Selesaiiiii… Wiiiii…
Gomen, minggu kemarin nggak bisa update, tapi sebagai gantinya Frau buat oneshot ItaKyuu~ Kalau senggang baca juga ya, judulnya Drug Fever : Love Egoist, nyahahahaha… Fict lemon pertama ItaKyuu…#plak
Chepi ini special banget untuk UzuChiha Rin… Semoga Rin-rin suka, ini untuk hadiah perpisahan dari Frau, gomen isinya full action… (T^T) Walau nanti udah kepisah jarak yang jauhhhhh… banget, jangan sampai komunikasi putus ya, jangan lupa bawa sambel terasi biar inget Indonesia…#plak! Pokoknya hati-hati and jaga diri di sana, oke?
Dan Happy Naru's Birtdays~ Untung aja bisa selesai and publis tepat tanggal 10 Oktober, sempat nyerah a.k.a malas, tapi setelah curcol dengan salah seorang senior di dunia per-fanfiction Frau malah semangat nyelesaikan fict ini, makasih banget~
Dari pada Frau banyak omong silahkan minna-san~
.
.
.
My Beloved Boy
Author : Frau – chan si pecinta kucing
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : M
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, ShukakuNagato, NejiGaa, dll.
Warning : Shonen Ai, Yaoi, Lemon, Lime, Abal, AU, OOC, Typo, dll
.
.
.
Love 11 : Never Say Die!
Monster. Kata itu pantas di sandang oleh dua orang pria yang saat ini ada di hadapan Nagato dan Shukaku. Kisame si pengguna pedang dan Zetsu yang ahli bela diri dengan tangan kosong. Shukaku tampak membantu Nagato bangkit dari lantai setelah pukulan telak di perutnya, Zetsu maju dan menyerang keduanya. Kisame, lelaki hiu itu hanya melihat dari kejauhan, tak tertarik untuk turun tangan.
Alhasil, baik tubuh Nagato maupun Shukaku penuh luka, efek dari hajaran dari si rambut hijau. "Tidak menarik, dengan kemampuan seperti ini kalian menerobos kemari. Bodoh sekali, GYAHAHAHAHA!" Ejek Kisame tergelak.
Nagato menatap tajam si rambut merah, berniat membunuhnya. Benar-benar membunuhnya. Melepaskan pegangan dari Shukaku, pemuda itu berdiri dengan sedikit kepayahan, memegangi perutnya yang pasti akan membiru, di siapkannya kali ini sebuah condor knife, menggunakan dua condor knife. Melihat hal itu Kisame menyeringai lebar, ikut maju dalam pertarungan.
"Condor knife, heh? Kau mau main-main? Akan ku layani~" Tantangnya sambil meluruskan pedangnya.
Shukaku mencengkeram lengan Nagato, membuat pemuda itu terdiam dan menatap sang top model. "Tidak akan apa-apa, aku pasti akan menang, jadi tolong urus manusia berambut hijau itu," tunjuknya pada Zetsu.
Shukaku menghela napas dan melepaskan cengkeramannya, saat ini apapun yang dikatakannya pasti tidak akan di dengar oleh sepupu jauhnya itu. Dia merebut salah satu condor knife yang ada di tangan Nagato, dan memotong rambut panjangnya yang indah, icon-nya selama ini menjadi seorang model. Nagato terbelalak melihatnya, helaian rambut merah itu terpotong, menyisakan sebuah rambut pendek.
"Kau! Apa kau gila!" Kesalnya.
Shukaku hanya tersenyum dan mengembalikan condor knife itu pada pemiliknya. "Ini akan jadi pertarungan yang tidak mudah, rambut panjang hanya akan mengganggu. Lagi pula masih bisa di panjangkan kok…" Jelasnya seolah bukan hal besar, dia menyisir rambutnya yang pendek ke belakang dengan jari-jari tangannya. "Kita hanya perlu berkonsentrasi menyelesaikan hal yang saat ini ada di depan kita."
Nagato kembali fokus, menyiapkan kuda-kuda dan maju ke arah si pengguna pedang besar, Kisame. Dentingan besi tajam terdengar nyaring, Kisame menghentikan serangan Nagato dengan mudah. "GYAHAHAHA! Taruhan, kau bahkan tidak akan bisa melukaiku!"
Nagato masih berusaha menerobos pertahanan Kisame dan menyeringai lebar, "Kita lihat saja nanti," ucapnya lalu tiba-tiba menghilang di depan Kisame. Membuat lelaki itu bingung, menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kisame-san, atas!" Peringat Zetsu. Tapi, terlambat. Nagato bergerak cepat meloncat di udara dan mengarahkan lututnya tepat ke wajah Kisame, berhasil meremukkan hidung sang predator yang terjungkal ke belakang. Nagato mendarat dengan anggun, menyeringai kemenangan.
"SHITTT! Hidungku!" Protesnya sambil menghapus darah dari hidungnya.
'BANG! BANG! BANG!'
Tiga kali tembakan di arahkan Shukaku tapi berhasil di hindari oleh Zetsu. "Lawanmu aku bocah~"
Pemuda yang hampir tak pernah menunjukkan ekspresinya itu merengut kesal. "Yang boleh memanggilku bocah hanya Kisame-san," bergerak sangat cepat ke arah Shukaku dan mengarahkan tendangannya tepat ke wajah sang model, dengan reflex yang juga sama cepatnya Shukaku menahan hantaman ke wajahnya dengan lengannya. Membuat pemuda bertopeng itu mundur ke belakang.
"Mengincar wajah seorang model itu tindakan kejahatan, bocah. Akan kuperlihatkan bagaimana hebatnya top model Shukaku ini," di arahkan kembali dua hand gun itu ke arah Zetsu, menembaknya membabi buta, sampai peluru di dalamnya habis.
Zetsu berhasil menghindari semua serangan itu dengan melakukan gerakan menghindar yang gesit. Shukaku menatap hand gun yang sudah tak terisi peluru sama sekali, membuangnya ke tanah begitu saja. "Sepertinya pelurumu sudah habis, kau tidak bisa apa-apa tanpa senjata, ya?"
"KHUKHUKHU! Bocah yang tidak tahu apa-apa, orang itu ahli dalam serangan tangan kosong," jawab Nagato yang kembali memasang kuda-kuda, bersiap akan serangan dari Kisame.
Shukaku tersenyum lembut dan bersiap pada kuda-kuda yang tidak pernah di lihat oleh Zetsu, "Aliran bela diri Uzumaki, aku belum pernah seserius ini memakai bela diri dari keluarga itu. Nah, ayo maju~"
Pemuda berambut hijau itu kembali menyerang Shukaku, mengarahkan kepalan tangannya yang dia ayunkan dengan kuat, berusaha mengarahkan hantamannya pada perut sang model. Shukaku menghindar dengan gerakan anggun, berpindah dengan cepat, mencengkeram lengan Zetsu dan membanting pemuda itu di tanah bersalju. Sepatu berhak rendah yang dipakai Shukaku di buatnya untuk menahan gerakan Zetsu yang di kucinya di tanah, menginjak dada sang pemuda.
"Anggota Akatsuki apanya… Kau bahkan semudah ini dapat kukalahkan," sang model menghela napas kecewa.
Zetsu tersenyum licik, memegang kaki Shukaku dan mengangkat kaki yang menahannya itu dengan kekuatan penuh membalik kedudukan, sekarang sang model lah yang terjerembab ke tanah.
"Baka! Jangan lengah! Dasar rambut merah bodoh!" Maki Nagato kesal melihatnya, sambil menahan serangan dari Kisame.
Shukaku yang meringis di tanah akibat gerakan tiba-tiba Zetsu hanya mengaduh, "Jangan mengatakan aku bodoh! Bukannya rambutmu juga merah!" Protesnya.
Zetsu berdiri di atas dada Shukaku, berjongkok lalu mengeluarkan sebuah knife kecil dari saku jasnya, mengarahkannya di pipi sang model. "Diam, kalian berisik!"
"Khh… Kalau kau berani melukai wajahku, akan kubunuh kau…" Ancam sang model geram, napasnya sesak akibat zetsu berjongkok di dadanya.
Zetsu menyeringai dan menghujamkan knife itu di telapak tangan sang model. "Berarti yang lain boleh?"
"GYAAAHHH!" Shukaku menjerit kesakitan saat knife itu menembus telapak tangannya, menancapkannya di tanah bersalju. Zetsu mencabut knife yang tertancap itu, menjilati darah milik Shukaku dengan mata yang penuh dengan ketertarikan, menikmatinya seperti sebuah panggung hiburan.
Nagato terdiam, kedua bola matanya membesar melihat hal itu. Menggeretakkan giginya dia beralih dari Kisame dan mencoba menyerang Zetsu, tapi hal itu menjadi kesempatan sang lelaki hiu, dengan seringai kemenangan dia mengarahkan pedangnya ke punggung Nagato, menciptakan sebuah luka memanjang. Seketika Nagato ambruk bersimbah darah, luka memanjang dari bahu kanan ke pinggang kiri. Staminanya melemah, dia hanya bisa tertelungkup di tanah, kesadarannya mulai menghilang.
