Title: Glass/Yoori.
Author: Meonk and Deog.
Genre: Angst, romance, hurt/comfort.
Rate: M.
Pairing: HaeHyuk.
Slight pair: SiHyuk, HaeMin, SiBum, KyuMin, HenBum, ZhouRy, KangTeuk, Hanchul, YeWook.
Cast: All super junior member.
Discleimer: Character in this story isn't mine! But the story is mine! And only mine!
Warning: Yaoi, Boys love, Shonen-ai, NC activity,GS for Sung Min, Heechul dan Leeteuk, EYD yang berantakan dll.
Summary: "Bukankah cinta seperti kaca? Terlalu frontal dan transparan. Bagi orang sepertiku cinta terlalu menggambarkanku dengan buruk. Pantaskah kusebut cinta? Hal yang terlalu menyakitkan, membawaku pada masa depan, mengoyakku hingga diriku benar-benar nyaris hancur, lalu kembali menariku kemasa lalu yang bahkan lebih buruk dari masa depan itu sendiri."
NO COPAST! NO PLAGIARISM.
Please don't bash chara!
Remember! It's just fanfiction!
Don't' Like Don't Read~
.
.
.
Author Pov.
Bruakkk!
Tubuhnya membentur tembok, rintihan ringan terdengar menggema disetiap sudut ruangan. Maniknya bergerak tak beraturan ketika cengkraman pada leher terasa makin mengerat, sudah kesekian kali ia meronta. Laki-laki dihadapan malah menulikan telinga, bertindak tak sesuai akal sehat lalu menghardiknya dengan segala umpatan lantang.
Jari-jemarinya menghentikan jalur pernafasan udara sang kekasih, kilatan marah yang terlihat jelas dimata Donghae tak mampu surut bahkan ketika rontaan terdengar makin lirih. Tubuh Hyuk Jae hampir mengambang diudara, kedua kakinya tak mampu lagi berpijak kuat pada lantai.
"Donghae sesak! Lepaskan aku! Kau bisa membunuhku!" Butiran bening meluruh, jatuh diwajah teduhnya namun ia tak memberikan ekspressi. Sang kekasih tak memberikan raut bersalah, menandakan bahwa kejadian ini tidak akan berakhir dengan baik.
"Apa peduliku sekarang?! Apa yang kau inginkan pelacur?! Membunuhku?!" Teriakkannya memekkan telinga, tangannya masih setia mengapit leher Hyuk Jae dengan erat. Memutus belas kasihan, kali ini tak ada toleransi. Terlebih atas tindakan yang melibatkan sang kakak ditengah gemelut pengkhianatan.
"Pelacur?" Hyuk Jae mengulang kata-kata yang sempat terlontar dalam kalimat Donghae tadi, matanya memerah. Satu tangan yang bebas, ia gunakan untuk meronta. Mencoba menghempaskan tubuh Donghae dengan sisa tenaga yang telah terkuras.
"Pela..cur kau bilang?! Lepaskan aku brengsek!" Nafasnya tersengal, dengan segenap kekuatan yang dimiliki ia berteriak. Memberikan perlawanan pada pemuda didepan sana. Jemarinya bergerlia meraih sisi tembok, kakinya hendak memijak dan ketika sebuah peluang didapatkan ia segera mendorong dengan kuat tubuh Donghae kearah lantai.
Brukkk!
Tubuh Donghae terhempas kuat kearah lantai, benturan amat keras terjadi ketika lantai dingin menyapa punggung. Mulutnya ternganga, tatapan tak percaya dihadiahkan atas kejadian yang baru saja menimpa. Pembelaan yang dilakukan sang kekasih, dirasa tak pantas diatas kejadian dimana ia memang harus menjadi pihak yang harus menyalahkan diri.
Kaki-kaki kurusnya tak mampu lagi menopang berat tubuh, cekikan yang diberikan telah merampas habis sebagian tenaga. Membuatnya terpaksa ikut terkulai lemah diatas lantai. Donghae masih membeku, pandangannya melurus pada sosok didepan sana. Kontak mata sepihak dilakukan, ia menghadiahkan kliatan sinis kepada Hyuk Jae.
"Hosh..hosh…hosh! Kau gila?! Kau benar-benar ingin membunuhku Choi Donghae!"
