DEAD AT HEART

Cast:

CHO KYUHYUN

LEE SUNGMIN

Other Cast

Rate: T


Can I love you?
I have something I want to say
But my lips are heavy
And my heart has the words that it couldn't say even once
You're getting farther away
When I still have words I couldn't say, my dear
Like a fool, I swallowed those words into my heart
Even though it hurts, I only want you
Please love me just once
Can I crazily call out your name just once?
Because of my heart, I want to go closer to your side..
(Kyuhyun-Just Once)

Bibir tebal itu terus melantunkan sebuah lagu sambil memandang selembar foto. Hanya berbentuk persegi kecil, namun itu adalah hal wajib yang harus dibawa seorang Cho Kyuhyun.

"Kau sedang apa, Min?"

Tak terhitung berapa liter air mata yang dikeluarkan Kyuhyun saat Sungmin meninggalkannya. Terkesan lebih memang, namun memang seperti itu kenyataannya. Setiap ia mengingat nama namja manis itu, selalu saja tanpa sadar cairan bening itu mengalir. Dan diikuti isakan didetik berikutnya.

Tubuhnya semakin kurus dan kehidupannya selama enam bulan ini hanya dihabiskan di dalam café atau rumah Hangeng. Tidak pernah ia berniat untuk keluar atau sekedar berjalan-jalan.

"Apa kau bahagia?.. Aku tidak, Min.. Aku tidak bahagia.."

Kyuhyun memeluk selembar yang tergambar dia dan Sungmin. Terasa hangat bila itu hanyalah sebuah foto. Namun ia tetap merindu. Merindukan sosok manja yang selalu memeluknya, merindukan rasa nyaman yang selalu ditawarkan kekasihnya tersebut.

TOK TOK

Dengan cepat Kyuhyun menghapus air mata dan menaruh foto itu di meja nakas di dekatnya.

"Boleh aku masuk, Kyu?"

"Masuk saja, Hangeng hyung."

Tepat saat pintu dibuka, sosok tampan yang selalu menjadi kakak bagi Kyuhyun selama enam bulan ini muncul. Tersenyum manis dan melangkah masuk mendekati Kyuhyun yang sedang duduk di ranjang.

"Apa aku mengganggumu?" tanya Hangeng seraya duduk disebelah Kyuhyun.

Namja itu menggeleng, "tidak. Aku tidak sedang melakukan apa-apa."

Hangeng tersenyum dan suasana menjadi diam seketika. Namja kelahiran china itu sudah paham, Kyuhyun tidak pernah memulai obrolan terlebih dahulu. Dari awal bertemu sampai sekarang, Hangeng lah yang selalu mengajak Kyuhyun berbicara atau melakukan sesuatu agar namja itu sedikit banyak bisa melupakan masa lalunya.

"Sepertinya kau lelah, istirahatlah. Hyung akan keluar." Namja yang lebih tua itu mulai berdiri setelah dijawab anggukan oleh Kyuhyun. Namun langkahnya terhenti saat melihat selembar foto yang tergeletak di meja nakas.

Matanya mengernyit penasaran. Dan sedetik kemudian bibir itu mengulum senyum.

Pantas Kyuhyun sangat mencintai kekasihnya. Mereka sangat serasi..

Hangeng segera memalingkan wajahnya saat merasakan Kyuhyun memperhatikannya. Ia balikkan lagi badannya agar menghadap Kyuhyun. "Jaljayo."

CKLEK

Kyuhyun merebahkan dirinya di ranjang yang tidak selebar kasurnya yang di Apartment. Lebar kamar ini juga setengahnya dari kamarnya yang bak kamar sang raja. Namun ia bersyukur, Hangeng sangat menyayanginya dan menjaganya.

Pikiran Kyuhyun menjadi terlempar ketiga namja yang ia tinggalkan malam itu. Sudah terlalu sering Kyuhyun menghindar dari 'acara' pencarian Donghae, Ryeowook, dan Yesung yang selalu berkeliaran di dekat café Hangeng dan tak jarang bertanya pada karyawan café.

Namun terbesit rasa rindu yang besar pada ketiga orang yang selalu menemaninya. Ada rasa bersalah juga yang bersarang karna tidak menghargai usaha mereka untuk menemani Kyuhyun melewati masa yang sulit.

"Aku merindukan kalian.." lirih namja itu sambil memiringkan badannya. Menutup mata sampai akhirnya terlelap dan berharap menjumpai mimpi.

Karna baginya, kini mimpi jauh lebih indah dibanding kenyataan.


Namja itu berdecak kesal. Sambil melajukan mobil yang hampir dibatas ambang normal, namja bermata sipit itu sesekali bergumam sambil melirik sembarang ke arah luar kaca mobilnya.

"Ya Tuhan ini sudah enam bulan. Dimana kau, Kyuhyun?"

Yesung, nama namja itu, mengacak-acak kasar rambutnya dengan satu tangannya yang bebas. Kini ia sedang menjalani rutinitasnya enam bulan belakangan ini. Yaitu berkeliling jalanan Seoul sebelum atau sepulang dari bekerja.

Tidak, Yesung bukanlah namja yang senang jalan-jalan. Tapi ia sedang mencari seseorang. Seseorang yang sudah menghilang tanpa kabar enam bulan ini. Bukannya ia tidak melakukan usaha apa-apa selama ini, ia sudah menghubungi polisi bahkan teman Kyuhyun, namun satupun tidak ada yang tahu dimana keberadaan sahabatnya tersebut.

