Gomen nasai buat lambatnya update, minna-san.. m(_ _)m
sudah mau semesteran jadi ini bakal jadi installment terakhir buat beberapa minggu, mungkin bulan, bisa jadi tahun…#plak ke depan. Buat zo-chan, maafkan orang yang belum bisa memenuhi kewajibannya memberikan fic2 pesananmu. Pahamilah daku…#plak
Sesuai janji di sini ada romance-nya. Tapi kalo krik krik author ga jamin loh…habis jujur aja, rada buru-buru nulisnya :p (GA BECUUUS)
Kritik pedas? Boleh, tapi kalo bisa jangan…#oranginiapamaunyasih oh ya, total chap ini 26 halaman loooh! \m/ #bangga
Hiru'Na' Fourthok'og : begitu ya, hiks…saya kan author abal, ga becus T_T. nggaklah, masa tenten sebrutal itu sih? Nanti kalo kakashi mati dihajar tenten ceritanya berhenti tengah jalan, dong #krik
Zoroutecchi : #degapdegup emm romance-nya jangan dikomentari, ya? Pliiiiis #plak
master tsukuyomi: emm interaksi apah? O.o kok author ga melihat ada indikasi yang berhubungan dengan interaksi yg master tsukuyomi tanyakan di dalam chap sebelumnya? #ceilah
KiYu desu : udah kucoba loh! Kalo ada yg ga kena italic kasi tau yah!
nara kazuki : terima kasih banyak loooh! \m/ keep reading and RnR ya
Shiranui Miyuki -Semi HIATUS : ahahay ketawa baca review dari shiranui ini XD sampe baca pas pelajaran. Gak boleh lhoooo #sokemot keep reading! \m/
Panda Kunoichi: loh kenapa malu? sini siniii :3 #apasih hehe, iya nih, garang, sasori dan tenten kakak beradik -_-. sayangnya, kakashi menggunakan ketampanannya supaya tenten nggak jadi sebrutal seperti yg dikatakan sasori jadi kakashi masih hidupp ;3 #spoilerceritanya huwah gabisa update kecepatan cahaya kayak dulu lagi ;_; im sorry…
.
"Lakukan sesuatu, dasar bodoh!"
Kakashi hanya bisa tersenyum canggung menerima reaksi Asuma. Pada akhirnya, Kakashi juga yang membocorkan rahasianya kepada teman perokok beratnya itu. Tapi kalau dia tidak meminta pertolongan Asuma, dia tidak tahu harus bagaimana lagi supaya bisa sampai rumah lebih cepat. "Aku benar-benar lupa, Asuma..."
"Itu bukan alasan! Kemana kepintaranmu yang dielu-elukan dulu, hah? Kau buang bersama dengan otakmu juga?"
Kakashi meringis. "You don't have to be that harsh..."
"Sekali bodoh ya tetap bodoh!"
Jlebb! Kakashi serentak membatu. A...apa dia memang sebodoh itu? Tapi, menelepon teman untuk meminta diantar pulang di tengah kencannya mungkin memang agak keterlaluan. "Aku minta maaf sudah mengganggu kencanmu dengan Kurenai-"
Asuma menghela nafas berat. "Bukan itu maksudku, Kakashi."
Kakashi menatap Asuma dalam bingung. "Aku mengerti kalau kau memang ingin menyelamatkan gadis itu. Tapi setidaknya pikirkan dirimu juga; kenapa luka di kepalamu itu tidak diperban atau apa, hah?"
"Ah..." Kakashi membelalakkan matanya seolah teringat sesuatu, sama sekali tidak terganggu dengan adanya coreng darah di dahinya yang mencapai pipi. "...pantas saja dari tadi aku merasa pusing. Kau memang jenius, Asuma."
Asuma tambah geram. "Kau ini benar-benar sudah bodoh, ya? Kau bisa mati gara-gara kehabisan darah, tahu!"
Kakashi tersenyum. "Tapi aku masih hidup, bukan."
"Belum setengah jalan tapi aku sudah lelah berargumen denganmu." Asuma melihat sosok mungil di dekapan Kakashi. Ia menghela nafas lagi. "Masuk ke dalam mobil."
.
Deru mesin mobil teredam deras hujan, mendatangkan kesunyian yang memilukan. "Jadi begitu...ada kejadian seperti itu di sekolah, ya..." gumam Asuma, suara beratnya mengingatkan Kakashi kalau ada yang absen dari bibir temannya itu; rokok. Bijak juga, pikir Kakashi. Atau mungkin dia kehabisan stok rokok?
"Anko akan mengurus Karin. Apa yang kupikirkan hanya bagaimana caranya membawa Tenten pergi dari sana. Apa..." mata silver mengedarkan pandangan ke sekujur tubuh brunette di pangkuan. Keringat mulai membasahi permukaan kulit yang sedikit lebih coklat dari kulit Kakashi itu. Ekspresi kesakitan samar muncul ke permukaan dari bagaimana kedua alis coklat Tenten mengernyit, lalu rileks kembali, mengernyit lagi, terus begitu tanpa ada indikasi berarti Tenten berangsur membaik. Kakashi menempelkan punggung tangannya di dahi gadis belia tersebut perlahan, mengusap lelehan peluh di waktu yang sama igauan inaudibel Tenten meluncur dari bibir mungil berwarna pink miliknya. Feverent kissable full lips, blossoming in its way to maturity.
"...menurutmu tindakanku ini egois?" desisnya pelan.
Asuma melirik sesaat ke pantulan sosok berambut silver dari kaca rear-view mobil. Matanya menatap bosan sebelum membuang pandangan ke jalan raya yang gelap di depan. Hujaman air hujan bertambah deras membuatnya menyalakan wiper guna menghapus tirai buram dari pandangan. Suara ketukan wiper terdengar jelas mematuk kaca jendela mobil, mengiringi kesunyian yang dipecah suara baritone Asuma. "Memang."
Ctik! Pemantik api mahal kepunyaan sang Sarutobi membakar lambat pangkal rokok yang entah bagaimana terdapat di antara jepitan bibirnya tanpa terlihat prosesnya oleh Kakashi. Begitu dirasa sudah cukup Asuma menghirup nikmat dengan kecepatan luar biasa. Matanya terpejam beberapa detik-
Plak!
-untuk terpaksa dibuka lagi. Bahunya mengerdik kaget mendapati pemantik apinya berteleportasi ke tangan Kakashi. Tapi lebih dari itu...sejak kapan Kakashi duduk di kursi di sebelah kursi supir? Mata coklat gelap Asuma berpindah cepat dari kaca rear-view ke kursi belakang, lalu ke Kakashi. Jarinya menunjuk-nunjuk sosok seorang brunette tengah lelap dalam keadaan terbaring di pantulan kaca. Sebuah jaket berwarna hitam gelap menutupi area leher hingga betisnya. "Kakashi? Lho-eh, tapi tadi kau...hah? Bagaimana?" Asuma keheranan.
"Kuharap kau tidak keberatan untuk tidak memadati sirkulasi udara mobilmu ini dengan asap rokok. Dan kumohon," Kakashi memencet tombol buka jendela. Akibatnya kelebatan deras hujan dengan mudah memenetrasi celah jendela mobil. "...aku sedang benci sekali dengan segala hal berbau pemantik api."
"Ah, hei!" seru Asuma.
Kakashi membalas tatapan Asuma datar. "Buang."
Melihat air muka serius itu Asuma mendecak. Pandangannya ia kembalikan ke depan, tepat saat sebuah mobil ford melaju ke arah mobilnya. Pupilnya melebar seketika. "Sial!"
