Everything's Back to Normal

Chanbaek

Yaoi

Mpreg

M

11

.

.

.

.

Seunghyun menghindar. Chanyeol tersentak ketika Taejoon mengatakan bahwa Ayahnya itu mengambil cuti untuk mengasingkan diri sekitar tiga Minggu kedepan dan daratan tujuan Seunghyun adalah Australia tepatnya Tasmania.

Itu mengapa semalam ibunya mengirimi pesan bahawa ia harus menjaga diri dengan baik, terutama Baekhyun dan sikembar. Jadi Seunghyun menghindar dibalik kata liburan bersama ibunya yang menemani. Chanyeol menghela nafas, ia kembali dari ruangan Seunghyun menuju ruangannya sendiri dan berpikir dikursi kekuasaannya.

Kenapa sejak makan malam terakhir bersama keluarga Luhan itu ayahnya menjadi pendiam dan bersembunyi, Chanyeol sudah tak melihatnya tiga hari berturut-turut lalu ketika ia ingin bertemu secara pribadi ayahnya itu sudah lepas landas menuju Australia. Semuanya sangat mendadak. Ia tahu Seunghyun kecewa, tapi keputusan ayahnya itu sangat amat ia hargai. Akhirnya, ia mendapat restu meskipun tidak resmi.

Begitu juga dengan Luhan, Chanyeol melihatnya untuk terakhir kali di W magazine. Nomornya sulit untuk dihubungi bahkan Chanyeol sudah menjumpai managernya langsung tapi pemuda itu mengatakan kalau Luhan sangat-sangat sibuk, ia tak punya waktu luang untuk menemui Chanyeol.

Satu lagi yang ia tahu bahwa Luhan pun ikut menghindar. Seharusnya Chanyeol senang Luhan menjauh dan tak merusuhi kehidupannya lagi, tapi mengapa rasanya sangat berdosa? Chanyeol tak bisa berdiam diri seperti ini, ia setidaknya harus mengatakan maaf dan terima kasih pada Luhan. Jujur, ketimbang untuk dijadikan suami Luhan sangat cocok menjadi adiknya yang manja dan menyusahkan.

"Permisi, maaf mengganggu Tuan. Tapi Tuan Luhan berada disini dan ingin menemui anda."

"Luhan?" Ulang Chanyeol tak percaya. Padahal sudah berhari-hari ia mencoba mencari akses bertemu Luhan namun hari ini ialah yang didatangi tamu China itu. "Persilakan ia masuk."

Taejoon undur diri dan digantikan oleh seorang bertubuh semampai dan berkulit cerah, rambut Luhan telah berwarna cokelat dan dibiarkan memanjang. Pakaian oversized masih menjadi seleranya yang sangat mirip dengan Chanyeol, mereka memiliki kemiripan itu mengapa Chanyeol senang menyebutnya 'adik'.

"Lama tak bertemu, Yeol." Sapa Luhan pertama kali dan memilih duduk didepan Chanyeol tanpa diperintah.

"Kau menghilang bahkan sebelum aku meminta maaf."

Luhan meluruskan pandangannya ke wajah Chanyeol yang sedang tersenyum teduh, "Kenapa kau meminta maaf?"

"Maaf mengecewakan. Karena sejak awal aku bukan di takdirkan untukmu, Lu. Kau masih sangat muda, peluang bertemu dengan pria tampan dan mapan sangat besar. Ah, yang terpenting dia mencintaimu."

"Jangan sok menceramahiku, kau Pak Tua." Canda Luhan.

"Kau sama seperti Baekhyun, selalu menyebutku tua."

Senyum di bibir kecil Luhan luntur perlahan ketika satu nama saingannya dulu disebutkan, air mukanya berubah tak sedap namun berusaha untuk tetap terlihat ceria.

"Well, aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa pada 'calon suamimu' itu." Lelaki China itu menautkan tangannya diatas meja kerja Chanyeol, "Dia sudah tau berita ini?"

"Belum. Aku membatalkan pers itu, aku tak mau ia tahu begitu cepat. Ini akan menjadi kejutan 'kan?"

