[REMAKE] Sleep With The Devil by Santhy Agatha Chapter 11

Genre :: Romance

Cast :: Kim Jongin, Xi Luhan, and others. [KAILU]

Rated :: M

.

Disclaimer : Saya me- remake novel favorit saya, cerita aslinya kalian bisa baca novel Sleep With The Devil (Santhy Agatha). So, cerita ini bukan milik saya, saya hanya meremake oke?jangan nuduh saya plagiat ya. Oh iya ini re-post ya?

.

Typo(s). YAOI. M-PREG

Don't Like , Don't Read chingu!

Annyeong, ini lanjutan ff remake Sleep With The Devil KaiLu Ver ^^

Happy Reading!

"Aku masih punya satu syarat lagi," Luhan tanpa sadar melangkah menjauhi Kai, "Aku ingin tinggal di kamar putih yang dulu… kau.. eh bisa mengunjungiku kalau kau perlu sesuatu…"

"Cukup! Sekarang giliranku memberikan pengaturan untuk pernikahan kita!," kesabaran Kai tampaknya sudah habis, lelaki itu meraih pinggang Luhan dan merapatkan di tubuhnya membuat Luhan merasakan tubuh Kai yang mengeras disana, "Kau rasakan itu?," Kai menatap Luhan, marah sekaligus bergairah, "Aku berniat untuk menjadikanmu isteriku yang sesungguhnya. Bukan kekasih yang kukunjungi jika aku perlu bercinta," Jemari Kai menuruni sisi lengan Luhan dengan sensual dan kemudian berhenti di sisi nipplenya, meremasnya lembut, "Dan jika kita melakukan itu, kita tidak akan tidur di kamar yang terpisah!" Hening.

"Kenapa? Kau tidak suka dengan syarat dariku?," Kai terus meremas nipple Luhan dengan posesif. Luhan adalah isterinya, sekarang dia harus menerima seluruh dirinya, tidak lagi berusaha menentangnya sekehendak hatinya. Pilihannya adalah mereka suami isteri atau tidak sama sekali,

"Jika kau tidak menyukainya, lebih baik kita berhenti di sini sekarang juga," sambil berusaha menahan keposesifannya, Kai memperlembut tuntutannya, "Malam ini cukup sampai di sini kalau kau tidak siap"

Satu-satunya yang mendesak saat ini adalah tubuhnya yang berhasrat, tetapi Kai masih mampu mengendalikannya jika Luhan tidak mau melanjutkan. Laki-laki ini telah menunjukkan keberanian besar dengan mengemukakan persyaratannya di depan Kai dan Kai menghargainya, dan karena itu ia bersedia memberikan waktu sebanyak yang diinginkan Luhan. Luhan hanya terdiam di sana, menatap Kai dengan tatapan kosong. Astaga, apa sebenarnya yang ada di dalam kepala mungil itu? Luhan pasti sudah larut dalam persepsi dan pemikirannya sendiri. Apalagi setelah dia mengetahui kisah tentang Baekhyun.

Kai sendiri tidak bisa menjelaskan perasaannya. Memang pada mulanya, dia menginginkan Luhan karena kemiripannya dengan Baekhyun. Tetapi sekarang, dia merasa Tuhan telah memberikannya kesempatan kedua, dalam wujud laki-laki yang sangat mirip dengan Baekhyun. Tidak, dia tidak pernah membayangkan Baekhyun. Tidak lagi. Setelah malam-malam kelam yang menghancurkan hati, yang dia lalui karena kematian Baekhyun dulu, Baekhyun telah berubah menjadi bayang samar yang kadang hadir dalam bentuk kenangan masa lalu yang indah. Kai bahkan sudah berhasil tidak memikirkan Baekhyun lagi sejak bertahun-tahun lalu.

Luhan terasa… berbeda… tetapi bagaimana dia menjelaskannya kepada Luhan? Laki-laki itu tidak akan percaya bahwa gairah yang meluap-luap ini memang murni untuk dirinya. Kai menyadari bahwa ia menginginkan pernikahan yang nyata, bersama Luhan. Luhan bagaikan malaikat yang menariknya dari kegelapan. Hatinya yang kelam telah tersentuh secercah Matahari sejak kehadiran Luhan. Dan Kai tidak ingin melepaskannya.

"Baiklah," suara pelan terdengar dari bibir Luhan, terdengar enggan seolah-olah Luhan tidak benar-benar setuju dengan dominasi Kai dalam hubungan ini. Dan itu membuat Kai senang, seorang isteri yang selalu setuju dengan pendapat suaminya sama sekali tidak menyenangkan. Di dalam kehidupan pernikahan yang nyata, terdapat banyak ketidaksepakatan, sebanyak kasih sayang, tawa, maupun kesetiaan. Kai tersenyum dan menatap Luhan dengan penuh bergairah,

"Apakah kau sudah siap untukku Luhan?," jemari Kai mengusap ujung nipple Luhan dengan lembut.

"Aku…..," sekujur tubuh Luhan bergetar,

"Mungkin aku perlu memeriksanya dulu," Kai meluncurkan sebelah tangannya dari nipple Luhan, mengusap perut Luhan yang basah dan terus bergerak turun. Dan karena kaki Kai, entah sejak kapan, berada di antara kakinya, Luhan tidak bisa menghalangi niat Kai kalaupun ia ingin. Kai bergerak perlahan-lahan, memperhatikan isyarat sekecil apapun kalau-kalau Luhan ingin berhenti. Di luar dugaan, Luhan tidak menolaknya, tubuh laki-laki itu menyambutnya, membuat Kai harus menggertakkan gigi menahan hasratnya yang makin menggelegak.

