Disclaimer:
Naruto © Masashi Kishimoto
Art Not A Crime © Furasawa99
.
.
Happy Reading!
.
.
BRAK
Deidara menggebrak meja kantornya dengan kasar. Rahangnya mengeras bersamaan dengan deretan giginya yang bergemertak geram. Keringat dingin tampak menetes di wajahnya. Dia tidak percaya. Benar-benar sulit dipercaya.
.
.
.
Hyuuga Neji, lelaki dengan lekuk wajah tegas itu kini melangkah di koridor gedung Konoha International Laboratory. Dengan jubah mocca sepanjang lutut, dan kemeja biru nebula di baliknya dan kacamata hitam dengan rambut cokelat dikuncir kuda, pemilik manik lavender itu tiba di depan pintu salah satu laboratorium forensik yang ditujunya. Tangannya terangkat hendak mendorong pintu kembar ruangan itu.
"Andai saja korban penyerangan itu boleh diotopsi, pasti kita tak akan sesusah ini mengetahui senjata apa yang digunakan pelaku."
"Hn, konon Hyuuga muda itu bilang jasad mereka terlalu berharga untuk diotopsi."
"Tapi bukankah itu egois? Dia ingin pelaku pembunuhan keluarganya ditemukan namun dia menyulitkan penyidik dengan melarang tindakan otopsi."
DEG
Hyuuga Neji yang baru akan meraih gagang pintu kian tersentak. Diturunkannya tangannya yang akan meraih gagang pintu. Dua pekerja lab. bernametag Suigetsu dan Juugo yang rupanya sedang menuju ruangan yang sama dengannya kini berdiri di belakang Neji memandangnya heran. Neji yang berdiri memunggungi dua pemuda yang baru membicarakannya pun menunduk. Juugo yang bingung pada penampilan sosok yang asing baginya kini mengangkat sebelah alisnya.
"Err, siapa kau? Apakah ada yang bisa kami bantu?"
Naas pertanyaan yang Juugo tujukan sesopan mungkin diabaikan Neji yang kini melangkah menjauhi Juugo dan Suigetsu yang tak mengerti. Lelaki beriris lavender itu secara acuh meninggalkan ruang yang sebelumnya ingin ditujunya untuk melihat hasil pemeriksaan sampel rambut tempo hari. Neji terus melangkah cepat meninggalkan dua pemuda yang melongo memandang penyusutan punggungnya yang termakan panjang koridor.
Di sepanjang langkahnya, Neji berumpat tak terima.
"Cih, kau bilang menyulitkan? Kau tak akan pernah tau apa itu egois jika kau tak pernah merasakan keikhlasan hati seseorang yang ditinggalkan orang-orang yang disayangnya."
.
.
.
Gaara membaca beberapa lembar data yang diterimanya dengan seksama. Manik azurenya digulirkan dari sisi kiri hingga sisi kanan setiap lembar dengan cermat. Kemudian, dengan raut wajah yang masih menunjukkan keraguan, dia mendongak menatap pria tua di hadapannya.
"Anda adalah dosen senior di sini. Lalu, setelah anda tahu mahasiswa dengan prestasi gemilang sepertinya mendapat pekerjaan sebagai OB di salah satu perusahan, apa pendapat anda?"
Gaara menatap Orochimaru lekat-lekat. Kini dirinya sedang berada di taman depan gedung fakultas teknik di Konoha University. Dia menyimpulkan Hidan sebagai mahasiswa berprestasi gemilang berdasarkan data nilai-nilainya yang juga dimiliki pihak kampus. Tidak heran Deidara mencurigai OB itu. Siapa pun juga akan menganga tak percaya setelah tahu OB itu lulusan universitas terpandang.
"Tentu saja aku kecewa. Dia mengambil dua jurusan sekaligus dan mendapat pekerjaan OB setelah lulus. Sungguh jauh dari ekspektasiku saat dia masih di sini."
"Dua fakultas?" ulang Gaara dengan dahi mengernyit.
"Ya, dia itu diploma 3 jurusan arkeologi dan sarjana jurusan arsitektur. Jelas saja aku kecewa."
.
.
.
GUBRAK
Deidara jatuh terjungkal dari kursi kantornya. Dia tak habis pikir Hidan yang sedang dicurigainya adalah OB lulusan universitas kenamaan dari dua fakultas yang sangat berbeda bidang. Dan kenyataannya dia lulus dan bekerja sebagai OB.
