"Namikaze Minato, ayah kandung Namikaze Naruto, dia menadapat kekuatan roh saat umur 19 tahun". ucap Zeus.

"menadapat kekuatan roh? Apa dia juga korbannya phantom? ". tanya Shido. "tidak, melebihi semua itu... Minato adalah Sephirot, ia menjaga sistem dunia ini tetap pada asalnya". ucap Ra.

"sistem dunia? ". tanya Yoshinon. "yah, aku melakukannya sejak aku mendapat kendali penuh atas sebagian kekuatan Sephirot, singkatnya aku mengatur sistem alam semesta dari tempatku". balas Minato.

"itulah alasan mengapa aku tidak bisa berlama-lama di dunia ini dan harus kembali ke tempatku lagi". ucap Minato. "kenapa? Kenapa Tou-san dulu menerima kekuatan itu? ". tanya Naruto.

"Sephirot-sama yang memberikan kekuatan ini padaku saat beliau hendak menghilang, butuh beberapa tahun untuk aku bisa mengambil penuh atas kendali kekuatan itu". ucap Minato.

Grhhhh! Udara kembali bergemuruh. "Chaos Dyson bergerak lagi, bisakah kau hentikan itu Naruto? ". tanya Minato. "aku tidak yakin... Sebelumnya aku bahkan tidak bisa mengatakan kata Tidak pada Chaos Dyson ". jawab Naruto.

Tap! Minato memegang surai Naruto. "aku yakin kau bisa melakukannya, kau anakku, dan aku percaya padamu". ucap Minato.

Deg! "percaya? Aku.. Entah mengapa aku... ". ucap Naruto tidak dapat meneruskan kata-katanya. "nah, kau yang sekarang pasti bisa menghentikannya". ucap Minato melepas pegangannya.

Naruto mengangguk lalu berbalik menatap Chaos Dyson di atasnya. "Chaos Dyson yo! Tugasmu sudah di batalkan! Sekarang aku memerintahkanmu! Jang-". Naruto menghentikan ucapannya tiba-tiba saat merasakan sesuatu.

"Naruto? Kenapa kau menghentikan ucapanmu? Bukankah tinggal sedikit lagi? ". tanya Shido. "Naruto? Kegelapan hatimu masih ada yah? Sepertinya kau juga menyimpan kegelapan hati yang sama pada ibumu". ucap Minato.

"tidak tou-san, ini hal yang berbeda, jika aku tidak melakukan ini, aku pasti akan lepas kendali lagi dan memanggil benda itu ke dunia nyata". gumam Naruto. "apa maksud-". ucapan Minato terpotong saat dengan kuatnya Naruto mendorongnya ke belakang.

"ugh". leguh Minato. "kau tidak apa-apa? Minato-san? ". tanya Shido yang menangkapnya. "sebenarnya ada apa dengan Naruto? Bukankah ia bisa menghentikan Chaos Dyson jika dia mau? ". gumam Shido bingung. "Naruto! Jangan-jangan kau akan...! ". kaget Minato menyadari apa yang akan dilakukan anaknya.

"wahai kegelapan para Dewa! Yang bersemayam dalam Arc Cradle yang menjadi Chaos Dyson! Aku memahami rasa sakit kalian! Kalian sakit hati pada kami para manusia, kalian tidak salah! ". teriak Naruto.

"kalian pantas membenci kami! Kalian telah banyak membuat hidup kami lebih baik, tapi kami malah melupakan kalian dan mengirim kalian menuju kehancuran kalian". lanjut Naruto.

Groohhh! Udara kembali bergetar. Chaos Dyson , Kanopi melayang itu agaknya merespon ucapan Naruto. "apa yang akan kau lakukan bocah?! ". ucap Zeus terkejut. "setelah menanggung kegelapan kami, kau berniat menaggung kegelapan semua Dewa disana?! ". teriak Odin.

"jangan menghentikanku, aku adalah wadah terbaik bagi kegelapan kalian". ucap Naruto. "Saa! Datanglah! Limpahkan semua kegelapan kalian padaku! Akan kutanggung semuanya! Gunakanlah wadah yang ada dalam Tubuhku ini! Jiwaku! Bahkan Hatiku! ". teriak Naruto merentangkan tangannya.

Grrr! Syuuuz! Aura hitam yang sangat banyak berkumpul di sekeliling Chaos Dyson . Aura itu berkumpul menjadi sesosok ular naga yang sangat besar berwarna hitam pekat.

Ular besar itu melesat dan tubuhnya mulai sedikit mengecil. "Naruto! ". teriak Minato hendak menghentikan Naruto. "jangan halangi aku Tou-san! ". ucap Naruto. Sepasang matanya tiba-tiba bersinar redup.

Deg! Deg! Minato tiba-tiba berhenti di tempatnya dalam posisi yang masih berlari. Pyar! Tidak bertahan lama, tiba-tiba Minato jatuh berlutut. "Kekuatan itukan..! ". kagetnya.

Bwosh! "Uarghhhhhh! ". teriak Naruto kesakitan saat aura hitam itu telah sampai padanya, tubuhnya diselimuti oleh aura hitam dari Chaos Dyson yang terus turun seolah mengalir.

"Naruto! ". teriak Shido khawatir dan berlari kearah Naruto. "jangan mendekat Shido-uarghh! I-ini... Adalah hal yang harus kulakukan.. Arghh! ". ucap Naruto sambil tetap kesakitan.

"tapi... Aku.. Aku tidak sanggup melihatmu kesakitan seperti itu! Apa tidak mungkin kita membaginya bersama? ". ucap Shido. "Arghh! T-tidak! Rasa sakit ini! Bahkan tebasan pedang Tohka tadi tidak ada apa-apanya... Jangan mendekat Shido.. Kau bisa langsung terbunuh! Arhghh! ". ucap Naruto.

Aura hitam itu semakin cepat memasuki tubuh Naruto. "ugh! Aku.. Aku tidak akan kalah.. Selama aku memiliki wadah itu dalam diriku, tidak peduli seberapa banyak aku hancur, aku masih bisa bangkit kembali dengan ingatan dan perasaan yang sama! ". ucap Naruto.

"i-ini hal yang mengerikan! S-sebenarnya ada apa ini?! ". ucap Miku. "Naruto-san, kumohon berhentilah... Aku tidak mau kau kesakitan seperti itu... Kumohon.. ". ucap Yoshino mulai menangis. Telinganya sakit mendengar teriakkan kesakitan Naruto yang menggema di seluruh dimensi itu.

"Naruto.. Kau melakukan sampai sejauh ini... ". gumam Minato. "Tou-san, i-ini belum seberapa.. Jika aku tidak mengambil kegelapan hati para Dewa.. Chaos Dyson juga akan terus memaksaku untuk memanggilnya, dan jika aku sampai terpengaruh hal itu... Dunia nyata akan hancur". ucap Naruto.

"Sebenarnya.. Sampai mana rasa sakit yang bisa kau tahan... Naruto? ". gumam Shido. "Rasa sakit yang saat ini dialami Naruto, berada dalam level yang sangat tinggi, melebihi sakitnya ditembak laser oleh Chaos Dyson, kegelapan itu.. Tidak hanya menyakiti tubuh Naruto saja, melainkan jiwanya bahkan hatinya juga". ucap Minato.