Hyuk Jae terengah-engah meraup udara, paru-parunya terasa menciut. Oksigen yang didapat belum mampu menstabilkan gerak tubuh. Ia masih lemas, dengan jemari yang mengurut perlahan leher jenjangnya.
Donghae enggan memberikan reaksi, tangan kanannya menopang tubuh pada sisi dinding. Tapakkan kaki terdengar menjauh, Hyuk Jae mencoba tak mempedulikan. Meraup udara sebanyak-banyaknya masih menjadi prioritasnya saat ini.
Pijakkannya pelan kearah kamar, mengikis jarak demi jarak yang tercipta. Hyuk Jae sedikit tersentak ketika debaman benda yang saling bertubrukkan terdengar kontras mendominasi ditengah suara hening. Donghae kembali, pada posisi semula dengan menggenggam sebilah pisau berukuran sedang.
Manik Hyuk Jae membelalak lebar, ada perasaan janggal ketika benda logam tajam itu menyapa ruang pandang. Spontan ia bergerak mundur, namun sayang dinding dingin harus menghentikan pergerakkan.
"A..apa…apa yang mau kau lakukan?!" Nadanya bergetar, ia terlalu takut hanya untuk menjaga intonasi suara. Peluh yang menetes, menggambarkan pasti kepanikkan yang melanda Lee Hyuk Jae.
"Kau pasti tahu apa yang mau kulakukan." Beribu keyakinan telah terangkum dinada yang terdengar amat sinis itu, Donghae ingin mencoba. Mencoba sebuah cara dimana kematian adalah hal terbaik saat ini. Ia tak menyangka, ia tidak takut untuk ini. Yang ia tahu, entitas dihadapannya harus segara menebus dosa yang telah dilakukan.
"Jangan gi-akh!" Tubuhnya lagi-lagi harus berbenturan dengan wajah yang lebih dulu menyapa tembok. Kedua tangan Hyuk Jae terkunci dibelakang tubuh dengan satu tangan Donghae yang menahannya erat. Semantara tubuhnya terhimpit oleh tubuh dan kedua kaki Donghae, sedangkan satu tangan lain laki-laki bermata teduh ini mulai mendekatkan mata pisau kearah leher sang kekasih.
Hyuk Jae terus mencoba meronta, namun dengan pisau yang tepat berada dibelakang lehernya, sebisa mungkin ia membatasi pergerakkan.
"Beraninya lagi-lagi kau melakukan itu, dia…dia." Ia menjeda, kenyataan dimana sang kakak menjadi pelaku utama tak bisa terelakkan. Butiran bening itu kembali meluruh jatuh, dengan mata pisau yang semakin mendekat, ia mencoba melukai.
Hyuk Jae tidak bisa menundukkan kepala hanya untuk mengakui kesalahannya, rasa bersalah telah lenyap bahkan kematian yang berada diujung mata tak mampu menyurutkan rasa egoisme.
"Dia hyungku! Dia Choi Siwon, keparat!" Teriakkan itu mampu membuat saraf motoriknya terasa membeku, ia menutup mata, sesekali meneguk saliva hanya untuk menormalkan detak jantung yang berpacu cepat.
"Hahh…hah…apa tujuanmu sebenarnya?! Membunuhku?! Ini salahnya aku mencintai pelacur. Baik.., kau ingin aku mati, kita mati bersama."
"Apa yang kau bicarakan?! Lepaskan aku brengsek!" Jawaban sengit menjadi reaksi dari teriakkan Donghae. Pisau itu semakin dekat, dengan segenap akal yang dimiliki, ia mencoba mengalihkan perhatian laki-laki itu.
"Siapa yang mau mati! Tidak ada kematian! Aku tidak ingin mati! Cinta yang kau maksud adalah cinta menjijikkan itu, dan aku cukup muak dengan ini! Kau kira berapa banyak ancaman yang mereka berikan padaku! Ancaman kematian, sama seperti saat ini hingga kehidupan adikku menjadi taruhan!" Donghae terperangah, cinta menjijikkan? Sesuatu yang begitu dibanggakannya, sesuatu yang telah meleburkan sisi rasional diri dipandang begitu rendah. Hanya satu hal yang dirinya pelajari saat ia bertemu dengan Hyuk Jae, tak ada cinta dari sosok didepan sana. Hanya sepihak…
Donghae melepaskan cengkaraman, Hyuk Jae berhasil menghentikan aksi gila pria bersurai brunette itu. Tubuh laki-laki tampan ini lagi-lagi jatuh terduduk kelantai, dengan wajah yang mengadah ditambah ekpressi pias, ia masih berharap ucapan itu hanya bualan.
