Disclaimer: Untuk selamalamalamalamanya Vocaloid tidak akan pernah menjadi milik Rina meski dia sujud2 berdo'a
Rui: Hehe, kalian nyadar ya kalo Disclaimer na itu pake sudut pandang oran ketiga? Kalo iya, kalian teliti juga~ Dan entah bagaimana ini, Mel dan Koharu berhalangan lagi nih… hiks T~T
Rui: Ahem, dan karena itulah, Rui mempersilahkan minna sama untuk membaca update yang ini. Dan jangan lupa ya minna sama untuk memberikan voting buat Rina di perlombaan ini~ Bentar lagi (kira2, 3 chapter lagi, entah kalo dia bikin epilog) cerita ini akan berakhir…
Len POV
Tidak lama setelah aku kembali ke kantor, setelah bertemu dengan Rin, aku mendapati Meiko sudah berjalan bolak-balik seperti orang yang kebingungan. Aku tidak terlalu heran, karena aku sudah tahu apa yang akan dia katakan.
"Len, kemana saja kau selama saat genting seperti ini?" ujar Meiko dengan setengah berteriak. Dia melemparkan kedua tangannya ke udara sebagai penekanan perkataannya.
Aku tidak melihat ke arahnya dan melihat ke dalam kantorku yang mirip seperti kapal pecah. Kebiasaan buruk Meiko sepertinya sedang kambuh tadi. Aku kemudian bertanya, "Memang apa yang terjadi?" tanyaku dengan pura-pura bodoh.
"Ada peristiwa menggemparkan!" ujarnya dengan nada yang terdengar bersemangat, anehnya.
"Prim dan Alice terbunuh?" ujarku mendahului perkataannya.
Meiko berhenti selama beberapa detik dengan mulut terbuka, karena sebelum dia mengatakan apa yang ingin dia katakan, dia sudah kusela. Dia kemudian menurunkan kedua tangannya yang tadi masih ada di udara dan bertanya, "Lho, kau tahu?" tanya Meiko dengan wajah polos.
Aku hanya memasang wajah datar, aku tidak berniat untuk memberitahunya tentang Neil dan malam ini. Akulah yang akan menghentikan Rin, aku tidak perlu membutuhkan bantuan orang lain.
"Jadi, bagaimana dengan Neil?" tanyaku dengan sedikit acuh tak acuh. Aku hanya berusaha mempertahankan sikapku yang biasa saja, meski aku tahu siapa yang akan jadi korban terakhir dan juga kapan.
Meiko terdiam dengan melihatku heran beberapa saat. Dia kemudian berkata, "Dia meminta untuk dilindungi… dasar…" ujar Meiko dengan memajukan bibirnya beberapa senti.
Aku hanya menjawabnya dengan 'ooh' singkat, lalu memasuki ruanganku. Aku tidak begitu mempedulikan Meiko yang mengoceh ria di sampingku, sementara aku mengambil pistol yang selalu kusimpan sebagai jaga-jaga jika aku harus menggunakannya suatu hari.
"Len, ada apa denganmu hari ini?" saat aku menyadari bahwa Meiko masih berbicara denganku, aku mendengar suaranya yang terdengar menginterogasi kepadaku.
Aku bersikap dengan biasa, dan menyelipkan pistol itu di sakuku. Aku kemudian menjawab, "Biasa saja," ujarku dengan nada datar.
Meiko berkacak pinggang sebelum berkata, "Kau bohong kan?" ujarnya dengan nada marah.
Aku tidak mempedulikan perkataannya dan berkata, "Tidak," ujarku dengan acuh tak acuh.
Aku berjalan melewatinya dan tidak mempedulikan omelannya di belakangku. Aku melihat ke arah jam dan jam menunjukkan waktu jam 5 sore. Aku masih punya cukup waktu untuk merencanakan apapun itu yang harus kulakukan demi menangkap Rin.
Akan kuhentikan semua ini… apapun yang terjadi.
"Meiko, kalau aku tidak kembali ke apartemenku hingga pukul 12 malam, cari aku…" ujarku dengan singkat, tidak berniat untuk memberikan detail tentang apa yang akan kulakukan pada Meiko.
Meiko mengirimkan tatapan pisau yang membuat punggungku merinding, tapi Meiko tidak bisa kubiarkan terlibat dalam hal ini. Aku akan memastikan sendiri apa yang sedang kurasakan tanpa bantuan orang lain.
Meiko POV
Yes! Aku akhirnya dapet POV! Eh… bukan ini masalahnya sekarang!
Len… dia benar-benar selalu memaksakan dirinya sendiri. Dia sedang terganggu sesuatu, dan karena itulah dia membawa pistol yang biasanya dia simpan. Dia pasti berniat untuk menangkap seseorang sendirian tanpa bantuanku.