Luhan membiarkan jemari Kai menyentuhnya. Tubuh Luhan begitu lembut, dan ia gemetar ketika Kai menyentuh tubuhnya di bagian yang paling sensitif , berusaha menemukan pusat dirinya. Ketika akhirnya menemukannya, Kai menggerakkan jemarinya dengan lembut. Hanya sekedar menggoda. Luhan mengerang, tubuhnya bergetar hebat. Tubuh Kai sendiri sudah menegang putus asa.

"Ya, kau memang sudah siap," ucap Kai sangat parau,

Lalu mendorong Luhan terbaring di ranjangnya yang berseprai satin hitam. Kai mengangkat kedua tangan Luhan, meskipun Luhan sedikit melawan. Sambil meletakkan kedua tangan Luhan ke atas kepalanya, Kai bergerak menindih Luhan. Luhan menatap Kai dengan liar, teringat peristiwa yang mirip, ketika Kai mengikat kedua tangan Luhan di atas kepala dengan dasinya, apakah Kai akan mengikatnya lagi?

"Aku tidak perlu mengikatmu sayang," Kai melepaskan tangan Luhan dan mengecup bibirnya penuh gairah, jemarinya menyentuh kembali nipple Luhan, membuat seluruh tubuh Luhan menggelenyar,

"Kai….," tubuh Luhan bergetar karena gairah,

"Betul sayang, ucapkan namaku," Kai bergeser turun dan menunduk, lalu mengulum puncak nipple Luhan dalam bibirnya yang panas. Luhan mengerang setengah meronta,

"Kai… please… please…"

Erangan itu membuat Kai ingin menyerah kepada Luhan. Tubuhnya sendiri sudah sangat bergairah sampai terasa nyeri, Tetapi ia tahu betapa pentingnya mencumbu Luhan sebelum bercinta dengannya. Setelah bercinta nanti, ia pasti ingin mencicipi Luhan, lagi dan lagi dan dia ingin isterinya terus menginginkannya dengan hasrat yang sama besarnya. Kai menelusurkan tangannya ke bawah dan mengangkat pinggul Luhan. Luhan melingkarkan kedua kakinya di tubuh Kai, mendekap Kai ke tubuhnya, membuka diri,

"Belum, sayang," Ketika Luhan membuka bibirnya untuk memprotes, Kai menciumnya.

Karena bibir Luhan telah terbuka, ciuman itu berlangsung dengan sangat sensual. Kai menggoda Luhan dengan belaian dan jilatan lidahnya dan kemudian mencicipi bibir Luhan dengan sedikit lebih dalam. Kedua tangan Luhan mencengkeram rambut Kai, untuk sejenak Luhan tampak ragu, tetapi kemudian lidahnya membalas, membelai bibir Kai dengan malu-malu dan hati-hati. Kai tidak dapat menahan diri lagi. Ia sudah berada di dalam tubuh Luhan sebelum mereka sempat menarik napas. Luhan merapat, berusaha agar mereka menyatu lebih dalam lagi. Kai menahan diri, meskipun gairah membuat tubuhnya menegang,

"Cium aku sayang, cium aku seperti kau menginginkanku untuk berada jauh di dalam dirimu, di dalam tempat yang belum pernah didatangi oleh siapapun"

Luhan merespon dengan malu-malu tetapi tepat, tubuh Luhan sedikit maju ke atas, lalu menangkup wajah Kai dengan kedua tangan dan menciumnya. Kelembutan sikap Luhan mengguncang Kai, dan meruntuhkan segenap kendali dirinya. Sambil menjalin jemarinya dengan jemari Luhan, Kai mendesak lebih dalam. Api gairah berdesir di dalam tubuhnya, mendesaknya untuk menandakan kepemilikannya pada diri Luhan. Sambil menggertakkan gigi untuk melawan godaan melakukannya dengan cepat, Kai bergerak sedikit demi sedikit ke dalam tubuh Luhan. Sebagian dirinya yang benar-benar primitif menggeramkan kepemilikannya. Luhan adalah miliknya. Selamanya. Hanya dirinya yang boleh memiliki Luhan.

Kai meraih bibir Luhan dengan ciuman rakus, dan bergerak kembali dengan kekuatan penuh, bagi Luhan kenikmatan yang dirasakannya tak terlukiskan. Sementara bibir mereka bertautan, sebelah tangan Kai kembali bergerak ke nipple Luhan, membelainya. Luhan hampir kehilangan kewarasannya akibat cumbuan itu dan dia berusaha menahan dirinya,

"Lepaskan sayang, jangan menahan diri lagi," Kai seolah mengerti apa yang dirasakan Luhan, permintaan panas itu dibisikkan ke mulut Luhan yang nyaris tenggelam dalam hasrat gairahnya. Dan ketika jemari Kai menyentuh sekujur tubuhnya, Luhan menyerahkan dirinya. Tubuhnya mendesak di tubuh Kai sementara gelombang kepuasan mendera tubuhnya. Orgasme Luhan menggiring Kai hingga ke ambang batas kesadarannya, ia mulai mempercepat iramanya dan merasakan dirinya meledak, di dalam tubuh Luhan. Terbenam dalam puncak kepuasannya.

Kehidupan perkawinan mereka berlangsung seperti yang seharusnya. Setiap malam Kai selalu menyentuhnya, gairahnya seperti tak pernah habis. Tetapi hanya itulah saat mereka bisa dekat. Luhan mengernyit menyadari bahwa dia hanya bisa dekat dengan suaminya ketika mereka bercinta. Kai memang berubah menjadi pribadi yang lebih baik, dia tidak pernah kasar dan memaksakan kehendaknya lagi.

