Boruto menggerutu mendapati telepon genggamnya bordering. Ah, tidak mungkin dunia sedemekian kejam kan? Baru saja ia bisa berkencan layaknya remaja normal lainnya, kini ia harus kembali pada rutinitasnya.
"Hallo", kata Boruto sambil mendekatkan ponsel silvernya ke daun telinganya.
"Dua harimu sudah habis Boruto", speaker ponselnya menangkap suara laki-laki yang datar dan terkesan memerintah.
"Baik paman. Hari ini aku akan pulang. Aku tak akan melanggar janjiku, tebassa!", sahut Boruto sambil mengerucutkan bibirnya. Gadis yang sedari tadi duduk merebahkan kepala dipundaknya hanya tersenyum sekilas mendengar suara ayahnya dari balik telepon Boruto.
"Hn", sahut laki-laki itu mengakhiri panggilannya.
Boruto menolehkan kepalanya sedikit menengok ke arah Sarada yang masih asyik dengan buku kesayangannya. Boruto hanya menatap dalam diam tanpa bertanya atau berkata apapun.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?", Tanya Sarada tanpa berpaling dari bukunya.
"Ah, tidak", jawab Boruto sedikit kikuk.
Mereka berdua berada di rumah Konohamaru, paman Boruto yang saat ini tinggal di Amegakure bersama Hanabi, istrinya yang sedang mengandung 7 bulan. Setelah kejadian di stasiun kemarin sore setelah pulang dari kuil, mereka berdua sepakat menghabiskan kebersamaan mereka di rumah Konohamaru. Selain lebih santai, Paman dan Bibi mereka lebih toleran daripada kedua orang tua mereka sendiri.
"Ya, kau menatapku", kata Sarada yang kini menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Boruto yang sedang menggaruk tengkuknya dengan cengiran lebar menghiasi wajahnya.
"Hehe, aku hanya ingin minta maaf lagi Sarada", jawab Boruto yang membuat Sarada mengernyit heran.
"Untuk?", Tanya Sarada kemudian.
"Sepertinya aku harus melanggar janjiku", gumam Boruto sambil mengerucutkan bibirnya sebal dengan kata-katanya sendiri. "Aku harus pulang. Bulan depan akan ada pertandingan antara aku dan Lee, perwakilan dari Kirigakure. Aku sudah berjanji pada Ayahku dan Ayahmu untuk memenangkan pertandingan. Besok jadwal latihanku di mulai dan sepertinya aku akan sangan sibuk sekali dengan latihan. Kuharap kau tidak merasa aku abaikan lagi".
Sarada mendengus mendengar kata-kata dari lelaki yang baru saja menjadi kekasihnya itu.
"Tentu saja aku akan senang kalau kau bisa memenangkan pertandingan itu", ujar Sarada sedikit angkuh. "Aku kan tidak mau punya kekasih yang tidak bisa menyeimbangiku".
Boruto terbahak mendengar kata-kata Sarada. Tidak berbeda dengan Hikari, tentunya. Para wanita menginginkan kekasih yang bisa menyaingi atau paling tidak seimbang dengan kemampuan mereka.
"Kalau seandainya aku tak bisa memenangkan pertandingan itu atau.. ah, seandainya aku tak bisa menyeimbangi dirimu, apa kau akan memutuskanku?", Tanya Boruto sedikit menyeringai. Sebenarnya tanpa bertanya seperti itupun ia akan tau jawabannya. Ia tau bagaimana Sarada, tentu saja. Sayangnya dia mengaliri ego Uchiha yang tentu saja tidak mudah membuat para Uchiha bisa begitu saja mengungkapkan perasaan mereka lewat kata-kata.
"Mungkin saja", jawab Sarada sambil balas menyeringai.
"Aku akan meneleponmu setiap hari", kata Boruto sambil mengeratkan ranselnya. Ia menatap Sarada dengan pandangan tak rela. Yang benar saja, mereka kan baru saja jadian. Masa sih harus LDR? Sebenarnya Boruto tidak rela sama sekali, tapi apa boleh buat.
"Kau tak akan menciumku disini kan?", Tanya Sarada yang kini tersenyum melihat bagaimana Boruto menatapnya dengan intens dan serius.
Boruto tersentak kaget, begitu pula Konohamaru yang kini sedang berjalan pelan mendekati mereka. Langkahnya sontak terhenti mendengar kata-kata Sarada yang sedikit er… to the point.