"Shu… S…hu… Shu…" Nagato mencoba memanggil sang model yang saat ini menatapnya dengan wajah terkejut, ucapannya mulai putus-putus memanggil nama Shukaku.
Marah. Shukaku benar-benar marah. Dia tak peduli dengan luka di tangannya, mengambil condor knife milik Nagato dan menyerang Zetsu dengan membabi buta, menusuk sang lelaki berambut hijau itu berkali-kali, dia sudah tak peduli dengan darah yang menyembur di tubuhnya.
Merah. Seperti kelopak mawar.
Merah. Seperti surai miliknya.
Merah. Seperti langit senja.
Zetsu yang saat itu tak siap dengan serangan dari Shukaku hanya terkujur lemah, wajahnya pucat, darah tak henti keluar dari perut dan mulutnya. Shukaku menghentikan serangannya, menatap Nagato yang tertelungkup lemah. Menghampiri pemuda itu dengan tatapan kosong, mengelus surai merah yang sama seperti miliknya.
"Na-chan… Hei, bangun. Na-chan…" Panggilnya lembut, nama panggilan Nagato saat mereka masih kecil, saat mereka masih akrab."Kumohon bangun… Aku belum tahu kenapa kau menghindariku, jelaskan padaku kenapa kau menatapku dengan penuh benci… Kumohon bangun… Na-chan…" Ucapnya sambil menggenggam tangan Nagato yang mulai mendingin.
Nagato terbatuk, mengeluarkan gumpalan darah di tanah bersalju. "B…rengsek… Jangan …pa..nggil…a…ku, dengan… na…ma…bo…doh…" Ucapnya terbata. "Akan…ku…beritahu…ka…lau, kau bisa…menghabisi manusia…hiu…itu."
Shukaku mengecup jari Nagato yang mulai memucat, "As you wish…"
Kisame menyeringai saat sang model menatapnya dengan aura ingin membunuh, "Ah… Zetsu partner yang bagus, tapi sayang kau kurang berpengalaman. Akan kukunjungi makammu setiap hari, setelah membunuh cecunguk ini!"
Kisame maju menghunuskan Samehada, pedang miliknya ke arah jantung Shukaku, sekuat tenaga sang model menghunuskan condor knife milik Nagato ke pedang panjang itu, berhasil membuat sebuah retakan di mata pedang. Suara besi yang saling beradu mengalun di tempat itu. Suara yang membuat kegilaan semakin memuncak.
Pada akhirnya pedang Kisame patah, sang pemilik melotot tak percaya. "Condor knife milik Nagato ini buatan khusus, kalau di samakan dengan milikmu, sangat jauh. MATI KAU!" Teriaknya nyaring, dua condor knife tepat mengarah ke titik vital sang lelaki hiu. Sabetan pada leher dan hujaman tepat di perut mengakhiri kegilaan ini. Shukaku benar-benar mandi darah, wajahnya terselimuti darah.
Shukaku mengabaikan tubuh Kisame yang terbujur kaku di tanah, tak memperdulikannya. Kembali melangkah ke tubuh Nagato yang semakin melemah, melepaskan jaket hitam miliknya dan menyelimuti sang pemuda, dengan hati-hati dia menaruh kepala Nagato di pangkuannya.
"Sudah selesai," ucapnya.
Nagato membuka matanya dengan susah payah dan tersenyum senang, "Kalau…ti…dak…luka, mungkin…a…ku, akan…hi…lang… kendali. Ce…pat, menyusul…yang…lain…"
Shukaku menggeleng, "Aku akan di sini, bersamamu. Mereka pasti bisa mengatasi hal itu." Sang model mengelus lembut rambut Nagato, mengelusnya dengan penuh kasih.
Nagato merasa jadi orang bodoh saat ini, tubuhnya mati rasa saat kesempatan berada sedekat ini dengan orang yang di sukainya akhirnya terjadi. Kebodohannya di masa lalu membuatnya tersenyum lebar. "Gomen… Aku yang salah… Suki… Su…ki…dayo…"
Nagato membelalak, "Kau bohong kan? Coba ucapkan sekali lagi… Hei, Na-chan, buka matamu! Na-chan!" Panggil Shukaku berkali-kali, tapi Nagato sama sekali tidak merespon. Matanya tertutup dan nafasnya mulai pendek, terengah-engah. "Kau belum menjelaskan padaku, Na-chan! Na-chan!"
Shukaku benar-benar panik, dia tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Nagato. Banyak hal yang ingin dia tanyakan, banyak hal yang ingin dia ucapkan pada pemuda itu, masih banyak hal yang ingin dia lakukan bersama pemuda itu. Tetes demi tetes air mata membanjiri wajahnya, menangis pilu, tak ingin kehilangan.
"Wah-wah~ Air mata itu harusnya di tunjukkan saat kau bermain drama~" Ucap seseorang membuat Shukaku terdiam.
.
.
.
Di tempat lain, Gaara dan Sasuke masih bersembunyi di salah satu pilar. Menghindari tindakan gila Hidan yang merenteti mereka dengan peluru. "Sial, pelurunya habis!" Ucap Hidan, kembali mengambil peluru dari saku jasnya.
"Hahhh… Jangan menembaki sembarangan, nanti gaji kita di potong," protes si lelaki bercadar.
Hidan merengut sambil memasukkan peluru baru dalam senjatanya, "Memang aku peduli? Heh, para sampah sampai kapan kalian mau sembunyi!"
Tak ada jawaban dari balik pilar yang sudah hampir hancur gara-gara rentetan peluru yang di keluarkan Hidan. "Sial, mereka tipe petarung jarak jauh, kalau aku bisa mengambil jarak yang pas, maka dapat kutebas senjata mereka," jelas Sasuke yang berlindung di balik pilar, bersebelahan dengan Gaara yang memegang hand gun miliknya di dada.
"Akan kubuka jalannya untukmu, aku akan mengalihkan perhatian mereka, saat itu kau maju," Sasuke mengangguk, kali ini, hanya kali ini saja dia akan bekerjasama, demi Naruto-nya.
Gaara keluar dari balik pilar mengarahkan Hecler & KochUSP miliknya ke arah kedua lelaki itu. Hidan menyeringai senang, "Akhirnya kau keluar, tikus got!"
"Go to Hell," ucap Gaara dingin mulai menembaki ke arah kedua lelaki itu yang dengan sigap berlindung pada pilar lainnya. Tampak Hidan dan Kakuzu sambil bersembunyi juga mengarahkan senjata mereka ke arah Gaara, bersiap menghabisi pemuda itu. Tapi, sekelebat cahaya hitam bergerak cepat sebelum keduanya sempat menembaki Gaara, mereka terperangah karena moncong senjata mereka terbelah dua.
"WHAT!" Pekik Hidan kaget, senjata kesayangannya dan milik partnernya terbelah dua.
Gaara mendengus melihat hasil dari sang bungsu Uchiha yang tidak bisa di remehkan, Sasuke menyeringai lebar dan kembali memasukkan pedang miliknya dalam tempatnya. "Kali ini permainan akan jadi menarik, tak kusangka mereka selemah ini," sinisnya pada kedua anggota Akatsuki.
Alis Hidan berkedut, di buangnya senjata miliknya dan mengeluarkan sebuan hand gun berwarna silver dari balik jasnya begitu pula Kakuzu. "Mereka meremehkan kita, Kakuzu… Bagaimana kalu kita perlihatkan kemampuan kita sebenarnya pada tikus-tikus got ini!" Hidan maju, berlari dengan cepat mengarah pada Sasuke, tapi dia melewati pemuda itu begitu saja, targetnya adalah si pemuda berambut merah, dia arahkan senjatanya dan…
'BANG!'
Satu peluru menembus lengan kanan Gaara, dia terkecoh dan lengah. Ambruk ke lantai dengan tak berdaya. Hidan menginjak dada Gaara yang terbaring di lantai menyeringai menjijikkan. "Sekali tikus got, tetaplah tikus got! MATI! MATI! MATI!" Ucapnya sambil menginjak luka bekas tembakan di bahu Gaara dengan sadis, si rambut merah hanya bisa mengerang.
Sasuke yang melihat hal itu bergerak maju namun di hadang Kakuzu, "Kalahkan aku dulu…"
Si raven mendecih dan bergerak gesit ke arah Kakuzu mencoba menyabetkan senjatanya, tapi Kakuzu berhasil menghindar dengan menundukkan tubuhnya, hanya sehelai rambutnya yang terkena tebasan pedang tajam si raven. Kakuzu mundur kebelakang dan menatap si raven dengan tajam. "Cih, hanya segini kemampuanmu, anak muda?"
Kesal. Darah dalam tubuh si raven mendidih mendengarnya dan menyerang Kakuzu membabi buta, semua serangan itu dapat di patahkan oleh Kakuzu. Sebuah tinju berhasil membuat Sasuke tepelanting kebelakang, sebuah tinju yang tepat mengarah ke luka Sasuke yang belum sembuh.
"Benar kata Sasori-san, bekas luka tembak itu belum sembuh, tanda cinta dari dia, pfttt…" Sinisnya.
