I Hate Him, But I Love Him!
Kamichama Karin©Koge-Donbo
T/Romance & H/C
Warning: Typo(s), OOC!
-KazuRin-
Haruka Hitomi 12 proudly presents...
-Chapter 11-
.
Syuting itu akhirnya selesai. Sekarang adalah hari pemutaran perdananya dan tentunya, hari pemutaran film perdana adalah hari paling berkesan bagi setiap kru yang ikut berpartisipasi didalamnya. Syuting yang memakan waktu berbulan-bulan itu serasa dibayar dengan kepuasan tersendiri melihat banyak orang ikut terbuai dengan hasil akhirnya—dan itu patut dirayakan dengan benar-benar spesial.
Seperti sekarang ini, Kirio Karasuma—sang sutradara—mengusulkan kalau perayaan sekaligus pemutaran film ini dilaksanakan di gedung paling terkenal di Tokyo dan konon, penyewaannya adalah hal paling mahal—Kanazuki Theater—dan langsung dibayar lunas oleh perusahaan Kujyo.
Malam ini. Premiere film itu diadakan malam ini. Dan Kazuto Kujyo—yang Karin kenal sebagai ayah Kazune sekaligus pemilik resmi Kujyo Pictures meminta setiap orang yang datang berpenampilan istimewa.
"Kujemput kau sore ini."
Ucapan yang terdengar seperti perintah itu memasuki gendang telinganya. Hanazono Karin menoleh kearah Kazune yang sudah berbaik hati untuk mengantarnya selamat sampai di rumah, "Errr... ya. Tapi apa tak merepotkan?" tanya gadis itu lagi sebelum melangkah keluar dari pintu.
"Tidak," jawab Kazune, "Tidak sama sekali. Langsung saja dengan penampilan istimewamu lalu kita berangkat."
Gadis itu mengangguk lalu berlari kecil kearah gerbang rumahnya.
.
.
.
Berbicara lewat video call dan telepon seluler memang tak cukup. Begitu mengetahui syuting film telah selesai dan para kru The Love Tone sudah kembali ke Jepang, Himeka, Micchi, Kazusa bahkan Kirika—yang ternyata adalah teman baik Kazusa—mengadakan pesta selamat datang untuk Karin disalah satu kafe favorit mereka. Pesta antar sahabat memang menyenangkan.
"Arigato minna," ucap Karin sambil mengangkat gelasnya—cheers. Yang lain membalas dengan senyum lebar sambil ikut mengangkat gelas, "Kirika-senpai, arigato," ujar gadis bersurai brunette itu lagi.
Karasuma Kirika—gadis bersurai cokelat dengan raut wajah kalem dan dewasa itu tersenyum, "Yah, kuharap setelah ini kita bisa menjadi teman akrab. Ah ya, kita belum pernah menjadi rekan kerja bukan?" tanya adik dari Karasuma Kirio itu.
"Ya. Kuharap sebentar lagi akan ada produser yang mengontrak kita untuk syuting bersama," tawa Karin.
"Jadi bagaimana?" Micchi menyela, "Pengalamanmu di Seoul dan Venice? Jin selalu menghindar jika kutanyai. Ada apa diantara kalian?"
Kazusa tertawa, "Yah, kurasa kau yang harus menceritakannya ya? Kazune-nii juga diam saja. Apa terjadi sesuatu yang menarik antara kau, Jin dan Kazune-nii?"
"Err... lebih baik kita cari waktu yang tepat," ucap Karin sambil meraih sedotan yang ada di gelas lemon tea nya—sekaligus gelasnya—dan menyesapnya.
"Em, Karin-chan. Premiere film nya malam ini kan?" tanya Himeka yang sejak tadi diam sambil menatap gadis bermarga Hanazono itu.
Karin mengangguk lalu memainkan sedotan di gelasnya dengan jemarinya, "Ya dan parahnya, aku tak punya baju istimewa yang bisa kupakai. Masih ada sih beberapa dress, tapi menurutku... baju-baju itu kurang cocok untuk acara seresmi itu."
Micchi mengangkat tangannya, "Bukan spesialisku," komentarnya, "Aku tak mengeti seluk-beluk baju perempuan."
Kazusa sesaat terdiam sebelum akhirnya anak kedua keluarga Kujyo itu menjentikkan jarinya, "Ayo kita ke rumahmu dulu!"
