REMAKE fanfiction from The Half Blood Vampire - karya TaniaMs
Cast : Shim Changmin, Cho Kyuhyun, and others
Warning : GS, Typo(s)
a/n: Fanfic ini merupakan karya milik TaniaMs. Saya hanya meREMAKE dan sedikit merubah tempat, nama serta mengurangi atau menambah kata seperlunya untuk keperluan cerita.
.
.
.
Changmin mengguncang tubuh Kyuhyun. "Kyuhyun, ada apa? Jangan buat aku cemas."
Kyuhyun meremas baju bagian dadanya. Ia benar-benar kesulitan bernafas. "Udd...dda.., rra..."
"Appa! Appa!" teriak Changmin. Namun Yunho tak kunjung muncul. "Siapapun itu, tolong hentikan Air Power mu pada Kyuhyun!" teriak Changmin. Suaranya menggema karena suasana rumah sangat sepi.
Kyuhyun meremas lengan Changmin kuat-kuat karena dadanya sesak. "Ak.., aku..."
Changmin langsung mencium bibir Kyuhyun, berusaha memberikan nafas buatan, seolah-olah Kyuhyun baru saja tenggelam. Mata Kyuhyun melebar begitu tahu apa yang dilakukan Changmin, tapi ia tak punya kekuatan untuk melawan. Bahkan ia merasa sedikit tertolong karena Changmin memberikan nafas buatan padanya.
"Kyuhyun?" panggil Changmin setelah mengakhiri 'pertolongannya'.
Kyuhyun menggeleng karena ia merasa nafasnya semakin sesak. "Ak...kku...tak.., kku...uatt..."
Changmin kembali menyatukan bibir mereka sebelum perkataan Kyuhyun selesai. Yang ia inginkan saat ini hanyalah keselamatan Kyuhyun, ia tak ingin hal buruk menimpa yeoja itu karena Air Power ini. Hal terfatal akibat kekuatan itu adalah Kematian.
Changmin menjauhkan wajahnya dari wajah Kyuhyun saat ia juga merasa kehabisan udara. Namun begitu ia melepas bibirnya, tubuh Kyuhyun langsung tumbang kearahnya.
"KYUHYUN!" jerit Changmin. "Kyu, tolong bangunlah!" Changmin mengguncang tubuh Kyuhyun, berharap yeoja itu membuka matanya.
Changmin merasa matanya memanas. Ia menggelengkan kepalanya meyakinkan dirinya kalau Kyuhyun tak pergi secepat ini. Pikirannya benar-benar kalut.
"Kyuhyun?!" panggil Changmin.
Kyuhyun bergeming.
"Oh, Tuhan." lirih Changmin.
Changmin kembali mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Kembali memberikan yeoja itu nafas buatan berharap dengan begitu Kyuhyun dapat membuka matanya.
"Kyuhyun, ku mohon, buka matamu!" pinta Changmin lemah. Ia mengusap pipi Kyuhyun lembut.
"hmmppfftt..." terdengar seseorang menahan tawa.
Changmin menoleh kesumber suara. Arrum dan Heechul, juga si kembar.
"Apa yang kau tertawakan, Heechul?!" bentak Changmin.
"Tentu saja kau!" tunjuk Arrum. "Ternyata kau mempunyai sisi yang romantis juga. Aku terharu melihat tindakanmu Changmin." sambungnya.
"Adik iparku itu hanya pingsan." ujar Heechul.
Mata Changmin membulat. "Benarkah?"
"Ne, jika Sulli dan Sehun tak melihat keberadaan Jessica, aku dan Arrum tak mungkin bisa mengacaukan konsentrasi yeoja itu!" ujar Heechul.
"Jessica?" tanya Changmin.
"Yeah, Jessica. Dia menggunakan Air Power untuk membunuh Kyuhyun. Tapi tenang saja, dia sudah pergi." jawab Arrum. "Satu lagi yang kita dapatkan hari ini, ternyata kekuatan sikembar kecil ini bisa melihat apa yang tidak kita lihat."
"Gomawo, kalian benar-benar sangat membantuku." ujar Changmin tulus.
"Sama-sama Changmin oppa/hyung." sahut Sulli dan Sehun.
"Sebaiknya, kau membaringkan Kyuhyun di kamar."
Changmin ikut berbaring disamping Kyuhyun. Ia berbaring menyamping sehingga ia bisa memperhatikan wajah yeoja itu. Perlahan matanya terpejam karena mengantuk, padahal saat itu masih jam 10 pagi.
Kyuhyun membuka matanya perlahan. Ia mendapati dirinya tengah terbaring diatas tempat tidur, kamarnya dan kamar Changmin. Hal terakhir yang diingatnya adalah ketika Changmin melepas bibirnya, semuanya langsung berubah menjadi gelap dan ia tak tahu lagi apa yang terjadi.
Ia ingin mengangkat tangan kirinya untuk memijit pelipisnya, tapi terasa berat. Ia melihat kearah tangannya. Wajahnya memanas saat menyadari Changmin tengah menggenggam erat tangannya.
Matanya beralih pada wajah Changmin. Namja itu tengah tertidur pulas, tapi genggaman tangannya terasa begitu kuat seolah tak ingin melepaskannya. Ah, mungkin dia terlalu berlebihan.
Kyuhyun memijit pelipisnya dengan tangan kanan, sembari melihat kearah jam. 11.30.
Potongan-potongan kejadian sebelum ia pingsan berkelebat dipikirannya. Hal itu membuat wajahnya panas dan memerah, terutama ketika bagian Changmin memberinya nafas buatan. Saat itu ia merasa Changmin seperti pahlawan.
Kyuhyun memegang sebelah pipinya yang terus saja memanas. Sebuah senyum terukir dibibirnya.
"Air power." gumamnya sendiri. "Kenapa aku bisa selamat? Bukankah itu berakhir pada kematian?"
"KYUHYUNN!" jerit Changmin, dan langsung tersentak.
Kyuhyun menatap Changmin kaget. "Changmin? Kau..."
Changmin langsung duduk di tempat tidur. "Kau sudah sadar?"
Kyuhyun mengangguk pelan. "Seperti yang kau lihat."
Changmin langsung merengkuh Kyuhyun kedalam pelukannya.
Gerakan bangun tiba-tiba itu lagi-lagi membuat kepalanya berdenyut hebat. "auuw." ringis Kyuhyun.
Changmin melepas pelukannya menatap Kyuhyun. "Kau kenapa?"
"Kepalaku pusing, Changmin."
"Tidurlah." Changmin kembali merebahkan Kyuhyun. "Kau ingin sarapan?"
Kyuhyun bergumam. "Sepertinya." Ia pun berusaha bangkit, tapi Changmin menahannya.
"Kau tunggu disini." ujarnya. "Heechul hyung, tolong kekamarku. Jaga Kyuhyun sementara aku membuatkannya bubur!" teriak Changmin.
Heechul masuk tanpa mengetuk pintu. "Tanpa kau berteriak, aku sudah dengar!"
Kyuhyun merasa hari itu termasuk dalam daftar hari-hari bahagianya.
.
.
Semenjak hari itu, hidup Kyuhyun sedikit lebih tenang karena tidak ada gangguan dari Jessica, atau Kris lagi. Sikap Changmin masih sama seperti dulu. Kadang perhatian, kadang cuek seperti sebelum-sebelumnya. Siwon dan Il Woo juga sudah kembali ke Paris. Dan Changmin sangat bahagia akan itu.
"Kyu, kau masih ingin berdiri disana berapa lama lagi?!" tegur Changmin.
Kyuhyun terlonjak. Dia memutar tubuhnya, mendapati Changmin tengah menatapnya dengan tatapan jengah. Sambil tersenyum Kyuhyun berjalan meninggalkan balkon.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau sudah selesai mandi?"
