Chap 10 : Manja
365 After Marriage
Cast:
Lu Han, Se Hun
Romance, a little bit humor and drama.
This is Genderswitch.
.
.
.
Sejak kemarin setiap pulang dari tempatnya bekerja Sehun selalu membawa berbagai macam hadiah dari rekan kerjanya. Dua hari lalu ia membawa 2 pack tisu gulung, tempo harinya sebuah penanak nasi, sekarang ada sekitar lima paper bag dari beberapa butik ternama memenuhi tangannya. Bukannya apa sih, ini semua sebagai bentuk ucapan selamat atas pernikahannya minggu lalu dan sebagai bentuk permohonan maaf dari bosnya karena ia tidak bisa menikmati bulan madu. Sehun bisa apa selain patuh sambil tersenyum menggemaskan walau dalam hati kesal juga sih tapi mau bagaimana lagi. Tadinya nih kalau Luhan –istrinya tidak ada jadwal nah Sehun bakalan ngambek beneran. Tapi berhubung Luhan ternyata malah punya jadwal yang tak kalah sibuk darinya maka ia rada bersyukur sih masih harus kerja keras bagai quda setelah menikah.
Kalian ingat tidak sih beberapa bulan sebelum menikah Sehun dan Luhan telah tinggal bersama, nah makanya setelah menikah Sehun merasa ada yang aneh aja gitu dengan dirinya dan Luhan. Rasanya tuh makin enak aja gitu bersama Luhan, ada perasaan entah apa deh pokoknya membahagiakan hatinya. Entah bagi Luhan tapi di mata kepala dan hatinya Sehun mendapati ada binar-binar cahaya kecantikan yang luar biasa dari Luhan. Padahal selama ini Sehun yakin tidak ada yang berubah dari perlengkapan kecantikan milik istrinya tersebut, lalu apa dong yang membuatnya begitu bersinar?
Nah kalau kata teman-teman tempatnya bekerja itu akibat kerja keras suami setiap malam. Sehun sih Cuma bisa senyum-senyum malu sambil garuk-garuk pipinya yang tidak gatal sama sekali mendengar ocehan teman-temannya yang tidak jauh dari urusan ranjang. Masalahnya sebelum menikah juga ia dan Luhan udah sering kerja keras bagai quda terus apa yang membuatnya beda. Kalau kata ibu HRDnya yang baik hati dan kebetulan fans beratnya Luhan, sex after marriage itu yang terbaik. Jadi meskipun sebelumnya udah pernah melakukan tapi sensasi setelah menjadi sepasang suami istri itu lebih nikmat. Dari sana Sehun akhirnya mendapatkan jawaban kenapa setiap akhir garapannya dengan Luhan, istrinya tersebut terlihat sangat menggairahkan cantik nan menggemaskan.
Duh Sehun kangen Luhan
Malam ini setelah mendapati handphonenya penuh dengan pesan iba dari rekan-rekan kerjanya karena harus tidur sendiri, Sehun akhirnya memutuskan untuk memesan makanan cepat saji demi menyelamatkan hidupnya. Ia sangat malas hari ini, bahkan sekedar memindahkan paper bag dari atas tempat tidur ke lantai saja ia merasa sangat tidak bertenaga. Hari ini klien di kantornya sangat menyebalkan, mereka meminta meeting untuk membahas desain produk yang malah berakhir dengan ajakan makan siang penuh modus. Sehun sudah berulang kali menuturkan jika ia sedang banyak pekerjaan namun kliennya kali ini benar-benar menguji kesabarannya.
"Luhan kan sedang shooting di luar kota, bermainlah sebentar di luar tidak akan masalah loh." Hii, Sehun merinding sendiri mendengar rayuan kliennya tersebut. Ia sampai harus mengirim pesan kepada Yuri, sang bunda untuk membantunya keluar dari lingkaran setan tersebut. Yuri memang sosok ibu paling jagoan dalam hidup Sehun, begitu ia mengirimkan pesan kalau ada wanita gatal yang menggangunya tanpa basa-basi ibunya tersebut langsung datang menjemputnya dengan alasan Sehun punya pekerjaan di butiknya. Sehun baru bisa bernafas lega begitu Yuri menjalankan mobilnya menjauh dari kafe tempat meeting tersebut.
"Pakai cincin-" Sehun langsung mengangkat jari manisnya untuk menunjukkan jika cincin pernikahannya telah terpasang sempurna.
"Aku tidak pernah melepasnya."
"Pasang foto kalian berdua di-" Sehun menyentuh layar ponselnya untuk memperlihatkan fotonya dan Luhan menjadi wallpaper di sana.
"Ini habis olahraga loh." Yuri hanya mencubit pipi putra bungsunya gemas setelah mendengar jawaban anaknya tersebut. Ia juga bingung sih padahal pernikahan putranya dan Luhan sudah disiarkan oleh berbagai stasiun tv dan masuk beberapa majalah tapi masih banyak saja yang menganggu Sehun. Beda dengan Dongwoon yang bisa hidup dengan tenang meski sering digoda wanita-wanita muda namun tidak separah yang dialami oleh Sehun. Pesona anak terakhirnya memang tak terelakan bahkan untuk ukuran ibu-ibu sepertinya.