.
.
.
Himeka hanya bisa menggeleng saat Kazusa—begitu sampai di kamar Karin—membuka lemari gadis itu dan mengeluarkan semua dress yang ia punya. Sementara Karin pasrah-pasrah saja—yah, setidaknya Kazusa pasti tahu mode lebih banyak darinya. Mengingat ia hanya menggunakan make up kala syuting dan pemotretan dan saat biasa mengenakan baju sekenanya—apapun yang bisa ia raih saat itu.
"Kazusa-chan, kau punya ide?" tanya Himeka sambil mengangkat sebuah dress putih polos lalu melipatnya lagi—agar lebih rapi dilihat.
Kazusa menghentikan sejenak kegiatannya. Ia menoleh menghadap Karin yang duduk santai di sofa putih di kamar itu dan Himeka yang duduk di tepi ranjang Karin sambil melipat baju-baju yang sanggup ia jangkau yang tadi dilempar Kazusa secara sembarang. Gadis pirang itu menggeleng—membuat bando kelinci yang ia kenaka bergoyang seirama gerakan kepalanya, "Err... tidak. Tapi, setidaknya kita bisa membantu dengan baju-baju yang ada ini kan? Hei, vest itu lumayan—tapi untuk acara resmi kurasa tak cocok," ujarnya sambil mengangkat sebuah rompi biru muda.
"Ukh, percuma saja. Aku jarang berbelanja!" ucap Karin sambil melempar rok caramel yang tadi ia pegang.
Kazusa menjentikkan jarinya, "Benar juga. Kenapa tak kau beli saja?"
Karin menggeleng, "Walau tak berbelanja pakaian, aku sering jajan. Lagipula, uang tabunganku habis saat syuting ke Seoul dan Venice kemarin. Uang hasil syuting baru akan dimasukkan ke rekening masing-masing besok malam. Kalau aku minta baa-san ku semendadak ini, mana bisa."
"Lalu bagaimana?" tanya Himeka, "Em, kalau memakai bajuku atau Kazusa-chan, bagaimana?" tawarnya.
"Boleh. Akan kesuruh salah satu maid ku mengantarkan dress-dress yang kumiliki," ucap Kazusa sambil meraih ponselnya, "Tak ada penolakan Karin-chan," ucapnya lagi sebelum Karin sempat melayangkan protesnya—membuat gadis itu akhirnya menghela nafas dan mengangguk pasrah menyetujui ucapan teman baiknya itu.
.
.
.
"Sudah selesai? Cepat keluar, aku di depan rumahmu," ucap lelaki bersurai pirang itu sambil mengakhiri percakapannya dengan lawan bicaranya di telepon. Ia lalu melangkah keluar dari mobilnya dan menunggu didepan gerbang rumah bercat cream itu.
Tak butuh waktu lima belas menit, seorang gadis keluar dari rumah itu dengan raut wajah gugup, "B-bagaimana?" tanya gadis itu—Karin—sambil menggaruk canggung kepalanya. Di belakangnya, dua orang gadis lain mengikutinya—dan keduanya sempat membuat lelaki itu—Kazune Kujyo—terkejut.
"Hai onii-san~!" sapa gadis pirang dibelakang Karin—Kazusa, "Kita jarang bertemu sekarang! Oh ya, ngomong-ngomong, penampilan istimewa Karin-chan itu hasil karyaku lho!" seru gadis beriris biru safir itu.
Disampingnya, gadis bersurai indigo itu menundukkan kepalanya, "K-kazune..." gumamnya sambil sedikit mengangguk dan membungkukkan badannya.
Sebenarnya, Karin, merasa sedikit risih dengan tatapan intens dari Kazune yang ditujukan pada Himeka. Ia tahu, keduanya memang pernah punya masa lalu dan ketertarikan tersendiri dulunya—dan ia tak tahu kenapa sudut hatinya terasa terganggu melihat tatapan dari lelaki itu.
