.
.
.
"Mendapatkan status 'sahabat' dan 'teman masa kecil' itu susah ya? Karena pada akhirnya kau tidak bisa mengungkapkan rasa sukamu padanya,"
—Author's Friend 'Real World'
"Atarashii Hajimari"
新しいはじまり
Disclaimer: Sayang sekali, Vocaloid dan semua yang ada di cerita ini bukan milik saia, mereka punya pemilik masing-masing. Saia cuma punya ide fic ini, .w.
Warning(s): Typo(s), AU (mungkin semi-AR), ide pasaran, Ejaan Yang Diragukan, dwwl~ (Dan Warning-Warning Lainya)
Don't Like, Don't Read.
Kalo masi mau lanjut akibatnya jangan ditemplokin ke saia ya~
.
"Chapter 11 : Beach, Barbeque, and...?"
.
.
.
"Ahh, akhirnya sampai!" teriak Lenka ketika kaki kecilnya berhasil menapaki hamparan pasir putih di pulau pribadi itu.
"Yup, selamat datang di pulau pribadi Hatsune, Leek Island~" teriak ketiga Hatsune di sana bebarengan. Semua pengunjung yang ada di sana sweatdrop.
'Aku tahu kalau semua Hatsune itu penggila daun bawang, tapi ngga segininya juga kali.' Pikir semua yang hadir di sana, kecuali sang pemilik.
"Anoo, memangnya di pulau ini ada banyak tanaman daun bawang?" tanya Lenka polos, dan ketiga pemilik marga Hatsune itu segera menjelaskan secara detail awal didapatkannya pulau itu, yang sebenarnya sih sangat tidak penting untuk didengarkan.
"Saa, daripada lama-lama di sini..." Mikuo menepuk tangannya tiga kali, beberapa orang pelayan pun segera berdiri sejajar di belakang keluarga Hatsune dan membungkuk hormat. "Sebaiknya kita semua ganti baju dan bermain di pantai! Kunci cottage para tamu sekalian sudah disiapkan, silakan bertanya kepada pelayan di sini untuk mengambilnya."
Semua orang yang ada di sana langsung bubar untuk mencari cottage-nya masing-masing.
"Ah, untuk keluarga Kagamine, Kagami, Shion, dan Hibiki. Silakan ikuti aku," ucap Mikuo lagi, keempat keluarga yang disebut tadi pun memasang wajah heran seketika. Walaupun akhirnya mereka tetap mengikuti sang tuan rumah.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Kyaaa! Akhirnya bisa berenang!~" teriak Lenka bahagia, dia langsung menceburkan diri ke laut, merasakan air asin itu menghantam kulit putihnya.
"Ah, di sana kayaknya sejuk, ke sana yuk!" ajak Ring, Aoki tertawa dan menyipratkan air laut ke muka Ring.
"Ayolah, daripada mencari tempat teduh lebih baik kau berendam mendinginkan diri di sini!" seru Aoki. Ring menggembungkan pipinya dan balas menyipratkan air ke arah Aoki, yang dengan mulus dihindarinya dan menyebabkan air itu terciprat ke muka Lui.
"Ring! Jangan tiba-tiba menyipratkan air padaku! Kuminumkan jadinya!?" serunya. Akhirnya mereka berempat–Lenka, Aoki, Ring, dan Lui–dengan serius melakukan perang ciprat air mereka.
"Konyol sekali," cibir Rinto, dia menurunkan kacamata hitamnya dan dengan santai berbaring di atas kursi pantai.
.
.
.
.
.
Tidak menyadari bahwa Lui dan Aoki sedang mendekat padanya.
Aoki dan Lui memberi isyarat mata sejenak... sebelum mereka berdua mencengkram tangan dan kaki Rinto, mengangkatnya, dan membuang Rinto ke laut seperti membuang plastik sampah. Yang tentunya mendapat sumpah serapah dari yang terlempar(?). Ah, hal ini tidak baik untuk anak-anak, tolong jangan ditiru...
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Haaah," Rinto menghela napas kesal begitu ia berhasil kembali menduduki kursi pantai yang ia tinggalkan karena terpaksa tadi.