Cairan merah kembali merembes di bahu si raven, menimbulkan luka yang nyeri luar biasa. Dengan berpegangan pada dinding di belakangnya dia berusaha kembali bangkit, dia harus bertahan, harus menyelamatkan Naruto-nya. Di liriknya Gaara yag hampir kehilangan kesadaran, keadannya benar-benar terjepit. Saat-saat yang tidak di sangka-sangka terjadi, sebuah suara letusan senjata menggema di tempat itu dan tiba-tiba tubuh Hidan terjatuh di lantai, dengan sebuah luka di kepala tertembus sebuah peluru.
"Maaf terlambat…" Ucap seorang pemuda dengan rambut panjang berwarna cokelat, Hyuga Neji.
Shock. Kakuzu kaget bukan main, bawahan langsung dari Sasori ternyata mengkhianati mereka. "Apa maksud semua ini Neji! Kau mau mengkhianati kami!"
Neji memasang wajah datar, mengenyahkan jasad Hidan dari atas tubuh Gaara, membantu pemuda itu untuk duduk dan menyeringai pada Kakuzu. "Sejak awal aku tidak memiliki kesetiaan pada Namikaze," jawabnya enteng.
"KAU!" Kakuzu kembali berlari, berusaha menerjang pemuda berambut cokelat itu. Tapi, Sasuke menghadangnya dan kembali menghunuskan pedang, Kakuzu melompat di udara menghindari tebasan itu, tapi Neji entah bagaimana sudah ada di belakangnya dan memukul lelaki itu dengan beruntun di udara lalu menendangnya sampai tersungkur di lantai.
Neji menghampiri lelaki itu lalu menginjak kepala Kakuzu. Injak. Injak. Injak. "Cih! Aku sudah lama muak dengan keluarga ini dan juga Akatsuki!" Neji menoleh pada Sasuke, "Kau, sebaiknya menyusul yang lain, urusan di sini biar aku saja," jelasnya.
Sasuke mengangguk, mengerti. Sedangkan Neji masih asik dengan kesenangan barunya, menginjak si lelaki bercadar, Kakuzu pingsang dengan luka parah di kepala, erangan yang keluar dari mulut Gaara membuatnya menghentikan aksinya. Menatap sang pemuda yang kesakitan dan napas yang terengah-engah. Neji menghampiri pemuda itu, menarik lengan kemejanya dan membalutkan luka di pundak sang pemuda.
Gaara membuka matanya sedikit, melihat seorang pemuda berambut cokelat dan bermata violet, menatapnya dengan ramah dan senyum hangat, membuat hatinya tenang. "Kau sudah berjuang, Gaara." Neji mengusap lembut rambut Gaara, membuat pemuda berambut merah itu semakin ingin menutupkan matanya.
Tak perlu menunggu beberapa menit, Gaara sudah tertidur di bahu Neji, dengan lembut Neji mengangkat Gaara, menggendongnya. "Bukankah dia sangat menarik?" Ucap sebuah suara yang sangat di hapal lelaki bermata violet itu.
Neji hanya tersenyum tipis, "Kau sudah datang ternyata…"
.
.
.
Kyuubi dan Itachi berlari diantara lorong-lorong panjang kastil itu, mencoba mencari si blonde. Pada akhirnya pergerakan mereka terhenti, sebuah pintu besar berwarna cokelat ada di depan mereka. Keduanya saling berpandangan, Itachi mengangguk dan membuka pintu dengan perlahan. Suara pintu yang berderik menggema di tempat itu. Sebuah ruangan sebesar 3 kali lapangan sepak bola, tak ada perabot sama sekali, hanya beberapa pilar dan sebuah pintu lagi jauh di belakang, berwarna hitam.
Keduanya memasuki ruangan itu, menatap penuh waspada, dari dua tiang di tengah ruangan itu muncul dua bocah kembar berambut putih kebiruan, si kembar Mangetsu dan Suigetsu, memakai pakaian serba putih dan menggenggam sebuah pedang.
Itachi segera menarik kedua pedang yang ada di punggungnya dan Kyuubi menyiapkan hand gun miliknya, mengisi pelurunya. "Masa kita harus melawan bocah… Otak kakek itu agak bermasalah, masa anak sekecil mereka–"
"Jangan lengah," potong Kyuubi. "Mereka professional, aku bisa mencium bau darah dari tubuh mereka."
Suigetsu tampak gelisah dan mendekati sang kakak, berbisik di telinganya. "Ngg… Apa tidak apa-apa? Kalau sampai melukai mereka, Naru-sama akan membunuh kita…"
Mangetsu memutar kedua bola matanya dan menghela napas, "Siapa tuanmu, Sui? Rikudo-sama sudah memerintah kita!"
Suigetsu menundukkan wajahnya, sedih. "Aku suka Naru-sama… Tidak ingin membunuh orang yang dikasihi Naru-sama…"
Mangetsu terdiam dan mengacak rambut adiknya, "Aku juga suka Naru-sama, bagaimana kalu jangan sampai membunuh mereka? Di lukai sedikit saja, control kekuatan kita, hm?" Ucapnya sambil tersenyum, Suigetsu mengangguk dengan antusias, puas dengan jawaban sang kakak.
"Kalian di sini mau bertarung dengan kami atau asik di dunia kalian sendiri?" Sinis Kyuubi yang sudah tidak tahan untuk bertarung dengan dua bocah tengik itu.
"Kyuu… jangan galak-galak…" protes Itachi.
Kyuubi yang sedari tadi kesal menendang kepala Itachi, "BAKA! Kenapa kau jadi lemah sama bocah sih!" Tendangnya berkali-kali, tapi berhasil di tahan Itachi.
"Mau bagaimana lagi… Aku jadi ingat adikku dan aku waktu kami kecil, yah setidaknya waktu adikku masih manis…"
Sinting. Rasanya saat ini Kyuubi ingin melubangi kepala kekasihnya itu dengan sebuah peluru, di saat semuanya dalam masalah genting bisa-bisanya keriput mesum itu bernostalgia. "Ck! Kalau begitu biar aku yang mulai."
'BANG! BANG! BANG!'
Tiga peluru di muntahkan Kyuubi ke arah si kembar, semuanya dapat di tangkis dengan mudah oleh keduanya dengan pedang mereka, tanpa tergores sama sekali. Itachi tersenyum senang, bersemangat. "Hebat… Pedangnya sama sekali tak tergores," masih sempat memuji.
Kyuubi segera maju, meninggalkan Itachi yang masih bergumam memuji keindahan pedang milik si kembar. Sambil berlari maju, Kyuubi memuntahkan kembali peluru, menyerang Mangetsu. Dentingan pedang dan hand gun milik Kyuubi menggema di ruangan itu, sedangkan Itachi dan Suigetsu hanya menonton keduanya, merasa belum pas untuk masuk dalam pertarungan.
"Khhh… Di mana Naru! Kau sembunyikan di mana adikku!" Bentak si rambut orange tepat di depan wajah Mangetsu, menghadang serangan dari pedang panjang itu.
Mangetsu sedikit kaget saat tahu yang di hadapinya adalah kakak si blonde, dia mundur ke belakang, membuat sebuah jarak. "Kalau mau tahu, kau harus kalahkan kami dulu. Itu pun kalau kau mampu," tantangnya sambil bersiap menghunuskan pedang ke arah si rambut orange.
Kyuubi tertawa kesetanan, "HAHAHAHAHA! Jangan bercanda! Masih terlalu cepat 100 tahun kalau kau mau mengalahkanku, bocah~" Sebuah seringai iblis terukir di wajahnya, membuat si kembar merinding, bukan hanya si kembar, bahkan Itachi juga merinding melihat seringai itu. Kyuubi bakal menggila dan nantinya dialah yang akan repot untuk menenangkan kekasihnya itu.
Kyuubi bergerak cepat, melepaskan 5 peluru dalam 3 menit dan mengarahkan sebuah tendangan ke perut Mangetsu, tapi Mangetsu bisa menghindari serangan itu dengan meloncat beberapa kali di udara dan mundur ke belakang, lalu menyerang Kyuubi dengan sebuah tebasan cepat. Kyuubi menunduk, kepalanya nyaris putus, dia meluruskan kakinya dan menendang kaki kanan Mangetsu, membuat bocah itu kehilangan keseimbangan, hampir terjatuh di lantai tapi berhasil kembali berdiri setelah menahan berat tubuhnya dengan sebelah tangan.
"Heh! Kau lumayan bocah…"
Itachi mengangguk, menyetujui ucapan Kyuubi. Saat ini yang bisa menyamai kekuatan si rambut orange adalah itachi dan yang bisa mengalahkannya dalam bela diri hanya Mito, jarang sekali dia memuji orang lain, bahkan adiknya sekalipun jarang dia puji. "Coba bocah itu mau masuk dalam Uzumaki, pasti akan jadi menarik…" Gumam Itachi.