Pencarian ini bukan hanya Yesung yang menjalaninya. Donghae, Ryeowook, bahkan Eunhyuk pun ikut mencari. Meluangkan waktunya untuk sekedar mencari di beberapa jalanan terkemuka bahkan terkecil sekalipun.

Demi Tuhan, aku merindukanmu, Kyu. Hyung khawatir padamu…

Pikiran Yesung kemana-mana, tidak fokus pada jalanan di depan sana. Tanpa disadari oleh namja itu, seseorang melintas dihadapannya..

CKIITTT

BRAK

"Ya Tuhan!"

Yesung segera mengerem mendadak. Ia yakin, ia tidak sampai menabrak tubuh seseorang yang terjatuh di depan mobilnya tersebut.

Segera ia membuka seat belt dan keluar dari mobil sambil berlari kecil menghampiri seseorang yang jatuh terduduk di depannya.

"Astaga, aku minta maaf. Apa anda terluka?" tanya Yesung sembari membantu namja yang telah ia buat jatuh untuk berdiri.

Namja itu tersenyum sambil menepuk-nepuk bagian pakaiannya yang terkena debu jalanan. "Anda tidak salah. Saya juga menyebrang sembarangan. Ani, saya tidak terluka. Hanya kaget."

"Syukurlah. Bila anda terluka anda bisa menghubungi saya." Yesung segera mengambil dompetnya dan mengeluarkan satu kartu nama miliknya sebelum diberikan pada namja yang hanya memasang tampang heran.

"Anda bisa menghubungi saya bila bisa saja ada yang terluka. Sekali lagi saya mohon maaf." Ucap Yesung sambil membungkukkan badannya.

Namja itu mengernyit heran melihat nama yang tertera di kartu nama itu. Sebuah nama yang familiar..

"Kim Yesung?"

"Ne? itu nama saya."

"Cho Kyuhyun?"

Mata Yesung terbelalak. Bagaimana bisa namja didepannya ini menyebutkan nama seseorang yang telah membuat hari-harinya penuh kekhawatiran.

"Kyuhyun? Kau kenal dia?!" tanpa sadar kedua tangan itu mencengkram kedua bahu namja yang hanya tersenyum tanpa berkata-kata.

"Ne. Aku mengenalnya." Tutur namja itu seraya menurunkan kedua tangan Yesung dibahunya.

"Kau tahu dimana dia?" suara yang sedaritadi antusias itu perlahan melembut dan menunjukkan permohonan. Menatap namja berperawakan china dihadapannya. "Ku mohon, beritahu aku dimana dia…"


Bunyi bel di café itu berbunyi, menandakan ada seseorang yang masuk di café bernuansa klasik itu.

Sosok namja memakai jaket serta kacamata hitam itu mengundang perhatian dari karyawan café. Bukan, bukan karna penampilannya yang seram. Namun para karyawan yakin, baru kali ini namja itu berkunjung. Karna hampir semua tamu yang datang adalah tamu langganan yang tentunya sudah dihafal oleh para karyawan dan terutama Hangeng.

"Kyuhyun ingin tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Maka dari itu dia tidak pernah keluar dari café kecil ku. Dia bahkan sering memakai scarf atau kaca mata hitam untuk mengelabui pengunjung café."

"Apa dia sehat? Apa dia makan dengan baik? Bagaimana keadaannya?"

"Kyuhyun sudah ku anggap sebagai adikku. Jadi aku rasa aku sudah memperlakukan dia sebagaimana aku memperlakukan adikku. Keadaannya? Mungkin sedikit lebih baik semenjak ia pergi meninggalkan kalian bertiga."

"Dia bercerita semua padamu?"

"Ne."

"Bisakah aku bertemu dengannya?"

Lelaki itu hanya mengucapkan satu nama kopi yang ia baca pertama kali di menu saat seorang waitress menawarkannya. Ia tidak tertarik dengan menu itu. Pria itu lebih tertarik mengedarkan pandangannya agar menjumpai seseorang yang telah membawanya kesini.

Tangannya tergelisah dan sesekali membenarkan jaketnya yang tidak bermasalah. Berkali-kali ia melihat jam tangan seperti menunggu sesuatu.

Beberapa menit kemudian, matanya berhenti di satu titik. Seorang namja berkulit putih memakai sebuah kemeja dan jas beserta syal di lehernya sedang berjalan menuju sebuah piano di panggung sana.

"Kyuhyun-ah…"

"Kau bisa saja bertemu dengannya. Tapi aku tidak mau Kyuhyun mengira aku tidak bisa menjaga kerahasiaan keberadaannya."

"Aku bisa menyamar! Aku mohon, aku ingin bertemu dongsaengku."

"Huh? Baiklah. Kau bisa ke café pada jam makan siang besok. Kau bisa melihatnya tanpa kau cari. Ini alamat cafeku."

"Terima kasih-terima kasih!"

"Sama-sama. Errr, tapi bisakah kau tidak membawa Donghae-ssi dan Ryeowook-ssi dulu? Hanya kau saja?"

"Kau mengenal- Ah baiklah!"

Rasanya mata Yesung memanas. Sosok adik kecil dan sahabat yang ia rindukan, ia khawatirkan, dan ia sayangi itu telah kembali dihadapannya. Walau Kyuhyun tidak melihatnya, tapi ini sungguh membuat Yesung bahagia.

Semua pergerakan namja yang terlihat lebih kurus itu terekam di matanya. tidak ada satupun yang ia lewatkan karna ia sangat merindukan tingkah namja yang telah duduk didepan piano berwarna putih.

Sedetik kemudian, dentingan piano mulai terdengar.