"aku tidak akan ragu lagi... Meski sesakit apapaun saat ini... Aku tidak akan ragu lagi! Lepaskanlah semuanya! Gunakan seluruh bagian yang ada dalam tubuhku untuk wadah kalian! Aku tidak akan kalah! Kemarilah! ". teriak Naruto dengan tekad kuat, walau saat ini ia bahkan tidak bisa merasakan setiap inchi tubuhnya.

Zuuuz! Dan setelah beberapa menit kemudian, ujung kegelapan itu mulai terlihat "Uarghhhhh! ". teriak Naruto saat kegelapan itu akhirnya telah benar-benar masuk ke tubuhnya.

Deg! Naruto tersentak. Ia melihat seluruh masa lalu menyedihkan para Dewa yang kegelapannya telah diambil Naruto.

"terimakasih... Kalian memberiku kesempatan untuk memahami perasaan kalian.. Kalian memberikan kami kesempatan untuk berubah". ucap Naruto. Bruk! Dan setelah itu ia jatuh membentur lantai yang dingin.

"Naruto! ". teriak Shido melompat ke samping Naruto dan mengguncang-guncangkan kepalanya. "h-hoi Naruto! Sadarlah! Sadarlah Naruto! " . ucap Shido.

"N-Naruto-sann! ". ucap Yoshino, ia berlari ke samping Naruto lalu berlutut disamping dadanya lalu kembali menangis disana. "tubuhnya benar-benar dingin". ucap Kaguya yang menyentuh kening Naruto.

Minato hanya tersenyum melihat itu semua. "jangan khawatir.. Naruto tidak apa-apa, ia hanya butuh sedikit istirahat saja". ucap Minato. "dengan tekad kuat Naruto, benda itu berhasil mengunci semuanya". lanjutnya pelan.

"dan terimakasih telah menjadi teman Naruto.. Terimakasih telah menjaganya saat aku tidak bisa berada di sampingnya". ucap Minato lagi. "a-anda tidak perlu berterima kasih, justru Naruto lah yang menyatukan kami seperti ini.. Dia adalah simbol persahabatan kami". ucap Shido.

"Itsuka Shido, hatimu jujur sekali, kau sama baiknya dengan Naruto, kalau begitu aku juga akan meminta hal yang sama padamu". ucap Minato. "a-apa itu? ". tanya Shido. "selamatkanlah semua roh dari kesendirian mereka, aku tidak bisa melakukannya karena aku harus menjaga sistem dunia". ucap Minato.

"t-tentu saja! Saya memang harus melakukannya". ucap Shido. "dan gadis roh.. ". ucap Minato. Sontak Yoshino menoleh kearahnya dengan mata yang berair.

"aku harap kau bisa melupakan kesedihanmu, dan jalanilah kehidupanmu sebagai manusia meski itu mungkin akan mustahil". ucap Minato. Tubuhnya mulai bercahaya.

"Naruto.. Kau terlahir dari seorang Spirit.. Dan aku yang juga sudah setengah Spirit saat kau akan lahir.. Kelahiranmu awalnya mustahil... Tapi aku memaksa dan menggunaan Holy Grail pada tubuhmu... Jadi gunakanlah itu dengan sebaik-baiknya, nyawamu ada padanya". ucap Minato mengepalkan tangannya. "aku sudah gagal sebagai seorang Ayah". lanjutnya pelan.

"S... Sakiiit! U-ughhh! Sakiiit! ". "B-bertahanlah! Gawat, aku tidak mengira akan seperti ini.. ". "Minato, pakai ini... ". "tapi, benda ini kan! ". "aku berikan padamu, anggap saja sebagai hadiah karena sudah mau menerima tugasku, dengan itu kau bisa menyelamatkan istri dan anakmu".

"kau sudah akan pergi lagi heh? ". tanya Susano'o. "aku tidak bisa berlama-lama disini". balas Minato. "baiklah, ugh! Aku mengerti Tou-san". ucap Naruto tiba-tiba membuka matanya dan berusaha bangkit, ia sangat lemas, bahkan Naruto tidak bisa membuka penuh matanya.

"kubantu". ucap Shido memegang punggung Naruto dan membantunya duduk.

"kau sadar lebih cepat dari yang kukira". ucap Minato. "tentu saja, Chaos Dyson masih berada diatas". ucap Naruto. Krak! Krak! Langit diatas Chaos Dyson kembali retak dan akhirnya terbelah.

Zuuz! Benda penghancur dunia itu kemudian perlahan masuk kembali ke retakan dimensi itu da akhirnya menghilang di dalam sana. Sring! Enam buah cahaya turun dari sana dan mendarat di depan Naruto.

Itu adalah Gungrir, Tombak petir, Sabit kematian, pedang yang terbakar api hitam dan bola Kristal kuning dan satu lagi adalah sebuah kalung Kristal berwarna ungu.

"sepertinya Chaos Dyson , tidak, tapi para Dewa menyerahkan Chaos Dyson padamu, sekarang berarti kau memegang kunci kehancuran dunia ini". ucap Minato.

"baiklah, maafkan aku, hanya ini yang bisa aku sampaikan.. Aku harap ibumu bisa menyampaikan yang lebih banyak padamu.. Sampa jumpa Naruto". ucap Minato dengan tubuh yang bersinar terang. "Tou-san! Selamat tinggal, aku bangga menjadi anakmu! ". ucap Naruto. "aku juga.. Terimakasih telah lahir untuk kami". ucap Minato akhirnya menghilang.

"Baiklah, ayo semua, kita kembali! ". ucap Naruto menjentikkan jarinya. Sring! Lingkaran sihir skala besar tercipta dan memunculkan pilar kegelapan yang menjulang tinggi ke langit.

Deg! Syuzz! Sensasi semua orang seperti ditarik, mereka dikeluarkan paksa dari Dimensi buatan itu.

"kita kembali... Syukurlah! ". ucap Miku senang. "sudah hampir pagi? ". gumam Yuzuru. "haah, waktu berlalu semakin cepat saja". ucap Kaguya.

Naruto berdiri dibantu Shido, di sampingnya ada Yoshino yang menghapus air matanya.

Naruto menoleh dan menemukan kelima Dewa dengan tubuh yang transparan namun masih cukup terlihat sedang berdiri bersama menghadap matahari yang perlahan terbit.

"Naruto.. Sudah waktunya". ucap Odin. Naruto melepaskan paksa pegangannya dari Shido dan berjalan tergopoh-gopoh kearah kelima Dewa yang tersisa itu.

"jadi memang benar yah? Kita tidak akan bisa bersama-sama lagi? ". ucap Naruto menundukkan kepalanya. "aku mengetahuinya saat menjadi Supreme King, kalian tidak akan bertahan di dunia ini setelah menggunakan Chaos". lanjut Naruto.

"kau benar, alam kita seharusnya sudah berbeda, meski aku tidak tahu alam mana yang akan kami tempati nanti". jawab Thanatos.

"terimakasih untuk tempat tinggalnya selama ini... Naruto". ucap Zeus. "kalian... Kalian tidak bisa masuk lagi kedalam tubuhku? ". tanya Naruto.

"ini hal yang harus kami terima saat menggunakan kekuatan Chaos, kau harus tahu, kekuatan Chaos jika kau gunakan terus menerus akan berdampak buruk pada jiwamu". ucap Thannatos.