"Menjijikkan? Serendah itukah?" Bibir Donghae bergetar, lontaran kata yang dikeluarkan amat terdengar lirih. Tangisan beribu kali coba ia kelak, namun tanggapannya masih sama. Sosok dicintai hanya diam.
"Kita hentikan semua ini." Donghae membelalakkan mata, ia menggeleng tanda tak setuju. Siapa yang bersalah saat ini? Ia tidak tahu. Donghae hanya tahu, bahwa dirinya harus memohon.
"Apa..apa maksudmu?! Jangan bercanda! Setelah apa yang kulakukan, kau meninggalkanku?! Jangan gila Lee Hyuk Jae!" Alisnya menyatu, tatapannya semakin memicing tajam. Dengan genangan air mata, ia masih mencoba merendah diri.
"Hidup dengan orang sepertimu akan membuatku gila! Kita hentikan ini, jika kau benar-benar mencintaiku biarkan aku pergi! Kita hidup dengan tenang, dijalan yang berbeda karena kau berhasil membuatku tidak bisa mencintai siapapun. Bangun pernikahanmu kembali dengan wanita itu, terlalu banyak sakit yang ia terima." Donghae menggeleng, ketika tubuh Hyuk Jae hendak berbalik, melangkah pergi, secepat mungkin Donghae meraih genggaman tangannya. Pisau yang terabaikan kini tergenggam kembali. Keputus asaan memberinya jalan, bertemu dengan Tuhan.
"Jika kau pergi, maka jangan salahkan aku jika kau mendengar tentang kematianku diberita pagi." Hyuk Jae tersenyum sinis, berulang kali ia mendapat ancaman seperti ini. Mengandalkan logika, ia menggelengkan kepala tanda tak percaya.
"Kalau begitu mati saja."
"Bunuh aku. Aku ingin mati ditanganmu." Reaksinya buruk, Hyuk Jae tersenyum sinis sebagai tanggapan. Sebuah keseriusan dianggap lelucon, dan kini ia hanya menggidikkan bahu. Menganggap ucapan itu hanya sebatas angin lalu.
"Berdosa dengan Tuhan adalah kesalahan terbesarku, aku tidak mau menambah penyesalan dengan membunuhmu."
"Setidaknya dari penolakkanmu ini, aku masih berpikir bahwa kau sempat mencintaiku." Kalimat itu berhenti sudah.
Crasshhh.
Luka besar pengoyak nadi terlihat kasat mata. Cairan kental melewati kulit. Wajahnya belum benar-benar memucat, namun pandangannya buyar. Tak ada rasa sakit, seperti ini rasanya bunuh diri, dan ia tak mengnyesal. Donghae gila, dia benar-benar melakukan itu. Mengarahkan mata pisau kearah kulit, mengoyaknya dengan satu ayunan. Darah mengucur hebat, sedikit membasahi lantai. Hyuk Jae masih terpekur, matanya bulat sempurna. Seketika itu ia menyesali perkatannya.
"Choi Donghae!"
.
.
.
Jemarinya mengapit sisi cangkir dengan ringan, kedua mata obsidian berpandangan lurus. Menyatukan kepingan objek hingga membentuk siluet sempurna yang terduduk tepat didepan mata. Kedua kakinya tak pernah bergetar hanya karena takut dengan keputusan yang telah diambil, ia tak pernah ragu. Ia hanya takut, dan ia tak bisa berlari kembali hanya untuk menyerah.
"Aku lelah sekali…" Sosok didepan sana mendesah pelan, kedua jemari digunakan untuk mengendurkan dasi yang mencekik leher. Punggunya menempel erat pada sisi sofa, sementara wajahnya mengadah kearah plafon kamar. Menyerap sketsa-sketsa blur itu hingga mendominasi retina mata.
Kibum terdiam, meneguk saliva kembali untuk menormalkan intonasi. Kakinya memijak lantai, tak ada gema suara yang diciptakan karena pergerakkan yang pelan, ia hanya terdiam dengan jemari yang mulai meletakkan map cokelat polos diatas meja.