Kazune mengangguk kecil melihat Himeka. Tapi ia sudah tahu perasaannya. Kepada Himeka, itu hanya sebatas rasa suka dan kesan selama mereka menjadi rekan kerja. Lalu ia menatap kearah Karin yang berdiri canggung dengan gaun hitamnya. Ya, hatinya sejak dulu—sejak tujuh tahun lalu bertemu di SMA—sudah memilih gadis itu dan tempat spesial itu takkan pernah bisa tergantikan walau ia mencoba mungkir, "Siapa yang mendandanimu seperti itu?" tanyanya pada Karin. Gadis itu melirik Kazusa dan Himeka, "Mereka," ucapnya.
Kazune mendengus, "Kenapa kau percaya sekali pada Kazusa? Membedakan bedak dan blush on saja ia tak bisa."
"Onii-san!" seru Kazusa protes. Gadis itu memberengut.
Karin melirik Kazusa curiga, "Soukka?"
Kazusa tertawa kecil, "Untukmu sempurna kok! Kau terlihat cantik, sumpah!"ujarnya sambil mengacungkan dua jari.
"Kita akan pergi ke premiere film dan dandananmu seperti orang yang akan pergi untuk melayat—berduka sekali. Percaya sekali kau pada Kazusa—seleranya buruk," sela Kazune sambil memutar bola matanya, "Kau itu mengurusi Karin tapi tak memperhatikan dirimu. Kau tak ikut malam ini?" tanyanya sambil beralih pada Kazusa.
Kazusa menepuk dahinya, "Benar juga! Oh astaga, kaa-san akan membunuhku. Himeka-chan, temani aku ya!" ucapnya sambil menelepon taksi lewat ponselnya.
"Kazusa-chan juga akan pergi?" tanya Himeka.
Kazusa mengangguk, "Ya. Produser utamanya kan tou-san ku—jadi keluarga kami juga diundang. Tapi kalau tou-san dan Kazune-nii yang sebagai produser utama dan wakilnya wajib datang. Ah, taksi nya sebentar lagi datang, Karin dan Kazune-nii berangkat duluan sajalah!" ucapnya.
"Ayo," ucap Kazune sambil meraih pergelangan tangan Karin. Gadis itu mengangguk lalu menoleh kearah Kazusa yang masih masuk kedalam rumahnya untuk mengambil tasnya—dan disusul oleh Himeka, "Tolong nanti kunci pintunya ya!" serunya sebelum masuk ke mobil milik Kazune dan dibalas Kazusa dengan acungan jempol.
Mobil itu melesat dengan kecepatan sedang. Keduanya diam saja selama perjalanan, Kazune yang sibuk mengemudikan mobil dan Karin yang diam-diam melirik Kazune, 'Kazune keren juga kalau mengenakan tuxedo seperti ini...' pikirnya sambil mengamati lelaki pirang yang mengenakan tuxedo putih tersebut.
"Ehem... Kazune-kun?" Kazune menoleh mendengar panggilan gadis bersurai brunette itu, "Kau... kapan bertemu Himeka-chan?" tanya Karin.
Kazune kembali menghadap ke depan, "Dulu. Saat syuting film sebelum ini."
"Oh..." Karin bergumam sambil menunduk, "Emm... bagaimana... pe-pendapatmu tentangnya? Apa saja yang kau ketahui tentangnya?"
"Dia gadis yang baik dan cantik. Lembut, supel, tenang dan sabar dalam mengatasi keadaan. Berbakat didepan kamera. Dia suka warna biru dan ungu, suka mengenakan boot selutut di musim dingin, suka membaca, suka serangga. Yah, hal-hal semacam itu. Tapi aku tak bisa melupakannya—saat melihatnya tadi saja... aku masih bisa mencium aroma lavender yang biasa ia kenakan dulu," ucap Kazune sambil tetap memandang lurus ke arah jalan.
Karin menundukkan kepalanya mendengar jawaban itu. Berbagai pertanyaan bermunculan dalam hatinya. Apa lelaki itu masih menyimpan rasa pada Himeka? Apa lelaki itu sudah benar-benar merelakanHimeka untuk Micchi—sahabatnya sendiri? Bagaimana perasaannya menyadari Himeka sudah menjadi milik orang lain? Apa ia bersungguh-sungguh akan perasaannya? Bagaimana perasaannya tadi saat bertemu Himeka untuk yang kedua kalinya setelah syuting film yang lalu untuk terakhir kalinya?
"Tadi kau sempat bertemu lagi dengannya. Cukup aneh bagiku karena kalian adalah teman lama dan tidak saling mengobrol atau menanyakan kabar satu sama lain," ucap Karin lagi.