"Kenapa aku harus mengatakannya?" tanya Changmin balik.
Kyuhyun memberengut. "Supaya aku tidak terlalu lama menunggumu, bodoh!"
"heh! Kau yang bodoh! Test kemarin kau mendapat C, bukan?"
Kyuhyun terkekeh malu. "Tapi kau pasti membantuku ketika test remidial, kan?"
"Tentu saja tidak!" sahut Changmin cuek, lalu berjalan menuruni tangga.
Kyuhyun langsung berhenti didepan Changmin, membuat Changmin juga berhenti. "Aku tidak akan memberi jalan kalau kau tidak mau membantuku."
Changmin melihat jam tangannya. "Yak, kita sudah terlambat 15 menit! Minggirlah. Semuanya sudah menunggu kita diruang makan."
"Bantu aku, maka aku akan memberi jalan." Kyuhyun bersikeras.
Changmin mendesah kuat-kuat. "Astaga." geramnya.
Dengan gerakan cepat, ia menyelipkan tangannya dipunggung Kyuhyun dan satu tangan lagi dibalik lutut yeoja itu, hal itu membuat Kyuhyun memekik kaget. Ia menggendong yeoja itu menuju ruang makan.
Begitu memasuki ruang makan, semua mata tertuju pada mereka. Pagi itu, keluarga Kyuhyun juga datang. Mereka tersenyum lebar melihat tingkah Changmin dan Kyuhyun.
Changmin mendudukkan Kyuhyun dibangku yang kosong, dan Changmin pun duduk disampingnya.
"Jadi, bagaimana dengan cucu pertama kami?" tanya Mrs. Cho pada Kyuhyun dan Changmin.
Pertanyaan ummanya itu membuatnya tersendak, dan terbatuk-batuk. "uhuk, uhuk..."
Changmin menatap Kyuhyun kesal. Ia paling tidak suka jika yeoja itu melakukan kesalahan. "Kau ini! Makanlah dengan benar! Membuat malu saja."
Kyuhyun mengerutkan bibirnya. "Aku kan tidak sengaja! Coba saja kau nanti tersendak, aku orang yang pertama menertawaimu!" sungutnya.
Changmin mengibaskan tangan. "Tidak akan terjadi, karena aku makan dengan hati-hati. Tidak sepertimu. Seperti orang kelaparan!"
"Yak, kau!" Kyuhyun menunjuk Changmin dengan pisau yang sedang dipegangnya. "Aku tidak seperti itu!"
"Sudahlah, Kyuhyun. Kau ini masih seperti anak kecil saja." ucap Mr. Cho.
Kyuhyun melanjutkan sarapannya dengan tenang. Sesekali ia tertawa mendengar candaan Arrum, Heechul, maupun Donghae.
Tiba-tiba saja, Changmin tersendak dan terbatuk-batuk. Kyuhyun tertawa melihat Changmin yang tengah kesusahan bernafas karena kecelakaan kecil itu.
"hahaha... Liatlah, kau tersendak bukan?" Kyuhyun bertepuk tangan heboh.
"Istri seperti apa dirimu ini? Suamimu tersendak tapi kau malah tertawa." sungut Changmin.
Kyuhyun masih tertawa. "Kau lucu Changmin! Sekarang lihat, siapa yang makan seperti orang kelaparan? Hahaha" bela Kyuhyun.
"Diamlah Kyuhyun. Tidak baik menertawai suami sendiri." Donghae memperingatkan.
.
.
Hari itu keluarga Changmin juga Kyuhyun pergi ke taman. Pikinik. Walaupun sedang musim gugur, tapi sepertinya hari itu sedikit bersahabat karena suhunya tak terlalu dingin, tapi mereka tetap memakai syal.
"Ayo Sulli, lempar bolanya padaku!" teriak Arrum.
Ketika kedua orangtua mereka menyiapkan tempat serta cemilan, mereka bermain bola tangkap bersama. Kecuali Donghae dan Minho. Kedua namja itu lebih tertarik bernyanyi sambil bermain gitar, berbeda dengan Changmin. Dia lebih memilih duduk dibawah pohon sambil mendengarkan lagu melalui ipodnya.
Sulli malah melempar bolanya pada Heechul, karena Sehun semakin dekat padanya. Hal itu membuat Arrum kesal.
"Kenapa tidak ada yang melempar bola padaku?!" teriaknya kesal.
Kyuhyun tertawa melihat tingkah arrum.
"Yak kakak ipar! Tidak boleh menertawakan adik iparmu, okay?"
Kyuhyun semakin tertawa. "Itu karena kau tak bisa dipercaya. Hahaha"
Ketika tengah asik berdebat dengan Arrum, tiba-tiba kepalanya pusing. Semua terasa bergoyang. Kyuhyun memegang kepalanya, menutup matanya rapat-rapat, berharap dengan begitu pusingnya berkurang.
"Oh, Tuhan." desisnya.
Beberapa hari ini, dia memang sering dilanda pusing. Pusingnya muncul begitu saja. Kadang ketika dikelas, kadang ketika saat sarapan atau bahkan baru bangun tidur. Ia takut kalau hal ini adalah salah satu rencana Jessica untuk melenyapkannya dari dunia ini.
"KYUHYUN AWAAS!"
Kyuhyun membuka matanya, dan menoleh ke sumber suara. Semuanya terjadi begitu cepat. Baru saja dia menoleh, tiba-tiba saja dia terdorong dan terjatuh ke tanah.
Bruuk!
Punggungnya terasa nyeri akibat terbentur dengan tanah, dan pusing kepalanya semakin bertambah. Ia hampir saja pingsan kalau tidak mendengar bentakan dari mulut Changmin.
"Yeoja bodoh! Apa yang kau lakukan?! Kalau kau tidak bisa bermain, lebih baik kau duduk manis saja bersama Donghae hyung dan Minho disana! Bagaimana kalau tadi kepalamu terkena bola, hah?!"
"Aku pasti akan pingsan." sahut Kyuhyun dalam hati.
"Sangat bagus jika kau pingsan! Bagaimana kalau kau menangis?!" cetus Changmin.
"Aku bukan anak kecil!" gerutu Kyuhyun, masih dengan memijit pelipisnya.
"Kau lebih dari anak kecil!"
Kyuhyun menatap Changmin kesal. "Aku memang anak kecil, puas?!" ujarnya kesal.
Kyuhyun pun bangkit, namun punggungnya langsung bertambah sakit, membuatnya tak bisa menahan rintihan.
"Lihatlah! Kalau tidak mampu berdiri kenapa tidak minta tolong?" bentak Changmin.
"Changmin, kalau kau ingin membantu, tak perlu membentaknya seperti itu." tegur Heechul. "Ayo, Kyuhyun."
Heechul memapah Kyuhyun. Namun, baru beberapa langkah, Changmin langsung menarik Kyuhyun dari Heechul.
"Aaauw." ringis Kyuhyun.
"Makanya, jalanlah yang cepat!" rutuk Changmin.
"Bagaimana aku bisa berjalan dengan cepat, kalau punggung ku terasa ingin patah!" sungut Kyuhyun.
"Berdirilah yang benar." pinta Changmin.
Kyuhyun mencoba berdiri tegak, tapi punggungnya benar-benar sakit, sehingga ia membungkuk.
"Apa yang akan kau lakukan?"
Changmin hanya diam.
Tiba-tiba ia merasa tangan Changmin menyetuh belakang kepalanya, turun perlahan mengikuti tulang punggungnya, hingga kepinggang, lalu naik lagi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Kyuhyun penasaran.
Changmin masih diam.
"Changmin?" panggil Kyuhyun.
"Tegakkan punggungmu." pinta Changmin. Ketus.
