Kelelahan begitu kentara di paras tampan kedua pria terikat saudara begitu memasuki rumah. Bersandar pada punggung sofa, itulah yang sedang mereka lakukan saat ini menunggu para pelayan membuatkan minuman hangat dengan pandangan lurus menatap langit-langit mengingat pesta pernikahan si bungsu.
"Rumah tanpa Baekhyun sangatlah sepi." Sehun mulai mencetuskan apa yang sedang dirasakan sekarang. Ia yang duduk berjajar di sanding Kris, nampak sangat kebosanan di jam yang sudah mengarah pukul sepuluh malam.
"Apakah Baekhyun tidak akan tinggal disini lagi?"
Kris tak menjawab pertanyaan Sehun.
Meskipun Baekhyun sudah menikah masih tetap keluarganya, namun rasa itu tetaplah tak sama karena prioritas wanita yang telah berkeluarga adalah sang suami.
"Ck… jika tahu sesepi ini pasti dulu aku akan kukuh menghalangi pernikahan Baekhyun."
Lelah mendengar keluh kesah tak berguna Sehun, dengan ringan tangan Kris menyentil dahi Sehun.
"Hyung! Isshh kau itu apa-apaan sih?"
"Diam. Kau itu yang sangat berisik." Nada bicara Kris terdengar malas dan ketus. "Dasar kau itu sister complex. Kau tak lihat tadi Baekhyun begitu bahagia?"
Sehun terdiam tak menampik tuduhan Kris, ia mengingat betapa bahagianya Baekhyun yang tengah bersanding dengan Chanyeol. "Ya. Baekhyunku tadi nampak senang terlihat sangat cantik."
Kris memutar bola mata kesal dengan panggilan Baekhyun yang diucapkan Sehun. "Parah. Kau benar-benar mengidap sister complex."
"Hey hyung, akuilah kau juga menyayangi Baekhyun dengan sangat amat. Kau selalu membelikannya oleh-oleh tapi aku tak pernah kau belikan. Kau curang, hyung!"
"Ya! Kau kan sudah bekerja. Dasar manja! Bagaimanapun juga Baekhyun adikku. Aku akan tetap bertindak jika Chanyeol membuat adikku menangis."
"Jadi, Kris hyung juga akan memukul Chanyeol jika Chanyeol membuatku menangis?"
"Ha?" Dahi Kris mengernyit dalam.
"Aku kan juga adik Kris hyung~" ujar manja dengan merangkul lengan kakaknya.
Sontak Kris mendelik, menepis rangkulan Sehun. "Yak! Kau sangat menjijikkan Sehun! Jangan dekat-dekat!"
"Kris hyung sayang~ akukan adikmu yang terimut. Benar bukan?" Melihat sikap jijik Kris, Sehun merasa terhibur sampai memegangi perutnya yang sakit akibat tawa berlebih.
"Ayah ingin berbicara hal penting dengan kalian." Suara berat Junki mengalihkan atensi keduanya. Sang ayah yang sudah berganti kaos dan celana kain hitam terlihat jelas gurat tua dan kelelahan yang ia rasakan.
Tanpa menyela, Kris dan Sehun menurut dan duduk tenang di sofa berhadapan dengan Junki.
"Sepertinya aku akan mempercepat masa pensiunku. Minggu depan aku ingin kalian mempersiapkan pengumuman perubahan susunan kepemimpinan perusahaan dan besok tolong siapkan berkas perubahan susunan itu."
Sang putra terdiam mendengar penjelasan dengan kusyuk dan melaksanakan perintah seperti apa yang ayah kehendaki sembari menerka-nerka seperti apa keputusan pembagian perusahaan kelak.
Pandangan Junki mengelana, menatap foto besar keluarga yang sudah terpampang dua tahun disana. Keluarga besarnya yang utuh masih lengkap dengan si bungsu cantiknya, "Menurut kalian, mungkinkah Baekhyun ingin bekerja di perusahaan?"
ooo
ooo
OoooO
˭˭˭UNIDENTIFIED˭˭˭
Chapter 11
OoooO
CHAN-BAEK
ooo
ooo
ooo
ooo
ooo
Di sebuah kamar presidential suite room, sepasang pengantin baru saling menatap dengan aura getir menyelimuti. Dingin suasana membaur dinginnya kamar tidur utama semakin membuat sosok mungil nan ringkih menggigil.
Satu kenyataan menampar, khayal mimpi indah runtuh begitu saja. Seakan kepercayaan yang mulai terikat kuat, namun tiba-tiba di gunting paksa.
"Baek—
Baekhyun menggeleng cepat, "Chanyeol, Kau tak usah memaksakan dirimu untuk menyentuhku." Lidah kelu saat kalimat itu tergulir. Ucapan itu melukai dirinya sendiri.
"Bu-bukan begitu, Baek—
"Tidak. Jika kau masih tak nyaman denganku, aku akan pindah tidur di kamar lain."
