Special's Thanks
Aoi Sora-chan, xxruxx, (no name), Eruna-chan, fuyunokage, Lovenaru, Chikuma Yoemon, Arisa Takenouchi, La Nina Que 'Aru-chan, yuchan desu, DUMBASS CRAZY, Hanna Miho Uchiha, Uchiha Hikari, Yashina Uzumaki, Aoi Ko Mamoru, anon, oppieozora, kanon1010, Nara Hikari, ErenNaru, Utau no Hana, Imperiale Nazwa-chan, Ren-Mi3 NoVantA, BarbeKyu, kyu's neli-chan, shia naru, AkemyYamato, nanao yumi, The DeVil's eyes, Nakazawa Ayumu lupa login, Himeka NamiRa, Meg chan, Yuna Claire Vessalius Kusanagi dan Evi-Haruno-chaan.
Arigatou minna!
Kadang apa yang kau rencanakan tak sesuai dengan apa yang kau harapkan. Kadang semuanya berjalan tak sesuai dengan jalan pemikiranmu sebelumnya. Ya, Karena kau bukan Tuhan yang bisa dengan mudahnya mengubah sesuatu hanya dengan cara pemikiranmu saja. Karena kadang takdir juga ikut bermain dan mempengaruhi semua nalarmu. Bahkan jika rencana yang kau buat itu begitu sempurna.
Sosok perempuan itu menatap nanar jasad tak bernyawa di depan kakinya. Wajahnya yang penuh memar itu menyiratkan rasa lelah yang ia rasakan.
Tapi bagaimana jika yang kau rencanakan itu berjalan begitu sempurna? Semuanya berjalan sesuai harapanmu. Apa yang kau bayangkan menjadi sebuah kenyataan yang datang ke hadapanmu. Lalu apa yang kau rasakan dengan rencana yang begitu sempurna ini sukses kau lakukan?
Senang? Bangga? Lega?
Tapi kenapa tidak ada satu pun perasaan seperti itu yang merayap di hatinya. Kenapa yang dirasakan hanyalah sebuah kekosongan?
Naruto langsung terduduk lemas. Tak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Lagi-lagi perasaan sesak itu datang mendominasi rongga dadanya. Hatinya berdenyut ngilu dan dadanya terasa begitu terhimpit. Tangisnya langsung pecah saat itu juga.
Karena apa yang telah ia lakukan tidak akan bisa mengubah apa pun. Karena apa yang dilakukannya akan berakhir sia-sia. Karena apa yang dilakukannya akan terbuang percuma.
Ia menyadarinya. Apa yang telah ia lakukan tak akan pernah sanggup membawa orang yang dicintainya kembali berada di sisinya. Karena waktu terus berjalan dan itu tak akan bisa mengubah apa pun yang telah menjadi bagian di masa lalu.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto.
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru.
Genre : Romence, Hurt/Comfort.
Rate : T.
Warning : OOC, semi-Canon, typo(s), No Yaoi, femNaru.
DON'T LIKE DON'T READ!
One Heart © Yanz Namiyukimi-chan.
Chapter 11
.
.
.
.
Neji sesekali menganggukkan kepalanya dan melempar senyum datar ke setiap orang yang menyapanya. Kakinya melangkah pelan menyusuri jalan yang dilaluinya. Tidak ada yang berubah dengan pemuda berambut kecoklatan itu. Ia masih memakai hitai-ate di dahinya. Baju putih dan celana hitam itu masih bermodel sama. Mungkin yang berubah hanyalah rambutnya saat ini. Rambut kecoklatan itu kini tampak pendek tidak panjang lagi. Namun karena gaya rambutnya yang berubah sukses membuat orang-orang di sekitarnya hampir tidak mengenalinya.
Ya, tapi itu dulu. Waktu telah berlalu dan ia tak perlu lagi menanggapi orang-orang yang berlebihan mengomentari tentang gaya rambutnya yang baru.