"yah, dan karena kami hanyalah jiwa dan menggunakan kekuatan Chaos, kami juga akan menghilang". sambung Odin. "tapi, masih ada alasan utama mengapa kami harus meninggalkan dunia ini". ucap Zeus.

Ra mengangkat sedikit tangannya, seperti para Dewa lainnya, dirinya juga semakin tembus pandang. "seperti halnya kau, kami juga punya teman-teman di sana.. ". ucap Ra.

"Ra benar, kami juga memiliki seseorang yang kami rindukan, dan juga kami ini sudah lama mati... Tubuh kami sudah hancur sejak lama.. Jiwa yang telah mati tidak seharusnya berlama-lama di dunia ini". ucap Susano'o.

Deg! "tapi kalau kau memang menginginkan hal ini.. Kau akan kehilangan sebuah hal penting bagimu".

"jadi... Inikah yang dimaksud gerbang itu? Hal penting itu.. Kalian berlima...? ". batin Naruto menunduk.

Cahaya semakin terang. Kelima Dewa itu berbalik kearah Naruto. "Naruto.. Teruslah hidup dan jagalah semua kebahagiaan mereka.. Berjanjilah padaku". ucap Ra. "Shido, Yoshino, Yoshinon, Yuzuru, Kaguya dan kalian semua.. Tetaplah menjadi teman Naruto". ucap Odin.

"para Spirit... Kami percayakan dunia ini pada kalian.. Saatnya kami beristirahat dan membiarkan para kaum muda mengurusi ini semua". ucap Zeus.

"Naruto.. Jangan biarkan seseorang pun meninggalkan dunia ini dengan cepat, lindungilah mereka Naruto". ucap Thannatos.

"Naruto ingatlah ini baik-baik, sosok yang paling jenius, sosok yang paling netral.. Biasanya adalah sosok yang harus kau waspadai". ucap Susano'o.

Sring! Sinar matahari bertambah terang setiap detiknya, dan semakin menghapuskan keberadaan para Dewa yang hanya tinggal roh yang bisa menghilang kapan saja.

"Naruto, tetaplah hangatkan hati mereka.. Meskipun satu lenganmu telah hilang". Naruto hanya diam sambil melirik lengan kirinya telah putus, tapi sudah tidak ada pendarahan sama sekali.

"soal itu jangan khawatir, mungkin Ratastoskr bisa menyambungnya lagi dengan lengan yang dibuat dari sel-mu atau kau ingin memakai tangan robot? ". ucap Shido.

"terimakasih, tapi aku tidak akan menyambungnya lagi.. Biarkan luka ini selalu menjadi pengingat akan kecerobohanku yang hampir menghancurkan dunia hari ini dan... Bahwa aku pernah berteman dengan kalian". ucap Naruto kemudian kembali menatap para Dewa.

"Naruto... Kau memang pemuda yang sangat baik, ingatlah.. Jangan pernah menyembunyikan perasaanmu... Kalau sakit ungkapkan saja... Kalau bahagia keluarkan saja... Jujurlah pada dirimu sendiri". ucap Odin.

"Teman terbaikku, kupercayakan perwujudanku padamu, teruslah menjadi penjaga ikatan kalian, tempat kembali para Spirit, layaknya matahari yang menjaga kebersamaan planet-planet di sekitarnya". ucap Ra mengacungkan tiga jarinya.

"Naruto.. Jika memang telah datang, biarlah kematian mengambil alih, meski kau punya kekuatan untuk melepas batas kehidupan dan kematian, tapi kau harus tahu bahwa beberapa hal hanya bisa dimengerti dengan kematian, biarlah takdir melaksanakan tugasnya". ucap Thannatos mendongakkan kepalanya.

"Ingat ini baik-baik, seseorang kuat bukan dari fisiknya, ukurlah kekuatan seseorang melalui jiwanya, tanpa tubuh jiwa takkan mati tapi tanpa jiwa, tubuh akan hancur, jadi... Jadilah pemuda dengan jiwa yang kuat melebihi apapun". ucap Zeus bersidekap.

"Naruto.. Mulai sekarang perjuanganmu akan semakin berat, teruslah maju mengejar impianmu, menyerah bukanlah kata yang kau kenal, jangan jadi orang yang selalu berharap, tapi jadilah orang yang selalu membuat harapan bagi orang di sekitarnya". ucap Susano'o.

"Kalian juga! Jangan lupakan kami, aku harap kita bisa terus berteman meski kita beda alam, selama Naruto ada.. Ikatan kita akan terus terhubung melampaui dimensi ruang dan waktu, Naruto-lah simbol persahabatan kita! ". ucap Shido, meski sudah berusaha ditahan, tapi setetes air mata meluncur turun.

"y-ya! Be-benar! T-terimkasih sudah menemani Naruto-san dan kami selama ini... Benar-benar.. Terimakasih! ". ucap Yoshino meneteskan air mata.

"Terimakasih sudah membantu kami selama ini! Kalian tidak akan pernah kulupakan! Jadi jangan lupakan kami juga! ". teriak Kaguya.

"Tidak peduli, mau Odin, Zeus, Thannatos, Susano'o, atau Ra, kalian tetaplah Naruto bagi kami, dengan melihat Naruto, kami akan terus mengingat kalian". ucap tambah Yuzuru.

"Terimakasih banyak dan selamat jalan, kalian telah berbuat banyak untuk kami para umat manusia, yang bahkan tidak bisa kami balas, aku mengucapkannya mewakili umat manusia diluar sana, istirahatlah dengan tenang dan bahagia, dan masih bisa, awasi kami dan tegur kami... Selamanya... Kalian... Akan selalu.. Hiks... Menjadi teman terbaikku.. Hiks". teriak Naruto.

Kelima Dewa menatap haru lalu berbalik menghadap matahari, mereka merentangkan tangan kanan mereka ke samping dan mengacungkan jempol mereka. Tidak ada lagi air mata yang bisa mereka keluarkan.

Sring! "Sayonara... Naruto! Semuanya, kalian akan selalu berada dekat dengan hati kami.. Dan kami akan terus hidup di hati kalian.. ! ". ucap kelima Dewa kompak dan saat itulah cahaya matahari terasa sangat terang sehingga memaksa semua yang ada disana untuk menutup matanya.

Dan saat Shido dkk membuka matanya, tidak ada apapun di tempat para Dewa tadinya berdiri, hanya angin yang berhembus ringan menerpa kulit mereka, sosok yang pening bagi mereka telah pergi meninggalkan dunia ini.

Naruto terus memejamkan matanya, air mata deras menetes dari dalam kelopaknya. "Naruto... ". ucap Shido menepuk bahu Naruto pelan dan memegangi Naruto untuk menjaganya agar tidak ambruk kapan saja, air mata juga menetes dari kelopaknya

"aku tahu.. Aku tidak akan terlalu bersedih, dan setelah kejadian hari ini aku kembali menemukan sesuatu yang hilang dari dalam jiwa terdalamku". ucap Naruto. "a-apa itu? ". tanya Shido.

Naruto kemudian tiba-tiba berbalik dan menatap semua Spirit yang ada disana. "Shido, Yoshino, Tohka, Yuzuru, Kaguya dan semuanya... Selama ini aku berusaha menjaga senyum kalian.. Aku hanya ingin kalian melupakan rasa kesepian yang kalian rasakan.. Dan menjalani hidup ini dengan bahagia.. ". ucap Naruto.

