Update, 05 Februari 2017:
Disclaimers, isi dan peringatan sama seperti di prolog. 2k+ words, tidak termasuk notes.
Pairing(s): HijiGin (Hijikata Toushirou×Sakata Gintoki). Slight, TakaGin (Takasugi Shinsuke×Sakata Gintoki). Hint, SakaGin (Sakamoto Tatsuma×Sakata Gintoki).
Maaf, karena kemarin saya nggak update. Saya nggak sempat memegang netbuk karena suatu alasan.
Somehow, enjoy! :)
.
#
.
Bab 10 — Kembali Ke Wujud Asli
Pengalaman pertama melihat pemandangan abnormal dengan kedua matanya sendiri sukses membuat Sacchan membelalak dengan mulut ternganga. Gadis itu tak pernah menyangka kalau Hijikata akan berani mencium Gintoki di tempat umum seperti ini!
"Gadis itu... dia pernah menunjukkan video yang tak sengaja merekammu dan—lambang di punggungmu terlihat dengan jelas."
Sacchan menelan ludah susah payah begitu dia mendengar Gintoki mengatakan hal itu.
"Dia tidak mau menghapusnya, makanya aku memintanya agar merahasiakannya, dan tidak mengatakannya pada siapapun."
Ketika Sacchan kembali memutuskan untuk kembali mengintip kedua orang itu, dia kembali membelalak begitu melihat Hijikata mengangkat dagu Gintoki dan membawa bibir pemuda perak untuk kembali berciuman. Sacchan tidak percaya kalau Gintoki tidak menolak ciuman itu, hingga Hijikata melepaskannya dengan kecupan bersuara.
"Kau milikku, Gintoki..." Sacchan menggigit bibir bawahnya begitu Hijikata melanjutkan, "Dan akan selalu menjadi milikku sendiri."
Jantung Sacchan bergemuruh hebat. Kebenciannya pada Hijikata menggelegak di dalam dadanya, sampai-sampai dia ingin menjerit sekeras-kerasnya. Perasaannya menjadi sesak dan tidak keruan. Sadar kalau terlalu lama dia berdiri di tempat persembunyiannya hanya akan menumpahkan air mata yang mati-matian ditahannya, gadis itu berbalik dari tempat persembunyiannya. Dengan tangan gemetar Sacchan menuliskan catatan di salah satu lembar bukunya yang kosong. Setelah merobek lembaran kertas yang berisi catatan itu dan meletakkannya di atas buku Gintoki, gadis berkacamata itu memasukkan benda-bendanya di atas meja panjang itu ke dalam tasnya, dan berlari pergi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Tepat begitu gadis itu menghilang di balik pintu perpustakaan, Gintoki dan Hijikata berjalan kembali ke meja panjang tempat mereka belajar.
'Gin-kun, maaf aku pulang duluan karena ada urusan mendadak.'
Gintoki mengernyit begitu dia membaca lembar kertas yang ditinggalkan Sacchan di atas bukunya, "Dia sudah pulang?" tanyanya entah pada siapa.
"Syukurlah, ternyata dia sadar diri," celetuk Hijikata, tidak peduli. Dalam hati dia senang sekali membuat gadis menyebalkan itu melihat apa yang tadi dilakukannya pada Gintoki.
Meski sedikit bingung, Gintoki akhirnya kembali duduk, melanjutkan belajar mereka yang sempat tertunda.
.
. .
"Kali ini rencana kita harus berhasil," Tatsuma menghempaskan tubuhnya di sofa tunggal yang ada di ruang tamu. "Kita harus membuat Hijikata Toushirou menelan ramuan itu."
Takasugi hanya mengumam tanpa membalas. Kedua matanya tak menoleh dari layar televisi yang sedang menunjukkan acara kuliner.
"Tapi masalahnya...," dengan wajah yang dibuat serius Tatsuma menopang dagunya dengan satu lengan di pegangan sofa, "jika ada Sakata Gintoki rencana kita bisa gagal total. Meski hanya sedikit, tapi sepertinya dia mencurigai kita."
Kali ini perkataan Tatsuma mendapat perhatian dari Takasugi. Pemuda itu menoleh ke arahnya dengan satu alis terangkat.