Luhan mengangguk asal.

"Chanyeol, sebelum aku benar-benar kembali ke China, apa kau mau mewujudkan satu keinginanku?"

Si tinggi mengernyit mendapati wajah serius Luhan namun terlihat keraguan disana, bibirnya ia gigit gelisah dan Chanyeol yakin kaki bagus itu sedang bergoyang-goyang dibawah.

"Apa itu?"

"Aku ingin seks." Chanyeol hampir tersedak mendengar kalimat spontan Luhan, si lelaki kecil itu terdiam melihat reaksi Chanyeol yang sudah bisa ia tebak. "Hanya sekali saja. Jika aku tidak bisa memilikimu, maka biarkan aku memiliki benihmu dalam rahimku, Chanyeol."

"Kau gila."

"Kau tak perlu bertanggung jawab dan kita tak perlu menikah. Aku akan mengurus anak itu sendirian, setidaknya ada sesuatu yang berharga untukku miliki darimu."

"Aku tidak suka ini. Aku pikir kau berubah, Lu." Chanyeol menyentak marah.

"Chanyeol, ku mohon. Aku membuang harga diriku untuk ini."

"Keluarlah, kau merusak mood pagiku."

"Chanyeol_"

"Luhan, aku bicara hanya sekali."

"Tidak sampai kau mengiyakan permintaanku."

Chanyeol muak, sebelum ia melayangkan tangannya maka ia yang mengalah dan bangkit dari kursinya menuju pintu. Namun Luhan tak diam sampai disitu, ia menghadang jalan Chanyeol dengan tangannya yang direntang. Menarik jas Chanyeol sampai ia tak bisa berjalan dan si tinggi ini terlalu kalap mencengkeram tangan kurus Luhan sangat kuat.

"Jangan memancingku berbuat kasar, Lu."

"Chanyeol-ah.." Luhan memohon disela tangannya yang terasa perih.

.

.

.

.

.

"Kenapa keningmu terus berkerut, apa yang kau pikirkan?" Tangan kanan Baekhyun terangkat reflek mengelus kening mantan suaminya yang terekspos.

Tadi Chanyeol menelpon bahwa ia ingin makan siang di apartemen Baekhyun dan dibuatkan menu spesial, tapi yang dilakukan si tinggi itu sekarang hanya melamun tak jelas dan membuat makanan mendingin dengan sendirinya.

"Apa masakanku tak enak? Kau ingin garam?"

Chanyeol menggeleng pelan membuat Baekhyun mendesah frustasi.

"Lalu apa?"

"Baekhyun, ayo bercinta."

Baekhyun melotot mendengar kalimat spontan Chanyeol dan raut wajahnya yang memelas. Secepat kilat si mungil mengambil sendok bersih dikeranjang dan memukul keras kepala Chanyeol, berharap dengan begitu warasnya kembali dan tak mengatakan hal-hal seperti itu saat sedang makan.

"Apa yang kau makan kemarin? Sampai-sampai otakmu geser begitu."

"Aku hanya mengatakan apa yang ku inginkan, kenapa memukulku?" Chanyeol mendelik kesal sambil mengusap benjolan kecil dikepalanya.

"Tapi timingnya tidak tepat, idiot. Kau ini!" Baekhyun hampir menggeplak kepala Chanyeol sekali lagi kalau saja tak mendengar suara nyaring Kyungsoo dan Sehun bersahut-sahutan dari pintu.

"Oh, ada Chanyeol." Ucap Changmin ketika bertemu pandang dengan pria tinggi lainnya yang berapi-api.

"Apa yang kau lakukan disini?" Tajam Chanyeol.

"Mengantar si kembar. Tadi Baekhyun bilang kalau ia sedang sibuk memasak untuk tamu Terhormat, aku tak menyangka itu kau." Nada Changmin sangat menyindir.

"Ck." Chanyeol berdecak sebelum ia menatap Baekhyun lebih horor lagi, tapi si mungil itu membalasnya dengan santai. "Kau memberitahu pin apartemenmu?"

"Kau ini kenapa?" Baekhyun jengah, "Aku memberitahu kak Changmin supaya mudah, Yeol."

