Friends Or?

Chap 11

Kim Minseok - Exo Member – Other

DLDR, BL, Straight, M, Little Bit Humor (I Hope), Brothership, Friendship, Romance (?)

.

..

...

BEFORE

"Aku akan menungguinya. Mungkin dia butuh sesuatu saat dia bangun nant..."

"Dia tidak akan bangun sampai besok. Aku sudah memberikan obat bius untuknya." DO yang tadi menjadi asisten Lay memotong ucapan Luhan dengan cepat.

"Kita tidak boleh terlalu kelelahan untuk merawat Minseok." Tambah Suho sambil berjalan mengikuti yang lainnya.

Luhan menoleh kearah Minseok yang masih setia memejamkan matanya dan akhirnya berjalan mengikuti yang lainnya.

.

..

...

Keesokannya hanya Lay, DO, dan Luhan yang sudah bangun pagi-pagi sekali untuk melihat keadaan Minseok.

"Sejak kapan kau memindahkannya Lay?" Luhan mengernyit bingung saat melihat Minseok sudah terbaring nyaman di kamar Lay dan infusnya juga sudah dilepas, bahkan bajunya juga sudah diganti.

"Sekitar jam 3 pagi. Saat aku mengeceknya, tekanan darahnya sudah stabil jadi aku dan Chanyeol memindahkannya ketempat yang lebih nyaman."

"Chanyeol? Sekarang dia masih tidur?"

"Ya, saat aku bangun, dia juga ikut terbangun dan membantuku memindahkannya. Setelah itu dia tidur lagi."

"Kapan dia akan bangun?" Masih terdengar jelas bahwa Luhan masih khawatir dengan keadaan Minseok.

"Kau tenang saja, Lay sudah menanganinya dengan baik."DO yang baru datang dari dapur memberikan kopi panas ketangan Luhan dan Lay.

"Sebaiknya kita jangan berdiri disini." Lay berjalan sambil menikmati aroma kopi buatan DO.

.

"Hah~. Kenapa Minseok belum juga bangun? Apa dia tidak lelah berbaring seharian? Apa dia tidak lapar? Demi Tuhan, ini sudah waktunya makan siang dan dia masih menutup matanya. Lay berapa banyak obat bius yang kau berikan padanya? Kau seharusnya tidak memberikannya terlalu banyak. Apa..."

"Ya! Baekhyun! Hentikan omongan bodohmu itu!" Chen dan yang lain memberikan tatapan membunuh mereka, karena sajak pagi Baekhyun terus berbicara tanpa henti, tentang Minseok yang tidak bangun dan merembet ke hal-hal tidak masuk akal lainnya.

"Tutup mulutmu dan lakukan hal lain selain berbicara. Kau bisa kan?" Chen memberikan saran dan hanya dibalas cibiran kesal dari Baekhyun.

"Aku hanya khawatir karena dia tidak bangun-bangun." Baekhyun dengan berjalan kearah kulkas dan mengambil minuman berwarna cerah dan langsung meneguknya habis.

"Efek obat biusnya sudah hilang sejak pagi tadi. Minseok pasti hanya tidur, kita tahu sendiri Minseok selalu bangun siang saat akhir pekan." DO menjelaskan.

Ini sudah hampir jam 2 siang, dan Minseok masih setia bergulung nyaman dengan selimutnya. Tadi pagi sebenarnya Minseok sempat terbangun dan merasakan nyeri dipunggungnya tapi Minseok memilih mengabaikannya, juga saat melihat hari masih malam atau setidaknya itu yang dipikirkannya akhirnya Minseok kembali melanjutkan tidur nyenyaknya.

Untuk menunggu Minseok bangun, yang lainnya pun memilih untuk menonton TV, ataupun bermain game atau Luhan dan Chanyeol yang memilih mencoret-coret dinding yang masih bersih dari coretan-coretan lainnya.

"Ya! Kalian berdua berhentilah mengotori dinding dengan coretan tidak jelas kalian." Teriak Baekhyun yang sedang serius menonton TV merasa terganggu dengan suara pilok untuk mencoret-coret dinding.

"Hei Baekhyun! kau benar-benar tidak mengerti seni, ini bukan corat-coret, ini disebut seni graviti bodoh." Chanyeol membalas teriakan Baekhyun dengan suara bassnya yang menggelegar diseluruh ruangan itu.