Screech!
Diiin! Diiin!
Dengan geram Asuma menyambar tombol buka jendela, separuh badannya ia paksa keluar menyambut serangan rudal dari air hujan. Ia berteriak lantang, "Matamu dimana, bodoh? Tidak bisakah kau lihat ini jalan satu jalur?" tanpa sengaja melepaskan objek pelampiasan stress-nya ke udara bebas tersapu tiupan angin, mencium aspal dimana air menggenang dan mematikan api di pangkal puntung. Dengan tingkat kemarahan yang sama ia menjejal masuk badannya sambil merutuk. Karena pengendara mobil tadi, rokok yang terbuang percuma dan hujan deras yang membasahi bajunya.
Klap!
Kesunyian suara redaman hujan kembali mengalun di dalam mobil. Asuma mengusap-usap wajahnya kesal. "Kau puas? Itu rokok terakhirku."
"Apa yang kau pikirkan! Tenten bisa saja terjatuh dari kursi dengan manuver setajam itu!" protes Kakashi.
Asuma melotot melihat pantulan di cermin rear-view. "Sejak kapan kamu berpindah lagi ke belakang?"
"Tentu saja di selang detik kau akan mengambil belokan tajam! Kau pikir apa?"
"Kau ini benar-benar mengerikan sekali, tahu!"
Kakashi membuka dekapannya perlahan, memperlihatkan muka pucat Tenten; masih belum sadarkan diri. Desahan nafas leganya tidak terlewatkan oleh Asuma. "Hei...what was I saying? Ah..." Asuma sengaja melewatkan adegan dimana Kakashi memposisikan Tenten di pelukannya ketika mengganti kopling sesaat sebelum membelokkan mobil. "...kau bilang kau egois karena apa yang ada di kepalamu hanyalah membawa gadis itu pergi dari sana...kuakui jalan pikirmu memang egois."
Mata silver meneguk haus sosok rapuh di tangannya. Mungkinkah adanya suatu saat Tenten akan menatap balik dengan pandangan penuh kasih yang sama?
"Tapi..." Asuma melirik. "...siapapun itu, kurasa akan memikirkan hal sedemikian rupa. Kakashi,"
Tek. Kepala brunette bergeser di dada bidang Kakashi. Sang empunya mematung khawatir sudah waktunya bagi gadis itu bangun. Belum cukup sampai disitu kedua alis miliknya berkedut sebentar, memperlihatkan mimik terluka. "...kau tidak perlu memikirkan yang lainnya disaat orang yang penting bagimu terluka. Lakukan apa yang menurutmu harus kau lakukan."
Tanpa peringatan apapun bibir merah pucat terbuka, mengagetkan Kakashi dengan igauan parau.
"...s...en...sei..."
Deg.
"Haha! Menarik juga!"
Secepat kilat Kakashi mengangkat kepalanya ke arah suara tawa Asuma. Tampaknya dia pun menangkap dengar si brunette. "Bukankah itu pertanda bagus? 'Sensei'?" goda Asuma. "Dia memanggilmu dalam mimpinya, tidakkah itu berarti sesuatu padamu?"
"Eh..." Kakashi kehabisan kata untuk menanggapi. "Kuakui aku kaget mendengarnya."
Sebuah sengiran tertoreh di bibir Asuma. "Itu saja?"
Kakashi mengangkat bahu. "Mengingat kegigihannya dalam saat dulu menolakku habis-habisan, ini bisa disebut kemajuan tak diduga."
Asuma tertawa berderai. "Hahahaha! Aku tidak percaya seorang Kakashi bisa berkata begitu! Kalau begitu, tidak salah kan, kalau aku berkesimpulan kau sudah melewati banyak hal untuk bisa sampai di sini sekarang?; mendapati gadis yang kau sukai memimpikanmu-yah, meski keadaannya tidak bisa dibilang tepat atau romantis."
Kakashi tertegun. Mimpi? Apa gerangan isi mimpi itu? Bolehkah dirinya merasa senang? Kenapa mendadak batinnya meragu?
"Kakashi?"
Kakashi merunduk. Poni zig-zag silver menghalangi pandangan. "Aku..."
Asuma memasang sikap tenang. "Kau...?"
"...merasa tidak akan bisa jauh darinya meskipun aku ingin." sambungnya datar. "Tapi kalau dia memintaku untuk begitu, akan kulakukan." Ia menghela nafas sembari menggaruk kepala gemas. "Apa yang sudah ia lakukan padaku hingga aku berpikiran begitu, sih? Terakhir aku menyentuhnya, ia menamparku. Ini cuma sekedar perasaan sepihak, tapi..."
"Itu cinta, Kakashi."
Kakashi mengangkat kepalanya, termenung. "Cinta...?"
Asuma mengangguk. "Berbeda dari rasa sukamu di awal perasaan itu datang, cinta memiliki arti yang lebih dalam. Tanpa mengesampingkan definisi utamanya, cinta itulah yang mengikatmu dengan gadis itu."
"Asuma, aku-"
"Bukankah seharusnya kau meyakinkan dirimu untuk mempertahankan konsistensi perasaanmu? Lupakan keraguanmu, nikmati saja indahnya. Begitulah cinta."
Nikmati saja indahnya...
"Begitu semuanya mendadak pahit dan sulit diterima, di tengah-tengah kesukaran itu setidaknya akan ada kenangan yang melipur lara. Tidakkah terbersit di pikiranmu, hei Kakashi..." Asuma mengambil jeda sebentar. "...bahwa meski sedikit, gadis itu membalas perasaanmu? Semua orang pasti juga sama. To love is something, but to be loved is everything."
"Asuma..." Kakashi mengernyit.
"Hei, jangan pasang wajah menyedihkan begitu! Aku yang melihat tidak enak." ejek Asuma melihat pantulan kaca rear-view. "Yang jelas, aku tidak akan membahas masa lalu; baik yang berhubungan dengan Sasuke maupun Ayame. Aku hanya ingin bilang, Gai akan membunuhmu."
Untuk pertama kalinya Kakashi tersenyum. "Aku tidak akan kalah mengenai ketahanan fisik."
Asuma terkekeh. "Melawan makhluk buas hijau Konoha? Terserah kau sajalah."
Kakashi memandang keluar jendela dengan perasaan ringan, Tenten masih terlelap di pangkuannya. "Hn."
"Ah, satu lagi, Kakashi." sahut Asuma.
"Hn?"
"This may sound ridiculous, but...I'll kill you if you try anything funny to her, okay?"
Glek! Kakashi berkeringat dingin melihat aura yang sama ketika ia bersama Sasori. Kenapa tiba-tiba semua orang jadi defensif mengenai Tenten? "A...ah?"
Asuma sumringah, ia menoleh untuk menambah kesan serius dan tentunya menakuti Kakashi. "Maksudku, Tenten seumuran dengan Ino, kan? Aku hanya membayangkan kalau Ino berada di posisi Tenten...menyentuh sedikit saja kau pasti sudah kubunuh dari dulu. Itu saja, kok."
"Erm...baiklah."
"Bagus." Asuma mematikan mesin mobil. Kakashi celingukan melihat pemandangan familiar di luar mobil. Mereka sudah sampai. "Sebelum memikirkan hal lainnya seperti mengapa kau menghindari membawa gadis itu ke rumah sakit, sebaiknya kita lakukan sesuatu dengan luka di kepalamu itu."
.