Tau-taunya Chanyeol bangkit dengan cepat dan berlalu dengan wajah ditekuk. Langkahnya yang lebar-lebar tampak menyentak disetiap detiknya. Baekhyun mengerjap takjub, ia tak pernah melihat Chanyeol semanja itu sebelumnya.

"Kurasa ia butuh perhatian plus-plus." Celetuk Changmin saat membuka kulkas.

"Sepupumu itu emang kadang menyusahkan kak, aku tak tahu mengapa aku jatuh padanya."

"Itulah yang orang-orang sebut cinta."

"Ewh."

.

.

.

.

Chanyeol melempar jasnya sembarang, menarik dasinya asal dan melepas kemejanya cepat. Mencari-cari kaos oblong yang tertinggal di lemari Baekhyun dan memakainya cepat sebelum membanting diri di atas kasur empuk milik mantan suaminya itu. Selang beberapa detik, Baekhyun masuk dengan segelas jus jambu kesukaan Chanyeol dan meletakkannya diatas nakas.

"Chanyeol."

Pria itu merespon dengan gerak tubuh yang memunggungi Baekhyun. si mungil berkacak pinggang dan menghela nafas sebelum ikut mendudukkan diri dibelakang tubuh Chanyeol dan memijat pundak lebar itu dengan hati.

"Kau kenapa, sih? Cerita padaku."

Buru-buru Chanyeol berbalik lagi menghadap Baekhyun dengan bibir yang mencebik, telunjuk gemuknya bermain diatas paha Baekhyun yang terbalut training hitam dan mata bulatnya yang mengerjap-ngerjap sangat miiiiiiirip dengan Kyungsoo.

"Aku ingin bercinta."

"Aku tahu bukan itu."

"Ayolah~"

"Tapi ini masih siang, Yeol. Aku masih harus meniduri si kembar dan berberes-beres."

"Tidak mau yasudah. Aku akan tidur dan jangan mengusik." Dan kembali memunggungi Baekhyun.

'ibu' dua anak itu menggaruk tengkuknya frustasi. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar setelah memberikan kecupan hangat di pucuk kepala Chanyeol dan mengatakan;

"Selamat tidur, bayi besar."

.

.

.

.

"Baekhyun-aaahhh~"

"Baekhyun~"

Baekhyun meletakkan piring terakhir diatas meja makan dan segera berlari memasuki kamarnya, parau suara Chanyeol membuat ia khawatir dan ketika ia menemukan Chanyeol terduduk di depan closet, Baekhyun memekik heboh.

"Ada apa, Yeol? Kau baik?"

Chanyeol menggeleng dan melanjutkan kegiatan muntah kosongnya.

"Kepalaku sangat pusing dan aku terus-terusan ingin muntah."

Baekhyun memijit tengkuk Chanyeol yang sedang dilanda masuk angin. Padahal sejak siang tadi mantan suaminya hanya tertidur bahkan ketika Baekhyun mengecek keadaannya untuk ketiga kalinya, Chanyeol masih juga tertidur sampai makan malam. Namun sepertinya Chanyeol tak bisa ikut makan bersama melihat keadaannya begini.

"Aku akan membuatkan teh madu. Ayo ku bantu ke tempat tidur kembali."

Chanyeol tertawa ketika ia dengan sengaja menumpukan berat tubuh seluruhnya pada tubuh kecil Baekhyun, si mungil tampak kualahan bahkan hampir tak bergerak untuk melangkah. Chanyeol benar-benar sangat berat kemudian yang hampir membuat Baekhyun tersungkur adalah bisikan Chanyeol yang seperti iblis seks di telinganya.

"Malam ini ayo bercinta, sudah seminggu aku tak keluar dan aku ingin berada didalammu. Memenuhimu dengan sperma panasku, ngh."

Tubuh Baekhyun tegang seperti kesetrum, tengkuknya yang terkena terpaan nafas panas Chanyeol semakin memanas-manasi tubuhnya yang mudah sekali tersentuh, "Aish, apa hanya itu yang ada di otakmu?"