"Jika yang menggambar Minseok dengan senang hati aku menyebutnya seni graviti. Sedangkan yang kalian buat, huh. Anak kecil saja pasti lebih bagus gambarannya daripada kalian." Baekhyun berkata dengan nada mencibirnya yang menghina.

"Hei Byun Baekhyun! Orang yang tak tau seni sebaiknya diam saja." Luhan yang terprovokasi juga mulai ikut meneriaki Baekhyun.

Kini ruangan yang tadinya lumayan kondusif berubah menjadi gaduh dan penuh dengan suara teriakan juga suara tertawa. Suho yang sedang membaca komik dangan tenang kini mengerutkan dahinya terganggu. Lay dan DO memilih memejamkan matanya sambil mendengarkan musik melalui headset mereka masing-masing untuk mengabaikan kegaduhan yang terjadi. Suho makin mengernyit kesal saat melihat Luhan dan Kris yang notabenenya adalah yang tertua juga ikut membuat kegaduhan.

.

Minseok yang mendengar kegaduhan dari luar merasa terusik dan mulai membuka matanya.

"Huh. Jam berapa ini? Argh! Punggungku, kenapa semua badanku terasa sakit." Minseok meringkuk kesakitan ditempat tidur.

"Aku lapar~." Minseok kini berganti memegangi perutnya yang tiba-tiba berbunyi minta diisi.

Saat dia bangun dari tempat tidurnya dia heran dan merasa asing dengan ruangan yang saat ini ditidurinya. Ruangan itu perpaduan antara gaya hip hop tapi juga ada gambar-gambar gravity yang tentu saja sangat tidak hip hop.

"Apa itu gambar unicorn? Tapi itu terlalu mengerikan untuk unicorn?" Minseok terlihat fokus dengan gambar gravity yang seperti menunjukkan gambar hewan unicorn, tapi gambar itu terlihat lebih seperti monster unicorn daripada unicorn yang Minseok sering lihat pada mainan anak-anak. Minseok terus memperhatikan detail dari ruangan itu. Minseok memang tidak akan datang ke dorm mereka jika tidak dipaksa datang, dan itu membuat Minseok asing dengan tempat itu.

"Jika itu memang unicorn bararti ini adalah kamar Lay?" Minseok terus memperhatikan sekelilingnya dan mengernyit bingung. "Tapi jika ini kamar Lay, tunggu. Bukankah itu... ah aku tahu itu pemukul baseball milik Chanyeol!" Minseok terlihat seperti orang gila karena menjawab sendiri semua pertanyaannya. "Jadi baju ini pasti milik Chanyeol juga, ini terlalu besar jika punya Lay. Dasar Dobi sialan, kenapa memakaikanku baju aneh seperti ini." Minseok kini memperhatikan kemeja hitam kebesaran yang dipakainya.

Kruyuuuuuuk~

Minseok memegang perutnya lagi. "Aaah~ aku lapar."

Minseok pun menuruni tempat tidur dan langsung mengernyit tidak suka. "Bahkan dia tidak memakaikanku celana. Dia pasti terlalu sering menonton video mesum. Dasar Dobi mesum!" Minseok kini membuka lemari dekat ranjang tempatnya tidur dengan tangan kirinya untuk mencari celana atau setidaknya sebuah boxer agar sebagian pahanya tak terexpose kemana-mana karena kemeja yang dipakainya hanya sampai menutupi setengah pahanya saja. Akhirnya dengan susah payah mencari-cari mengacak-acak isi lemari itu Minseok menemukan sebuah boxer polos berwarna hijau cerah dan langsung memakainya dengan tangan kirinya karena Minseok tidak bisa menggerakkan tangan kanannya tanpa kesakitan. Saat berhasil memakai boxernya -dengan susah payah - Minseok agak terkejut karena mendengar suara gebrakan yang kencang dan seketika itu juga kegaduhan diluar langsung menghilang. Minseok yang penasaran berjalan keluar juga perutnya yang tidak mau berhenti memprotes karena lapar. Minseok celingukkan sambil memegangi perutnya yang semakin kelaparan untuk mencari tempat yang ada makanannya.

Saat akhirnya Minseok sampai didepan ruang yang menurut Minseok adalah ruang tengah, Minseok dapat melihat Suho yang berdiri didepan sebuah meja yang sudah terbelah menjadi dua bagian.