"tapi aku melupakan hal yang penting, aku tidak mungkin bisa melakukan itu kalau juga tidak bisa membuat diriku sendiri tersenyum, aku masih terbayang kesendirianku dimasa lalu dan melupakan kebersamaan bersama kalian, dan sekarang aku menyadari hal itu". ucap Naruto.

"hiks.. hiks.. hiks.. Aku.. Aku ingin membuat Naruto-san bahagia! ". ucap Yoshino menangis dan memeluk pinggang Naruto. "ya! ya! Kami akan membuatmu bahagia dan kau bisa membuat kami bahagia! ". ucap Yoshinon riang.

"kau lihat? Kau tidak perlu berjuang sendirian untuk menjaga kebahagian kami.. Kita bisa bekerja sama.. Saling membahagiakan satu sama lain". ucap Shido. "kau benar". ucap Naruto.

Naruto kembali berbalik menatap seonggok tangan kirinya yang berlumuran darah tak jauh darinya. "huft". Naruto menghela nafas pelan. Ia memejamkan matanya.

Sring! "Amaterasu! ". ucap Naruto dengan kedua matanya yang bertransformasi menjadi Mangekyou. Bwosh! Api hitam itu membakar tangan itu tadi dan melenyapkannya.

Tap! Tap! Tap! Miku yang sedari tadi diam kini berjalan mendekati Naruto. "ukh, meski aku sudah cukup terbiasa.. Penggunaan Sharingan berlebihan terlalu membebani tubuhku". ucap Naruto.

"Terimakasih". ucap Miku dibelakang Naruto. "uh?! Untuk apa". kaget Naruto segera berbalik. "kau membuatku menyadari hal yang sangat penting dan membebaskanku dari bayanganku.. Kau.. Fansku yang terbaik". ucap Miku.

"jangan khawatir.. Selama aku masih hidup... Tidak akan kubiarkan seorangpun Spirit yang kutemui kubiarkan terjebak dalam bayangan dan kesendirian .. Itu janji yang kuucapkan saat aku memahami semua ini". ucap Naruto.

"k-kalau begitu.. Tolong tepati janjimu". ucap Miku. "tentu saja, sebagai seorang Shinobi.. Menarik kata-kataku bukanlah hal yang diajarkan keluargaku, itu tidak ada dalam hidupku". ucap Naruto.

"Shido... Kalian semua.. Berjanjilah padaku, jangan katakan apapun tentang peristiwa hari ini.. Termasuk pada Kotori dan seluruh kru Fraxinus, aku mohon pada kalian". ucap Naruto.

"mhh! Janji! ". teriak Yoshinon. Semua orang disana mengangguk pelan.

Sring! Jleb! Mereka semua dikejutkan dengan sebuah benda bercahaya yang tiba-tiba muncul dan mendarat di belakang Naruto. "apa itu?! ". gumam Yuzuru terkejut.

Naruto berbalik dan membulatkan matanya saat sebuah tombak emas menancap di hadapannya dan diatasnya ada sebuah benda mirip bola kristal berwarna orange.

Dari tombak itu, huruf-huruf nordik kuno bermunculan dalam waktu singkat dan kembali menghilang, meski begitu Naruto mengerti maksudnya.

Clang! Ia mencabut tombak itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi dengan tangan kanannya. "Aku pasti... Memenuhi permintaan kalian... Meskipun kalian sudah pergi.. Aku tidak akan melupakan kalian! ". ucap Naruto.

Naruto menyunggingkan senyumnya kemudian badannya mulai melemas. Pyar! Tombak emas tadi perlahan lenyap dan tubuh Naruto kemudian jatuh pingsan.

"Naruto! ". teriak semua orang disana.

Naruto Mindscape

Naruto terbangun di alam bawah sadarnya, seperti biasa, hanya ada kegelapan tanpa akhir disana.

Naruto memejamkan matanya sejenak. Tidak ada lagi para Dewa yang akan menemaninya di tempat ini.

Naruto kemudian melangkah pelan menuju kearah tiga pilar cahaya dengan lingkaran berbagai warna itu. Ia tidak berhenti untuk melihatnya, namun terus berjalan di bawah sela pilar itu.

Di belakang pilar itu, adalah tempat alam bawah sadar Naruto yang paling dalam, tidak akan ada yang bisa memasukinya kecuali Naruto mengijinkannya.

Disana Gungrir menancap di tengah-tengah kegelapan pekat. Pak! Naruto dikejutkan dengan seekor burung emas bercahaya yang tiba-tiba hinggap di bahunya, itu adalah Ra versi mini.

"kau sudah menetas yah? Sayangnya pemilik aslimu sudah tidak ada di dunia ini". ucap Naruto mengelus pelan surai halus di leher dan kepala burung phoenix setengah naga itu.

"dan yang digunakan Ra tadi... Hanya perwujudan kekuatan Chaos yah? ". lanjutnya pelan.

"sepertinya aku punya teman baru disini". ucap Naruto menatap burung kecil itu. Groaaa! "tentu saja.. Dan juga kau". ucap Naruto menolehkan kepalanya keatas.

Disana seekor Naga hitam yang sangat besar tengah terbang berputar-putar tanpa tujuan. "kemarilah! Walau kau sekumpulan kegelapan, aku bisa memahami kegelapanmu itu.. Masa lalu kelam para Dewa, aku mengerti semuanya! Jadi bagaimana kalau kita berteman? ". teriak Naruto.

Groaa! Seolah menjawab peryaataan Naruto, Naga hitam itu meraung keras, bukan raungan amarah maupun kesedihan, tapi itu sesuatu yang lain.

Zuuz! Naga itu melesat ke arah Naruto kemudian mendarat di depannya dan menundukkann kepala kepada Naruto.

"aku paham, yang kegelapan hanyalah tubuh dan kekuatanmu, bukan jiwamu". ucap Naruto menyentuh moncong makhluk raksasa itu.

"maukah kau meminjamkan kekuatanmu padaku? Kita bisa mengubah dan menggunakan Chaos Dyson untuk hal yang lebih baik ketimbang menghancurkan dunia ini". ucap Naruto.

Naga itu hanya meraung singkat. "terimakasih, meski dunia ini sudah agak kacau, tapi aku percaya dunia ini masih memiliki masa depan". ucap Naruto melepaskan tangannya.

Groaa! Naga itu meraung dan kembali melesat keatas dan berputar-putar lagi disana.

"baiklah, aku rasa aku sudah cukup menyapa teman-teman baruku". ucap Naruto. Ia berbalik dan berjalan melewati tiga pilar cahaya itu dan kembali ke alam bawah sadar atasnya.

"Narutoo! Hoi! Bangunlah! ". "Naruto-san! K-kumohon! Buka matamu! ". Naruto mendengar suara teman-temannya memanggilnya. "yah, aku ingat kalau sesuatu dari luar tidak akan bisa menjangkau alam bawah sadar terdalamku". ucap Naruto.

"baiklah, aku datang". ucap Naruto memejamkan matanya. Presh! Tubuhnya berubah menjadi serpihan cahaya dan meninggalkan alam kegelapan abadi itu. ,

Hal yang pertama dilihat Naruto adalah langit-langit berwarna biru. "ruang perawatan Fraxinus yah? ". gumam Naruto. "kau bangun.. Naruto syukurlah! ". ucap Shido memegang tangan kiri Naruto.

