Chapter 11 – Sweet Dreams That Feels Painful

.


Summary

Pagi harinya, Hazuki demam tinggi sehingga Yona meminta agar yang lain menyerahkan soal merawat Hazuki padanya dan Yun. Setelah Yona puas bicara dengan Lily, Hak mengajak Yona bicara karena menyadari perubahan sikap Yona padanya. Malam hari saat ia merasa demamnya turun, Hazuki pergi ke pekarangan. Melihat bulan purnama, ia kembali meneteskan air mata dan di saat itulah, seseorang menepuk bahunya dari belakang.


Lily tak bisa bertanya apapun semalam dan baru sempat bertanya sekarang "Yona!? siapa gadis ini sebenarnya? Kenapa kau biarkan dia tidur dengan Hak?".

Yona langsung menutup mulut Lily "tak apa-apa, Lily... wajar kan kalau kakak adik tidur bareng?".

"hah? kakak adik?".

"eh... panjang jika diceritakan, yang jelas Hazuki adalah adik kembar Hak...".

"seriusan!? kok nggak mirip!?".

Hak mengetuk pintu kamar dan masuk "karena dari indung telur yang berbeda, makanya kami lahir sebagai kembar non identik, wajar nggak terlalu mirip... aku mirip dengan ayahku dan Hazuki mirip ibuku, hanya warna mata kami yang tertukar karena mata ibuku menurun padaku dan mata Hazuki itu turunan dari ayah kami... bagaimana kondisinya?".

"demamnya belum turun" ujar Yona mengompres Hazuki "sebenarnya memang dari kemarin sudah kurasakan kalau tubuhnya agak panas, seharusnya aku lebih berhati-hati".

Hak menghela napas, duduk di ranjang dan mengelus dahi Hazuki "dari dulu, setiap kali dia demam, pasti tinggi sekali... padahal biasanya sehat...".

"apa karena pengaruh cuaca, ya?" gumam Kija.

"atau karena kondisi disini yang beda dengan di Xing?" ujar Yun.

"mungkin dia kelelahan..." ujar Jae Ha menghela napas "masalah dengan putri Kou Ren pasti sudah membuatnya kelelahan lahir dan batin... apalagi dia berusaha keras sendirian...".

"biasanya, tipe gadis seperti nona besar yang selalu berjuang sendirian dan tidak ragu untuk menolong orang lain tapi tak mengharapkan bantuan orang lain, itu karena dia tak ingin bergantung pada orang lain dan menyusahkan orang lain... tipe keras kepala yang tak mau memperlihatkan sisi lemahnya kecuali di hadapan orang yang ia percaya, atau saat ia tak tahan lagi... sebenarnya itu karena ia biasa bersikap kuat dan bisa diandalkan sehingga ia kikuk dalam mengungkapkan perasaannya..." ujar Zeno.

"seperti seseorang..." ujar Jae Ha terkekeh.

Karena mereka berisik, Hazuki terbangun dan Yona yang duduk di sampingnya memeriksanya "Hazuki, demammu masih tinggi, tidur saja lagi... kau pusing tidak?".

"...kenapa Yona jadi ada dua?" gumam Hazuki melihat ke arah Yona.

"tidur sana!?" pekik Hak dan Yun.

"dokter sudah memeriksanya dan memberinya obat, biarkan saja dia istirahat... nah, sekarang, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi baru-baru ini di kamar sebelah sekalian sarapan..." ujar Lily mengajak Yona dkk ke kamar sebelah.

"Hazuki, sarapanmu dimakan sebelum minum obat, ya" ujar Yun menaruh semangkuk bubur di atas meja dan memicingkan mata "yah, dia tidur...".

Setelah itu, Yona dkk menceritakan apa yang terjadi baru-baru ini di kerajaan Xing serta identitas Hak dan Hazuki yang sebenarnya. Reaksi Lily, Ayura dan Tetora? Terkejut, (tentu saja!?) dan Lily tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk menjodohkan sahabatnya.

"nah, setelah apa yang baru-baru ini terjadi, kalian pasti lelah... jadi tinggallah beberapa hari disini, lagipula kalian juga tak mungkin berkeliaran sementara masih ada anggota kalian yang sakit, kan?" ujar Lily dengan senyum lebar, dalam hatinya ia ingin menggunakan ini sebagai kesempatan.

