Naruto mengerti jika Kyuubi tidak bermaksud mengatakan hal itu. Kyuubi hanya kecewa terhadap dirinya. Kyuubi hanya takut jika ia akan kehilangan adiknya. Dan Naruto tahu jika adiknya itu lebih dari cemas saat kondisi Deidara kembali memburuk.
"Naruto-kun, kau sudah kembali?"
Naruto menoleh dan menatap Kabuto yang baru saja keluar dari ruang operasi. Tanpa sadar Naruto melepaskan kedua tangan Kyuubi dan berjalan menghampiri kabuto.
"Bagaimana? Bagaimana keadaan Deidara?" tanyanya dengan cemas.
"Bisakah kita bicarakan di ruanganku?"
Naruto hanya menurut mengikuti setiap langkah Kabuto. Ia bahkan seolah tidak mempedulikan Kyuubi. Bukannya marah. Ia hanya masih syok saat Kyuubi berkata jika Deidara sudah meninggal.
.
.
.
Naruto Fanfiction
Present:
Naruto © Masashi Kishimoto
After Today: Let It Be A Secret © Ran Hime
SasuNaru
Drama, Family, Hurt/Comfort
AU, OOC, Yaoi, Typo.
.
.
.
Chapter 10
.
Sudah begitu lama Naruto tidak lagi menginjakkan kakinya di ruangan kabuto. Jika tidak salah ingat, saat ia tahu tentang penyakit Deidara adalah terakhir kali ia berada di ruangan Kabuto. Dan itu adalah saat paling menyakitkan baginya karena merasa tidak bisa merawat adiknya dengan baik."
"Hanya perasaanku atau memang akhir-akhir ini kau semakin kurus, Naru?"
Naruto mencoba tersenyum, "Yang terpenting adik-adikku sehat. "
Kenyataaanya, tubuhnya memang terlihat lebih kurus dari beberapa bulan yang lalu. Ia tidak tahu kenapa, mungkin pergantian cuaca yang menjadi penyebabnya. Ia terkadang sulit untuk makan bahkan terkadang tidak tertarik sama sekali dengan hidangan yang sudah ia makan. Ia hanya melahapnya beberapa sendok saat Sasuke makan di rumah. Selebihnya ia tidak selalu makan dengan teratur.
"Apa kau sudah mengambil keputusan?"
Naruto mengalihkan pandangannya sejenak sebelum menatap Kabuto. Ia ragu apakah ia bisa membuat Deidara setuju untuk menjalani operasi besar itu. Ia tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Deidara harus memutuskan keputusan itu. Ia akan berusaha untuk membuat adiknya itu mau menjalani operasi tersebut. Namun ia tidak bisa memaksa.
"Aku akan membicarakan hal itu saat keadaan Deidara membaik."
Kabuto tersenyum kecil. Pria itu sudah menebak apa yang akan Naruto katakan, "lebih cepat lebih baik."
.
.
.
Ada rasa kerinduan yang amat besar yang memancar dari sorot mata Ametis itu. Dan rasa kerinduan itu juga bersemayam dalam hati Naruto ketika melihat gadis yang ia cintai berada tidak jauh darinya. Air mata mulai mengalir ketika rasa bersalah akan pengkhianatannya mulai merasuk ke dalam hatinya. Walau ia tidak bermaksud menyakiti kekasihnya.
Berapa lama ia tidak melihat gadis itu? Bahkan ia mengabaikan gadis itu ketika Valentine beberapa bulan yang lalu dan meninggalkan gadis itu tanpa satu kalimat penjelasan.
"Hyuga-san ..."
Pria itu adalah orang yang paling ingin Naruto hindari. Namun melihat wajah penuh emosi kemarahan itu, membuat Naruto berpikir jika ini adalah akhir hidupnya. Siapa yang tidak akan marah melihat adik satu-satunya tersakiti disaat janji untuk membahagiakan telah terucap?
"Akhirnya kau keluar dari penjagaan Uchiwa sialan itu."
Tubuh Naruto bergetar saat mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Neji. Ia tahu jika ia telah menyakiti Hinata. Ia meninggalkan Hinata begitu saja tanpa penjelasan apapun.
"Hyuga-san ..."
Neji tidak sedikitpun membiarkan Naruto berbicara lebih banyak lagi. Ia meraih kerah baju Naruto dan menatap geram kekasih adiknya itu. Dan setelahnya melayangkan pukulan di wajah Naruto.
