Sinon, yang duduk di depan Kirito, menurunkan matanya dan menggenggam dengan erat gelas tehnya sebelum melanjutkan pembicaraan.

"Tapi, wakil ketuaku berkata kalau ada para pemain dari guild kriminal yang telah membunuh beberapa anggota guild-ku. Ketua guild kriminal itu mengancam akan membunuh seluruh anggota GC. Sehingga aku tidak tahan mendengarnya dan mencari mereka. Lalu aku menantang ketua mereka bertarung. Tapi, ketua mereka malah tidak mau melawanku. Tapi, dia mengatakan padaku bahwa dia tidak akan membunuh anggota-anggota GC. Asal kalahkan dia dengan satu syarat… Dia bilang kalau… Dia ingin bertarung… Dengan Kirito…"

"Apa…?"

Kirito tidak dapat mengerti apa yang dia maksudkan selama beberapa saat. Bertarung? Apa itu maksudnya sebuah duel? Apa hubungannya duel dengan ancaman pembunuhan seluruh anggota GC?

Ketika Kirito menanyakannya…

"Aku juga tidak tahu…."

Sinon menggelengkan kepalanya sambil melihat ke arah lantai.

"Aku sudah mencoba mengatakan padanya kalau tidak ada artinya melakukan hal itu... Tapi, dia tidak mau mendengarkan perkataanku…"

"Tapi… Ini menyulitkan. Kalau orang itu tiba-tiba menyampaikan persyaratan seperti ini…"

Kirito bergumam saat membayangkan guild kriminal yang telah membunuh banyak orang di pikirannya. Hal ini mengingatkannya tentang Laughing Coffin dan Darkness Moon itu.

"Aku tahu. Tapi, duel ini akan melibatkan nyawa semua anggota GC sebagai taruhannya. Termasuk juga aku, tentunya."

Meski Sinon adalah ketua GC yang mempunyai kharisma yang luar biasa, yang menarik kekaguman bukan hanya dari seluruh anggota guildnya tapi juga hampir semua orang-orang yang berada di garis depan, dia memberikan instruksi ataupun perintah dengan suara yang sangat tegas. Kirito bertarung di sampingnya beberapa kali dalam pertarungan melawan boss dan Kirito juga mengagumi kemampuannya untuk mempertahankan barisan dengan isyarat tangannya dan selalu memastikan keadaan para anggotanya baik-baik saja. Dia selalu mengutamakan keselamatan para anggotanya. Berani untuk mengorbankan diri menjadi tameng di barisan paling depan.

Karena itulah, Kirito menyukai sosok gadis kucing yang berada di depannya ini.

Namun, nyawa Sinon telah menjadi taruhannya jika dia menolak duel itu.

Ketua guild kriminal itu mengajukan keberatan dengan memberikan syarat untuk melakukan duel dengannya, sebenarnya apa maksudnya ini?

Meski dia benar-benar kebingungan, dia berbicara untuk menenangkan Sinon.

"Ya, ayo pergi dulu. Aku akan mencoba berbicara langsung dengan ketua guild kriminal itu. Tapi, terlebih dahulu kita harus pergi ke markas guild-mu dulu."

"Ya… Maaf. Aku selalu membuatmu repot…"

"Aku senang melakukan apapun, karena kamu adalah…"

Sinon melihat ke arah Kirito dengan berharap ketika Kirito berhenti di tengah kalimat yang diucapkan Kirito.

"Istriku yang sangat kucintai."

Sinon terpaku sebentar tapi kemudian dia menunjukkan senyuman yang hangat.

.

.

.

Lantai 65.

Lantai di mana markas GC (Guardian Cats) berada. Lantai yang bertemakan horror di mana perkotaannya bernuansa mistis dan menyeramkan. Bangunan-bangunan yang ada di sini berdesain seperti bangunan-bangunan tua yang sudah lama ditinggalkan. Jalanan yang sepi. Tidak tampak pemain-pemain yang mengunjungi di tempat ini. Para NPC yang menghuni lantai ini juga berwajah menyeramkan seperti hantu begitu.