"terima kasih atas bantuanmu, Lily... kami sangat terbantu..." ujar Hak.

"tak masalah... oh, silahkan santai saja, aku ingin bicara berdua dengan Yona dulu" ujar Lily menarik Yona pergi.

Lily bisa membaca keanehan yang dimiliki Yona "jadi itu sebabnya, kenapa kau terlihat banyak pikiran... aku mengerti, apa yang terjadi pasti membuatmu bingung, tapi sebenarnya apa yang kau pikirkan sekarang? yang jelas tentang mereka berdua, kan?".

Yona tersenyum sendu dan menundukkan kepalanya, ia memeluk lutut saat duduk di samping Lily "Lily, aku mendapat mimpi tepat pada malam setelah aku tahu identitas mereka berdua... mimpi tentang kehidupan sehari-hari begitu, mimpi yang indah... saking indahnya, terasa menyesakkan dan menyakitkan hati...".

Yona menceritakan mimpinya, dimana ia melihat seorang wanita dan pria bertemu, tak lain adalah Maya dan Hakuya. Pernikahan keduanya direstui, lahir tiga orang anak yaitu Hak, Hazuki dan si bungsu, perempuan yang diberi nama Yue. Yona bertemu dengan Hak, saling jatuh cinta dan menikah sehingga hubungan kerajaan Kouka dan kerajaan Xing membaik dan kedua kerajaan bersatu.

"menurutmu itu konyol?" ujar Yona tertawa.

"Yona, aku tak merasa perasaanmu yang sungguh-sungguh itu sebagai kebodohan... apa kau merasa bersalah pada Hak dan Hazuki?".

"merasa bersalah, ya... mungkin..." ujar Yona mendongakkan kepala "sebab, apa yang telah dilakukan oleh paman Yu Hon 17 tahun yang lalu pada tahanan kerajaan Xing bukanlah sesuatu yang bisa dimaafkan...".

"tapi Yona, yang melakukannya kan pamanmu, kenapa malah kau yang merasa bersalah?".

"aku memang merasa bersalah, tapi pada tahanan kerajaan Xing yang dibunuh paman Yu Hon... terhadap Hak dan Hazuki, aku hanya..." ujar Yona terdiam sesaat.

Yona menceritakan bagaimana reaksi Hak dan Hazuki juga soal mereka yang berziarah ke makam kedua orang tua Hak "Hak dan Hazuki bahkan tak menangis... mereka berdua kuat... sangat kuat... tapi saat aku melihat punggung mereka berdua, terasa kesedihan mendalam yang tersembunyi, saking sedihnya seolah aku melihat mereka berdua menangis... tangisan tanpa air mata, karena saking sedihnya seolah air mata mereka tak sanggup keluar... mereka berdua sama saja, sama-sama tak mau memperlihatkan luka mereka berdua pada siapapun, seolah hanya bisa menangis dalam hati... itu membuatku seolah bisa ikut merasakan sakitnya... karena aku tak bisa melakukan apapun, aku hanya bisa berharap... kalau mereka berdua bisa bahagia... dan aku bisa melihat senyuman tulus mereka, di saat semua luka mereka berdua sudah sembuh... meski lukanya harus meninggalkan bekas...".

Melihat Yona meneteskan air mata sambil mendongak, Lily yang merasa matanya pedas memeluk Yona dengan mata berkaca-kaca "oke, cukup... kita nangis sama-sama...".

"kenapa kau malah nangis?".

"entah kenapa, aku jadi ikut merasa sedih lagipula kau nangis duluan...".

"kalau gitu, jangan ikut nangis, dong".

"kau juga nangis, kan?".

Yun dan yang lain terkejut sekaligus heran melihat Yona dan Lily berpelukan sambil menangis di pekarangan rumah.

"mereka berdua kenapa lagi?" gumam Hak yang heran.

Puas menangis, Lily mengajak Yona jalan-jalan keluar. Bendungan tempat mereka bisa melihat matahari sore sangat indah.

"oh, bicara soal Hak, apa reaksi teman-temanmu?".