Hmm, tapi apa jangan-jangan dia hendak menemui gadis hantu yang dia sebutkan beberapa hari yang lalu? Semenjak dia bertemu dengan gadis hantu itu, dan juga setelah dia menghilang pada saat aku menyelidiki di kantor pemadam kebakaran.
Wajahnya tampak dihantui sesuatu yang sangat penting dan juga berat. Dia harus melawannya sendiri, atau itulah yang dia kira. Dia memang seperti itu… aku sempat lupa kalau dia masih berumur 21 tahun dengan sikapnya yang seperti itu.
Aku hanya menghela nafas dalam-dalam. Aku tidak bisa mencampuri urusannya jika dia sudah berkata seperti itu. Tapi, aku punya perasaan bahwa dia akan menjaga Neil dengan tangannya sendiri. Aku tahu, Len mengetahui apa yang terjadi di balik semua ini dibandingkan denganku…
Aku duduk di sofa yang kuhancurkan karena saat aku mencari Len, untuk melaporkan kematian kedua sahabat yang tersisa, yaitu Prim dan Alice, sehingga yang tersisa hanyalah Neil.
Aku juga mencurigai Len sedikit… dengan reaksinya mendengar perkataan Neil tadi. Vampire, atau Rin Kagamine adalah pelaku dari semua ini, tapi Len terdengar seperti menyangkalnya mati-matian. Dia terdengar seperti tidak mau mengakui bahwa Vampire atau Rin ini, adalah pelaku semua ini.
Dia tampak seperti sedang jatuh cinta… tapi bagaimana?
Len tidak pernah bertemu dengan Vampire atau Rin secara langsung. Mereka juga tidak pernah berbicara sepatah katapun meski aku tidak terlalu tahu. Dan lagi, Len sudah mencurigai Vampire sebagai pelakunya, bahkan jauh sebelum kasus ini terkuak.
'Kalau Len mendengarku berkata kehidupan cintanya seperti ini, dia pasti tidak akan membiarkanku pergi hidup-hidup,' pikirku sambil melihat ke arah langit-langit.
Aku menutup mataku, sesuatu yang biasanya dilakukan oleh Len jika dia sedang bingung. Aku berusaha mereka ulang semua yang terjadi selama kurang dari 2 minggu ini. 3 orang mati, beberapa hari yang lalu, 3 orang bertambah lagi, dan pada hari ini, 2 orang telah jatuh. Semuanya mendengarkan lagu Vampire sebelum kematian mereka (termasuk yang hari ini, aku sudah dapat datanya). Sebagian orang mengatakan bahwa ini disebabkan karena perasaan depresi luar biasa yang dibangkitkan oleh lagu itu, sehingga pendengar dari lagu berjudul 'Mortem no Tsumibito' yang dinyanyikan oleh Vampire itu memiliki dampak untuk membuat orang kehilangan niat untuk hidup.
Tapi, jika kupikir-pikir lagi, lagu yang kudengar dengan apa yang kurasakan jauh berbeda. Ketika aku mendengarkan lagu Mortem no Tsumibito itu, aku tidak merasakan apa-apa. Apakah ada versi lain yang membuat efeknya jauh lebih kuat?
Aku membuka mataku dan teringat akan sesuatu. Saat kami menyelidiki rumah Clarith, Len membawa sesuatu berwarna hitam di sakunya. Lalu, dia juga memasukkanya ke dalam laci…
"Apa jangan-jangan… Len sudah menguak benda itu?" ujarku dengan terkejut. Aku kemudian segera berlari menuju lacinya, dan membuang semua benda yang ada disana, hingga aku menemukan apa yang kuinginkan. Sebuah CD berwarna hitam yang dihiasi dengan lambang kelelawar. Di bagian CD yang bisa ditulisi, terdapat tulisan Vampire, Mortem no Tsumibito.
'Aneh… Vampire tidak pernah mengeluarkan CD sebelumnya…' pikirku sambil memperhatikan CD itu dari atas dan bawah.
Secara insting aku mengambil sebuah pemutar CD dan memasukkan CD itu ke dalamnya, berniat untuk mendengarkannya.
Selama beberapa saat tidak ada suara ataupn bunyi yang keluar dari pemutar CD, hingga aku mengira bahwa itu rusak. Tapi, setelah aku menunggu sedikit lebih lama, terdapat suara-suara aneh yang terdengar seperti adegan pembunuhan sadis yang biasanya ada di serial pembunuhan.
Lalu, aku mendengar suara seorang gadis yang terdengar sangat halus dan sangat sempurna. Musik dan lagu pun dimulai, dan semua itu berjalan tanpa ada masalah hingga akhir, tapi lagu ini terulang kembali, dengan nada yang lebih menakutkan dan juga membuatku berkeringat dingin.