Chanyeol terkekeh.

.

.

.

.

"Ayah?"

Kai memanggil dari ambang pintu kerja ruang Junmyun yang sedang melihat selembar kertas. Buru-buru Dokter itu memasukkan kembali ke dalam amplop cokelat dan menyimpannya rapi.

"Kai-yah, kemarilah, nak."

Bocah sembilan tahun itu berjalan mendekat dengan buku tulis ditangannya, ia ingin belajar bersama dengan sang ayah.

"Apa yang sedang ayah lakukan?" Tanya Kai saat sudah sampai di meja Junmyun lalu duduk dikursi yang sudah tersedia. Matanya mengerjap menanti jawaban.

"Tidak ada. Lalu apa yang ingin kau lakukan disini?" Tanya Junmyun balik dengan senyum khas orang tua yang menenangkan, Kai tersenyum dan menyerahkan buku tulisnya.

"Oh itu, aku ingin belajar dengan ayah."

Ketika Junmyun sedang memuji betapa bagusnya tulisan Kai dibuku tulis, putra tunggalnya itu menyeletuk tentang seseorang yang ia sukai pada Junmyun yang langsung terkoneksi dengan obrolan kecil itu. Hanya karena Kyungsoo, Junmyun menjadi salah fokus dan malah mengingat-ingat Baekhyun.

"Ayah, apa Kyungsoo akan datang ke perlombaanku?"

Junmyun terkekeh, "Semoga saja. Kenapa kau tidak memintanya langsung dengan Kyungsoo?"

Dokter itu melihat putranya menunduk dengan jemari yang saling bertaut. Ujung masing-masing telinga Kai terlihat memerah dan itu adalah bagian terlucu ketika putranya memalu.

"Aku malu."

"Hei, kenapa harus? Kyungsoo pasti akan sangat antusias!" Seru Junmyun menyemangati Kai pula.

"Benarkah?"

"Uhm, mari besok ke Kamong. Kyungsoo mungkin ada disana."

"Uhm!" Pipi Kai semakin mengilap merona.

.

.

.

.

.

Baekhyun meremat rambut merah Chanyeol saat bibir tebalnya berada di puting membengkak Baekhyun, sementara pinggulnya tak pernah memelan bergerak mendorong. Seakan ingin merobek lubang Baekhyun dengan sangat beringas, bahkan ini baru sesi pertama tapi Chanyeol sudah brutal seperti beruang hutan yang diganggu daerah kekuasaannya.

"Ngghhh, Chanh! Ouuhh."

Baekhyun melepas nafas tersengalnya dari mulut, ia melepas semennya untuk yang ketiga kalinya namun Chanyeol baru pertama perilisan. Tapi spermanya cukup banyak terkuras habis memenuhi perut Baekhyun. Ia merasa lucu dengan benih-benih yang gagal membuahinya karena saudara mereka telah lebih dulu tinggal dirahimnya.

Chanyeol menarik penisnya perlahan dan turun dari ranjang, mengambil celana selututnya asal di lantai dan memakainya dengan kening yang terus berkerut.

"Kau sudah selesai?" Tanya Baekhyun heran, Chanyeol tak pernah puas dengan sekali keluar. Tapi lihatlah yang dilakukan mantan suaminya itu tersenyum dan mengangguk. "Kau yakin? Apa kau sakit, Yeol?" Baekhyun masih dalam keterkejutannya.

"Tidurlah, Baek. Matamu sangat sayu, kau tampak lelah." Chanyeol mengecup kening Baekhyun yang berbaring menyamping lalu keluar dari kamar dengan langkah gontai tanpa mengenakan kaosnya.

Pintu tertutup pelan, kini tinggal Baekhyunlah dengan tubuh tak seberapa remuk dan lubang yang masih memanas. Wajahnya penuh curiga dengan kening yang ikut-ikutan berkerut.

"Kenapa kau sangat aneh seharian ini?" Gumam Baekhyun seorang diri, ia akan menghampiri Chanyeol dan bertanya baik-baik. Kalaupun Chanyeol bersikeras menutupinya, Baekhyun akan membuat mantan suaminya itu bocor pada akhirnya.