"Kakak, apa yang kau lakukan." Hinata berjalan mendekat dan berusaha menenangkan Neji. Mereka ke rumah sakit bukan untuk bertengkar. Neji telah berjanji tidak akan menyakiti Naruto. Mereka hanya ingin mendengar penjelasan Naruto akan semua yang telah terjadi. Bagaimana kekasihnya itu tiba-tiba saja menikah dengan orang lain dan menghilang dari Konoha.
"Hyuga-san, aku akh-"
Naruto terdorong ke belakang ketika Neji kembali memukul pipi satunya. Naruto bahkan tidak sempat menghindari pukulan Neji yang lain. Ia mulai terbatuk ketika Neji menendang perutnya hingga ia tersungkur.
"Kau pria brengsek yang berani mengkhianati adikkku."
Naruto tidak sekalipun bisa melawan. Ia hanya bisa meringkuk dan memeluk perutnya dengan erat seolah tidak membiarkan Neji melukainya lebih. Ia tahu ia salah. Ia akan menerima kemarahan Neji. Bagaimana pun juga ia lah yang salah karena telah meninggalkan Hinata begitu saja. Ia akan membuat Neji puas sebagai hukuman karena telah mengkhianati Hinata.
"Kakak hentikan. Kau menyakiti Naruto-kun."
Tanpa sadar Naruto tersenyum getir di ambang ke sadarannya saat mendengar kalimat pembelaan dari Hinata. Bagaiman bisa Hinata masih juga membela dirinya yang sudah membuat luka di hati hinata? Rasanya ia ingin tertawa namun tidak sedikitpun bisa. Ia mulai tidak bisa mempertahankan kesadarannya. Ia lelah terus berjalan dalam semua masalah dalam hidupnya. Ia ingin sejenak tidur jika memang masih bisa ia bangun nanti.
.
"Naruto-kun ... Bangunlah."
Hinata berusaha membangunkan Naruto setelah berhasil menenangkan amarah neji. Ia merasa cemas ketika tidak sedikitpun Naruto merespon seruannya. Ia meraih tangan Naruto yang terasa dingin. Rasa cemas mulai ia rasakan ketika melihat wajah Naruto memucat.
"Kakak ..."
Bagaimana bisa semua orang hanya menonton? Tidak ada dari mereka yang berusaha menolong. Hinata mulai panik. Ia terisak perlahan. Membuat Neji mulai bergerak dan merengkuh tubuh lemas Naruto. Dan mencari perawat yang sedang bertugas.
"Naruto-kun?"
Neji berhenti berjalan ketika mendengar suara dingin tidak jauh darinya. Ia mendecih melihat Itachi berjalan cepat ke arahnya dengan wajah khawatir.
"Apa yang terjadi?" Itachi menatap Neji sesaat sebelum akhirnya ia melihat Hinata berdiri di belakang Neji. Itu sudah cukup menjelaskan apa yang Naruto alami.
.
.
After Today
.
.
Rasanya begitu hangat. Naruto tidak ingin kehangatan itu lenyap. Ia sangat merindukan kehangatan itu. Tanpa sadar air mata mulai menetes di sela matanya yang tertutup. Begitu lama ia hidup tanpa merasakan kehangatan itu setelah ibunya meninggal.
"Kakak ..."
"Kakak, kumohon bangunlah."
Perlahan Naruto membuka mata ketika mendengar suara Kyuubi. Ia melihat adik sulungnya itu terlihat sedih. Tangan besar adiknya memegang lembut tangan kiri Naruto yang tidak terpasang infus.
"Syukurlah, kau sudah bangun."
Naruto hanya diam melihat ekspresi bahagia Kyuubi saat ia telah sadar. Rasa hangat kembali Naruto rasakan saat Kyuubi menghapus air matanya yang mengalir. Mungkinkah adiknya itu telah memaafkan dirinya?
"Kupikir kau tidak akan bangun dan meninggalkan aku sendiri."
Naruto terlihat sedih ketika melihat kebingungan dan kekhawatiran di wajah Kyuubi. Ia merasa telah gagal dalam hidupnya ketika tidak sedikitpun bisa membuat adik-adiknya bahagia. Ia mengerjap, merasakan dadanya perlahan sakit seperti ada bongkahan yang mulai tercipta di dadanya.
"Aku sangat senang kau sudah bangun."