Sebuah tangan meraba dahi Tenten. Gadis itu terlentang di atas kasur king-size spring bed berwarna putih. Selimut abu-abu bermotif garis menutupi bagian dada hingga perutnya, dua tangan terbujur kaku di sisi kiri dan kanan. Keringat masih melumasi sekujur tubuhnya tanpa henti, membuat Kakashi cemas akan kadar air di dalam sistem sang brunette. Suhu badan dapat dirasakannya masih cukup tinggi. Salah satu tangannya meraih segempal kain berbentuk handuk dari dalam baskom penuh air es. Setelah selesai memeras kain itupun tergelar di dahi Tenten.
Gyut!
"Auh!"
"Ssst!"
Kakashi refleks menutup mulut dengan tangannya. Matanya melebar was-was.
"..."
Dengkuran kecil terdengar. Kakashi dan Asuma menghela nafas. That could've had made her awake.
Kakashi menarik kerah baju Asuma, death glare sedingin es. "What the heck? Can't you see that I'm in the middle of something?"
"Kau yang bodoh! Sudah kubilang jangan bergerak malah berlagak sok heroik mengompres kain. Sakit, bukan? Dasar bodoh."
"Tapi kau kan bisa lebih lembut lagi."
"Siapa yang memegangi perbanmu hah? Aku atau kau?"
"Kau benar-benar perawat terburuk yang pernah ada."
"Aku tidak minta pendapatmu, pasien cerewet."
Ditambah beberapa lontaran kalimat saling menyerang duo sensei itu berjingkat keluar ruangan. Asuma dengan pemantik apinya di tangan dan Kakashi dengan perban membalut dahi. Asuma beranjak menuju sofa ruang tamu, berlawanan arah dari kotak First Aid di dapur yang Kakashi tuju.
Bruk! Asuma melesakkan tubuhnya di atas sofa. Ogah-ogahan ditanggalkannya jaket kulit coklat di atas sofa kosong di sebelahnya. Kepalanya mendongak lelah. "Secangkir kopi akan sangat kuhargai, Kakashi. Thank you." cerocos Asuma.
Di dapur Kakashi hanya memutar bola mata. "Sekedar informasi, seorang bachelor sepertiku sangat jarang memasak dalam artian menggunakan dapur, jadi maaf, tidak ada minuman bernama kopi disini." sahutnya dari balik dinding pemisah dapur dan ruang tamu.
"Yeah, I can see that." Asuma mengedarkan pandangannya ke properti sekitar. Sebuah TV, tiga sofa besar, karpet seluas ruangan, dinding putih polos, jendela model lama...klasik. Tapi terlalu membosankan untuk penilaian Asuma dan masih banyak ruang kosong yang harusnya diisi. "Hidupmu di rumah ini tampak...hampa."
"Aku hanya seorang pria bujangan dengan gaji guru, what do you expect?"
Asuma menoleh ketika Kakashi memasuki ruangan dan menangkap benda yang dilempar si kepala silver. Matanya melebar. "Kau merokok?"
"Dulu. Sekali." balasnya santai. Ia ikut menghempaskan tubuh di atas sofa. Baju lengan panjang yang ia kenakan benar-benar kontras dengan warna putih polos sofa. Matanya terpejam. "Sewaktu Ayame masih..."
"I got it." Asuma berkata cepat. Suara percikan api memberitahu Kakashi kalau Asuma sedang mencoba menyalakan rokok di mulutnya. Kemudian suara hembusan nafas berasap putih. "Kenangan lama lebih baik dibuang saja. Kau tidak akan mau membayangkan tingkah Ayame kalau ia tahu siapa tambatan hatimu sekarang."
Sebelah mata terbuka. "Itu ucapan dari perawat yang menarik perban di dahiku secara tidak beradab?"
Asuma tertawa renyah. "Kau memang suka cari perkara. Aku tidak mau tahu kalau sesuatu di antara kalian rusak; aku lepas tangan."
"Hey, I was kidding." Kakashi tersenyum. "I know you won't be able to stand the view. Even if you want to stay away, you'll get dirty as well in the end."
"That's right." Asuma mengernyitkan dahi. "You used me all the time. But somehow I never feel the urge to step away off you."
"Arigato, nee."
Asuma terkesiap mendengarnya. Kakashi menggeleng mendapati ekspresi Asuma. "I mean it. Really, thanks a lot for sticking up for me."
Pipi sedikit merona, Asuma menggaruk kepala. "Kalau tiba-tiba begini...ya, sudahlah. You're welcome."
Ting! Tong!
Asuma dan Kakashi memutar kepala ke arah pintu. "Hujan-hujan begini ada tamu?"
"Ah...mereka sudah disini." Kakashi bersemangat bangkit. Asuma menurunkan alis. "Mereka?"
Kakashi mengangguk. "Mereka."
Ceklek!
"SENSEI!"
Asuma terlonjak kaget di sofa, tanpa sadar menghirup terlalu banyak dari rokok yang berakibat membuatnya batuk-batuk.
"Hai Sakura. Naruto." sapa Kakashi kalem. Matanya menjadi agak redup pendarannya melihat orang ketiga di belakang mereka. "Dan Sasuke." ucapnya dengan nada tidak bersemangat. "Masuk."
"Se-sensei! Sms darimu itu serius? Tenten terluka? Perban di kepalamu itu kenapa?" sergah Sakura panik. "Lalu, tentang perasaanmu-"
"Kau beneran suka sama Tenten, sensei?" giliran Naruto heboh.
Kakashi dan Asuma nge-sweatdropped. "Em...masuklah dulu dan taruh jas hujan kalian di gantungan. Baru kita bicara."
.
"Heee..." Naruto melongo. "Kau benar-benar berusaha keras membela Tenten. Kau yakin hubungan murid-guru ini tidak akan mempengaruhi kinerjamu di sekolah?"
Kakashi menatap malas muridnya itu. "Orang-orang di sekitarku mendukung. Kenapa harus mengganggu?"
"Mungkin maksud Naruto apa pengaruhnya bagi Tenten, Kakashi."
"Hm?" Kakashi menggulirkan pandangan ke Sasuke. Bocah itu asyik menyeruput teh panas buatan Sakura. "Aku yakin dia tidak akan kenapa-kenapa. Kalau sebelumnya dia baik saja, kenapa karena aku dia harus tidak baik?"
"Kau...itu kedengarannya pede sekali." kata Asuma dengan tampang tidak meyakinkan. Mata onyx Sasuke memandangi pantulan dirinya di dalam gelas. Ada banyak yang ingin diungkapkannya tapi ia urung.
Suara langkah kaki menuruni tangga menarik perhatian ketiga laki-laki di ruang tamu. Sakura menghampiri mereka, kedua lengan baju merah marun terbalut sweater dilipatnya hingga setengah lengan. "Aku sudah membalut bahu dan dada sebelah kirinya. Tidak ada yang serius, hanya lebam meski lebam yang lumayan parah. Sedikit saja terlambat menghindar belikatnya bisa patah."
"Maksudmu...Tenten menghindar saat diserang?"
"Bisa dibilang begitu." Sakura ikut menyeruput teh buatannya sendiri, ia duduk di sebelah Sasuke. "Tapi tindakannya cukup terlambat hingga menyebabkan memar sebegitu fatal."
"Begitukah? Aku senang mendengarnya."
Semua mata di ruang tamu tertuju ke Kakashi. Aura simpatik mewarnai cara mereka memandangi lelaki itu. Mata silver menatap lembut ke lantai, menunjukkan betapa Kakashi sungguh senang mendengar kabar baik itu meski pencegahannya terlambat. Ekspresi lelaki itu menampakkan sedikit kelelahan. Semua yang telah ia lalui…hanya demi gadis itu.