"Hora!" seru Lenka ketika dia menempelkan sekaleng dingin jus jeruk ke pipi Rinto. Rinto pun secara reflek terlonjak dari posisi duduknya dan otomatis menabrakkan wajahnya ke pasir pantai. Lenka tertawa garing ketika diberi tatapan mengerikan oleh Rinto. "Mou, Kagami-kun! Kalau kau tidak tersenyum dan memasang ekspresi menakutkan seperti itu terus, kau akan cepat tua..."
"Aku tidak peduli. Cerewet." Ucap Rinto ketus, entah kenapa mood-nya terlihat sedang benar-benar tidak bagus saat ini. Lenka menggembungkan pipinya kesal, bagaimana tidak? Dia sudah berbaik hati menghampiri Rinto dan membelikannya minuman sebagai penyegar, tapi apa balasannya!?
"Baiklah, terserahmu Kagami-kun!" seru Lenka kesal, ia kemudian melemparkan kaleng jus yang masih penuh itu tepat ke arah Rinto dan pergi begitu saja, tidak peduli apa yang terjadi dengan makhluk kuning moody itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di sisi lain...
"Aku heran kenapa Lenka-chan dan Rinto-kun seperti itu," ucap Aoki, ia memeluk bola pantai yang tadi dimainkannya dengan Ring–yang terhenti karena mendengar teriakan Rinto.
"Bukannya Kagami-kun selalu seperti itu?" tanya Ring heran. Aoki memasang pose berpikir sebentar.
"Memang sih dia selalu marah-marah seperti itu, tapi entah kenapa hari ini tidak normal." Balas Aoki, ada nada ragu yang terselip di sana, membuat Ring semakin mengerutkan alisnya bingung.
"Sebenarnya apa yang mau kau katakan, Aoki-chan?" tanya Ring, Aoki terdiam sebentar. Namun gadis biru itu kemudian melemparkan bola yang dia bawa tinggi-tinggi.
"Aku juga tidak mengerti, aku hanya merasa Rinto-kun bersikap sangat dingin pada Lenka-chan hari ini. Padahal kupikir hubungan mereka membaik setelah kontes Lenka-chan kemarin, tapi entah kenapa hari ini Rinto-kun sepertinya kesal sekali dengan Lenka-chan." Jelas Aoki, Ring yang sedari tadi menatap Aoki dengan pandangan heran pun mengalihkan pandangnnya ke arah Rinto, mengamati anak laki-laki pirang yang baru saja berbaring di kursi pantainya.
"Mungkin kau benar soal Kagami-kun yang sedang kesal, Aoki-chan." Komentar Ring.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Apa tidak apa-apa membiarkan anak kalian seperti itu?" tanya Miku kepada Rin dan Lily yang sibuk meminum jus mereka. Rin dan Lily saling berpandangan sejenak, sebelum Lily mengedikkan bahunya dan menghela napas pasrah.
"Aku tidak bisa mengajak bicara Rinto dengan normal, dia selalu saja bersikap formal kepadaku." Keluh Lily, wanita berambut pirang panjang itu kemudian mengistirahatkan kepalanya ke meja. "Aku kadang benar-benar tidak bisa mengerti dirinya,"
Rin yang sedari tadi terdiam pun mulai angkat bicara, "Yah, sebenarnya banyak cara untuk mengerti apa yang terjadi pada anakmu, salah satunya memang berbicara dengannya sih, tapi terkadang mereka juga memiliki hal yang tidak sanggup mereka katakan. Jadi sebagai orang tua, kita harus bisa mengerti apa yang terjadi pada mereka dari tingkah lakunya."
Lily mengangkat kepalanya untuk menatap Rin, wanita pirang itu masih dengan santainya mengaduk-aduk jusnya dan meminumnya dengan tenang. "Kau sudah lebih dewasa ya, Rin." Komentar Lily.
Rin hampir saja menyemburkan minumannya saat Lily mengatakan hal tersebut, "Apa maksudnya itu!? Kau meremehkanku, Lil?" sungut Rin. Lily dan Miku tertawa geli.
"Bukan Rin, mungkin saja karena Lily jarang melihatmu, karennya dia berpikir kau sudah banyak berubah." Miku mencoba meluruskan, yang ditanggapi oleh anggukan dari Lily.