Mangetsu tidak membalas ucapan Kyuubi, dia kembali menyerang si rambut orange. Menyabetkannya ke bawah, ke arah kaki Kyuubi, si rambut orange yang memang lahir dengan reflex bagus segera meloncat di udara, menendang si bocah sampai tersungkur di lantai, mengunci tangan si bocah di punggung. Mangetsu hanya bisa merintih akibat kuatnya kuncian dari Kyuubi.
"Sampai kapan mau main-main? Kau tidak serius melawan kami, mau meremehkan kami!" Amuk Kyuubi, tak suka sama sekali. "Aku tidak punya waktu untuk bermain-main bocah."
Suigetsu mengeratkan genggaman pedang miliknya dan menyerang Itachi mendadak dari atas, dengan mudah Itachi dapat menghentikan serangan itu dengan sebelah tangan, menimbulkan bunyi dentingan yang menarik. Suigetsu kembali menyerang dari belakang tubuh Itachi, dengan mudah lagi-lagi sulung Uchiha itu berbalik dan balik menyerang salah satu dari bocah kembar itu.
"Ayunan pedang yang bagus, berapa umurmu?" Tanya Itachi ramah.
Suigetsu yang bingung ragu-ragu untuk menjawab, "…15 tahun."
"Bagus sekali, 5 tahun lagi kau pasti akan jadi ahli pedang yang hebat."
"Berhenti memuji musuh dan kalahkan bocah tengik itu!" Perintah sang uke kesal.
Itachi menggelengkan kepalanya, tanda penolakan. "Tidak bisa, walau musuh aku tidak bisa menyakiti bocah. Selera bertarungku hilang."
Kyuubi sudah benar-benar ingin menyarangkan sebuah peluru di kepala sang seme, "Kamipun begitu," ucapan Mangetsu menghentikan niat si rambut orange.
Bingung. Baik Itachi maupun Kyuubi jadi bingung. Si rambut orange memutuskan untuk melepas kunciannya pada bocah itu dan berjalan ke arah Itachi. Berunding. Mangetsu bangun dari posisi sebelumnya dan di hampiri sang adik kembar, keempatnya saling berhadapan, berpandangan.
"Walau terdengar aneh, tapi kami tidak ada niatan untuk melukai kalian," ucap Suigetsu memecahkan keheningan. "Walau nantinya kami akan di hukum Rikudo-sama…" Tambahnya.
Mangetsu mengelus rambut Suigetsu, "Tenanglah, aku akan melindungimu."
Kyuubi mengernyit, kepalanya terasa pusing. "Apa maksud kalian sebenarnya?"
Si kembar saling berpandangan, "Kami takut kalau sampai melukai kalian Naru-sama akan mengamuk pada kami," jawab mereka bebarengan. "Naru-sama yang mengamuk menyeramkan…" Jelas Mangetsu merinding mengingat kejadian pertama kalinya dia bertemu sang tuan muda.
"Hebat juga bocah bodoh itu… Baru saja ke mari tapi sudah mendapat hewan peliharaan…" Gumam Kyuubi membuat Itachi sweat drop. "Jadi apa mau kalian?"
"Kami akan mengantar kalian ke tempat Rikudo-sama dimana ada Naru-sama."
"Apa kalian yakin? Itu artinya kalian mengkhianati Rikudo lho…" Si kembar menggelengkan kepala mereka mendengar pertanyaan dari Itachi.
Si kembar saling berpegangan tangan dan tersenyum lebar, "Kami sudah memutuskan untuk mengikuti Naru-sama. Dalam darah Naru-sama ada darah Namikaze juga, jadi kami tidak mengkhianati Namikaze."
Itachi tertawa geli mendengarnya, menghampiri kedua bocah itu dan mengelus kepala mereka dengan lembut. "Anak baik… Baiklah kalau begitu, bisa tunjukkan kami jalannya?"
"Keriput mesum!"
"Saat ini yang terpenting adalah menemukan Naru-chan dan menyelamatkannya, kalau kita berlama-lama di sini akan membuang waktu," jelasnya tak memberi kesempatan si rambut orange bicara. Itachi kembali menatap kedua bocah manis itu, "Setelah ini selesai, kalian mau ikut denganku? Aku akan melatih kemampuan berpedang kalian!" Tawar sulung Uchiha dengan berapi-api.
Rasanya Kyuubi bukan hanya akan membolongi kepala Itachi dengan sebuah peluru, tapi semua peluru yang ada di dalam hand gun miliknya. Si maniak pedang itu akan jadi bersemangat setelah melihat orang yang berbakat, tak peduli kawan maupun lawan.
.
.
.
Kyuubi kesal. Sejak keluar dari ruangan itu, mereka di antar si bocah kembar memasuki pintu berwarna hitam, tak ada apa-apa di sana selain ruangan yang lebih besar dari sebelumnya, sebuah lorong panjang yang tak berujung, di setiap dindingnya ada berbagai lukisan yang membuat perasaan tak enak. Lukisan abstrak dengan tema gelap, lukisan-lukisan aneh yang tak dia mengerti dan beberapa patung berbentuk aneh. Tapi di semua deretan lukisan itu hanya satu lukisan yang paling indah dan yang paling besar, hampir menutupi tembok. Sebuah lukisan seorang anak lelaki yang memakai topi jerami dan kemeja putih, lukisan dengan latar bunga matahari dan cerahnya musim panas, anak lelaki yang tampan, berambut blonde, seperti matahari.
Kyuubi terdiam di depan lukisan itu, menatap penuh arti. Melihat hal itu Itachi menghampiri si rambut orange, di ikuti si kembar. "Ini lukisan Minato-sama sewaktu kecil, Rikudo-sama bilang beliaulah yang membuat lukisan ini," jelas Suigetsu.
Kyuubi mengiyakan ucapan Suigetsu dalam hati, ini benar-benar lukisan ayahnya. Lukisan lama. Baru di sadarinya betapa adiknya mirip dengan sang ayah. Baik wajah, rambut, kepolosan mereka, pancaran mata, dan juga senyuman. Membuatnya rindu pada sang adik dan almarhum ayahnya.
"Rikudo itu benar-benar menyayangi Minato-san ya…" Gumam Itachi, matanya juga tak lepas dari lukisan indah itu.
"Tentu saja! Rikudo-sama sangat menyayangi Minato-sama, bahkan sejak kepergian Minato-sama dari rumah, kamar milik almarhun tidak ada yang boleh memasukinya. Tapi pada akhirnya kamar itu kembali di buka saat Naru-sama di bawa ke sini," jelas Mangetsu.
"Hmm… Kecintaan yang berlebihan pada anaknya dan sekarang kecintaan itu beralih ke Naru-chan, kurasa ini akan menyulitkan," gumam Itachi.
Kyuubi mengeratkan genggaman tangannya dan kembali berjalan, menuju sebuah pintu lagi, berwarna hitam di ujung lorong. Dia sudah bertekad, apapun yang terjadi dia harus menyelamatkan adiknya, bagaimanapun caranya. Walau harus melukai orang yang memilik darah yang sama di nadinya.
Kyuubi mendorong pintu itu, membuatnya terkejut melihat apa yang ada di dalam. Bukan hanya dirinya, tapi Itachi dan si kembar juga terbelalak kaget. Jauh di seberang ruangan terlihat Naruto dengan kedua tangannya diikat ke sebuah rantai yang menjulang sampai di langit-langit, di tambah pemuda itu sepertinya masih tak sadarkan diri. Di bawah kaki Naruto tampak seekor serigala besar yang menatap keempatnya yang baru datang dengan tatapan tajam, siap menyerang, tak membiarkan seorangpun menyentuh sang tuan. Rikudo tampak duduk santai di sebelah kiri Naruto, menikmati secangkir kopi, seringai lebar tak lepas dari wajahnya.
Kyuubi menggeretakkan giginya kesal, tak ada yang boleh menyakiti adiknya selain dia sendiri. Sebelum sempat menerjang maju, Mangetsu dan Suigetsu sudah maju duluan, ingin menyelamatkan si blonde, tapi belum sampai melewati setengah ruang itu mereka di serang seorang pemuda berambut merah, menendang kedua bocah itu sampai terpental kebelakang. Sasori. Lelaki itu datang menghadang. Menatap ke kedua bocah itu dengan tatapan mematikan.
"Bocah bodoh! Berani sekali kau mengkhianati Rikudo-sama!" Bentaknya nyaring.
Mangetsu memegang perutnya yang terasa nyeri sedangkan Suigetsu mengelap darah yang keluar dari mulutnya. "Kami tidak mengkhianati Rikudo-sama! Kami hanya tak suka Naru-sama di sakiti, bukankah dia juga Namikaze!" Jawab mereka tanpa keraguan, tambah membuat Sasori kesal bukan main.
Rikudo hanya tersenyum dan menjadi penonton dengan santai tak peduli dengan ucapan si kembar, tak peduli saat Sasori menyerang bocah-bocah itu sampai hampir sekarat. Sasori mematahkan tangan kanan si kembar, membuat suara patahan yang mengerikan. "Setelah ini kalian akan mendapat hukuman yang pantas!"
Rikudo menaruh cangkir kopinya pada meja yang tak jauh dari tempatnya duduk, memandang kedua tamunya dengan seringai lebar. "Selamat datang cucuku tersayang dan temannya…" Ucapnya.