Kaki itu perlahan membawanya ke sebuah jalan setapak yang bisa membawanya ke suatu tempat. Membawanya pergi dari keramaian. Lalu pikirannya melayangnya ke sembilan tahun silam tentang keberadaan Naruto yang tiba-tiba menghilang dari Konoha. Sungguh saat itu semua panik mencari ke mana perginya gadis pirang itu. Suara riuh, gebrakan meja dan teriakan dari sang Hokage melengkapinya saat itu. Semuanya tampak frustasi karena tidak ada satu pun yang tahu ke mana perginya Naruto. Apalagi keadaan Naruto yang sedang mengandung dan batin yang tertekan saat itu membuat semuanya khawatir dengan kondisi gadis pirang itu. Mereka takut terjadi sesuatu pada Naruto.
Namun semuanya berangsur-angsur berubah. Mereka menjadi sedikit merasa lega setelah adanya surat yang dikirim oleh Naruto ke Konoha. Mengabarkan bahwa gadis itu baik-baik saja dan akan pergi dari Konoha untuk sementara waktu. Sejak itu mereka juga sibuk mencoba melacak keberadaan Naruto. Namun berapa kali mereka mencobanya selalu saja gagal. Mereka berulang kali menemukan tempat yang dipercaya menjadi tempat yang disinggahi oleh gadis pirang itu. Namun mereka selalu terlambat. Naruto selalu menghilang—sudah pergi—dari tempat itu.
Sikap Naruto yang tidak mau siapa pun mengetahui keberadaannya yang sekarang ini membuat sang Hokage geram. Mereka seperti sedang bermain petak umpet saja.
Perasaan mereka kembali resah saat beberapa bulan terakhir ini, Naruto tidak lagi mengirim surat ke Konoha seperti biasa. Tentu karena ini membuat beberapa orang berpikir telah terjadi sesuatu yang buruk pada Naruto. Hingga kemarin sore surat itu datang dan membawa kabar yang menggembirakan.
Neji telah sampai di tempat tujuannya. Matanya menatap lurus pada batu nisan itu. Sorot matanya menatap lembut.
"Dia akan segera pulang, Shikamaru," bisiknya di antara angin yang berhembus pelan di sekitarnya.
.
.
.
.
"Hn."
"Bisakah kau menghilangkan kosakata andalanmu yang tidak ada artinya itu?"
Tsunade, wanita yang memiliki umur tidak sesuai dengan wajahnya itu memandang sinis lelaki di hadapannya. Ia tidak suka cara bicara lelaki itu yang memberi tanggapan tidak jelas dari ucapannya.
Lelaki itu terdiam. Membungkam bibirnya tak mengeluarkan sedikit pun suaranya. Dan ini membuat dahi sang Hokage berkedut kesal.
"U-chi-ha Sa-su-ke! Jika kau bukan anak yang berbakat, aku tidak akan pernah merasa bangga dengan kehebatanmu itu!"
BRAK!
Sasuke bergeming di tempatnya. Tak bergerak sedikit pun walau kursi yang di lempar Tsunade—untuk melampiaskan emosinya karena sikap Sasuke yang menyebalkan bagi sang Hokage—nyaris saja mengenainya. Ia yakin wanita pirang di hadapannya tidak berniat untuk menyelakakannya.
"Cih! Pergi sana! Lanjutkan tugasmu sebagai ketua ANBU, TA-KA!" Tsunade memalingkan wajah kesalnya. Lelaki di depannya ini begitu menyebalkan. Tapi kenapa banyak orang yang peduli padanya? Termasuk bocah tengik itu—Naruto.
Tak menunggu lagi sang ketua ANBU itu melesat pergi—menghilang— dari ruangan sang Hokage tanpa meninggalkan sepatah kata pun.
"Ck!" Tsunade berdecak kemudian beranjak dari tempatnya.
"Anda mau ke mana Tsunade-sama?" tanya Shizune yang senantiasa berada di dekat sang Hokage.