Aku menelan ludah dan mendengarkan lagu ini lebih lanjut. Nada suara yang terus meninggi dan perkataan yang makin tidak jelas membuatku merasa kurang nyaman, tapi aku masih bisa menahannya. Aku berusaha untuk memecahkan kode yang ada disana. Suara-suara aneh yang terus bermunculan membuatku berpikir tentang hal-hal buruk, tapi aku bisa meredamnya.
Dan ketika aku sadar, aku mendengar suara lembut dari awal lagu berputar lagi. Dan mataku spontan terbelalak, aku tidak percaya akan apa yang kudengar. Aku mematikan rekaman itu dan menghancurkannya hingga berkeping-keping. Rahasia ini tidak boleh kubocorkan pada siapapun.
Aku segera berbalik dan berniat untuk mengejar Len. Dia tidak bisa melakukan ini sendirian… kota ini terlalu besar baginya untuk menemukan dua orang di antaranya. Neil dan juga Rin… apapun yang akan terjadi pada malam ini, satu diantara mereka, atau mungkin keduanya tidak akan ada lagi di dunia ini untuk melihat matahari besok.
"Jadi, kau berniat untuk mengakhiri hidupmu… hanya demi hal kecil seperti ini!" decakku sambil berlari meninggalkan kantor.
"Ini adalah bayaran yang kuminta darimu…" ujar seorang gadis yang memakai tudung jaket miliknya, yang menyembunyikan hampir semua sisi dari wajahnya.
Wanita yang ada di hadapannya hanya melihat ke arah gadis itu. Di hadapannya telah terdapat sebilah pisau dan juga sekeping CD berwarna hitam.
"Aku… harus bunuh diri… itulah syaratmu untuk memaafkanmu kan?" ujar wanita itu dengan nada lirih.
Gadis bertudung itu hanya mengangguk, dia kemudian menjawab, "Setelah kau mati di depan mataku, aku akan mengakhiri tali dendam ini dengan tanganku sendiri…" ujar gadis itu dengan nada dingin.
Wanita itu hanya menghela nafas panjang. Dia meraih CD hitam itu dan memasukkannya ke dalam CD Player, seperti itu saja. Dia kemudian mengambil sebilah pisau yang ada di hadapannya itu dan mengarahkannya ke dadanya.
Wanita itu menutup matanya, dan membiarkan suara dosanya mengelilinginya, saat pisau yang ada di tangannya menembus dadanya, membiarkan darah berwarna merah, mengalir dari luka tusukannya. Dia terbatuk-batuk dan yang keluar dari mulutnya adalah darah yang sama warnanya seperti yang sedang mengalir di dadanya.
"Go-…men-…na…sa…i…" ujarnya sebelum jatuh ke belakang dan mengakibatkan tubuhnya bersandar pada sofa yang dipakainya duduk.
Gadis itu hanya mengeluarkan seringai licik, sebelum berdiri dan meninggalkan ruangan tanpa bersuara. Suara dari lagu yang membawakan kematian korban-korbannya melantun dengan pelan dan mengisi ruangan kecil itu dengan melodinya yang terdengar mistis.
Digunakannya sarung tangan yang dia bawa, dan digunakannya untuk membuka pintu dari ruangan yang telah dia gunakan semenjak tadi untuk menyelesaikan tugasnya.
Gadis itu berjalan tanpa arah, hingga dia mencapai sebuah tempat, dimana dia bisa melihat seluruh kota yang pernah dia tinggali dahulu. Matahari yang terbenam di antaranya tampak indah dan juga menyedihkan. Warna oranye dan warna keunguan mulai merambat di langit yang berarakkan awan-awan putih.
Perlahan-lahan namun pasti, cahaya lampu mulai menghiasi setiap sisi dari kota miliknya itu. Pemandangan indah dan menyayat yang akan mengantarnya pergi.
Dia menarik nafas dalam-dalam, merasakan keinginan untuk bernyanyi. Air mata mulai mengalir melalui matanya dan turun menuju ke pipinya. Apa sudah… apa sudah tidak mungkin lagi baginya untuk tetap tinggal? Apakah ini benar-benar akhirnya?
"Len…"
~To Be Continued~
Rui: Oke, BakAuthor Rina itu seseorang yang agak gak waras. Aku tahu itu. Memang dia itu apa, kok bisa tripple update sehari?! Hei, daripada ini terus yang diurus, kerjakan fanfic2 na dia yang terlantar kan!
Rui: Dan lagi, kenapa cerita na malah jadi begini! Aaaah, Rui gak mau ikut campur! Tapi, Rui sebagai ganti na Rina meminta kepada para Readers sekalian untuk memberikan review kalian untuk chapter ini~ setiap Review yang dibagikan, adalah tenaga bagi BakAuthor Rina untuk terus maju! Sore ja, jaa nee~
P.S. : Ada yg mo request, Epilog na harus kuapain?