"Tentu saja aku akan menciummu kalau ka uterus memancingku seperti itu", jawab Boruto sambil kembali memasaang cengiran lebarnya. Tangannya menarik Sarada lebih dekat dan memeluk Sarada tepat ketika Konohamaru sampai dihadapan mereka.
"Kurasa lebih baik kalian tidak membuatku jantungan saat ini", kata Konohamaru sedikit muram. Boruto dan Sarada hanya melonggarkan sedikit pelukan mereka tanpa melepaskan diri satu sama lain.
"Sudah saatnya Boruto, keteramu akan segera berangkat", kata Konohamaru lagi. "Tenang saja, aku akan membantu menjaga Saradamu tanpa kau minta", sahut Konohamaru lagi menghentika kata-kata yang hendak keluar dari mulut Boruto.
Lelaki bersurai kuning itu mengeratkan pelukannya sekali lagi, mengusap surai Sarada sekilas kemudian memeluk sang Paman sebentar dan melambai sebelum berlari menuju kereta cepat yang akan membawanya kembali ke Konoha.
Boruto melambai heboh dari dalam kereta. Beberapa menit kemudian kereta berjalan dengan cepat meninggalkan Sarada dan Konohamaru dibelakanngnya yang masih menatap kepergian Boruto hingga titik dimana kereta yang membawa Boruto pulang tidak lagi terlihat.
Shinki, Yurui, dan Shikadai sedang berada di teras belakang rumah keluarga klan Nara. Shinki dan Yurui sibuk bercerita tentang kejadian kemarin. Sedangkan Shikadai hanya menanggapi ceritaa mereka dengan kuapan dan sesekali anggukan, hanya untuk formalitas saja.
"Aku melompat turun dan lupa membangunkanmu", ujar Shinki memulai ceritanya dengan men-skip cerita tentang ia mengejar Himawarinya. "Dan ketika aku sadar, kau sudah terbawa jauh oleh bus itu. Aku mencoba mengikuti bus itu hingga terminal terakhir, tapi kau tidak ada. Untung saja Shikadai meneleponku dan bilang kau sudah dirumahnya".
Yurui mendelik menatap Shinki yang menatapnya tanpa penyesalan.
"Aku terbangun dan aku sadar aku tersesat saat kulihat bangku disebelah sudah kosong", serunya berapi-api. "Kau itu. Aku benar-benar bisa hilang tau. Untung saja aku popular. Dan begitu ada gadis yang bersedia mengantarku ke rumah Shikadai dengan suka rela, aku tak mungkin menolaknya kan?".
Nah, sekali ini Yurui juga men-skip adegan adu mulutnya dengan Chouchou.
"Kau akan kemana?", Tanya Naruto yang melihat Himawari memakai gaun biru muda selutut yang kini sedang sibuk membongkar koleksi sepatunya.
"A-aku akan pergi bersama temanku, Tousan", jawab Himawari jujur. Gadis itu memang tidak terbiasa berbohong. Kedua orang tuanya sangat menyayanginya dan selalu mengajari dia dan Nii-channya untuk berkata jujur seburuk apapun keadaannya.
"Jika kau hendak berkencan, sebaiknya kau tunggu kakakmu pulang sebentar lagi. Tousan tidak akan membiarkanmu berkencan tanpa didampingi", sahut Tousannya sambil memegang bahu Himawari yang kini melemas.
Gagal deh rencana untuk menemui Mitsukinya. Tousan dan Niichannya adalah dua orang yang sangat protektif terhadapnya. Bagaimana cara mengakali merka tanpa berbohong ya? Piker himawari mencari celah. Tidak mungkin kan ia mengenalkan kekasihnya pada Boruto? Bisa-bisa Mitsuki babak belur dihajar Niichannya yang biasanya memang begitu.
"Ehm, tadinya memang ingin berkencan", gumam Himawari yang sontak mendapat perhatiaan penuh dari sang kepala keluarga. "Tapi tidak jadi saja deh. Apa tidak aneh kalau berkencan sambil di temani niichan? Memangnya dulu waktu Tousan kencan sama Kaasan Paman Neji ikut menemani ya?".
Naruto mendelik tajam mendengar pertanyaan dari gadis ciliknya. Ya meskipun benar begitu tapi Naruto tak akan mengatakannya. Egonya menolak untuk bersikap memalukan dihadapan gadis yang disayanginya itu.