"Tak ada yang perlu dibicarakan," kata Kazune, "Aku senang bertemu lagi dengannya—dan kurasa ia juga."
"Darimana kau tahu hal itu?" Karin masih belum melepaskan pandangannya dari Kazune. Hatinya berdebar. Ia tak tahu sejak kapan ia bersikap begi—ah tidak, sejak ia benar-benar sadar ia masih mencintai Kujyo Kazune setelah kejadian tujuh tahun lalu. Ia kembali bertanya, apakah lelaki itu masih mencintainya seperti dulu? Atau perasaan itu sudah berubah? Tapi apa maksud kata aishiteru dan pernyataan kata 'suka' saat di Jembatan Rialto dan cable car itu? Apa itu hanya bualan? Atau Kazune habis meminum wine atau sake? Sepertinya tidak. Lalu apa?
Kazune menjawab, "Dari melihat matanya saja aku sudah tahu."
Ukh, ini menyebalkan, "Kenapa bisa begitu?"
"Entahlah," lelaki itu menjawab, "Tapi kurasa... hal itu hanya aku dan dia yang tahu."
Karin memalingkan wajahnya dan menunduk—membuat poninya menutupi wajahnya. Sedetik kemudian, mobil itu terhenti tiba-tiba. Membuat badan Karin terhuyung kedepan—namun sedikit terhalang karena ia dan Kazune mengenakan seat belt. Ia mengernyit mendapati keduanya berada di depan bangunan lain.
"Ini bukan Kanazuki Theater," ucap Karin memprotes, "Kau membawaku kemana?"
"Memperbaiki hasil karya Kazusa itu," balas Kazune sambil menunjuk baju Karin dengan dagunya, "Ini tempat yang tepat."
Lonceng kecil berdentang ketika mereka memasuki sebuah bangunan bercat cream yang lebih terlihat seperti boutique itu.
"Ini tempat langganan kaa-san saat akan menghadiri berbagai acara—yah, sekaligus karena ia pemilik tempat ini," ucap Kazune—tanpa ia sadari, satu tangannya menggamit tangan gadis bersurai brunette itu.
Karin tak merespon. Ia hanya memandangi tangannya yang digenggam erat oleh lelaki bersurai pirang itu. Gadis itu menggigit bibirnya—merasa bimbang. Berbagai pikiran kembali berkecamuk dalam hatinya.
Sedangkan Kazune, iris safirnya bergerak ke segala arah—mencari sosok seseorang, "Kaa-san!" serunya pada akhirnya.
Karin terperangah menatap seorang wanita bersurai brunette—yang disebut Kazune sebagai 'kaa-san' nya—disalah satu sudut boutique yang tengah memilih baju dengan beberapa wanita lain yang memakai seragam khas boutique ini. Wanita cantik itu melambai.
Kazune menarik tangannya agar ikut mendekat kearah wanita itu, "Kau belum berangkat kaa-san?" tanya Kazune pada okaa-san nya itu.
Wanita itu menggeleng, "Belum. Aku bersama kalian saja ya? Aku agak sedikit terlambat karena harus mengurus beberapa arsip di perusahaan tadi. Ah, bukankah kau Hanazono Karin?" wanita itu beralih kearah Karin yang hanya melongo sejak tadi, "Aku Kujyo Suzuka. Istri Kazuto Kujyo."
"Okaa-san ku," sambung Kazune disambut anggukan Suzuka.
Karin terperangah dan ia mengerjapkan mata sampai akhirnya ia mebungkukkan badannya dalam, "S-senang bertemu anda!" ucapnya.
Suzuka mengangguk, "Wah, kau tampan sekali Kazune. Ehem, wah, Karin-chan, kau gadis lain yang bisa bersama Kazune selain Himeka," komentarnya. Karin memberengut. Kenapa kesannya sahabatnya itu dekat sekali dengan keluarga Kujyo? Cemburu, eh?
"Kaa-san!" tegur Kazune, "Dia... mantan kekasihku. Saat SMA dulu."
Suzuka terkejut—Karin pun begitu. Tak pernah ia sangka Kazune akan berkata begitu di depan kaa-san nya sendiri. Tapi pertanyaan lain mulai muncul lagi, apa selama mereka SMA dulu keluarga Kujyo tak pernah tahu kalau ia pernah menjadi kekasih dari Kujyo Kazune?