Yesung bisa merasakan bahwa semua mata pengunjung café termasuk dia telah tersita oleh kombinasi dari suara dan dentingan piano indah yang mengalun dari Kyuhyun. Tidak ada cacat sedikitpun dari lagu sendu yang dinyanyikan.

To: Lee Donghae, Kim Ryeowook

Aku menemukannya. Demi Tuhan, aku sudah menemukannya..

Senyum tipis itu mengembang setelah mengirimkan kabar gembira kepada dua orang namja yang tidak kalah stressnya mencari seseorang yang ada di atas panggung sana. Dan kini pencarian mereka tidak sia-sia,

Kyuhyun mereka sudah ditemukan.


Kyuhyun terlihat sibuk pagi ini. Tiba-tiba saja Hangeng memintanya untuk membersihkan piano putih yang sering mengiringinya ketika menyanyi. Bukannya Kyuhyun mengotori piano itu, namun piano itu memang sedikit berdebu di tuns-tunsnya.

Tidak seperti dulu, Kyuhyun yang sekarang terlihat penurut dan tidak banyak bicara jika disuruh. Mesti sedikit heran, karna Hangeng selama ini tidak pernah menyuruhnya, namun Kyuhyun tetap membersihkan piano itu sebelum café buka.

"Aku ingin bisa bermain piano, Kyu! Tapi tidak pernah punya kesempatan untuk belajar. Bisakah kau ajari aku, Kyunie?"

Pergerakan tangan dari sang namja itu terhenti saat suara tenor itu kembali terngiang ditelinganya.

Sungminnya ingin bisa menguasai permainan piano. Ia ingat saat itu Sungmin merengek seperti anak kecil meminta Kyuhyun mengajarinya bermain piano. Tapi satu hal yang Kyuhyun sesali, ia tidak pernah mewujudkan keinginan sang kekasih. Hingga saat ini ia tidak tahu dimana Sungminnya berada.

Bibir itu tersenyum hambar saat menyadari kini tidak ada kenangan indah yang akan menemaninya. Semuanya terlalu sakit bila dikenang, namun hanya dari kenanganlah ia bisa merasakan Sungmin.

KRINGGG

Lamunan Kyuhyun buyar saat mendengar bel café berbunyi. Bukankah ini masih jam 7 dan tidak mungkin bila ada pengunjung, café kan baru dibuka jam 10 pagi.

Kyuhyun sedikit menoleh ke arah pintu masuk café untuk melihat siapa yang datang. Dan sedetik kemudian, matanya terbuka lebar.

Ada tiga orang namja berdiri didepan pintu itu. Tentunya melihat ke arahnya. Kyuhyun terpaku, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Hyung…"

Itu suara adik manisnya, Ryeowook, yang tidak pernah ia dengar beberapa bulan ini.

Kyuhyun berdiri dari posisinya yang berlutut di depan piano. Berniat menghampiri ketiga namja itu sebelum salah satu dari mereka belari ke arahnya dan memeluknya sehingga Kyuhyun sedikit terjungkal kebelakang.

"Pabo hyung! Kau kemana saja?!"

Ryeowook menangis terisak-isak di pelukan Kyuhyun yang masih tidak percaya dengan kehadiran Donghae, Ryeowook, dan Yesung di cafénya.

Kyuhyun memegang kedua bahu Ryeowook dan sedikit menjauhkan tubuh kecil adiknya itu darinya. "Ryeowookkie?"

"Ini aku, hyung!"

Sekali lagi, namja kecil itu memeluk Kyuhyun. Namun pergerakannya sekarang diikuti oleh kedua namja yang sedari tadi diam tidak percaya.

"Hae-ah, Yesung hyung…"

"Ne, ini kami, Kyu.."


Kyuhyun terdiam sambil memandang ketiga namja yang duduk melingkari dirinya. Rasanya baru kemarin malam ia melirihkan kata rindu pada kedua sahabat dan dongsaengnya ini, dan sekarang mereka sudah ada di depan matanya.

"Maafkan aku telah pergi tanpa sepengetahuan kalian malam itu." ucap Kyuhyun memulai obrolan.

"Tidak, kau tidak harus minta maaf. Saat itu memang hanya suara hatimu saja yang harus kau dengar." Senyum Yesung mengembang seraya mengacak pelan rambut Kyuhyun yang semakin panjang.

"Apa kau makan dengan baik, Kyu ?" tanya Donghae yang dijawab dengan anggukan oleh Kyuhyun. "Hangeng hyung mengurusku dengan baik."

"Apa kalian bertemu dengan Sungmin beberapa bulan ini?"

Tidak ada yang menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ketiga namja itu saling melempar pandang.

Kyuhyun menghela nafas lalu tersenyum, "Seharusnya aku tahu bahwa dia pasti tidak akan pernah kembali lagi."

Donghae melingkarkan tangannya dibahu Kyuhyun dan menarik namja itu ke dalam pelukannya. Terasa hangat karna pelukan dari sang sahabat ini tidak dia dapatkan dari Kyuhyun belakangan ini. "Kita akan berusaha untuk menemukan Sungmin hyung. Apapun kita usahakan untuk membuat dia kembali, Kyu.."

"Kau hanya perlu hidup lebih baik dari yang kemarin, Kyu." Yesung ikut mengusap-usap lengan Kyuhyun. Sudah beberapa kali kalimat penguat ia lontarkan untuk namja yang sepeti mayat hidup baginya itu.

Ryeowook pun ikut memeluk tubuh Kyuhyun, sehingga tubuh hyungnya itu terapit oleh dirinya dan Donghae. Matanya kembali memanas melihat wajah pucat Kyuhyun yang seperti tidak ada kehidupan.