"kau tidak akan berbuat macam-macam kan?", Tanya naruto sambil mendelik tajam.
Himawari hanya mengangguk ringan. Memangnya kalau kencan bisa berbuat macam-macam apa?pikir gadis itu.
"Ingat Hima, kau sudah besar jadi sudahwaktunya Tousan membahas ini", kata Naruto memulai penjelasannya. Himawari merasakan firasat buruk. Bisa jadi Tousannya akan membahas hal yang termasuk macam-macam itu. Dan benar saja. Setelah menarik nafas dua kali Naruto kembali memulai kalimatnya.
"Aku tak ingin kau salah pergaulan. Apa yang baik dan buruk harus kau tau sekarang tanpa mencoba-cobanya. Ingat Himawari, tanpa mencoba. Seburuk apapun rasa penasaranmu. Paham?", Naruto menatap mata biru Himawari yang memancarkan persetujuan. Naruto melihat Himawari mengangguk kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
"Berhubungan dengan laki-laki yang kau sukai bisa berdampak baik. Tapi juga bisa berdampak buruk. Aku tau kau sudah dewasa, hampir dewasa. Tapi menurut Tousan kau tetap gadis kecil Tousan sampai kapanpun. Jika sekarang kau merasakan ketertarikan terhadap seorang anak laki-laki, Tousan tak bisa melarangnya. Hanya ingat ini, Kaasanmu adalah wanita yang hebat yang bisa menjaga martabatnya meskipun ia mencintai Tousan dari kecil. Tapi tak sedikitpun kelakuan Kaasanmu terkesan seperti wanita murahan dan tk bermatabat. Jangan biarkan laki-laki menyentuhmu atau menciummu sebelum ia melamarmu. Mengerti? Aku ingin janjimu, Himawari!"
Naruto melihat Himawari yang kini mengangguk sambil tersenyum.
"Aku mengerti Tousan dan aku berjanji tidak akan membiarkan diriku dilecehkan, tidak ada ciuman atau sentuhan sebelum salah satu dari mereka melamarku secara resmi dihadapan Tosan", sahut Himawari dengan mantap. Tapi Naruto justru tertegun.
"Mereka?", Tanya Naruto heran. "Siapa mereka yang kau maksud?".
"Sebagian besar teman Boruto-nii dan ada juga yang dari luar Konoha. Mereka bilang menyukaiku, sayangnya aku tidak", jawab Himawari sambil mengendikkan bahu ringan.
Naruto terbengong. Ia tidak menyangka putrinya mendapat banyak penggemar. Mungkin pesonanya menurun ke putrinya ini. Zaman Naruto muda dulu sedang berjaya para wanita juga banyak yang mengejarnya. Meskipun begitu Naruto hanya memilih seorang Hinata sebagai pendamping hidupnya. Karena Naruto tau seburuk apapun kehidupannya hanyalah Hinata yang sanggup menemaninya melalui banyak hal tanpa mengeluh dan sabar menghadapi siklus emosinya yang terkadang meluap-meluap.
"Kalau begitu aku boleh pergi atau tidak?", Tanya Himawari sambil bergelayut manja dilengan Tousannya.
"Kau sudah berjanji dan jangan langgar kepercayaan Tousan, mengerti?", Himawari mengangguk dan mengecup singkap pipi Tousannya. Ia mengenakan sepatu flat sewarna dressnya dan segera berlari ke dapur untuk berpamitan pada Kaasannya.
"Aku berangkat", seru Himawari bersemangat memulai langkahnya keluar dari rumah keluarga Uzumaki.
Mitsuki sedang berdiam dikamar apartemennya ketika ia mendengar pintu depan apartemennya diketuk seseorang.
"Sebentar", seru Mitsuki sambil berlari menuju ruang depan. Badannya membeku melihat gadis pujaannya sedang berdiri dihadapannya. Himawari terlihat sangat cantik memakai dress biru muda selutut . Pipinya bersemu merah sewarna dengan pipi himawari yang juga merona.
"Boleh aku masuk", Tanya Himawari sambil tersenyum.
"Tentu", jawab Mitsuki mempersilahkan Himawari masuk dan duduk di sofa ruang tamunya.