"begitulah, biasa saja".

"lalu kenapa kau sendiri malah menjaga jarak darinya? Malu, ya? mentang-mentang yang kau hadapi itu pangeran kerajaan Xing...".

"bukan itu, tapi..." ujar Yona teringat kembali apa yang terjadi baru-baru ini, dan ia menutupi wajahnya yang memerah "ah, Lily!? Aku malu sekali?! karena aku telah melakukan hal yang memalukan!?".

"tunggu, apaan sih?!".

"...pernapasan buatan masuk ciuman juga, nggak?".

Lily melongo mendengar pertanyaan Yona "Yona, jadi kau... ah, maksudmu kau sudah...".

Kondisi saat itu memang darurat, tapi tetap saja, pernapasan buatan itu membuat Yona malu setengah mati bahkan Yona tak tahu harus bagaimana menghadapi Hak secara langsung jika melihat Hak karena teringat apa yang ia lakukan.

"gara-gara kejadian itu, kalau melihat bibir Hak aku jadi teringat yang itu... dan kalau melihat punggungnya, entah kenapa aku jadi ingin memeluk Hak dari belakang sekuat tenaga... dan sekarang aku bingung, bagaimana aku bersikap sewajarnya pada Hak? sejak kapan aku jadi mesum begini, sih..." ujar Yona menutupi wajahnya yang merah padam.

"tidak, tidak, kurasa reaksimu itu masih wajar, kok..." ujar Lily mengayunkan tangan "lalu, bagaimana reaksi teman-temanmu soal itu? Hak masih tak tahu soal itu?".

Yona mengangguk "soalnya aku minta mereka semua tutup mulut... lagipula, mereka semua berpikir apa boleh buat karena kemarin itu situasinya kan darurat, tapi tetap saja... aku malu?!".

"kalau melihatmu yang seperti ini, entah kenapa aku jadi ingin tertawa terbahak-bahak... kau manis sekali~" ujar Lily memeluk Yona dari belakang sambil tertawa "omong-omong, Hazuki tidak bicara apapun soal kakaknya?".

Yona menggelengkan kepala "sejauh ini belum, sih... aku tidak tahu kalau ke depannya, ya... soalnya, tanpa kuberitahu sekalipun, Hazuki pasti tahu karena ia bisa melihatnya...".

Yona memberitahu kekuatan Hazuki, Reishi "karena itulah sebenarnya ia pasti tahu karena dia kan bisa melihat dalam isi hati kami... untung Hazuki bukan gadis yang mulutnya usil seperti Jae Ha atau usil perilakunya seperti Hak, kalau tidak... mati aku... dia pasti cerita pada kakaknya soal itu... mana itu ciuman pertamaku, lagi...".

"iya, ya... tapi berdoa saja yang terbaik dan berusahalah, aku pasti ada di pihakmu... sebab, seperti kata orang, cinta pertama biasanya tak terbalas... banyak yang bilang kalau cinta kedua itu yang akan berjalan lancar... jika ada yang bisa kubantu, katakan saja, kalau perlu biar kuberitahu Hak dan memintanya tanggung jawab karena sudah merebut ciuman pertamamu...".

"jangan, Lily!?".

Kembali dari pasar untuk belanja keperluan, Hak yang menemani Yun mengajak Yona bicara empat mata (meski tak bisa dibilang privasi karena ada yang mengintip mereka).

"sikapmu dari kemarin aneh... kau kenapa?" ujar Hak melipat tangan.

Yona memalingkan wajahnya "tak ada apa-apa, Hak... sungguh...".

Merasa makna ucapan Yona berkata sebaliknya, Hak memegang wajah Yona "coba katakan itu padaku sambil menatap mataku...".

"sudah kubilang, tidak ada apa-apa..." ujar Yona yang mengarahkan tatapan matanya ke arah lain.

Hak menghela napas dan melepas genggaman tangannya pada Yona "kau kepikiran atas apa yang terjadi baru-baru ini, kan?".

Yona diam karena tak bisa menyangkal, yang berarti dugaan Hak benar. Saat Hak kembali mendesaknya dan bersikeras takkan melepaskannya sampai Yona mengatakan apa yang telah membuatnya risau, akhirnya Yona menyerah.