Presidential suite room masih memiliki 2 kamar lain meski ukuran tak sebesar kamar utama. Disini tersedia dapur, balkon yang menyuguhkan pemandangan terapik kota Seoul serta perlengkapan terlengkap dari semua fasilitas hotel bintang 5. Namun apa gunanya semua fasilitas kelas atas tersebut jika penghuninya tak menikmati sebuah kebersamaan yang tercipta?
Bisa saja Baekhyun menyewa satu kamar lagi, namun apa yang akan dikatakan pegawai hotel jika mengetahui itu?
Dengan tangan gemetar melepaskan selimut, Baekhyun membenarkan celana dalamnya yang sempat diturunkan Chanyeol, sekaligus menyembunyikan penis mungilnya yang sudah lemas.
Untuk pertama kalinya menatap wajah Chanyeol membuat pedih. Wajah tampan itu kini terlihat kosong. Lebih menyakitkan dari pada saat itu. Saat dimana Chanyeol marah karena merasa telah dibohongi.
Semua itu karenanya. Baekhyun serba salah.
Selalu saja Chanyeol membuat ia melambung tinggi dan beberapa saat kemudian mendorong menjauh begitu saja. Mengapa Chanyeol gemar sekali menarik ulur hati kecilnya?
Baekhyun selalu berkecil hati dengan jati dirinya karena sosoknya yang asli hanyalah sosok pria lemah dibalik kedok wanita yang harus berpenampilan tanpa cela.
Tidak bisa terus seperti ini. Ucapan dan perbuatan Chanyeol sangat bertentangan. Ia harus mendapat kepastian. Sebenarnya Chanyeol menganggapnya apa?
Sebaliknya dalam diri Chanyeol, pria itu beratanya-tanya pada dirinya sendiri.
Apa yang telah ia perbuat tadi hingga Baekhyun seperti ketakutan dan menghindarinya? Mungkinkah Baekhyun salah sangka?
"Baekhyun-ah, tunggu!" Dengan cepat Chanyeol menggenggam pergelangan tangan Baekhyun sebelum beranjak dari ranjang. Meski Baekhyun berusaha menepis dan melepaskan diri dari Chanyeol, namun apa daya ia tak sanggup karena tenaga Chanyeol begitu kuat hingga ia kembali merintih kesakitan akan cengkeraman yang begitu erat. "Sa—sakit—
Reflek Chanyeol melepaskannya, "Ah, maafkan aku."
Sadar akan kelengahan Chanyeol, Baekhyun mulai menapakkan kaki di lantai namun kembali ia ditarik ke belakang. Chanyeol berpegang pinggul ramping Baekhyun. Melingkarkan lengan di sana hingga punggung si mungil tak berjarak menempel pada dada sang suami dan terduduk di ranjang kembali.
Chanyeol memeluk erat perut Baekhyun. Tak akan pernah mengizinkan Baekhyun lepas. Ia menunduk memasukkan wajahnya pada ceruk leher jenjang Baekhyun. Memberi kecupan ringan dan berbisik. "Jangan pergi. Tetaplah disini. Sekali lagi maafkan aku Baekhyun-ah. Kau salah sangka."
Rambut Chanyeol menusuk kulit membuatnya geli ditambah Baekhyun bergidik mendengar lirihnya suara husky Chanyeol melewati gendang telinga kirinya hingga bulu kuduk meremang.
Baekhyun meremas lengan Chanyeol, kembali mencoba melepaskan diri. Namun apa daya. Tubuhnya lemas. Tak ada tenaga tersisa untuk melawan Chanyeol.
Baekhyun muak dengan dirinya sendiri. Mengapa ia selemah ini?
Mata sipit terpejam. Ia pasrah.
"Baekhyun-ah. Aku mencintaimu. Aku tak bermaksud—
"Ti—tidak. Kau hanya kasihan padaku, bukan?" Baekhyun mulai putus asa dan menyalah artikan ungkapan cinta dan sikap Chanyeol. Terus saja Baekhyun memotong apa yang akan Chanyeol ucapkan. Ia tak berani mendengar kalimat lebih jauh jika berakhir melukai hatinya.
"Tidak, sayang. Aku sungguh-sungguh. Aku benar-benar mencintaimu. Tadi, aku hanya teringat satu hal." Chanyeol mengeratkan pelukan. Memberi kecupan di bahu polos Baekhyun lalu menghirup aroma tubuh alami Baekhyun yang begitu lembut menenangkan.
Baekhyun menggigit bibir, menahan desahan yang meronta ingin keluar dari bibir. Sejatinya leher adalah salah satu daerah sensitifnya dan Chanyeol dengan kurang ajar kembali memporak-porandakan kembali hatinya. Berujung ia selalu tak berdaya.