Lelaki itu hanya mengangkat alisnya ketika Luhan mulai membantah kata-katanya, kemudian melangkah pergi. Memilih menghindari konfrontasi. Pernikahan mereka sudah berlangsung hampir dua bulan dan Luhan masih merasakan ada yang mengganjal di hatinya. Oh ya, dia menyadari bahwa landasan pernikahan ini sudah salah dari awal. Hanya berlandaskan kontrak kerja yang dilapisi hasrat. Belum lagi alasan yang tidak mau diakui Kai, bahkan sampai sekarang ini : bahwa Luhan hanyalah pengganti Baekhyun. Luhan tidak pernah lagi mengunjungi sayap rumah yang menyimpan lukisan Baekhyun itu, dan Chanyeol bahkan sudah tidak pernah menyinggung tentang isteri pertama Kai lagi. Luhan curiga bahwa Kai melarang Chanyeol dan semua orang di rumah ini membahasnya.

Karena Kai sendiripun tampak tak pernah menjelaskannya, Luhan menjadi semakin bingung. Akan seperti apakah pernikahan ini nantinya? Salahkah ia ketika menerima lamaran Kai waktu itu? Dan satu lagi pertanyaan yang mulai mengusik hatinya, apakah ia mencintai Kai?

Semakin Luhan mencoba memikirkannya, semakin kepalanya terasa sakit. Ah, dia memang sering merasa pusing akhir-akhir ini, pusing yang aneh karena timbul tenggelam tanpa tahu waktu.

"Luhan?," Kai tiba-tiba sudah ada di depannya,

"Kau kenapa?," Lelaki itu mengernyit melihat Luhan yang berjalan terhuyung-huyung sambil berpegangan di dinding lorong. Luhan mencoba berdiri tegak, tetapi pusing kali ini benar-benar menyerangnya dengan kuat sehingga dia oleng. Seketika itu juga Kai langsung menangkapnya.

"Luhan?," Suara panik Kai masih terdengar sebelum semuanya ditelan dalam kegelapan.

"Tuan Luhan hamil, selamat tuan," dokter tua itu menyalaminya dengan penuh semangat, "Akhirnya ada calon penerus Kim Kai yang akan terlahir"

Kai pucat pasi. Dokter itu terus berceloteh tentang kehamilan dan calon bayi mereka, tetapi yang ada di benak Kai hanyalah mimpi buruk. Mimpi buruk yang selama ini coba dia lupakan, tetapi sekarang kembali datang menghampirinya. Kai menyuruh Chanyeol mengantar kepergian dokter itu, dan kemudian Chanyeol kembali dan menatap Kai dengan cemas. Lelaki itu tentu tahu apa yang berkecamuk di dalam hati Kai.

"Dia hamil," Kai mengulang pemberitahuan dokter tadi, meskipun dia tahu Chanyeol sudah mendengarnya, dia hanya ingin mengucapkannya supaya benar-benar yakin bahwa mimpi buruk itu ternyata telah menjadi nyata.

"Kondisi Tuan Luhan sangat sehat Tuan…"

"Sehat katamu?," Kai membentak marah, "Dia tadi pingsan di depanku, tampak pucat dan begitu lemah!"

"Tetapi Tuan Luhan tidak sama dengan…"

"Diam!," Kai menggeram marah, "Luhan tidak boleh hamil!," serunya memutuskan.

Luhan membuka matanya dalam cahaya temaram di kamar Kai. Yang ditemukan pertama kalinya adalah Kai yang sedang duduk muram di kursi samping ranjang, sepertinya lelaki itu sedang menunggunya tersadar.

"Apa yang terjadi?," tanya Luhan lemah, memegang kepalanya dan mengernyit, masih pusing. Kai menatapnya tajam, tampak tidak suka dengan pemandangan Luhan yang mengernyit kesakitan.

"Kau hamil," gumamnya datar.

"Oh," Luhan terkesiap, otomatis langsung memegang perutnya dan menutupinya dengan gerakan melindungi. Kai mengikuti arah pandangan Luhan dan ekspresi wajahnya mengeras.

"Kau harus menggugurkannya." Kali ini Luhan benar-benar terkejut dengan kata-kata Kai sampai hampir terduduk dari ranjang. Tetapi rasa pusing langsung menghantamnya, hingga dia terbaring lagi.

"Apa Kai?," Luhan menatap Kai tak percaya. Dia tahu lelaki ini memang kejam. Tetapi meminta Luhan mengugurkan kandungannya, yang adalah darah dagingnya sendiri benar-benar di luar dugaan.

"Aku tidak menginginkan anak itu, kau harus menggugurkannya"

"Tidak!," Luhan berseru. Seketika wajahnya pucat pasi, tangannya langsung melindungi perutnya. Luhan tidak tahu bagaimana laki-laki bisa hamil, dia tidak punya pengalaman. Tetapi begitu sadar bahwa ada bayi yang tumbuh dan berkembang di dalam tubuhnya, Luhan langsung tahu bahwa ada ikatan di antara mereka, bahwa seorang ibu secara alami akan melindungi anaknya. "Kau harus membunuhku dulu kalau kau berniat melaksanakan niatmu itu Kim Kai! Aku tidak tahu kegilaan apa yang ada di dalam otakmu, tapi kau seharusnya malu. Anak ini adalah darah dagingmu sendiri, dan kau berniat membunuhnya bahkan sebelum dia tumbuh!" Kai menatap Luhan dengan pandangan kesakitan,

"Aku tidak bisa Luhan, aku tidak bisa kalau kau hamil!," lelaki itu mengacak rambutnya dan berdiri menyeberangi ruangan, menuangkan brandy untuknya dan meneguk cairan keras itu sekali teguk. Ketika membanting gelasnya dan menatap Luhan, matanya menyala-nyala, "Baekhyun….. dia sempat hamil kau tahu… kemudian keguguran…"

Luhan tercekat ketika akhirnya topik itu dilepaskan oleh Kai. Nama Baekhyun seakan tabu untuk diucapkan ketika Luhan masuk ke rumah ini sebagai Tuan Kim. Dan sekarang Kai sendiriah yang mengangkat topik itu ke permukaan.