"Kemarin malam, setelah festival kembang api di sungai itu," kata Tatsuma. "Dia menatapku dengan curiga begitu kutawari Hijikata dan dia untuk pulang bersama kita."
"Yang membuat aku bertanya-tanya Nii-san, kenapa mereka berdua bisa sama-sama basah kuyup?" kedua alis Takasugi mengerut, "Apa mereka berdua sama-sama terjatuh di sungai?"
"Bisa jadi." Tatsuma mengangguk membenarkan. "Jadi, bagaimana? Apa kau bisa menyumbangkan ide untuk rencana kita selanjutnya?"
Takasugi terdiam. Tatsuma yang mengira adik sepupunya itu sedang serius memikirkan rencana jadi ikut terdiam. Tapi ternyata—
"Aku tidak bisa memikirkan rencana kalau perutku kosong. Aku mau makan dulu."
"HEI!"
Dan bantalan-bantalan sofa yang ada di sana melayang ke arah Takasugi.
.
. .
"Jadi, ini yang namanya ponsel?" Dengan penuh keluguan, Hijikata mengotak-atik ponsel berlayar sentuh di tangannya begitu sore itu dia dan Gintoki sampai di apartemen mereka. Jangan tanya bagaimana dia bisa mendapat benda modern itu tanpa membayarnya. Karena jika dijelaskan secara mendetail hanya akan membuat cerita ini terkesan bertele-tele.
Berbeda dengan Hijikata yang terlihat gaptek, Gintoki yang bisa menggunakan otaknya lebih dulu memilih membaca 'Petunjuk Praktis Pemakaian' yang tersedia di dalam kardus ponselnya. Tak butuh waktu lama, karena setelah membaca buku manual itu, Gintoki mulai memainkan ponselnya seperti sudah lama dia memakainya. Hijikata yang melihat kemajuan Gintoki dalam menggunakan ponsel mendadak langsung iri.
"Kenapa kau bisa cepat sekali belajar memakai ponselmu sih, Gintoki?" tanyanya dengan bibir manyun.
"Aku selalu memakai ini," jari telunjuk Gintoki menunjuk-nunjuk pelipisnya. Hijikata semakin manyun, dia juga punya otak kok!
"Cepat ajari aku," dengan gerakan tiba-tiba dia menyambar pinggang Gintoki dengan salah satu lengannya, "jika kau menolak..." sengaja dia menggantung kalimatnya, dan tersenyum menyeringai.
Gintoki mendengus, "Dasar mesum!"
Akhirnya, Gintoki tak ada pilihan selain mengajari Hijikata hingga Pangeran Neraka itu lancar menggunakan ponselnya sendiri. Setelah hampir dua jam, Hijikata akhirnya mulai mahir. Tapi, di sinilah masalah itu dimulai...
Ponsel Gintoki berdering diiringi getaran begitu dia baru saja akan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Hal itu spontan membuat Gintoki berhenti di depan pintu kamarnya dan membuka pesan yang masuk.
'Aku lapar. Kita makan apa malam ini, Gintoki?'
Gintoki memutar kepalanya dengan gerakan cepat ke arah Hijikata, "Oi, kenapa kau mengirimku pesan kalau kau bisa mengatakannya secara langsung sekarang?!"
Hijikata cengar-cengir dengan wajah dibuat polos, "Aku hanya ingin mencoba mengirim pesan padamu."
Satu kali. Gintoki memakluminya. Tetapi, begitu selanjutnya hampir setiap saat Hijikata mengirim pesan yang tidak penting, bahkan juga meneleponnya—padahal mereka sedang duduk bersebelahan di sofa panjang—berkali-kali, Gintoki akhirnya mulai kehabisan kesabarannya.
"Jika sejak awal aku tahu kau menginginkan ponsel hanya untuk menerorku seperti ini lebih baik kau tidak usah memakai ponsel!" geram Gintoki, sembari menjambak-jambak rambut Hijikata dengan penuh dendam kesumat.
"AWWW! GINTOKI, ITTAI! YAMEROOO...!"
"TIDAK! SEBELUM AKU PUAS!"
Keganasan Gintoki pada Hijikata akhirnya berhenti begitu bel apartemen mereka berbunyi. Hijikata menghela napas lega begitu pemuda manis itu berlalu dari hadapannya untuk membuka pintu.