"Jangan bicara menjijikkan! Aku tidak sudi punya kakek sepertimu!" Jawab Kyuubi kesal.
"Maaf saja, tapi aku bukan temannya Kyuubi, melainkan KEKASIHNYA!" Tekan Itachi sambil membalas seringai Rikudo dengan sebuah seringai juga.
"Terserah," jawab si lelaki tua tak peduli. Dia mengambil telapak tangan Naruto lalu mengecupnya dengan sayang, "Ada perlu apa datang ke istanaku dan membuat kekacauan?"
"Kh! Kembalikan Naruto! Sebenarnya apa yang kau lakukan!" Bentak Kyuubi kesal sejak tadi dia menahan untuk menyerang kakek tua itu, menunggu waktu yang tepat.
"HAHAHAHAHA! Kembalikan katamu? Mengembalikan apa? Naruto sejak awal adalah milikku."
Kyuubi mengarahkan hand gun miliknya tepat di kepala Rikudo, "Brengsek! Naruto adalah milik Uzumaki!"
Rikudo bangkit dari duduknya menyentuh kepala Yuki dengan lembut. "Milik Uzumaki katamu! Kalian tidak lebih dari keluarga yang tamak! Bahkan anakku kalian ambil dariku!" Kesal. Kekesalannya dan kekecewaannya selama ini akhirnya tumpah hari ini.
"Ayah tidak diambil oleh keluarga Uzumaki, atas kehendaknya sendiri dia memilih Uzumaki!"
"Pembohong! Kau sama seperti ibumu, kalian berdua mirip itulah yang membuatku tak menyukaimu. Dasar anak wanita murahan!" Ejeknya.
Cukup. Kesabaran Kyuubi sudah habis, dia melepaskan sebuah peluru dari hand gun miliknya, tak mengenai lelaki tua itu, sengaja dia lakukan. "Tarik kembali… Cepat tarik kembali ucapan busukmu!"
Melihat cucunya jadi semakin emosi Rikudo tambah tersenyum meremehkan, "Tidak akan, tapi akan kupikirkan lagi kalau kau bisa mengalahkan dia," tunjuknya pada Sasori yang ada jauh di depan, "dan dia," tunjuknya pada seorang pemuda blonde berambut panjang yang keluar dari belakang tubuh Naruto.
"De… Deidara!" Itachi tersentak, tak mengira kalau pemuda manis yang di temuinya beberapa waktu lalu juga ada di balik semua ini.
Kyuubi menatap geram pada si pemuda, pemuda yang pernah membuat dia cemburu ternyata anggota Namikze, kalau dia tahu sejak dulu pasti akan di habisinya. Si rambut orange menatap Itachi yang terlihat shock, "Aku akan minta penjelasan ulang tentang pemuda itu saat nanti kita pulang, keriput mesum…"
Mendapat aura-aura yang tak enak menyelubungi sulung Uzumaki membuat Itachi menatap horror, dia benar-benar ketahuan. Sepandai-pandainya tupai melompat akhirnya jatuh juga. Perumpamaan yang tepat untuknya.
Deidara maju selangkah demi selangkah, kemudian berlari cepat ke arah kedua tamu tak di undang itu, mengeluarkan bola-bola kecil yang ada di sela-sela jari-jarinya dan melemparkannya ke arah Kyuubi. Itachi segera menarik si rambut orange ke belakang dan melindungi pemuda itu dengan punggungnya.
'DUAR!'
Sebuah ledakan yang cukup besar, ternyata bola-bola kecil itu adalah bom modifikasi, walau bentuknya kecil tapi jangan meremhkan kekuatan ledakannya. Kyuubi melepaskan pelukan Itachi dan melihat pemuda itu sedikit kesakitan akibat efek ledakan yang mengenai punggungnya.
"Itachi…" Panggilnya sambil mengeratkan kedua pegangannya pada lengan si sulung Uchiha.
Itachi tersenyum lebar, "Syukurlah kau tidak apa-apa…" Kadang Itachi yang bersikap pura-pura bodoh itu ingin dia tenggelamkan diteluk Tokyo, bukannya mengkhawatirkan tubuhnya sendiri tapi malah mengkhawatirkan si rambut orange.
"Lepas!" Bentaknya. Bukan hanya Naruto yang di sekap yang membuatnya kesal, bahkan Itachi orang yang, errr… Mulai di sukainya pun di lukai oleh klan ini. "Kubunuh kau!"
.
.
.
Dalam kegelapan, Naruto mendengar berbagai suara, suara yang menyedihkan dan juga sebuah suara kemarahan. Mengerang kecil, sedikit demi sedikit dia membuka matanya, betapa terkejutnya dia melihat kakaknya dan Itachi sedang bertarung dengan Deidara dan Sasori. Di gerakkan tubunya tapi percuma saja. Saat ini tubunya di gantung dengan kedua tangan yang di sekap oleh seutas rantai.
"Jangan terlalu bersemangat, Naru. Nanti besi yang mengikat tanganmu bisa melukaimu lho…" Ucap sebuah suara yang sangat di kenalnya, suara kakeknya.
Naruto menatap tajam lelaki tua itu dari ujung matanya, "Apa maksudnya ini? Lepaskan aku!" Pintanya membentak.
Rikudo hanya tersenyum kecil dan kembali menyeruput kopinya, "Tidak akan kulepaskan sampai kau berubah pikiran. Hm… Juga sampai black knight-mu datang…" Jawabnya santai.
"Hentikan permainan bodoh ini!" Bentak si blonde kesal, gemerincing rantai berbunyi saat dia masih mencoba menggerakkan tubuhnya. Rikudo tak menghiraukannya dan kembali menikmati tontonan di depannya, menikmati saat-saat Kyuubi terbanting di lantai dan Itachi terhempas ke dinding. "KYUU! ITACHI-NII!" Teriaknya histeris melihat hal itu.
Kyuubi bangun dari lantai dan tersenyum senang saat tahu adiknya sudah sadar, begitupun Itachi. "Bocah bodoh, akhirnya kau sudah sadar juga!" Itachi membantu Kyuubi bangun, memegangi pinggan si rambut orange.
"Kakek, hentikan semua ini!"
"Tidak. Berapa kali harus kukatakan tidak?"
Naruto menggeram kesal, berusaha melepaskan kuncian di tangannya, tapi percuma saja. Hal itu malah membuat tangannya lecet. "Ck! Sial!" Tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa melihatnya, Naruto benci hal ini. Saat dia ingin melakukan sesuatu malah tidak bisa sama sekali.
"Berhenti menyakiti dirimu sendiri Naru, kau hanya perlu melihat mereka. Orang-orang yang selama ini sudah banyak membohongimu…"
"Apa maksudmu tua bangka! Jangan bicara yang aneh-aneh pada Naruto!" Kesal Kyuubi.
Rikudo mengangkat tinggi dagunya dan menyeringai, "Aneh-aneh kau bilang? Aku hanya menceritakan apa yang perlu di ceritakan saja, apa yang selama ini sudah kau dan seluruh Uzumaki tutup-tutupi…"
"Kau! Dengar Naru! Jangan percaya apapun omongan tua bangka itu, kalau kau mau dengar kebenarannya, setelah ini akan kuceritakan. Jadi jangan berpihak padanya!"
Naruto mengangguk dan menatap tajam kakaknya, "Hal itu di kesampingkan dulu, aku pasti akan mendengar semuanya."
"Kau tetap pada pendirianmu, Naru? Kau tetap ada di Uzumaki? Kau itu Namikaze!"
"Kakek! Aku tidak peduli Namikaze maupun Uzumaki! Yang aku inginkan hanya U–" Belum selesai ucapan si blonde, pintu kembali terbuka, menampilkan sesosok pemuda dengan rambut raven, menggenggam sebilah pedang, nafasnya terengah dan pandangan matanya menatap berkeliling. Tatapannya jatuh pada Naruto yang di rantai jauh di depannya.
"Naru…"
"Sa…Sasuke!" Naruto terlihat senang mendapati Sasuke sehat dan selamat.
"Otouto, mana Gaara dan yang lainnya?" Tanya Itachi.
Sasuke menggeleng, "Aku tidak tahu, tadi kami di selamatkan Neji dan dia menyuruhku ke sini. Lalu, APA YANG KAU LAKUKAN PADA NARUTO-KU KAKEK BRENGSEK!" Amuknya kesal.
"Lihat Naru, Dark Knight-mu datang… Apakah dia bisa menyelamatkanmu?" Tanyanya ambigu, melepas jas miliknya dan membuka kancing teratas kemeja miliknya, dasi miliknya pun sudah teronggok di lantai, kemejanya dia gulung sampi di lengan. "Nah, Uchiha Sasuke, kau mau Naruto? Bagimana kalau kau mengalahkanku dulu?"
Sasuke mengeratkan genggaman pedang yang ada di tangannya lalu berlari menyerang Rikudo, "KUBUNUH KAU!"
.
.
.