Tunggu, tangan kiri?! Naruto terkejut dan langsung bangkit duduk dan melihat tangan kirinya sudah utuh seperti sedia kala.

"apa yang terjadi?! ". ucap Naruto terkejut. "jangan khawatir, kami menghargai keputusanmu, tapi demi kebaikanmu, kami tetap memasang tangan robot padamu, kau bisa melepaskannya kapan saja". ucap Reine tiba-tiba saja muncul.

"begitu yah? Terimakasih". ucap Naruto. "Naruto-san, syukurlah! A-aku sangat khawatir padamu! ". ucap Yoshino menagis sambil menggenggam tangan kanan Naruto.

"melawan para Dewa yang lepas kendali akibat dendam mereka benar-benar meninggalkan luka yang parah padamu". lanjut Reine menepuk pelan dahinya.

Naruto tersentak kemudian menatap Shido. Sementara yang ditatap hanya mengeluarkan senyuman aneh.

"jangan khawatir, aku baik-baik saja". ucap Naruto menepuk surai biru itu. "bukan hanya itu saja, lihat siapa yang mengikutimu kesini". ucap Reine.

Tiba-tiba sesosok gadis yang sangat dikenali Naruto masuk ke ruangan itu dengan tergesa-gesa. "Darling! ". ucap gadis itu.

"M-miku?! ". kaget Naruto. "yah, Miku memaksa ikut ke Fraxinus, meski kami harus meletakkannya di ruang karantina Spirit sembari menunggu kau sadar". ucap Reine.

"huft, ini proses penting, ayo Yoshino! ". ucap Shido menarik tangan Yoshino. "wah! wah! Ayo b-". Yoshino dengan cepat menutup mulut Yoshinon yang hendak berbicara.

Akhirnya mereka meninggalkan Naruto dan Miku di dalam ruang perawatan itu berdua. "ne, Yoshino memang menggemaskan bukan, aku benar-benar ingin memilikinya". ucap Miku.

"huft, apa kau kesini hanya untuk mengucapkan itu padaku? ". ucap Naruto. "tentu tidak, aku tidak akan pernah bisa memiliki Yoshino karena ia adalah milikmu". ucap Miku.

"huft, Yoshino itu bukan barang, tidak ada yang memilikinya selain dirinya sendiri". ucap Naruto. "uf, kau memang benar-benar pria yang baik, kau berbeda dengan semua pria yang pernah kutemui.

"ini membuatku semakin tak ragu". ucap Miku. "tidak ragu, untuk apa? ". tanya Naruto penasaran. Miku tidak menjawab melainkan melompat duduk di samping Naruto.

"melakukan ini". ucap Miku dengan cepat mencium Naruto tepat di bibirnya. Sementar Naruto hanya mematung merasakan benda lembut menyentuh bibirnya.

Beberapa detik kemudian Miku melepaskan bibirnya dari Naruto. "i-itu t-tadi! ". ucap Naruto terkejut. "aku mengetahuinya dari Shido dan yang lainnya". ucap Miku dengan wajah memerah.

Deg! Pyar! Naruto tersentak sesaat merasakan pecahnya salah satu lingkaran di dalam dirinya dan itu pasti Gabriel. "Groaaaa! ". Ia juga mendengar suara raungan Naga itu menyambut datangnya sebagian kekuatan roh Miku ke dalam alam bawah sadar terdalamnya.

Sring! Tubuh Miku mulai bersinar terang. "e-eh, apa yang terjadi padaku?!". kaget Miku. "sepertinya mereka tidak memberitahumu apa yang terjadi setelahnya yah? ". ucap Naruto dengan keringat dingin mengalir.

"Kyaaaahhhh! ". Dan teriakan Miku memenuhi seluruh Fraxinus sekarang. "i-ini, ini juga terjadi pada Tohka dan yang lainnya, j-jangan salah paham". ucap Naruto menyodokan selimutnya yang telah ia lepas.

Tap! Tapi bukannya menerima selimut itu.. Miku malah memeluk Naruto erat. "u-ugh, a-apa yang ku lakukan? ". kaget Naruto gugup, ia meraskan sepasang benda yang lembut menekan dadanya.

"ara, kau mesum juga, Darling, tapi itu tidak apa-apa, mulai sekarang aku akan bernyanyi untukmu, membuatmu ceria dengan lagu-laguku yang baru". ucap Miku.

"Miku... Yah, aku menantikan lebih banyak lagu-lagu indah darimu, aku akan terus mendengarkannya". ucap Naruto. "Terima... Kasih...".

Beberapa hari setelah kejadian itu...

"Hoaammzz! ". leguh Naruto. Ia bangun dan melirik jam dinding, disana sudah pukul 9, cukup siang bagi orang jepang seperti dirinya untuk bangun tidur.

Ia bangkit dan berdiri diatas ranjang. Seperti biasa, keadaan kamar Naruto selalu berantakan, konsol game berhamburan, beberapa perlengkapan playstationnya masih belum ia bereskan, jangan lupa beberapa buku komik yang juga tidak tertata ditempatnya.

Ruangan itu sebenarnya cukup luas untuk ditempati sendirian, hanya saja barang-barang Naruto yang terus bertambahlah yang membuat ruangan itu kelihatan lebih sempit.

Ia mengambil handuknya dan pergi kearah kalender yang tergantung di salah satu dinding itu. "haa, besok aku harus ke Akhibara lagi, beberapa manga baru akan launching besok". gumam Naruto.

"yah, sebaiknya aku segera mandi, aku ada jadwal pertempuran antar guild hari ini". ucap Naruto sambil menutup pintunya dan berjalan turun kearah kamar mandi.

Tap! Tap! Tap! "ohayou Naruto-san! ". ucap Yoshino. "kau bangunnya siang sekali, Naruto-kun! ". tambah Yoshinon. "haha, aku begadang semalaman, dah Yoshino, Yoshinon! ". ucap Naruto melenggang masuk ke kamar mandi.

Byur! "ck, sialan, pembersih wajahku sudah habis, sepertinya aku juga harus ke mini market hari ini". gumamnya mendecak dan tetap meneruskan mandinya.

Boom! Tiba-tiba ia mendengar suara ledakan. "haah, itu pasti Tohka lagi..". ucap Naruto. Beberapa menit kemudian ia menyelesaikan mandinya dan buru-buru pergi ke kamarnya.

"yosh! ". gumam Naruto selesai berpakaian. Ia mengambil dompetnya dan pergi ke bawah. "Naruto-san! ". ucap Yoshino tiba-tiba. "ada apa? ". tanya Naruto menghentikan langkahnya. "boleh aku titip susu kotak padamu? ". tanya Yoshino.

"hm, serahkan padaku, akan kubelikan untuk persediaan satu bulan". ucap Naruto mengacungkan jempolnya. "terimakasih! ". ucap Yoshino senang.

Klek! Ia membuka pintu garasi otomatis itu dan masuk ke dalam mobilnya. "Hoi! Naruto! ". teriak Kaguya tiba-tiba datang dengan terengah-engah. "ada apa Kaguya? ". tanya Naruto bersiap memutar kuncinya.

"kau mau belanja bukan? Tolong belikan aku roti melon, dan Yuzuru bilang ia ingin beberapa jeruk!". ucap Kaguya. "baiklah, jangan khawatir". ucap Naruto kemudian memacu mobilnya keluar garasi dan melaju di jalanan, setelah itu pintu garasi tertutup.