"Tentu saja aku akan ke gerbang depan. Aku akan bersiap menghajar bocah itu karena sudah pergi dari Konoha tanpa seizinku!" seru Tsunade sambil menyeringai senang.
Shizune membelalak, "TSUNADE-SAMA!" sang Hokage pergi begitu cepat sebelum ia mencoba menghentikannya. Wanita pirang itu tidak benar-benar akan menghajar Naruto 'kan?
.
.
.
.
Dua sosok manusia itu berjalan saling bergandengan tangan. Berjalan dengan tenang melewati jalan setapak itu selangkah demi selangkah. Mereka memakai jubah berwarna krem dengan tudung yang menutupi wajah mereka.
"Kaasan apa Konoha itu masih jauh?" tanya sosok mungil pada sosok dewasa di sampingnya.
Bibir tipis itu menyunggingkan senyum lembut pada bocah polos itu. "Tidak, sayang! Sebentar lagi kita akan segera sampai."
"Benarkah?" terdengar suara anak kecil itu antusias.
"Hu'um," tanggapnya sambil menganggukkan kepalanya.
Sang bocah itu memalingkan wajahnya ke depan memasang wajah senang. Tangan mungilnya masih senantiasa menggenggam erat tangan hangat sosok di sampingnya. Setelah mereka berjalan cukup lama, sosok anak kecil itu menangkap sebuah gerbang besar dan tinggi bercat hijau yang berbuka begitu lebar.
Lalu ia menangkap sosok wanita berambut pirang diikat dua bertubuh sexy sedang memasang wajah sangar di depan gerbang itu sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.
Tsunade menyeringai licik mendapati sosok yang berada tak jauh darinya. Ia sedikit melakukan peregangan pada tangannya. Hingga suara tulang terdengar jelas ke telinganya.
"Ternyata kau masih punya nyali juga kembali kemari, U-ZU-MA-KI NARUTO!" Tsunade langsung melancarkan serangannya ke arah sosok yang dikiranya Naruto itu. Memukul dengan keras tanah yang dipijakinya hingga akibatnya tanah itu mengalami retakan hebat. Dengan cepat retakan itu menjalar ke berbagai arah di depannya.
Tsunade menghentakkan kedua kakinya. Berlari dengan cepat menyongsong sosok di hadapannya. Dan tak segan-segan wanita berambut pirang itu melancarkan tinju dan tendangannya. Sosok itu mencoba menahan serangan Tsunade yang begitu liar menyerangnya. Sesekali ia menyilangkan kedua tangannya di depan tubuhnya—menahan serangan Tsunade—atau melompat mundur—menghindari serangan Tsunade.
Sosok itu tersentak saat melihat Tsunade bersiap menjentikkan jari telunjuknya ke arah dahinya. Ia memejamkan kedua matanya erat-erat. Ia benar-benar tidak siap menerima serangan yang satu ini. Semua tahu tenaga wanita itu begitu besar. Hanya dengan jentikkan jari saja bisa membuat tubuh seseorang terlempar jauh.
Cup!
Manik-manik biru itu membelalak lebar saat ada sesuatu menyentuh dahinya dengan lembut. Diluar dugaannya, Tsunade mengecup dahinya. Tsunade tersenyum penuh arti padanya.
"Akhirnya kau kembali, Bocah nakal!"
"Ku-kukira kau akan benar-benar ingin membunuhku, BAA-CHAN!"
Tanpa disadarinya tudung itu sudah tidak lagi menutupi wajahnya. Menampilkan rambut panjang keemasannya. Naruto tersentak mundur. Dengan gaya salah tingkahnya, Naruto memandang tak percaya Tsunade. Benar-benar nenek tua itu telah mengerjainya!
Dari kejauhan Shizune menghela napas lega bersama Ton-Ton—babi peliharaanya—di dalam pelukkannya. Sang Hokage ternyata tak benar-benar berniat menghajar Naruto. Ya, ampun membuat orang khawatir saja!