Kyuhyun menegakkan punggungnya hati-hati, takut sakit itu kembali melanda. Namun, begitu dia benar-benar telah berdiri, rasa sakit itu tak terasa lagi. Ia menggerakkan punggungnya, namun tak terasa apa-apa lagi. Sembuh.
"Changmin! Punggungku sembuh!" seru Kyuhyun senang.
"Tentu saja sembuh! Tidak mungkin tidak sembuh kalau tidak diobati." cetus Changmin.
"Jadi kau mengobatinya? Waah, terima kasih." ia memeluk Changmin.
"Ehem..." Changmin berdehem.
Kyuhyun langsung melepas pelukannya dan tersenyum kikuk pada Changmin. "Mian."
Changmin tak menjawab, dia kembali menuju pohon dan duduk disana. Kyuhyun pun mengikuti Changmin, dan duduk disampingnya.
"Kau mendengarkan lagu apa?"
"Kau tidak akan tahu." ujar Changmin, lalu memakai earphonenya.
Kyuhyun memberengut.
Sebuah ide muncul dikepalanya. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu mulai berfoto. Tanpa sepengetahuan Changmin, dia memasukan Changmin ke dalam objek fotonya, ia mengambil dari samping. Tidak seru. Ia mengambil dari depan. Tapi sebelumnya, dia memastikan kalau Changmin masih memejamkan matanya.
Klik. Tersimpan.
Dia tersenyum manis sedangkan Changmin memejamkan mata dengan tenang. Benar-benar alami.
"Apa itu?" tanya Changmin.
Kyuhyun terlonjak. "Bukan apa-apa." Kyuhyun menyembunyikan ponselnya.
"Kyuhyun, tunjukkan padaku apa yang kau sembunyikan." Changmin menadahkan tangan kanannya.
Dengan berat hati, Kyuhyun menyerahkan ponselnya. Tak ada reaksi yang ditunjukkan Changmin. "Gaya fotomu seperti anak kecil." cibir Changmin.
"Terserah."
"Biar ku tunjukkan gaya berfoto orang dewasa!"
"Bagaimana?" tanya Kyuhyun penasaran.
"Lihat aku."
Kyuhyun menatap Changmin.
Changmin tersenyum.
Ia pun mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun, dan langsung melumat bibir yeoja itu. Ia tersenyum dalam ciumannya.
Klik. Tersimpan.
.
.
Langkah Arrum, Sulli serta Sehun terhenti melihat pemandangan dihadapannya. Dengan gerakan cepat, dia menutup mata Sulli dan Sehun, membuat keduanya mengerang.
Changmin segera mengakhiri ciumannya begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya. Ia mengalihkan pandangannya kearah depan, terlihat wajah bersalah Arrum.
"Aku tak bermaksud mengganggu moment romantis kalian, tapi sekarang sudah saatnya makan siang." ujarnya.
"Kalian tidak mengganggu." ujar Changmin cuek, lalu bangkit dari duduknya. "Ayo, time to lunch, adik kembar!" Changmin menarik tangan Sulli dan Sehun.
Kyuhyun masih bertahan pada posisinya. Wajahnya merah padam, belum lagi jantungnya yang melompat tak karuan. Sentuhan Changmin tadi benar-benar melumpuhkan dirinya.
"Kyuhyun, kau baik-baik saja bukan? Tidak kerasukan setan atau apa?"
"Tidak. Aku baik-baik saja." sergah Kyuhyun cepat.
"Baguslah, ayo kita makan siang." ajak Arrum. "Maaf mengganggu acaramu dan Changmin." sesal Arrum.
Wajah Kyuhyun kembali memerah. "Tidak apa, lupakan saja."
Kyuhyun pun duduk berdampingan dengan Arrum dan Heechul, sedangkan Changmin diapit oleh Sulli dan Sehun.
"Kalian benar-benar pengantin yang romantis." bisik Heechul.
Kyuhyun berdehem, berusaha menjernihkan suaranya. "Memangnya kenapa?" ia pura-pura tak mengerti.
Heechul mendengus. "Jangan pura-pura tak mengerti. Aku tadi melihat kalian berfoto dengan pose berciuman. Benar-benar hot." bisik Heechul bersemangat.
Lagi-lagi wajahnya memerah karena perkataan Heechul. "Lupakan!" desisnya.
Heechul tertawa pelan melihat tingkah Kyuhyun.
Diseberang sana, Changmin terlihat penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Kyuhyun dan Heechul. Dia tidak tahu apa yang diucapkan Heechul, tapi dia yakin itu sesuatu yang sensitif sehingga membuat wajah Kyuhyun bersemu merah.
"Changmin, kau tidak makan?" tegur Donghae. "Memangnya memperhatikan Kyuhyun bisa membuatmu kenyang?" tanyanya blak-blakan.
"Lihat, wajah kakak iparku memerah." seru Minho.
Memeloti Minho, itulah yang hanya bisa dilakukan Kyuhyun. "Akan ku bocorkan rahasia besarmu!" ancam Kyuhyun.
Minho tersendak. "Noona tahu dari mana?" tanya Minho panik.
"Hoho, aku selalu tahu apa yang terjadi padamu." ucapnya senang.
"Oke, aku tak akan menggodamu lagi. Damai." Minho mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya.
Kyuhyun tergelak puas saat keadaan berbalik menyerang Minho.
Sebenarnya ia tidak tahu apa rahasia besar Minho. Ia benar-benar hanya asal bicara, karena menurutnya semua orang pasti punya rahasia besar, ia pun mengancam Minho dengan hal itu.
"Jangan tertawa lagi jika kau tak ingin tersendak." tegur Changmin ketus.
Kyuhyun mengerutkan bibirnya.
Ia kembali memakan makan siangnya dengan perasaan kesal. Hal itu terlihat jelas saat ia menusuk-nusuk makanannya dengan keras.
"Kau tidak ingin daging itu melompat dari piring bukan?" tegur Heechul. Bercanda.
Kyuhyun meletakkan garpu serta pisau makannya kasar. "Aku kenyang." ia bangkit dari duduknya. "Aku ingin melihat orang-orang bermain basket. Permisi."
Kyuhyun meninggalkan tempat makan keluarganya dan keluarga Changmin tanpa menoleh kebelakang sedikitpun.
"Mwoya?" tanya Changmin, saat semua orang menatapnya.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Changmin." ujar Jaejoong.
"Membujuknya?" tanya Changmin bodoh.
"Memangnya apalagi?" tanya Donghae dengan nada bosan.
"Ku rasa dia hanya perlu udara segar. Mungkin dia bosan disini?" Changmin memberi opini, sambil mengunyah makanannya santai.
"Kau tak lihat? Dia itu sedang kesal! Dan harus dibujuk." Yunho berujar kesal.
"Dia memang gampang tersinggung belakangan ini, Appa." sergah Changmin. "Aku bicara jujur." sambungnya.
"Yeah, dia memang seperti itu kalau dia sedang..."
"PMS?" Arrum memotong ucapan Mrs. Cho.
"Begitulah." ujar Mr. Cho. "Dari dulu dia memang seperti itu."
"Kau tetap harus mengikutinya Changmin." ujar Jaejoong.
"Keunde, Umma..."
"Bagaimana kalau Kris ada diantara sekian banyak orang ditaman ini?" potong Yunho.
Changmin terkesiap. Benar Juga.
Tanpa mengucapkan satu patah katapun, dia segera bangkit dari tempatnya dan berlari kecil kearah Kyuhyun pergi.
"Ternyata Kris adalah kata kuncinya." gumam Heechul sambil mengangguk-angguk. "Cuek tapi sebenarnya peduli."
"Kembaran yang aneh, bagiku." sahut Arrum.
Changmin telah sampai dilapangan basket. Keadaan lapangan basket itu tak terlalu ramai. Ia memperhatikan seluruh orang yang ada disana, tapi diantara sekian banyak orang tak ada Kyuhyun. Pikiran buruk langsung menyebar dipikirannya.