"haah, hari-hari damaiku bisa kembali juga.. Liburan.. Bangun siang.. Main Game... Berbelanja.. Haah senangnya! ". ucap Naruto. Ckiit! Ia mengerem mobilnya saat telah sampai di sebuah super market.

"karena aku mendapat banyak pesanan hari ini.. Jadi aku ke super market saja". ucap Naruto. Ia masuk kesana dan mengambil keranjang dorong dan mulai memilih.

"haah, aku beli satu paket saja". gumam Naruto mengangkat sebuah kardus berukuran sedang. "nah, persediaan susu untuk Yoshino selama sebulan sudah masuk, pembersih wajah juga.. ". gumam Naruto berfikir.

"Darliing! ". sebuah suara yang begitu dikenal Naruto memaksa pemuda itu untuk menoleh kebelakang, disana ada Miku yang memakai pakaian serba tertutup dan sebuah topi yang cukup lebar.

"Miku? Sedang apa kau disini? ". tanya Naruto. "aku sedang membeli beberapa topi dan baju, Darling, kau sedang apa disini? ". tanya Miku balik.

"Spirits Orders". ucap Naruto asal. "Spirits Orders?". ucap Miku memiringkan kepalanya bingung. "pesanan Yoshino, Kaguya, dan Yuzuru, aku harus membelikan mereka beberapa hal hari ini". ucap Naruto.

Mereka kemudian berjalan bersama dengan Naruto yang mendorong keranjang belanjanya yang hampir penuh. Deg! Naruto berhenti di salah satu rak yang isinya hampir habis.

"ada apa Darling? ". tanya Miku. "inikan! Tidak mungkin! Seharusnya tanggal peluncurannya! ". ucap Naruto terkejut. Ia kemudian dengan cepat membuka layar smartphonenya dan mengetik sebuah alamat Web.

Disana ada tulisan besar. "Dapatkan! Ramen edisi terbatas! Hanya dijual sepuluh ribu buah di Jepang! Dapatkan Ramen itu besok! Dengan rasa yang sangat langka! ".

"Ini iklan kemarin! Berarti! Hari ini memang seharusnya sudah keluar! ". ucap Naruto. Ia lalu kembali melihat di rak itu dan menemukan hanya ada tujuh buah Cup Ramen ukuran besar yang tersisa.

Tanpa ragu-ragu, Naruto menggasak habis seluruh ramen edisi terbatas itu dan memasukkannya ke dalam daftar belanjanya, ia kemudian memasang wajah tertekuk.

"ada apa Darling? ". lagi-lagi Miku bertanya dengan heran. "aku ketinggalan... Seharusnya aku membeli semua yang ada di rak ini waktu masih penuh, untuk persediaan satu bulan.. Tapi hanya tinggal tujuh". ucap Naruto dengan wajah kesal.

"haha, Darling kesal hanya gara-gara kehabisan Ramen? ". ucap Miku. Sring! Naruto tiba-tiba menatap Miku dengan tajam. "Ramen adalah makanan para Dewa, memakannya sangat penting untuk menjaga bakat dan kemampuanku!". ucap Naruto.

"bakat dan kemampuan?". bingung Miku. "aahh! Sudahlah, aku mau pulang dulu! ". ucap Naruto mendorong keranjangnya ke arah kasir. Tapi tangannya ditahan oleh Miku.

"ada apa Miku? ". tanya Naruto. "aku ikut kerumah Spirit denganmu, sekali-kali berkunjung". ucap Miku. "Baiklah, tapi bicarakan ini pada staff-mu dulu". ucap Naruto.

"tenang saja! ". ucap Miku mengambil smartphonenya dan menelpon seseorang, baiklah sementara kau menelpon staff-mu, aku akan membawa barang-barang ini ke kasir". ucap Naruto.

"baiklah, semuanya 15800 ¥". ucap kasir itu. Naruto merogoh dompetnya dan mengeluarkan kartu kreditnya. Slash! Kartu kredit selesai digesekkan dan Naruto mengangkat semua barang belanjaan itu tanpa halangan dan membuat semua orang yang melihatnya terperangah.

Bruk! Naruto memasukkan semuanya kedalam bagasinya dan menguncinya rapat. Ia masuk ke mobilnya, disampingnya sudah ada Miku yang sedari tadi memasang senyuman.

"huft, daripada tersenyum seperti itu, akan lebih baik kalau kau pasang sabuk pengaman". ucap Naruto. "sebenarnya aku tidak terbiasa memasang sabuk pengaman, jadi aku begini saja". ucap Miku.

"aku sudah memperingatkanmu, jangan tanya kalau hal aneh menimpamu nanti". ucap Naruto. "apa? Bukankah hari ini hari libur nasional? Jalanan sedang sepi bukan? ". ucap Miku.

"hehe, justru karena itu... Hari ini polisi lalu lintas sedang libur juga, hari dimana para pembalap fantasi sepertiku bisa mengeluarkan semuanya! ". dengan itu Naruto memutar mobilnya, masuk ke jalan raya yang agak sepi, karena orang-orang Jepang lebih suka jalan kaki.

Dengan sekali hentak, Naruto melajukan mobil itu dengan kecepatan tinggi. "waahh! Hentikan iniii.. Darliiing! ". teriak Miku histeris. "mwahaha! Bukankah sudah kubilang? Pakai sabuk pengamanmu, sekarang rasakan akibat karena sudah membantah peringatan Ghost Rider! ". ucap Naruto tertawa mengerikan.

Brum! Naruto memasukkan mobilnya ke garasi yang otomatis terbuka. "hoi.. Miku.. Sadarlah! ". ucap Naruto menepuk pelan pipi gadis itu. "u-eh? ". gumam Miku tersadar. Matanya yang tadinya memutih, kini kembali mendapatkan cahayanya.

"kita sampai! ". ucapnya membuka pintu mobil dan turun dari sana. Naruto juga turun lalu membuka bagian belakang bagasi dan mengeluarkan semua belanjaannya.

Satu kardus susu untuk satu bulan, beberapa buah jeruk untuk Yuzuru, dan dua buah roti melon untuk Kaguya. Dan jangan lupakan, tujuh buah cup ramen edisi terbatas.

"hump! ". ucap Naruto mengangkat kardus itu dengan barang-barang kecil lainnya diatasnya. "ayo! ". ucapnya menaiki tangga setelah pintu garasi tertutup sempurna.

"Aku dibelakangmu, Darling!". ucap Miku berjalan menyusul Naruto.

Buk! Naruto meletakkan semuanya diatas meja."fiuhh! ". ucapnya mengusap keringatnya. Tap! Tap! "Naruto-san! Miku-san! ". ucap Yoshino yang baru saja turun dari ruangannya, ia membawa sebuah gelas dengan air panas.

"ouch! ". rintihnya meletakkan gelas itu distas meja, sepertinya ia berjuang demi membawa gelas itu ke atas meja.

"huh, kau mengambilnya dari tempat Shido? Apa dispensernya rusak? ". gumam Naruto. "uhm, tadi waktu Yoshino mau mengambil air panas, yang keluar malah air dingin! ". ucap Yoshinon.

"haah, sepertinya aku harus membawanya ke tukang service nanti". gumam Naruto. Srak! Dengan wajah penasaran, Miku membuka sebuah laci didepannya, dan disana ada sebuah snack.

