Hai~ kali ini giliran S-idol vampire kita. Selamat menikmati :)

Warning : karakter OOC, ada OC, typo, dan segala macam kesalahan yang terkadang luput dari pandangan Author

Disclaimer : Diabolik Lovers bukanlah milik Author, hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfiction ini~


Mata untuk Seorang Idola

Meski sebenarnya Yuki sudah terbiasa melihatnya, tapi ternyata masih ada rasa ngeri juga. Ia bisa merasakan tatapan tajam para siswi yang mengaku "fans" itu pada Yui. Yah, ia sendiri juga tahu mengapa teman sejak kecilnya itu bisa berakhir seperti itu.

"Padahal saudara-ku sendiri dan lebih tua dariku, tapi tingkahnya masih saja seperti anak kecil," umpat Yuki pelan.

Mendadak ia mencium aroma orang itu yang membuatnya terdiam sejenak, seolah membeku. Tapi, ia berusaha tenang dan tidak panik. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat sosok orang yang baru saja ia pikirkan.

"Oh, Yuki-chan," ucap Kou.

Yuki membungkuk sopan pada Kou yang berjalan santai menghampirinya.

"Tumben sekali kau tidak bersama Emuneko-chan," lanjutnya. "Biasanya kalian berdua selalu terlihat bersama."

"Maksudmu Yui-chan?" tanya Yuki memastikan. "Kami berdua berbeda tahun, dia kelas 2 dan aku kelas 1. Apalagi dijam belajar seperti ini."

"Kau sendiri sedang apa ditempat ini?" tanya Kou.

Yuki hanya tersenyum sambil memandang pemandangan yang ada didepannya. Dirinya memang sengaja membolos kelas hari ini karena tidak tertarik dan memilih atap sekolah sebagai tempat pelarian. Pelajaran yang sama terus menerus diulang hingga dirinya merasa bosan. Tanpa sadar, dirinya melamun hingga tak sadar kalau Kou sedang bersamanya.

"Nee, Yuki-chan, kenapa kau berbohong pada Ruki-kun?"

Alis Yuki berkerut dan dirinya segera menoleh kearah Kou. "Maksudnya berbohong?"

"Ucapan yang kau katakan pada Ruki-kun kemarin," ujar Kou. "Kau berbohong, kan?"

Yuki hanya diam, tak mampu berkata apa – apa. Harusnya ia tahu bahwa percuma saja berbohong pada Mukami bersaudara, karena dirinya tak akan pernah bisa berbohong pada mereka. Terlebih lagi, dihadapan Kou dan Azusa yang memang mampu membedakan antara bohong dan benar.

Yuki meneguk ludah dengan susah payah, menghilangkan perasaan gugup yang sejak tadi melandanya. "Jika... aku memang berbohong, lantas kau mau apa?" tanya Yuki.

"Menjelaskan kenapa kau berbohong," jawab Kou santai.

Jika bisa, ia ingin mengatakan semua hal pada mereka. Namun, sekarang bukanlah waktu yang tepat. Apalagi, mereka sama sekali tidak mengenali dirinya dan hanya menganggap dirinya sebagai orang lain yang ikut campur begitu saja. Jika saja mereka bisa mengingat dirinya walau Yuki sendiri tidak merasa yakin. Karena selama ini, ia selalu gagal membuat mereka mengingat dirinya.

Bahkan membuat tragedi itu terulang kembali.

"Yuki-chan?" panggil Kou, menyadarkan Yuki dari lamunannya.

"Ah... iya, maaf," ujar Yuki. "Maaf Kou-san, aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Jika waktunya tiba, pasti akan kujelaskan."

Setelah itu, Yuki membungkuk sopan dan pergi dari hadapan Kou.

xxx

Kou hanya memperhatikan tingkah Yuki yang jelas – jelas melarikan diri darinya. Ia mendengus pelan dan kembali melanjutkan rencananya pada Yui. Sejak bertemu dengan gadis bernama Akatsuki Yuki itu, Kou selalu merasa aneh. Gadis itu selalu berkata jujur pada mereka. Bahkan tak tanggung – tanggung akan membantu menjalankan rencana Adam dan Eve mereka. Yuki berkata, ia melakukan hal itu untuk membalas budi kebaikan mereka yang mau menolongnya waktu itu. Namun, hanya karena itu saja ia mau membantu rencana mereka.