"Soalnya dulu kau bahkan yang paling manja, paling naif, paling dense, paling ceroboh, tapi pekerja keras nomor satu di antara kita semua." Ucap Lily, Rin mengerucutkan bibirnya.
"Aku tidak tahu apakah itu harus kutanggapi sebagai sebuah pujian atau ledekan," Rin mendengus, Lily dan Miku tertawa kecil.
"Yah, makanya jangan di luar negeri terus Lily. Banyak hal yang terjadi loh di sini selama kau di luar negeri," ucap Miku, Lily tertawa.
"Wah, aku butuh mengejar ketertinggalan nih ceritanya?" goda Lily, Rin dan Miku tertawa.
"Ngomong-ngomong, Rin-chan." Panggil Miku, Rin yang dipanggil pun mengalihkan pandangannya dari jusnya ke Nyonya Hatsune tersebut. "Apa maksudmu dengan 'mengerti dari tingkah laku' tadi?"
Rin menghabiskan jusnya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Miku, "Kau tahu, Miku-chan, Lily-chan... dulu Lenka pernah menjadi sasaran bully saat kelas satu SD."
Miku dan Lily membelalakkan matanya kaget, namun tidak menyuarakan apa-apa, mempersilakan Rin melanjutkan.
"Saat itu dia tidak bercerita ke siapa-siapa, gurunya pun tidak tahu ada kejadian seperti itu terjadi di antara siswanya, sampai pada suatu ketika Lenka ditemukan hampir tidak bernyawa di depan rumah. Dia hanya berbicara seperlunya dan histeris saat ditanyai tentang kejadian itu. dia bilang dia berada di sebuah ruangan sempit, gelap, dan tak layak dengan keadaan terikat. Saat itulah aku merasa gagal sebagai orangtua, apalagi sebagai ibu." Suara Rin bergetar di akhir, namun ia dengan cepat menghela napas panjang.
"Lenka mengalami trauma yang cukup serius, jadi aku membawanya ke rumah ayahku dan membiarkannya bersama kakeknya untuk mengobati traumanya. Aku bersyukur membawa Lenka ke sana, karena sepertinya terapinya berhasil. Dia mulai terlihat bahagia lagi. Karena itulah, setelah keadaan mentalnya stabil, aku membawanya kembali dan mengamati tingkah lakunya. Itu akan sangat berguna kalau nanti dia mengalami hal serupa, aku tidak mau jatuh di lubang yang sama dua kali." Ucap Rin, Miku dan Lily terdiam.
"Karena itulah, sebaiknya kalian melakukan pencegahan. Aku sudah mengalaminya dan aku tidak ingin kalian berdua mengalami hal yang sama," nasehat Rin. Miku mengangguk, namun Lily kembali menunduk.
"Tapi itu semakin sulit, Rin." Keluh Lily, Rin tersenyum kecil.
"Aku tahu kalau Rinto-kun memang bukan anak yang lahir dari rahimmu, sulit bagimu untuk menemukan ikatan batin. Tapi karena itulah kau harus berusaha lebih keras, amati dan perhatikan. Lagipula kau akan menetap di sini, 'kan? Gunakan waktumu sebaik mungkin," jelas Rin, Lily menatap cerulean Rin dengan lurus.
"Baiklah, aku akan mengatakan pada Nero untuk mengurus semua masalah di Korea. Aku akan menetap di sini," ucap Lily, Rin dan Miku gembira mendengarnya.
"Akhirnya kita bisa kumpul bersama seperti dulu ya," ucap Miku, Rin mengangguk.
"Tapi, Rin..." panggil Lily, Rin memiringkan kepalanya heran. "...Kau harus membantuku dan mengajariku cara mengamati itu, mengerti?" perintahnya. Rin facepalm.
"Baiklah, baiklah, aku mengerti." Balas Rin.
"Terus, dari segi pengamatanmu sekarang...? Itu anakmu dan anak Lily kenapa bisa sampai seperti itu?" tanya Miku tiba-tiba, Rin menoleh ke arah Lenka yang sudah kembali masuk ke dalam air dan bermain dengan Hibiki Lui.