"Kelihatannya dia sangat marah. Dan dia kelihatan mengerikan, dengan wajah seperti itu apanya yang Suho (Guardian Angel)." Minseok membatin dengan sedikit mencibirkan bibirnya.

Sebelum sampai diruangan itu Minseok mendengar Suho mengatakan sesuatu dengan suara menahan amarahnya. "Kalian akan membangunkan Minseok jika terus berbuat kegaduhan seperti orang bodoh seperti itu."

"Terlambat, aku sudah bangun." Minseok berjalan malas kearah meja bar dekat dapur.

Suara dengan nada mengantuk itu membuat seluruh pandangan mereka tertuju pada Minseok yang terlihat semakin mungil dengan kemeja kebesaran yang dipakainya.

"Hah. Jadi kau terbangun ya. Kau kasti kelaparan karena tidur seharian." Suho yang kini sudah mengganti wajah marahnya menjadi wajah angelicnya mengikuti Minseok untuk berjalan kearah meja bar dekat dapur.

"Kau ingin makan sesuatu?" Suho masih dengan senyum angelicnya menatap Minseok ramah.

"Entahlah. Apapun asalkan makanan. Aku sangat lapar." Minseok berkata dengan nada lemasnya.

"Bagaimana tanganmu Minseok, apa masih terasa sakit?" Lay yang mendekat langsung memeriksa Minseok yang sedang duduk didepan meja bar.

"Ya, aku terbangun juga karena itu sebenarnya. Tangan sampai punggungku rasanya seperti kram. Dan aku susah menggerakannya bahkan menekuknya saja sulit." Minseok menjelaskan dengan nada lesunya sambil memegangi pundaknya.

"Aku sudah memperkirakannya. Coba pegang gelas ini"

"Agrh!"

Lay dengan cepat menangkap gelas yang terjatuh karena Minseok tidak bisa memegang gelas itu dan menjatuhkannya bersamaan dengan erangan kesakitannya.

"Lay jelaskan bagaimana kondisi Minseok." Pinta Kris yang matanya terus fokus kearah Minseok. Karena sepertinya Lay tidak menepati janjinya untuk menjelaskan keadaan Minseok pagi tadi.

"Luka goresnya memang tidak dalam, tapi ada pecahan botolnya yang mengenai otot dalam. Dan itu pula yang menyebabkan tangannya sulit untuk digerakan. Butuh beberapa hari untuk memulihkannya." Lay menjelaskan dengan tenang.

"Jadi aku tidak bisa menggunkan tangan kananku selama berhari-hari?"

"Kurang lebih begitu. Sekarang buka mulutmu. Aaa..." Suho yang sudah selesai menyiapkan makanan langsung menyuapkannya pada mulut Minseok yang menerima dengan senang hati suapan tersebut karena dia memang sudah sangat kelaparan.

Yang lain hanya bisa memandang dengan pandangan tidak suka, mereka tidak mau mengusik Suho karena tadi mereka sudah membuat Suho membelah meja dan mereka tidak mau menjadi sasaran selanjutnya jika berani mengusiknya lagi. Dilihat dari fisik dan sikapnya, Suho bukanlah orang yang cocok untuk ditakuti namun sekali dia menunjukkan emosinya sebaiknya jangan membuat masalah dengannya karena dia tidak akan menjadi guardian angel lagi seperti namanya melain berubah menjadi iblis penghancur yang mengerikan. Dia menjadi ketua osis sekaligus ketua kelompok mereka bukan hanya karena tunjukan asal dari Kris semata, melainkan mereka semua tahu, Suho adalah orang tepat yang untuk dijadikan pemimpin.

"Kenapha mereka tibha-tibha menjadhi sangat tenhang?" Tanya Minseok ditengah kunyahannya.

"Jangan pedulikan mereka. Mereka hanya sedang menikmati hidup."

Yang lain hanya bisa mendengus kesal karena perkataan Suho yang seenaknya.

Setelah beberapa suapan, Minseok selesai dengan makannya dan menghela nafas kekenyangan.

"Argh!" karena belum terbiasa Minseok tanpa sengaja menekuk lengannya dan membuatnya kesakitan. "Huh, saat ini aku benar-benar berharap dilahirkan sebagai seorang kidal." Keluh minseok dengan memberikan pijatan pelan dipundaknya.

"Kau tenang saja, kami semua siap untuk membantumu. Kami bisa menjadi tangan kananmu." Chanyeol tiba-tiba berbicara dengan nada ceria seperti biasanya.