Kembali dengan keadaan Sehun malam ini yang sudah seperti pria patah hati, ia hanya duduk di depan tv sambil memperhatikan Vivi dan Garin yang sedang asik bermain bersama. Sehun heran sih sebenarnya kenapa anjing dan kucing seperti Vivi dan Garin bisa akur tidak berkelahi seperti kucing dan anjing diluaran sana. Vivi itu anjing jantan yang manja beda dengan Garin kucing betina yang lincah. Biasanya mereka akan saling bercanda sambil berguling di lantai atau saling menggoda satu sama lain tapi entah mengapa malam ini setelah asik bermain kedua binatang peliharaannya itu malah saling memeluk satu sama lain. Vivi malah sibuk menjilati Garin membuat Sehun kesal sendiri.
Dasar anjing mesum.
Ini anjingnya yang mesum atau otakmu saja yang mesum tuan Oh?
Memutuskan untuk melihat tanaman kaktus yang sengaja ia dan Luhan tanam di balkon apartemen mereka, Sehun malah merasa tambah kesepian. Ah ini dia satu lagi perbedaan yang ia rasakan begitu setelah menikah dengan Luhan. Biasanya kalau mereka harus mengalami keadaan hubungan jarak jauh begini, yang akan uring-uringan merindu itu Luhan ya walau dia juga sih tapi tidak akan separah sekarang. Tapi setelah menikah, jangankan ditinggal Luhan shooting di luar kota, ditinggal Luhan iseng main ke apartemen tetangga saja Sehun sudah merajuk rindu. Padahal nih kalau sedang bersama dengan Luhan di apartemen juga tidak banyak kok yang mereka lakukan, Sehun tetap melakukan pekerjaannya dan Luhan sibuk menghafal naskahnya atau latihan untuk pekerjaannya. Namun bagi Sehun mendengar suara Luhan saja sudah membuatnya bahagia.
Sehun jadi tambah kangen Luhan kan :''(
"Kapan mommy kalian akan pulang?" Tanya Sehun pada kaktus-kaktusnya yang baru saja ia siram. Sesekali jarinya menyentuh kaktus-kaktus itu untuk kemudian membisikkan sesuatu pada mereka semua.
"Luhan, bogoshipo."
.
.
Sehun tidak tahu apa yang terjadi setelah ia membisikan kerinduannya pada kaktus-kaktus kesayangannya selain pergi makan malam. Ia tidak ingat kapan ia pindah ke kamar untuk tidur, kapan ia meletakan semua paper bag itu di atas sofa di kamarnya atau malah kapan ia mengganti bajunya menjadi baju tidur seperti sekarang. Satu-satunya yang ia ingat adalah setelah makan malam Sehun memutuskan untuk mencicipi minuman beralkohol hadiah dari rekan samping mejanya. Namanya Jaehyun, anak itu baru masuk dua minggu sebelum ia menikah dan ia memberikan Sehun sekaleng alkohol karena bingung mau memberikan Sehun hadiah apa. Habis itu mana Sehun ingat apa yang terjadi tau-tau ia sudah tergelak di tempat tidur dengan selimut dan baju yang bersih.
Siapa yang masuk apartemenku!
Sehun segera bangun dan keluar dari kamar begitu mendengar suara ribut-ribut dari arah ruang tengah. Seseorang sedang mengomeli orang lainnya atau apapun itu tapi yang jelas Sehun kenal betul suara siapa itu.
"Ibu,"
"Nah kan bangun juga anak ini! Cepat temui Luhan di kamar mandi sana, sejak tadi ia mengeluh pusing." Omel ibunya sambil merapikan ruang tengah yang penuh sampah cemilan. Oh jadi semalam aku menghabiskan semua cemilannya Luhan ya, hehe.
"Sehun," Sehun menoleh ke arah ibunya yang tau-tau sudah berdiri di hadapannya sambil bertolak pinggang,
" Dengar ibu tidak?" Sehun hanya mengangguk ragu atas pertanyaan ibunya. Ia dengar suruh ke kamar mandi tapi buat apa.
"Kalau begitu sana cepat!" Sehun benar-benar tidak paham mengapa ia disuruh cepat-cepat ke kamar mandi, ibunya bahkan sampai mendorong tubuhnya agar ia berjalan lebih cepat.
Sambil berusaha berjalan dengan baik di tengah dorongan sang ibu, samar-samar Sehun mendengar suara seseorang seperti sedang muntah. Ia segera mempercepat langkahnya begitu satu nama terbesit dalam pikirannya.
Luhan!