Rin tertawa geli, yang mendapatkan tatapan heran dari kedua sahabatnya. "Kurasa sedang terjadi masalah kecil dengan perasaan mereka," jawab Rin misterius.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Aaah~ rasanya menyenangkan sekali!~" seru Lenka semangat. Hari sudah menjelang sore, jadi Lenka memutuskan untuk menyudahi acara mainnya hari ini dan mandi. Setelah berganti pakaian, Lenka seger keluar dan berjalan-jalan menyusuri pinggiran pantai. Toh ibunya pun sedang melakukan acara bincang-bincang santai alias ngerumpi, Ring dan Aoki pun sedang pergi entah kemana, jadi daripada dia bosan di sana lebih baik Lenka jalan-jalan.
Setelah beberapa lama berjalan, Lenka akhirnya memutuskan untuk berhenti dan duduk-duduk di atas sebuah karang yang persis menghadap matahari terbenam. Lenka tersenyum kecil, pemandangan itu sangat indah dan menenangkan.
"Ah, ternyata kau di sini Lenka-chan." Ucap seseorang, Lenka menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dan menemukan Hibiki Lui tengah berdiri beberapa meter darinya dengan membawa sebuah gitar akustik.
"Eh? Lui-kun? Kenapa bisa ada di sini?" tanya Lenka, Lui nyengir dan mengambil tempat duduk di samping Lenka.
"Aku hanya bosan, apalagi satu-satunya anak laki-laki yang kukenal disini sama sekali tidak kooperatif, jadi lebih baik aku menikmati waktuku sendiri." Lui mengendikkan bahunya, nada suaranya menunjukkan kalau dia agak kesal. Jadi Lenka hanya bisa tertawa garing untuk menanggapinya.
"Kau sendiri sedang apa di sini, Lenka-chan?" tanya Lui.
"Aku hanya sedang berjalan-jalan Lui-kun, habis Ring-chan dan Aoki-chan menghilang entah kemana. Daripada aku ikut mama ngerumpi, lebih baik aku jalan-jalan sendiri." jawab Lenka, Lui ber-'ooh'-ria menanggapinya.
"Jaa, mau mendengarkanku bermain lagi?" tawar Lui, mata Lenka langsung membulat dan mengeluarkan cahaya 'blink-blink'.
"Boleh?" tanyanya, Lui mengangguk dan menyerahkan sebelah headset yang tersambung ke mp3 player miliknya kepada Lenka. Lenka pun dengan gembira menerimanya dan memasang headset tersebut di telinga kirinya. Lui kemudian memencet tombol play dan mulai memainkan gitarnya.
.
.
.
.
(Now Palying: Koichiro Kameyama - Yasuragi)
.
.
.
.
"Hmmm, Lui-kun benar-benar ahli memainkan gitar ya," puji Lenka. Lui membusungkan dadanya bangga.
"Tentu saja!" balasnya, tapi kemudian anak laki-laki berambut keoranyean itu menatap pemandangan di depannya dengan tatapan sendu. "... tapi tentu saja masih banyak orang yang lebih baik dariku, contohnya Oliver."
"Eh? Benarkah? Kukira Oliver-kun itu major di drum?" taya Lenka heran, Lui mengibaskan tangannya dan tertawa kecil.
"Bukan, bukan, dia memang major di drum sekarang, tapi sebenarnya dia dulu major di gitar." Jelas Lui, Lenka ber-'ooh'-ria sejenak. "Dan dia mainnya bagus banget, Lenka pindah pas udah kelas lima sih."
"Memangnya kenapa kalau aku pindah pas kelas lima, Lui-kun?" tanya Lenka, Lui menampakkan raut terkejut sebentar. Namun langsung ditutupi dengan tawa segar.
"Tidak, tidak apa-apa. Ayo kembali, mataharinya juga sudah tenggelam. Nanti kalau kita tidak segera kembali, pasti banyak yang khawatir." Ajak Lui, anak-laki-laki itu lantas berdiri dan menawarkan sebelah tangannya untuk membantu Lenka berdiri.