Ia menuruni ranjang dengan ringisan, mengambil asal kaos polo hitam milik Chanyeol. Kaos itu mampu menutupi sampai setengah pahanya, jadi ia tak perlu memakai celana dalam karena penis dan lubangnya masih cukup sensitif untuk dijepit oleh sempitnya celana dalam.

"Chanyeol." Panggil Baekhyun, memecah keheningan konter pukul satu dini hari.

"Kau bangun, sayang?" Chanyeol tersentak, mengangkat pandangannya pada Baekhyun yang sedang bersedekap didekat dinding.

"Kau yakin ingin menutupi masalahmu padaku? Kau tak percaya padaku?" Lantang Baekhyun, ia kesal melihat Chanyeol seperti orang linglung begitu.

"Apa maksudmu, Baek?"

"Yeol, kau bahkan telah melemarku untuk yang kedua kalinya. Kita telah tidur bersama sampai aku tak bisa menghitungnya lagi. Lalu apa salahnya jika kau membagi masalahmu? Apa ini tentang perusahaan?"

Chanyeol menghela nafas. Ia bangkit dari kursi dan memeluk Baekhyun erat, mengelus rambut Baekhyun yang tenggelam didadanya yang telanjang. Kulit hangat dada Chanyeol membuat Baekhyun nyaman untuk mengusuk pipi gembil dan hidung mancungnya disana.

"Ceritalah, Yeol." Nada Baekhyun sangat manja, dan merengek seperti Sehun.

Si tinggi itu bukan tak mau. Ia tak ingin 'Luhan' kembali membebani kepala si mungil ini, sudah cukup Baekhyun menderita kemarin-kemarin. Tidak lagi untuk saat ini, tidak untuk sekarang disaat mereka memulainya kembali dari awal.

Chanyeol sebenarnya tak terlalu mengambil pusing keinginan Luhan yang ingin seks dengannya, karena sampai matahari terbit dari barat pun ia tak akan pernah mau melakukannya. Chanyeol hanya merasa cemas, Luhan adalah orang yang ambisius dalam mengejar keinginannya. Apapun itu Luhan akan nekat sebelum ia benar-benar menyerah dan mundur perlahan.

Setelah menuntut pernikahan, sekarang seks? Chanyeol tak habis pikir lagi.

"Kau hanya diam." Baekhyun meluncurkan telunjuknya membuat gambar abstrak di atas puting Chanyeol yang menurutnya sangat imut untuk dimainkan.

"Tidak sekarang. Mungkin lain kali akan aku ceritakan, mau bersabar?"

Baekhyun tersenyum kemudian mengangguk tenang. Ia langsung memekik keras saat Chanyeol mengangkat tubuhnya dalam sekali sentak dan mendudukkannya di meja konter. Kaosnya di angkat cepat membuat penis tidur Baekhyun terlihat namun bukan itu yang menjadi fokus Chanyeol melainkan puting mantan suaminya.

"Sehun akan meraung jika ia melihat aku menyusu disini." Chanyeol menoel puting Baekhyun yang bengkak, sebelumnya itu karena ulah Chanyeol juga.

"Kalau begitu jangan."

Chanyeol menggoyang-goyangkan telunjuknya dengan senyum satu sisi, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam. "Ia tak akan terbangun di pukul segini."

"Lihatlah ke belakangmu." Baekhyun mendorong kening Chanyeol dan cepat-cepat menurunkan kaosnya. Saat Chanyeol terkecoh dan melihat kebelakang, Baekhyun dengan cepat turun dari konter kemudian berlari memasuki kamar.

"Kau nakal membohongi, Daddy, Hyunnie. Sepertinya kau ingin menghabiskan banyak ronde, hm?" Suara Chanyeol mampu membuat Baekhyun hampir tersandung kaki meja, sebegitu panas dan seksinya suara itu sampai ia tidak fokus.

.

.

.

.