Di sisi lain. Sosok mungil itu sedang terpaku pada sosok dewasa yang berdiri tak jauh darinya. Sosok dewasa itu benar-benar mirip dengan seseorang yang begitu ia kasihi. Hati anak kecil itu begitu penasaran siapa sebenarnya sosok dewasa itu.
Setelah sekian lama hanya diam terpaku, anak itu mengambil langkah maju memperpendek jarak antara dirinya dengan sosok pria dewasa itu. Setelah tepat berada di hadapan sosok yang membuatnya begitu penasaran, ia sedikit menengadahkan kepalanya.
"Siapa kau?" suara khas anak kecil itu menyergap perdengaran Shikaku saat itu. Pria itu juga merasa penasaran dengan bocah kecil ini yang sedari tadi menatapnya dengan intens. Shikaku merendahkan tubuhnya—berjongkok di hadapan anak kecil itu. Walaupun anak kecil itu sudah mendongak mengangkat kepalanya, tetap saja ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah sosok mungil di hadapannya itu, karena tudung yang masih bertengger menutupi kepalanya.
Namun saat Shikaku bisa dengan jelas melihat wajah anak kecil itu, ia begitu kaget. Matanya membelalak tak percaya.
Ya, Tuhan! Shikaku pun hanya bisa terpaku.
Tangan mungil itu terulur membelai pipi sosok dewasa di hadapannya yang masih terpaku melihatnya. Seolah sedang mengagumi wajahnya yang terpahat pada sosok dewasa di hadapannya matanya terus meneliti setiap lekuk wajah itu.
"Mirip," gumamnya pelan. Kenapa sosok dihadapannya ini bisa benar-benar mirip dengan orang yang ia kenal? Anak itu semakin penasaran siapa sebenarnya sosok dewasa itu.
"KAASAN KENAPA ORANG INI BISA MIRIP DENGAN TOUSAN!"
Naruto tersentak mendengar suara teriakkan itu. Segera Naruto menggerakkan kakinya berlari ke arah sumber suara. Dilihatnya bocah kecilnya itu sedang bersama dengan Shikaku—ayah Shikamaru.
"Naruto—"
Naruto tersenyum penuh arti kemudian menganggukkan kepalanya mengerti apa yang hendak ditanyakan Nara Shikaku kepadanya.
Mata kelam itu kembali memperhatikan sosok mungil di hadapannya. Ya, Tuhan… ternyata ia sudah sebesar ini. Shikaku langsung meraih tubuh mungil itu membawa ke dalam gendongannya. Sepertinya cucunya telah tumbuh dengan baik.
Anak kecil itu tidak menolak saat Shikaku menggendongnya tiba-tiba, namun bocah lelaki itu tampak bingung. Ia belum tahu siapa pria dewasa ini. "Anda itu siapa? Kenapa Anda begitu mirip dengan Otousan-ku?" tanyanya tak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya.
"Tentu saja mirip, karena dia adalah anakku," jawab Shikaku sambil tersenyum penuh arti.
Bola mata kelam sang bocah itu membelalak. Ia tak mampu menutupi rasa keterkejutan yang menghampirinya saat ini. Ja-jadi—
Shikaku menatap lembut sang cucu. Ya, tuhan… cucunya ini benar-benar mirip dengan putranya saat masih kecil.
"Siapa namamu, Nak?" Shikaku belum tahu nama cucunya. Ia baru menyadari jika Naruto tak pernah menyebutkan nama cucunya di surat yang ia kirimkan ke Konoha.
Bocah yang kira-kira berusia delapan tahun itu menunjukkan cengirannya yang lebar. Memperhatikan deretan giginya yang tumbuh dengan rapi.
"Shikaru. Nara Shikaru!" ucapnya penuh antusias.
"Shikaru…" namun nyatanya ucapan sang Nara kecil itu mendapat teguran kecil dari sang ibu—Naruto—membuat sang Nara kecil itu mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka.