Lenka mengangguk singkat dan meraih tangan Lui, kemudian mereka berjalan bersama untuk kembali ke tempat pertemuan. Dimana akan diadakan sebuah barbeque party di halaman vila utama pulau ini.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Sore ja, bersulang!" seru kepala keluarga Hatsune untuk memulai acara barbeque party malam itu. Semua orang di sana akhirnya menikmati barbeque party itu dengan senyum merekah di wajah mereka.
Sedangkan untuk anak-anak seperti Lenka, Lui, Ring, Aoki, Rinto, dan yang lainnya, mereka diberikan satu set meja khusus dengan makan dan minuman tanpa alkohol. Mereka bahkan tidak memedulikan bahwa acara ini baru saja dimulai.
"Mou! Lui! Kalau makan jangan berantakan dong!" tegur Ring, dia yang duduk di sebelah Lui merasa risih dengan cara makan Lui yang serampangan.
"Vhiarin fafah," ucap Lui dengan mulut penuh makanan, Ring langsung memukul kepala bagian belakang Lui.
"Jangan ngomong kalau lagi makan!" tegur gadis berambut teal itu. Lui segera menelan makanannya dan balas berteriak pada Ring.
"Kau terlalu kaku, santai dikit napa." Balas Lui kemudian, Ring menggembungkan pipinya. Lenka dan Aoki tertawa melihat kelakuan kedua orang itu, sedangkan Rinto ... yah, dia masih memakan makanannya dengan tenang.
"Ngomong-ngomong, ada dari kalian yang sudah mengerjakan PR buat liburan musim panas belum?" tanya Aoki tiba-tiba. Meja itu kemudian hening, Lui menatap Aoki bingung.
"Memangnya kita punya PR?" tanya Lui polos, Ring dengan senang hati memukulnya dengan kipas kertas yang entah dia dapatkan darimana karena pertanyaan bodoh Lui. Mereka akhirnya mulai bertengkar lagi tanpa menghiraukan keadaan sekitar mereka.
Lenka mengangkat bahu, "Memangnya Aoki-chan belum?" tanyanya kepada gadis berambut biru itu.
"Aku tidak sanggup menyelesaikan matematika, aku bahkan sampai membawa PR matematikaku ke sini," jawabnya, Lenka tertawa kecil.
"Aku lumayan bisa matematika, mau aku bantu? PR-ku sudah selesai sih soalnya." Tawar Lenka, mata Aoki langsung mengeluarkan pancaran 'kira-kira' yang tak biasa, seperti dia baru saja melihat malaikat turun dari langit.
"Jaa, jaa, bantu aku juga dong Lenka-chan!" seru Lui tiba-tiba, entah sejak kapan dia sudah berhenti bertengkar dengan Ring.
Lenka sweatdrop, "Memangnya Lui-kun sudah mengerjakan berapa?" tanyanya.
Lui nyengir, "Aku belum menyentuh buku sama sekali liburan musim panas ini," jawabnya.
"Lalu bagaimana kau bisa menyelesaikan semuanya Lui-kun!?" Lenka jadi khawatir tentang masa depan temannya yang satu ini.
Lui kemudian menghabiskan makanannya dan menjawab, "Aku akan menyalin soal matematika Aoki, untuk yang lainnya akan kukebut pas mau masuk." Jawabnya enteng.
Ring mendengaus, "Sasuga BakaLui," cibirnya.
Lenka menghela napas saat ring dan Lui memulai pertengkaran mereka lagi, "Baiklah, besok kita belajar bersama, bagaimana?"
"Oke," balas Aoki.
"Gochisousama deshita," Rinto–yang entah keberadaannya tidak dianggap atau apa itu–akhirnya mengeluarkan suaranya, membuat Lenka dan Aoki kaget karena lupa kalau pemuda pirang itu juga ada di sana.
"Kagami-kun, mau ikut belajar bersama besok?" tawar Lenka sebelum Rinto meninggalkan meja mereka.
Rinto hanya melirik Lenka sebelum akhirnya pergi meinggalkan meja makan mereka tanpa menjawab tawaran Lenka. Lenka tentunya menggembungkan pipinya kesal, sedangkan Aoki berusaha menenangkannya.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
"Sebenarnya apa sih yang terjadi padaku?" tanya Rinto pada dirinya sendiri. Saat ini dia sudah berada di kamarnya. Semua orang masih berpesta di luar, namun pemuda pirang itu memutuskan untuk berbaring di kamarnya sendiran.