Luhan menerobos ruangan Chanyeol yang telah dijaga oleh Taejoon. Sekretaris Chanyeol itu mengalah ketika Bossnya meminta ia membiarkan model semampai itu. Di kursi kekuasaannya dengan pena mahal ditangan kanan, Chanyeol menatap Luhan tanpa ekspresi. Berbeda dengan lelaki China itu yang sudah memerah dengan nafas tersengal karena tadi sempat cekcok dengan Taejoon.

Brak!

Chanyeol menatap dua DVD tak asing yang Luhan lemparkan tepat diatas proposal seorang anak magang di perusahaannya. Satu alisnya terangkat, memastikan jawaban dari mulut Luhan sendiri.

"Setelah selesai. Tumpahkan spermamu ke dalam tabung ini." Model itu pun menaruh sebuah tabung kecil didekat dua DVD sebelumnya. "Chanyeol, please."

"Kau tidak mengerti bahasa manusia?" Sindir Chanyeol. "Kau tidak lagi terhormat dengan bertingkah seperti ini, Lu."

"Persetan dengan kehormatan! Aku hanya ingin spermamu, sialan!" Jerit Luhan frustasi, lelaki itu bahkan memegang keningnya dengan nafas terengah.

Luhan menarik tirai tebal ruangan Chanyeol sampai menutupi seluruh dinding kaca itu. Ia membuka laptop Chanyeol dan memasukkan salah satu DVD kedalamnya, setelah memastikan film dewasa itu terputar ia mengarahkan layar laptop pada Chanyeol.

"Hanya tonton sampai selesai dan keluarkan spermamu, Chanyeol." Luhan putus asa disebelahnya.

Chanyeol menatap tak minat pada dua orang lelaki yang sedang bergelut diatas sofa, meskipun desahan itu terdengar sangat memikat. Tapi tak ada yang bisa membuat penisnya tegang selain Baekhyun. Bahkan hanya karena Baekhyun tersenyum bisa membuatnya keluar.

"Penisku tak akan bekerja hanya karena film bodoh seperti itu." Chanyeol menatap Luhan remeh, "Hanya Baekhyun yang bisa membuatku berhasrat. Hanya. Baekhyun."

"Arrghh!" Luhan menggeram marah lalu menarik kencang dasi Chanyeol, membuat hidung mereka bertubrukan. "Selagi aku meminta baik-baik padamu, lakukanlah sesuai keinginanku."

Satu tangan Luhan bergerak melepas kancing kemejanya sendiri tebruru-buru, bibirnya menyentuh satu titik di ceruk leher Chanyeol dan menghisapnya kuat. Meninggalkan hickey samar yang mana langsung membuat Chanyeol berang, ia bergerak cepat mendorong Luhan sampai tubuh ringan itu tersungkur.

"Kau menjijikkan. Aku sudah sangat muak denganmu! Kembalilah ke China dan jangan pernah menginjakkan kakimu di Korea lagi, Lu Han."

Chanyeol berdecih meninggalkan ruang kerjanya cepat.

Luhan menangis, tampak menyedihkan karena telah berkali-kali ditolak dan untuk pertama kalinya Chanyeol berlaku kasar pada Luhan.

.

.

.

.

Baekhyun sedang membuat adonan donat diatas konter yang sudah beralaskan tepung. Dari sini, ia bisa melihat si kembar yang sedang duduk berdampingan di sofa yang sama dan Sehunlah yang menguasai remote. Kyungsoo sesekali fokus pada tv tapi ia lebih sering bermain dengan pororo ditangannya.

Saat Sehun mengganti-ganti channel tak sengaja sebuah berita siang membuat Baekhyun tertarik dan memerintah anak bungsunya itu agar tak mengganti channel.

Chanyeol?

Suara pin apartemen yang ditekan sembarangan kemudian pintu yang dibanting kasar membuat Baekhyun tersentak. Ia menatap Chanyeol yang sedang berjalan kasar dan menarik dasinya sampai terlepas dengan kuat. Kepala si tinggi itu terteleng pada tv yang melekat di dinding, ia menyeringai sebelum menatap wajah terkejut Baekhyun yang sebenarnya lebih didominasi rasa penasaran sekaligus senang.

"Bagaimana bisa?" Tanya Baekhyun tak sabaran.