"Hyung, apa kau ingin pulang ke Apartment?" tanya Ryeowook saat mereka sudah melepaskan pelukan dan empat cangkir kopi sudah ada di meja bulat mereka.

Kyuhyun menggeleng, "aku sangat merindukan apartmentku. Namun aku tidak mau kembali ke sana."

"Kenapa? Kau masih bisa berkunjung kesini, Kyu." Tutur Yesung seraya menatap memohon kepada Kyuhyun. Bukan ia tidak percaya bila Kyuhyun tetap tinggal di café di dalam gang seperti ini, namun ia, Donghae, dan Ryeowook lebih mudah mengawasi Kyuhyun bila namja itu kembali ke Apartmentnya.

Kyuhyun diam sejenak seraya mengambil nafas. Pandangannya lurus ke lantai dan bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman yang miris dilihat ketiga namja dihadapannya.

"Di tempat itu aku dan Sungmin dulu tinggal bersama. Ditempat itu aku berkali-kali mendapatkan sentuhan dan mendengar suara manja dari Sungmin. Tapi, di tempat itu juga aku ditinggal oleh dia. Ditempat itu juga aku harus sendirian melihat surat permohonan maaf darinya." Kyuhyun masih saja bicara walau air mata mulai menetes dari mata coklatnya. "Aku bisa saja kembali ke Apartmentku. Namun aku tidak mau hidup di dalam kenangan yang terus menerus membuatku serasa ingin mati saja.."

Yesung mengangguk lalu menepuk pundak Kyuhyun. "Lakukanlah apa yang menurutmu baik untuk keadaanmu sekarang. Sebisa mungkin aku, Donghae, dan Ryeowook akan berkunjung kesini setiap hari."

"Setiap hari aku pasti berkunjung dan membuatkan kau makanan, hyung!" Kyuhyun tertawa kecil lalu mengacak-acak rambut Ryeowook yang ikut tertawa karnanya.

"Aaah~ aku juga ingin mendengar suara emasmu yang selalu mengundang banyak pengunjung, Kyu~" goda Donghae yang menoel-noel lengan Kyuhyun.

Pagi itu, mungkin untuk kali pertamanya Kyuhyun tertawa lepas semenjak Sungmin meninggalkannya. Bertemu kembali dengan tiga orang yang paling berarti baginya mungkin bisa sedikit demi sedikit menyusun puzzle kebahagiaan Kyuhyun yang berantakan dan hilang entah kemana.


"Jadi tadi pagi Kyuhyun sudah bertemu dengan keluarganya?" tanya Heechul kepada Hangeng. Siang itu Heechul menyempatkan datang ke café Hangeng saat jam makan siang.

"Ya, tidak sengaja kemarin lusa aku bertemu dengan Kim Yesung, sahabat Kyuhyun." Jawab Hangeng seadanya. Namun sedetik kemudian, matanya memicing ke arah Heechul seolah teringat sesuatu.

"Apa kau sudah bertemu dengannya?"

Heechul tersenyum mendengar pertanyaan Hangeng. Lelaki itu memang punya ingatan yang kuat, pikir Heechul.

"Dengannya? Siapa yang kau maksud, Hangeng-ssi?"

Hangeng memutar malas kedua matanya. "Oh ayolah. Jangan main-main."

Heechul sedikit terkekeh kecil sebelum kembali memasang wajah serius karna sudah mendapat tatapan mematikan dari Hangeng. "Ya, aku sudah bertemu dengan sepupuku. Ternyata dia tinggal tidak jauh dari rumahnya yang dulu."

"Benarkah? Lalu bagaimana dengan suaminya? Eh, maksudku bagaimana dengan Sungmin-ssi?" Hangeng sedikit memajukan tubuhnya, seolah dia benar-benar penasaran dengan jawaban yang akan diberikan oleh Heechul.

Namja manis itu terdiam sebentar sebelum tersenyum kecil. Namun, Hangeng bisa melihat kesedihan yang terpancar di kedua mata Heechul.

"Kau tahu dimana Sungmin-ssi?" sekali lagi, Hangeng bertanya dan berharap Heechul menjawab pertanyaannya.

Heechul menggeleng, "aku tidak pantas memberitahu kau atau Kyuhyun-ssi sekalipun dimana Sungmin-ssi berada."

Hangeng mengernyitkan dahinya, "ayolah. Jangan bermain-main. Kau terlalu banyak teka-teki, Heechul-ssi."

"Apa aku terlihat seperti bermain-main? Aku serius. Aku memang tahu dimana keberadaan kekasih Kyuhyun-ssi. Tapi aku rasa aku tidak pantas memberitahunya."

Namja China itu terdiam sejenak melihat wajah Heechul yang lebih serius, tidak seperti hari-hari kemarin. Dia bisa melihat kesungguhan dari kedua mata Heechul yang menatap lurus kearahnya.

"Lalu, bagaimana bisa Kyuhyun bertemu dengan kekasihnya?" tanya Hangeng seraya bersandar pada sandaran kursi. Tangannya terangkat untuk mengaduk-aduk secara asal kopinya di meja.

"Sepupuku akan langsung bertemu dengan Kyuhyun."

Kedua mata Hangeng terbelalak. "Apa kau bercanda?! Kau ingin membuat Kyuhyun mati berdiri melihat istri dari kekasihnya ada dihadapan matanya?!"

Tidak ada ekspresi berarti dari Heechul saat namja dihadapannya berteriak dengan ekspresi kesal. Dia hanya tersenyum dan menghirup kopi miliknya.