"Tenang Changmin. Kau harus tenang." Changmin menenangkan dirinya sendiri.
Changmin kembali memperhatikan orang-orang itu. Tetap saja Kyuhyun tak ad... Pandangan Changmin kembali ke samping ring. Ia mempertajam tatapannya. Disana lah Kyuhyun!
Changmin bergegas menuju tempat Kyuhyun berdiri namun langkahnya tiba-tiba berhenti saat melihat Kris berdiri dengan tenangnya disamping Kyuhyun. Pantas saja wajah yeoja itu terlihat pucat. Pria itu merangkul pinggang Kyuhyun seolah Kyuhyun adalah miliknya, membuat amarah Changmin mencapai ubun-ubun dengan cepat.
"KRIS!" seru Changmin marah.
"Hai Mr. Shim?"
.
.
Changmin mempercepat langkahnya. Namun, Kris memberikan instruksi untuk berhenti. Dengan menahan emosi, Changmin mengikuti perintah Kris.
"Bagus. Jika kau maju selangkah, aku akan membuat istrimu ini menjadi seperti kita, dan tentu saja dia akan menjadi istriku." ancam Kris.
Kyuhyun menatap Kris tak percaya. "Jangan bicara sembarangan, sekarang lepaskan aku!"
Kyuhyun berusaha melepas dirinya dari Kris. Tapi tidak bisa. Pegangan namja itu sangat kokoh meskipun hanya sebelah tangan.
"Aku tak akan menyakitimu sayang." Kris mengelus wajah Kyuhyun dengan tangannya yang bebas.
"Jangan sentuh dia!" bentak Changmin.
Kris menyeringai. "Harusnya kau tak biarkan dia berjalan sendiri."
"Lepaskan dia!" gertak Changmin.
Kris tertawa sinis. "Setelah ini."
Kris mendekatkan wajahnya pada Kyuhyun. Kontan saja Kyuhyun langsung menjauhkan kepalanya. Namun Kris menahan belakang kepalanya, membuatnya tak bisa bergerak lagi. Ia menutup matanya rapat-rapat saat wajah Kris semakin dekat. Lalu tiba-tiba...
Bruukk!
Kyuhyun merasa cekalan Kris terlepas dari pingganggnya, juga terdengar bunyi dentuman. Ia membuka matanya, dan terkejut melihat Changmin dan Kris tersungkur ditanah. Changmin baru saja melayangkan sebuah pukulan tepat diwajah Kris.
Orang-orang mulai mengerumuni mereka. Ingin tahu apa yang terjadi.
Dengan gerakan cepat, Changmin menarik tangan Kyuhyun membawanya kedalam pelukan, lalu meninggalkan kerumunan itu dengan menggunakan kecepatannya. Ia sengaja membawa Kyuhyun ke tempat yang sepi karena ia yakin Kris sedang mengikutinya. Jika ia berkelahi ditempat yang sepi dengan Kris, maka ia tak akan mengganggu pengunjung yang lain.
"Akkhh!" ringis Kyuhyun saat tangannya ditarik dari arah berlawanan oleh Kris.
Secara tak sengaja, genggamannya pada Changmin terlepas dan dia bersama Kris. Changmin menatap Kris dengan mata kuningnya.
"Lepaskan dia sebelum aku menghabisimu!" ancam Changmin.
Kris tertawa mengejek. "Kau lupa, kau adalah vampire berdarah campuran, sedangkan aku vampire berdarah murni? Kau tak akan menang melawanku."
"Todak sebelum kita buktikan!" tantang Changmin.
Kyuhyun menggeleng. "Hentikan, Changmin. Kau bisa kalah." larangnya.
"Wah, mengharukan sekali." ujar Kris dramatis.
"Lepaskan dia! Sebelum aku benar-benar akan menghabisimu!" rahang Changmin terkatup rapat.
"Baiklah. Baik." Kris berbalik menatap Kyuhyun. "Kau akan bersamaku jika suami sok jagoanmu itu kalah." bisiknya.
Kris dan Changmin saling berhadapan dengan jarak tak lebih dari 5 meter. Begitu Kris pergi, Kyuhyun langsung mengirimi Donghae pesan agar segera datang membantunya. Dan saat ia kembali menatap Changmin dan Kris..,
Buuggh
Sebuah pukulan mendarat dengan mulus pada wajah Changmin, membuat Kyuhyun terpekik. Changmin segera membalas pukulan itu. Mereka saling memukul, menendang, berusaha membuat lawan tak berdaya.
Kyuhyun mengedarkan pandangannya dengan gusar. Berharap Donghae, Heechul atau siapapun segera datang. Wajah Changmin saat ini sudah babak belur, sedangkan wajah Kris hanya sedikit yang terluka, karena pukulan Changmin sering meleset.
"KRIS! CUKUP!" jerit Kyuhyun.
Kris menghentikan gerakan tangannya tiba-tiba. "Cukup? Berarti kau harus ikut denganku!"
Saat Kris akan melangkah mendekati Kyuhyun, tangannya ditahan Changmin, dan wajahnya kembali mendapat pukulan gratis.
"Kau masih berani memukulku?! Astaga! Kau benar-benar ingin mati?" tanya Kris.
"Aku tak akan membiarkan kau menyentuhnya, mengerti?!"
Kris baru akan memukul wajah Changmin kembali kalau saja Minho tidak datang dengan wujud tak terlihat. Dia menendang perut Kris hingga namja itu tersungkur. Belum puas sampai disitu, Heechul menarik leher kaos Kris dan memukul wajahnya hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Heechul! Hentikan!" teriak Yunho.
Perhatian Heechul terpecah sehingga Kris dengan cepat menendang perut Heechul dan segera meninggalkan tempat itu.
"Kyu-hyun." ujar Changmin dengan napas tersenggal. Ia mengelus pipi Kyuhyun lembut. "Kau baik-baik saja bukan?" tanyanya lemah.
"Changmin?" panggil Heechul.
home
Heechul dan Minho yang memapah Changmin pun membaringkan Changmin diatas ranjang. Sedangkan orangtua mereka, meyakinkan orangtua Kyuhyun kalau Changmin baik-baik saja.
"tunggu disini, aku akan mengambil obat." ujar Kyuhyun. Wajahnya masih saja pucat..
Kotak P3k langsung terjatuh dari genggamannya saat melihat wajah Changmin seperti semula. Tidak ada luka, tidak ada darah, tidak ada memar.
"Apa yang terjadi?"
"Aku mengobati lukaku sendiri." ujar Changmin. "Tapi aku masih lemah. Biarkan aku istirahat."
Kyuhyun mengangguk mengerti. "Aku akan keluar."
"Andwe." cegat Changmin. "Tetaplah disini. Kau harus berbaring disampingku."
mata Kyuhyun membulat. "Mwo?"
"Naiklah, dan tidur disampingku."
Kyuhyun pun naik ketempat tidur dan berbaring disamping Changmin. Changmin segera menarik Kyuhyun kedalam pelukannya. Meletakkan kepala Kyuhyun diatas dadanya yang telanjang.
"Terus seperti ini, hingga aku benar-benar tertidur."
.
.
Kyuhyun mengerang. Ia pun membuka matanya perlahan. Ia merasa sudah terlalu lama dia tidur. Matanya beralih pada pintu balkon yang terbuat dari kaca. Diluar terlihat gelap menandakan hari sudah malam.
Kyuhyun terkejut begitu menyadari kalau yang ada dalam pelukannya saat ini bukanlah Changmin, melainkan guling.
Kyuhyun duduk di tempat tidur, lalu memandang ke sekeliling. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Changmin. Mungkin namja itu sudah pergi ke hutan.
"Apa kejadian siang itu hanya mimpi?" gumam Kyuhyun.