Sasori bergerak cepat menendang kepala Itachi dengan gerakan berputar di udara, mampu di tahan dengan kedua lengan sulung Uchiha, hanya membuatnya mundur ke belakang sedikit. "Sampai kapan kau mau bengong? Lawanku itu kau, sejak dulu aku sangat penasaran untuk menghancurkanmu, Uchiha sombong."
Itachi menyeringai dan mengelap darah yang ada di ujung bibirnya, "Aku yang akan menghancurkanmu, Uchiha tidak pernah kalah tahu," Itachi balas dengan menendang perut Sasori dengan cepat, membuat pemuda manis berambut merah itu terpelanting ke belakang. "Yang seperti ini masih belum ada apa-apanya di bandingkan waktu latihan bersama anggota Uzumaki, dasar Namikaze lemah~" Ejeknya mecoba memanas-manasi pemuda berambut merah.
Sasori bangun dan menggeretakkan giginya, menatap marah pada pemuda itu. "Jangan pernah menjelek-jelekkan keluarga ini!" Sebuah tinju di layangkan oleh Sasori, berhasil Itachi tangkap dan membanting pemuda itu ke lantai, menimbulkan bunyi debaman yang nyaring.
"AARGGHHH!" Teriakan nyaring dari sang kekasih membuat Deidara menatap horor.
"Aku tidak akan membiarkanmu bermain-main lebih lama lagi, siapapun kau yang memiliki rambut blonde," tunjuk Kyuubi pada Deidara. "Hanya dua orang yang memiliki rambut blonde yang kusukai, pertama, ayahku yang bodoh itu dan yang kedua adikku yang bodoh. Kalau kau mau masuk menjadi yang ketiga, hentikan semua kegilaan ini," ucap Kyuubi tegas.
Deidara menatap Kyuubi dengan nanar, "Gomen, tapi aku tidak bisa," lagi-lagi Deidara melemparkan bom-bom kecil ke arah Kyuubi.
Kyuubi dengan lincah melompat di udara tak membiarkan bom-bom kecil itu melukai tubuhnya, lalu bersalto di udara dan mendarat tepat di belakang tubuh Deidara, menendang pemuda berambut panjang itu ke lantai, membuatnya tengkurap dan mengunci kedua tangan pemuda itu di punggung.
"Cukup main-mainnya. Aku tidak mau melukai orang yang mirip ayah dan adikku," ucapan Kyuubi membuat Deidara tersentak dan membelalak lebar.
.
.
.
Sedangkan Sasuke masih berusaha menyerang Rikudo, lelaki tua itu bukan kakek-kakek biasa, buktinya dia bisa menghindar serangan si raven berkali-kali dan menghajar Sasuke dengan tangan kosong. Sasuke terpental kebelakang setelah sebuah serangan bersarang di perutnya, membuat tubuhnya tambah sakit darah di bahunya kembali mengucur.
"SASUKE! Kakek tolong hentikan ini semua! Aku mohon!" Jerit Naruto frustasi melihat itu semua, rasa marah dan sedih bercampur aduk di dadanya.
Rikudo tidak menghiraukan ucapan cucunya dan kembali menyerang Sasuke dengan pukulan beruntun yang sama sekali tak sempat di lawan oleh Sasuke, "Lemah. Kau tidak pantas bersama Naruto, bukan hanya kau tapi seluruh orang yang berkaitan dengan Uzumaki akan kulenyapkan!"
Wajah dan tubuh Sasuke lebam, tidak ada celah kosong untuk menyerang balik lelaki tua ini, Sasuke lalu mendapat akal, dia kembali menyerang Rikudo tapi lelaki tua itu hanya dia lewati dan mengarah pada Naruto yang masih terikat dan menebaskan rantai yang mengikat kekasihnya itu dengan sekali tebas, membuat si blonde terbebas dari belenggunya. Rantai-rantai yang di pakai untuk mengikat si blonde bergemerincing di lantai, si blonde sendiri mengusap-usap pergelangan tangannya yang lecet.
"Teme, makasihhh…" Ucapnya menerjang Sasuke, memeluk pemuda itu erat sampai jatuh terduduk, si blonde duduk dipaha si raven yang meringis kesakitan.
"Dobe! Jangan tiba-tiba! Badanku sakit!" Protes si raven.
"Gomen… Aku kangen sekali padamu… Mana yang sakit?" Tanya si blonde dengan pose imut, sedikit rona terlihat di wajah si raven.
Sasuke menunjuk bibirnya dengan jari telujuknya, "Di sini yang sakit." Sepertinya si raven mulai curi-curi kesempatan dalam kesempitan.
Naruto terdiam, lalu mengecup sebentar bibir si raven, rasa besi dari darah terasa di bibir si blonde. "Yang mana lagi?" Tanyanya, tak peduli sedang ada di mana saat ini, malahan kedua lengan tan itu melingkar di leher si raven, pertanyaan provokasi yang sangat di nanti Sasuke.
"Di–"
"WOI! TOLONG LIHAT SITUASI!" Bentak Itachi dan Kyuubi bebarengan, tak mengerti jalan pikir adik-adik mereka.
Sasuke hanya merengut sebal kehilangan moment ini. Naruto bangkit dari duduknya dan menatap Rikudo tajam. "Hentikan sekarang kakek atau aku akan membencimu."
"HAHAHAHAHA! Berani sekali kau mengancamku, aku sangat menyayangimu Naru jadi tolong minggir dan aku akan menyelesaikan ini."
"KAKEK! Karena sikap kakek seperti ini makanya ayah kecewa pada kakek!"
Rikudo menyipit, lelaki tua itu bergerak cepat ingin menghantam si raven dengan kakinya tapi Naruto maju dan menahan gerakan sang kakek. "Minggir Naru…"
"Kakek tidak mau mendengarkan permintaanku, kenapa aku harus mendengarkan kakek?" Naruto balik menendang kakeknya, tepat di perut, tidak terlalu kuat tapi mampu membuat sang kakek mundur ke belakang.
Si raven menghampiri si blonde dan bersiap untuk serangan berikutnya, Rikudo tampak tersenyum puas menatap sang cucu, "Hebat, kau kuat. Benar-benar penerusku…"
Si blonde merengut sebal mendengarnya, "Siapa yang mau? Kakek sudah punya Deidara, kenapa tidak dia saja yang jadi penerus?"
Rikudo menatap Deidara dari ujung matanya, "Dia? Bocah itu lemah, Namikaze tidak membutuhkan orang lemah," Deidara tampak menundukkan kepalanya.
"Jangan bicara seperti itu!" Bentak Naruto. "Kenapa kakek seperti ini? Awalnya aku mengira kakek orang baik, tapi kakek tak lebih seperti orang jahat! Kenapa kakek tidak mempercayakan pada Deidara,dia tidak selemah yang kakek kira, buktinya dia bisa bertarung dengan hebat!" Ucap si blonde membela sang sepupu. Deidara tampak terperangah mendengarnya.
Si blonde berambut panjang membuang semua bahan peledaknya dan berlalu dari hadapan Kyuubi, ke arah si blonde dan menatap sang kakek tajam. "Aku muak dengan ini semua! Tolong hentikan semua ini, kakek. Sampai kapan kakek puas mengorbankan banyak nyawa. Apa kakek masih ingin mengotori tangan dengan darah?"
"Deidara… Beraninya kau mengkhianatiku…" Gumam Rikudo sinis.
Sasori tampak kaget dengan ulah sang kekasih dan mengeratkan genggaman tangannya, "DEIDARA!" Bentaknya.
Deidara menatap sang kekasih dengan sendu dan menundukkan kepalanya, "Aku lelah, Sasori…Aku lelah…"
Naruto menatap sang sepupu dengan sedih dan melindunginya di belakang tubuhnya, si kembar Mangetsu dan Suigetsu pun dengan tertatih berjalan ke arah Naruto dan melindungi sang tuan muda. "Hmmm… Kalian semua menentangku? Naruto benar-benar sangat kalian sukai, ya?"
"Bukan hanya Naru-sama! Kami juga menyukai Dei-sama!" Ucap Mangetsu lantang yang di sambut anggukan oleh Suigetsu.
Sasori tiba-tiba mengambil sebuah hand gun dari balik jasnya, semuanya terasa sangat cepat bahkan Itachi maupun Kyuubi tidak sempat menahan gerakan Sasori yang mengarahkan sebutir peluru ke arah Naruto, semuanya begitu cepat dan yang terdengar hanya sebuah suara yang memekakkan telinga.
'BANG!'
Sesosok tubuh begitu saja ambruk dengan genangan darah, "Yuki!" Teriak Naruto nyaring, serigala itu menjadi tameng agar peluru itu tidak melukai sang tuan. Tubuhnya tak bergerak di lantai, dan nafasnya mulai putus-putus, si hewan peliharaan menatap si blonde dengan lembut. Naruto mendekapnya dan menangisi sang serigala.
Rikudo menatap nyalang sang tangan kanan, berlari sekencangnya dan menghajar Sasori dengan brutal, menendangnya dan menginjaknya. Sasori tidak membalas sama sekali, dia pasrah di hajar, walau tubuhnya ambruk dan tak bergerak Rikudo tetap menghajarnya, lepas kendali.