"Walaupun Park Dobi ini biasanya berkata hal-hal tidak masuk akal, tapi kali ini aku setuju dengan perkataannya. Jadi kau tenang saja." Kata Chen dengan cengirannya.

"Mereka benar, kami semua siap untuk membantumu. Sekarang kau ikut aku, aku harus memberi penahan untuk tanganmu." Kata Lay dengan membantu Minseok berdiri dari kursinya.

"Maksudmu penahan?" Tanya Minseok bingung.

"Penyebuhanmu akan terhambat jika kau terus tanpa sengaja menekuk lenganmu." Lay menjelaskan.

"Baiklah."

.

"Wah, tempat ini mirip sekali dengan yang ada dirumah sakit. Kau yang membuatnya Lay?" Minseok bertanya sambil memandang sekeliling dengan pandangan takjub.

"Begitulah, DO juga ikut membantu. Sekarang kau duduk disini." Lay menunjuk tempat yang mirip dengan tempat tidur yang ada dirumah sakit.

Minseok menurut dan langsung duduk. Minseok memparhatikan tangan Lay yang saat ini sedang memperban benda yang seperti balok (Kayak gips) kayu berukuran sedang diantara sikunya agar sikunya tidak menekuk lagi.

"Selesai." Lay berkata dengan menampilkan senyum dimplenya.

Tanpa sadar Minseok melah menatapi wajah tersenyum Lay, Minseok memang menyukai orang yang berdimple karena baginya itu sangat manis. Dan dimple Lay adalah yang terfavorit bagi Minseok. Mungkin jika Minseok bertemu dengan perempuan berdimple seperti Lay, dia akan langsung menyatakan cintanya pada perempan itu.

Chuu~

"Eh, Lay!" Minseok terkejut karena tiba-tiba mendapat kecupan ringan dibibirnya.

"Kau menyukainya?" Tanya Lay masih dengan senyum dimplenya yang kini terlihat makin dalam.

"Tidak, eh maksudku iya... eh... a-aku menyukai dimplemu. Itu maksudku." Wajah Minseok memerah karena katahuan memandangi wajah Lay.

"Tidak apa-apa. Kau bisa melihat wajahku selama yang kau mau."

"Hehehe, maaf aku tadi hanya..."

"Minseok-ah."

Minseok sedikit terkejut dengan perubahan suara Lay yang tadinya lembut kini turun satu oktaf membuat Minseok yang tadinya menundukkan wajahnya kembali menegakan wajahnya yang langsung berhadapan dengan wajah Lay.

"Lihat mataku." Perintah Lay dengan suara yang makin rendah.

"Lay?"

"Lihat mataku Minseok-ah." Pinta Lay yang kali ini memandang lurus kemata Minseok.

Minseok yang mendengar nada keseriusan Lay memilih menurut dan menfokuskan pandangannya pada mata Lay. Saking fokusnya memandangi mata Lay, Minseok tidak menyadari jika wajah Lay semakin mendekat hingga Minseok bisa merasakan nafas hangat menerpa wajahnya. Seolah terhipnotis Minseok terus memandangi mata Lay, bahkan saat Lay menaruh tangannya disisi tubuh Minseok, membuatnya memerangkap tubuh mungil itu. Minseok pun juga tak menyadarinya dan terus memandangi mata Lay.

"Kau menyukai apa yang kau lihat Minseok-ah?" Kali ini Lay bertanya dengan nada yang lebih lembut dan menampilkan dimplenya yang manis.

Dengan masih fokus dengan mata Lay, Minseok hanya menganggukkan kepalanya.

"Katakan Minseok-ah."

"Y-ya, aku menyukainya." Minseok menjawab dengan suara tersendat karena bibirnya yang bersentuhan langsung dengan bibir Lay saat dia berbicara.

"Kau ingin lebih?" bahkan Minseok tetap fokus dengan mata Lay saat bibirnya dan bibir Lay kembali bersentuhan.

Entah apa yang terjadi, Minseok tidak bisa merasakan sesuatu kecuali keinginan untuk memandangi mata Lay. Seolah-olah hidupnya hanya tergantung dengan memandangi mata Lay.

Karena tidak mendengar jawaban Minseok, Lay menyatukan dahinya dengan dahi Minseok dengan mata Minseok yang masih fokus dengan matanya.