Darimana Deidara tau? Sudah jelas dari wireless mic yang dipasang melingkar di pergelangan tangan Gaara dan terhubung langsung dengan laptop yang sedang di bawah komando lelaki beriris cornflower blue itu. Untuk penyelidikan ini pihak kepolisian memang terbilang niat. Namun tetap saja bagi Deidara, hal yang dihadapinya saat ini tetap terbilang konyol; menggunakan peralatan canggih untuk mencurigai seorang OB.
.
.
.
DUARR
Suara ledakan menggaung dan menggetarkan seisi gedung Konoha International Laboratory. Neji yang sebelumnya melangkah pelan seketika mempercepat langkahnya menuju tangga darurat. Dapat didengarnya jerit kepanikan penghuni gedung yang kini berlari searah dengannya.
"Cih, apalagi ini?" Dengan napas memburu, pemilik manik lavender itu berlari secepat dia bisa untuk segera turun menuju lobby gedung.
Dia melangkah turun tanpa pikir panjang tepat setelah menemukan tangga darurat yang dituju. Matanya sedikit mendelik ke kanan dan ke kiri manakala telinganya mendengar langkah kaki yang juga searah dengannya. Sampai akhirnya ada suara seseorang yang terperosok salah satu anak tangga akibat langkah yang tak karuan.
"To-tolong!"
Mendengar suara wanita yang terperosok di belakangnya, Neji berhenti melangkah. Dipalingkannya wajahnya memandang wanita bersurai cornflower blue dengan jepitan berbentuk mawar biru di rambutnya. Neji pun melangkah pelan mendekati wanita yang duduk merintih itu.
"Daijoubu desu ka?" Manik lavender Neji hanya mendapati gelengan lemah. Gadis itu tampak kesakitan dan terus meringisi pergelangan kakinya. Neji pun menyimpulkan bahwa kaki perempuan malang itu keseleo. Di dalam hatinya, Neji menyumpahi oknum tak bertanggung jawab yang menimbulkan ledakan yang membuat panik seisi gedung ini. Tak lama kemudian, tangannya digerakkan untuk menggendong wanita itu tanpa sepatah kata apa pun sebagai basa-basi.
Neji melangkah dengan seorang wanita berjas dokter dengan nametag Konan digendong ala bridal. Dari situ Neji menyimpulkan bahwa Konan tidak lebih dari sekedar pekerja Laboratorium yang tadi ikut berlari akibat kepanikan yang terjadi. Setelah berhasil tiba di lobby, dahi Neji mengernyit heran pada suasana gedung yang tak seramai sebelumnya. Namun atensinya kembali terbawa sekumpulan orang yang mengelilingi sesuatu di depan halaman gedung. Neji segera menurunkan Konan dari gendongannya. Segera wanita itu melangkah gontai mendekati salah satu penghuni lobby.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Konan yang sukses membuat Neji menguping penasaran.
"Telah terjadi ledakan bom bunuh diri yang menewaskan sejumlah orang dan pekerja lab. yang lalu lalang di halaman depan gedung."
DEG
Tak mau terlalu lama tersentak, Neji melangkah cepat menuju kerumunan. Di belakangnya, Konan meneriakinya. Namun Neji yang tak mendengar teriakan gadis itu tentu membuat gadis itu lebih memilih menyusul dengan langkah terseret.
"Hey! Tunggu aku!" seru Konan yang meneriaki Neji.
Dan Neji yang baru tiba di sekitar kerumunan pun membelah kerumunan dan melihat sosok yang dia duga sebagai yang memegang komando bom bunuh diri.
BRUK
Hyuuga Neji jatuh terduduk dengan lutut yang bersentuhan dengan aspal. Liquid bening enggan berlama-lama terbendung di pelupuk matanya. Kini Hyuuga muda itu menangis tanpa suara. Suaranya semakin terdengar parau ketika dia menggumamkan nama sosok yang terbaring mengenaskan di sana. Konan yang juga tiba di kerumunan hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya seolah tak percaya.
.
.
.
"Sakura-chan, cuacanya mendung. Tolong angkat jemuran di teras ya!" titah Temari yang sedang mencuci piring.