Hangeng mendecih kesal. Heechul memang pelanggan café dan teman ngobrolnya selama ini, namun bila Heechul sudah semaunya. Dia memang tidak bisa berbuat apa-apa. Seperti saat ini, mempertemukan Kyuhyun dengan Luna yang jelas-jelas adalah istri dari Sungmin. Itu memang hal baik bila Kyuhyun sudah bisa menerima semuanya. Tapi sekarang Hangeng tahu, Kyuhyun belum 'sembuh' dari lukanya.

"Kau bisa menjamin bila sepupumu itu tidak terkena serangan jantung saat dia bertemu dengan kekasih suaminya?" tanya Hangeng dengan pandangan melecehkan Heechul.

Heechul tidak ambil pusing. Dia harus paham dengan kekhawatiran Hangeng pada Kyuhyun. "Aku jamin. Semua akan berjalan seperti seharusnya."

"Seperti seharusnya? Yeah, seharusnya Kyuhyun bisa kembali bersama Sungmin yang telah disakiti oleh pernikahan yang memisahkan mereka. Pernikahan Sungmin bersama sepupumu yang hampir saja merenggut nyawa Kyuhyun."

"Sepertinya kau sudah menganggap Kyuhyun sebagai adik kandungmu, Hangeng-ssi?" tanya Heechul dengan pandangan yang tak lebih baik daripada Hangeng. "Kau selalu berbicara seolah-olah hanyalah Kyuhyun dan Sungmin yang menderita disini."

Hangeng menaikkan satu alisnya. Seperti biasa, namja dihadapannya ini selalu penuh dengan teka-teki. "Maksudmu?"

"Sudahlah. Aku harus kembali ke kantor." Heechul sudah berdiri dari duduknya, mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya sebelum berniat keluar dari café Hangeng.

Kedua mata hitam milik Hangeng hanya menatap tidak mengerti pada punggung Heechul yang sudah mulai menjauh dari pandangannya.

TAP

Punggung berbalut kemeja berwarna hitam itu berhenti dan kembali berputar menghadapnya. Hangeng bisa melihat bahwa Heechul kembali tersenyum kepadanya.

"Percayalah. Yang menderita dikisah ini bukan hanya Kyuhyunmu saja."

Hanya sebait kalimat yang ia lontarkan sebelum kedua kaki jenjang itu kembali berjalan menuju pintu keluar café dan meninggalkan tatapan bingung dari namja yang hanya berani memandang punggunya tanpa bertanya.


Kyuhyun sedikit mengangkat kedua ujung bibirnya melihat pertengkaran kecil dihadapannya. Kedua namja yang duduk dihadapannya ini baru beberapa menit yang lalu datang dan menyuruh dirinya untuk ikut duduk bersamanya. Namun baru saja mereka melihat menu, percekcokan yang selalu Kyuhyun dengar tak dapat dielakkan lagi.

"Hyung tahu kan kalau Kyuhyun tidak suka sayuran!" Donghae, namja yang sedaritadi berteriak tanpa memperdulikan tatapan Kyuhyun dan pengunjung café Hangeng yang lain, kini sudah merebut secara paksa menu yang ditangan Yesung.

"Dan seharusnya kau tahu bahwa Kyuhyun tidak akan sehat bila tidak makan sayur! Dia harus makan sayur!" kini gantian Yesung yang merebut menu itu. Untung saja, Donghae cepat tanggap sehingga menu itu masih dapat dia pertahankan.

Mungkin karna tidak mau berlama-lama adu mulut dengan Donghae yang selalu mempunyai seribu cara untuk mendapatkan keinginannya, Yesung hanya bisa menghela nafas seraya bersandar pada kursinya. "Tanyakan saja pada Kyuhyun dia mau makan apa."

"Ah benar juga. Kyu, kau ingin makan apa?" Donghae menyerahkan menu kepada Kyuhyun. Namun Kyuhyun hanya membuat gesture menolak dari kedua tangannya. "Aku sedang tidak ingin makan, aku belum lapar."

Donghae mendesah kencang, "Hahhh, kau harus makan. Aku dan Yesung susah payah mengosongkan jam makan siang kita untuk makan denganmu, Kyu. Kalau saja Ryeowook tidak ada lukisan yang harus dia selesaikan, pasti dia ikut kesini!"

Yesung mengangguk tanda setuju, dia taruh dan dia buka menu didepan Kyuhyun. "Sekarang pilih makanannya, aku tahu mungkin saja kau bosan dengan makanan disini. Tapi kau harus makan! Lihatlah, pipimu tambah tirus dan aku jamin, aku pasti bisa menggendong tubuhmu itu tanpa kesusahan!"

Kyuhyun tidak punya pilihan lain. Seharusnya dia tahu dia mempunyai dua sahabat yang sangat overprotective padanya. Dia mulai membaca menu yang tertera dihadapannya.

"Kyuhyun-ssi, maaf mengganggu."

Ketiga namja itu menoleh ke arah sumber suara. Terlihat karyawan café berdiri dihadapan mereka.

"Ya? Ada apa, Yeungwan-ssi?" tanya Kyuhyun.

"Ada seorang wanita yang mencari anda. Sekarang dia sedang menunggu anda disana." Karyawan itu menunjuk pojok café. Terlihat seorang wanita sedang duduk disana, namun karna tempatnya agak jauh dari tempat duduk mereka, jadi tidak jelas bagaimana wajahnya.

"Oke. Terimakasih." Ucap Kyuhyun sebelum karyawan café itu pergi.