Alih-alih menjawab Chanyeol malah berdiri dihadapan Baekhyun, menangkup rahang mantan suaminya itu sebelum memiringkan kepala lalu melahap bibir atas Baekhyun. Melumatnya dengan tempo teratur, membuat Baekhyun turut menikmatinya dan terpejam. Mengabaikan si kembar yang sebenarnya juga mengabaikan kelakuan mereka yang tak patut ditiru.

Baekhyun berakhir dengan pinggul yang menubruk meja makan, bibir bawahnya Chanyeol tarik dengan giginya sebelum ciuman panas namun singkat itu terlepas. Si mungil terus-terusan menatap Chanyeol menuntut jawaban atas berita di tv itu.

"Hari ini, besok dan lusa akan dipenuhi dengan berita pembatalan pertunanganku dan Luhan." Chanyeol membelai pipi Baekhyun sayang, "Ayah sendiri yang membatalkannya, Baek. Pada akhirnya ayah merestui kita."

Apa yang lebih membahagiakan dari sebuah restu? Mulut Baekhyun terbuka dan terkatup tak tahu harus mengatakan apa, matanya berkaca-kaca dan siap meluncurkan tetesan air asin pertama.

"Apa ini tipuan?"

"Tidak, sayang, tidak." Chanyeol menggeleng keras, "Semua sudah berakhir. Mari mulai dari kita, dari awal, segalanya."

Chanyeol mengangkat tangan kanan Baekhyun, melihat cincin pernikahan mereka sebelumnya telah dilumuri tepung namun entah kenapa tangan itu tetap saja indah meskipun terbalur tinta sekalipun.

Baekhyun menarik cairan dihidungnya, "Kau serius ingin melamarku lagi disaat si kembar melihat?"

Chanyeol meneleng kebawah dan menemukan sikembar telah berdiri samping-sampingan dengan kepala terdongak, mengerjap menatap heran pada Chanyeol. Sejak kapan mereka mendekat?

Lalu kenapa tidak?

Chanyeol merogoh saku celana kainnya dan mengeluarkan kotak beludru navy yang sudah lama ia persiapkan. Baekhyun sedikit melotot karena keseriusan Chanyeol yang membeli cincin lain untuk pernikahan kedua mereka. Serius?

"Menikahlan denganku, lagi."

Kata 'lagi' membuat Baekhyun terbahak dan ia memukul dada Chanyeol. "Apa kau membiarkanku menolak?" Baekhyun mengangkat satu alisnya.

"Aku akan gantung diri jika kau menolak."

Chanyeol mengambil berlian didalam kotak beludru itu dan menyerahkan kotaknya pada Sehun, anak-anak menatap bingung dengan kotak yang tampak halus itu sedangkan si tinggi menarik tangan kanan Baekhyun dan memasukkan cincin yang sudah ia hapal diluar kepala ukurannya ke jari manis Baekhyun. Kini jari itu tampak luar biasa dengan dua buah cincin berlian murni, meskipun agak aneh bagi Baekhyun sendiri.

"Aku mencintaimu, Baekhyunku."

Baekhyun memastikan si kembar masih tetap sibuk dengan kotak beludru sebelum menarik leher Chanyeol dan mengecup bibir tebal lembabnya.

"Aku pun mencintaimu, suamiku, Park Chanyeol."

.

.

.

.

.

Notes:

Weiiii, geli amat sama bagian yg terakhir itu hiks :(

Hunhun sama ucu ngapain ngacau acara lamaran Daddy sama papa ih :')

Ini ga di edit atau ya ketikan mentahnya. Ga sempat baca ulang maaf kalo ada typos atau ada bagian yg ga nyambung, lagipula sekarang gue ngetiknya melalui ms word hp terus publishnya juga melalui hp karena lebih mudah di bawa bawa jadi bisa ngetik plus update dimana aja. Chat aja gue sering typos apalagi ngetik ff :') maklum yaa

Jangan bosen yaaa, udah mau tamat kok. Terima kasih dan semoga kita ketemu lagiiii~ bhay

Salam sayang, masa depannya Sehun /kabur