"Manusia... benar – benar menyebalkan," umpat Kou.

xxx

Dengan rakusnya, ia memakan sepotong roti yang ada ditangannya. Akhirnya, perutnya yang kosong terisi kembali setelah tiga hari tidak memakan apa – apa. Tapi, tentunya sepotong roti saja masih belum cukup untuk membuat perutnya diam. Ia kembali berdiri dan mengais tong sampah yang ada didekatnya untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan. Apa saja boleh, asalkan perutnya yang sejak tadi berbunyi diam. Tapi, karena penglihatannya tidak terlalu jelas ia berhenti mengais. Ia mengusap – usap mata kirinya dengan kasar dan kembali mengais makanan.

Ia menghela napas keras, kecewa. "Sudah tak ada lagi," ucapnya lirih.

Karena percuma saja mengais makanan ditempat itu, akhirnya ia berjalan menuju tempat sampah lain untuk mencari makanan. Perutnya semakin bergerumuh tatkala dirinya berjalan menyelusuri jalanan becek dan bau itu. Tak jarang dirinya tersandung sesuatu hingga baju yang ia kenakan basah oleh genangan air. Mendadak ia berhenti dan menyentuh mata kanannya. Sejak lahir, mata kanannya tak bisa melihat sehingga ia harus mengandalkan mata kirinya. Tapi akhir – akhir ini penglihatannya semakin memburuk. Ketakutan yang amat besar pun selalu menghantuinya.

Bagaimana jika mata kirinya tak bisa melihat?

Bagaimana jika ia sama sekali tak bisa melihat?

Kalau begitu caranya, bagaimana ia bisa melihat langit biru?

Ia ingin sekali melihat langit biru meski hanya sebentar. Itulah mimpi yang selalu ia angan – angankan dalam tidurnya. Meski begitu, kondisinya saat ini sangatlah tidak mungkin untuk dilakukan. Ia selalu ketakutan apabila hari itu datang dengan cepat tanpa bisa ia hentikan.

Ditengah lamunannya, samar – samar ia mendengar suara orang yang sedang berteriak. Karena penasaran, ia berjalan kesumber suara itu dan melihat seorang ibu dan anak yang tengah berhadapan dengan beberapa orang. Salah seorang didepannya memegang senapan yang diarahkan pada sang ibu. Detik kemudian, senapan itu mengeluarkan bunyi letusan, menembaki si ibu. Sang anak hanya tercengang sambil mengguncangkan tubuh ibunya. Tangisnya semakin pecah menyadari bahwa si ibu sudah tiada. Peluru kedua ditembakkan dan anak itu ikut pergi menyusul si ibu.

Melihat kejadian itu, jauh didalam hatinya ia merasa sangat iba. Ia hanya bisa memandangi kejadian naas itu dari jauh tanpa bisa bertindak. Tapi, ia segera sadar bahwa percuma saja bertindak. Toh, kemungkinan besar orang – orang itu akan membunuhnya cepat atau lambat. Meski begitu, tidak dengan tubuhnya yang bergerak tanpa sadar. Ia menabrak si penembak, membuat orang itu terkejut setengah mati.

Si penembak hendak menarik pelatuk senapannya, namun dihentikan oleh seorang bapak yang kelihatannya tuan mereka. Bapak itu memperhatikan dirinya dari atas sampai bawah. Matanya seketika melebar melihat anak yang ada dihadapannya itu.

"Rambutnya pirang keemasan dan matanya sebiru langit, sungguh kombinasi warna yang indah," ucapnya kagum. "Wajahnya juga cukup menawan. Baiklah, kita bawa anak ini."

Ia bingung dan tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun, dirinya dibawa oleh orang – orang itu. Tak lama kemudian, mereka menurunkannya disebuah gedung yang cukup besar dan banyak anak seumurannya. Anak – anak itu memandang heran dan jijik kearahnya, membuatnya hanya terdiam sambil mengikuti orang yang membawanya. Kemudian, ia diberikan oleh seseorang yang didepannya, yang memperkenalkan diri sebagai ketua panti asuhan, tempat ia berada sekarang.