Rinto menatap langit-langit kamarnya, dia merasakan perasaan aneh di dadanya. Rasanya tidak nyaman, seperti perasaannya sedang meluap-luap karena marah. Tapi marah kenapa pun dia tidak tahu.
Akhirnya Rinto yang gusar pun bangkit dari posisi tidurnya dan beranjak menuju jendela, dia makin tidak mood karena dia tidak membawa biolanya untuk menenangkan diri. Melalui jendela itu, Rinto bisa melihat keseluruhan barbeque party yang masih berlangsung. Para orang dewasa masih sibuk berbincang-bincang apalagi ibunya dan Nyonya Hatsune yang berkeliing menyapa tamu-tamu.
Mata biru Rinto kemudian berhenti saat dia menangkap kepala pirng yang sama dengan dirinya, Kagamine Lenka, orang yang hari ini membuatnya seperti mendidih entah kenapa. Rinto memanyunkan bibirnya kesal, saat dia melihat Lui dekat-dekat dengan Lenka dari balik jendela. Dia merasa aneh dan tidak suka. Tapi objek yang dikesali malah tidak merasakan apapun. 'Menyebalkan', pikirnya.
Rinto kemudian mendengus, dia kembali berbaring di atas tempat tidurnya untuk menenangkan diri.
.
.
.
.
`~xXx~
.
.
.
.
"Lui ... apa kau benar-benar menyukai Lenka-chan?" tanya Ring tiba-tiba saat Aoki dan Lenka sedang pergi untuk membicarakan acara belajar kelompok mereka besok.
Lui yang baru saja memakan daging panggangnya itu pun berhenti sejenak, dia kemudian mengunyah danging itu sebelum menjawab, "Aku menyukai Lenka-chan kok,"
Ring terdiam mendengar jawaban jujur dari Lui. Ada perasaan aneh di dadanya dan itu tidak menyenangkan menurut Ring. Namun sebelum Ring sempat membuka mulutnya lagi, Lui melanjutkan, "Habis Lenka-chan baik sih, murah senyum juga, supel, cantik dan manis juga. Tapi kalau yang kau maksud suka dalam arti laki-laki kepada perempuan, aku belum bisa menjawabnya."
Ucapan Ring kembali tertahan di tenggorokan, ia ingin mengatakan sesuatu tapi rasanya tubuhnya tidak bergerak sesuai dengan pikirannya.
"Lagipula, kita masih kelas lima SD kali, kenapa harus memikirkan rasa suka yang berlebihan? Kau seperti sudah dewasa saja," ucap Lui enteng.
Ring merengut mendengar ucapan Lui, namun memilih untuk tidak menanggapinya serius. Karena seperti yang dia bilang, masih belum saatnya mereka memikirkan cinta-cintaan yang serius. "Aku kadang kagum tapi kadang takut juga soal pola pikirmu yang terkadang sangat dewasa itu," cibir Ring.
Lui mendengus kesal, "Apa itu? Mau ngajakin berantem?"
Ring tertawa lepas mendengar balasan Lui. Tapi sedetik kemudian, wajahnya berubah menjadi sedik sejenak. 'Lalu senyum lembut apa yang kulihat kemarin saat kau bersama dengan Lenka-chan memainkan lagu untuknya kemarin malam, bodoh?' batin Ring.
"Ring-chan! Lui-kun! Kata para orang dewasa kita besok boleh belajar bersama!" seru Lenka yang baru saja datang bersama Aoki, membuyarkan pikiran Ring seketika.
"Eh? Jadi kalian berdua tadi berkeliling minta izin? Kenapa tidak mengatakannya padaku? Aku kan bisa langsung minta pada mamaku." Ucap Ring, Lenka dan Aoki tertawa garing.
"Yah, tidak apa-apa 'kan sekali-sekali. Lagian mama dan papa kita ada dalam satu lingkaran besar sedang mengobrol bersama kok. Jadi sekalian saja kami meminta izin ke semuanya," jelas Aoki. Lenka mengangguk.
