Aku merasa sesak. Dadaku sakit seperti terjerat ilusi yang tak mau lepas, keringat bercucuran hingga... aku merasakan aliran keringat yang mengalir khidmat. Pandanganku agak kabur, berkunang-kunang dan menghitam kadang-kadang.
Aku tak mau mengingat apa yang baru saja aku lihat. Sesosok kehitaman yang sarat akan kengerian menjerit-jerit labil di dalam kepalaku. Wajah rusak penuh luka yang sama persis dengan pemandangan Mariko kala itu. Tidak. Ini lebih parah, sosok yang menerjangku hampir tak terlihat bentukan wajahnya.
Denging nyaring seperti decitan mobil balap mulai merusak pendengaran. Suara itu muncul kadang-kadang dan selalu terdengar kala aku merasa takut dan terganggu bukan main.
"Teman-teman!" Aku terengah. "Teman..." Aku melemah dan hampir pingsan.
Kala aku menoleh ke belakang, sosok pirang compang-camping mengejarku seolah dirinya adalah Zombie? Ya, hal-hal semacam itu sedang terjadi pada kami.
Shii. Dia yang berubah menjadi Hantu Zombie, apakah aku boleh menyebutnya begitu? Aku merasa bahwa dia berubah menjadi Hantu Zombie. Oh, aku akan menarik perkataanku soal ketampanan dirinya. Dia bukankah harusnya sudah mati? Tapi, apa yang terjadi padanya? Kenapa mereka tidak tahu kalau Shii sudah mati? Ini janggal sekali, dan aku tidak mau mendengar penjelasan bodoh soal Shii dan tentang apa yang menjerat diriku.
Ah! Kenapa aku bisa lupa? Bodohnya aku.
Kenapa aku baru sadar, Shii adalah anak komplek lain. Mungkin saja ia tak satu sekolah dengan Kei dan Gaara. Itu adalah bukti paling kongkrit mengapa Gaara dan Kei tak mempermasalahkan soal ini, ya, tentu saja, Hantu bisa menyembunyikan jati diri dengan teknik sihir palsu tanpa segan.
Seharusnya aku tahu sedari awal kalau Shii bukanlah manusia! Seharusnya aku tahu itu! Mungkin ini akibat aku tidak mendengar Yuzuru Aria. Aku harus minta maaf padanya, maafkan aku.
Aku menoleh lagi dan Tenten menghilang, aku sebenarnya tak ingat ia lari ke mana setelah Kei berteriak bak kerasukan Ratu Jahat. Kimimaro melompat dari jendela dan terbang bagai Tupai. Kiba entah bagaimana, terakhir kali aku lihat, ia goyah di lantai dan ambruk bagai bangunan tua.
Aku tak mempedulikan soal Kiba, aku merasa bahwa diriku lebih penting ketimbang apapu dan siapapun, agak terdengar egois memang. Jadi, aku berlari sedemikian rupa, tak sadar dengan kakiku sendiri bahwa aku hanya berputar-putar idiot di dalam Auditorium.
Bayangan akan tubuhku terlihat begitu besar dan hitam, terlalu besar untuk ukuran manusia, aku merasa aneh. Aku mendongak, ada sesuatu yang terbang dan mengejarku di langit-langit Auditorium. Oh, kekonyolan apa lagi ini?
Ilusi kemerahan dari arah depan bergerak-gerak liar hingga tak dapat aku prediksi. Siapa itu? Hantu apa lagi ini?
"Izuna..."
Penglihatanku mulai membaik setelah beberapa kali aku mengedipkan mata. Sosok itu terlihat jelas, sejelas petir yang menyambar. Kehangatan menyapa. "Izuna, ayo pergi dari sini. Sudah aku bilang 'kan bahwa tidak ada yang beres di sini..."
"Gaara? Kimimaro! Kei!"
"Ayo! Ah, hal aneh terjadi lagi..."
.
.
.
"Kalian lihat apa yang terjadi?" Kimimaro menunjukkan ekspresi ketakutan, ia berbicara di hadapan kami bak penyair, ia bahkan melakukan itu sembari berjalan mundur. "Aku tidak pernah melihat Hantu gentayangan macam itu."
"Gentayangan?" Gaara merasa tak setuju, nada suaranya menaik. "Kau tak dengar apa yang ia katakan? Dia ingin membunuh kita semua! Ia bukan hanya ingin bergentayangan!"