Saat Kirito dan Sinon berteleport dari Algade ke lantai ini, tiba di gerbang teleport plaza. Kemudian berjalan di jalanan yang sepi. Banyak toko yang berjejeran di dua sisi jalanan dan dijaga oleh para NPC yang berwajah menyeramkan. Seperti berada di kota hantu. Siang hari seperti ini, keadaannya sangat menyeramkan. Apalagi jika malam hari tiba, pasti akan bertambah menyeramkan.

Dalam perjalanan menuju ke markas GC, Kirito tidak habis pikir mengapa Sinon dan anggota GC memilih tempat seperti ini untuk dijadikan markas besar mereka. Untuk alasannya, sudah pernah ditanyakannya pada Sinon. Sinon mengatakan bahwa lantai ini jarang dikunjungi oleh para pemain lain, para anggotanya sangat menyukai hal mistis dan sepi seperti lantai ini. Apalagi dia dan anggota-anggotanya termasuk orang-orang yang mempunyai latar belakang kehidupan yang sama di dunia nyata, tapi ada juga mempunyai latar belakang yang berbeda. Di mana mereka adalah orang-orang yang terasingkan dan diperlakukan dengan tidak baik oleh orang-orang di sekitarnya. Atau dengan kata lain, mereka adalah orang yang lemah dan takut akan sesuatu hal. Selalu menyendiri, tidak mudah bergaul dengan orang lain, dan bertemankan sebuah buku serta kesepian. Bisa dibilang sebagian besar anggota-anggota GC adalah orang-orang yang disebut kutu buku. Mereka seperti "kucing kampung" yang buruk rupa dan akan diusir karena dianggap akan menjadi pengganggu bagi orang lain. Sebaliknya mereka akan dijadikan bahan "bully" yang selalu ditindas oleh kaum yang kuat. Mereka akan berakhir menjadi sangat lemah dan tidak berdaya. Tidak mampu melawan. Hanya mampu menangis seorang diri tanpa ada orang baik yang akan menemani.

Seperti itulah latar belakang sebagian besar para anggota GC. Sejak insiden SAO itu, mereka diserang oleh rasa ketakutan dan depresi. Namun, setelah bertemu dengan seseorang yang bernasib sama antara satu sama lainnya. Mereka saling berbagi cerita dan saling menghibur. Lalu membentuk sebuah guild yang bertujuan untuk menjadi terkuat dan membantu dalam clearing lantai. Maka diputuskan ketua dan wakil ketua untuk memimpin guild yang dinamakan Guardian Cats ini.

Awal pembentukan GC ini, ketuanya bukan Sinon. Tapi, seorang gadis cantik berambut hitam dikuncir kuda dan bermata hijau. Namanya Shizuka. Dia adalah gadis yang sangat kuat, tenang dan berpendirian yang kuat. Pengguna pedang yang sangat baik.

Tapi, Shizuka meninggal saat dibunuh oleh guild kriminal yang sangat bermusuhan dengan guild GC yang dipimpinnya. Waktu itu, Sinon adalah anggota terbaik dari GC, kejadiannya setelah tujuh bulan semenjak insiden SAO. Lalu Shizuka menyuruh wakil ketua untuk mengangkat Sinon menjadi ketua penggantinya sebelum Shizuka pergi untuk membereskan para anggota guild kriminal yang telah banyak membunuh para pemain hanya bertujuan menyelesaikan game secepat mungkin.

Sejak kematian Shizuka, Sinon diangkat menjadi ketua GC. Semua anggota GC menerimanya dengan senang hati dan mematuhi semua perintahnya dengan patuh. Sang wakil ketua GC yang bernama Eugeo, sangat menghormatinya dan selalu menemaninya jika bepergian dalam melaksanakan misi clearing lantai. Bahkan mereka harus berhadapan dengan guild kriminal yang menjadi musuh bebuyutan mereka - guild kriminal itu bernama "Hell Devil Moon" atau disingkat HDM - yang sering menyerang mereka di saat-saat tidak terduga.