"Tetapi kondisiku dan Baekhyun berbeda, aku sehat-sehat saja…"

"Yang tidak orang lain ketahui adalah Baekhyun hamil lagi setelah keguguran itu," Mata Kai nyalang, ingatannya kembali ke masa lalu, seakan tidak menyadari ada Luhan di ruangan itu, "Aku tidak tahu bagaimana caranya dia membuatku lengah dan hamil lagi. Demi Tuhan aku sudah berusaha agar dia tidak hamil lagi, aku bahkan sudah membuat janji temu dengan dokter untuk operasi vasektomi. Tapi Baekhyun berhasil hamil lagi dan dengan keras kepala dia menyimpan rahasia itu dariku dan semua orang. Takut kalau kami mengetahuinya dia akan meminta kami menggugurkannya," Nafas Kai tercekat, "Ketika dia meninggal seperti tidur di atas ranjang, dokter baru mengetahui dan mengatakan padaku bahwa Baekhyun sudah hamil tiga bulan. Kehamilannya itulah yang memperburuk kondisinya dan membuatnya semakin lemah….. kehamilan itu yang membunuhnya!"

"Tapi aku tidak sama dengan Baekhyun, Kai," Luhan menyela, berusaha mengembalikan Kai ke masa kini, "Aku sehat dan kuat dan bayi ini tidak akan membebaniku"

"Aku tidak mau kau sakit karena kehamilanmu!," Kai menyela marah, dan ketika menyadari wajah Luhan memucat karena suaranya yang meninggi, Kai memperlembut suaranya, tatapannya memohon, "Aku minta padamu Luhan, gugurkan bayi itu. Tidak akan pernah ada bayi di rumah ini, tidak akan pernah ada bayi di pernikahan kita. Aku tidak menginginkan bayi"

Dada Luhan bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, teganya Kai dan betapa egoisnya dia! Betapapun Kai merasakan trauma dan ketidaksukaan yang mendalam atas kehamilan Luhan, seharusnya lelaki itu sadar kalau yang ada di perut Luhan ini adalah darah dagingnya, anaknya! Sebegitu tidak berharganyakah Luhan di mata Kai sehingga dia harus mengorbankan janin yang dikandungnya atas nama kenangan Kai kepada Baekhyun?

"Tidak Kai," Luhan menegakkan dagu, menahankan sakit hatinya yang meluap-luap. "Aku tidak akan pernah mengugurkan bayi ini apapapun alasannya, meskipun kau hanya menganggapnya sampah…," Luhan menatap Kai dengan tatapan terluka yang dalam, "Meskipun kau melupakan fakta bahwa dia ada karena dirimu juga…dia adalah anakku, dan sekarang dia bertumbuh di dalam diriku. Seperti yang kubilang kepadamu tadi, kalau kau memaksakan kehendakmu kepadaku, kalau aku sampai kehilangan anak ini karena kesengajaanmu, maka yang kau dapatkan adalah kematianku"

Kai tertegun mendengar ancaman Luhan itu, dia menatap Luhan dan menyadari laki-laki itu terluka. Kai terlalu terburu-buru mengucapkan isi hatinya, dan itu melukai Luhan. Dengan frustrasi diacaknya rambutnya setengah marah,

"Dengar Luhan, jangan kekanak-kanakan, kalau kau hanya ingin menentangku…"

"Aku tidak ingin menentangmu!," Luhan setengah berteriak, kali ini emosinya pecah dan berderai, "Aku tidak peduli perasaanmu atas masa lalumu dengan Baekhyun, tetapi aku sekarang ada di sini, hidup dan bernafas saat ini. Dan kau memaksaku untuk menggugurkan anakku! Menurutmu apa yang harus kulakukan selain melindungi anakku sekuat tenaga? Anakmu juga!"

Anakmu juga. Kata-kata itu terasa menusuk dada Kai hingga membuatnya mengernyit. Anaknya juga…. Tetapi anak itu bisa menjadi pembunuh, Kai pernah mengalaminya sekali. Dan jika dia harus mengalaminya lagi…

"Mungkin nanti kau akan berubah pikiran"

"Tidak akan Kai." Luhan menyentuh kepalanya yang mulai berdenyut-denyut lagi. Dan Kai menatapnya dengan cemas,

"Apakah kau pusing lagi?"

"Ya," Luhan mengerang dan memijit kepalanya.

"Aku akan mengambilkanmu air," Kai menuang air itu ke dalam gelas dan duduk ditepi ranjang, lalu menyerahkan gelas itu kepada Luhan, "Ini… minumlah"

Luhan menerima gelas itu dan meneguknya. Setelah selesai Kai meletakkan gelas itu kembali di tepi ranjang. Mereka diam di sana dalam keheningan, saling bertatapan. Biasanya suasana tidak secanggung ini. Biasanya setiap malam Kai langsung mengajaknya masuk kamar dengan bergairah yang berlanjut dengan percintaan yang luar biasa dan mereka langsung tertidur sampai pagi. Tetapi sekarang keadaan berbeda. Kai tidak bisa memecahkan keheningan dengan bercinta. Dan pembicaraan tadi ternyata telah menguras emosi mereka berdua. Luhan-lah yang pertama kali memecah keheningan,

"Kau ingin tidur?"