"Buka matamu, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapannya terdengar seperti titahan, Siwon segera memperbaiki posisi duduk. Kedua tangannya dengan cepat meraih map yang menjadi fokus utama dari perbincangan mereka, alisnya menyatu dengan kerutan samar yang memenuhi pelipis.
"Bukalah…" Dengan persetujuan yang telah didapat, ia mulai membuka kaitan tali yang tersatu pada penutup map. Perlahan manik elangnya bergerak tak beraturan hanya untuk menangkap makna yang terkandung dari kertas formal yang digenggamnya. Dan ketika ia mulai mampu menangkap pesan, kedua matanya membelalak lebar. Definisi keterkejutannya tak berlebihan, hanya gerak jari yang mulai bergetar.
"Apa maksudmu? Apa maksudmu dengan ini?!" Siwon berteriak, nadanya amat lantang. Sementara si lawan bicara masih bersikap tenang. Hal ini memang pernah ia pikirkan, namun ia tak pernah menyangka perceraian akan benar-benar terjadi.
"Tenang dulu, biarkan aku bicara." Sekali lagi ia menyesap cairan hangat yang tergenggam, bibir merekahnya tak terburu-buru menjelaskan. Menghela nafas sebagai jeda lalu menyilangkan tangan diatas dada.
"Aku tenang atau tidak, penyelesaian masalah yang kau maksud hanya bercerai! Kau benar-benar konyol Kim Kibum!" Bentakkannya mengeras. Siwon dengan wajah memerah mulai bersikap tak sepatutnya.
"Karena hanya itu yang mampu kulakukan! Tidak ada lagi kesempatan! Kita, tidak bisa bersama. Bahkan kau sudah sejak dulu tahu bahwa semua ini memang akan berakhir dengan buruk." Siwon menggeleng, ia memang tahu. Tapi ia punya cara lain untuk memaknai apa arti pernikahan yang sebenarnya. Bukan dengan perceraian, juga bukan dengan perpisahan.
"Yang kau maksud dengan akhir yang buruk adalah pergi bersamanya bukan?" Nada penuh selidik itu kini mendapat gelengan mutlak, bahkan demi perpisahan kali ini Kibum telah melepaskannya.
"Bukan itu yang kuinginkan!" Manik obsidiannya berembun. Kedua jemarinya menggenggam badan cangkir dengan erat.
"Kalau begitu tetaplah bersamaku! Kau bisa melakukannya, kau bisa bersamanya! Kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan tapi jangan tinggalkan aku!" Kibum menggeleng, air mata yang jatuh menjadi jawaban yang cukup signifikan atas pertengkaran mereka kali ini. Tubuhnya mulai berdiri, menyeimbangkan posisi sebelum melangkah pergi menjauh.
"Aku tidak bisa, aku tidak ingin dan tak akan pernah bisa." Punggunya bergetar, ia menjeda ucapan sebelum melanjutkan. "Aku menunggu cap stempelmu, persidangan akan segera dilakukan. Aku sudah menyewa pengacara dan aku ingin secepatnya menghentikan ini." Setelah itu, hanya suara tapakkan yang mendengung ditelinga. Sosok Kibum lenyap ditelan pintu kamar, menyisakan fatamorgana yang tak mampu benar-benar ditangkap sosok Siwon.
Siwon mendesah, jemarinya menggapai cangkir hingga…
Prankkk!
Objek itu terpental kelantai, jatuh berkeping-keping. Deru nafasnya tak stabil, wajahnya telah memerah menahan emosi. Hingga sebuah deringan ponsel, mengusik kesunyian. Jemarinya meraih ponsel yang terletak disaku jas, mengarahkannya kearah telinga hingga interaksi tak langsung dilakukan.
"Yeobsaeyo…" Suara seseorang langsung menyerang telinga, ia mengatur nafas hanya untuk terlihat normal dihadapan sosok itu.
"Mwo?!"
.
.
.
Selang infus yang terpasang ditangan terlihat menjuntai, dengan perban yang melapisi sebagian pergelangan tangan membuat sosok yang terkulai lemas dikasur terlihat begitu lemah. Dentikkan detik yang berputar, terus menjadi kendala untuknya bersikap tenang.