Sakura yang baru mencolok kabel penanak nasi ke stopkontak segera mengangguk paham. Sakura melepas apron putihnya dan melangkah menuju pintu depan. Begitu di teras, gadis bersurai soft pink itu meraih setiap helai pakaian yang dijemur. Mata hijaunya menatap mega mendung yang warna gelapnya tak kunjung lekang.
"Kenapa Gaara masih belum pulang?"
PRANG
Suara benda jatuh dari dalam rumah mengejukan pemilik manik emerald. Sakura pun beranjak melesat menuju dapur dengan pakaian yang baru diangkatnya kini tersampir di sebelah pundaknya. Di dapur, matanya dibuat terbelalak oleh Temari yang merapihkan pecahan piring dengan panik.
"Temari nee-san, ada apa?" Sakura meletakkan pakaian-pakaian itu di atas sofa ruang tamu yang memang tak jauh dari dapur. Sakura yang kembali kini mendekati Temari ke tempatnya membereskan pecahan piring. "Biar aku yang bereskan, kau duduklah dengan tenang."
Temari yang masih memasang raut cemas, hanya berdiri sambil mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Kemudian matanya diarahkan menatap Sakura yang masih berjongkok membersihkan lantai. Setelah lama menggigit erat bibir bawahnya, Temari mencoba berjongkok di hadapan Sakura dan menggenggam pundak kiri pemilik manik emerald.
"Sakura-chan, Gaara pulang larut malam ini."
Sakura mendongak dengan alis tertaut.
"Apa maksudmu?" tanya Sakura.
"Sebuah insiden terjadi dan membuat Uchiha Shisui merenggang nyawa. Gaara, Deidara, dan Neji sama-sama sedang berada di rumah duka."
Sakura membulatkan matanya tak percaya. Kemudian Sakura menggeleng cepat.
"Tidak. Kau pasti bohong. Shisui itu kan kepala polisi. Dia tidak mungkin mati dalam penyelidikan semudah itu!"
.
.
.
"Kita tak bisa melanjutkan penyelidikan ini. Jika saja kita langsung menghukum berat Sasori, oknum tak manusiawi itu pasti tak akan mengincar siapa-siapa lagi."
Gaara menoleh tak percaya pada sosok yang mengatakan itu. Neji dan Deidara masih membisu. Mereka masih memandang sendu gundukan tanah yang beberapa menit lalu menenggelamkan jasad rekan mereka yang sudah tak berbentuk.
"Tapi itu tak adil." Gaara mendelik pada Chojuro. Rahang Chojuro mengeras. Dia mencoba kembali berargumen.
"Tapi-"
"Kita semua sudah berjalan sejauh ini." Neji mendelik tajam pada Chojuro yang terlihat payah akibat terlalu pasrah. "Kalau kau mau menghina orang-orang yang sudah mati dalam penyelidikan ini dengan cara mundur, maka lakukanlah sendiri. Jangan menghasut orang lain."
Deidara mengangguk menyetujui argumen Neji yang tajam dan kritis.
"Ini termasuk bukti bahwa untuk ke depannya akan terus jatuh korban, hm. Jika takut mati, kalian semua mundurlah, hm. Aku berani jamin orang-orang yang mundur tak akan diincar oleh pelaku yang menyusahkan itu, hm."
Inuzuka Hana, Chojuro, Kurotsuchi, Darui, Omoi, Aburame Shino, dan sederet anggota kepolisian yang berada di sana dan mendengar pernyataan itu menatap tiga lelaki itu tak percaya.
"Rei-sama! Kau belom bilang apa-apa. Kau berani jamin kalau tim penyidik akan tetap aman kan? Kau tak akan membiarkan kami mundur di sini kan?" Kurotsuchi melangkah pelan mendekati Gaara.
Jelas semua mata tertuju pada pemuda Rei itu. Pemilik manik azure yang menyendu itu menggeleng pelan.
"Mulai sekarang kita jaga diri masing-masing. Aku tak bisa tanggung keselamatan banyak jiwa. Terima kasih banyak sudah mau bekerja sama denganku."
"Tapi dengan siapa kau akan bekerja sama jika kau melepas kami? Err, maksudku, kau tak mungkin hanya bekerja dengan dua orang itu kan? Lagipula, Hyuuga Neji itu sekedar jaksa." Hana menunjuk Neji dan Deidara bergantian.