"Oh, benarkah?" Suzuka tertawa kecil, "Gomenne, Karin-chan," ucapnya—dan salah satu tangannya memberi kode pada pelayan toko itu agar meninggalkan ketiganya bersama dahulu. Pribadi.
"Aku ingin kaa-san mengepaskan baju untuk Karin untuk Premiere Film jam delapan nanti," ucap Kazune, "Aku saja yang bayar nanti."
Karin terkejut, "Eeeh?! Tidak perlu, a—"
"Ayo!" ucap Suzuka sambil mempersilahkan Karin untuk mengikutinya, "Tidak perlu bayar. Tempat ini milikku. Ayo ikuti aku!"
Akhirnya, selama dua wanita itu menghabiskan waktu yang ada untuk mengepas pakaian, lelaki itu duduk disalah satu sofa disudut toko—menunggu keduanya.
.
.
"Tempat ini bagus sekali," gumam Karin. Suzuka yang tengah mengukur tubuhnya tersenyum manis, "Arigato. Kazune sendiri yang merancang interiornya lho, aku hanya mengurus bagian baju saja."
"Soukka? Keren sekali," ucap gadis itu.
Suzuka bangkit dari posisinya yang semula berlutut untuk mengukur panjang kaki gadis brunette itu. Ia kembali tersenyum, "Kukira aku punya sebuah gaun yang bagus untuk kau pakai. Rancangan baruku—mungkin bisa dijahit sebentar. Tunggu dulu ya, aku akan minta staff menjahitkannya untukmu—aku akan meriasmu. Tunggu ne?"
Karin mengangguk sementara Suzuka berjalan kearah pintu lain di belakang mereka. Ia berpikir, wanita yang merupakan kaa-san Akzune itu sepertinya sangat baik dan anggun—ia tak pernah melepaskan senyum menawan itu dari wajahnya. Benar-benar tipe ibu yang sempurna. Ia bertanya-tanya, kalau misal okaa-san nya masih ada, apakah dia bisa seperti Suzuka Kujyo? Em, mungkin tidak, tapi setidaknya... pasti raut keibuan yang dimiliki Suzuka ada juga padanya.
.
.
.
Kazune mendecak melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul delapan lebih lima belas menit. Dia kembali berpikir, wanita itu memang selalu datang terlambat di setiap acara. Menyebalkan.
"Kaa-san!" serunya sambil mengetuk kamar pas yang dihuni Suzuka dan Karin, "Sudah selesai belum?"
"Tunggu dulu!" balas Suzuka dari dalam, "Tinggal memasang pitanya saja!"
Kazune mendecak kesal. Ia kembali menyandarkan diri di salah satu sisi tembok bercat cream itu. Tapi, tak butuh waktu tiga menit kemudian, gorden violet itu sudah terbuka dan memunculkan dua wanita cantik dari dalam. Kazune tak terperangah melihat kaa-san nya, tapi gadis disamping kaa-san nya itu yang terbalut gaun berbahan beludru berwarna biru safir—sewarna iris lelaki itu. Kulitnya yang putih dan manik emerald nya membuat gaun itu terlihat pas dan begitu kontras dengan kulitnya. Tanpa ia sadari, ia tak bisa melepaskan pandangannya dari gadis itu—ia terlihat dua kali lebih anggun daripada saat ia masih mengenakan gaun hitam yang pertama tadi.
"Nah, bagaimana hasil karyaku?" ucap Suzuka sambil melirik Karin, "Dia cantik bukan?"
"E-eh... e-etto... apa... a-a-aku terlihat aneh?" tanya Karin sambil mengusap tengkuknya menyadari Kazune yang terus menatapnya sejak ia keluar dari kamar pas tadi.
Surai brunette yang dibuat ikal, manik emerald yang terlihat teduh namun bercahaya, kulit porselen yang terlihat terawat, gaun beludru biru safir tak berlengan yang mencapai mata kakinya, sepatu berlapis kain beludru berwarna biru pula, porsi tubuh yang proporsional, tiara kecil diatas kepalanya, make up natural yang terpoles manis di wajahnya—termasuk blush on berwarna muda dan eye shadow dan bibir yang dipoles dengan warna peach. Setiap lelaki yang melihat pasti akan bergumam, 'wah'.