Sang ibu memang selalu seperti ini setiap kali ia memperkenalkan dirinya menggunakan nama 'itu'. Padahal ia suka sekali dengan nama 'itu'. Dibanding Uzumaki Shikaru, ia lebih senang orang-orang mengenalnya dengan Nara Shikaru. Bocah lelaki itu bukan tidak suka nama yang telah diberikan oleh ibunya. Hanya saja… jika ia menggunakan nama Nara Shikaru, ia merasa akan terdengar lebih keren! Pikirnya begitu polos.
"Kaasan! Kenapa kau selalu melarangku memakai nama ini? Apa yang membuat Kaa-san tidak suka?" seru Shikaru menatap Naruto dengan sorot mata berbinar-binar sedih.
Yang satu ini sifatnya memang menurun dari Naruto. Merajuk dan memelas. Shikaru sebenarnya bukan tipe anak seperti itu. Hanya saja jika ibunya sudah keras kepala, ini akan susah membujuk sang ibu. A-ha! Tapi ini memang cara yang paling ampuh membuat seorang Uzumaki Naruto luluh.
"Bu-bukan begitu! Tapi—" tuh 'kan ibunya mulai gelagapan.
"Naruto!" Shikaku menginterupsi interaksi antara anak dan ibunya itu. Mata Shikaku beralih pada bocah yang berada dalam gendongannya dan mengusap lembut rambut raven itu membuat Shikaru merasa nyaman dengan sentuhannya.
"Bukankah Shikaru juga berhak memakai nama itu? Bukankah di dalam tubuhnya juga mengalir darah Nara?"
Naruto tertunduk apa yang dikatakan ayah Shikamaru memang benar. Tapi bukankah ia dan Shikamaru belum terikat secara resmi? Jadi malaikat kecilnya itu belum berhak memakai nama itu.
"Bukankah kau juga seorang Nara, Naruto?" Naruto mengangkat kepalanya secara serentak. Tak percaya dengan penuturan sang Nara Senior itu?
Ia… seorang Nara? Maksudnya Nara Naruto?
Shikaku tersenyum penuh arti melihat wanita yang begitu dicintai oleh putranya itu. Shikaku mengulurkan tangannya mengusap pelan kepala pirang itu.
" Sejak kau memutuskan untuk bersama putraku. Kau sudah menjadi bagian dari kami Naruto."
Naruto menekuk kepalanya dalam-dalam. Menahan perasaan yang membucah di dalam hatinya. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ia tidak tahu harus bicara apa. Naruto benar-benar tidak tahu.
Diangkatnya kepala berambut pirang itu. Ditatapnya mata kelam yang kini sedang menatapnya dengan sorot penuh kehangatan. Naruto semakin tak kuasa menahan perasaanya. Mata shappire itu berkaca-kaca tidak bisa menahan haru. Mulutnya mulai terbuka hendak menyerukan sesuatu yang sedari tercekat di tenggorokannya.
Tapi semuanya sirna saat matanya tanpa sengaja menangkap sesosok bayangan di bawah pohon. Angin berhembus menggugurkan para dedaunan hijau mengiringi rasa keterkejutan seorang gadis pirang di kala itu. Kaki itu mulai bergerak untuk melangkah, memastikan sosok bayangan itu yang terasa familiar baginya. Namun baru mengambil satu langkah, kaki itu berhenti tiba-tiba saat sosok bayangan itu sudah menghilang dalam sekejap mata. Meniggalkan udara kosong di sana.
Terselip rasa kecewa saat sosok bayangan yang begitu dikenalinya tiba-tiba pergi begitu saja saat ia menyadari keberadaanya. Namun yang lebih mendominasi hatinya saat ini adalah rasa bersalah yang tak pernah sirna sampai sekarang.
'Sasuke…'
Naruto tertegun mendapat sentuhan kecil nan lembut di pipinya. Membangunkannya dari segala lamunannya.