Kai menatap ke sisi tempat tidur yang kosong. Sisi miliknya. Dan tiba-tiba merasa lelah. Luhan menggeser tubuhnya memudahkan Kai untuk berbaring. Lelaki itu berbaring di sebelahnya dengan tenang tanpa suara, hanya suara berdesir kain yang bergesekan. Lama mereka berdua berbaring dengan mata yang nyalang, sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Sampai akhirnya mereka lelap tertelan tidur.

Pagi harinya suasana begitu dingin, Kai seolah tidak mau membahas percakapan mereka semalam, tetapi walaupun begitu, Luhan tetap waspada. Mengingat sifat Kai, tidak menutup kemungkinan lelaki itu akan melakukan segala cara untuk melaksanakan keinginannya. Dengan memasukkan obat penggugur di minumannya misalnya, siapa yang tahu? Mengingat lelaki itu pernah membiarkan minumannya dicampuri obat oleh Chanyeol.

Luhan mengelus perutnya dan mengernyit sedih, meskipun bayi ini tidak diinginkan oleh ayahnya, meskipun perasaannya sekarang terluka karena Kai lebih mementingkan kenangannya akan Baekhyun daripada dirinya yang sekarang ada dan hidup di depannya, Luhan harus berusaha tegar dan kuat, demi anak ini.

"Anda akan mempertahankan anak itu kan?," suara Chanyeol menyentakkan Luhan dari lamunannya. Lelaki itu sedang memasuki ruangan yang sama dengan Luhan. Luhan menatap Chanyeol dan mencoba tersenyum, Chanyeol sangat baik dan sopan padanya ketika dia memasuki rumah ini. Chanyeol pulalah yang menjelaskan kepadanya kebenaran dan merubah semua pandangannya akan Kai.

"Aku akan menjaganya dengan nyawaku. Kau harus berhadapan denganku dulu kalau kau ingin mencelakai anak ini" Senyum terukir di bibir Chanyeol,

"Tidak Tuan, Tuan Kai tidak pernah menyuruh saya mencelakai anak itu. Bahkan jika Tuan Kai menyuruhpun, saya akan menolak, anak itu adalah keturunan Kim yang harus saya hormati pula"

Kelegaan meliputi hati Luhan, setidaknya ada orang yang mau membela anaknya. Kemudian Luhan menatap Chanyeol dengan ragu,

"Apakah kau tahu bahwa Baekhyun meninggal karena dia mencoba mengandung untuk kedua kalinya?" Chanyeol menatap Luhan hati-hati dan menganggukkan kepalanya,

"Saya tahu, setelah kematian Nyonya Baekhyun. Hal itulah yang menghancurkan Tuan Kai, bahwa dia sebenarnya berkontribusi dalam kematian Nyonya Baekhyun. Nyonya Baekhyun bisa hidup lebih lama seandainya tidak hamil….," Chanyeol menghela nafas panjang dan menatap Luhan lembut, "Saya harap Anda memahami perasaan Tuan Kai"

"Dia selalu menganggapku sebagai pengganti Baekhyun, dia menganggapku sama seperti Baekhyun," Luhan memejamkan matanya pedih, "Anak ini anaknya, tetapi dia menyuruhku mengugurkannya," Chanyeol menatap perut Luhan dan tatapannya melembut di sana,

"Saya yakin Tuan Kai tidak pernah menganggap Anda sebagai pengganti Nyonya Baekhyun. Jika dia hanya menganggap Anda sebagai boneka pengganti, dia tidak akan menunjukkan emosinya kepada Anda. Anda tidak akan diperlakukan olehnya dengan begitu hormat, yang bisa saya katakan, apa yang dilakukan Tuan Kai adalah karena dia peduli kepada Anda?"

Peduli kepadanya? Bagaimana bisa? Kai menyuruhnya menggugurkan anaknya. Bagaimana bisa itu disebut kepedulian?

"Tuan Kai menginginkan anak itu digugurkan karena dia mencemaskan keselamatan Anda. Dia takut Anda akan celaka dan meninggal seperti Baekhyun, dia takut kehilangan Anda" Luhan menatap Chanyeol dengan tak percaya,

"Dia tak mungkin takut kehilanganku"

"Percayalah kepada saya," Chanyeol tersenyum lembut. "Tuan Kai memang tidak pernah pandai menunjukkan perasaannya, tetapi kalau memperhatikan Anda akan tahu," Chanyeol membungkukkan tubuhnya, lalu berpamitan dan meninggalkan Luhan dalam keheningan.

"Apakah kau sudah berubah pikiran tentang usulanmu semalam?," Luhan menatap Kai yang baru saja memasuki kamar, tidak biasanya Kai memasuki kamar sedemikian larut, dan lelaki itu tampak lelah. Kai menatap Luhan sekilas, lalu melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi, ketika keluar dari sana, lelaki itu tampak segar dengan piyama hitamnya,

"Aku tidak mau membahasnya lalu membuatmu marah-marah sepanjang malam," dengan kasar Kai menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah, kemudian melempar handuk itu dan menatap Luhan,

"Kau pasti akan keras kepala dan tetap pada pendirianmu, mempertahankan anak itu"

"Tentu saja, aku tidak akan menerima kemauan konyolmu untuk menggugurkan anak ini karena anak ini tidak bersalah"

"Kita akan berdebat lagi malam ini ya," Kai mendesah lelah, "Aku lelah Luhan, yang aku tahu, anak ini akan melukaimu lalu membunuhmu"

"Kai," seru Luhan setengah marah, "Dia hanya janin kecil yang tidak berdaya!"