Sakura menetak dagunya ragu. Pipinya memerah mengingat sms dari Kakashi mengenai segalanya. Belum cerita panjang lebar yang menjelaskan bagaimana hubungan love-hate dirinya dan Tenten bermula. Sakura benar-benar tidak menyangka. "Ano…sensei. Aku pikir…bagaimana kalau kau menunggui Tenten di peraduan?"
"Eh?" Kakashi berpaling pada Sakura, diikuti Sasuke. "Kenapa tidak kau saja, Sakura?"
"Eng…ano…rasanya kurang sreg kalau aku yang ia lihat pertama membuka mata." Sakura tertawa kecil. "Lagipula aku mendapat kesan kalau kau sangat ingin melihatnya."
Kakashi tertegun mendengar pernyataan Sakura. Gadis itu menunduk malu dibawah pandangan senseinya, kedua telunjuk miliknya ia tekan bersama. Untuk beberapa detik Kakashi hanya bisa menatap Sakura dengan bibir sedikit terbuka, sebuah sikap bimbang memilih antara akan menanggapi atau tidak. Kemudian ia tersenyum, menarik kedua matanya terpejam. "Ah…haha." tawanya geli. "Segitu terpampangnya di wajahku ya?"
Sakura, Sasuke dan Naruto juga Asuma mengambil giliran untuk terkesiap. "Ah…aku sudah menahan diri terlalu lama." Imbuhnya lagi, mata menatap ke langit-langit sementara tangannya menggosok leher. Ada semacam gejolak di pelupuk matanya yang tidak terlewatkan oleh keempat orang lainnya di ruang tamu. "Kalau begitu aku tinggal dulu, kalian lakukanlah apa yang kalian mau disini."
Sakura mengangguk-angguk cepat, tatapan penuh kagum memenuhi matanya. Kedua kepalan tangannya berada di dekat dada, sesuatu mengenai sikap romantis Kakashi membuatnya tambah menghormati senseinya itu. "Ng! Kalau begitu aku akan pergi belanja untuk makan malam!"
Senyum simpul menghiasi wajah Asuma. "Aku akan mengantar Sakura. Sasuke dan Naruto juga ikut."
"Hn."
"Yosh! Kami juga akan kembali secepatnya! Dattebayo!"
Asuma dan Sakura mendelik. "Dasar bodoh! Justru kita memberi mereka waktu berduaan! Lebih lama lebih baik!"
Naruto menghindar alay, kaget dan takut melihat reaksi berlebihan Asuma dan Sakura. "Geez, tentu aku tahu! Aku cuma bercanda…" elaknya. Sasuke hanya menghela nafas dalam diam.
Sweatdrop besar melayang di kening Kakashi. "Hei, hei, sudahlah."
"Ne, sumimasen sensei. Naiklah. Kami akan berangkat sekarang." sanggah Sakura dengan perempatan jalan muncul di dahinya sembari menyeret Naruto dari sofa.
"Ah…okay…"
"Apa? Tunggu, Sakura! Aku belum menghabiskan tehku!" Naruto protes.
"Dasar bodoh! Ini bukan saatnya memikirkan hal itu!"
"Kemana kita akan belanja?" ujar Sasuke kepada Asuma.
"Hm? Bukannya ada supermarket kecil di pertigaan dekat sini, ya?" Asuma menjawab, mata saling membalas pandangan dengan Sasuke yang berjalan beriringan di sebelahnya.
"Itu sih, bisa dicapai dengan berjalan kaki saja. " Sasuke menanggapi malas.
"Di tengah hujan deras seperti ini? I don't think so." Asuma menyambar jaket leather miliknya. Ia melempar ekspresi go-she-needs-you-dont-waste-anymore-time ke Kakashi. Mengenakannya santai, Asuma mengalihkan perhatiannya ke Sasuke. "Plus, aku kehabisan rokok. Aku tidak mau rokokku basah terkena hujan."
"Sensei! Aku akan masak sukiyaki, apa kau mau minta yang lain?" seru Sakura dari ambang pintu, suara hujan terdengar sampai ke dalam. Hembus angin menerpa tubuh mereka semua.
"Ah...I'll be fine with that."
"Baiklah kalau begitu. Kami pergi dulu, yaaa!"
Kakashi membalas lambaian Sakura. Ketika pintu terbanting pelan menyegel keberadaannya dari dunia luar, ia seret kakinya yang terasa berat menaiki tangga menuju kamarnya sendiri.
.
"Haa...h..."
Kakashi segera mencondongkan tubuhnya ke depan, di sekitar area wajah bagian kiri Tenten. Lirih ia berbisik. "Don't be scared. I'm here for you."
Sekilas ekspresi ketakutan bercampur sakit dan lenguhan dari bibir Tenten bukannya membaik justru bertambah memilukan untuk dilihat. Kakashi mendaratkan tangannya di kening si brunette pelan. Dirasakannya panas masih bersemayam. Kursi tempatnya duduk berdecit kecil ketika ia merebahkan sebagian tubuhnya mendekat. Keraguan menyelimutinya, namun ia tetap melakukannya anyway; mencium kening hangat Tenten. Mungkin keadaannya akan berbeda kalau dia terjaga. Mungkin semuanya akan berbeda jika dirinya datang menyelamatkannya lebih cepat. Mungkin saat ini...
Kakashi mengernyitkan dahinya. Matanya terpejam penuh harap. "Please...open your eyes..."
Sekujur tubuh Tenten merespon kontak kecil antara bibir Kakashi dengan permukaan kulit keningnya. Bulu romanya meremang. "Kh...hh..."
Mata silver Kakashi mendadak terbuka. Ia memberi ruang kepada gadis di bawah bayangannya untuk bergerak pertama kalinya setelah sekian lama hanya mengigau dan menautkan alis. Benar saja, jemari kecil Tenten meremas lemah. Gerakannya seolah ia berusaha menggenggam pegangan, sesuatu yang solid, something real. Sesuatu yang menariknya keluar dari apapun itu yang mencoba menyedotnya kembali ke kegelapan. Kakashi tidak akan membiarkannya terjadi. Tidak setelah semuanya, untuk kedua kalinya kehilangan kuasa untuk memastikan keberadaan Tenten disini, di sisinya.
Greb!
Ia remas lembut tangan itu, air mukanya serius. "Tenten, sadarlah. Can you hear me?"
Seperti adegan dalam film-film romantis klise, nafas Kakashi tercekat di tenggorokannya ketika perlahan bulu mata panjang bak kelambu bagi dua bola mata coklat muda terindah menurut Kakashi terangkat meski berkali-kali sempat terjatuh kembali. Dilihatnya warna kemerahan natural terbubuh di kedua pipi chubby Tenten. Bibirnya gemetar, gerak naik-turun dadanya menjadi cepat dan tak teratur. Tenten sangat putus asa dengan keinginan untuk berbicara tapi tidak satu katapun meluncur dari bibirnya. Di momen yang sama Kakashi segera menghapus wajah senangnya dan menangkap kedua tangan yang menopang tubuh Tenten diatas kasur. Gadis itu berontak, meski kekuatannya tidak seberapa dibanding sebelum-sebelumnya. Desahan tidak terima dirinya sebegitu mudah dikawal Kakashi terdengar. Ada kesan ketakutan bercampur di dalamnya, diikuti bersama desahan lain, sampai erangan parau meletus menjadi teriakan.
"Nggak...lepas! Kenapa aku bisa ada disini?"
"Tenten...tenanglah. Ini di rumahku."
Mata coklat eboni melebar se-mediocre. "Nggak! Ugh!" Tenten mengerang keras kepala merasakan Kakashi menambah kekuatan di cengkramannya. "Aku nggak butuh rasa kasihanmu, sensei!"