"Hyung, kalian pesan makanan untuk kalian dulu. Aku ingin menemui dia." tutur Kyuhyun seraya memberikan Donghae menu.

Yesung menahan pergelangan tangan Kyuhyun sebelum namja itu berdiri dari duduknya. "Kau mengenalnya? Apa teman wanitamu ada yang tahu bahwa kau tinggal disini selama ini?"

Kyuhyun sedikit berpikir lalu menggeleng. "Aku tidak mempunyai teman wanita selain teman bisnis. Dan rasanya aku sangsi kalau mereka mengunjungiku disini."

"Lalu wanita itu siapa?" Kini Donghae yang bertanya. Dia sedikit memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah wanita itu. namun, karna duduk si wanita membelakangi mereka, jadi tidak terlihat sama sekali.

Kyuhyun mengendikkan bahunya seraya berdiri. "Mungkin pengunjung café yang ingin bertemu denganku. Aku temui dia dulu ya."

.

.

.

"Permisi. Apa anda mencari saya?"

DEG

Tepat setelah Kyuhyun melontarkan pertanyaan itu, sang wanita menoleh ke arah belakang. Menatap wajah Kyuhyun sambil tersenyum.

Kyuhyun tidak mungkin lupa wajah itu. Wajah yang mungkin tidak memakai make up setebal dulu, namun ia masih yakin. Wajah yang sekarang dia lihat adalah wajah mempelai wanita kekasihnya, Sungmin.

Luna, atau bernama asli Park Sun Young, berdiri dan sedikit membungkukkan badannya. Bisa ia lihat wajah terkejut Kyuhyun yang tidak membuat pergerakan berarti dihadapannya.

"Bisa kita bicara sebentar, Kyuhyun-ssi?"

Tanpa anggukan, Kyuhyun berjalan dan menduduki kursi didepan wanita itu. Dua menit waktu yang tersita karna mereka berdua hanya diam dan tidak memulai obrolan.

Kedua mata coklat Kyuhyun menatap wajah wanita cantik dihadapannya. Dia tidak bisa bohong, walau ia tidak menyukai wanita, namun wanita dihadapannya ini cantik dan mempesona. Make up yang tidak tebal namun sangat pas diwajahnya. Kyuhyun juga bisa melihat mata teduh dari wanita yang terus memandanginya itu.

Tiba-tiba dada Kyuhyun terasa sesak. Semua pemandangan yang ada dihadapannya pasti pernah dinikmati juga oleh kekasihnya, Sungmin. Kyuhyun ingin sekali meringis kesakitan sekarang saat memikirkan kehidupan Sungmin dengan wanita yang dihadapannya ini.

"Maaf mengganggu waktu makan siangmu." Ujar Luna mencairkan suasana yang kaku. "Aku hanya ingin mengobrol denganmu."

Kyuhyun mengangguk, "tidak apa."

Luna menatap sendu wajah Kyuhyun yang terus memandangnya. Dia bisa lihat bahwa kedua mata Kyuhyun tersirat luka yang mendalam. Luka yang ia sendiri torehkan di hidup namja itu.

"Apa kabar?" Luna merutuki dirinya sendiri saat tidak ada pertanyaan lain yang keluar dari bibir tipisnya. Pertanyaan bodoh yang pasti mengherankan bagi namja didepannya ini.

"Tidak sebaik dirimu." Jawab Kyuhyun datar. Mungkin, sudah tidak ada gunanya lagi ia menutupi segala kekecewaan dan rasa lukanya pada wanita yang bahkan baru ia kenal hari ini. Namun, yang Kyuhyun tahu, yeoja dihadapannya ini sudah merebut Sungminnya.

"Aku tidak merasa baik hari ini." tutur Luna dengan lembut. Ia mengerti, sikap dingin Kyuhyun kepadanya memang patut dia dapatkan. "Bagaimana kehidupanmu, Kyuhyun-ssi?"

"Aku tidak punya banyak waktu untuk dihabiskan berbasa-basi denganmu. Jelaskan padaku, apa tujuanmu kemari?"

Luna menundukkan wajahnya. Walau suara Kyuhyun terkesan dingin dan penuh amarah, namun sama sekali ia tidak merasakan bahwa namja didepannya ini memarahinya. Kedua mata coklat Kyuhyun tidak bisa berbohong, kedua mata itu bisa menyampaikan bahwa hati namja itu terlalu sakit melihat pasangan hidup kekasihnya ada dihadapannya.

"Maafkan aku.." Kyuhyun bisa melihat wajah wanita itu semakin menunduk. Entahlah, mungkin buliran air mata sudah mengalir dari matanya.

"Kau tidak bersalah. Dan aku tidak menyalahkanmu." Tutur Kyuhyun dengan suara yang pelan.

"Tapi aku membuatmu berpisah dari Sungmin oppa." wanita itu mulai mendongakkan wajahnya dan menatap Kyuhyun. Benar saja, kedua pipi mulus itu sudah basah oleh air mata. "Andai saja aku tidak menerima pernikahan itu, mungkin kau dan Sungmin oppa masih bersama sekarang."

Kyuhyun terdiam. Membiarkan Luna berbicara apa yang mau ia bicarakan. Kyuhyun sudah terlalu lama merasakan sakit seperti ini, hal ini membuatnya menjadi bisa mengontrol emosi walau rasa sakit di dadanya tidak pernah mau kompromi.