"Aku bahkan tidak sadar mengapa aku berlari." Kei tertawa kaku seolah menyembunykan rada takut, ia melanjutkan. "Aku tidak sadar kalau kita baru saja hadir di pemakaman Shii."
"Apa maksud kalian?"
Kimimaro menatapku misterius, matanya berkilat-kilat seperti rangkaian puzzle paling sulit yang tak mudah dipecahkan. "Kami semua agaknya tidak sadar kalau Shii sudah mati. Dan aku baru ingat satu hal, cerita itu sebenarnya bukan seperti itu."
"Cerita apa?" Kei terbawa suasana, tapi terlihat pura-pura bodoh. "Cerita soal apa? Kepalaku pusing sekali, duh!"
"Tape Recorder itu, bukankah sebenarnya Shii yang menemukan benda itu dan mengklaim bahwa benda itu datang dari Shion?"
Kami berhenti berjalan, bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa dedaunan. Aku merasa bahwa agenda ini seperti ceramah Orangtua yang wajib didengarkan. Aku juga tertarik dengan ini, walau sedikit merinding. Kimimaro itu anak yang pandai dalam bercerita dan aku sangat yakin dia pantas menjadi seorang Penulis Skenario, saking pintarnya ia mengolah cerita.
Kimimaro yang melupakan Sepedanya mulai bercerita soal ini dan itu, apa yang terjadi pada Shii dan bagaimana soal Tape Recorder itu, bagaimana ia bisa lupa dan mengapa mereka melupakan soal Shii yang pada faktanya memang sudah tiada.
Keganjilan demi keganjilan sedikit terungkap dan pada akhirnya menimbulkan kengerian yang sifatnya abadi. Aku sendiri agak tidak paham mengapa semua ini terjadi pada mereka, mengapa semuanya melupakan soal Shii secara berbarengan seolah ini adalah fakta paling akurat.
"Jadi benar ya kalau Shii sudah mati?" Aku bertanya begitu, tapi yang lainnya diam saja seperti tidak mendengar. Seperti aku tidak perlu mencari pertanyaan ini, bukankah itu sangat sial bagiku?
Tapi, pada akhirnya salah satu diantara mereka berbicara kepadaku.
"Ya, seperti itu faktanya, Shii sudah mati dan kita mendadak lupa. Aku juga ingat bagaimana dia mati." Gaara menelan ludah, lalu melanjutkan. "Ia terbakar, di Auditorium. Seharusnya kita tidak datang ke sana dan membuat kekacauan seperti hari ini."
Kei menimpali. "Aku pikir kita bertanggung jawab atas yang terjadi hari ini, tapi kita harus merahasiakan ini dari Orangtua kita."
Kimimaro mengangguk. "Kau benar, Keita. Ibu Panti akan marah jika dia tahu aku melakukan kegiatan bodoh lagi. Aku akan mencari Sepedaku setelah minum Milk Shake, kalian mau?"
"Aku bahkan tidak memikirkan soal mengisi perut dan jajan." Gaara tertawa kecil, mencoba menghibur diri sendiri daripada mencibir seperti orang dungu. Ia bersikeras melupakan kejadian barusan, walau keringat di dahinya tidak mengatakan demikian.
Aku mulai berpikir, teringat akan sesuatu. "Kalian tahu apa yang salah soal ini? Setelah kejadian ini?"
Gaara menatap kebingungan. "Apa?"
"Tenten dan Kiba... mereka di mana?"
.
.
.
Kami memutuskan untuk mencari Kiba dan Tenten daripada membeli segelas Milk Shake, kami merasa bahwa mereka berdua juga butuh yang namanya sebuah perlindungan. Daripada bertindak egois dan menjadi pribadi yang menjijikan, kami harus berusaha menjadi teman yang baik untuk mereka. Walau pada faktanya aku tak peduli sama sekali soal Kiba dan Tenten, jelas, aku tak terlalu tahu seperti apa mereka.
Kami kembali ke Sekolah dengan perasaan was-was dan takut yang melebihi beberapa waktu lalu. Karena kejadian itu baru saja menimpa kami, hal buruk dan pikiran negatif lebih banyak terkandung. Ini cukup berbahaya jika kau memiliki riwayat penyakit jantung, kau akan mati seketika.