Tubuh Hyuk Jae terduduk disisi ranjang, dengan kedua tangan yang menggenggam erat jemari sang kekasih ia masih mencoba melontarkan doa-doa penyelamat. Matanya terpejam, isak tangisnya melirih ditengah sibuknya dokter dan para suster pribadi untuk mengobati sang kekasih.
Bahkan sosok Siwon yang mematung, tak membuatnya mengalihkan pandangan. Apartement mereka kini dipenuhi oleh beberapa orang.
"Keadaannya memang stabil, detak jantungnya juga kembali normal. Darah yang keluar belum terlalu banyak, tapi apa tidak sebaiknya jika kita bawa Tuan Choi Donghae kerumah sakit?-" Sang dokter menjeda, ucapannya terhalang oleh tatapan tak ramah dari sosok Siwon.
"Dan adikku akan masuk Koran pagi setelah itu, tidak terimakasih." Responnya cepat, menggidikkan bahu tanda tak setuju. Keselamatan karir sang adik menjadi prioritas, ia tak ingin usaha yang susah payah dibangun oleh sang adik runtuh begitu saja.
"Bagaimana jika keadaannya memburuk setelah ini?! Bukankah lebih baik jika kita bawa dia kerumah sakit?!" Lee Hyuk Jae membentak, suaranya meninggi dan gelengan mutlak telah didapatkan atas responnya yang begitu tiba-tiba. Siwon melipatkan tangan didada, bersiap menjelaskan.
"Baik! Kita bawa dia kerumah sakit, lalu setelah itu kau melihat adikku dicaci maki para netizen, itu mungkin baik untukmu, tapi dengan adikku. Kau sudah tahu pasti jawabannya bagaimana." Hyuk Jae terdiam, kalimat tegas yang terlontar cukup membuatnya bungkam. Dalam hati, rasa takut bertemu Donghae kembali membuncah. Entah, ia merasa bersalah atau malah takut. Yang pasti, hatinya melunak.
"Aku tahu ini mungkin akan sedikit merepotkan untukmu, tapi kumohon untuk kali ini bantu adikku Dokter Hong." Desahan terdengar dari mulut sosok berjas putih itu, mengangguk tanda setuju bukanlah hal mudah mengingat kesibukannya sebagai seorang dokter, tapi mengingat jasa yang telah dilakukan keluarga Choi pada kemulusan karirnya. Membalas budi dirasa tak terlalu buruk.
"Baiklah…"
.
.
.
Sungmin menangis, gadisnya menangis. Kertas-kertas yang berhamburan jatuh kearah lantai terus dipandangi, isakkan yang sejak awal tak pernah pudar kini melemah. Ia tak bisa apa-apa, hanya berharap sebuah kebahagiaan kecil, ia mengangguk setuju.
Kedua tangan yang bertopang pada pinggang tak mampu menyurutkan rasa sedihnya, tapi ia tahu ini penyelesaian. Membuang segala rasa egoisme, Sungmin melupakan jiwa itu. Jiwa yang telah pergi bersamaan dengan cintanya yang gugur. Ia tidak tahu, apa ini pilihan yang tepat. Yang ia tahu, ia harus berhenti. Sekarang, atau mungkin ia akan menyesal selamanya.
Bibir wanita anggun didepannya terbuka, hendak berbicara. "Menyerah? Pilihanmu adalah menyerah?" Bisikkan itu terdengar jelas ditelinga. Angin yang mendingin membuat pelukan mereka makin melekat erat.
"Maafkan aku ibu…, hiks…hiks…" Isakannya memotong pembicaraan. Bibirnya terasa kelu, kini hanya tangisan yang bisa dikeluarkan sebagai jawaban. Heechul menggeleng, ini bukan salah Sungmin. Ini kesalahannya karena pernah membiarkan sang anak jatuh dalam pesona laki-laki itu.
"Ini bukan salahmu, kau yakin akan berakhir seperti ini? Kau yakin pilihanmu sudah benar?" Sungmin mengangguk mantap. Ada janji lain dibalik tangisannya. Janji setia dari orang yang telah menunggu, ia terpekur dalam janji itu. Mempercayainya lalu perlahan mencoba mencintai sosok itu.