Kakashi tersentak. "Kasihan? Apa yang kau katakan?"
Serentak kedua bola mata Tenten mengabur karena lelehan air mata. Alisnya bertaut. Bibirnya merengut. Dia tidak menyangka Kakashi bisa membuatnya menangis tanpa melakukan apapun. Secara teknis, dia sudah melakukannya. Masalahnya adalah, apakah lelaki itu menyadarinya? Hanya dalam selang waktu beberapa detik setelah siuman ingatan tentang insiden di sekolah terulang di benak Tenten. Sungguh memalukan. Kakashi melihat sosoknya di atas karpet lumpur tergolek tak berdaya, sisi lemah dirinya. Dari semua orang, kenapa harus Kakashi yang menyelamatkan dirinya? Nyeri samar di bahu kiri masih bisa dia rasakan, sebuah pengingat akan kekalahan di medan tempur di bawah hujaman hujan kurang dari delapan jam lalu. 'Aku tidak ingin melihat tatapannya yang sudah melihat sosokku yang lemah...'
Kakashi kembali diselimuti kaget melihat reaksi tak diduga ini. Belum lagi menyaksikan ekspresi breakdown di wajah gadis yang selalu tampak tak punya beban tentang dunia di hadapannya. Isak tangisnya dibarengi sesenggukan. Lelehan air mata di dua sisi pipi, ia masih bersikeras melepaskan diri. "Tenten, aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu tapi kau harus kembali istirahat. Minimal berbaringlah sampai kau tenang."
"Tidak! Untuk apa aku mendengarkan perkataanmu!" Tenten menghardik Kakashi. "Kau-bukan siapa-siapaku, berhenti mengaturku!"
Duak!
"Kh!" Kakashi menggeram mendapati sundulan dari sikut Tenten di tengah-tengah pergumulan mereka, otomatis membuatnya melepaskan pegangan di kedua lengan gadis itu.
Tenten mendesis sakit. Otot bahunya meregang akibat menumpaskan wajah Kakashi. Matanya menangkap benda berwarna putih dengan coreng merah kecoklatan di pinggir kasur yang entah bagaimana membuatnya terpaku.
'Itu...perban?'
Now!
"Ack!" Tenten menjerit kaget.
"Listen to me well."
Deg. Tenten membuka kejaman matanya; mendapati pemandangan dimana Kakashi menindih tubuhnya diantara kedua kaki panjang miliknya. Kasur yang menopang berat badan mereka berdua berderik pelan menahan beban. Kedua bola mata berbeda warna Kakashi menatap lekat, mengintimidasi. Aroma harum khas Kakashi memadati relung paru-paru Tenten, sesuatu yang tak bisa dihindarinya meskipun ia ingin. Rambut silver berjatuhan ke bawah menggelitik wajah Tenten dengan ujung runcing bak jarum sementara rambutnya sendiri bertebaran di bawah badannya mewarnai seprai kasur dengan garis-garis tegas kecoklatan. Dadanya masih naik-turun dalam ritme bernafas tidak teratur. Matanya menampakkan rasa takut akan Kakashi. Ini pertama kalinya dia menatap Tenten seperti itu.
"Mungkin aku bukan siapa-siapa bagimu, tapi di detik kau tergeletak di tengah lapangan sekolah, kau masih tanggung jawabku!"
Dheg!
"Apa..."
"Dan berhentilah bersikap sok kuat! Karena semakin kau mencoba..." Kakashi mengeratkan cengkraman. Matanya memancarkan sesuatu yang tidak bisa Tenten pahami. Tatapan yang keras. "...semakin kau melukai dirimu sendiri."
'K-kakashi-sensei!'
Ingatan tentang suara teriakan Tenten memasuki kepala mereka berdua, mengalir lancar bak hujan yang membasahi permukaan jendela di sudut kamar. Tenten merasakan keinginan kuat untuk menangis. Seperti ombak besar, keinginan itu menghempaskan semua kendalinya akan panca indera. Tidak peduli sekeras apapun ia menolak dibawa haru konyol itu, deburan cairan hangat selalu berhasil menembus pertahanannya dan melumasi permukaan bola mata brownies. Kedua alisnya berkerut tanpa dikomando dan bibirnya menyimpulkan rengutan cengeng. Tapi kenapa?
Mata Kakashi melembut, pelan ia longgarkan genggaman, tapi tidak begitu longgar hingga memberi celah untuk Tenten manfaatkan. "Kenapa...?" suara Tenten parau.
Kenapa harus lelaki ini?
Mata Kakashi melebar sesaat, ekspresi terluka terpantul di permukaan bola matanya. Namun tak lama tatapan keras itu kembali lagi. "Meskipun aku mencoba membiarkanmu seperti yang kau inginkan, aku tidak bisa."
Tik.
Mata brownies Tenten terbelalak. Sebuah garis merah terjuntai sepanjang garis rahang Kakashi. Sebagian dari selusur kemerahan itu mengendap di sudut tertentu dan menetes. Barulah ia sadar bahwa dibalik gelayut silver Kakashi terdapat luka. Luka itu kembali mengalirkan darah karena terhempas sikutan Tenten, melepaskan balutan perban yang sekarang berada di pinggir kasur. Ia raih kening Kakashi ragu, takut kalau tangannya akan ditahan di atas kasur tapi begitu Kakashi membiarkannya menyentuh dahinya Tenten hanya bisa mendesah pelan. "Sensei...kau...terluka?"
Bibir Kakashi membuka hendak menjawab, tapi urung. Ia menutup kedua matanya sambil menepis tangan Tenten. "Bukan. Aku melukai diriku sendiri."
"Apa..." Tenten tidak mampu berkata-kata ketika Kakashi beringsut dari posisinya di atas tubuhnya. Ia duduk di pinggir kasur, memegangi dahinya dan memunggungi Tenten. Dengan susah payah Tenten bangkit, sesekali meringis merasakan sakit yang menjalar di bahunya yang terluka. Rambut eboni panjang miliknya menempel di area leher karena 'terkaman' Kakashi, memberi kesan berantakan. "...kau terluka karena melindungiku?"
Potongan adegan cepat momentum kala itu terlintas di benak mereka berdua. Entah karena luka di kepalanya atau sesuatu yang lain, Kakashi hanya bisa mengingat rasa sakit menghujam kepalanya sesaat setelah suara permukaan besi pemukul mendarat di kepalanya. Hanya perlu satu detik bagi Kakashi untuk menyadari garis merah melintang di rahangnya mengalir terlalu deras. "Bukan. Aku hanya tidak sengaja melukai diriku sendiri demi menolong orang yang bukan siapa-siapaku."
Gyut...
"!" Kakashi terkejut merasakan dua tangan kecil melingkar di pinggangnya. Di punggungnya ada semacam sensasi hangat dan...apa itu bibir?
"...I'm sorry..." bisik Tenten lirih.
Kakashi hanya diam mendengarnya. "...I'm sorry..." kali ini Tenten menekan wajahnya di punggung Kakashi, menyamarkan suaranya yang memang kecil. "...you were hurt because of me..."
"..."
Tenten mengulum bibirnya. "...I...I...I am grateful..."
Gadis itu terlonjak ketika Kakashi menggenggam punggung tangannya lembut. Such an innocent girl. "This is new...I could barely remember you ever responded to me this way."
Kerutan muncul di kening Tenten mendengar perkataan Kakashi. Tapi tak sampai dua detik mukanya memerah semerta-merta. "S-sensei! Bukan itu maksudku!"