"Jika kau ingin kebih, maka ambil apa yang kau inginkan."

Mendengar kata Lay barusan Minseok merasakan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya. Sesuatu seperti dorongan keinginan. Dan dengan gerakan lamban namun pastinya Minseok mendekatkan bibirnya dengan bibir Lay. Mengecupnya pelan, seperti seorang bocah yang baru pertama kali belajar berjalan. Minseok terus memberikan kecupan-kecupan ringan dibibir tipis Lay. Dan Lay hanya diam menikmati setiap kecupan yang diberikan Minseok.

"Ya, seperti itu Minseok-ah. Jika masih kurang, kau bisa mendapatkan lebih dari ini." Lay berbicara disela bibir Minseok yang mengecupnya.

Merasa mendapat keyakinan, Minseok langsung meraup bibir Lay, bahkan memberika hisapan pelan dan terus begitu sampai tanpa sadar tangan Minseok sudah memegang tengkuk Lay untuk memperdalam ciumannya pada bibir Lay. Walaupun masih dalam tempo pelan, terlalu pelan untuk Lay sebenarnya tapi Lay bisa merasakan bibir lembut Minseok terus menghisap pelan bibirnya.

Namun Lay mulai tidak sabar karena Minseok tidak juga meningkatkan ritme ciumannya. Dengan gerakan hati-hati Lay mulai meremas rambut Minseok yang masih fokus pada ciumannya. Bahkan tanpa disadarinya sendiri, Minseok sudah menutup matanya agar lebih menikmati ciumannya dengan Lay. Lay yang sudah tidak tahan dengan ciuman perlahan Minseok mulai ikut membalas ciuman Minseok dan ikut memejamkan matanya. Kini keduanya (lebih ke Lay sebenarnya) mulai meningkatkan ritme ciuman mereka. Lay yang tadinya hanya mengikuti ritme ciuman Minseok kini mulai memimpin dan menggigit pelan bibir Minseok untuk meminta akses. Dengan masih memejamkan matanya Minseok membuka mulutnya dan dengan cepat Lay langsung menyusupkan lidahnya menjelajahi gua hangat Minseok.

Mereka terus begitu, sampai Minseok merasakan sesak didadanya. Dia meremas rambut Lay dengan kuat, menandakan dia mulai kehabisan nafas. Lay yang mengerti arti remasan itu malah mempercepat retme ciumannya, membuat Minseok semakin kencang meremas rambut Lay.

"Ngghh.." Kini Minseok mencoba memundurkan kepalanya untuk mengehentikan ciuman itu, dan untungnya Lay langsung melepaskan bibir Minseok dengan nafas yang lumayan terengah, berbeda dengan Minseok yang sudah seperti seseorang yang baru saja melakukan lari maraton.

"Kau lumayan juga untuk pemula. Tapi kau masih harus benyak belajar Minseok-ah." Saran Lay dengan senyum dimplenya.

Minseok yang masih terengah hanya memandang Lay dengan tatapan bingung. "Tidak mungkin kan aku...?" Minseok membatin kebingungan.

Lay tersenyum melihat ekspresi bingung Minseok, dan akhirnya mengusak rambut Minseok dengan sayang. "Jangan memasang wajah seperti itu. Aku bisa memakanmu nanti."

"Itu tidak akan terjadi, karena aku ada disini." Entah sejak kapan Chanyeol sudah berdiri didepan pintu ruangan itu.

Minseok hanya menoleh kearah Chanyeol dengan mata lebarnya. "Semoga saja dia tidak melihatnya." Minseok meminta dalam hati.

"Benarkah?" Lay bertanya dengan senyum miringnya.

"Sepertinya kau sudah selesai."

"Seperti yang kau lihat."

"Minseok-ah, ibumu tadi menelfon. Aku bilang kau sedang mandi jadi kau disuruh menelfon balik jika sudah selesai."

"Baiklah. Dimana ponselku?" Tanya Minsok dengan nada lesunya sekaligus masih gugupnya.

"Diruang tengah." Jawab Chanyeol sambil membukakan jalan untuk Minseok.

Setelah Minseok hilang dari pandangan mereka Chanyeol memberikan tatapan tajam kearah Lay. "Aku tau kau memang licik dibalik wajah ramahmu itu Xing."

"Kau harus tau, kita semua adalah orang yang licik Park."

.

..

...

Tbc