Dengan penuh pertimbangan dan kehati-hatian, pria bermata bulat itu melepas rangkulan tangannya. Bergerak menyentuh pergelangan Baekhyun yang memerah akibat perbuatanya. Ia mengelus lembut lalu membawa mendekat untuk ia kecup.
"Apakah ini sangat sakit?" Chanyeol kembali mengelus ruam kemerahan di kulit bak porselen istrinya dengan ibu jari. Mengalihkan pembicaraan, ingin sedikit melunturkan kebekuan diantara mereka.
Nyatanya itu berhasil. Baekhyun lemah jika diperlakukan selembut ini. Baekhyun menyadari jika semarah-marahnya ia pada Chanyeol, Baekhyun tak pernah membenci Chanyeol.
Cinta itu buta. Terlebih Baekhyun terlalu mabuk oleh sikap perhatian Chanyeol.
Kesunyian ini dan kehadiran Chanyeol membiarkan ia bersandar pada punggunggnya. Menyerap kehangatan yang Chanyeol hantarkan, merambat dari sumsum tulang menjalar seperti pergerakan darah mengalir ke seluruh tubuh hingga menyentuh ke dalam relung hati. Begitu nyaman. Seolah ini adalah tempat yang teraman untuk dirinya.
"Maafkan aku."
Baekhyun memejamkan mata. Sudah tak dapat di hitung lagi sudah berapa kali Chanyeol melantunkan kata 'maaf'. "Bisakah kau menghentikan mengucapkan kata 'maaf'?"
"Mengapa seperti itu? Aku tak tahu apa yang harus aku ucapkan saat membuatmu terluka selain kata 'maaf'."
Baekhyun mendesis lirih, "Hentikan itu. Ku mohon. Kata 'maaf' itu terdengar seperti kau hanya mengasihaniku di saat kau juga tak kunjung merubah sikapmu."
Seperti mendapat tamparan keras di pipi, Chanyeol tertohok dengan kalimat terakhir yang Baekhyun ucapkan.
Sejak dulu Chanyeol selalu mengucapkan 'maaf' kepada Baekhyun, ternyata itu justru melukai hati rapuh Baekhyun?
Sikap plin plan yang ia miliki selalu membuat Baekhyun terluka lagi dan lagi. Dan dengan mudahnya ia berharap semuanya akan lebih baik setelah kata 'maaf' terucap.
Dibalik itu semua, Chanyeol perlu meluruskan sesuatu. Namun ia ingin mendengar pengakuan Baekhyun lebih lanjut. Dalam situasi seperti ini nampaknya Baekhyun bisa berterus terang dengan apa yang ia rasakan. Chanyeol ingin Baekhyun mengungkapkan semua hal yang mengganjal terlebih dahulu. Mungkin ini terdengar kejam, namun Chanyeol melakukan ini untuk Baekhyun.
"Aku—
"Sebenarnya apa kesalahanmu hingga kau terus meminta-maaf?" Untuk saat ini Baekhyun mencoba menenangkan diri dalam naungan kehangatan Chanyeol. Rasa gugupnya hilang, dengan mudahnya ia memulai pertanyaan yang sedari tadi ia tahan.
"Ka—karena aku sudah membuatmu menangis?" jawab Chanyeol tak yakin. Baekhyun yang sensitif begitu rapuh dan mudah terluka. Ibarat seperti kaca yang mudah retak, atau lebih seperti tanaman yang layu jika tak dijaga.
"Apakah kau tahu alasan mengapa aku menangis?"
Chanyeol menyenderkan dagunya pada bahu Baekhyun. Berpikir keras. Jarinya bermain dengan jemari Baekhyun yang ia genggam. Jari Baekhyun adalah jari tercantik yang pernah ia lihat. Begitu mungil tapi ramping dan panjang dengan kuku yang terawat baik.
"Karena aku telah membuatmu terluka."
Ya. Itu memang benar. Saat-saat Chanyeol dingin pada Baekhyun bahkan mengabaikan pesan perminta-maafan yang Baekhyun kirim 'kan setiap hari. Secara tak langsung seperti sebilah pisau yang terus menyayat perasaan Baekhyun.
Dulu Baekhyun meminta-maaf sama sekali tak Chanyeol gubris, namun kini sepertinya Baekhyun muak dengan satu kata itu.
"Lalu apakah kau tahu apa yang membuatku terluka?"
Kali ini Chanyeol membisu. Mengapa Baekhyun terus mengajukan pertanyaan berantai?
Baekhyun tersenyum miris. "Aku yakin, kau belum menerimaku sepenuhnya oppa." Ia sengaja menekan dan memakai kata 'oppa' karena nyatanya Chanyeol masih menganggapnya sebagai seorang wanita. "Benar bukan?"
Baekhyun menarik bibir bawah antara giginya, "Ka—kau pasti jijik padaku."
Chanyeol kembali memeluk Baekhyun erat. Semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Baekhyun.