"BERANINYA KAU MENGARAHKAN SENJATA PADA NARUTO!" Raung Rikudo.
Melihat sang kekasih yang di hajar, Deidara maju dan menahan kedua lengan sang kakek dari belakang, "Kakek sudah! Kumohon… Sasori bisa mati…" Ucapnya masih berusaha menahan gerakan kakeknya, Rikudo menyikut sang cucu sampai terpelanting ke belakang.
Itachi dan Sasuke maju, menghentikan sang kakek yang brutal, di pegangnya tangan sang kakek dan di jauhkannya dari si pemuda berambut merah, "Lepaskan tanganku Uchiha! Akan kubunuh dia!"
"Kalau kakek mau membunuhnya, bunuh aku terlebih dahulu!" Bentak Deidara melindungi tubuh sang kekasih. "Mau sampai berapa nyawa yang akan kakek korbankan! Mau sampai berapa nyawa yang hilang dari orang-orang yang kusayangi! Jawab kakek!" Raung Deidara memeluk Sasori yang berlumuran darah.
Rikudo tertegun, sepertinya ucapan Deidara membuat sang kakek sadar dengan apa yang dia lakukan. Dia melepaskan genggaman erat Uchiha bersaudara, berbalik, memunggungi semuanya. "Terserah… Mulai sekarang terserah kalian saja…" Gumamnya lalu melangkah pergi.
Melihat hal itu Kyuubi segera bergegas menghampiri sang adik, "Sudah selesai, sudah tidak apa-apa… Anjing ini juga pasti akan baik-baik saja, nanti akan kita rawat…" Ucapnya mengelus rambut si blonde.
Naruto menangis lalu memeluk sang kakak, "Huweee… Kyuu… Dia bukan anjing tapi serigala…"
"Iya-iya… Sudah jangan menangis, ya…" Kyuubi memeluk adiknya dengan sayang, lega karena semua sudah berakhir.
Sasuke melangkah ke arah dua saudara Uzumaki itu dengan tampang sengit, "Sampai kapan kalian mau peluk-pelukan?" Tanyanya sinis.
Kyuubi hanya menyeringai licik dan memeluk sang adik lebih erat, "Sampai aku puas~"
Sasuke hanya bisa menggeram kesal, sudah ada niat untuk memisahkan keduanya, tapi melihat sang kekasih yang nyaman dan terlihat tenang memeluk sang kakak, dia urungkan niat jahat itu.
Di lain pihak, Deidara mencoba mengangkat tubuh Sasori yang sudah tak sadarkan diri, tubuhSasori yang terlampau lebih besar darinya tak mampu dia angkat. Saat itu Itachi datang, membantu si blonde berambut panjang, menggendong si rambut merah di punggungnya, "Mau di bawa kemana?"
Deidara sempat tertegun sebentar lalu tersenyum tipis, "Ke kamarku, lewat sini…" Ucapnya menjadi penutun jalan Itachi. Kyuubi menatap Itachi dengan tajam, sedikit tak suka. Untuk kali ini saja akan dia biarkan.
"Semua sudah selesai, ya?" Sebuah suara yang sangat di hapal para Uzumaki maupun Uchiha membuat mereka terpaku, Uzumaki Mito muncul dari pintu dengan kimono merah kebesaran miliknya. Bersama Fugaku di belakangnya.
"Kenapa bisa ada di sini!" Kyuubi dan Naruto melotot tak percaya.
Mito menatap berkeliling dan menatap sulung Uzumaki, "Mana Kakek tua brengsek itu?" Tanyanya.
"Baru saja keluar. Jawab pertanyaan kami Mito!" Bentak Kyuubi.
Mito hanya mendengus, "Tidak perlu ada penjelasan, Fugaku tolong urus di sini," mintanya lalu berlalu pergi. Fugaku hanya mengangguk lalu mendekati Naruto, mengecek kondisi hewan yang ada di pelukan si blonde.
"Sepertinya dia bisa bertahan dengan baik, sebaiknya cepat kita bawa dia," gumam Fugaku.
Kyuubi memegang lengan Fugaku, membuat lelaki itu menghentikan gerakannya membalut luka Yuki. "Bagaimana yang lain? Itachi juga masih ada di dalam."
"Shukaku-Nagato di tolong Kakashi, sedang Gaara di tolong Neji dan Shino. Kalau anak sulungku, kau tak perlu khawatir dia bisa menjaga dirinya sendiri, sebaiknya kita pergi dari sini," Ucapnya memandang semua yang ada di sana.
Sasuke segera menggendong Yuki, Naruto mendampinginya di sebelahnya. "Tolong mereka juga di bawa," tunjuk si blonde pada Mangetsu dan Suigetsu. "Mereka juga luka parah."
"Tapi, Naru-sama!"
"Jangan membantah Mangetsu," Mau tak mau si kembar mengikuti si blonde dengan patuh. Kyuubi masih termenung, Fugaku melihatnya dengan pandangan bingung.
"Aku akan menyusul setelah bertemu Itachi," ucapnya.
Fugaku menghela napas dan mengangguk, "Terserah kau."
Kyuubi melihat semuanya tanpa berkedip sampai mereka semua pergi, dapat dia lihat adiknya menatapnya dengan khawatir, tapi dia hanya memberikan sebuah senyuman untuk orang tersayangnya. Masih ada yang harus dia lakukan.
.
.
.
Mito menatap seorang lelaki tua yang terduduk di meja kerja dengan tatapan kosong dan mata yang sedih. Lelaki yang katanya pemimpin klan Namikaze itu terlihat lemah, mengecewakan. "Apa kau puas dengan semua ini, Rikudo?" Tanya Mito dengan tatapan dingin.
"Aku tidak pernah puas, Mito. Aku tidak akan pernah puas…" Gumamnya.
Mito menghela napas berat, "Sebaiknya hentikan menyakiti orang-orang yang kau sayangi dan dirimu sendiri."
Rikudo mengangkat wajahnya, memandang langit yang jauh di atas sana, "Sudah kepalang basah. Semua gara-gara aku, kepergian Minato, kematiannya, dan semua yang terjadi di sini. Bahkan aku juga melukai Naruto…" Sepancar emosi terlihat di kedua mata lelaki tua itu, perasaan bersalah yang sangat amat besar. "Aku menyayangi mereka…"
"Bagaimana kalau kau menghentikan semua ini dengan mencoba memberi kesempata pada keluarga Uzumaki?"
Rikudo menatap Mito tajam, "Apa yang kau mau?"
"Restu pernikahan anakku dengan anakmu, sampai sekarang kau belum merestui mereka, sampai ajal memisahkan mereka. Juga Kyuubi, semirip apapun dia dengan Kushina, dia juga memiliki darah Namikaze, jangan terlalu membencinya. Kalaupun kau masih ingin membenci Uzumaki, maka yang perlu kau lakukan hanya membenciku." jelasnya.
Rikudo terdiam dan hanya menatap Mito dengan tatapan kosong, "Aku tidak bisa menerima itu, kalian merebut orang-orang yang paling kusayangi. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan mereka, sebagai seorang kakek… Bukan hanya Uzumaki yang kubenci, bahkan klan ini dan diriku sendiri sangat kubenci."
"Kalau begitu hentikan kebencian ini dan mulai sesuatu yang baru," Kyuubi tiba-tiba muncul, berdiri di sebelah Mito, menatap kakeknya dengan tajam. "Kalau kau teruskan, kau akan menghancurkan dirimu sendiri. Apa kau pikir ayah senang dengan apa yang kau lakukan sekarang ini? Apa kau mau mengecewakannya lagi? Aku tidak peduli kau mau mengakuiku atau tidak, tapi jangan pernah menyakiti orang-orang yang di sayangi Naruto."
Rikudo terbelalak, dia memegang kepalanya yang terasa sakit, terlalu banyak yang dipikirkannya, terlalu banyak kebencian dan kesedihan yang telah di lakukan. "Pergi! Pergi kalian semua! Jangan pernah menunjukkan muka di hadapanku lagi!" Bentaknya kesal, Kyuubi sudah ingin menghampiri lelaki tua keras kepala itu, sepertinya satu hantaman di kepala Rikudo akan membuatnya bisa berpikir jernih.
Tapi, sekelebat cahaya berwarna kuning menghampiri Rikudo, Naruto datang dan memeluk lelaki tua itu. "Naruto, kenapa kau ada di sini? Bukannya Fugaku…" Pertanyaan Mito terhenti saat Naruto menggelengkan kepalanya.
"Kakek… Aku dan ayah sangat menyayangimu, walau ada di Uzumaki, kenyataan kalau aku dan Kyuu adalah cucumu tidak bisa terbantahkah… Aku tidak suka kakek seperti ini, kumohon…" Ucap si blonde.
Setitik air mata mengalir di pipi Rikudo, "Kenapa kau masih di sini? Aku sudah melukaimu…"
"Kakek… Aku menyayangimu, sangat sayang… Jadi, kumohon hentikan ini dan coba berbaikan dengan Uzumaki. Sekali ini, aku ingin kita semua bersama-sama… Tanpa ada benci sedikitpun…" Jelas si blonde mengeratkan pelukannya.