Suzuka pun tak kalah anggun. Kata 'anggun' memang tak pernah lepas dari wanita yang sudah berumur hampir mencapai kepala empat itu. Gaun maroon yang ia kenakan terlihat menambah kesan muda dan anggun baginya. Ditambah keanggunan yang ia miliki, keindahannya bertambah dua kali lipat.
"Ayo!" ucap Kazune akhirnya sambil membelakangi kedua wanita itu dan berjalan lebih dulu kearah pintu menuju mobilnya.
Suzuka terkekeh, "Dia memang begitu. Kau lihat rona merah di pipinya itu? Dia itu mau memujimu sebenarnya. Fufu, wanita memang sesekali harus benar-benar tampil menawan~ Ayo, Karin-chan."
Karin mengangguk lalu dengan senyum manis terulas di wajahnya, ia mengikuti Suzuka kearah pintu keluar—menyusul Kazune.
.
.
Karin meremas jemarinya untuk yang kesekian kalinya. Mereka akan berjalan diatas karpet merah yang pasti di kanan-kiri pembatas nanti akan banyak wartawan. Bagaimana kalau ia jatuh? Bagaimana kalau ia terpeleset? Bagaimana kalau ia terlalu gugup?
"Kau bisa pegang tanganku kalau kau gugup," suara baritone itu membuyarkan lamunannya. Karin terperangah melihat tangan Kazune terulur didepannya—sampai akhirnya, mungkin benar, untuk cari aman ia bisa berpegangan pada tangan pemuda itu.
"Mana... kaa-san mu?" tanya gadis itu sambil berjalan pelan-pelan—takut menginjak ujung gaunnya atau terpeleset sesuatu.
"Tou-san sudah menunggunya di pintu masuk jadi ia pergi duluan. Tahu? Cuek sekali dia berjalan dengan cepat menuju tou-san—mengabaikan segala pertanyaan yang dilontarkan wartawan," ujar Kazune dengan pandangannya yang masih lurus kearah depan.
Tanpa sadar, Karin menghentikan langkah saat mereka sampai didepan karpet merah yang terus terpasang sampai kedalam gedung itu—ini adalah kali pertama ia berjalan diatas karpet merah—yang disebut-sebut sebagai syarat untuk menjadi artis yang masuk kategori atas.
"Abaikan saja wartawan-wartawan itu. Ayo," suara Kazune kembali membuatnya tersadar dan akhirnya ia berjalan mengikuti lelaki itu dan tanpa ia sadari, pengangannya pada lengan lelaki itu semaki mengerat.
Gadis itu mencoba mengikuti perkataan Kazune. Ia menggigit bibir selama mereka berjalan. Berbagai pertanyaan mulai mengudara saat keduanya berjalan. Ia melirik Kazune yang tampak cuek bebek saja melewati para wartawan itu. Sampai akhirnya mereka menaiki tangga, Karin mulai menghela nafas lega—sebelum sebuah pertanyaan frontal memasuki gendang telinganya dari salah seorang wartawan yang berdiri di dekat pintu masuk, "Kalian terlihat mesra, apa kalian sudah menjadi sepasang kekasih?"
Manik hijau zamrud nya membola dan wajahnya merona. Ia menggeleng kuat-kuat dan berusaha mengabaikan pertanyaan frontal itu sampai akhirnya keduanya memasuki gedung utama dimana seluruh kru yang ikut serta dalam pembuatan film sudah ada disana. Ada yang mengobrol, mengambil makanan, mempersiapkan hal lain dan semacamnya.
"Lalu? Kita mau apa sekarang?" tanya Kazune sambil memandang sekeliling. Karin mengikuti arah pandang pemuda itu sampai akhirnya pandangannya tertumbuk pada Kirio yang tengah berbicara pada Suzuka dan Kazusa—yang juga ada disana. Tapi, disebelah kaa-san Kazune itu ada pria lain yang terlihat lebih tua dan berwibawa dengan surai gelap yang juga tengah bercakap dengan Kirio. Ia memutuskan diam saja sebelum Kazune kembali berucap, "Disana ada Kirio dan keluargaku. Mau kesana?" tawar lelaki itu. Dan sebelum ia sempat menjawab, Kazune menariknya kesana.