"Oke!," lelaki itu membentak, tampak tak tahan dengan semua perdebatan mereka, "Silahkan, lanjutkan kehamilanmu itu… tetapi..," mata Kai menajam, "Kalau sampai kau kenapa-kenapa gara-gara kehamilan ini, aku tidak akan berkompromi"

Kai mengalah. Luhan terpana, sebelumnya Kai tidak pernah mengalah secepat itu. Luhan tadi sudah mempersiapkan argumen yang panjang, pembelaan mati-matian, bahkan ancaman putus asa menyangkut kehamilannya ini. Dan Kai semudah itu mengalah kepadanya.

"Kenapa?," Kai menatap Luhan marah, tampak tak nyaman dengan tatapan takjub Luhan, Luhan langsung mengalihkan pandangannya dengan pipi merona, "Tidak, tidak ada apa-apa"

"Tetapi aku punya satu syarat," gumam Kai tenang, seolah-olah baru mengingatnya. Luhan terkesiap dan menatap Kai waspada, dan reaksi itu membuat Kai menahan tawanya. "Tenang Luhan, kau tegang seperti senar yang akan putus, aku tidak sedang akan menjatuhkan bom ke kepalamu"

"Apa syaratmu?" Pandangan Kai berubah sensual,

"Aku tidak mau kehamilan itu menggangguku jika aku menginginkanmu" Pipi Luhan memerah, tersipu sekaligus marah atas kata-kata egois Kai. Jangan-jangan itu adalah salah satu usaha Kai mengganggu kehamilannya…

"Baik," Luhan mendongakkan kepalanya, mencoba terlihat menantang, "Asalkan kau melakukannya dengan lembut dan tidak melukai bayiku" Kai hanya menganggukkan kepalanya, ketika dia akhirnya menatap Luhan, matanya menyala dengan sensual,

"Apakah kau masih pusing seperti semalam?" Luhan tidak pusing lagi. Tetapi kearoganan Kai yang tersirat itu membuatnya ingin menantangnya. Kai pasti akan bercinta dengannya ketika Luhan sudah tidak pusing. Dan Luhan tidak akan bisa. Tidak akan mampu menolak pesona gairah Kai. Dengan berpura-pura dia memegang kepalanya, mengernyit,

"Sebenarnya aku masih pusing"

"Benarkah?," Kai menatapnya tajam bercampur kecemasan, "Kau sudah minum obat penambah darah dari dokter? Mereka bilang kau kurang darah"

"Sudah…," sedikit geli Luhan melirik Kai, tetap berusaha berakting kesakitan.

Lelaki itu menatap Luhan lama dan intens, tampak menggertakkan gigi. Semula Luhan bingung kenapa, tetapi ketika dia melirik ke bawah, dia menyadari bahwa Kai sudah siap, keras, dan bergairah di sana. Lelaki itu sudah begitu bergairah, dan Luhan tinggal bilang ya, lalu mereka akan bercinta di ranjang dengan penuh gairah seperti biasa… tetapi tidak! Luhan tidak akan membuat itu begitu mudah bagi Kai, Luhan ingin menghukum Kai karena hatinya masih sakit atas usulan Kai untuk menggugurkan kandungannya.

"Aku pusing sekali," Luhan sengaja membuat suaranya terdengar lemah, "Aku mau tidur," Dengan gerakan sakit dibuat-buat Luhan mengangkat selimut ke bahunya dan membuat posisi tidur yang nyaman.

Kai hanya berdiri sejenak di tengah ruangan itu dan menatap Luhan. Dia sudah dua hari tak bercinta dengan isterinya itu. Biasanya setiap hari. Dan itu semua karena kehamilan itu. Tapi mau bagaimana? Dia tidak mungkin memaksa Luhan yang sedang sakit kan?

Sedikit mendesah, merasakan kejantanannya yang begitu keras sampai terasa nyeri. Kai melangkah ke ranjang dan membaringkan diri, tetapi Sialan! Dia tidak bisa tidur, gairah terlalu menggelegak di dalam dirinya, meminta dipuaskan.

"Kai," suara Luhan menggugah penyiksaan yang dialaminya.

"Apa Luhan?," Kai menjawab kasar. Diam-diam Luhan tersenyum mendengar nada tersiksa dalam suara Kai. Rasakan kau, Tuan Kim Kai yang arogan, soraknya dalam hati,

"Aku… aku pusing…, maukah kau memijit kepala dan pundakku?"

Mata Kai menyala ketika menatap mata Luhan. Laki-laki ini menatapnya tanpa dosa. Tidakkah dia tahu bahwa permintaannya ini menambah penderitaan Kai? Memijit Luhan? Dalam kondisi bergairah dan ingin dipuaskan seperti ini? Bagaimana Kai bisa menahan diri, ketika jemarinya menyentuh kelembutan kulit Luhan di tangannya?

"Oke, berbaliklah," Kai menggeram lagi. Luhan tidak pernah meminta tolong kepadanya, dan kalau Luhan melakukannya, itu berarti Luhan benar-benar kesakitan.

Jemari Kai bergerak menyentuh kepala Luhan, ke helaian rambut seperti sutera yang terasa lembut di jemarinya. Helaian itu biasanya adalah tempat Kai menenggelamkan kepalanya ketika dia mencapai orgasmenya yang luar biasa nikmat di atas tubuh isterinya…. Sial! Jangan pikirkan tentang itu, Man!

Kai memijit dan seolah belum cukup siksaannya, selama proses itu, Luhan terus-menerus mendesah keenakan karena pijatan Kai. Bahkan kadang mengerang, persis seperti erangannya ketika Kai mencumbunya, dan itu luar biasa menyiksanya. Kejantanan Kai sudah berdenyut-denyut, dan Kai merasa dirinya hampir meledak karena gairah, gairahnya kepada Luhan.

"Sudah cukup?"