Kakashi tersenyum nakal. Ide cemerlang muncul di benaknya. "Never mind. Tapi akupun ingin mendapat rasa terima kasihmu dalam bentuk yang berbeda...boleh kan?"
Tenten meregangkan pelukannya, wajah semerah kepiting rebus. "Kau... memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan?"
Kakashi tidak merespon, ia mencoba melepas ikatan tangan Tenten, dan memang tidak susah baginya. "Aku hanya berpikir aku berhak mendapat sedikit penghargaan. Tapi kalau kau keberatan, ya...terserah padamu." Ia beranjak.
"Tung...jangan pergi."
Gyuuut...
Kakashi menoleh sedikit dari balik bahunya. Dilihatnya tangan Tenten menahannya untuk pergi. Bola mata silver bergeser dan menangkap air muka panik plus malu Tenten. Mata brownies-nya menyipit bersamaan dua alisnya berkerut. Pipi chubby merona hingga kapasitas maksimalnya. Temali coklat menuruni lekuk bahu Tenten ikal. Sebagian dari selusur kecoklatan itu memasuki celah kemejanya di bagian dada. Barulah Kakashi ingat bahwa gadis di hadapannya hanya punya sehelai kain tipis membalut tubuh. Matanya melebar seketika, wajahnya memimik kemerahan pipi Tenten. Buru-buru ia membuang muka. Jangan sampai muncul ide macam-macam...
"...sensei mau aku melakukan apa?"
Dheg!
Postur tubuh Kakashi menjadi kaku. Ti...tidakkah gadis itu sadar betapa sugestifnya pertanyaan barusan? Betapa mudahnya laki-laki mengambil keuntungan dan memanfaatkan gadis yang sedang semi-telanjang di atas kasurnya sendiri?
Kakashi menutupi wajahnya dengan telapak tangan. Gawat...the hormones are about to take over. Ia meraih perban di pinggir kasur yang tadi terlepas, masih mencoba menepis pikiran mesum. "Lupakan. Kembalilah beristirahat. Dengan kondisimu sekarang kau bisa tidak sadarkan diri lagi. Aku tidak mau itu."
Tenten menyeret tubuhnya ke pinggir kasur, rasa panik mendatanginya melihat Kakashi berdiri menuju pintu. Tanpa mengindahkan rasa sakit ia coba menapakkan kakinya di lantai. Juga tanpa mengetahui lemahnya tubuhnya sekarang. "Sensei! Jangan-" kalimatnya terpotong ketika kakinya ternyata tidak punya tenaga yang cukup untuk menopang tubuhnya. Mata brownies coklat melebar merasakan tubuhnya melayang sesaat menuju lantai keras di bawah. "Ah..."
"Tenten!"
'Aku bodoh...!'
Gubrak!
...
Desahan nafas berat terdengar kencang di telinga Tenten. Matanya masih terpejam takut. "Kau...tidak apa-apa?"
'Eh...'
Tenten membuka mata. "Ah...ouch...bahuku lumayan sakit...but it's fine."
"Syukurlah tidak parah." Kakashi mendesah pelan. "Kau membuatku takut."
Tenten tergagu saat menyadari dirinya berada di dalam pelukan Kakashi-sensei. Diatas lantai. Lagi. Entah mengapa posisi ini mengingatkannya akan kejadian beberapa waktu lalu. Lebih penting dari itu..."Sen...sei?"
Kakashi menatap Tenten yang tersaji diatas tubuhnya, rambut bertebaran hingga menyentuh kain hitam bajunya. "Aku berhasil menyelamatkanmu di detik terakhir lagi. Setidaknya kali ini kau tidak terluka parah karenanya." ujarnya menghibur diri sendiri.
"I...itu tidak penting...!" Tenten mencengkram kain baju hitam Kakashi. "Keselamatanku bukanlah tanggung jawab sensei! Berhentilah seolah kau berkewajiban tentangnya!"
Sang sensei terdiam, menunggu muridnya itu menyelesaikan luapan pikirannya. "Aku tidak mau kau menyelamatkanku hanya untuk membuatmu terluka karenanya! Itu hal terburuk yang pernah kudengar!"
"Tapi..." Kakashi menginterupsi. "...aku akan lebih terluka melihatmu harus menanggung rasa sakit sendirian..."
Tenten menatap mata silver malas di bawahnya tidak percaya, air mata melumasi bola kecoklatan lagi. "Tapi!" Tenten bersikeras. "Itu urusanku! Aku terluka pun urusanku! Kau tidak berhak mencampuri, bahkan mencari alasan untuk terus melakukannya! Karena aku tidak akan izinkan!"
"Itu tidak penting apakah kau mengizinkanku melindungimu atau tidak. Aku mau karena itu mauku."
"Tidak! Hentikan!" Tenten memejamkan matanya, mencoba menghentikan arus deras di pelupuk mata meski tak bisa. "Berhenti bicara seolah ini hal sepele! Aku tidak mau kau memaksaku seperti ini!"
"Tenten..."
"Henti...kan..." Ia mengeratkan giginya, tangan dua-duanya ia gunakan menutupi telinga.
"Tenten..."
"Aku tidak mau dengar-"
Gyut.
Mata coklat terbelalak. "Kau sudah selesai?"
Deg.
Tenten memejamkan matanya refleks. Kakashi tersenyum kecil. Dengan pelan ia mendaratkan ciuman di kelopak mata basah Tenten. Ia menunduk sambil tetap memeluk erat gadis itu. Ia mengambil posisi duduk sambil membawa Tenten serta. Sekarang gadis itu memejamkan matanya, ketakutan melihat Kakashi menunduk. Memang seharusnya. "Kalau kau masih ingin menangis dan merengek, aku akan mencium tiap tetes air mata yang jatuh dan aku yakin kau tidak suka itu."
Tenten menggeram pelan mendengar ancaman Kakashi. Kenapa laki-laki ini tidak pernah berhenti berusaha membuat dirinya merasa nyaman? Ia tidak sedang ingin.
"Eits." Kakashi mendaratkan ciuman lagi di kelopak mata Tenten. "Jangan buka matamu sampai kau lega. Sampai saat itu tiba, aku tidak keberatan mencium bagian lain."
Tenten memukul dada Kakashi kesal, ia jadi tidak bisa membuka matanya. Yah, mungkin ada ruginya juga punya dua kelopak mata yang sangat sinkron sampai-sampai jika salah satu menutup satunya lagi refleks memimik. "Ini tidak lucu..." rengeknya parau sehabis berteriak.
"Aku tidak menganggap ini lucu." Kakashi menggeleng seraya menghapus air mata di pipi Tenten. "Kalau itu bisa membuatmu tertawa, mungkin aku akan menganggapnya begitu."
Tenten benci mengakuinya tapi ia tidak bisa menolak ketika Kakashi menuntun kepalanya untuk bersandar di dada bidang miliknya. Rupanya Kakashi menyender pada kaki kasur tepat di belakangnya. Posisi mereka seperti posisi sepasang kekasih dimabuk cinta dimana sang pria duduk bersender dengan dua kaki ditekuk, seolah memenjarakan wanita yang duduk di pelukannya agar tidak bisa pergi kemana-mana. But like hell would Tenten admit it out loud that she kind of liked the image.
"Butuh waktu seribu tahun cahaya untuk memukul mundur diriku. Aku akan tetap ada disini seperti yang kau inginkan; kau nyaris saja melukai dirimu sendiri karena hendak menghentikanku pergi, bukan? Bagaimana kalau kita hentikan saja permainan tarik-ulur ini dan mengakui perasaan masing-masing?"