Gintoki menarik napas panjang, sebelum dia membuka pintu di depannya. Pemuda perak itu terkejut begitu melihat Takasugi yang berdiri di balik pintu. "Takasugi?"
Pemuda bersurai ungu gelap itu tersenyum lembut, "Hai!"
"Ada apa?" tanya Gintoki dengan kening mengerut.
Takasugi mengangkat tangan kanannya dan membelai pipi kiri Gintoki, "Padahal baru sehari aku tidak melihatmu, tapi aku sudah sangat rindu padamu, my cute baby."
"Errr—" Mendadak Gintoki merasa tengkuknya meremang, dan spontan menatap pemuda bersurai ungu gelap di depannya dengan waspada. Nyaris saja dia lupa kalau Takasugi sama berbahaya dengan Hijikata dalam hal melakukan hal-hal mesum padanya. "Jadi, kau ke sini hanya untuk itu?"
Sudut bibir Takasugi terangkat sedikit. Baru saja bibirnya terbuka untuk menjawab, tiba-tiba Hijikata muncul dan memeluk pinggang Gintoki dari belakang dengan kedua lengannya. Sepasang pupil navy Hijikata menatap Takasugi dengan sorot mata tidak suka.
"Apa yang kau lakukan di sini, hah?" Hijikata bertanya sambil mempererat pelukannya. Gintoki hanya terdiam karena tidak bisa melepaskan diri.
Kedua mata Takasugi menatap Hijikata lurus-lurus. Hijikata membalas tatapan itu. Setelah hampir semenit saling berperang lewat sorot mata, Takasugi akhirnya kembali menatap Gintoki.
"Aku ingin mengajakmu liburan musim panas di Kyushu, my cute baby," kata Takasugi dengan bibir tersenyum. "Kau mau, kan?"
"Tidak bisa!" seru Hijikata cepat.
Takasugi kembali menatap Hijikata. Kali ini satu alisnya terangkat. "Memangnya kau siapa? Kau bukan keluarganya. Bukan Otou-san, atau Nii-san-nya."
Hijikata menggeram. "Aku ma—" tersadar oleh sesuatu, Hijikata akhirnya memilih tak menyelesaikan kalimatnya. Dan hal itu jelas saja membuat kedua alis Takasugi mengerut bingung.
"Aku mau saja ikut," suara Gintoki akhirnya kembali terdengar memecah keheningan di antara mereka. "Tapi, asalkan Hijikata juga ikut. Bagaimana?"
Hijikata menyeringai senang begitu melihat Takasugi tersentak. Pemuda bersurai ungu gelap itu menatapnya dengan sorot mata sebal, sebelum akhirnya mengangguk.
"Wakatta," Takasugi menarik napas panjang, "dia juga bisa ikut." Kemudian setelah memberitahu kalau besok jam delapan pagi dia akan datang menjemput, Takasugi berlalu pergi.
Tatsuma yang sejak tadi menunggu di dalam mobil langsung menoleh begitu melihat Takasugi berjalan ke luar dari gedung apartemen di depannya. "Bagaimana?" tanyanya tak sabar begitu Takasugi baru saja duduk di jok samping kanannya.
"Sesuai dengan rencana kita, Nii-san. Ayo, pulang."
Tatsuma berdecak puas, sebelum menyalakan mesin mobilnya, dan melaju pergi dari situ.
.
. .
Pagi itu, jam delapan pagi tepat seperti yang dikatakannya semalam, Takasugi bersama Tatsuma datang menjemput Hijikata dan Gintoki sebelum pergi ke bandara bersama-sama. Tidak ada pembicaraan yang menyenangkan yang terjadi selama perjalanan mereka menuju bandara, saat duduk menunggu di kursi ruang tunggu bandara, bahkan sampai pesawat yang membawa mereka berempat akhirnya sampai di bandara Kyushu.
"Ini membosankan." Suara Hijikata akhirnya terdengar begitu mereka berempat sudah duduk di dalam taksi.
Takasugi yang duduk di jok depan samping supir taksi tak menoleh dari jendela di sampingnya. Sementara di jok belakang, Tatsuma yang duduk bersama Gintoki dan Hijikata memberikan respon dengan tawa pelan.