"Tidak usah disesalkan. Aku, kau, dan Sungmin sudah terlanjur berjalan di arah ini. Memang, aku merasakan mati diseluruh tubuh dan perasaanku dulu bahkan sampai saat ini. Tapi sekarang kita bisa buat apa? Kalian sudah menikah dan Sungmin tidak mungkin kembali padaku.."

Kedua tangan namja itu mengepal. Bicara beberapa kalimat saja bisa membuatnya seolah kehilangan oksigen. Sesak sekali berbicara seolah-olah kau sudah merelakan sesuatu, padahal kau masih mempunyai harapan yang digantung di atas langit.

Suasana kembali diam. Air mata dari wanita itu sudah kembali dan Kyuhyun sudah bisa mengatur nafasnya. Sempat ia berniat untuk mengakhiri pertemuan ini dan kembali di meja Donghae dan Yesung yang ia yakin terus memperhatikannya. Namun, saat ia ingin berdiri, Luna menahannya.

"Aku ingin menjelaskan beberapa hal." Ucap Luna sambil menatap memohon kepada Kyuhyun. Namja itu tidak bisa menolak, ia kembali duduk dan bersiap mendengar penjelasan Luna yang ia yakin, hatinya akan terasa sakit kembali.

"Aku ingin meminta maaf padamu, Kyuhyun-ssi."

"Sudah aku bilang kau ti-"

"Aku yang meminta pernikahan ini! Aku yang memohon kepada keluargaku dan keluarga Sungmin oppa agar kami menikah!"

Kyuhyun bungkam dan tidak mampu menjawab ucapan wanita yang bergetar dihadapannya. Ada keterkejutan dari obsidian coklat itu, namun sekali lagi, Kyuhyun mampu menutupi semuanya.

"Aku tahu bahwa kakak kelasku ketika sekolah dulu adalah seorang gay. Bahkan aku tahu Sungmin oppa pernah disakiti oleh kekasihnya dulu. Pernah aku ingin berhenti mencintainya dan berpaling pada namja lain, namun tidak bisa. Aku terlalu mencintainya, aku terlalu mencintai Sungmin oppa."

Kedua mata itu kembali mengeluarkan cairan bening. Kembali menangis dihadapan kekasih sang suami.

"Akhirnya aku tidak tahan setelah mendengar issue kalian berdua. Dengan didukung oleh Tuan Lee, aku memberanikan diri untuk menerima pernikahan. Aku yakin, Sungmin oppa akan kembali menjadi normal, akan menjadi seorang suami dan ayah dari anak-anakku kelak."

Kyuhyun melempar pandangannya ke segala arah. Terasa risih saat mendengar nama kekasih hatinya disebut-sebut seperti itu. Bila sekarang ia lihat wanita itu menangis, bukankah harusnya Kyuhyunlah yang menangis sekarang?

"Akhirnya aku menikah dan hidup jauh dari sini dengan seorang namja yang aku cintai dari 8 tahun yang lalu. Namja yang selalu memaksakan senyumnya semenjak kami bertemu di altar. Namja yang selalu dan selalu hanya tersenyum saat aku bilang bahwa aku mencintainya."

"Ia tidak pernah menyentuhku. Bahkan untuk sekedar menggenggam tanganku saja ia tidak mau. Aku bagaikan barang haram baginya. Tidak pernah ia bicara dengan menatapku. Ah, bicara? Sungmin oppa tidak pernah bicara denganku! Ia selalu saja menghabiskan harinya dengan menatap foto kalian berdua!"

Kyuhyun tersentak. Wanita dihadapannya makin menangis histeris walau tidak sampai mengundang perhatian pengunjung lain. Bersyukur mereka duduk dipojok café yang jarang ada orang duduk.

Wajah Luna mengeras. Tubuhnya bergetar dan terisak-isak. Hal yang sama terjadi pada Kyuhyun, namun mungkin namja itu melakukannya dalam hati. Tidak ada satupun yang bisa Kyuhyun ucapkan. Ia biarkan Luna terus menerus menguasai perbincangan.

"Setiap malam, aku selalu mendengar dia menangis di dalam tidurnya. Menyerukan nama Kyuhyun seolah nama itu adalah doa penyelamat hidupnya." Luna mulai mengatur nafasnya dan menghapus buliran air mata di matanya. "Sungmin oppa memang suamiku, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya tetap menjadi milikmu, Kyuhyun-ssi."

Pandangan Luna melembut, tangannya mulai meraih tangan Kyuhyun yang terkepal kuat. "Aku mohon, maafkan aku karna keegoisanku. Aku memang terluka dengan semua ini, tapi aku yakin, kau dan Sungmin oppa lebih terluka daripadaku."

Kyuhyun menjauhkan tangannya dari genggaman Luna. Tanpa kebencian ataupun kelembutan, kedua matanya lurus menatap mata Luna. Kedua mata itu bertemu, seolah mengantarkan luka yang dirasakan satu sama lain karna orang yang sama.

"Dimana Sungminku?"


"Hyung."

"Kyuhyun-ah! Siapa wanita itu?" tanya Yesung seraya berdiri dari duduknya. Donghae yang melihat Kyuhyun menghampiri dia dan Yesung pun ikut berdiri.

"Aku ingin pergi sekarang." Ucap Kyuhyun tanpa memperdulikan pertanyaan Yesung.

"Kemana?" tanya Donghae sambil menahan lengan Kyuhyun agar tidak pergi dulu.

Kyuhyun diam. Agak bimbang untuk memberi tahu kedua sahabatnya ini atau tidak.

"Bicaralah. Kau ingin kemana? Bersama wanita itu kah?" Yesung melirik lagi ke tempat Kyuhyun tadi berbincang bersama wanita itu. Dan benar saja, wanita itu melihat ke arah sini seolah menunggu Kyuhyun.