"Kaa-san, tou-san dan... imouto," ucap Kazune sambil menatap satu-persatu anggota keluarganya, "Kirio," sapanya pada Kirio sambil mengangguk dibalas anggukan juga dari Kirio.
"Kau lama sekali Kazune, wah, apa dia kekasihmu?" pertanyaan dari pria bersurai gelap itu membuat Karin berusaha melepaskan tangannya yang ada dilengan Kazune tapi lelaki itu menahannya.
"Menurut tou-san?" balas Kazune cuek. Sementara Kazusa dan Suzuka sudah tertawa-tawa.
"Hei Kazusa, benarkah penampilan Karin tadi kau yang menatanya? Bagus mana dengan tatanan kaa-san?" tanya Suzuka pada anak perempuannya itu. Kazusa tertawa lalu berlari kearah Karin dan merangkulnya, "Hehe... aku kan hanya mencoba. Tapi Karin-chan tetap cantik kok kalau di tata seperti apapun~!" ucapnya dengan tawa.
"Hm, kalian menjadi dekat sekali. Apa ada sesuatu, eh?" tanya Kirio dengan tatapan menggoda.
Karin hanya memalingkan wajah sementara Kazune cuek-cuek saja dan tidak menjawab pertanyaan itu, "Jam berapa pemutaran film perdananya?" dan malah membalas dengan pertanyaan lain.
"Jam setengah sembilan. Santai-santai saja dulu!" ucap Kazuto, "Sesekali melepaskan diri dari urusan perusahaan."
Karin menghela nafas bosan mendengar bahan obrolan selanjutnya antara Kirio dan Kazuto. Suzuka sudah menyingkir bersama Kazusa.
"Ayo," suara Kazune membuatnya mendongak kearah pemuda yang lebih tinggi darinya itu dengan tatapan bingung, "Kau mau mendengar obrolan dua orang itu?" tanya Kazune dengan ibu jarinya yang menunjuk kearah Kirio dan Kazuto.
Dan akhirnya keduanya menyingkir darisana. Pandangan Karin kembali terpaku pada tangannya yang masih menggaet lengan pemuda itu, "Er... Kazune?" Kazune meliriknya dengan tatapan, 'Apa?'
"K-kalau... s-se-seperti ini..." gadis itu berusaha melepaskan tangannya, "N-nanti... yang lain bisa salah paham..."
"Memang kenapa?" Karin mendengus melihat seulas seringai tipis yang terulas di wajah tampan pemuda itu.
"Ukh... ayolah... Ka—"
"Wow, wow, aku tak tahu kalian sedekat ini."
` Suara itu membuat Karin mendongak. Ia terkejut melihat sosok dengan tuxedo hitam itu dan buru-buru menghentakkan tangannya—membuat tangannya dan Kazune akhirnya tak lagi saling menggaet, "H-hai, Jin-kun. Sudah lama?" tanya Karin dengan tawa hambarnya.
Jin hanya tersenyum, "Lumayan. Wah, kau cantik sekali. Kau datang kesini dengan Kujyo?" tanya Jin sambil menatap Kazune dengan senyumnya yang biasa.
"Ya, b-begitulah," jawab Karin, "Ah, kau sudah bertemu semua orang?" tanyanya mencoba mengalihkan topik.
"Mungkin iya. Aku sudah bertemu Kirio, Rika, Miyon, Yuuki, beberapa staf dan kru lain—Ami juga sudah datang, kalian belum bertemu?" tanya Jin.
Karin menggeleng, "Aku baru datang. Dimana dia?"
Jin menunjuk kearah meja yang dipenuhi makanan dimana disana ada Ami dan Yuuki juga Miyon, "Disana."
"Aku dipanggil Kirio, duluan," Kazune berbalik dan berjalan menuju Kirio meninggalkan Karin dan Jin yang melongo di tempatnya.
"Wow, apa malam ini dia teman kencanmu?" tanya Jin dengan tawanya.
Karin mendengus, "Sudahlah Jin..."
"Tidak apa!" lelaki bersurai gelap itu mengibaskan tangannya, "Kalau kau menyukainya bilang saja. Aku... sudah mencoba untuk tak lagi memaksakan perasaanku."