Baekhyun hampir lupa jika Chanyeol sangat gemar skinship dan pria itu sangat lihai menyerang titik sensitifnya. "Ughh— tolong hen—hentikan." Bulu kuduk Baekhyun meremang merasakan Chanyeol mengisap kulit lehernya. Di saat tubuh Baekhyun melemas, perlahan Chanyeol membalikkan tubuh istrinya hingga si mungil terbaring.
Sigap Baekhyun menahan tubuh Chanyeol yang telah berada di atasnya. Kedua tangan ia ulurkan menyentuh dada bidang Chanyeol, agar pria yang sudah berstatus sebagai suaminya itu tidak mendekat. Ia belum siap. Ia tak siap terluka dengan perlakuan yang sama.
"Aku— aku lelah, Chanyeol. Kau tak usah memaksakan diri. Sebaiknya kita beristirahat." Mata sipitnya terpejam erat. Tak berani menatap sosok yang sedang memenjarakannya di dalam kukungan lengan kekar.
"Baekhyun-ah, kumohon bukalah matamu." Chanyeol mengelus pelipis Baekhyun. Membujuk agar mata indah itu terbuka. Chanyeol melakukan ini hanya untuk mengamati secara langsung bagaimana ekspresi istrinya.
Meski tergolong sipit, mata Baekhyun sangatlah indah. Terlebih saat berpijar penuh kebahagiaan yang mampu membuat Chanyeol turut larut dalam suasana hati yang Baekhyun rasakan. Tak seperti saat ini, tatapan mata Baekhyun yang sendu mencubit ulu hatinya.
Chanyeol membenci dirinya yang selalu membuat mata indah itu tergenangi oleh air mata terlebih ia sakit melihat Baekhyun menatap kecewa kepadanya.
"Baekhyun-ah. Dengarkan aku, sayang. Sekali ini saja, kumohon. Baekhyun-ah kau salah paham."
Sontak mata Baekhyun terbuka dan langsung menatap lurus mata Chanyeol yang menatap penuh harap. Pria itu membentuk mulutnya garis keras pertanda ia tak yakin dengan apa yang telah diucapkan.
"Salah paham untuk apa?" Dahi Baekhyun mengernyit dalam. Posisi ini tak memungkinkan ia untuk berkutik.
"Aku bersumpah jika aku menerimamu sepenuhnya—
"Tapi kau memandangku seperti kau jijik pa—
Sebelum Baekhyun menyelesaikan ucapannya, Chanyeol menutup bibir tipis itu dengan telunjuknya lalu mengelus lembut bibir Baekhyun sebelum ia memberi sebuah kecupan manis secara singkat disana lalu berpindah mengecup dahi begitu lama sebagai sikap jika ia sungguh sayang kepada sang istri.
Chanyeol melepaskan ciuman itu dan kembali menatap mata Baekhyun, begitu lembut hingga Baekhyun seakan terbius dengan manik hitam penuh harap.
"Sama sekali aku tak jijik padamu. Kau sempurna. Sama sekali tak menjijikkan. Aku bersumpah jika aku mencintaimu, Baekhyun-ah. Aku hanya teringat kata ibumu jika kau adalah seorang carrier—
Ups.
Chanyeol lupa.
Seakan lupa akan rasa kecewa, Baekhyun tertegun dengan atensi terpusat pada kalimat terakhir yang Chanyeol katakan. "Ibuku menemuimu?"
"Ah—" Chanyeol kelepasan. Ia lupa jika Jihyun memintanya untuk merahasiakan pertemuan mereka saat di Kantor Chanyeol. "Umm di gereja tadi pagi, eommonim mendatangiku dan memintaku jangan menyentuhmu jika kau belum siap karena kau adalah seorang carrier."
Sedikit banyak Chanyeol merubah apa yang Jihyun pesan padanya. Meski Jihyun meminta untuk merahasiakannya, tanpa disuruhpun Chanyeol pasti akan melakukannya. Tak ingin lagi ia mengulik kisah lama yang akan mengakibatkan Baekhyun kembali terluka terlebih rencana Jihyun yang akan bercerai dengan Junki. Itu pasti tambah memberatkan Baekhyun. Jangan sampai Baekhyun tahu.
Carrier.
Satu kata lain yang membuat Baekhyun membisu. Ia baru ingat itu. Sudah lama Baekhyun tak membahas jika dirinya adalah seorang carrier bahkan sang ibu juga tak membicarakannya lagi. Pembahasan terakhir saat SMP. Ketika sang ibu memberi tahunya bersama jika ia adalah seorang laki-laki ditambah ia juga seorang laki-laki pembawa yang mempunyai rahim.
"Oh. Itu—" Baekhyun tak bisa melanjutkan ucapannya. Lidahnya kelu. Ia kebingungan dengan dirinya sendiri dan terlebih ia sungguh lelah dengan semua yang terjadi hari ini.