Kyuhyun memukul kepalanya sendiri. Merutuki dirinya yang bodoh karena berkhayal kalau dia tidur diatas dada Changmin.
Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka membuat Kyuhyun menghentikan kegiatannya. Ia mengerjap kaget.
"Changmin?!"
Sebelah alis Changmin terangkat. "Memangnya siapa yang kau harapkan?" tanyanya ketus.
Changmin berjalan melewati Kyuhyun menuju lemari pakaian sembari mengeringkan rambutnya dengan handuk. Langkahnya masih pelan karena tubuhnya masih lemah. Luka-luka itu memang sudah tak terlihat, tapi pegal-pegal ditubuhnya masih belum hilang.
"Kau tidak kehutan?"
Changmin menggeleng sambil memakai kaos berwarna hitam. "Sudah malam. Sebaiknya kau mandi."
Kyuhyun bergumam. "Kejadian tadi siang itu..., mimpi atau tidak?"
"Kejadian yang bagian mana?"
Kyuhyun tak mungkin mengatakan ketika bagian dia tidur dalam pelukan Changmin. Lebih baik dia mengerjakan tugas kuliah dari pada membuat dirinya malu. Jadi dia berkata,
"Semuanya?" ujar Kyuhyun ragu.
"Ooh. Tidak." jawab Changmin. "Kau tidak bermimpi."
Kyuhyun mengangguk mengerti. "Syukurlah." gumam Kyuhyun.
"Pergilah mandi." Changmin melemparkan handuk pada Kyuhyun.
Kyuhyun pun masuk ke kamar mandi tanpa satu katapun bantahan.
Sebenarnya Changmin baru bangun 20 menit yang lalu. Ketika dia membuka matanya, dia mendapati Kyuhyun tengah tidur di lengan atasnya sambil memeluk pinggangnya. Membuat sebuah senyum bahagia diwajahnya.
Dia pun berniat mandi, untuk mengurangi penat pada tubuhnya. Karena itulah, dia menggantikan posisinya dengan guling sementara dia mandi. Dalam benaknya, setelah mandi, dia akan kembali berbaring dan menarik Kyuhyun dalam pelukannya.
"Kau kenapa?" tanya Kyuhyun, membuyarkan lamunannya.
Changmin menggeleng. "Tidak ada."
Kyuhyun kembali masuk ke kamar mandi, ingin memakai pakaiannya. Tak lama kemudian dia keluar, dengan piyama berwarna pink dengan motif eskrim. Dia sengaja memakai piyama karena saat itu sudah jam 8 malam.
"Kenapa kau tidak kehutan?"
"Memangnya kenapa?" tanya Changmin sambil memperbaiki posisi bantalnya. Dia sedang berbaring ditempat tidur.
"Agak aneh melihatmu ada dirumah saat malam." ucapnya jujur.
"Aku masih lemah, jadi aku butuh istirahat."
"Memangnya tak apa kau tidak minum darah?"
"Tentu saja tidak papa. Kau pikir aku akan sakaw?"
Kyuhyun menggaruk tengkuknya. "Mungkin. Oh, kenapa Umma belum memanggilku untuk makan malam ya?" gumam Kyuhyun.
"Umma makan malam diluar bersama rekan bisnisnya."
"oh?"
"Umma mengatakannya sebelum aku mandi."
Kyuhyun mengangguk tanda mengerti. Ia pun berjalan menuju pintu, namun langkahnya terhenti begitu menyadari keberadaan Changmin.
"Aku ingin makan malam. Kau ikut?" tawar Kyuhyun.
"Dengan pakaian seperti itu?" Changmin mengerutkan keningnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Kyuhyun bingung.
"Kau yakin?"
"Tentu saja. Tunggu, jadi kau pikir kita akan makan diluar, begitu?"
"Mungkin?" Changmin mengangkat bahu.
"Oh ayolah. Masakanku lebih enak dari masakan restorant."
Changmin mencibir mendengar ucapan penuh percaya diri Kyuhyun.
Melihat Changmin tak kunjung bergerak, Kyuhyun kembali kearah ranjang lalu menarik pergelangan tangan Changmin.
"Ayolah, aku sudah lapar!" ringis Kyuhyun.
"Okay. Tapi jangan tarik tanganku. Kau tahu? Seluruh tubuhku pegal, sakit-sakit?"
Kyuhyun melepas cekalannya. "Maaf."
Begitu tiba didapur, Kyuhyun langsung memakai celemek, mengikat rambut panjangnya asal. Sementara Changmin duduk di kursi tinggi didepan meja pemisah antara dapur dan ruang makan.
Dia memperhatikan Kyuhyun yang mulai sibuk mengeluarkan bahan-bahan masakannya sambil bertopang dagu.
Kurang dari sejam, masakan Kyuhyun telah tersaji diatas meja makan. Hanya ada dua masakan. Sup daging, Sup kentang, juga sepotong steak. Changmin mengernyit tak percaya. Ternyata yeoja dihadapannya ini pintar memasak juga.
"Kenapa ada tiga masakan?"
Kyuhyun tertawa. "Mungkin kau tak kenyang dengan memakan sup, jadi kau bisa makan steak?"
Changmin mendelik. "Kau pikir aku serakus dirimu?"
Kyuhyun mengerucutkan bibirnya.
"okay. Sepertinya masakanmu cukup menggoda. Aku ingin sup daging."
"Bagus, karena aku memang menginginkan sup kentang."
"Matshisoyo, ternyata anak kecil sepertimu bisa memasak masakan seenak ini." ucap Changmin setelah menyicipi sup daging buatan Kyuhyun.
"Yak! Aku bukan anak kecil."
Changmin terkekeh. "ya ya, aku tahu. Kau itu sudah dewasa. Hanya saja childish."
"Oh ya, tadi aku sempat membuat puding, kau mau?" Kyuhyun mengabaikan perkataan Changmin.
Mata Changmin membulat. Lalu dia tersenyum. Senang bisa memiliki istri seperti Kyuhyun.
.
.
Mata kuliah hari itu pun berakhir. Hari itu Changmin tidak masuk kuliah karena tubuhnya masih lemas. Jadi Kyuhyun pulang dan pergi bersama Minho.
"Tidak apa kita dikantin dulu?" tanya Kibum.
"Kau tenang saja. Ku rasa Minho masih ada mata kuliah hari ini." ujar Kyuhyun santai.
Tak lama setelah pesanan mereka datang, Eunhyuk pun ikut bergabung. Mengadu tentang tugas kuliahnya yang menumpuk.
Belakangan ini, ada yang mengganggu pikirannya. Benar-benar mengganggu. Dan dia ingin menanyakan hal itu pada Eunhyuk karena Eunhyuk adalah mahasiswa kedokteran.
"Hyuk, mengapa yeoja bisa terlambat datang bulan?" tanya Kyuhyun pelan.
"Hamil!" cetus Kibum langsung.
"Tau apa kau tentang dunia kedokteran?!" ketus Kyuhyun.
Kibum terkekeh.
"Memangnya siapa yang terlambat datang bulan?" tanya Eunhyuk. "Kau?"
"Bukan!" sambar Kyuhyun cepat. "Arrum, dia kembaran Changmin. Dia bilang begitu padaku. Tapi dia belum menikah, jadi dia tidak mungkin hamil." Kyuhyun melirik Kibum.
"O0h begitu. Bisa saja dia sedang dilanda stress, jadi berpengaruh pada datang bulannya." ujar Eunhyuk.
"Ooh." Kyuhyun mengangguk paham.
"Syukurlah. Berarti aku tidak hamil, bukan? Aku kan memang dilanda stress akhir-akhir ini." ujar Kyuhyun dalam hati.
"Tapi sebaiknya, kau bawa dia ke dokter kandungan. Mungkin ada gangguan di organ reproduksinya." saran Eunhyuk.