"Kaasan," panggil Shikaru. Menatap khawatir ibunya yang tiba-tiba terlihat murung. Kenapa tiba-tiba ibunya murung seperti itu? Shikaru pun membatin mendapati perubahan pada sorot wajah ibunya.
Naruto menggeleng pelan, "Tidak apa-apa."
Shikaru mengernyit melihat ibunya yang sepertinya sedang menutupi sesuatu darinya. Tapi kemudian Shikaru menunjukkan cengirannya.
"Ayo kita bertemu, Tousan!" seru Shikaru begitu antusias membuat semua tertegun karenanya.
.
.
.
.
Hawa panas memang selalu identik dengan langit cerah dan matahari yang bersinar terik. Namun selalu ada angin yang berhembus pelan hingga kau pun bisa menikmati cuaca cerah ini tanpa mengeluh.
Bibirnya terkatup rapat-rapat. Shikaru tertunduk dalam di hadapan makam seseorang yang begitu ia kagumi. Ayah tercinta, Nara Shikamaru.
Ia sudah mengetahui sejak lama hal ini—tentang kematian ayahnya. Ia sudah tahu bahwa ayahnya telah dipanggil ke sisi-Nya. Meninggalkan ibunya dan dirinya yang masih dalam kandungan. Ya, ibunya memang sudah menceritakan semuanya.
Namun tetap saja. Ada perasaan sesak di dadanya saat berhadapan langsung dengan makam ayahnya itu. Dan perasaan sesak ini semakin terasa jika ia terus menahannya tanpa pelampiasan. Lama kelamaan tubuh mungil itu sedikit bergetar membuat Naruto yang sedari tadi diam memperhatikannya menjadi sedikit khawatir.
Naruto mengambil langkah pelan mendekati anak semata wayangnya itu. Bagaimanapun Shikaru hanyalah anak laki-laki yang baru berusia delapan tahun yang masih memiliki perasaan rapuh.
"—tidak bertanggung jawab."
Seketika tangan Naruto membeku di udara sebelum menyentuh pundak mungil itu. Naruto tampak terkejut mendengar gumaman pelan itu.
Shikaru mengepal erat kedua telapak tangannya.
"Dasar tidak bertanggung jawab!" ucapnya lirih penuh intimidasi kala itu.
"A—aku… AKU AKAN MENJADI LELAKI YANG KUAT! AKU TIDAK AKAN MENJADI SEPERTI DIRIMU YANG MUDAH MATI BEGITU SAJA!" Shikaru meluapkan emosinya hingga tanpa sadar air matanya sudah mengalir deras dari kedua manik kelam itu. Entah kenapa tiba-tiba Shikaru merasa begitu marah pada ayahnya.
Cepat-cepat Shikaru menghapus air matanya dengan telapak tangannya. Ia tidak mau jika sampai ia dianggap anak yang cengeng.
"Aku berjanji! Aku berjanji akan menjaga Kaasan untukmu, Tousan!" ucapnya sambil menunjukkan cengiran khasnya.
Angin kembali berhembus pelan membelai lembut para pepohonan. Naruto merengkuh tubuh kecil Shikaru dengan penuh haru. Shikaru membelai pipi ibunya yang sedang betopang dagu di pundak kecilnya.
"Kau tidak perlu memintanya. Karena aku pasti menjaganya."
.
.
.
.
Huahhh…
Naruto meregangkan otot-otot tangannya yang terasa kaku. Hari ini memang cukup melelahkan. Perjalanan ke Konoha yang cukup jauh, Tsunade yang tiba-tiba menyerangnya saat ia baru tiba di Konoha, mengunjungi makam Shikamaru dan terakhir pergi ke kediaman Nara. Walaupun begitu Naruto tetap merasa puas. Apalagi saat Yoshino—Ibu Shikamaru—begitu senang saat bertemu dengan putra laki-lakinya.