Permintaan terakhirku— jika kau tak tulus mencintai anakku, tolong jangan sentuh dia. Karena Baekhyun adalah seorang carrier.
Satu kalimat bergulir dalam ingatan Chanyeol. Ia sadar sepenuhnya jika ia mencintai Baekhyun dan jiwa egoisnya enggan kalau semua berjalan seperti yang Jihyun rencanakan.
Berpisah dengan Baekhyun?
Itu adalah mimpi buruk. Baekhyun adalah istrinya. Baekhyun miliknya. Ia tak ingin berpisah dengan Baekhyun.
Tak akan ia biarkan Baekhyun tahu akan rencana Jihyun karena Baekhyun akan selamanya tetap disampingnya.
Chanyeol mengusap pipi Baekhyun dengan ibu jarinya. Menatap lurus pada binar mata kebingungan itu. "Baekhyun-ah, sudah siapkah kau menjadi seorang ibu?"
ooo
ooo
ooo
ooo
ooOoo
ooo
ooo
ooo
ooo
Saat pagi menyongsong, Jihyun duduk diam menatap pigura potret dirinya dengan Baekhyun terbingkai apik menghiasi nakas samping ranjang. Difoto itu mereka berpelukan dengan senyum penuh kebahagiaan setelah Baekhyun menjadi sarjana. Sudah berapa tahun itu berlalu?
Sekarang Baekhyunnya sudah menikah. Sudah menjadi milik orang lain dan sekarang ia merasa kesepian meski baru ditinggal semalam. Setelah ini apa yang harus ia lakukan setelah ini?
Alasan apa yang akan ia berikan untuk Junki agar pria itu menceraikannya?
Akhir-akhir ini Junki begitu baik dan penuh perhatian hingga Jihyun dibuat lupa oleh rencanya sendiri.
Menyibak selimut tebalnya, menuruni ranjang. Kaki menyentuh dinginnya marmer pagi hari. Melangkah lurus hingga lalu ia menarik gorden ke tepi yang menyembunyikan sinar mentari di balik kaca.
Kamar Jihyun berada di lantai dua, tepat di sanding kamar Baekhyun dan juga ada kamar Kris serta Sehun di lorong yang berbeda. Tak seperti kamar dua istri Junki lain dan juga kamar pribadi Junki sendiri yang berada di lantai satu. Ketiganya gila akan kesibukan diluar yang menyebabkan enggan harus naik turun tangga, sedangkan Jihyun suka akan ketenangan. Tak banyak aktivitas di lantai dua kecuali hanya beberapa pelayan yang bersih-bersih. Selebihnya semua kegiatan dilakukan di lantai dasar.
Keuntungan lantai dua adalah Jihyun bisa menatap keindahan taman dari atas. Ah. Ia mendadak teringat jika minggu lalu Baekhyun bercerita menanam beberapa bunga. Mungkin sekarang Jihyun yang akan berganti merawatnya sekalian mengisi waktu luang setelah sarapan.
Hendak Jihyun beranjak pergi ke kamar mandi, ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
"Siapa?" tanya Jihyun sembari mendatangi pintu.
"Aku." Suara berat yang terdengar dibalik pintu, membuat Jihyun mempercepat langkah dan menyegerakan membuka pintu. Di sana ada Junki yang sudah berpakaian lengkap atribut kantor menyapa.
"Ada apa Junki oppa?"
"Hari ini aku berangkat ke kantor lebih pagi-
Jihyun mengernyit, suatu hal yang tak biasa Junki pamit ke kantor sengaja bertemu dengannya.
-sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Bolehkah aku masuk ke dalam?"
Tentu saja Jihyun terkejut, sontak ia melangkah mundur mempersilakan Junki masuk lalu Junki menutup pelan pintu itu.
Kepala Jihyun penuh dengan segala pertanyaan yang ingin ia lontarkan namun terhalang oleh status. Dirinya yang menjadi istri ketiga selalu mengalah dan terasa tak pantas untuk berharap lebih. Ia berusaha mengenyahkan pikiran buruk, memfokuskan diri untuk mempersilakan Junki duduk di sofa kamarnya.
"Ada apa?" hanya kalimat tanya simple itu yang bisa ia ucapkan mewakili segala pertanyaan yang masih saja berkecamuk.
Junki duduk tepat bersebelahan dengan Jihyun, "Aku akan pensiun dini dari kantor dan akan menyerahkan pekerjaan kantor pada anak-anakku." Ia menjeda perkataannya, mengamati perubahan ekspresi Jihyun yang nampak terkejut. "Akhir-akhir ini kesehatanku menurun."
"Apakah sudah check up ke dokter?"