"Aku masih sedikit pusing di sisi ini," Luhan memiringkan kepalanya, memamerkan pundaknya yang hangat dan halus, membuat Kai ingin mengigit lembut di bagian lunak disebelah sana…

Sial. Sial. Sial! Sambil terus memijit Luhan, Kai menyumpah terus menerus dalam hati, Kemudian ketika Luhan tampak santai, Kai melepaskan pijitannya dengan hati-hati. Bagus. Luhan sudah tertidur. Sekarang mungkin dia akan mandi dengan air dingin, kalau tidak dia akan terbakar semalaman di atas ranjang ini. Menderita karena tak terpuaskan. Dengan tak kalah hati-hati, Kai bergerak turun dari ranjang, hendak melangkah ke kamar mandi.

"Kai" Hampir saja Kai mengerang mendengar panggilan Luhan,

"Apa Luhan?," desis Kai serak

"Sekarang aku sudah tak pusing lagi" Hening. Kai tertegun sejenak, kemudian menyadari arti kata-kata Luhan, dia langsung membaringkan kembali tubuhnya di ranjang, sepenuh gairahnya.

"Bagus," bisiknya parau lalu membalikkan tubuh Luhan dan melumat bibirnya tanpa ampun, Gairahnya yang menggelegak tidak ditahan-tahannya lagi, Kai menyentuh Luhan di mana-mana, menikmati kepemilikannya atas tubuh isterinya, menikmati betapa tubuh Luhan yang lembut dan hangat itu menggelenyar di setiap sentuhannya. Nipple Luhan tampak lebih berisi, mungkin karena kehamilannya. Ketika akan menyentuhnya seperti biasanya, Kai tertegun dan menatap Luhan,

"Apakah aku akan menyakitimu?" Luhan tersenyum meminta pengertian,

"Sedikit nyeri di bagian situ," desahnya.

Kai tidak mengatakan apa-apa, lelaki itu hanya mengecup ujung nipplenya, lalu memainkannya dengan lidahnya lembut, tangannya menelusur ke bawah dan menyentuh pusat kejantanan Luhan, menemukan bahwa Luhan sudah siap dan bergairah untuknya. Dengan menahan dirinya, Kai menindih Luhan dan menyatukan tubuhnya, berusaha menahan diri supaya berhati-hati, karena isterinya ini sedang hamil, Ya ampun!

Tubuh mereka menyatu, dan Kai bergerak selembut yang dia bisa. Tetapi gairah menyala-nyala di seluruh aliran darahnya ketika akhirnya Luhan mencapai orgasme, membawanya juga terjun bebas dalam jurang kepuasan yang dalam.

Hubungan mereka membaik kembali meskipun sedikit kaku. Dan semakin bertambahnya usia kehamilannya. Luhan menyadari bahwa dia menyayangi suaminya. Ya, Luhan menyadarinya ketika dia merindukan Kai saat lelaki itu tidak ada di sisinya. Astaga… merindukan Kim Kai adalah hal terakhir yang ada di pikiran Luhan, tetapi itu memang terjadi. Sembilan bulan telah berlalu, sekarang perut Luhan sudah benar-benar buncit dan gerakannya lamban. Luhan bahkan sudah tidak bisa melihat lututnya sendiri karena terhalang perutnya.

Dengan lembut Luhan mengusap perutnya, mungkin karena anak ini, mungkin juga karena perubahan hormon. Luhan tidak tahu, yang pasti setiap dia ada di dekat Kai, perasaannya menjadi hangat.

Oh, Kai tidak berubah. Masih sama, begitu dingin, kaku, dan menakutkan bagi para pegawai dan rekan-rekan kerjanya, sekaligus begitu penuh kasih sayang di ranjang. Gaya bercinta Kai berubah sejak Luhan hamil,, bahkan ketika usia kehamilan Luhan beranjak makin tua, lelaki itu tidak menyentuh Luhan lagi. Dia hanya mengusap lembut rambut Luhan sebelum tidur. Dan meskipun masih belum kelihatan bisa menerima kehamilan Luhan, setidaknya Kai terlihat mencoba berkompromi.

Benarkah Kai sebenarnya mencemaskannya? Benarkah Kai sebenarnya tidak menganggapnya sebagai boneka pengganti Baekhyun? Luhan tidak tahu. Memikirkan itu semua membuat dadanya terasa sesak. Teringat akan sikap Kai selama kehamilannya. Lelaki itu memang bersikap lembut dan baik kepadanya, tetapi lelaki itu selalu berpura-pura bahwa kehamilan Luhan tidak ada.

Luhan tahu Kai seperti memperhatikannya. Pernah di suatu siang, ketika Luhan membawa buku-buku yang berat untuk dibawa ke kamarnya, dari sekelebat matanya, Luhan tahu bahwa Kai sudah akan berdiri untuk membantunya mengangkat buku-buku itu, tetapi tertahan karena Chanyeol sudah membantunya duluan. Pernah juga Luhan membaca buku tentang kehamilan dan persalinan di ranjang, tetapi Kai bahkan tidak mau meliriknya dan berpura-pura tidur. Luhan juga teringat ketika usia kandungannya lima bulan, Kai pernah memeluknya dalam tidur, mereka bercumbu siap bercinta, kemudian bayi itu menendang. Terasa kencang hingga menohok ke perut Kai. Kai langsung mundur, mengucapkan berbagai alasan dan beranjak pergi.

Sebegitu paranoidkah Kai dengan kehamilannya? Sebegitu takutkah Kai dengan bayi ini? Bukankah keberhasilan Luhan mengandung bayi ini hingga usia sembilan bulan tanpa permasalahan yang berarti sebenarnya sudah bisa membuktikan kepada Kai bahwa Luhan adalah calon ibu yang kuat dan sehat?