Angin berhembus cukup kencang membuat rambut pirang panjang yang dikepangnya itu bergerak liar terkena sapuan angin. Kemudian matanya mengerling pada kincir angin yang dipasang di balkon kamarnya. Baling-baling kincir angin itu berputar cepat, namun kincir angin itu tak goyah sedikit pun dari tempatnya, walaupun angin terlihat ingin menumbangkannya.
Naruto tersentak mengingat sesuatu. Lalu tersenyum lembut mengingat kenangan itu. Kepalanya menengadah melihat langit yang berwarna elok dengan pandangan menerawang.
"Aku juga ingin seperti itu, Shikamaru. Seperti kincir angin yang selalu berdiam diri di satu tempat yang sama merasakan angin yang berhembus di setiap musimnya. Karena dengan begini aku akan tetap mencintaimu dari musim ke musim dan tak akan pernah berubah."
Namun segala sesuatu tidak bisa ditebak. Dan selalu ada sesuatu yang tidak bisa tampak tegar dan tak tergoyahkan. Termasuk—hati manusia.
.
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
Naruto berjalan lunglai ke arah pintu depan rumahnya sambil berdecak sebal di dalam hati. Mengumpat siapa yang begitu kurang ajar karena sudah mengganggu jam tidurnya. Hei, ini baru saja jam setengah dua pagi! Siapa yang mau menerima seorang tamu sepagi itu!
Tok! Tok! Tok!
"Iya, iya… tunggu sebentar!" seru Naruto dengan nada malas.
Ngh…
Dia ini masih mengantuk tahu! Dengan keadaan setengah sadar dan rambut yang sedikit acak-acakkan, wanita yang baru memiliki anak satu itu membukakan pintu untuk sang tamu.
Dengan mata setengah terpejam Naruto hendak bertanya, "Ada perlu ap—"
GREB!
Seketika semua rasa kantuknya hilang. Tubuhnya membeku tidak bisa digerakkan. Matanya membelalak lebar sebagai tanda keterkejutannya.
Sasuke memeluk Naruto begitu erat. Tak peduli jika wanita berambut pirang itu merasakan sesak napas atau tulangnya yang—hampir—terasa remuk karena pelukkan kencangnya. Sasuke tidak peduli! Dan ia tidak akan mau peduli!
Sasuke menenggelamkan kepalanya di lekuk leher Naruto. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu dengan penuh kerinduan. Setelah sekian tahun, akhirnya ia bisa bertemu Naruto. Akhirnya setelah sekian lama, ia bisa kembali melihat sosok itu. Mengabaikan perasaannya yang kesal dan marah selama beberapa tahun ini pada wanita blonde itu yang sudah dengan teganya pergi meninggalkannya, mengabaikannya, tidak mempedulikan perasaannya kala itu.
Tapi bagaimanapun Sasuke tidak bisa menapik jika dirinya begitu merindukan Naruto.
Sungguh ia begitu marah pada Naruto. Membuat egonya memilih untuk tidak akan pernah menemui wanita itu kecuali jika wanita itu sendiri yang datang menemuinya. Namun semua ada batasnya. Saat beberapa menit yang lalu ia tidak bisa lagi membendung rasa rindunya yang berusaha ia simpan jauh di dasar hatinya. Ia tidak sanggup menahan diri lagi. Ia tak sanggup hanya berdiam diri saja mencoba mengabaikan keberadaan Naruto yang jelas-jelas kini sudah berada dalam jangkauannya.
"Sa-Sasuke…"
Ya, kini semua telah runtuh. Namun siapa yang peduli? Untuk saat ini, Sasuke hanyalah ingin berada di dekat Naruto. Melepas kerinduannya pada wanita itu.
.
.
OMAKE
Terlihat sosok anak kecil sedang duduk bersila sambil mengamati dengan seksama berbagai peralatan ninja yang sering di gunakan oleh seorang ninja pada umumnya. Sedangkan tepat di hadapan sosok anak kecil itu, ada sosok dewasa yang hampir mirip dengan anak laki-laki itu mengawasi setiap gerak-geriknya.