Kini HDM muncul lagi untuk menyerang para anggota GC. Mereka telah membunuh beberapa anggota GC. Hal ini membuat para anggota GC tidak berani pulang seorang diri, sebab HDM akan menyerang mereka secara berkelompok. Mengeroyok satu anggota GC di jalanan sepi sampai mati. Atau kerap juga HDM menculik anggota GC, dibawa ke tempat sepi dan dibunuh dengan sadis.

Informasi tersebut sampai ke telinga Sinon saat Sinon kembali ke markas GC setelah sekian lama cuti untuk beberapa hari. Atas kejadian yang menimpa anggota-anggotanya itu, Sinon menjadi geram dan memburu orang-orang HDM itu, seorang diri. Tanpa ada yang menemaninya. Sehingga Eugeo dan para anggota lainnya pergi mengejar Sinon.

Tidak sulit untuk menemukan orang-orang HDM, mereka mengenakan seragam berwarna serba ungu gelap dengan lambang api hitam di belakang seragam mereka. Jumlah anggota mereka lebih dari 30 orang.

Mengenai ketua mereka, adalah pemain yang berlevel tinggi dan kemampuannya tidak bisa diremehkan. Pengguna scythe yang selalu menyembunyikan wajahnya di balik topeng seperti wajah iblis bertanduk dua. Para anggota selalu memanggilnya "Lucifer."

Entah siapa orang yang bernama Lucifer itu. Dialah yang meminta Kirito untuk berduel dengannya dengan taruhan nyawa semua anggota GC. Jika Kirito menang, dia tidak akan membunuh semua anggota GC. Tapi, sebaliknya jika Kirito kalah, dia akan membunuh semua anggota GC tanpa tersisa sedikitpun.

Ini namanya ancaman yang sangat serius. Terlebih Sinon mendapatkan pesan dari Eugeo sebelum berteleport ke lantai 65 ini, bahwa beberapa anggota GC diculik dan dijadikan tawanan oleh orang-orang HDM. Mereka disekap di sebuah penginapan yang berada di lantai 49.

Untuk itulah, Kirito dan Sinon terlebih dahulu pergi ke markas GC untuk mengetahui apa yang terjadi pada beberapa anggota GC itu. Hingga setelah lama berjalan, mereka pun sampai di markas GC yang berupa bangunan tua berlantai tiga dan bertembok batu besar. Bangunan tua itu mirip seperti bangunan yang dihuni para zombie.

Di depan gerbang besar tersebut, dijaga oleh dua anggota yang berseragam biru muda. Memakai zirah besi di sekujur tubuhnya. Bersenjatakan tombak. Mereka tidak pernah lelah untuk menjaga pintu gerbang masuk satu-satunya di markas besar GC tersebut.

Begitu menyadari sang ketua datang mendekat, diikuti sang Black Swordman dari belakang. Mereka sedikit menunduk seraya memberi hormat.

"Ketua... Selamat datang!"

"Terima kasih," jawab Sinon dengan wajah datar tanpa ekspresi sama sekali."Aku masuk sekarang."

"Silakan..."

Setelah berbicara singkat pada dua penjaga tadi, Sinon segera membuka pintu gerbang yang terbelah dua. Diikuti oleh Kirito dari belakang.

Lalu mereka berdua berjalan memasuki ruangan depan yang begitu remang-remang karena hanya diterangi lampu antik yang sudah sangat tua. Suasana sangat sepi. Mungkin bisa dibilang ini adalah aula.

Tampak tiang-tiang raksasa berderet-deret di sepanjang dinding aula tersebut. Lantai putih yang mengkilap bagaikan mutiara. Sarang laba-laba ada di mana-mana. Memberikan kesan horror dan mistis bagi siapa saja yang melihatnya.

