.
.
.
Tempat ini sudah tampak berdebu. Jakarta bahkan harus memakai masker untuk melindungi dirinya dari partikel debu yang kalau terhirup akan membuat sesak paru-paru. Jakarta pernah merasakan yang lebih buruk. Tapi bukan berarti dia mau begitu saja menghirup debu.
"Ini tempat berantakan sangat. Kalau bukan disuruh bang Indo, gue sekarang sudah molor kali ya." Kata Jakarta menggerutu. Sambil mengingat kejadian beberapa waktu lalu ketika Indonesia memaksanya untuk membersihkan gudang rumah. Membuat kesabaran Indonesia habis itu bukanlah pilihan tepat. Jakarta masih ingin hidup.
Pria berkulit langsat itu mengambil kemoceng dan membersihkan debu di setiap sudut ruangan, dia pun juga memisahkan barang-barang yang masih bagus dan sudah rusak. Koran lama, buku, peta, dan album foto. Yang masih bagus masih bisa dia taruh di museum.
Sebuah album foto kecil bersampul kulit coklat menarik perhatiannya. Berbeda dari album lainya, album ini tampak polos dengan sebuah tulisan kecil bertinta perak; Memory, itu yang tertulis disana.
"Gue sama sekali gak ingat dengan album ini." Jakarta mengambil album itu dan membukanya. Dia melihat beberapa foto lama yang sudah tampak tua. Kuning di makan usia. Foto pertama yang dia lihat adalah sosok dirinya ketika masih menjadi Batavia, bang Indonesia yang dulu menyandang nama sebagai Hindia-Belanda, dan seorang anak kecil dengan baju longgar. Senyumnya cerah seperti mentari pagi yang hangat, matanya begitu hidup walau di lihat dari foto hitam-putih.
Jakarta mengerutkan alisnya. Apakah dia pernah bertemu anak ini?
Dia menggaruk belakang kepalanya. Sambil mengingat-ngingat keberadaan si bocah di dalam foto. Walau begitu, memori itu tidak kunjung datang seperti yang dia harapkan. Jakarta mendengus. Lalu membalik lagi halaman dan memperlihatkan foto lain. Kali ini foto yang sama. Hanya saja, bocah itu sudah menjadi remaja. Pakaiannya yang tadi tampak berantakan sudah terlihat lebih rapih. Latar belakangnya pun masih sama. Rumah dusun milik bang Indonesia kala itu.
"Ini rumah sekarang pasti sudah di gusur."
Dia membalik lagi ke halaman yang selanjutnya. Masih sama. Ada mereka bertiga. Indonesia, dirinya, dan si bocah yang sudah tampak dewasa. Dia memakai kemeja putih dan celana hitam panjang. Latar belakang sudah berbeda. Itu adalah Universitas Indonesia dahulu kala. Si bocah yang sudah menjadi pria itu telihat begitu gagah dan menawan.
Lalu halaman selanjutnya. Kali ini pria itu memakai baju adat Jakarta. Disampingnya terdapat seorang wanita cantik berbalut kebaya pengantin. Sekarang mereka sudah menikah? Di samping si pria ada dirinya yang menyengir senang. Indonesia berdiri di samping sang wanita dengan wajah ceria.
Jakarta membaliknya lagi. Dan dia melihat sosok anak perempuan diantara mereka. Anak si pria dan wanita itu kah? Anak perempuan itu tersenyum lebar. Mengingatkan Jakarta pada si pria ketika masih bocah di halaman pertama.
"Sepertinya gue ingat dengan anak perempuan ini."
Jakarta terus membuka album itu. Dia lihat dari halaman ke halaman selanjutnya. Dari si anak perempuan yang beranjak dewasa, dari si pria dan istrinya yang sudah tua. Sampai pada halaman yang membuat Jakarta termangu. Disana, di foto itu tidak ada sosok Indonesia, sang istri, maupun si anak perempuan. Hanya dirinya yang tersenyum kecil sambil berdiri di samping si pria yang sudah lanjut usia. Tengah duduk di kursi dan sedang memegang tongkat sebagai penopang. Senyum cerah masih terpampang di wajahnya.
Halaman terakhir. Tidak ada yang benar-benar tersenyum disana. Indonesia dan si anak perempuan yang tengah menggendong seorang bayi memandang kaku kedepan. Bisa dia lihat kepedihan di mata sang anak perempuan yang sudah menjadi ibu itu. Dirinya pun tak jauh berbeda -berbalut pakaian serba hitam.
Dia tampak kacau.
Jakarta menangis. Memori lama yang sempat terlupakan itu kembali lagi. Dia ingat dengan si bocah pada halaman pertama. Jakarta ingat ketika bocah itu berteriak padanya di malam mereka bertemu, berkata bahwa ia ingin melanjutkan pendidikan ke yang lebih tinggi. Dia juga ingat pernikahan si bocah, ketika si bocah –pria itu memandang istrinya dengan penuh cinta, atau hari dimana ketika anak perempuan mereka lahir, sampai pada kerutan usia terpampang jelas pada paras mereka.
Bagaimana dia bisa lupa?
Air mata Jakarta masih tumpah. Likuid air itu bahkan tak mau berhenti walau dia mencoba. Bocah yang akhirnya beranjak menjadi dewasa, dan menua sampai ajal menjemputnya karena faktor usia.
Sahabat manusianya yang begitu dia sayang.
Dalam foto itu, Jakarta sadar akan satu hal. Dia dan Indonesia sama sekali tidak menua.
Sebuah ironi indah dari alam semesta.
.
.
.