Dengan sisa tenaga yang ia punya, Naruto menggerakkan tangannya yang terpasang jarum infus dan meraih tangan Kyuubi. Ia tersenyum dan meyakinkan Kyuubi jika ia baik-baik saja. Dan tangis Kyuubi kembali pecah. Naruto tahu jika adiknya pasti merasa bersalah dan penyesalan demi penyeaalan memenuhi hatinya yang terlihat kuat.
"Apapun yang terjadi, kakak tidak akan pernah meninggalkanmu."
.
.
Let it be A secret
.
.
"Hinata .."
Begitu banyak penyesalan ketika Naruto melihat wajah khawatir Hinata. Tidak seharusnya ia membuat Hinata terluka. Bagaimana pun gadis itu selalu menemani dirinya di saat masa-masa sulit dalam hidupnya.
"Seharusnya kau menghubungiku jika kau membutuhkan uang." Setelah mendengar penjelasan dari Itachi mengenai pernikahan Naruto dengan Sasuke, Neji hanya bisa mengatakn hal itu.
Naruto menoleh ke arah Neji. Pria itu menatapnya kesal namun juga iba. Naruto tidak akan merasa terhina ketika mendengar kalimat dari Neji. Sudah sering kali Neji menawarkan bantuan, namun ia menolaknya. Naruto tidak akan berpikir untuk memanfaatkan hubungannya dengan Hinata demi uang.
"Lalu bagaimana sekarang?"
"Dua bulan lagi hubungan kami berakhir. Aku akan meninggalkan Konoha dan pidah ke Uzushio."
"Lalu bagaimana kau menjelaskan semua jika Sasuke melihatmu seperti ini?" Neji ingin marah namun sebisa mungkin ia menahannya.
Naruto terdiam. Ia tidak mempunyai pilihan lain selain bertahan bersama Sasuke. Jika ia pergi begitu saja sebelum perjanjian mereka berakhir maka Sasuke akan mengejarnya kemanapun ia pergi. Ia hanya ingin memulai hidup barunya di kota kelahiran ibunya. Ia berharap bisa menjaga adik-adiknya dengan lebih baik setelah semua ini. Ia tidak ingin Deidara hidup dengan bayang-bayang masalalu.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain, Hyuga-san."
"Pikirkan lagi dengan baik. Apa yang akan Sasuke lakukan jika ia tahu apa yang terjadi." ujar Neji lalu keluar meninggalkan Naruto dengan Hinata.
"Hinata, aku benar-benar minta maaf karena membuatmu kecewa."
"Naruto-kun." entah kenapa Hinata tidak mampu sedikitpun menghilangkan ekspresi sedih di wajahnya ketika melihat Naruto, "Kau harus istirahat."
Naruto tersenyum. Ia kembali memejamkan matanya saat merasakan sakit di perutnya. Pukulan Neji benar-benar kuat bagi tubuhnya. Akankah ia mampu bertahan sampai akhir setelah semua ini?
.
.
SasuNaru
.
.
Kyuubi membuka matanya ketika mendengar suara berisik. Ia mengerjapkan mata beberapa kali sebelum ia melihat ke arah ranjang Deidara. Kyuubi terlonjak kaget ketika melihat seseorang tengah duduk di pinggir ranjang Deidara. Sementara Deidara terlihat ketakutan dan mencoba untuk menyingkir dari tempat itu.
Kyuubi memicingkan matanya. Seketika itu darahnya seolah memanas. Ia menggeram dan berjalan cepat menghampiri ranjang adiknya. Ia amat sangat tahu siapa orang yang tengah mengunjungi adiknya saat tengah malam. Kyuubi tidak mengira jika pemuda itu akan menemukan Deidara secepat ini. Kyuubi memegang bahu pemuda itu. Dan tepat ketika pemuda itu menoleh, Kyuubi menghantam wajah pemuda itu.
Malam ini, Kyuubi akan benar-benar menghabisi bajingan yang telah membuat hidup adiknya menderita.
.
.
.
To be Continue . . .
Salam Senpai, saya datang lagi bawa chapter baru. Semoga ff ini tidak membuat kalian kecewa karena terlalu lama untuk ditamatkan.
Padahal dulu saya berniat untuk tidak melanjutkannya, tapi karena beberapa alasan, akhirnya saya bisa melanjutkannya lagi.
Akhir kata, sampai bertemu di chap selanjutnya.