Tenten menggigit bibirnya dari senyum geli yang mengancam akan muncul. "Kau selalu sepede ini?"
"I'm just saying."
"Well then...I have nothing to confess."
"Aku tidak akan memberi tahu siapapun."
Tenten tergelak. "Ha! Kau selalu bisa mengalihkan mood-ku. I hate you."
Kakashi memiringkan kepalanya. "Kenapa aku merasakan kebalikan dari kata-katamu?"
"Karena, sensei..." Tenten mengangkat kepalanya dari dada Kakashi. Ia membuka mulut untuk bicara, tapi meragu terlihat dari caranya mengulum bibir terlebih dulu. "...aku memang tidak membencimu."
"Ha." Kakashi menatap Tenten dengan sorot mata mengetahui. "I knew it."
Kerutan muncul di dahi si brunette. Kakashi buru-buru mendongakkan kepalanya khawatir menggunakan jari telunjuk di dagu. "Hei...ada apa?"
Tenten menolak ketika kulit mereka bersentuhan selama beberapa detik mengetahui ia akan dipaksa menatap ke kedalaman bola mata silver itu. Ia merengek kecil. "Aku...kh...h" ia membuang muka, terang-terangan berusaha menghindari keharusan menatap lurus Kakashi di mata. Air mata kembali meleleh di pipinya. Panik melanda Kakashi mendengar sesenggukan meluncur dari bibir Tenten. "What is it?"
Tenten meneguk ludah pelan, menuruti sentuhan tangan Kakashi di pipinya untuk bertenang. Ia mendesah. "I don't deserve this."
"Tidak pantas apa?"
Mata kecoklatan menatap ke bawah, lagi, menghindar. "Hei, hei." Kakashi mengangkat dagu mungil Tenten lebih tinggi. "Don't deserve what?"
Tenten mengedip-kedipkan mata, berusaha memukul mundur arus air mata. "...everything." tapi tetap keras kepala menghindari sorot mata Kakashi. "Everything you've gone through...just for me. A complete nobody." ia paksakan tertawa kecil. "You really should stop...kau akan terluka karenaku. Percayalah, bahkan Neji dan Lee tidak tahu apapun tentangku. Itu karena-"
"Kau melindungi mereka secara sepihak."
Lidah Tenten kelu mendengar pernyataan Kakashi. Ia menyangkal meskipun dirinya tahu Kakashi mengatakan yang sebenarnya. "Bukan, bukaaan..." ia menggeleng cepat. "...bukan begitu. Le-lebih tepatnya, kami sudah bersumpah saling melindungi satu sama lain. Jadi..."
"Kau menanggung semua rasa sakit demi mereka dan merahasiakannya? Kau bilang pada dirimu sendiri kau telah melakukan hal yang benar meski mereka pun tidak tahu menahu tentang apapun? Kau masih berani mengatakan kalau semua yang terjadi hari ini juga melindungi mereka?"
Tenten menunduk dan meringis. Nada bicara Kakashi menjadi tajam. "Akh..."
"Bagaimana kau akan jelaskan pada mereka..." tangan kuat Kakashi mencengkram bahu Tenten. "...ini?"
Brets!
"!" Tenten terbelalak merasakan kain kemeja di bahunya merosot hingga lekukan siku. Sentuhan kasar serat permukaan kain menggores luka-luka kecil di sepanjang permukaan yang di laluinya, membuat Tenten mendesis.
"Lihatlah."
Di tengah rasa sakitnya Tenten membuka mata. Ia arahkan pandangan ke sebuah cermin besar yang menjulang dari lantai sampai menyentuh langit-langit di dinding tak jauh dari posisi mereka berdua. Matanya nanar menatap pantulan luka-luka miliknya di cermin. Bahunya menegang saat jemari Kakashi perlahan menyusuri kulit lengannya penuh hati-hati. Terutama di area dimana memar biru banyak tertoreh. Tampaknya tali tambang yang digunakan untuk mengikat Tenten sangatlah kuat. "Kau lihat?" kata Kakashi lirih. Ia tempelkan bibirnya di kening Tenten sambil ikut memperhatikan pantulan diri mereka. "Neji tidak akan membiarkanmu menyembunyikan ini selamanya sampai ia tahu dalang di balik semua ini."
Tenten menguburkan wajahnya ke dalam dada Kakashi. "Stop, sensei." desisnya.
"Dan Lee?" Kakashi tetap melanjutkan. Ia menutup matanya kesal mendengar desisan Tenten ketika ia meraba punggungnya. Ia tahu; lebam besar terdapat disana. "Dia akan marah mengetahui ini. Bagaimana denganku?"
"S-sensei...hentikan..." desak Tenten. "...kumohon...a-ah...!" kepalanya refleks mendongak keatas begitu Kakashi kembali melanggar pintanya. Desahan lembut mencurangi gigitan kuat Tenten di bibirnya sendiri. Sekujur tubuhnya meremang, panas memenuhi seluruh sistem peredaran darah tubuhnya termasuk wajah. "S-sen...sei..."
Kakashi membalas desahan Tenten dengan desahan lain. Ada kesan keposesifan disana. Harum lembut bau khas tubuh gadis berambut coklat itu seperti menghipnotis dirinya untuk terus melakukan hal yang membuat gadis itu mendesah memintanya berhenti. Kenapa memintanya berhenti...kalau ia pun menikmati ini? Apa arti desahan gemulai barusan?
"K-kakashi...sen...a..ah..." Tenten masih bersikeras menolak. Tapi bagaimana bisa ia memproses kalimat agar Kakashi berhenti menciumi bahu kirinya...kalau setiap huruf di ujung lidahnya lenyap entah kemana menjadi desahan nikmat?
"Henti...!" Tenten meremas kedua bahu lebar Kakashi di tengah kelunturan kemampuannya mengawal diri. Kali ini sedikit lagi ia nyaris bisa menemukan kekuatan guna melepas Kakashi dari sihir apapun itu yang memenjarakannya dalam ilusi aroma tubuhnya. Namun tidak, bibirnya harus mengkhianati pemiliknya sendiri demi bermandikan ekstasi tanpa ujung. Itu terjadi kala Kakashi memutuskan untuk menandai Tenten sebagai miliknya; sebuah gigitan. Hanya sebuah gigitan di area lehernya tepat di sweet-spot.
"A...aa...a..h...!"
Nafas tidak teratur, jantung yang berdetak kencang. Kuku yang mencakar pelan, jemari kaki yang melingkar menahan rasa agar tidak menelan diri terlalu besar. Keringat yang mulai membasahi dahi.
Tenten mulai menyerah melawan Kakashi dan rasa asing yang ia buat kepadanya ketika ia menyadari bahwa dirinya sudah terbaring di atas lantai. Hawa dingin menyusupi kain tipis kemeja di punggungnya, bertabrakan dengan suhu badannya yang sedang tinggi. Tiba-tiba kepalanya terasa pusing, otaknya gaduh dengan beribu skenario tentang kemana sekarang semuanya akan mengarah.
"Sensei..."
"Aku tidak terima." ucapnya sembari menggenggam tangan Tenten. "Kalau aku, aku tidak akan memaafkan siapapun yang melukaimu. Jadi kumohon..." ia mengerutkan dahi, membuat ekspresi kalut. Ia mencium lembut tangan di genggaman. "...jangan larang aku melindungimu. Aku mau karena aku sanggup."
Tenten memasang wajah benci. Omong kosong. Semuanya selalu bilang begitu. Pada akhirnya, mereka semua akan meninggalkan Tenten untuk menghadapi semuanya sendiri. Ayah, Ibu, Sasori-nii...