Setelah berjalan lurus beberapa menit, mereka menemukan sebuah tangga yang menuju lantai dua. Berjalan bersama secara beriringan untuk menaiki anak tangga satu persatu. Setelah sampai di puncak tangga, ada dua jalan yaitu ke kanan dan ke kiri.

Sinon menggerakkan kedua kakinya untuk berbelok ke kiri. Kirito mengikutinya dari samping dan terus memperhatikan keadaan sekitar karena baru kali ini dia datang ke markas GC tersebut.

Berjalan lurus hanya selama lima menit, mereka berhenti di depan sebuah pintu setinggi 2 meter. Terdapat ukiran seperti kucing berekor dua, itulah lambang dari guild GC, berada tepat di tengah pintu tersebut.

"Ini... Ruangan apa?" tanya Kirito mengamati lambang kucing berekor dua itu, mengingatkannya tentang mitos nekomata.

"Ruang pertemuan para anggota," jawab Sinon cepat dengan nada datar.

"Oh."

Kirito ber-oh ria. Dia membulatkan mulutnya seperti huruf o.

Dengan cepat, Sinon membuka pintu. Pintu terbuka dan orang-orang di dalam ruangan itu menoleh pada pintu yang terbuka. Melihat Sinon yang datang bersama Kirito.

"KETUA!" seru beberapa orang yang berseragam biru muda, langsung berlari cepat untuk menghampiri sang ketua.

Sinon menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Kirito.

Seorang laki-laki berambut coklat dan bermata biru, berpakaian zirah besi berwarna biru muda dengan jubah yang berwarna senada di punggungnya, maju selangkah dari yang lainnya. Itulah sang wakil ketua, Eugeo.

Pandangan mata hitam gadis terdingin itu, menancap pada Eugeo.

"Ketua...," kata Eugeo yang tampak panik."Untung sekali ketua datang ke sini secepatnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk menghadapi masalah ini. Tentang penyanderaan anggota-anggota kita yang dilakukan HDM itu, ketua HDM ingin segera bertemu dengan Black Swordman itu. Kalau tidak, para anggota kita yang disandera akan dibunuhnya, jika kita tidak memenuhi permintaannya."

"Aku mengerti situasi ini. Black Swordman telah datang untuk membantu kita."

"Ah, benarkah? Di mana dia?"

"Itu..."

Sinon menunjuk Kirito dengan lirikan matanya secara diagonal. Eugeo dan beberapa orang melihat ke arah yang ditunjuk oleh Sinon.

Begitu semua mata tertuju pada Kirito, dia hanya mampu tersenyum dan mengangkat tangannya.

"Ha-Halo..."

Semua orang kecuali Sinon, terpaku melihatnya. Tidak percaya bahwa sang Black Swordman yang sangat terkenal dan memiliki unique skill itu, berdiri tepat di depan mata mereka. Terlebih mereka merasa heran. Mengapa sang ketua bisa membawa Black Swordman itu dengan mudahnya ke sini?

Sesungguhnya mereka tidak tahu bahwa Sinon dan Kirito sudah menikah. Apalagi mereka semakin bingung tentang sikap sang ketua yang berubah drastis akhir-akhir ini. Semula sangat dingin dan kaku, tapi sekarang sudah agak bersikap lembut dan manis. Ditambah mereka hanya tahu bahwa Sinon sangat sulit didekati oleh pemain laki-laki manapun. Tapi...

Pertanyaan demi pertanyaan menjelma di otak mereka. Hingga Eugeo memecahkan keheningan yang sempat berlangsung selama beberapa menit.

"Ah... Kau... Adalah Kirito Black Swordman yang terkenal memiliki unique skill itu? Yang kalah saat duel dengan ketua KoB di lantai 75 itu, kan?" Eugeo menunjuk Kirito dengan tampang polos.