Dalam keheningan, tidak ada yang bicara selama kaki kami berjalan, Kimimaro berkata kelewat pelan. "Kalian tahu 'kan? Dia adalah Penulis yang membuat artikel soal Ledakan Pesawat! Aku jadi khawatir sesuatu terjadi nantinya."
"Maksudmu Shii? Aku tak tahu soal itu."
"Keita, kau lupa ya? Shii pernah meminta kita untuk membaca Blognya, tapi kau menolak tanpa memberi alasan."
"Bisakah kita lebih positif lagi? Aku tidak mau hal aneh menyangkut kita terjadi lagi." Gaara menjadi emosian. Mungkin yang ia katakan sebelumnya benar, lebih baik kita pulang saja dan melupakan soal Tenten juga Kiba. Kita juga tidak menemukan apapun di sini, sungguh sangat memprihatinkan.
Gaara menunjuk ruang kosong di sana. "Nah, sekarang kemana dua bocah itu?"
Kimimaro mengangkat bahu. "Mereka sudah pulang, mungkin? Setidaknya kita sudah mencari tahu. Setidaknya kita sudah mencoba untuk membantu..."
Aku sebenarnya tidak suka pertengkaran, tapi mencaritahu tidak akan merugikan masing-masing dari kita, bahkan kita akan menemukan jawaban yang agak sedikit meyakinkan dari ini semua.
Biar aku mengatakannya, ruangan ini, Auditorium ini kosong dan sepi. Tidak ada bekas-bekas teror yang mendekap kami barusan, aku juga tidak yakin kalau yang dilihat kami adalah sesuatu yang nyata, ini membuatku bingung sendiri. Jujur saja, aku melihat Kiba pingsan di sebelah sana, tapi dia menghilang begitu saja tanpa jejak, seolah ia tidak ikut dengan kami.
Apakah Kiba dan Tenten langsung pergi ya? Pergi dan meninggalkan kami karena ketakutan. Hantu yang barusan itu benar-benar menyeramkan! Sampai tak enak hati aku memikirkannya lagi, pokoknya itu sesuatu yang sangat mengerikan. Belum pernah aku menjadi setakut ini, seperti melihat bangkai Tikus atau Kodok yang dibedah di pelajaran Ipa.
Aku memberikan usul pada Gaara untuk mengirimkan e-mail pada Kiba atau Tenten, tapi ponselnya hancur akibat terjatuh saat berlari, ia memperlihatkan layarnya yang retak seperti sarang Laba-Laba. Kei tidak mendapatkan sinyal dan Kimimaro tidak memiliki Ponsel. Lalu, aku menawarkan diri untuk meminjamkan Ponsel pada Gaara.
Namun, ia berkata...
"Aneh sekali." Dahinya mengkerut seperti Kakek Tua. "Ini sangat aneh." Ia terus berkata seperti itu sembari mengamati Ponselku dengan cara jenius.
"Apanya yang aneh? Bilang saja kau tidak bisa mengirimkan e-mail, Gaara!" Kimimaro meledek. "Kau bisa memberikannya padaku."
"Tidak. Aku bisa mengirimkan e-mail. Justru yang aneh itu Ponselnya!"
"Ada apa dengan benda itu? Apa itu rusak?" Aku agak khawatir. Mungkin benda itu memang rusak.
"Tidak. Ini masih baru kok, Izuna. Tapi..."
"Woy, jangan bicara menggantung begitu dong! Aku kan jadi bingung sendiri."
"Ponselnya habis baterai..."
Ah... Kupikir sesuatu yang buruk terjadi lagi.
Dasar.
Bukankah itu suatu kebodohan? Ya, memang jelas ini adalah kebodohan. Lalu, apa lagi?
"Ngomong-ngomong..." Kei memulai dan semua orang menatap perhatian walau agak sedikit malas juga ada pancaran bahwa mereka sudah kelelahan untuk mendengar hal-hal bodoh lainnya, tapi aku yakin Kei tidak akan mengatakan hal tolol meski ia dipaksa oleh seseorang.
"Aku penasaran e-mail apa yang masuk padamu, Izuna?"