"Aku yakin…" Sungmin melirih, dalam segenap tenaga ia mencoba bertumpu pada Tuhan. Menguatkan hati dan percaya pada sang agung. Kedipan mata makin melemah, ia lelah menangis dan ia ingin mencoba tersenyum. Bahkan jiwa yang telah pergi, memang menitahkannya untuk tetap tersenyum. Bukan menangis.
Kini giliran Heechul yang menangis, pertahanannya telah runtuh. Sakit yang dibawa, diharap hilang secepatnya. Akhirnya berkas putih melayang, menghapus segala status.
.
.
.
Young Woon mengurut kening, dua keputusan telah berada ditangannya. Bertumpu pada dua hal yang memberatkan, hanya memberikan satu penyelesaian. Rumah tangga kedua anak tersayangnya harus berakhir dimeja pengadilan. Ini bukan hanya masalah hati nurani, nama baik keluarga juga hancur. Ditambah dengan anak bungsunya yang menjadi public figure, memperparah segalanya.
Segela ucapan penenang dari wanita disampingnya tak mampu menyurutkan rasa pening dikepala. Ia masih punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya dengan meminta maaf, namun sayang penyesalan bukan hal yang diminta kedua menantunya saat ini. Jemarinya teralih pada sebuah benda dingin diatas meja, genggamannya pada gagang telpon semakin mengerat. Ditengah hingar-bingar malam kota Seoul, ia berbisik pelan.
"Selesaikan orang itu sekarang juga, bagaimanapun caranya."
.
.
.
Hyuk Jae mengusap air matanya cepat, Siwon telah pergi ketika sosok dihapannya terbangun. Dengan tatapan datar, ia menghadiahkan pengusiran yang cukup menyakitkan untuk sang kakak. Bahkan ia, tak mampu lagi bersikap arogan hanya untuk bertahan ditempat semula.
"Apa kepalamu sakit?" Suaranya yang lembut hanya dibalas gelengan datar, sesekali Hyuk Jae menggigit bibir. Merasa canggung dengan keadaan mereka saat ini.
"Kau lapar?" Sekali lagi gelengan telak, Hyukmenghela nafas. Posisi duduk diperbaiki, tubuhnya makin mengikis jarak antara dirinya dan Donghae.
"Bicaralah sesuatu. Mau kukupaskan apel?" Donghae lagi-lagi menggeleng, sekedar menjawab pertanyaan sosok didepan sana ia tak ingin. Punggungnya menempel pada kepala ranjang, fokusnya tetap pada sosok manis itu.
"Atau mau kubuatkan bubur?" Nada Hyuk Jae semakin melirih, bibirnya bergetar hebat hanya untuk sekedar menyelesaikan kalimat singkat itu. Donghae terdiam, kali ini tak ada respon. Hyuk Jae menundukkan kepala, diabaikan adalah hal yang paling tidak disukai. Perlahan ia berdiri, mendekatkan tubuh lalu merengkuh Donghae masuk kedalam pelukannya.
Donghae tersentak, ia terlalu terkejut dengan perlakuan lembut yang dihadiahkan. Hyuk Jae-nya menangis, sesekali menghusap punggung Donghae. Dengan suara getir, ia mulai membuka pembicaraan baru.
"Jangan lakukan itu lagi, kumohon jangan lakukan itu lagi." Donghae terdiam, ia belum siap menjawab. Pandangannya lurus kedepan, kedua matanya tak beristirahat, hanya untuk sekedar mengerjap ia tak mampu melakukanya.
"Kalau begitu jangan pernah tinggalkan aku, sekalipun mereka memaksanya." Hyuk Jae terpejam, permintaan ini sangatlah berat untuknya. Ia memilih bergumam 'iya', kali ini ia akan mencoba untuk melakukannya.
Hyuk Jae mengangguk, bibirnya tak lagi bersuara. Pelukannya pada sosok brunette makin mengerat, jarak sejengkalpun akan mereka kikis demi kehangatan yang diinginkan.
"Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu, kau tahu itu." Hyuk Jae mengangguk, kalimat itu ribuan kali telah terdengar. Ia tahu, tapi ia tak benar-benar yakin akan perasaannya kali ini.
Apakah ia mencintai Donghae? Apakah ia siap untuk kembali mengulang perasaannya?