"Dia.. istri Sungmin."

"Apa?!" Donghae berjingkit kaget. Tidak percaya dengan ucapan Kyuhyun. Ia memicingkan matanya, kembali berusaha melihat wajah wanita yang kebetulan menoleh kearahnya. Dan ya, itu adalah Park Sun Young, istri dari kakak sepupunya yang hanya sekali ia jumpai.

"Lalu kau mau kemana?" tanya Yesung.

"Aku ingin bertemu dengan Sungmin.. Dia tahu dimana Sungminku."

Donghae melirik kearah Yesung, seolah bertanya bagaimana ini.

"Boleh aku dan Donghae ikut bersamamu?" Kyuhyun melirik ke arah Yesung yang tersenyum padanya. Sebenarnya tidak masalah untuk Kyuhyun bila kedua sahabatnya ini ikut, bukankah selama ini juga mereka berdua turut mencari Sungmin.

Kyuhyun mengangguk dan berjalan mendahului dua orang namja yang mengikuti dibelakangnya.

"Yesung hyung."

Yesung melirik ke arah Donghae yang memanggilnya sebelum mereka naik ke dalam mobil. Ia lirik sebentar Kyuhyun dan wanita itu yang sudah lebih dahulu masuk ke mobil. "Ya?"

"Entahlah. Perasaanku buruk tentang ini."

Yesung tersenyum lalu mengacak sebentar rambut Donghae.

"Kau kira aku tidak?"


Donghae yang menawarkan untuk menyetir hanya menatap lurus ke depan dan sesekali berkata 'ya' ketika Luna, wanita yang duduk disampingnya, memberi petunjuk jalan. Yesung yang duduk dibelakang dengan Kyuhyun pun tidak banyak bicara. Mungkin karna dongsaeng yang ada disebelahnya juga tidak bicara.

"Sebentar lagi kita akan bertemu, Sungmin.."

Tanpa disadari, Kyuhyun menarik kedua ujung bibirnya. Baru kali ini ia tersenyum penuh kelembutan saat mengingat Sungmin. Biasanya, ia sangat takut mengingat namja bergigi kelinci itu. Mengingat Sungmin sama saja mengingat ia pernah ditinggal oleh namja itu.

Dada Kyuhyun berdebar-debar. Rasanya ia tidak sabar untuk sampai di tempat Sungmin, kekasih yang selama ini ia rindukan. Kini sesak didadanya bukan karna sakit, namun karna rasa bahagia yang sulit ia ucapkan.

"Hyung.."

Yesung menoleh kearah Kyuhyun yang memanggilnya. Donghae pun ikut melirik ke belakang melalui kaca spion.

"Ada apa, Kyu?" tanya Yesung dengan nada lembut. Bisa ia lihat wajah berbinar dari Kyuhyun. Wajah yang tidak dia jumpai selama beberapa bulan ini.

"Aku akan bertemu dengan Sungminku.."

Yesung dan Donghae mengulum senyum. Kyuhyun persis seperti anak kecil yang ingin ke taman bermain. Terus menerus mengucapkan hal yang sama dengan matanya yang mengeluarkan binaran.

Donghae tidak sengaja melirik kearah Luna. Ingin tahu bagaimana reaksi seorang istri yang mendengar bahwa nama suaminya disebut-sebut sebagai milik orang lain.

Namun bukan kebencian yang terpancar. Melainkan Donghae bisa melihat genangan air mata yang sebentar lagi akan terjatuh. Luna melemparkan pandangannya ke luar jendela, berharap tidak ada satupun yang tahu air mata yang jatuh perlahan. Air mata yang mewakili rasa sakit, rasa bersalah, bahkan rasa cinta.

.

.

"Belok kanan, Donghae-ssi."

Donghae mengangguk dan membelokkan stir ke arah kanan seperti perintah Luna.

"Itu dia. Sungmin oppa ada disana.."

DEG

DEG

Tidak ada yang berbicara. Kedua mata ketiga namja itu terbelalak.

"Ti-tidak mungkin…"

Yesung menoleh dan mendapati Kyuhyun menatap tidak percaya ke luar jendela sana. Lagi-lagi, dia harus melihat buliran air mata jatuh dari obsidian coklat milik Kyuhyun.

"Sungminku tidak mungkin berada disana!" Kyuhyun berteriak. Membuat Yesung menggenggam tangan Kyuhyun agar namja ini tenang.

"Sungminmu ada disana, Kyu.." lirih Luna. Hatinya ikut sakit melihat Kyuhyun yang menangis di jok belakang sana.

"Kau bohong, Luna-ssi!" Kyuhyun mulai mengeluarkan isakannya. Sungguh, bukan seperti ini yang ia pikirkan.

"Sungminku… Sungminku tidak mungkin disana… Kau bohong. Aku mohon, katakanlah kalau kau bohong.."

.

.

Get up again,
I want to see you who has waited for me
Go back again,

I want to say 'I love you'

TBC

rasanya kalo aku jd reader chapter ini, aku pengen teriak

"CEPET UPDATE! SUNGMIN DIMANA WOY!"

iya gak? kalian gitu gak? enggak ya?T_T

Hah, rencananya pengen selesai dichapter ini..

tapi ternyata pas liat draft, ada banyak banget.. *canda deng*

aku udh selesai uas! aku peringkat dua!

doain dapet undangan ptn ya:"

selamat review dan maaf kalo ada typo atau jalan cerita yang membosankan:)