Perubahan raut penuh kekhawatiran Jihyun membuat tenang hati Junki. Ia sudah membahas ini dengan kedua istrinya yang lain namun hanya Jihyun yang langsung bertanya tentang kesehatannya. Sooyoung dan Minyoung justru langsung bertanya tentang pembagian warisan yang malah membuat hatinya teriris. Di usianya yang sudah tergolong tua, baru ia sadari akan nilai sebuah kasih sayang tulus yang sesungguhnya. Setidaknya Junki bersyukur kedua putranya tak menuruni sifat ibu mereka.
Sebelum membuka mulut, Junki menorehkan sebuah senyum tipis. "Sudah. Hasil labnya kadar gulaku tinggi dan darah tinggi."
"Oppa, harus banyak istirahat. Nanti aku akan pergi ke apotek herbal mencari beberapa obat tradisional untuk oppa."
Tangan Junki terulur menyentuh wajah istrinya yang begitu perhatian. Sungguh ia bersyukur dengan pilihan mendiang sang ibu mengajak Jihyun menikah dengannya. Pantas saja ibu dulu begitu menyayangi dan membanggakannya. "Terima kasih."
Jihyun membalas dengan semburat merah dipipi dan anggukan kecil.
"Mengenai permasalahan aku pensiun cepat, aku ingin bertanya padamu. Apakah Baekhyun tertarik bekerja di kantor? Aku bisa membagi saham untuk ketiga anakku secara adil."
Semalam ia juga bertanya kepada kedua putranya namun mereka tidak bisa memastikan. Kedua putranya memang sangat menyayangi si bungsu hingga tak berani jika Baekhyun tertekan oleh segala kesibukan kantor. Oleh sebab itulah untuk lebih memastikan, kini Junki bertanya langsung kepada sosok yang melahirkan putrinya.
Kali ini Jihyun menggelengkan kepala sebelum bibir berucap. Membagi saham secara adil akan membuat hidupnya tak tenang. Pasti Sooyoung dan Minyoung akan terus mempergunjingkannya. "Ti—tidak perlu, oppa. Aku lebih senang Baekhyun menjalani kehidupan keluarganya yang baru."
"Perlukah aku memberi waktu untukmu agar berdiskusi dengan Baekhyun."
"Tidak. Jawabanku akan tetap sama," Jihyun menggigit bibir bawahnya yang mulai bergetar memberi jeda perkataan. "Jujur. Aku tak mengharap sepersenpun saham perusahaan untuk Baekhyun. Saat kau mempersuntingku hingga memberiku tempat tinggal lalu diberi kesempatan untuk melahirkan Baekhyun, aku sudah sangat senang. Tak usah kau memberiku saham atau warisan toh kini Baekhyun sudah bahagia dengan Chanyeol. Aku malah sangat berterimakasih padamu, oppa."
"Tapi kau tetap istriku dan Baekhyun tetap darah dagingku, Jihyun-ah."
Disini tibalah Jihyun bimbang. Haruskah ia jujur kepada suaminya?
ooo
ooo
ooo
ooo
ooOoo
ooo
ooo
ooo
ooo
Suasana pagi untuk cerah, sepasang pengantin baru menikmati sarapan di dalam kamar. Gorden jendela yang terbuka lebar berlapis kaca putih jernih memamerkan pemandangan kota Seoul dari lantai 20. Kesibukan lalu lintas kendaraan beserta para pejalan kaki berlalu-lalang menuju tempat kerja.
Sedangkan Chanyeol yang tengah mendapat libur cuti selama satu minggu penuh, kini duduk tenang menunggu sang istri memakan sarapannya dengan lahap. Tak ada rasa kecewa tertinggal meski semalam ia gagal melaksanakan ritual malam pertama.
Baekhyun semalam nampak begitu pucat. Antara kelelahan atau banyak pikiran tentang pembahasan masalah anak, namun Chanyeol memilih untuk tidak egois. Tak apa menunggu selama Baekhyun tetap menjadi miliknya, ia akan terus membuat nyaman berada disisinya lalu bisa membentuk keluarga yang sempurna dan bahagia.
Maka dari itu saat pagi menyambut, Chanyeol memesan berbagai makanan sehat untuk Baekhyun, yang tentunya meminta persetujuan sang istri mengenai makanan yang di suka ataupun yang tidak disukai karena ia sekarang telah menjadi seorang kepala keluarga dan tak baik jika memutuskan secara sepihak. Chanyeol mulai mempelajari hal itu.
Setelah Baekhyun terlelap semalam, Chanyeol membeli buku online melalui ponsel dan membaca bagaimana cara menjadi suami yang baik hingga membeli 5 judul buku berbeda. Mungkin buku itu akan menjadi pedoman Chanyeol untuk bertindak bijak untuk kedepannya.
Melihat wajah cerah ceria Baekhyun adalah tujuan yang utama.
"Chanyeol, kau juga harus sarapan. Jangan cuma menatapku." Sebuah senyum tercipta melihat Baekhyun mengambil sesendok salad mengisi piring kosongnya. "Aku tak kuat menghabiskan pesananmu sebanyak ini. Kau suka nanti tiba-tiba aku jadi gemuk?"