"Dia kan tidak hamil! Kenapa harus dibawa ke dokter kandungan?"
"Hei bodoh! Kau pikir dokter kandungan hanya untuk memeriksakan kehamilan?!" sahut Eunhyuk.
Setidaknya, pikiran Kyuhyun sedikit lebih tenang. Walaupun ia kurang yakin dengan jawaban Eunhyuk. Mungkin dia memang harus ke dokter kandungan. Berharap dia memang sedang dilanda stress, jadi haidnya tidak teratur.
Tiba-tiba ponsel milik Kibum berbunyi, menghentikan candaan mereka. Kibum menatap layar ponselnya bingung. Tapi dia tetap mengangkatnya.
"Halo...ya... Kyuhyun?" Kibum menyerahkan ponselnya pada Kyuhyun, membisikkan kalau itu telepon dari Changmin.
"Halo?"
"Kau sedang dimana?! Minho sedang mencarimu! Aku tau, mata kuliah sudah berakhir! Jadi jangan beralasan kau sedang dikelas!" omel Changmin.
"Aku sedang dikantin." ujar Kyuhyun lemah. "Kenapa kau menghubungi nomor Kibum?"
"Karena kau dengan cerobohnya, meninggalkan ponsel dirumah!" ketus Changmin. "15 menit lagi, aku harus sudah melihatmu dirumah tentu saja harus bersama Minho!"
"Ne, Changmin. Aku akan pulang. Okay?"
tut...tut...tut
"Kau disuruh pulang?" tanya Eunhyuk.
Kyuhyun mengangguk malas. Padahal dia ingin lebih lama di kampus, bersama teman-temannya.
"Nah, itu Minho." seru Kibum.
Kyuhyun menoleh kearah yang ditunjuk Kibum.
Wajah Minho benar-benar kusut. Pasti dia baru saja dimarahi Changmin, ya sama seperti dirinya.
"bye, guys!"
"Changmin memarahimu?" tanya Kyuhyun.
"Tentu saja! Dia akan membunuhku jika noona sampai disandera Kris." sungut Minho.
"Kris tidak mungkin menculikku. Aku selalu bersama teman-temanku."
"Kalau noona berkata seperti itu pada Changmin hyung, dia pasti akan mengomelimu lebih lama lagi."
Kyuhyun terkekeh. "Apa kau bisa mengantarku ke dokter kandungan?"
Mata Minho membulat. "Noona hamil?!"
"Aniyo. Hanya periksa rutin setiap bulan." Kyuhyun beralasan.
"Sekarang?"
Kyuhyun mengangguk. Dia tak ingin menunggu lebih lama lagi. "Ne. Tenang saja. Aku yang akan menjelaskan pada Changmin begitu kita tiba dirumah."
Minho pun memutar arah, mengikuti perintah Kyuhyun. Kyuhyun mendapatkan alamat praktik dokter itu dari Eunhyuk, melalui sms.
"Disini?" tanya Minho.
"Ne. Kau disini saja. Tak perlu masuk."
"Kalau Changmin hyung menelfon?"
"Katakan kita sedang di toko kue."
Minho mengangkat sebelah alisnya.
"Katakan saja seperti itu!" ketus Kyuhyun.
Untung saja saat itu hanya ada dua orang yang mengantri. Jadi dia tidak terlalu menunggu lama. Jantungnya benar-benar berdegup keras.
Setelah diperiksa, dia harus menunggu lagi, membuatnya semakin gugup.
"Mrs. Shim."
"Yeah." Kyuhyun memaksakan senyum.
"Saya lihat dari data yang anda isi, status anda sudah menikah. Benar?"
Kyuhyun mengangguk. "Benar."
"Kalau begitu, anda tidak perlu heran, kenapa anda bisa terlambat datang bulan." dokter itu tersenyum penuh arti.
"Jadi?"
Dokter mengulurkan tangannya. "Selamat. Anda hamil dan akan menjadi ibu muda."
Kyuhyun terpekur.
.
.
Semenjak keluar dari tempat praktik dokter itu, Kyuhyun tak bersuara sedikit pun. Ia menutup mulutnya rapat-rapat. Begitu selama perjalanan pulang.
Hal itu membuat Minho bingung. Dia berusaha mengajak Kyuhyun berbicara, tapi tidak diacuhkan sama sekali. Akhirnya Minho menyerah, dan tak berusaha mengajak Kyuhyun berbicara lagi.
Kyuhyun mendesah untuk kesekian kalinya. Dia benar-benar bingung akan perasaannya saat ini. Disisi lain, dia bahagia karena kehamilannya, tapi disisi lain juga takut. Takut Changmin tak suka. Bagaimanapun, sampai sekarang, ia masih belum tahu perasaan Changmin padanya. Kadang namja itu perhatian, kadang tak peduli sama sekali! Benar-benar membuat orang bingung!
"Kyuhyun noona?" panggil Minho sedikit keras sambil menepuk pundak yeoja itu.
Kyuhyun terlonjak kaget. Lalu menatap Minho. "Apa?"
"Kita sudah sampai."
"Oh, benarkah?" Kyuhyun menatap rumah bertingkat dihadapannya. "Wah, aku tak sadar sama sekali." ujarnya sambil tersenyum.
Mereka pun keluar dari mobil, lalu berjalan masuk kerumah. Diruang tamu sudah ada Changmin yang sedang duduk dengan tangan bersidekap didepan dada. Di Wajahnya benar-benar terlihat kekesalan.
"Dari mana kalian?" tanya Changmin langsung.
Kyuhyun berhenti melangkah, lalu menatap Changmin tenang. "Toko kue."
"Aku tahu kalian berbohong! Minho, katakan padaku yang sebenarnya."
"Sebaiknya kau masuk." Kyuhyun mendorong Minho, agar meninggalkan mereka.
"Jangan pergi!" tegas Changmin saat Minho akan melangkah.
"Biarkan dia istirahat."
"Aku sedang bicara padanya!"
Minho menatap keduanya bergantian. Dia bingung ingin mengikuti permintaan siapa.
"Kau tetap disini! Dan sekarang, kalian berdua duduk dihadapanku!"
Tanpa membantah, mereka berduapun duduk. Kyuhyun berusaha mempertahankan wajah tenangnya, padahal hatinya ketar ketir juga melihat wajah angker Changmin. Sedangkan Minho, wajahnya sudah terlihat takut.
"Kau tahu Kyuhyun, aku hanya memberimu waktu 15 menit untuk sampai dirumah! Kenapa kau malah menghabiskan 1 jam?!"
"Aku bilang, aku ke toko kue." ujarnya datar.
"Aku tak memintamu ke toko kue! Aku menyuruhmu pulang kerumah secepatnya! Itu perintahku!"
"Iya, maaf." ujar Kyuhyun santai.
"Kau bilang maaf? Bagaimana kalau kau disandera Kris, lalu diubah menjadi vampire? Atau mungkin kau dicelakai Jessica! Apa kata maaf itu akan membantumu?!" teriak Changmin emosi.
Kyuhyun dan Minho hanya diam. Tidak tahu harus bicara apa.
"Bagaimana kalau ketakutanku itu menjadi kenyataan? Bagaimana kalau kau memang disandera Kris atau Jessica?! Apa yang harus ku katakan pada keluargamu? Maaf? Kau pikir itu akan membuat mereka bahagia?! Kalau kau ingin bertindak, kau harus memikirkan orang lain! Aku tak ingin disalahkan seumur hidup oleh keluargamu karena aku tak bisa menjagamu!..."
"CERAIKAN AKU!" teriak Kyuhyun emosi.
Ia kesal karena kata-kata Changmin sangat membuatnya tersinggung. Sekarang jelas sudah, Changmin tak punya perasaan apapun padanya. Kata-kata namja itu sudah membuktikannya.