"iya... aku kepikiran soal kau dan Hazuki... apa tak apa-apa jika kalian berdua tetap ikut dengan kami? Soalnya bukankah malam itu putri Kou Ren dan putri Tao sudah berniat untuk membawa kalian berdua, kan?".

"kau itu, ya... kenapa jadi kebanyakan mikir begitu? kalau kau pikirkan terus menerus, mana ada habisnya...".

"bukan itu, hanya saja... aku memang belum bisa melakukannya sekarang, tapi sudah kuputuskan suatu hari nanti saat semuanya selesai, untukmu yang mematuhi perintah ayahku, aku berniat untuk mengembalikan kembali kebebasanmu... tapi setelah mengetahui baik ayah dan ibuku sama-sama mempercayakanku padamu, aku jadi bingung karena makin sulit bagiku melepaskanmu jika ternyata ibu dan ayah malah menginginkan sebaliknya...".

Hak melipat tangan dan menghela napas "segitu tak sukanya kau jika aku berada di dekatmu? atau kau jadi membenciku setelah tahu kalau setengah darahku berasal dari kerajaan musuh?".

Yona tersentak, menatap Hak lurus "bukan begitu?! aku hanya tak ingin mengekangmu terus?! Tidak peduli separah apapun kondisimu sendiri, kau masih saja mengkhawatirkanku, bahkan setelah semua yang terjadi, bagaimana mungkin aku bisa membencimu hanya karena hal itu?! aku justru sangat bersyukur karena kau terus mendampingiku, tapi... jika memikirkan kalau ibu dan ayah yang seenaknya menempatkanmu di sisiku sebagai penjagaku tanpa memikirkan apa keinginanmu yang sebenarnya...".

"kenapa kau berpikir kalau kau merenggut kebebasanku? Aku menjadi pengawalmu dan terus menjagamu sampai sekarang karena ini memang apa yang ingin kulakukan... ini keputusan yang kuambil dan kujalani memang berdasarkan keinginanku sendiri, bukan hanya karena janjiku pada raja Il, jadi jangan berpikir kalau kau mengekangku dan merebut kebebasanku...".

"tapi... pada nyatanya memang kebebasanmu terenggut, kan? buktinya saja, kalau aku tak meminta Hazuki untuk mengantar kita ke makam orang tuamu, kemungkinan kau tak akan mengatakan kalau kau juga ingin kesana...".

"kenapa kau berpikir begitu? dan pembicaraannya mulai melantur...".

"maksudku, kau jadi tak bebas melakukan apa yang kau mau dan kau sendiri tidak bilang apa yang kau inginkan, padahal sudah kubilang untuk jangan ragu melakukannya jika ada yang kau inginkan, kan? ini masih berkaitan...".

Hak kembali menghela napas dan mengelus-elus kepala Yona "begini ya, apa yang terjadi pada orang tuaku memang menyakitkan bagiku dan Hazuki... tapi itu terjadi 15 tahun yang lalu dan bukan hanya kejadian itu yang membentukku... 'awal' kisahku mungkin tak berawal baik, tapi bukan itu yang menentukan aku akan menjadi apa, tapi prosesnya... semua yang terjadi padaku sampai sekarang, aku ingin menjadi apa dan apa yang kuputuskan, itu yang membentukku dan inilah aku sekarang... aku tahu aku tak sendirian, masih ada teman-temanku, adikku dan kau... jadi jangan berwajah sedih begitu... aku serius saat aku mengatakan kalau aku tak apa-apa...".

Sama seperti Yona melihat Hak akhirnya bisa tersenyum lagi setelah insiden di Sensui, Yona tak bisa menahan air matanya yang keluar karena lega kali ini.

Yona tertawa kecil dan menutupi wajahnya "aduh, lagi-lagi...".

"tuan putri... kenapa sih, kau selalu nangis setiap aku ngomong sesuatu?" ujar Hak heran dan menyeka air mata Yona.