"Pasti itu akan terlihat seksi," goda Chanyeol yang menghasilkan gerutuan kecil Baekhyun beserta kerucutan di bibir tipis itu. Tak ada niat untuk menjawab.
Chanyeol menikmati momen ini. Ia memakan apa yang Baekhyun berikan kepadanya dari mulai salad lalu mengisinya kembali dengan nasi goreng dan telur. Kebersamaan inilah yang seharusnya dilakukan oleh pengantin baru.
"Aku kenyang," ujar Baekhyun dan bersandar pada kursi.
Chanyeol pun sudah menghabiskan makanan di piring. Disesapnya seteguk americano pagi sebelum ia kembali menikmati paras ayu Baekhyun yang tertimpa mentari.
"Baekhyun-ah, apakah kau keberatan jika setelah ini kita menginap di rumah orang tuaku selama semalam? Orangtuaku ingin melakukan pendekatan denganmu." Chanyeol memulai untuk pembahasan pokok.
Baekhyun terdiam untuk berpikir sejenak. Bisa dihitung jari pertemuannya dengan orang tua Chanyeol dan ia belum sepenuhnya mengenali kedua sosok yang membesarkan suaminya itu. "Apakah aku punya pilihan lain?"
"Baekhyun-ah. Ucapkan saja pendapatmu. Tak apa jika kau menolak."
"Bolehkah?"
"Atau kau ingin kita pergi honeymoon saja?" Alis Chanyeol bergerak naik turun menggoda dengan senyum nakalnya.
Reflek Baekhyun menutup muka dengan kedua telapak tangan, "Chanyeoool!"
Senyum Chanyeol melebar. Ia merubah posisi kursi agar lebih dekat dengan Baekhyun untuk melanjutkan menggoda istrinya, "Ayo, bilanglah jika kau ingin bulan madu. Kemanapun kau mau, lagi pula aku bisa mengambil jatah cuti tambahan."
Masih menutupi wajah, Baekhyun menggeleng cepat. Merah wajah menjalar hingga telinga yang kini Chanyeol usap. "Ketika kau malu, kau sungguh menggemaskan."
Baekhyun menekuk wajah dengan mata menyipit menatap sang suami, "Chanyeol, kau—
"Ah iya, iya baiklah."
Kilasan balik waktu semalam adalah Baekhyun meminta waktu. Ia belum siap menjadi seorang ibu dan meminta Chanyeol untuk bersabar.
Karena Baekhyun yang menjadi prioritas untuk Chanyeol, maka ia berusaha memahami itu. Disisi lain keduanya ingin menghabiskan waktu berdua untuk saling mengisi dan berbagi sekaligus menyesuaikan diri untuk saling memahami.
Mencari kesempatan, Chanyeol mengecup pipi Baekhyun. "Kalau begitu kita bersiap untuk check out dan kita langsung pergi ke rumahku."
"Um." Baekhyun mengangguk terpengaruh semangat yang Chanyeol tularkan.
Semula tak ada kekhawatiran Baekhyun rasakan tentang menginap dikediaman Park. Kedua orang tua Chanyeol pun menyambut pengantin baru dengan hangat.
Pertama kali menapak rumah megah Chanyeol, sejenak Baekhyun terkagum. Rumah Chanyeol tak sebesar rumahnya, namun halaman membentang begitu luas beserta jajaran pepohonan besar terawat diletakkan begitu pas di tempat-tempat tertentu. Rumah lantai dua kini Baekhyun masuki lalu dipersilakan duduk pada sofa lembut berwarna krem.
Mereka berempat bercengkrama dengan mengumbar senyum ramah bagai sebuah lukisan keluarga bahagia yang sesungguhnya.
"Jadi kira-kira kapan aku bisa menimang cucu?"
Pertanyaan yang terlontar pada bibir Hyohyeon bagai petir siang bolong sukses menghantam Baekhyun.
Untuk situasi ini, mempunyai rahim adalah sebuah berkah. Seolah Tuhan sengaja telah menggaris takdir kan ia di jalan yang begitu terjal namun mempunyai bekal perjalanan memadai. Hanya saja Baekhyun tetap belum siap.
"Ibu, kami ingin melakukan mengakrabkan diri kami lebih lanjut baru kami akan mempersiapkan program anak." Chanyeol mulai angkat tangan. Ia merangkul bahu Baekhyun dan mengelusnya mencoba menenangkan.
"Sampai kapan, Chanyeol-ah? Bukankah kalian sudah akrab?"
"Benar. Kau itu mempunyai tanggung jawab besar diperusahaan. Semakin cepat kau memiliki anak, semakin cepat kau bisa mendidik anakmu untuk menggantikan posisimu." Bahkan Hyunwoo, ayah Chanyeol ikut buka suara.