"Begitu kita sampai nanti, kau pasti tidak akan bosan," kata Tatsuma.
Satu alis Hijikata terangkat begitu dia menoleh dan menatap Tatsuma yang duduk di samping kanannya. "Oh, ya?"
Tatsuma mengangguk.
Hijikata menguap kecil, "Bangunkan aku kalau sudah sampai." Kemudian setelah mengatakan hal itu entah pada siapa, dia menyandarkan kepalanya di pundak Gintoki yang duduk di samping kirinya.
Satu jam kemudian taksi yang membawa mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Tatsuma dan Takasugi ke luar dari dalam taksi lebih dulu, meninggalkan Gintoki yang masih berusaha membangunkan Hijikata.
"Hijikata! Oi, bangun!" Kedua tangan Gintoki mengguncang-guncang pundak Hijikata. "Heiii!" Kali ini kedua tangannya mencubit pipi Hijikata hingga Pangeran Neraka itu akhirnya membuka mata.
Dengan bibir manyun, Hijikata mengelus-elus pipinya yang dicubit Gintoki, sebelum ikut turun dari dalam taksi. Kemudian dengan koper kecil di tangan masing-masing, keempatnya berjalan bersamaan menyusuri jalan setapak yang menuju sebuah rumah kecil yang letaknya tak jauh dari pantai.
"Wow." Hijikata tak bisa menutupi kekagumannya begitu mereka sampai di teras rumah kecil itu dan menatap pantai yang terpampang di depan mata. Mendadak dia ingin segera berlari ke pantai dan berenang sekarang juga.
Tatsuma membuka pintu dan melangkah masuk lebih dulu, diikuti Takasugi, Gintoki, dan Hijikata. "Kamarnya hanya ada dua," katanya. "Jadi—"
"Aku dan Gintoki sekamar!" potong Hijikata cepat, sebelum Tatsuma sempat menyelesaikan kalimatnya.
Takasugi berdecak, dia berniat protes tapi Hijikata sudah lebih dulu menarik Gintoki masuk ke dalam salah satu kamar. "Nii-san! Aku mau sekamar dengan Gintoki!" rengeknya begitu pintu kamar Hijikata dan Gintoki sudah tertutup dari dalam.
Tatsuma mengangkat bahu, "Aku tidak bisa menolongmu kali ini, berusahalah sendiri. Lagipula...," dia melirik pintu kamar Hijikata dan Gintoki, "kau ingat rencana kita mengajak mereka berdua ke sini, kan?" bisiknya.
Takasugi menatap Tatsuma selama tiga detik, sebelum dia membuang napas lewat mulut. Pemuda itu mengangguk dengan setengah tidak rela, sebelum menuju kamar dengan kopernya sendiri.
Sementara itu...
"Gintoki, ayo kita berenang!" Dengan penuh antusias, Hijikata berseru dari balkon kamar mereka yang bisa melihat pantai dengan jelas.
Gintoki menoleh sekilas, "Aku mengantuk. Aku mau tidur siang," katanya, sebelum kembali menenggelamkan wajahnya di dalam bantal.
Hijikata mendengus, sembari mendekati tempat tidur mereka. Kemudian dengan seringaian nakal di bibirnya, dia menggelitik pinggang pemuda manis itu, hingga mau tidak mau Gintoki akhirnya kembali menatapnya.
"Ayolaaah..." pinta Hijikata sambil menatap Gintoki dengan wajah memelas.
"Tidak," jawabnya pendek, sebelum berguling ke sisi lain tempat tidur dan memunggungi Hijikata.
Hijikata tidak menyerah secepat itu. Dia terus mengganggu Gintoki hingga akhirnya pemuda manis itu tidak bisa menutup mata untuk beristirahat.
"Jika kau berenang dengan punggung telanjang, lambang di punggungmu itu bisa terlihat oleh mereka berdua. Kau ingat?" kata Gintoki dengan suara pelan yang hanya bisa didengarnya dengan Hijikata.
Sesaat, tubuh Hijikata menegang. Dia baru ingat hal itu. "Tapi, aku sangat ingin berenang sekarang. Aku bisa berenang dengan menggunakan baju!"