"kebetulan, aku sedikit lapar". gumannya mengambil bungkus makanan ringan itu dan membukanya lalu memakan isinya.

"huh, sialan, itu snack edisi special yang kusembunyikan tiga hari lalu". gumam Naruto sangat lirih. Ia lalu melirik gelas yang berisi air hangat itu. "daripada gelas kaca itu, akan kubelikan cangkir keramik saja agar Yoshino tidak kepanasan". gumam Naruto.

Mengerti, Naruto membuka kardus itu dan mengeluarkan sebuah kardus kecil lainnya. Ia menggunting sebuah bungkusan yang ada di dalam kardus kecil itu dan menuangkan isinya ke gelas Yoshino.

Air itu berubah warna menjadi putih kental setelah Naruto menuangkan serbuk-serbuk putih itu dan mengaduknya. "terimakasih!". ucap Yoshino meniup-niup segelas susu itu sebelum meminumnya.

"Yoshino, Miku! Aku akan ke tempat Shido sebentar, aku tinggal kalian sebentar disini oke! ". ucap Naruto melenggang sambil membawa satu cup ramen ukuran besarnya.

Tap! Tap! "Naruto! Mana roti melonku? ". tanya Kaguya yang berpapasan dengan Naruto. "ada di dapur kita, disana juga ada Yoshino dan Miku". ucap Naruto kembali meneruskan langkahnya. "begitu? Baiklah! ". ucap Kaguya melesat kearah dapur itu.

Tap! Tap! Cklek! Ia membuka pintu yang menghubungkannya dengan rumah Shido. Hal yang pertama ia saksikan adalah seorang gadis berambut merah yang tengah tiduran sambil melihat televisi.

"Kotori! Kau tidak pergi ke Fraxinus hari ini? ". tanya Naruto. "tidak, aku libur hari ini.. Aku ingin menghabiskan waktuku di rumah hari ini". balas Kotori.

"uhh, sepertinya yang ini sulit sekali". ucap Tohka juga tiduran di sofa sambil membaca sebuah buku. Naruto memincingkan matanya melihat judul buku itu.

"Hahaha! Kau tidak akan bisa menguasai pelajaran disana dalam waktu dekat Tohka! Aku saja hampir menyerah! ". ucap Naruto menunjuk buku yang didominasi warna kuning dengan gambar berupa angka-angka dan alat hitung itu. "Berisiik! ". balas Tohka kesal.

"yo, Naruto, kau sudah kembali? ". ucap Shido. Sementara Naruto hanya melempar tatapan tajam pada Shido. "sialan kau tidak membangunkanku waktu sarapan tadi". ucap Naruto kesal sambil mengalirkan air panas ke Cup ramennya.

Deg! "i-itukan! ". kaget Shido melihat Cup ramen Naruto. "hehe! Ini ramen edisi terbatas, dan sudah habis di kota ini! ". ucap Naruto menyeringai.

"h-habis?! Jangan bercanda! Aku sudah mengincarnya jauh-jauh hari sebelum ini! ". ucap Shido mengguncang-guncangkan bahu Naruto.

"oii! Berhenti! Aku juga hampir kehabisan! Dan aku hanya membeli tujuh-ops! ". ucap Naruto keceplosan.

"heerghh! ". tiba-tiba ekspresi Shido berubah menjadi menakutkan. "aku terjangkit virus predator R1, jika kau tidak memberikan salah satu ramen itu padaku... Aku akan menjadi liar dan bisa merusakkan semua game-game-mu". ucap Shido.

"haah, dasar, tipuan yang kau gunakan pada Kotori tidak akan mempan padaku, tapi wajahmu cukup mengerikan juga... Baiklah, ambil satu di dapur kami". ucap Naruto duduk di salah satu kursi.

Wush! Dengan secepat angin, Shido telah menghilang dari tempatnya. Tuk! Naruto mengaduk ramennya yang telah melunak. "kedamaian memang sangat mahal... Berkat pengorbanan kalian.. Kehidupanku jadi lebih baik". gumam Naruto menerawang keatas.

Beberapa menit kemudian, Naruto selesai memakan ramennya, ia berjalan dan kembali berpapasan dengan Shido yang memegang sebuah Cup Ramen dengan wajah zombienya.

Cklek! Naruto masuk ke ruang tengah apartment spirit itu. "Hoi! Kalian semua! Aku ada di kamarku jika kalian mencariku! ". teriak Naruto ke arah dapur.

Ia kemudian melangkah pelan menaiki tangga ke kamarnya yang berada di bagian teratas apartment ini. Cklek! Ia membuka pintu coklatnya lalu menekan sebuah tombol disana.

Selesai itu, Naruto segera merapikan seluruh konsole-konsole dan selimutnya yang berantakan, dan hanya butuh waktu sepuluh menit.

Selesai itu, Naruto pergi kearah sudut ruangannya dimana sebuah komputer canggih lengkap dengan bilik berwarna putih.

Ia duduk disana dan menyalakan komputer itu lalu memasang Headset ke telinganya. Krak! Krak! Naruto meregangkan jari-jarinya.

Ia dengan cepat menekan tombol ON pada Wi-Fi yang ada di samping komputer itu. Naruto membuka aplikasi telepon di komputernya. "Yosh, Tonomachi! Pindahlah ke server 03, ke room 241". ucap Naruto membuka jedela game FPS-nya.

"haah, kita kekurangan satu orang tahu". ucap sebuah suara disana. "mau bagaimana lagi? Anggota kita yang satunya ada urusan penting". ucap Naruto membayangkan Ra dengan wajah maniaknya.

"terus bagaimana? Tanpa seorang lagi kita tidak bisa mengikuti turnamen". ucap Tonomachi melalui Headset Naruto. "tenanglah, akan kucari orang yang berkompeten, paling tidak ia bisa bertindak sebagai support dengan Rocket Launcher". balas Naruto.

"kuserahkan padamu, jangan sampai kau cari orang yang malah menembakkan Rocket Launcher kearah teamnya sendiri". keluh Tonomachi. "hahaha, aku tahu, aku tidak akan mencari orang sepertinya lagi". ucap Naruto mengingat Thannatos kerap tidak memperhitungkan radius ledakan saat menembak dengan Rocket Launher kearah musuh didekat Naruto, Ra, dan Tonomachi dulu.

"haah, kalo begitu lanjutkan rekor kita". ucap Tonomachi terdengar bersemangat. "baiklah, aku akan maju dengan Predator, kau jaga saja base dari zombie-zombie yang mungkin kulewatkan". ucap Naruto.

"terserah, tapi minggirlah jika aku akan menggunakan UAV control boxnya, lawan kita Phobos, hati-hati terhadap shockwavenya yang bisa menjatuhkan senjatamu". ucap Tonomachi. "aku tahu". ucap Naruto mengklik tombol start.

"baiklah, kita bantai zombie-zombie itu! ". ucap mereka berdua bersamaan saat game telah dimulai, dan setelah itu suara teriakan dan rentetan tembakan terdengar di telinga Naruto.

Beberapa menit kemudian. .

Brak! "Darliing! Kau sedang apa dikamar? ". ucap Miku membuka paksa pintu Naruto.

"Hoi Tonomachi! Amunisiku habis! Gantian aku yang mengontrol UAV dan kau yang tahan Phobos! ". Miku memincingkan matanya saat mendengar suara Naruto tengah panik.