"Diam." pinta Tenten keras, menarik perhatian Kakashi. "Aku sudah muak dengan janji-janji semacam itu. Semuanya kau katakan hanya agar aku merasa tenang."
Kakashi tidak terkejut mendapati tanggapan itu. "I mean it."
Kret...Tenten mengeratkan gigi. Bohong! Bohong! Semuanya tidak lebih dari sekedar kebohongan belaka!
Dak!
Kakashi terhempas sedikit ke belakang menerima dorongan Tenten. Dari besarnya kuat dorongan, jujur Kakashi mengakui ia salah telah meremehkan keadaan Tenten sekarang. Tenaganya tidak sedikitpun berubah walau tengah berangsur pulih.
"Diam! Sensei tahu apa? Memangnya kau bisa apa?" ia menatap lekat-lekat. Menunjukkan kekesalannya, Tenten memukul-mukul dada Kakashi sekuat tenaga. Ia tidak hiraukan rasa sakit menjalari syaraf tangan hingga bahu kirinya. "Kau tahu apa tentang diriku? Sejak kau masuk ke hidupku, kau sudah merusak segalanya! Kau dengar? Aku-" ia terpaksa berhenti bicara, kedua tangannya ditahan Kakashi. "-lepas! Semuanya-kau, berhentilah seolah kau peduli tentangku! Sanggup? Sanggup apanya? Kau mau menangkap peluru yang melaju ke arahku? Melompat di depan kereta api demi aku? Kau tidak mungkin bisa melakukan semuanya sekaligus! Kau akan mati karenaku!"
"Tenten..."
Air mata Tenten meleleh untuk entah keberapa kali. "Kau...ingin melindungiku?" suara Tenten pecah bercampur isakan. "Kalau begitu, dimana kau saat Sasuke menenangkanku sewaktu barang-barangku kutemukan sudah menjadi abu di tungku sekolah?"
Mood Kakashi menjadi kelam mendengar dirinya dibandingkan dengan Sasuke. Kenapa Tenten selalu bisa mencampur adukkan perasaannya segampang ini?
Pukulan-pukulan lain, hanya saja lebih lemah. "Dimana kau saat Karin dkk menjebakku? Dimana kau waktu dia mau membakarku dengan spiritus? Ha?"
Kakashi hanya bisa terus memandang datar. "Dimana kau saat Zabuza menyelamatkanku di detik terakhir...?" ia mengambil nafas kewalahan. "Dimana...kau ketika Karin berada di atas angin dan tidak ada yang mencoba menolongku?"
Kakashi semakin ingin memukul sesuatu mendengar itu. Itachi. Apa sebenarnya yang ada di benak si jenius itu?
Tenten sesenggukan. "Dimana kau waktu aku berteriak memanggil namamu!"
Deg.
"Hiks…" Tenten menutupi wajahnya.
"Tenten…"
"Gomen." sergahnya cepat.
"Eh?"
"Gomen nasai…it's…it's not your fault. At all."
"But, still…"
"It's not!" Tenten berteriak. "It was my fault. I was far too weak. Lemah…"
"Tidak apa. Ada saatnya kita tidak selalu berada di posisi menang."
"Tapi tetap saja!" Tenten bersikukuh. "Tidak seharusnya aku marah kepadamu seperti ini. A…aku…rendah…"
"Memang sudah seharusnya kau marah setelah lehermu kugigit."
Muka Tenten memerah mengingat adegan kecil dengan Kakashi barusan. "Ti-tidak perlu diungkit, kan!"
"Oh?" Kakashi mengangkat alis. "Tidak menyangkal? Berarti kau menyukainya?"
"Ap…" Tenten menurunkan tangannya hendak membalas, tapi urung melihat sorot mata Kakashi. "A…apa?"
Jari telunjuk Kakashi mendarat di bibir Tenten, membuatnya terlonjak kaget. "Hmm…" gumamnya sambil menaruh dagu di telapak tangan. "Responmu tidak sekasar dulu tiap kusentuh. Tidakkah itu berarti sesuatu untukmu?"
Tenten tidak bisa membalas teori Kakashi. "Ukh…"
Kakashi menutup matanya senang. "Kau tetap terlihat manis meski sedang marah."
"Ja-jangan seenaknya! Siapa yang ma-"
Breeet!"
"Ah…Kyaaaaa!" Tenten histeris melihat kemeja yang ia pakai robek di bagian lengan. Masalahnya adalah ia baru sadar kalau di balik kemeja yang membalut tubuhnya tidak ada apapun-ya, bahkan pakaian dalam pun tidak ada. "Di-dimana pakaianku?"
"Ada di mesin cuci. Tapi belum kering karena sampai sekarang masih hujan."
"Tidaaaak! Pantas saja kau tidak mau melepaskanku barusan! Dasar mesum!" tuduh Tenten seraya menutupi badannya menggunakan kedua lengan.
"Yah, aku tidak bisa menyangkal teorimu itu. Kau memang sangat menggoda dalam kemejaku itu."
"Ke-kemejamu?"
"Iya. Memang kau pikir siapa lagi yang melucuti pakaianmu selain aku?"
"Kau! Dasar mesum!"
"And proud of it. Tanpa kemesumanku aku tidak akan bisa memberi tanda padamu bahwa kau milikku, bukan." Kakashi menatap nakal bekas gigitan di leher putih Tenten. "Nyam."
"Grrr…"
"Hei, hei. Bukan aku saja yang menikmatinya, kau ingat? Atau tadi aku hanya berimajinasi mendengarmu membuat suara-suara seperti…'ah…ah…aah'?"
…
"Pe-pelecehan seksual!" seru Tenten geram. Tapi sia-sia saja ia berusaha terdengar menggertak karena wajahnya yang memerah justru jenaka bagi Kakashi.
"Sudah terlambat untuk itu." Kakashi bermain-main dengan bibir Tenten menggunakan jarinya. "Lagipula, tidak ada pihak yang dirugikan akibat tindakanku tadi. Apa kau setuju, nona Hatake?"
"Nona…Hatake?" wajah Tenten langsung menjadi kecut.
"Dengan adanya 'tanda' itu, kau sudah resmi jadi milikku. Kau seharusnya senang, banyak wanita ingin kuberi tanda yang sama, lho."
"Nggak butuh!" bentak Tenten kesal. Lelaki ini menyebalkan sekali, barusan ia membuat Tenten menangis terisak-isak lalu sekarang membuat Tenten ingin memutilasinya lalu dimakan mentah-mentah. Entah bagaimana Kakashi selalu bisa memanipulasi emosinya. "Kalau saja aku sehat seperti semula, kau sudah mati sejak tadi!"
Kakashi tertawa. "Kalau sudah bisa berteriak membentakku berarti kau sudah sehat."
"Sensei…kau!"
"Ah, sayang kau masih berumur 15 tahun, ya. Padahal kalau lebih tua sedikit saja pasti sudah ku…" Kakashi memotong kalimatnya sendiri.
"A…apa? Kau apa?'
Kakashi tersenyum melihat reaksi gadis di bawah tubuhnya. Dalam hati ia senang Tenten sudah kembali menjadi dirinya yang dulu. "Hmm…menurutmu?"
…jerk.
Graup!
Untuk sekarang, Tenten merasa baik-baik saja. Sehat walafiat, malah.
"WADAOW!"
Apalagi setelah menggigit keras-keras jari telunjuk tidak tahu sopan santun yang terus mengganggu bibirnya itu. Yap, hanya masalah waktu Tenten bisa kembali sepenuhnya sehat.
.