"Aku akan mencoba untuk kembali mencintaimu seperti dulu lagi." Donghae tersenyum, ia cukup puas dengan jawaban sang kekasih. Perasaan yang telah hilang bisa kembali, dan ia yakin Hyuk Jae memang pernah mencintainya. Dalam konteks yang berbeda, itu berarti Hyuk Jae tidak benar-benar menganggap cinta yang pernah ada itu menjijikkan. Seperti apa yang pernah diucapkannya.
Bibir mereka bertaut lembut, wajah mereka kini tak lagi mengeluarkan ekspressi seperti tadi. Kecupan mereka semakin menghangat, takdir yang mengikat tak lagi seerat dulu. Namun, keesokan hari kenyataan pahit telah menunggu.
.
.
.
"Choi Donghae! Yak! Sialan buka pintunya!"
Donghae tersentak, ia baru saja memejamkan mata dan teriakkan dari depan apartement membuat nafasnya memburu. Begitu juga dengan sosok disampingnya, kesadarannya kembali penuh dengan deru nafas yang tersengal Hyuk Jae membuka mata.
"Siapa?" Tubuhnya perlahan didudukkan, Donghae terdiam sebentar hanya untuk memproses pemilik suara yang begitu familiar. Beberapa saat kemudian ia mengikuti gerakkan tubuh Hyuk Jae, perlahan duduk dengan posisi punggung yang menyandar dikepala ranjang.
"Sepertinya managerku, kau buka pintunya." Hyuk Jae membelalakkan mata, siluet tambun dengan perwatakkan menjengkelkan berada didepan rumah. Meneriakkan nama Donghae dengan suara yang tak bisa terbilang rendah, Hyuk Jae terdiam sejenak. Ia mengangguk singkat lalu berjalan pelan kearah pintu keluar.
Sentuhannya pada knop diperlambat, sesekali mendecih singkat dengan ketukkan tak sabar dari atasan sang kekasih. Ketika ia baru saja telah memberikan akses masuk, tubuhnya terpental kelantai saat tubrukkan kasar dihadiahkan dari Manager Donghae.
"Ugh!" Hyuk Jae mengaduh, bokongnya tepat menyentuh lantai sedangkan manager juga asistent Donghae berjalan kearah kamar tanpa ada sedikitpun rasa bersalah. Berkutat pada rasa sakit sebentar, ia mendirikan tubuh. Mengikuti kedua orang itu kearah kamar, memberikan tatapan yang sama-sama tak bersahabat.
"Kondisiku sedang tidak baik, jadi tenanglah." Suara Donghae terdengar lemah, sang manager menggeram kasar seolah kejadian yang tengah tersebar dimasyarakat umum tidak menjadi ketakutan utama seorang Choi Donghae. Perlahan si manager meriah sebuah remot TV, menghidupkannya lalu mencari dimana sebuah kehancuran baru akan menjadi awal datangnya mala petaka.
"Lihat itu brengsek!" Donghae dan Hyuk Jae membelalakkan mata, siluet mereka yang tengah bercumbu terpampang jelas, ditambah dengan sebuah pemberitaan yang menggunakan nama mereka sebagai latar belakang.
"Ponselku!"
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind to Review?
.
.
.
Author Note:
Ini updatenya cepet kan? ._. /ditonjok/ kkk~ maaf untuk update yg tidak sesuai perjanjian. Kkk~ Maaf juga untuk typo, diksi yang tidak tepat/sulit dimengerti, dan cerita yang membosankan. #bow Kami benar-benar minta maaf.
Juga…Terimakasih pada seluruh pembaca yang telah memfave+follow+review cerita ini ^^ Kami ucapkan sebanyak-banyaknya. Dan sekali lagi…jika tidak ada kendala…kami akan mengupdate chapt selanjutnya secepatnya ^^ Jangan kapok meriview ne?
Thanks To Review: Mizuky yank Eny| Lee Haerieun| lee ikan| sweetyhaehyuk|Guest|dekdes|Melodyna| niknukss|secret|F-polarise|ririelvin|Cho Leelee| Lee Hyuk Nara| Anonymouss| Amandhharu0522| Tina KwonLee| hideyatsutinielf| PutriHaeHyuk15|
Maaf kalo ada yg belum disebutkan atau ada kesalahan kata. Sekali lagi Terimakasih banyak.. #bow