"Aku sama sekali tak merasa seperti itu. Kau itu sahabatku—kau juga orang yang kusayangi," balas Karin. Keduanya terdiam sementara mereka berjalan menyusuri ruangan besar dengan lampu lilin yang menggantung mewah itu. Sesaat kemudian, Jin membentuk seulas senyum di wajahnya.
"Kau mau masuk ke ruang teater sekarang? Kita bisa dapat tempat paling strategis," ucap lelaki itu dan dibalas dengan senyum pula dari gadis cantik yang berjalan disampingnya, "Ya, ayo."
.
.
.
-TSUZUKU-
Kelaaarrr~~~! Haha, ya ampuun, gomennasai minnaaa! Saya banyak tugas dan ulangan, besok senin dah UTS. Maaf yaa!
Sedikit spoiler nih, sebenarnya ini dah mau ending. Tapi karena kepanjangan, saya bagi dua chapter. Jadi owari-nya di chapter 12 nanti. Tapi nanti bakal saya kasih side story. Jadi konflik utama end di chap 12 terus chap 13 itu side story-nya. Soal Kazune sama Karin, Himeka sama Micchi dan Jin sama Kazusa.
Kalau mau sequel, silahkan taruh permintaan kalian di review box ya, kalau mau kasih ide buat sequel juga gak papa jadi sequelnya nanti kan ide bersama gituu~~ *cieilah*
Nah, balas review dulu ya, o ya, saya gak nyangka lo review dapat sebanyak ini, hehe...
Dci: belum tamat kok, kan masih 'TSUZUKU' hehe, makasih banyak!
Rizki Kinanti: haha, iya, tapi karena aku aksel nanti lulusnya bareng lohhh~~! Hehe, gomen, gomen~~ membuat penasaran itu bakat saya(?)~~! Haha, makasih banyak ya!
Andien hanazono: bukaaann~~! Ini masih TSUZUKU! Ini lanjutannya, makasih banyak ya!
AnandaPtrAbsri: masih, kan masih TSUZUKU, makasih ya!
Syofalira: haha, makasih banyak, mou saya dari boyolali, jawa tengah. Salam kenal ya, makasih banyak!
Putri: haha, makasih ya!
Vivi SRF: oke, ini dah lanjut, makasih banyak ya~!
Jamilah: masih dong, masih ada side story pula. Makasih banyak!
Natali-chan: membuat penasaran itu bakat saya(?)~! Haha, mwo, setiap hari gak bisaa... gomenne ya... oke, makasih banyak ya, ganbatte mo!
Guest: Hehe, makasih ya, ini dah lanjut~!
Ainun: uwwaa! Makasih banyak ya~! XD
Sehunnieoppa: oke, ini dah lanjut, makasih banyak ya~!
Rizki Kinanti: Oke, gak apa2 kok, makasih banyak ya!
Yume sora: Ini dah lanjut. Makasih ya!
Ikina uruwashii: oke, makasih ya~~!
Guest: oke, ini dah lanjut, makasih ya~~!
KK LOVERS: Soukka? Makasih ya, saya juga senang kalo pada suka. Hehe... makasih banyak!
Uzumaki Kira-kun: haha, bener kan tebakan ku? Hehe, makasih banyak ya~~! ^^
Guest: Mou? Itu thumbs nya siapa aja? Hahaha... oke, oke, makasih banyak ya~!
Andien hanazono: masih kok. Btw, jangan panggil 'kakak' ya, saya juga bocah lho, pasti lebih tua kamu daripada aku, hehe, makasih banyak ya!
Rina: masih kok, kan masih TSUZUKU, sabar menanti ya, makasih banyak!
Guest: Masih kok, tenang aja, kan masih utang side story juga. Iya, sebentar lagi mau UTS jadi banyak tugas. Maaf ya, gomenne. Maksudnya itu... KISS *watados* oke, makasih banyak~!
Kazurin: Pasti donggg~~! Adegan romance saya simpan di paling terakhir, sabar ya, chap besok dah owari kok~! Hehe, makasih banyak ya!
.
.
Makasih banyak untuk semua yang mereview ya,oke, gimana chap ini? Kasih pendapat di kolom review ya, maafkan segala kekurangannya *karenasayagakcekulang*, chapter 11 'I Hate Him But I Love Him' updated!
.
.
Boyolali, 27 Juli 2013, 12.35 P.M.