"habisnya kau curang, Hak..." isak Yona merengut sambil menutupi wajahnya "kau tahu semua lukaku, tapi kau tak pernah membiarkan orang lain termasuk aku melihat lukamu... saat aku melihat punggungmu ketika kita berada di desa Hiouin, aku merasa seolah kau akan menangis... aku tahu kau tak mau memperlihatkan lukamu di hadapan yang lain, tapi justru itu membuatku ikut merasakan sakitnya...".

"aku tak selemah itu sampai harus memperlihatkan lukaku padamu... aku yang bertugas melindungimu, kau tak perlu mengkhawatirkan alatmu...".

"...andai waktunya tiba, jika kukatakan kalau aku membebaskanmu sebagai pengawalku dan kau mendapatkan kebebasanmu kembali, apa yang akan kau jawab? Apa kau akan kembali ke Xing bersama Hazuki?".

Hak tersenyum, ia berlutut di hadapan Yona sambil menggenggam tangan Yona dan mencium punggung tangan Yona "jika kau tak keberatan, izinkan aku untuk tetap mendampingimu dan berada di sisimu untuk melindungimu, hingga akhir hidupku...".

Yona meneteskan air mata, ia tersenyum lebar dan memeluk erat Hak "dasar kepala batu... tapi melihatmu yang barusan, aku jadi merasa kalau gelar pangeran itu cocok juga untukmu...".

"apa-apaan itu?" ujar Hak tertawa lepas sambil mengangkat Yona.

Karena sudah lama mereka tak berduaan, akhirnya keduanya pergi diam-diam untuk jalan-jalan sejenak sembari menunggu waktu makan malam.

"tapi aku agak terkejut karena kau langsung akrab dengan Hazuki".

"mungkin karena Hazuki itu mirip denganmu? jadi untuk berteman dengannya tak terlalu berbeda dengan saat aku bersamamu... walaupun aku khawatir pada Hazuki, sih...".

"soal apa?".

Teringat apa yang ia lihat malam itu, Yona memegang lengan Hak dan bertanya "...Hak, jika kita memang mencintai seseorang, apa wajar jika kita justru ingin membunuhnya? Apa menurutmu itu hal yang mungkin dilakukan? normalnya jika kita memang mencintai orang itu, bukankah kita justru akan menjaganya mati-matian?".

"menurutku itu mungkin saja, karena memang ada beberapa hal menyimpang dalam diri manusia untuk mengungkapkan perasaan mereka, kan? contohnya, meski kau menyukai seseorang, tapi kau malah bersikap sebaliknya seolah kau membencinya... jika tidak, takkan ada yang namanya salah paham, kan?".

Yona merenungkan kata-kata Hak, tapi pada akhirnya dia merasa kalau jawabannya tetap ada pada Hazuki dan ia takkan paham kecuali jika Hazuki memberitahunya. Sesampainya di tempat Lily, makan malam sudah siap.

"dari mana saja kalian?" ujar Yun yang memegang sendok sup.

"sudahlah, ibu... biarkan tuan putri dan pangeran berduaan..." goda Jae Ha yang akibatnya bisa ditebak, Hak meninjunya di dagu dan menginjak kepalanya.

Sebelum tidur, Lily menanyakan apa yang dibicarakan Yona dan Hak karena ia penasaran "dan... asal tahu saja, semua teman-temanmu ikut mengintip kalian berdua, tapi sayang kami tak tahu apa yang kalian bicarakan".

Hazuki terbangun, ia melihat Lily dan Yona tertidur di kasur yang mereka gelar di atas lantai sementara Hak tidur sambil bersandar di dinding bersama teman-temannya yang lain. Hazuki bisa melihat kalau selimut yang menyelimuti Hak dipakaikan oleh Yona, membuat Hazuki tersenyum dan keluar kamar. Lily dan Yona yang ikut terbangun mengikutinya. Di pekarangan, Hazuki mendongak menatap bulan purnama yang sama dengan kemarin malam. Saat air mata berlinang membasahi wajahnya, Yona menepuk bahunya dari belakang sehingga terlihat jelas Hazuki tengah menangis.

"...Hazuki, ada yang ingin kutanyakan padamu" ujar Yona.

Hazuki menyeka air matanya, berbalik menatap Yona dan Lily "kurasa... bukan hanya kau yang punya pertanyaan untukku, kan?".