Rikudo terdiam dan membalas pelukan sang cucu kesayangan, "Apa kalau aku melakuka itu kau dan ayahmu akan senang?"
"Tentu saja. Walau nantinya aku akan kembali ke Jepang, aku pasti akan ke sini jika kakek memintaku. Aku janji."
Rikudo melepaskan pelukan Naruto dan berdiri membelakangi semuanya, "Baiklah, aku akan mencoba semuanya. Satu hal yang Uzumaki perlu ketahui, jangan pernah melarangku menemui Naruto, begitupun sebaliknya."
Naruto menyeringai senang menatap nenek dan kakaknya. "Kekuatan adik bodohku itu hebat sekali…" Gumamnya pelan. Mito hanya tersenyum tipis.
"Semoga saja semua ini menjadi awal yang bagus…"
Di balik pintu, Deidara mendengar semuanya dan ikut tersenyum tipis, Itachi yang ada di sebelahnya mengacak rambut Deidara, "Kau bisa sedikit lega, serahkan semuanya pada Naru-chan…" ucapnya mengangkat kedua jari jempolnya sambil tersenyum lebar.
Deidara mengangguk sambil mengelap air matanya dengan lengan kemeja miliknya, sebuah tangis bahagia.
.
.
.
Suara helicopter yang berisik dan angin kencang akibat baling-balingnya menimbulkan suara yang tak enak di dengar. "Setelah ini aku akan kembali, saat nanti musim panas aku pasti akan ke sini lagi. Saat itu kakek harus mengajakku piknik, kakek harus menyiapkan banyak makanan. Pokoknya harus!" Paksa si blonde.
Rikudo hanya mengangguk, "Cepat naik ke dalam helicopter, kakek akan menunggu di musim panas nanti…" Naruto mengangguk dan segera berlari masuk ke dalam helicopter. Lelaki tua itu hanya bisa menatap sedih saat capung besi itu mengudara ke angkasa, Naruto tak hentinya melambai ke arahnya, Rikudo membalas lambaian sang cucu dengan tak kalah bersemangat.
"Sampai jumpa Naru… Dan maafkan aku," gumamnya yang tak mungkin di dengar, suaranya tenggelam dalam keheningan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Judul chepi kali ini Frau ambil dari judul lagunya YUI, pas ngetik tuh lagu keputer, pas banget… Jadi Frau pake deh~
Semoga action di sini memuaskan kalian, SasuNaru juga sedikit banget nongolnya, habis waktunya gak tepat, Frau harus nyelip-nyelipin moment keduanya… Frau payah dalam action tapi bukan berarti Frau nyerah ngebuatnya, setelah MBB ini selesai Frau mau buat fict action! #berapi-api
Dan… MBB bakal ending 1-2 chepi lagi, satu chepi ending terus sisanya cerita ekstra, tapi kalau para readers nggak mau cerita ekstra juga nggak apa, Frau buat sesuai permintaan kalian…#apadeh
Pokoknya lega banget udah nyelesaikan fict full action ini, yeiiii… Ah, gomen kalau banyak typo's soalnya ngebut buatnya, ahahahahaha…#plak!
Ah, sekali lagi Happy Birtday untuk Naru-chan~ Dan semua yang ngerayainnya~ #kedipmata
Juga, makasih untuk para Silent Readers yang ada di luar sana… #kisukisu
And, waktunya balas review~
Azusa TheBadGirl :
Fujoooo~ Karena lo yang pertama Frau kasih kisu nih…#monyonginbibir
Hahahaha… si Naru kan bego n polos terselubung #plak! Kayak Authornya…#plak!plak!
Gak ada adegan nonjok di sini, cuma nendang aja, hahahaha… Kasian udah tua, Frau sendiri pengemarnya Rikudo…
Makasih udah review, Jojo…
Evilian Niiu :
Udah update…
Sabar Niiu, jangan marah-marah… Kasian Rikudo…#apadeh
Makasih udah review, Niiu…
PRINCE AKUMA KAZUHITO999 :
Hahahahaha… Banyak yang benci Rikudo ya? Frau terlalu ya buat dia jahat, hahahahaha…
Kali ini juga kayaknya typo bertebaran, gomen ne…
Devils Sign a.k.a DS entah kapan bisa publis, kemarin baru selesai seperempat, belum dapat ide…
Makasih udah review, Kazu…
Blue night-chan :
Hahahaha… Banyak yang benci Rikudo… #pundung
Makasih udah review, Blue…
Imperiale Nazwa-chan :
Karena Inez anak OrangeTomato yang kedua nge-review, Frau cuma kasih pelukan aja, gratis… #diinjekInez
Gimana chepi ini? Full action nih, semoga Inez ngerti, bacanya pelan-pelan aja, oke?
Cinta itu buta Nez, makanya Naruto cuma mikirin Sasuke…#stres
Full lemonnya nanti ya, di tunggu… Untuk sementara adegan berdarah-darah aja dulu…
Makasih udah review, Inez…
Widi Orihara :
Makasih my imouto, semoga chepi kali ini juga puas…
Makasih udah review, Widi…
Akaneko SeiYu :
Gimana chepi ini? Apa memuaskan? #matapenuhharap
Ano… Frau nggak pernah main PB or CS pernah dengar tapi nggak pernah main, semua jenis-jenis senjata Frau cari referensinya di mbah google, hahahahaha…
Sayang banget Frau nggak tinggal di Jakarta, pengen datang tapi mustahil banget, kalo ke sana Frau harus naik pesawat and nginep di hotel, siapa tau Akaneko mau ngebayarin? #plak
Makasih udah review Akaneko as the Demon Queen…
Desroschan :
Hahahahaha… Gomen Rikudonya jahat banget, tapi dia udah insyaf kok… Hahahahaha…
Makasih udah review, Roschan…
UzumakiKagari :
Ahahahahaha… Semoga pertanyaan Kagari terjawab di chepi ini…
Makasih udah review, Kagari…
Ichigo bukan Strawberry :
Semoga pertanyaa Ichi kejawab di chepi ini… Dan Sasuke nggak bisa ngeluarkan sharingan, adanya dia ngeluarkan saringan santan…#chidoried
Makasih udah review, Ichi…
Rin Miharu-Uzu :
Udah lanjut nih…
Makasih udah review, Uzu…
Gunchan CacuNalu Polepel :
Yo Gunchan, udah lama nggak nongol…
Deidara nggak selembut kelihatannya, hahahaha…
Suka ama Yuki? Silahkan, paling juga di terkam duluan, hahahahaha…
Makasih udah review, Gunchan…
UzuChiha Rin :
Lo telat Rin-rin, enaknya di apain ya, hmmm…#asahpisau
Chepi ini khusus untuk lo, Frau buat ngebut soalnya mepet banget ama keberangkatan Rin-rin moga lo puas…#hugs
Kali ini wordnya dikit, Frau udah nggak tau harus ngetik apa lagi…#Authorpayah
Semoga pertanyaan Rin-rin terjawab di sini, Frau bingung mau jawabnya dari mana, banyak sih…#plak
Makasih udah review, Rin-rin…
Ichkurorry :
Makasih Kuro…
Makasih udah review, Kuro…
Hatakehanahungry :
Hana kemana aja? Kok baru nongol? Kirain udah lupa ama Frau…#mewek
Bakalan ada NejiGaa kok, di tunggu aja…
Makasih udahreview, Hana…
Rizuki Tasuku :
Hahahahaha… Makasih…
Makasih udah review, Rizu…
GerhardGeMi :
Eh, nggak sengaja jadi terlihat kayak RikuNaru ya, hahahahaha… Gomen ne… Dia cuma sayang cucu kok…
Makasih udah review, GeMi…
Chacha :
Makasih udah review, chacha…
Nami Asuma :
Sasori jadi biang kerok, hahahahaha…
Oh, Nami PPL? Ganbatte! Untung di fakultas Frau nggak ada PPL, cuma KKN doang, hahahahaha…
Gak bosen kok baca review Nami maupun review yang lain, Frau malah senang…
Makasih udah review, Nami…
Louisia vi Duivel :
Apanya yang gila? Hah? Dimana? #Authorpanik, abaikan…
Rencana awalnya nih cerita nggak rumit entah kenapa jadi serius gini, semuanya ngalir aja, ahahahahaha…
Makasih udah review, Louis…
sasuNaru Fujoshi :
Gomen, Sai nggak muncul di sini…#pundung
Makasih udah review, sasu…
Aqua :
Makasih udah sampai begadang baca fict gaje ini, Frau terharu…#stresakut
Makasih udah review, Aqua…
Uchiha Nåmìkaze Shanzec :
Hahahahaha… Sabar Shanzec, jangan lempar sendal, hahahahaha…
Kalau Naru pake gaun, bisa-bisa Kyuubi mati berdiri, hahahahaha…
Makasih udah review, Shanzec walau dari Fb… Makasih banget udah sempat ngereview…
.
.
.
Makasih juga untuk semua silent readers yang ada di luar sana…
~ So, mind to review, minna-san… \(^^)/