Apa aku harus menjawabnya ya? Sepertinya aku tidak memiliki kepentingan untuk mengatakan ini, Deidara juga agaknya akan mengamuk hebat jika aku mulai merongrong tak jelas dan menyombongkan diri jika aku menangani kasus ini bersama para Polisi. Masalahnya ini adalah hal yang sangat keren dan orang-orang akan memiliki kecenderungan untuk menjadi Si Mulut Besar jika berkenalan atau berkolega dengan anggota Kepolisian, meski mereka hanya seorang Polisi Daerah.
Aku melirik Kei sebentar dengan sedikit perasaan tak nyaman, pertanda bahwa aku tidak akan menjawab pertanyaan itu dengan mudah, Gaara dan Kimimaro agaknya tak tertarik dengan hal ini, jadi mereka hanya berbincang-bincang mengenai sesuatu yang tak sesuai dengan kenyataan yang ada dan beberapa keganjilan yang mereka sendiri tidak dapat memecahkannya.
Pada akhirnya kami semua meninggalkan Auditorium dan kehilangan Sepeda milik Kimimaro, jadi aku mengklaim kalau Kiba dan Tenten yang mengambilnya. Kimimaro menjadi sangat ketakutan, karena benda itu menjadi alasan yang baik kenapa ia pulang terlambat ke Panti. Ibu Panti tempat Kimimaro tinggal adalah wanita mengerikan yang galak macam Iblis.
Kimimaro menyebut Ibu Panti itu dengan sebutan, Lucifer atau Madam Lucifer. Gaara tertawa mendengarnya, menurutnya itu adalah kebodohan. Itu memang bodoh.
Kami berjalan memutar arah, tidak melewati tempat semula, secara aneh gerbang yang kami lewati sebelumnya terkunci dan digembok. Kami tak memikirkan hal lain atau mencurigai kalau itu ulah Hantu, kami sudah terlalu lelah dan tidak berniat untuk menakuti-nakuti diri sendiri.
"Kau tahu, Izuna..." Gaara terengah, ia cukup kelelahan. "Akses ini tidak boleh dilalui siswa..."
"Memangnya kenapa?"
"Itu setahun yang lalu, sebelum kau ada di Kota ini. Seseorang ditemukan menggantung di pohon sebelah sana."
Gaara menunjuk kejauhan, pada sebuah pohon tunggul yang hitam. "Dia sepupunya Naruto ketika itu kami masih kelas 1."
"Naruto sekolah di sini? Aku pikir dia anak sekolah lain, itu yang Sasuke katakan."
"Sasuke bilang begitu? Dia tidak mengatakan hal yang lain, ya? Sayang sekali..." Kimimaro mengangguk, membuat wajah misterius.
Kimimaro menambahkan. "Mungkin memang benar bahwa Naruto tidak Sekolah di sini, tapi kau melewatkan sesuatu yang penting..."
"Apa?"
"Kau sudah tanya belum, Sasuke kelas berapa?."
"Aku tidak mengerti."
"Maksudku, Naruto itu-"
"Kimimaro..."
"Kimimaro!"
"HEY, KAWAN-KAWAN.!"
Awalnya hanya sapaan, kemudian seseorang berteriak dan itu Gaara. Aku dapat mendengarnya, tapi tidak mau terlalu memperhatikan. Aku hanya ingin tetap fokus pada cerita Kimimaro dan ia juga melakukan hal yang sama selayaknya aku.
Tapi, Gaara terus saja memanggil. Ia tampak ketakutan dan panik jika didengar dari nada bicara dan intonasi, aku yang penasaran dan agak sedikit marah karena diganggu, menoleh cepat.
"Apa?" Aku tanya begitu.
"...itu" Kei menunjuk kejauhan. Pada sebuah pohon lain di depan kami. Sebuah Pohon Ek yang sudah tua dan besar, pemandangan itu sontak membuatku heboh. Kepalaku berkunang-kunang dan aku langsung muntah di sana juga.
Gaara melakukan sesuatu yang aneh, yang dapat kucerna adalah sebuah kepanikan yang buruk. Tapi memang itulah yang terjadi.
"ASTAGA, kita harus lapor Polisi!"
...akibat melihat mayat Kiba yang menggantung bak Pinata.
A/N : Akhirnya bisa up juga. Maaf aku upnya lamaaaaa, aku banyak tugas dan kerjaan akhir akhir ini dan sibuk juga. Tapi terima kasih banyak buat yang sudah menunggu kelanjutan FF ini. See you later, i love you!