"Kopi, teh, soda?", tawar Mitsuki yang kini sedang berada belakang island dapur yang menjadi satu dengan ruang depan.
"Apa saja kecuali kopi", jawab Himawari sambil tetap asyik menatap ruangan apartemen Mitsuki dengan mata birunya yang memancarkan rasa takjub dan penasaran.
Semenit kemudian Mitsuki kembali ke hadapannya dengan membawa dua buah gelas berisi soda.
"Apa kau masih marah?", Tanya Himawari.
Mitsuki mematung sejenak. Ingatannya kembali pada saat ia memutuskan Himawari kemarin di sebuah kafe. Ia merasa menyesal, tentu saja. Melihat Himawari meredup dan tak bersemangat membuat hatinya juga ikut tercabik. Tapi melihat Himawari juga dikagumi teman-temannya membuatnya kembali memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Tidak adil bagi Himawari tentu saja. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin dijauhi teman-temannya. Lihat saja Inojin dan Shikadai. Setelah mereka tau Himawari menyukainya, mereka berdua seperti enggan menyapanya dengan sengaja.
"Tidak", jawab Mitsuki. "apa kau masih?".
Himawari tersenyum mendengar pertanyaan Mitsuki. Harusnya ya, harusnya ia marah. Tapi ia lebih memilih tersenyum daripada marah.
"Aku tidak marah", jawab Himawari membuat Mitsuki terdiam.
Benaknya kini bertanya-tanya, apa mungkin Himawari lebih suka jika ia memutuskannya? Sepertinya ya. Gadis itu tiddak lagi murung. Wajahny kini berseri-seri. Apa kini ia sudah memilih antara Shikadai atau Inojin? Atau mungkin teman sekelasnya? Atau yang lain? Mitsuki frustasi sendiri dengan pertanyaan yang bergelayut di otannya.
"Tadinya aku kecewa", lanjut Himawari.
"Tadinya?", Tanya Mitsuki masih belum mengerti.
"Ya, tadinya. Sampai kuputuskan sesuatu", jawab Himawari dengan senyuman penuh teka-tekinya.
Mitsuki masih bergeming. Menunggu.
"Aku putuskan untuk mengejarmu lagi. Aku tak peduli bagaimana hubungan kita yang lalu. Yang pasti aku tak ingin kehilanganmu, jadi kuputuskan untuk mengejarmu", ujar Himawari sambil menunggu reaksi dari Mitsuki.
Responnya cukup lambat. Mitsuki terdiam beberapa saat hingga senyumannya tiba-tiba terkembang. Ah, persetan dengan teman-temannya. Ia harus jujur dengan dirinya sendiri. Mitsuki sangat menyayangi Himawari. Perlahan Mitsuki bangkit dan berdiri dihadapan Himawari. Ditariknya Himawari yang masih duduk. Posisi mereka kini berhadapan. Tangannya sudah terulur untuk memeluk Himawari tapi gadis itu malah melangkah mundur.
"Eh", Mitsuki mengangkat alisnya sambil memandang Himawari dengan heran.
"Jika kau memang bersedia kembali menjadi kekasihku, berjanjilah satu hal", ujar Himawari yang masih ditatap oleh Mitsuki dengan heran.
"Baiklah, Hima-chan. Jujur aku tidak mengerti. Tapi katakan, aku harus bagaimana?", Tanya Mitsuki sedikit gusar.
"Bantu aku memenuhi satu janjiku pada Tousanku", jawab Himawari yang kini menceritakan perihal perjanjiannya dengan sang ayah. Mitsuki tersenyum dan mengangguk setuju. Ya dia menyayangi Himawari lebih dari apapun dan dia akan menjaga Himawari seperti benda yang paling berharga didunia.
"Aku rasa aku setuju dengan Tousanmu", jawab Mitsuki sambil menggenggam tangan Himawari.
"Kurasa bergandeng tangan tak melanggar janji bukan?", Tanya Himawari diikuti cengiran lebarnya.
Tbc
Telat update? Banget! Yup author tau. Apapun permasalahan yang author hadapi bukan alasan untuk telat update. Tapi beneran ini modem eror jadi sedikit menghambat proses.
Thanks buat semua yang sudah review. Maaf gak bisa balas satu-satu tapi author cukup senang banyak yang masih nungguin lanjutannya. Mungkin akan selesai dalam beberapa chap lagi.
~Arigatou~