"Baiklah," Gintoki akhirnya mengalah. "Kalau begitu aku hanya akan duduk melihatmu berenang saja."
.
. .
"Kenapa Hijikata berenang sambil memakai baju?"
Gintoki nyaris terlonjak begitu dia mendengar suara Tatsuma dari belakang. Pria itu tersenyum, sebelum duduk di pasir pantai di samping kanannya.
"Tidak tahu. Saat kutanya tadi kenapa dia tidak melepaskan baju saat berenang katanya dia tidak mau," jawab Gintoki bohong. Berusaha menutupi kegugupannya dengan melihat kembali ke arah pantai di mana Hijikata sedang asyik berenang sendirian.
"Sebenarnya sudah lama ingin kutanyakan hal ini," Tatsuma menarik napas panjang, sebelum melanjutkan, "Apa kalian berdua bersaudara? Jika memang benar, kenapa marga keluarga kalian berbeda?"
Gintoki bersyukur dia tidak memberi reaksi berlebihan begitu Tatsuma menanyakan hal itu. Setelah menarik napas panjang diam-diam, dia akhirnya menjawab, "Kami tidak bersaudara. Aku dan Hijikata hanya berteman."
Kedua alis Tatsuma terangkat terkejut, "Tapi kenapa kalian berdua bisa tinggal satu apartemen di Tokyo?"
"Kebetulan apartemen yang dekat dengan sekolah hanya satu itu yang kosong. Kami berdua sepakat untuk tinggal di sana dan membayar masing-masing separuh." Gintoki tak menyangka dia bisa berbohong dengan sangat lihai setelah menjelaskannya panjang lebar.
"Oh, jadi begitu." Tatsuma mengangguk-angguk. Pura-pura memercayai perkataan Gintoki meski dia sudah tahu pemuda manis itu sedang berbohong. Terlihat dari kedua mata Gintoki yang tidak menatapnya langsung saat berbicara. "Jika Hijikata sudah selesai berenang, lebih baik kalian berdua kembali ke rumah untuk makan, sebelum semua makanan dihabiskan Takasugi."
Gintoki mengangguk. Kedua matanya terus mengikuti Tatsuma yang berdiri dari sampingnya, sembari membersihkan pasir yang menempel di pantat celananya, sebelum berlalu pergi.
"Apa yang kau bicarakan dengan dia tadi?" tanya Hijikata begitu dia berjalan mendekat dengan seluruh tubuh yang basah. Gintoki menoleh.
"Dia bertanya kenapa kau berenang memakai baju dan kenapa kita bisa tinggal satu apartemen. Kau harus berhati-hati," katanya, begitu sekarang dia dan Hijikata berjalan beriringan menuju rumah tempat mereka menginap. "Sepertinya dia benar-benar mencurigaimu."
Hijikata terdiam. Dia tahu akan hal itu, dan sangat berharap lambang di punggungnya bisa tiba-tiba menghilang jika nanti Tatsuma atau Takasugi sengaja melakukan sesuatu padanya seperti di kolam renang sekolah dulu itu.
.
. .
Takasugi langsung memberi isyarat lewat sorot matanya ke arah Tatsuma begitu Gintoki dan Hijikata tampak sibuk mencuci piring setelah acara makan mereka. "Aku akan mengalihkan perhatian mereka," bisiknya, sebelum berdiri dan mendekati kedua orang yang sedang mencuci piring itu.
Dengan gerakan cepat, Tatsuma mengeluarkan botol ramuan kecil dari saku depan celananya dan menuangkannya ke dalam minuman kaleng Hijikata yang ada di atas meja. Begitu Takasugi menoleh tanpa kentara ke arahnya, Tatsuma berkata 'Beres' tanpa suara.
"Takasugi-san, kau tidak perlu repot-repot membantu kami mencuci piring," kata Hijikata dengan nada suara tidak bersahabat.
Takasugi tidak mengacuhkan. Dia berdiri di samping Gintoki, menatap pemuda manis itu tak berkedip. Membuat Gintoki sedikit tidak fokus mencuci piring-piring kotor di depannya.