"Katakan kita bisa gunakan ruang bersantai di lantai satu, Ring-chan tau ruangannya yang mana 'kan?" tanya Lenka, Rin mengangguk.
"Yosh! Besok jam sepuluh kumpul di tangga lantai dua dan pergi ke ruangan itu sama-sama ya!?" seru Aoki. Lenka, Ring, dan Lui pun mengangguk mantap.
.
.
.
.
~xXx~
.
.
.
.
Saat Rinto bangun dari tidurnya, jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Lui sudah tertidur di tempat tidurnya. Jadi dia mengambil kesimpulan kalau pestanya sudah selesai. Rinto yang merasa haus pun melangkahkan kakinya ke lantai bawah untuk mengambil minuman. Setelah dia mendapatkan apa yang dicarinya, Rinto kemudian kembali ke lantai atas. Namun betapa terkejutnya dia ketika mendapati kepala pirang Lenka sedang berdiri di depan jendela besar di koridor, manatap rembulan yang bersinar terang di luar sana.
Rinto pun berjalan mendekati Lenka, tidak tahu apa yang merasukinya saat itu, "Apa yang kau lakukan malam-malam berdiri di sana?"
Lenka tersentak kaget, dia hampir saja menjedukan kepalanya ke jendela kalau dia benar-benar terlonjak tadi. "Mou! Kagami-kun itu selalu saja hobi membuatku terkejut!"
Rinto memutar kedua bola matanya tidak peduli, dia kemudian mengambil posisi untuk berdiri di samping Lenka. "Kenapa kau setiap malam terus memandangi langit? Saat di rumah, kita juga selalu bertemu melalui balkon saat kau memandang langit seperti ini 'kan?"
Lenka mengangguk, "Aku sangat suka langit, apalagi kalau cerah, dimana bulan terlihat bersinar terang dan bintang-bintang berceceran banyaaaak sekali!"
Rinto mengarahkan pandangannya kepada Lenka sejenak, sebelum kemudian kembali menatap langit. "Jadi apa yang kau lakukan malam-malam begini melihat langit dari jendela ini?"
Lenka berkedip beberapa kali sebelum tersenyum sedih, "Aku hanya tidak bisa tidur, entah kenapa. Hari ini menyenangkan, sangat malah. Tapi ketika aku mengingat kalau Kagami-kun marah padaku, itu membuatku tidak bisa tidur." Jawab Lenka jujur.
Rinto terdiam sejenak, ia tidak tahu kalau Lenka merasa seperti itu. Keheningan akhirnya menyapa untuk beberapa saat, sampai Rinto memecahkan keheningan itu. "Aku tidak marah kok,"
Lenka membulatkan matanya, menatap pemuda pirang itu tidak percaya. "Eh? Masa?"
Rinto menglihkan pandangannya dari Lenka dan mengangguk, mata Lenka langsung berbinar. "Yokatta, kupikir sekarang Kagami-kun membenciku." Ucap Lenka, ia tersenyum manis saat Rinto kembali melirik ke arahnya.
Wajah Rinto memerah, untung saja cahaya bulan yang temaram mampu menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Sudahlah, lebih baik kau tidur. Sudah malam juga sekarang," perintah Rinto.
Lenka tertawa kecil dan mengangguk. Namun sebelum ia beranjak, panggilan Rinto membuatnya menolehkan kepalanya. Sebuah benda kenyal dan basah detik kemudian terasa di pipi kanan Lenka.
"Tanda kalau kita berteman, kau bilang kita berteman 'kan? Ini peresmian dariku," ucap Rinto, nada suaranya sedikit bergetar. Namun sepertinya Lenka tidak menyadarinya, dia bahkan masih mematung di tempatnya. "Kau boleh memanggilku Rinto, karena aku akan memanggilmu Lenka mulai sekarang."
Lenka yang sedari tadi mematung pun akhirnya bergerak, wajahnya terselimuti semburat merah muda dan terasa panas. Tapi dia memberanikan diri untuk berkata, "Kalau begitu baiklah ... oyasuminasai, Rinto-kun." Ucap Lenka sebelum dia kahirnya berlari menuju kamarnya. Yah, intinya dia kabur.