"Sayang," Sehun langsung mendekati Luhan membantu istrinya yang sedang memuntahkan entah apa itu di wastafel. Sehun mengelus tengkuk istrinya sambil memegangi rambut Luhan yang semakin panjang. Ia berdiri sangat dekat dengan Luhan untuk menjaga tubuh sang istri agar tidak terjatuh begitu saja karena lemas.
"Sudah?" Luhan hanya mengangguk lemas membuat Sehun sedih. Ia sangat merindukan Luhan dan memohon istrinya cepat pulang tapi bukan dengan keadaan sakit begini. Sehun kemudian langsung menggendong Luhan setelah membantu membersihkan wajah wanita itu dengan handuk kecil untuk kemudian membaringkan Luhan di tempat tidur.
Sehun tidak dengar sih apa yang sedang Yuri dan Luhan bicarakan selain kata-kata pusing dan mual. Di dalam pikirannya ia hanya berusaha mengingat kemungkinan apa yang terjadi pada tubuh istrinya. Terakhir mereka bermain kuda-kudaan itu sekitar empat atau lima hari yang lalu tapi seingatnya Luhan belum mendapatkan tamu bulanan pada bulan ini, kemungkinan besar adalah,
"Aku jadi ayah?!" Jeritan Sehun membuat Yuri dan Luhan sontak langsung melihat ke arah pria itu. Senyum Sehun begitu cerah, ia bahkan menari-nari saking senangnya.
"Aku jadi daddy, Yes!"
"Sehun," suara Luhan begitu lemas tak sanggup membuat Sehun untuk berhenti dari tarian kebahagiaanya. Ia bahkan memutar tubuhnya sendiri sambil berteriak 'aku jadi ayah' berulang-ulang.
"Sayang," Luhan benar-benar kehabisan tenaga untuk membuat Sehun berhenti. Ia sudah sangat pusing dan lemas sekarang, hal itu juga yang kemudian membuat Yuri langsung mendekati Sehun dan mendaratkan satu pukulan di pantat putranya tersebut.
Plak!
"Awh! Sakit eomma," Sehun mengelusi pantatnya yang berdenyut akibat tamparan sadis ibunya. Sehun heran deh tenaga ibunya tidak berkurang sama sekali kalau sudah memukuli pantatnya. Kan sakit tau.
"Siapa yang jadi ayah!? Luhan itu sedang desminor. Kau malah membuatnya makin pusing." Senyum Sehun perlahan-lahan memudar berganti dengan tatapan sedih. Ia memang sangat menantikan kehadiran Luhan dan Sehun kecil untuk menemaninya tapi sekarang ternyata belum waktunya.
"Sayang," Panggilan Luhan membuat Sehun kembali sadar dan segera mendatangi Luhan di tempat tidur. Ia meringis melihat wajah pucat Luhan, belum lagi wanita itu sangat dingin membuatnya benar-benar kesakitan.
"Lu,"
"Maaf ya belum ada junior disini." Aduh, Sehun rasanya ingin menangis begitu melihat Luhan membawa tangannya ke arah perut istrinya dan mengelusnya. Sehun tiba-tiba merasa egois dan jahat pada Luhan membuatnya langsung memeluk istrinya tersebut.
"Aku yang minta maaf." Luhan tersenyum sambil membalas pelukan Sehun atasnya.
"Aku yang minta maaf ya sayang, aku-"
"NO! Forgive me." Sehun semakin mengeratkan pelukannya pada Luhan sambil bersembunyi di ceruk leher istrinya.
"Forgive me Lu,"
"Iya sayang, iya," Luhan mengelus lembut punggung dan kepala Sehun yang semakin memeluknya erat. Inilah pria yang tadi menari-nari bahagia karena hampir menjadi seorang ayah sekarang malah bergelung manja padanya.
"Jangan sakit,"
"I love you,"
"Me-" Perkataan Luhan terpotong begitu ia melihat ibu mertuanya menghampiri mereka dan mencubit pinggang suaminya.
"Lepaskan Luhan Sehun, biarkan ia istirahat." Sehun hanya menggeleng dan terus memeluk Luhan membuat Yuri menggeleng heran.
"Inilah mengapa Luhan belum diberikan junior. Kau saja sudah seperti anak ayam selalu menempel padanya. Apa nanti kau mau saingan dengan anakmu sendiri untuk bermanja-manja dengan Luhan?!"
Jangan tanya bagaimana wajah Sehun sekarang kalau tidak memerah apalagi setelah mendengar tawa ibu dan Luhan menertawakan dirinya. Memangnya kenapa kalau ia manja dengan Luhan? Kan wajar.
Kalau aku punya junior, aku tidak akan manja lagi!
.
.
.
365 (After Marriage) chapter 10 officialy END
Cie haloo! Apakabar nih kalian semuanyaaa. Makasih yak masih setia menunggu 365 hehe. Mulai chapter ini, udah bakalan cerita soal kehidupan rumah tangga Luhan Sehun yak. Oia beberapa potongannya keseharian mereka ada yang aku posting di Instagram hehe.
Selamat puasa dan selamat liburan semuanyaaa!