"Apa?" seru Changmin tak percaya.
"Ceraikan aku! Jadi, kalau seandainya aku di sandera Kris ataupun Jessica, kau tak akan disalahkan oleh keluargaku seumur hidupmu! Dengan begitu, kau bisa tenang bukan?! Tak ada lagi yang kau pikirkan! Tak ada lagi yang akan mengganggu hidupmu! Dan tak ada lagi..., Aakhh.." Tiba-tiba Kyuhyun merasa perutnya sakit.
Changmin berubah panik. "Kyuhyun, kau kenapa?!" Changmin langsung memegang lengan Kyuhyun, begitupun Minho.
"Jangan sentuh aku! Kau tak perlu repot-repot. Tenang saja, keluargaku tak akan menyalahkanmu." Kyuhyun menggigit bibir bawahnya menahan sakit.
"Ayolah Kyuhyun, aku tak bermaksud seperti itu." suara Changmin mulai melunak. "Mataku tertutup emosi! Maaf kata-kataku membuatmu tersinggung."
"Aaakkhh.." perutnya bertambah sakit.
Kyuhyun teringat kata-kata dokter tadi. Yeoja yang sedang hamil muda tidak boleh terlalu emosi, karena itu dapat mempengaruhi perkembangan janin.
Kyuhyun menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan. Mencoba menurunkan emosinya. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada janinnya.
"Aku ingin istirahat." gumam Kyuhyun pelan.
"Baik. Mari ku bantu." Changmin langsung membantu Kyuhyun berdiri, dan memapahnya menuju kamar.
Minho menatap pasangan suami-istri dihadapannya dengan dahi berkerut. Menurutnya pasangan itu benar-benar aneh. Baru saja bertengkar hebat, tiba-tiba saja mesra seperti itu.
"Aku minta maaf Kyuhyun." ujar Changmin sambil meremas tangan Kyuhyun yang tengah berbaring ditempat tidur.
"mm.." gumam Kyuhyun tanpa membuka matanya. Dia merasa cukup lelah.
"Aku sungguh minta maaf,Kyuhyun."
tak ada tanggapan.
"Aku sangat khawatir padamu. Aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, dan akan mengekspresikan kekhawatiranku itu dengan cara yang salah. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Dan sampai kapanpun, aku tak akan menceraikanmu, hingga aku punya alasan yang kuat kenapa aku harus menceraikanmu."
tak ada jawaban.
Changmin mendesah. "Istirahatlah." ia pun keluar dari kamar.
Setetes air mata mengalir dipipi Kyuhyun, namun ia tetap menutup matanya.
.
.
Kyuhyun membuka matanya perlahan. Ia pun mencari keberadaan ponselnya untuk melihat jam. 16.03. Satu jam sudah dia tertidur.
Ia merasa ranjangnya bergoyang. Tanpa menoleh pun, ia sudah tahu kalau itu Changmin. Tapi dia tetap menoleh, seperti ada gaya tarik terhadap kepalanya untuk menoleh. Benar. Changmin tengah tertidur dengan wajah tenangnya. Sangat berbeda ketika ia pulang tadi.
Perlahan, Kyuhyun mengangkat tangannya. Menyusuri lekuk wajah Changmin dengan jari lentiknya. Ia bahagia melihat Changmin berada disampingnya.
"Seandainya sikapmu sedikit lebih baik." batin Kyuhyun.
Saat Kyuhyun hendak menjauhkan tangannya dari wajah Changmin, Changmin tiba-tiba saja menggenggam pergelangan tangannya dan membawanya kedadanya (Changmin). Kyuhyun terkejut karena tindakan Changmin.
Changmin membuka matanya, lalu memiringkan tubuhnya menatap Kyuhyun. Ia masih menggenggam tangan istrinya itu.
"Maaf membangunkanmu." lirih Kyuhyun, lalu menarik tangannya. Ia pun membelakangi Changmin.
"Tidak. Maafkan aku." ujar Changmin. Tegas dan jelas.
"Aku sudah memaafkanmu." Kyuhyun nyaris berbisik.
Bagaimana mungkin dia tidak mau memaafkan orang yang mulai mengambil alih hatinya dan orang yang akan menjadi ayah dari bayi yang sedang dalam rahimnya saat ini?
"Seandainya sikapku sedikit lebih baik, apa kau mau memaafkanku? Apa kau tidak akan memintaku untuk menandatangani surat perceraian?"
Dalam diam Kyuhyun mengangguk. Dan bergumam lemah. "Ne."
Changmin duduk ditempat tidur, dan langsung meregup tubuh yeoja itu kedalam pelukannya. Ia memeluk erat Kyuhyun.
"Aku minta maaf. Kau tahu benar, maksudku bersikap seperti tadi, karena aku sangat khawatir padamu."
Kyuhyun mengangguk dalam pelukan Changmin. "Arraseo."
Changmin mengurai pelukannya, lalu menatap Kyuhyun lembut. Pandangan mata mereka beradu, dan semakin lama mereka semakin mendekatkan wajah mereka.
Bibir mereka pun bersentuhan. Changmin melakukannya dengan lembut dan perlahan. Ia tak ingin membuat Kyuhyun terkejut atau tak suka. Ciuman mereka semakin panas, tangan Changmin pun tak bisa diam. Tangannya sudah hinggap dimana-dimana. Kadang dipinggang, kadang dibetis Kyuhyun. Ciuman Changmin turun ke leher, membuat Kyuhyun mengerang pelan. Tangannya pun sudah masuk kedalam pakaian Kyuhyun.
Mendapat lampu hijau, Changmin langsung membaringkan Kyuhyun dan menindihnya.
"Hentikan..." ucap Kyuhyun lemah.
Dia memang menolak, namun hanya berkata, tak melakukan sesuatu agar Changmin menghentikan aktivitasnya yg sedang membuka pakaian bagian atasnya.
"Chang...min..."
Changmin kembali melumat bibir yeoja itu, tak membiarkannya bicara sedikitpun.
Kyuhyun tak dapat menahan dirinya untuk tidak mendesah ketika Changmin menjamah daerah sensitif di tubuhnya. Dia sudah berusaha menahan, namun gagal.
"May i?" Changmin meminta persetujuan Kyuhyun ketika ingin melakukannya.
Mata Kyuhyun sudah sayu. Ia tak ingin jadi yeoja munafik yang tak ingin melakukannya. Lagi pula, mereka sudah menikah. Meskipun ia tidak tahu perasaan Changmin, itu urusan nanti. Yang penting ia jujur akan perasaannya.
Kyuhyun mengangguk lemah, membuat Changmin tersenyum lebar dan kembali mencium bibirnya.
Kyuhyun membuka matanya perlahan. Ia merentangkan tubuhnya yang terasa kaku akibat ulah Changmin. Namun, disisi lain dia juga bahagia.
Kyuhyun melirik pintu balkon yang tembus pandang. Malam. Ia pun menoleh kearah jam. 21.50. Ia tidur hingga malam gara-gara Changmin melakukannya berkali-kali, dan sekarang, namja itu entah kemana. Sudah pasti ke hutan.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Masuklah Changmin dengan membawa nampan yang berisi makanan, serta segelas air putih juga segelas susu.
"Kau belum makan dari siang." ujar Changmin.
Kyuhyun memperbaiki letak selimutnya. "Aku belum mandi, Changmin."
"Makan lebih penting dari mandi."
Kyuhyun menatap Changmin kesal.
Bagaimana dia bisa makan kalau dia saja hanya memakai selimut untuk menutupi tubuhnya?
"Kau bisa menyuapiku, tidak?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulutnya. Jangan-jangan ini permintaan baby?
Changmin tak menjawab, namun langsung mengambil sendok dan garpu untuk menyuapi Kyuhyun.