"Oyasumi, Lenka." Rinto membalas, senyuman tipis terpatri di bibirnya, namun sayang Lenka tidak melihatnya. Rinto akhirnya berbalik, melangkahkan kedua kakinya untuk menuju kamarnya sendiri.
.
.
.
"Jadi aku kalah start ya? Jahat sekali kau Rinto, megambil kesempatan dalam kesempitan." gumam Lui yang sedang bersembunyi di balik dinding lorong. Dia melihat semua interaksi Rinto dan Lenka, menyebabkan dadanya terasa sesak saja, namun ia tidak memedulikannya. Lui pun dengan cepat kembali ke kamarnya, tidak jadi mengambil minum setelah melihat kejadian seperti itu.
Detik itu, sebuah aura persaingan sudah mulai terasa, obor sudah dinyalakan, dan terompet perang sudah dibunyikan. Lalu bagaimana sang main heroine akan menanggapinya? Atau mungkin, bahkan apakah dia menyadari aura perselisihan itu? Kita lihat saja bagaimana reaksinya nanti...
A/N:
Minna-sama, ohisa~~ #dihajar-rame-rame
Hahaha, maap nih, hiatus super panjang ya cerita ini? Padahal saia apdet cerita lain terus~ #slap
Tapi tenang aja minna-san, saia bakal lanjutin fanfic-fanfic in-progress saia kok, engga bakal ada yang discontinue. Setelah ini saia bakal coba ngetik HM ato FourLeaf, moga aja idenya bisa ketangkep lagi. Saking lamanya saia telantarin, saia udah engga inget itu dua cerita lanjutannya bakal kayak gimana... =3= #dor
Yosh! Pokoknya doain saia dan terus beri semangat ke saia yah Minna-san! Luvyu dah~ :* #digampar
Oh iya, mau bales review dulu ding, walaupun saia engga yakin juga masih sempet baca semua, ^^" #ctak
Pertama dari... Kagawita Hitachi! Yosh, hajimemashite Kagawita-san!
Makasii udah nyempetin review loh ya, soal rumusnya sih engga masalah, tenang aja~
Saia sendiri engga kepikiran buat munculin ortu Lui, tapi anggep aja ortunya Seeu dan Seeu, *nyengir* #slap
Uwah, Lenka sama Rinto kayaknya pacarannya masih lama deh, juga... ini cerita masih SD... ^^"
Tapi tenang aja, pelan-pelan tapi pasti kok!~
Ah, kalo masalah Yukari, semuanya akan dijelaskan di chapter sendiri, tapi saia engga tu itu nanti chapter berapa... kalo masalah yang ngintip... udah kena hint dari chapter ini? *v*
Haiii~ tenang aja cerita saia bakal lanjut terus kok! Baca lagi ya Tachi-chan! ^w^
So, kedua buat Nurul Fadhilah~
Hai~ makasii udah nyempetin review yah! Ini lanjut kok, ^w^
And last! Buat Hibino Sakura! Makasii udah review yah~ :* #digaplok
Sama~ saia juga fans voca kembar dan genderbend-nya itu~ *high-fives*
Hibino-chan punya indra keberapa bisa nebak kayak gitu? *pasang-tampang-serius* #dor
Oke, stay tune yah~
Kamus chapter ini~
-chan : Panggilan untuk orang yang lebih muda atau yang sudah sangat akrab. (umumnya cewek)
-kun : Panggilan untuk orang yang lebih muda atau sudah akrab. (umumnya cowok)
Hora : Ini, nah, begini, coba, itu. (Saia bingung ngartiinnya, jadi ambil arti dari kamus)
Sore ja : Kalau begitu.
Sasuga : Seperti yang diharapkan. (Saia bingung juga ini, =A=)
Baka : Bodoh.
Gochisousama deshita : Terima kasih atas makanannya. (diucapkan setelah makan, kalau sebelum makan 'Itadakimasu')
Yokatta : Syukurlah.
Oyasuminasai/Oyasumi : Selamat malam/Selamat tidur.
PS: kalau ada yang salah jangan sungkan ingetin Chiao, soalnya kadang saia asal ngartiin doang, kayak di atas. Ato kasi tau arti aslinya ya~ #plak
REVIEW PLWEASE~ #dor