"Ya, setidaknya dengan adanya jaksa sekonsisten Neji dan psikolog seahli Deidara, aku bisa yakin bahwa kasus ini akan tuntas."
.
.
.
Haruno Sakura, gadis bersurai soft pink itu berdiri sambil menggenggam payung yang melindunginya dari hujan malam ini. Kepalanya celingukan memandangi sejumlah orang yang keluar dari taman pemakaman yang baru dipijakinya. Dia di sini untuk menjemput seseorang. Ya, tentunya setelah melewati adu argumen berlebihan dengan Rei Temari.
Setelah sekian banyak orang yang dilihatnya, seorang pemuda berambut merah maroon dengan lingkar mata hitam yang khas muncul dan tampak terkejut melihat Sakura di sana. Sakura pun melangkah dengan senyum sumringah menghampiri Gaara.
"Gaara-san, ayo ikut aku ke kedai kopi yang baru kusinggahi siang tadi. Kopinya enak." Sakura tak sungkan menyeret tangan Gaara. Mencoba membawa Gaara tak berlama-lama dalam kesedihan.
.
.
.
Di kedai kopi yang beberapa menit lalu didatangi dua insan berbeda gender itu, Sakura menyodorkan secangkir cokelat panas kepada Gaara. Gaara agak mengernyit heran. Sakura bilang minum kopi enak di kedai kopi, namun justru cokelat panas yang disajikan untuknya. Tanpa ambil pusing, Gaara meraih cokelat panas itu dan mulai menyeruputnya.
"Jadi, berapa banyak anggota penyidik yang mundur?" Sakura membuka percakapan dengan tangan yang menopang dagu.
Gaara memutar bola matanya bosan. Bagaimana bisa Sakura bertanya dengan raut wajah sesantai itu ?
"Semuanya. Menyisakan aku, Deidara, dan Neji."
Mata hijau Sakura membulat sempurna. Tangan Sakura kini beralih mengusap tengkuknya dengan kikuk. Bukan jawaban ini yang dia inginkan. Dia tak bermaksud membuat lelaki di hadapannya semakin down.
"Gaara-san, kau tak harus melanjutkan semua ini." Sakura meraih pergelangan tangan Gaara yang berada di sisi cokelat panas. Sakura menatap sendu pada tangan kanan Gaara yang kini berada di antara kedua telapak tangannya. "Aku serius, jangan demi Sasori nii-san, kau jadi sesusah ini."
Gaara menggeleng singkat. Kemudian tangannya kanannya melepas pegangan Sakura. Dan tangan kiri lelaki itu meraih pundak kanan Sakura yang masih memasang raut wajah khawatir.
"Ini bukan untuk pribadi manapun. Lagipula mundur itu kan bukanlah apa yang diinginkan Shisui." Gaara melepas genggamannya dari pundak Sakura dan beranjak bangun. Diangkatnya dagu gadis bersurai soft pink yang masiih duduk agar mendongak. "Kau akan mendukungku kan, Sakura?"
Sakura mengangguk.
"Um, cahaya bisa datang darimana saja. Dengan keyakinan, kau pasti bisa, Kapten Gaara." Sakura membuat gestur hormat dengan tangan kanannya. Gaara hanya mengulas senyum tipis sambil membawa kepala gadis itu ke dalam rengkuhannya.
Gaara memeluk Sakura yang sedang duduk sambil mengusap surai pink itu pelan. Setidaknya, ada pemilik senyum yang ahli meringankan bebannya untuk saat ini.
"Hai'. Omae wa ore no hikari."
TBC
A/N:
Untuk saat ini, anggap saja Deidara sebagai psikolog. Karena kenyataannya dia memang penyidik kasus keuangan yang akan melakukan semuanya berdasarkan prinsip psikologis yang dikuasainya. (Mau ngakak baca kalimatku sendiri -,-)
Omong-omong, makasih penname EchaNM, Bang Kise Ganteng, Chiku Chiku Dei, & lotuce yang RnR chapter lalu. Makasih untuk pengguna ffn yang masih FnF, mau pun baca secara anonim alias save page seperti jaman-jaman Fura blm bikin akun ffn dulu XD #paannih Tapi itu kalau ada ya.
Mind to Review?