Setelah makanannya habis, Kyuhyun disuguhkan susu. Tentu saja dia menggeleng. Dia sudah kenyang, kenapa harus minum susu lagi?
"Aku ingin berendam. Gerah." ujar Kyuhyun, menyuruh Changmin keluar dari kamar secara tidak langsung.
"Kau baru selesai makan. 15 menit lagi, okay?"
Kyuhyun menyipitkan matanya. "Kenapa kau jadi aneh?" ia menyebut perhatian dan kebaikan Changmin aneh.
"Karena kau yang mintanya. Kau bilang, kalau aku sedikit lebih baik, maka kau tidak akan meninggalkanku."
"Kenapa kau melakukannya?" tanya Kyuhyun. Bingung.
"Karena aku tak ingin kau meninggalkan ku."
"Ne, tapi kenapa?"
"Aku harus mengantar ini kebawah. Kalau kau ingin mandi, silahkan saja. Tapi harus dengan air hangat dan tak lebih dari 20 menit." jawab Changmin asal.
Kyuhyun memberengut saat Changmin telah keluar kamar. Sikap mengaturnya masih belum hilang.
.
.
Changmin mengguncang tubuh Kyuhyun. Ia sudah membangunkan yeoja itu sejak 10 menit yang lalu, tapi yang keluar dari mulutnya hanyalah kalimat 'tunggu sebentar' atau 'satu menit lagi'.
"Kyuhyun!" Changmin mulai emosi.
"Eeergh." Kyuhyun mengerang.
"Cepat bangun! Kenapa kau ini susah sekali dibangunkan?!" omel Changmin.
"Iya, iya." Kyuhyun duduk ditempat tidur, namun matanya masih terpejam.
"Hei!" Changmin menjetikkan jarinya didepan wajah Kyuhyun.
"Aku masih mengatuk, Changmin." Kyuhyun memelas. "Tubuhku juga masih pegal-pegal."
"Jangan beralasan! Mandilah. Kita masuk kuliah jam 8. Jadi, kita bisa sarapan bersama semuanya dibawah."
"mm..." Kyuhyun bergumam.
"Aku beri waktu 20 menit. Mulai lah bergerak!"
Mata Kyuhyun membulat. "20 menit?! Kau bilang, kau ingin berubah!" sungut Kyuhyun.
"Aku memang berubah bukan? Biasanya aku hanya memberi waktu 15 menit. Sekarang menjadi 20 menit."
"Sama saja tidak!" ketus Kyuhyun.
"Aku berubah pikiran. Waktumu hanya 15 menit. Jadi, mulailah bergegas!"
"Mwo?!" protes Kyuhyun.
Changmin menunjuk jam tangannya.
Kyuhyun mendesah putus asa, lalu beranjak ke kamar mandi.
15 menit kemudian, Kyuhyun telah siap berpakaian dan tas kuliahnya pun sudah tersampir dibahunya.
"Aku sudah siap!" teriak Kyuhyun.
Changmin yang tengah berdiri dibalkon pun melangkah masuk ke kamar. Ia memperhatikan Kyuhyun, lebih tepatnya barang-barang Kyuhyun.
"Ponsel?"
Kyuhyun mengacungkan ponselnya didepan wajah Changmin.
Changmin menepisnya. "Tak perlu sedekat itu! Aku tidak buta!"
Kyuhyun mengumpat dalam hati.
"Hilangkan kebiasaan burukmu itu! Kau ingin dikutuk Tuhan, karena mengumpat suami?!" Changmin pun berjalan menuju pintu.
Tiba-tiba, Kyuhyun merasa perutnya mual, serasa ingin muntah. Kyuhyun membekap mulutnya, berharap dengan begitu rasa mualnya berkurang.
"Jangan sekarang..., jangan sekarang..." Kyuhyun membatin.
"Apa yang jangan sekarang?" Changmin membalikkan tubuhnya.
Pada saat bersamaan, Kyuhyun segera membanting tasnya kelantai lalu berlari ke kamar mandi. Ia pun memuntahkan sesuatu yang ditolak perutnya di wastafel. Namun tak ada yang keluar.
"Hoeks..., hoeks...," Kyuhyun terus saja berusaha memuntahkan apa yang mengganjal diperutnya.
"Kau kenapa?" tanya Changmin panik.
Kyuhyun menatap Changmin melalui cermin. "Gwenchana."
"Kau pucat."
"Aku baik-baik..., hoeks..., hoeks...,"
"Kau tidak baik-baik saja." Changmin mengurut daerah tengkuk Kyuhyun.
Kyuhyun mencuci mulutnya. "Ini hanya karena aku belum sarapan. Kau tenang saja." ia menatap Changmin sungguh-sungguh.
"Matamu..., berbohong."
Kyuhyun mengabaikan perkataan Changmin lalu beranjak keluar dari kamar mandi. Namun, baru saja tiba di pintu kamar mandi, tubuhnya langsung oleng, syukurnya Changmin langsung menahan.
"Ini yang kau bilang baik-baik saja?!" bentak Changmin.
"Oke, aku pusing. Dan aku tidak ingin kuliah."
"Hoho..., tidak ingin kuliah? Jangan-jangan tadi malam kau berharap kau sakit hari ini, jadi kau tidak akan kuliah, dan kau tidak akan mengikuti pre-test Mr. Song."
Kyuhyun terkekeh. "Bagaimana kau tahu?"
Changmin menatap Kyuhyun tajam. "Ya sudah. Istirahatlah! Aku tetap harus kuliah."
Kyuhyun tersenyum senang, lalu kembali menghempaskan diri ketempat tidur.
Changmin memungut tas Kyuhyun yang terletak dilantai. Ia meletakkan tas itu diatas meja belajar. Pandangannya terhenti pada sebuah amplop berwarna cokelat yang terselip diantar modul-modul kuliah.
Karena penasaran, Changmin mengambil amplop itu, lalu memperhatikannya dengan seksama. Disudut amplop tertera sebuah cap.
Dr. Park Jungsoo
Spesialis...
"Kau belum pergi?" suara Kyuhyun mengagetkannya.
Changmin langsung memutar badan dan menyembunyikan amplop itu dibalik punggungnya. Ia menatap Kyuhyun datar. "Belum." ia kembali menyelipkan amplop itu di kantong celana belakangnya. "Kenapa kau belum tidur?"
"Perasaanku tidak enak."
Changmin mendengus, lalu melangkah keluar dari bersandar pada pintu yang sudah ditutupnya dari luar. Jujur saja, perasaannya juga berubah tidak enak. Dia ingin pergi kuliah, tapi ada sesuatu yang menahannya untuk tetap turun dan menuju ruang makan. Pasti sudah tidak ada orang. Dia salah, didapur masih ada Jaejoong juga Arrum.
"Umma, Arrum? Kalian kenapa masih disini?"
"Umma cuti, dan Arrum kuliah siang." jelas Jaejoong.
"Hei, kau tidak kuliah?" tanya Arrum. "Dan mana Kyuhyun?"
"Dia terlihat tidak baik." Changmin mendesah. "Sudah jam 8. Jadi aku sudah terlambat."
"Kenapa kau tidak diatas menemani Kyuhyun? Bodoh!" omel Jaejoong.
Changmin kembali naik keatas, sambil membaca isi surat yang terdapat dalam amplop tadi. Matanya bergerak mengikuti kalimat yang berhenti memutar kenop pintu saat matanya menangkap satu kata.
HAMIL.
Changmin mengerjapkan mata berkali-kali. Kyuhyun hamil? Hamil? Sedang Mengandung anaknya?! Benarkah?!
Changmin langsung menghambur kekamar. Namun, langkahnya terhenti saat melihat Kyuhyun sedang kesulitan bernafas sedangkan matanya terpejam. Mulutnya seperti dibekap.
"Kyuhyun?!" seru Changmin.
TBC