Mendengar itu, Kirito cuma tersenyum maklum.

"Ya... Itu benar. Tapi, soal duel dengan ketua KoB itu, jangan disinggung lagi. Itu sudah berlalu."

"Walaupun begitu, kau tetaplah pemain yang sangat hebat. Terlebih kau memiliki skill langka Dual Blades itu."

"Jangan dilebih-lebihkan lagi."

"Baiklah... Kalau begitu, aku akan memperkenalkan diriku. Aku Eugeo, wakil ketua GC ini."

"Aku Kirito. Senang berjumpa denganmu, Eugeo."

Mendadak para anggota GC segera maju dan menyerbu Kirito untuk berkenalan dengannya. Hal ini sangat membuat Kirito kewalahan menghadapinya.

"AH! APA-APAAN INI?"

"Kirito, ayo kita kenalan!"

"Kebetulan aku penggemarmu!"

"AKU JUGA! AKU JUGA!"

"KYAAAAA! BISA KETEMU LANGSUNG DENGAN BLACK SWORDMAN SEPERTI INI! AKU SENANG SEKALI!"

Berbagai suara bercampur aduk di ruangan yang hanya diisi beberapa sofa, meja dan semacamnya. Suasana sangat ribut. Membuat Sinon dan Eugeo sweatdrop melihatnya.

"Aku tidak menyangka ada juga anggota GC yang sangat menggemari Kirito," sahut Sinon bersidekap dada sambil berwajah datar.

"Iya ya, ketua...," Eugeo tersenyum sebentar dan langsung melihat ke arah Sinon."Ngomong-ngomong, bagaimana rencana ketua selanjutnya? Kita harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan para anggota kita yang disandera itu. Satu-satunya yang bisa menyelamatkan mereka, Kirito-san, kan?"

Sinon berpikir keras sebentar. Dia memandang Kirito begitu lama. Sedetik kemudian, dia menjawab.

"Kita adakan rapat dulu. Kita akan bergerak jika sudah mendengar keputusan dari Kirito. Itulah rencana pertamanya."

Eugeo mengangguk setuju dengan sikap serius.

"Baik, aku mengerti."

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

A/N:

Khusus chapter 11 ini, saya buat konflik untuk pasangan Kirito dan Sinon. Juga penjelasan tentang guild Guardian Cats (GC) yang dipimpin Sinon. Ditambah gambaran tentang lantai 65 ini, adalah hasil original dari gambaran saya sendiri karena saya tidak dapat gambaran tentang lantai 65 dari novel SAO itu sendiri. Yang saya tahu kalau lantai 65 itu bertemakan horror dari novel SAO jilid 2. Nah, dari sanalah saya bisa mengembangkan gambaran lantai 65 sebagai pusat markas GC tersebut.

Untuk selanjutnya di chapter-chapter mendatang, bakal saya sambung lagi. Masih seputar cara Sinon dan Kirito untuk menyelamatkan anggota-anggota GC yang diculik. Tentunya Naruto dan Asuna akan ikut terlibat dalam masalah mereka yang berujung tentang guild Darkness Moon yang mereka kalahkan di lantai 55 itu.

Nah, bagaimana pendapatmu, Firdaus? Adakah idemu untuk skill pedang buat Sinon? Ayo, sumbangkan ide kalian, bagi para reader yang sempat membaca sampai chapter ini!

Apa ada reader yang mau bantu kasih ide tentang skill pedang Sinon? Sekalian kasih ide tentang skill pedang Naruto juga ya? Kalau ada sih, kalau nggak ada, nggak apa-apa juga kok.

Oke, sekian saja komentar dari saya untuk mengakhiri chapter 11 ini. Akan saya sambung lagi ke chapter 12, jika mendapatkan ide buat skill pedang Sinon.

Sampai jumpa di chapter 12 ya.

Senin, 29 Agustus 2016