"Shikaru," panggil sosok dewasa itu.
"Hmm…" Shikaru melirik sosok di hdapannya sekilas, kemudian matanya kembali fokus pada benda-benda yang ada di hadapannya.
"Ada apa, Tousan?" tanya Shikaru memberikan tanggapan berarti pada ayahnya.
"Apa kau mau melakukan janji antara laki-laki denganku?"
Alis Shikaru mengernyit. Kini perhatiannya teralih penuh pada ayahnya. "Janji antara laki-laki?"
Shikamaru mengangguk, "Ya. Apa kau mau melakukannya untukku?"
Shikaru masih tampak bingung. Namun matanya menyorotkan penasaran penuh.
"Janji seperti apa?" tanya Shikaru dengan sedikit ragu.
Janji? Janji yang seperti apa yang akan diajukkan oleh ayahnya?
"Kau mau berjanji untuk selalu menjaga Kaasan-mu untukku?" pinta Shikamaru pada putra kecilnya.
Shikaru terdiam sejenak. Hatinya sedikit merasa aneh. Kenapa tiba-tiba ayahnya meminta hal seperti itu? Namun Shikaru mengangguk mantap memenuhi permintaan ayahnya.
"Hu—um! Tanpa kau minta pun, aku pasti akan menjaga Kaasan!"
Shikamaru tersenyum hangat. Kini telapak tangannya mengusap lembut kepala Shikaru, "Cintai dia selalu. Apa pun yang terjadi, apa pun yang Kaasan-mu lakukan, mengertilah… ia melakukan semua itu untukmu."
"Ya, aku tahu," ucap Shikaru sambil memasang raut wajah malas. "Walau kadang Kaasan itu sangat cerewet, tapi itu demi kebaikanku, bukan?"
Shikaru menghela napas, "Benar kata Tousan, perempuan akan terasa merepotkan jika mereka sudah mulai cerewet."
Shikaru ingat beberapa teman perempuannya yang—kebanyakan—mempunyai sifat cerewet juga. Mereka selalu bicara panjang lebar. Tanya ini tanya itu. Huuuh! Kalau sudah seperti itu biasanya Shikaru akan merasa kesal sendiri.
Shikamaru mendengus mendengar pernyataan putra kecilnya. Di dalam hati merasa geli juga, sepertinya ada beberapa sifatnya yang menurun pada putranya itu.
TBC
ARGGGGHHHH! AKHIRNYA BISA UPDATE JUGA! *dihajar masa* hehehe… gomen Yan tahu Yan udah ngelantarin fic ini berapa bulan? *ngitung jari*padahal banyak yang minta update cepat. Tapi tenang aja, tak hanya fic ini yang ditelantarin tapi fic yang lainnya juga kok! *bletak! XD
Bagaimana, bagaimana dengan chapter ini? Sebenarnya Yan agak merasa minder, takut alur cerita fic ini malah makin kacau bukan malah makin bagus T_T *abaikan.
OMAKE yang buat itu ceritanya mimpi Shikaru. Di sini Shikamaru memang selalu datang ke mimpi Shikaru jadi wajar jika Shikaru tidak merasa asing dengan sosok ayahnya. Daaaaannnn Naruto telah KEMBALI! *jadi teriak sepuasnya* berarti setelah ini Yan harus ngasih service SasuNaru. Silahkan mau yang Hurt atau yang Romance nih? XD
Ada yang penasaran kenapa Yan ngasih nama anak Naruto—Shikaru? Ini hanya pemikiran sederhana saja. Terinpirasi dari nama anak—ayah yang hampir mirip Shikamaru—Shikaku, jadi kenapa Yan gak bikin gitu juga? Jadi Yan ambil aja dari SHIKAmaru dan naRUto. Menurut kalian cocok nggak? Hehhe…
Ya, udah deh! Daripada banyak cincong lebih baik Yan tutup aja.
Review Please ^^V
.
.