"Takasugi, lebih baik kau mandi saja sana!" seru Tatsuma tiba-tiba. Mendengar itu, Hijikata rasanya ingin memeluk Tatsuma sebagai bentuk terima kasih.
Kedua mata Takasugi menoleh cepat ke arah Tatsuma seperti serigala yang mengincar mangsanya. Tatsuma meringis, nyalinya seketika menciut mendapat tatapan adik sepupunya yang berbahaya. Tanpa mengatakan apa-apa, pemuda bersurai ungu gelap itu akhirnya berlalu pergi.
Tatsuma masih duduk di kursi meja makan saat Gintoki dan Hijikata akhirnya selesai mencuci piring. Kedua matanya terus mengikuti Hijikata yang berjalan ke luar dapur lebih dulu, setelah sebelumnya mengambil minuman kalengnya di atas meja.
"Hanya tinggal menunggu dia menenggaknya dan kembali ke wujud aslinya," gumam Tatsuma pelan, sebelum berdiri dari kursi, dan berjalan ke luar.
Gintoki mengenyit begitu dia sempat melihat Tatsuma menyeringai sambil berlalu ke luar. Tapi dia tidak memikirkannya lebih jauh. Setelah mengambil satu minuman kaleng di lemari es, dia berjalan ke luar dan menuju kamar.
"Kau mau mandi?" tanya Hijikata begitu dilihatnya Gintoki masuk ke dalam kamar. Pemuda manis itu mengangguk sambil meletakkan minuman kalengnya di atas meja. "Kalau begitu aku juga i—"
"Tidak!" tolak Gintoki cepat, dan berlalu menuju kamar mandi di dalam kamar mereka.
Hijikata mengerucutkan bibirnya begitu mendengar Gintoki sengaja membanting pintu kamar mandi. Untuk membunuh rasa bosannya, Hijikata mengambil ponselnya dan memainkannya, hingga tiba-tiba dia mendengar pintu kamar diketuk dari luar. Dengan ogah-ogahan, Hijikata bergerak bangun dari posisi tidurnya dan berjalan menuju pintu.
"Hei, bisa kita bicara berdua?" Tatsuma tersenyum penuh maksud begitu orang yang diharapkannya membuka pintu.
Hijikata terdiam sejenak, sebelum mengangguk. "Tunggu sebentar," katanya sebelum berbalik.
"Aku tunggu di teras depan, ya." Tanpa menunggu jawaban, Tatsuma berlalu lebih dulu.
Setelah mengambil minuman kalengnya di atas meja—yang ternyata bersebelahan dengan minuman kaleng Gintoki—Hijikata melangkah ke luar dari dalam kamar, tanpa tahu kalau sebenarnya minuman kaleng yang diambilnya sudah tertukar dengan milik Gintoki.
Lantas, begitu Gintoki akhirnya selesai mandi dan mengambil minuman kaleng di atas meja, dia menenggaknya tanpa tahu kalau isi minuman itu sudah tercampur dengan ramuan yang tadi dituangkan Tatsuma. Dan setelah meletakkan kembali minuman kaleng yang isinya tinggal sedikit itu di atas meja, mendadak Gintoki merasa pusing saat dia berjalan menuju lemari pakaian.
Tubuh Gintoki akhirnya limbung dan jatuh terduduk bersimpuh di depan lemari pakaian. Ketika dia membuka mata dan melihat ke sekeliling kamar, dia jadi bingung dan heran karena kamar yang terlihat lebih besar dari tadi. Begitu dia menoleh ke samping dan melihat pantulan dirinya di cermin yang tertempel di salah satu pintu lemari pakaian, saat itulah Gintoki baru sadar apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"MIAAAW?!"
Kenapa dia kembali ke wujud asli?
.
.
.
Bersambung...
Jeanne's notes:
Ada yg ngerasa klo kadar humor untuk Bab 10 ini berkurang? Sengaja sih, soalnya mulai dari bab ini akan dibuat mode seriyus. Tapi, tenang, saya masih akan tetap memberi bumbu2 humor kok; khususnya lagi saat Hijikata di-bully Gintoki. #eh
Terima kasih bagi yg sudah meninggalkan apresiasi di Bab 9:
Hijikata Rinki; Shean Ren31; AlcoholicOwl.
Terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di Bab 11~ :)