Sejak ia tinggal dipanti asuhan itu, kehidupannya benar – benar berubah drastis. Ia sudah tidak perlu mengais makanan ditong sampah karena setiap jam tertentu mereka diberikan makanan enak. Selain itu, ia juga diberikan pakaian yang bagus dan selalu harum.

"Dibandingkan kehidupan dulu, sekarang jauh lebih baik," gumamnya. "Benar – benar seperti disurga."

Surga. Ya, hanya kata itu yang bisa ia gambarkan dengan jelas kehidupannya saat ini. Ia tidak perlu bersusah payah. Tinggal meminta sesuatu pada salah satu penjaga panti dan keinginannya akan terkabul.

Tapi, tidak untuk hari itu.

Ketika dirinya hendak bermain dengan anak – anak panti lain, ia dipanggil oleh seorang penjaga panti. Ia didandani sangat rapi layaknya ingin bertemu dengan seseorang yang penting. Penjaga panti yang melakukan itu segera membawa dirinya masuk kesebuah ruangan yang tidak terlalu luas maupun kecil. Disana, ia melihat sepasang pemuda dan wanita yang mengenakan pakaian mewah layaknya bangsawan. Akan tetapi, wajah mereka tertutup oleh topeng cantik sehingga ia tak bisa melihat dengan jelas wajah kedua orang itu.

"Tampan sekali," puji si pemuda. "Dia bagaikan boneka yang hidup."

"Sou desu wa," ujar si wanita, ikut setuju dengan pendapat pemuda itu. "Rambutnya keemasan dan warna matanya sebiru langit pagi. Oh... lihat kulitnya yang putih pualam itu."

Pujian – pujian yang membuat semua orang melambung tinggi itu terus diucapkan oleh pemuda dan wanita itu. Seharusnya ia senang karena orang lain melihat kelebihan yang ia miliki. Namun, entah mengapa ia justru merasa tak tenang dan terkesan takut. Benar saja apa yang dirasakan olehnya. Seseorang, yang entah dari mana datangnya, berjalan kearahnya dengan membawa sebuah cambuk. Orang itu pun tanpa segan mencambuk punggungnya, membuatnya dirinya berteriak kesakitan.

"Ah... suaranya pun sangat merdu," ujar si wanita. "Perdengarkanlah lagi suaramu yang indah itu."

Dan sejak hari itu, nyaris setiap hari ia dipanggil dan diperlakukan dengan kejam hanya untuk menyenangkan mereka yang datang melihat dirinya tersiksa. Meski ia mengatakan bahwa dirinya cacat, mereka tetap tak mempedulikannya. Parahnya lagi, mereka justru sangat senang karena itu menjadi nilai tambahan untuk dirinya.

Karena tak tahan terus menerus disiksa seperti itu, ia berniat untuk mengakhiri hidupnya. Toh, tak akan ada yang menangis dan merasa kehilangan atas kematiannya. Tapi mungkin, ia akan sedikit menyesal karena pada akhirnya ia tetap tak bisa melihat langit biru.

"Selama kau masih punya harapan, jangan menyerah!" seru seseorang. Ia menoleh dan mendapati tiga anak laki – laki seumurannya dan seorang anak perempuan. Mereka adalah teman – temannya, sesuatu yang tak pernah ia dapatkan selama masa hidupnya. Hanya mereka yang masih mau berteman dengan dirinya yang selalu dijadikan bahan tontonan orang kaya.

Akan tetapi, bukannya ia menjauhkan pisau itu dari lengannya ia justru mulai mengiris pergelangan tangannya. "Tahu apa kau tentang harapan?!" serunya tak kalah kencang. Ia kesal. Sangat kesal! Air mata yang sejak tadi bertahan disudut matanya tumpah tanpa bisa dikendalikan.

"Aku sudah tidak tahan," isaknya.

Anak perempuan yang berada dibelakang anak lelaki yang berbicara barusan, mendekati dirinya lalu memeluknya dengan erat. "Gomen nee, Kou-kun. Hontou ni gomen nee," isak anak perempuan itu. "Andai aku tahu lebih cepat mengenai lukamu, Kou-kun tidak perlu terluka seperti ini."