"Padahal kau tidak tahu apa-apa, Nak," Luhan mengusap perutnya dengan sayang, "Maafkan ayahmu yang konyol itu"

"Tuan, ada yang ingin bertemu," Chanyeol tiba-tiba muncul di pintu, mengalihkan Luhan dari lamunannya.

Key muncul di belakang Chanyeol, menggendong anak kecil yang begitu tampan, mungkin baru berusia dua tahun. Anak itu seperti malaikat dengan mata biru pucatnya yang menyala-nyala, mata Jinki,

"Aku dengar tanggal kelahiran pangeran kecil ini sudah dekat, dua minggu lagi ya?," Key masuk, meletakkan Yoogeun dengan lembut di sofa dan memeluk Luhan. Sejak pernikahannya dengan Kai, Luhan bersahabat erat dengan Key, dan Kai membiarkannya karena memang Key adalah satu-satunya teman Luhan.

"Bagaimana kondisimu sayang?," mereka duduk di sofa, berhadap-hadapan, mata Key menatap ke perut Luhan yang terlihat membuncit, "Kau harus banyak istirahat dan menjaga diri, awal-awal kehamilan adalah saat-saat yang paling penting" Luhan menganggukkan kepalanya dan tersenyum,

"Semoga anak ini kuat, aku hanya merasa pusing-pusing dan mual setiap saat" Key tertawa,

"Aku juga merasakan hal yang sama ketika mengandung Yoogeun, tapi di awal kehamilan bukan di akhir kehamilan," dengan sayang dia melirik putera pertamanya yang sekarang sudah melompat dari sofa dan asyik bermain-main di karpet dengan balok-balok yang dibawanya dari rumah, "Rahasianya ada pada teh mint dan biskuit asin, makan itu setiap bangun pagi dan kau akan bisa mengatasi morning sickmu"

"Terima kasih Key," Luhan menyentuh lengan Key, benar-benar tulus dengan ucapannya. Berhari-hari dilewatkannya bersama Kai yang selalu bersikap bahwa bayi itu tak pernah ada di perut Luhan, kini rasanya begitu menyenangkan bisa bercakap-cakap berbagi keluhannya dengan teman yang mengerti dirinya. Key menatap Luhan prihatin,

"Bagaimana dengan Kai?," Key tahu kisah tentang Baekhyun tentu saja. Luhan mendesah,

"Dia bersikap seolah-olah anak ini tidak ada…. Dan dia… tidak pernah sekalipun mengatakan bahwa dia menyayangi aku.. aku jadi tidak yakin apakah aku hanya pengganti Baekhyun atau.."

"Luhan….," Key menyela dengan lembut, "Kadang-kadang ada laki-laki yang tidak bisa mengungkapkan cinta dengan kata-kata. Kau sendiri, pernahkah kau mengungkapkan cinta kepada Kai?"

"Tidak mungkin! Dia akan menggilasku begitu saja kalau aku mengatakannya," pipi Luhan merah padam. Key tersenyum,

"Dan apakah kau mencintai suamimu, Luhan?"

"Aku tidak tahu," Luhan memegang pipinya yang mulai terasa panas, "Perasaanku berubah,,,, dulu aku begitu membencinya, tetapi kemudian aku dihadapkan pada kenyataan demi kenyataan, bahwa dia bukan seperti yang aku kira… Lalu aku memandangnya dengan lebih baik… sekarang bahkan aku merindukannya ketika dia tidak ada, apakah itu cinta, Key?" Senyum Key melembut,

"Aku pernah ada di posisi di saat aku bertanya-tanya tentang perasaanku, rasanya memang membingungkan Luhan. Kuharap kau menyadari perasaanmu terlebih dahulu sebelum kau meminta Kai menjelaskan perasaannya".

Luhan menganggukkan kepalanya, kemudian serangan kram itu datang. Hanya sekejap seperti hantaman yang begitu keras. Ketika Luhan menggerakkan tubuhnya, hantaman itu terasa lagi. Lebih keras dan menyakitkan. Lalu dia merasakan basah, basah yang aneh. Dia mendengar suara Key yang terkesiap, dan mengikuti arah pandangan Key, ke tengah pahanya….. di sana, merembes darah yang banyak menembus pakaiannya.

Wajahnya pucat pasi, apakah bayinya akan lahir lebih cepat dari tanggal perkiraan? Tetapi setahu Luhan proses kelahiran bayi tidaklah seperti ini, biasanya didahului dengan air ketuban yang pecah atau keluarnya darah…tapi bukan pendarahan seperti ini. Ketika merasakan hantaman rasa sakit yang terus menerus memukulnya, Luhan mengernyitkan matanya, darah itu terus mengucur, terus, dan terus hingga membasahi celananya. Ada sesuatu yang salah di sini!

"Oh Tuhan, Luhan, aku harus memanggil ambulance…"

Chanyeol langsung datang dengan sigap, begitu pula para pelayan, tetapi ketika kesakitan yang begitu kuat menghantamnya untuk kesekian kalinya, Luhan tidak kuat. Kegelapan langsung menelannya, membuatnya tak sadarkan diri.

TBC

Annyeong, chingudeul :D

Mianhae aku telat ngepost ff remake'a ini #deepbow

Gomawo buat yg masih setia baca ff remake'a ini & jg yg nge-review ff remake'a ini ne #deepbow

Big Thanks to Review buat ff ini #mianhae klo ga menyebutkan namanya satu-persatu ne #deepbow

Aku juga mau ngucapin ultah buat Kai : Saengil chukkahamnida Kai! Wish you all the best and success forever with EXO ^_^

#HappyKimJonginDay

#HappyKaiDay

#Happy22thKaiDay

Kamsamhamnida chingu :D #deepbow

Ditunggu reviewnya chingu :)