"juga, bersihkan jalanku! Nyawaku tinggal 20%! ". ucap Naruto lagi dengan wajah tegang. "ne, Darling? Apa yang kau lakukan? ". tanya Miku mendekat kearah Naruto yang masih bergumam sendiri.

"yah, bagus! Kuserahkan monster itu padamu! Aku akan bersihkan jalanmu sembari mengisi amunisi dan memulihkan nyawaku". gumam Naruto. "sialan, kau tidak bilang kalau Phobos ada di dekat base! ". kesal Tonomachi.

"alihkan dia! ". perintah Naruto. Dalam komputernya, ia menggerakkan sebuah pesawat, dibawahnya ada sebuah makhluk menyeramkan tengah mengejar karakter Tonomachi, jangan lupa beberapa zombie kecil.

"untung sudah kupasang turret otomatis dan flamethrower di sekitar base". gumam Naruto berusaha membidik boss dalam game itu.

"Darling! Darliing! ". tanpa Naruto sadari, Miku dengan wajah kesal terus berusaha memanggil Naruto sedari tadi. "huh pantas saja, itukan headset kualitas terbaik". guman Miku mengamati merek headset yang dipakai Naruto.

Dengan pipi menggembung, ia mengangkat sebelah headset Naruto dan berteriak. "Darliingg! ". yang sukses membuat Naruto terkejut dan menggeser kasar mousenya.

Wush! Duarr! Sementara itu, terjadi ledakan di dalam game. "Temee! Jarak tembakanmu itu! Dekat sekali dengan posisiku! Pikirkan jangkauannya! Sekarang nyawaku tinggal 30%, aku kembali ke base! ". ucap Tonomachi.

"M-miku?! ". kaget Naruto. "huft, akhirnya kau mendengarkanku, aku sudah berusaha memanggilmu dari tadi Darling! ". ucap Miku kesal.

"hoi! Apa yang kau lakukan, cepat bersihkan jalanku dan habisi Phobos! Nyawanya tinggal 40%!". sementara suara kesal Tonomachi berdengung melalui headsetnya. .

"Miku, tunggu sebentar oke? Akan kuselesaikan ini dalam lima menit". ucap Naruto pelan kembali berbalik dan meregangkan jarinya.

"Tonomachi, maaf latihan kita siang ini hanya satu battle saja, aku harus mengurusi sesuatu". ucap Naruto. "baiklah, tapi menangkan yang ini, aku hampir naik level, hanya butuh sedikit Exp lagi". balas Tonomachi.

Naruto memasang wajah serius, ia membuka sebuah jendela penyimpanan dalam game itu dan menekan sebuah item khusus. "XT-300 konfirmasi pemakaian : Pakai! ". Naruto memencet tombol pakai.

Seketika layar komputernya menghitam dan kini karakter Naruto tengah menaiki sebuah robot raksasa berwarna hitam. "hee! Kau punya XT-300?! Kenapa tidak kau gunakan dari tadi? ". ucap Tonomachi.

"bisa-bisa tidak seru nanti". balas Naruto menembakkan beberapa misil dan amunisi kearah boss game itu. Lima menit kemudian, tulisan 'Victory' menghiasi papan itu. "haah, XT-300 seharga 1000 ¥, damagenya memang besar". gumam Naruto.

"baiklah, aku ada di server 01 jika kau berubah pikiran". ucap Tonomachi. "huft". Naruto menutup game dan teleponnya dan melepas headsetnya.

"ada apa Miku? ". tanya Naruto pada satu-satunya gadis di kamarnya saat ini. "huft, seperti kata Shido, kau memang gamer kelas berat". gumam Miku menatap beberapa keyboard dan mouse rusak kardus bawah meja komputer itu.

"aku kesini ingin melihat-lihat saja, ternyata kamar Darling, cukup besar juga". ucap Miku mengamati sekelilingnya. "yah, terimakasih". ucap Naruto berdiri.

"jadi, Darling, bisa aku meminta beberapa CD laguku yang kau simpan dulu? Aku membutuhkannya untuk inpirasi membuat lagu baru". ucap Miku.

"hm, baiklah". ucap Naruto menuju sebuah lemari sedang disana. Ia membuka kuncinya lalu mengambil sebuah kotak berwarna emas berukuran sedang.

Klak! Naruto memutar kunci yang ada di kotak itu dan menampakkan sekitar sepuluh buah CD yang ada disana, semuanya bergambar Miku, jangan lupa juga beberapa gulungan poster.

"Waah, Darling! Dengan semua ini aku bisa membangkitkan lagu-laguku, dan merubahnya menjadi jauh lebih baik lagi! ". ucap Miku senang sembari menari-nari kecil.

Naruto mundur dan menggeser kursinya lalu duduk. Pendengarannya yang tajam juga mendengar canda tawa dari Yoshino dan Yamai bersaudara dari dapur.

Tanpa sadar, bibirnya membentuk senyuman tipis. "Jadi inilah yang dinamakan keluarga? Aku benar-benar bersyukur berada dalam posisi ini, Susano'o... Mungkin benar jalanku setelah ini akan jauh lebih keras". gumam Naruto mengingat masih ada DEM dan AST.

"Lalu mereka... Sebenarnya dipihak mana kau, Nii-san..? ". gumam Naruto. Ingatan tentang sosok pria dengan Sepasang mata bercahaya berputar di kepalanya.

"Darling... Ada apa? ". tanya Miku melihat Naruto yang memundukan kepalanya. "u-eh, tidak ada apa-apa". elak Naruto memasang senyumnya. "terimakasih Darling... Kau membuatku sadar". ucap Miku.

"yah, bukan hanya kau saja... Aku akan menyelamatkan semua Spirit dari kesendirian mereka". ucap Naruto bulat. "entah mengapa... Aku sedikit cemburu.. Tapi itulah Darling yang aku kenal". ucap Miku tersenyum sambil menutup matanya.

"Senyum itu... Senyum mereka... Aku akan menjaganya meski harus melawan seluruh dunia ini.. ". ucap Naruto menunduk mengepalkan tangannya, sepasang matanya bercahaya kuning untuk sesaat.

"Begitu yah? Supreme King telah menyatu dengan jiwaku.. Kau mau membantuku? Kalau begitu ayo kita lindungi mereka meskipun dengan kekuatan kegelapan! ".

Hei Minna-san! Maaf kalau Author lama gk update, soalnya ada ujian dan pelepasan dan sebagainya, dan Author juga sempat kehilangan file ini (kehapus) jadi maafkan Author.

Nah langsung saja ke pembahasan Review.

Banyak yang tanya apakah ada Lemonnya atau hanya romance saja? Kalau lemon akan berusaha Author adakan, tapi tidak dalam waktu dekat, soalnya mau bulan puasa kan?

Dan yang request lemon, pendapat kalian mana yang mendapat 'jatah' pertama? Gk mungkin bareng-bareng kan? Dan apakah Yoshino dan Kotori perlu diikut sertakan?

Soal Chakra elemen Shido, nanti Author tunjukkan melalui chap-chap depan. Soal Fict ini, akan agak lambat updatenya untuk mengimbangi update LN-nya. Penulisan saat ini sudah masuk bagian Natsumi.

Segitu dulu, mohon maaf kalau ada bahasa, ungkapan yang tidak benar atau Typo, dan saya harap review kalian agar saya semakin semangat melanjutkan fict ini.

Sayonara Next Chapter ^_^