Perdebatan itu terdengar begitu alot di telinga Baekhyun. Tentu saja sebagai seorang orang tua dimana selalu mengharap lebih dari hasil sebuah pernikahan. Ibu Chanyeol dengan lantang menginginkan cucu yang akan meneruskan perusahaan setelah Chanyeol tentunya ditambah ayah Chanyeol terdengar begitu mengatur kehidupan Chanyeol.
Apakah selama ini Chanyeol bahagia?
Sebersit kekhawatiran Baekhyun menyeruak ingin mengetahui bagaimanakah diri Chanyeol sebenarnya. Bagaimana hubungan ia dengan keluarganya? Apakah ia senang dengan semua pencapaian yang telah ia raih sekarang?
Untuk situasi saat ini, Baekhyun harus menelan segala pertanyaan itu.
"Baekhyun-ah, kau harus perbanyak makan sayur-sayur hijau."
Canggung tentu saja ada. Baekhyun hanya mampu tersenyum dan mengangguk dengan apa yang dibicarakan Hyohyeon.
"Jika kau ingin belanja, ajaklah aku. Aku akan senang hati menemani. Apartemen Chanyeol sebenarnya juga tak jauh dari rumah. Jangan sungkan."
Chanyeol menghembuskan napas lega saat pembicaraan kembali normal. Namun itu tak berlangsung lama saat pernyataan sang ayah bak melemparkan bom atom yang sukses membuatnya tercekat.
"Aku ingin kalian paling tidak tahun depan, aku sudah menggendong cucu. Tak ada bantahan."
Bibir terkatup diam, Baekhyun urung mengucapkan sepatah kata apapun. Hati kecilnya kian merana saat ingin hidup tenang tapi tuntutan terus saja berdatangan.
ooo
ooo
ooOoo
TBC
ooOoo
ooo
ooo
ooo
A.N
Dari kisaran minggu lalu aku terus berusaha ngubah ulang diksi agar lebih srek untuk dibaca, (╥﹏╥) semoga ini sudah enak untuk dinikmati
pengen up barengan ff lain tanggal17 kemaren pas ultah aku, tapi rasanya aku bakal nyesel kalau update itu dengan sebuah rasa paksaan dan belum plong ngetiknya
Kayak g nyaman ngelepas anak main keluar tapi g dipakein baju '-'/
perbandingan macam apa itu wkwkwk
mungkin Chapter ini feelnya tetep masih kurang?
Maafkan ya kalau begitu. Maafkan diksiku yang emang monotone /deep bow\ ಥ_ಥ
mohon kritik dan sarannya (⌒o⌒)
Dibawah ada beberapa pertanyaan dari review dan akan aku jawab disini tapi ada satu masukan :
oelum96 (ffn) : ... Cuman kak, mau review dikit, pas di awal cerita, deskripsi tentang pernikahan sangat detail n panjang/banyak banget, trus tiba2 beralih dikamar hotel secara tiba-tiba n sbg penikmat ff ratem juga sih, tp ini menurutku serius *beneran ga bercanda, alur saat di kamar hotel nya terlalu cepat dan kurang detail, feel nya jadi kurang dapet, apalagi itu malem pertama kan kalo bisa dibikin yg greget gemes lucu tp tetep sexy, au ahhh gimana ngomongnya, yg penting maksud aku gitu kak. Tapi ya maaf juga, aku ga berpengalaman nulis cerita, so cerita kakak ini kereeeeen bangeeeetzzz. Semangaaaat buat kakak.
- Pertama-tama, makasih banget kamu udah memberi review yang panjaaang~ ILY~ Untuk bagian itu aku sangat amat sengaja aku cepetin wkwkwk alasannya cuma simple, karena aku males nulis panjang dan di resepsi juga g ada hal yang penting untuk diceritakan :( hanya sekedar pesta, salam-salaman udah gitu aja
Menurut aku bakal bosen banget makanya aku skip. Maaf jika beberapa dari kalian kurang berkenan dengan bagian itu /bow/ ಥ⌣ಥ
Ok lanjut... bagi yang berminat silakan simak QnA dibawah ini:
Q: rambutnya baekhyun asli apa wig kak?
A: Sudah pasti rambut panjang Baekhyun adalah asli. Karena ia sudah memanjangkannya sejak kecil.
Q: ntar chanbaek bakalan punya anak nggak?
A: tentu saja punya~ chanyeolkan punya bibit unggul~
Kalau ada yang mau ditanyakan silakan bertanya, aku jawab di next chapter
(*^U^)人(≧V≦*)/
Terus untuk jawaban yang nyerempet benar tapi hanya nyerempet dikiiiit
ChanBaekLuv
Park LouisYeol
fauziahannisa2
kalian pinteeerrr~~~
sepertinya cukup sekian
Next aku g tau updatenya kapan lagi (ノ_・。)
See ya~