"Yu-chan..."

Melihat anak perempuan itu menangis sambil memeluknya, ia juga ikut menangis. Semua kesedihan dan rasa sakit itu ia keluarkan semua. Ketiga temannya yang melihat hanya mendesah pelan sambil tersenyum. Setidaknya, mereka masih bersama – sama dan tak ada yang kehilangan siapa pun atau apapun.

Hingga tibalah rencana yang justru membawa bencana.

Malam itu, mereka memutuskan untuk keluar dari panti asuhan yang bagaikan neraka ini. Sebenarnya, ia masih tidak setuju dengan keputusan temannya yang bernama Ruki itu. Namun, ia sendiri juga membenarkan keputusan temannya. Ia tidak ingin anak itu terluka ketika berusaha kabur dari panti asuhan ini.

"Jangan pedulikan kami dan terus saja berjalan, kau pasti akan menemukan jalan keluar," ujar Ruki ketika anak itu sudah masuk kedalam terowongan kecil yang telah disiapkan oleh mereka berempat. "Kita pasti akan bertemu lagi."

Ya, aku yakin kita pasti akan bertemu lagi diluar sana, Yu-chan, ucapnya meyakinkan dirinya sendiri.

Meski mereka berempat sempat ragu dengan rencana yang sudah mereka susun, meraka akhirnya menjalankan rencana itu. Namun, hasilnya diluar dugaan. Para penjaga menyadari kehadiran mereka dan menembakinya, menghentikan pelarian meraka. Ia mendapat luka tembakan cukup parah didada juga dikedua kakinya. Kesadarannya pun semakin menipis akibat kehilangan banyak darah.

Ah... inikah akhir bagiku? Tanyanya. Tidak! Aku tidak ingin mati! Aku belum melihat langit biru juga belum melihat Yu-chan lagi. Aku tidak ingin mati!

"Kalau begitu, bagaimana kalau kuberi kau kesempatan kedua?" tawar sebuah suara. "Aku juga akan memberimu mata agar kau bisa memenuhi impianmu."

"Tapi, sebagai gantinya, kau harus mau melakukan apa pun yang kuperintahkan," lanjut suara itu. "Bagaimana?"

Aku mau! Pekiknya. Aku akan melakukan semua yang kau perintahkan.

"Kuhargai niatmu. Kalau begitu, selamat menikmati."

xxx

Seperti tersengat listrik, Kou tersadar dari lamunannya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, merasa heran dengan dirinya sendiri. Tak biasanya ia melamun sendirian seperti ini. Apalagi melamunkan masa lalunya. Padahal, ia sudah berjanji untuk tidak melamunkan hal macam itu lagi karena yang terpenting adalah sekarang. Tapi, kenapa dirinya merasa ada yang janggal? Seolah dirinya melupakan sesuatu yang sangat berharga.

Tanpa sadar, Kou menyentuh mata kanannya, mata pemberian orang itu, orang yang memberikannya kesempatan kedua untuk hidup. Berkat orang itu, ia bisa memenuhi impian terbesarnya, melihat langit biru. Hebatnya lagi, mata kanannya ini pun memiliki kekuatan yang luar biasa, yaitu melihat hati manusia. Oleh karenanya, ia bisa segera mengetahui bahwa manusia itu berbohong atau tidak.

Bicara mengenai bohong atau tidak, ia masih memikirkan sosok Akatsuki Yuki. Ia sungguh tidak mengerti dengan gadis manusia itu. Dikejauhan, ia tak sengaja melihat sosok yang baru saja ia pikirkan, terlihat lesu dipinggir jendela. Kou memperhatikannya dan tak sengaja melihat warna matanya yang cukup unik. Ya, warna yang sama dengan warna langit biru.

"Oh iya, seingatku, waktu itu aku mengharapkan dua hal sebelum mati," pikir Kou. "Satu, melihat langit biru, yang kedua..."

Aneh. Ia tak bisa mengingatnya. Padahal, ia sangat yakin kalau kedua hal itu sangat penting dan ia rela menukar jiwanya agar mimpinya itu terkabul.

"Yu-chan..."


Sou desu wa : Oh, benar.

Hontou ni gomen nee : Aku benar - benar minta maaf