We Love You, hyung..

.

Kim Tae Hyung-BTS,

Byun Baek Hyun-EXO (GS),

Park Chan Yeol-EXO,.

And other cast

(nama tokoh bisa berubah sebagaimana alur cerita)

.

.

EXO - BTS


Mimpi yang menakutkan itu berhasil membuat Taehyung terjaga sepanjang malam. Dia merasa sangat lelah dan benar-benar ingin beristirahat. Tapi sudah segala posisi ia coba agar dapat beristirahat kembali, sayangnya matanya masih enggan untuk terpejam.

Akhirnya Taehyung memilih bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke arah jendela rumah sakit.

Tampak pemandangan yang di lihat dari atas gedung yang belum pernah ia rasakan. Seperti lampu-lampu kota yang menghiasi ibu kota di malam hari. Dan pemandangan sebagian jalanan yang tertutup salju akhir tahun.

Taehyung menyentuh kaca jendela dengan jemarinya, tersenyum melihat suasana ibu kota yang tampak tidak ada kata istirahat. Walau jam sudah menunjukkan waktu tengah malam, tapi orang-orang di luar sana seakan enggan menyia-nyiakan kesan salju pertama yang turun.

Merasa cukup, Taehyung berjalan kembali ke tempatnya semula. Tapi hari ini dia merasa sangat bosan dan tidak tahu harus melakukan apa.

Ia melihat suasana kamar tempatnya di rawat beberapa hari. Barang-barang di atas nakas juga sudah mulai bersih. Taehyung ingat kalau besok dia akan meninggalkan rumah sakit ini. Dan tiba-tiba saja muncul keinginan untuk berkeliling rumah sakit. Tanpa berfikir panjang ia langsung berjalan keluar kamar inap.

Taehyung menoleh dan melihat dua perawat yang sedang berjaga ketika ia baru keluar dari pintu kamar. Selain itu juga dia melihat seorang anak perempuan yang sedang di rawat -terlihat dari selang infus yang menempel di tangannya- tengah duduk sambil di temani kedua orang tuanya. Tersirat sebuah senyuman kecil muncul dari bibirnya.

Hingga akhirnya ia memilih ke arah lain, yang tampak lebih sepi. Tidak tahu ke tempat mana yang akan di tuju, ia hanya mengikuti langkah kakinya berjalan. Dan tanpa Taehyung sadari, ia sudah berada di puncak gedung rumah sakit.

Angin malam yang berhembus kencang dan suhu udara yang sangat dingin karena salju yang turun tidak mempengaruhi tubuhnya yang sebenarnya belum sembuh total.

Taehyung masih sadar sebenarnya. Dia juga tahu kalau dia sedang berada di tempat yang tidak lazim untuk seorang pasien seperti dirinya. Dia melihat langit gelap, cahaya lampu kota dari atas, dan salju yang turun. Tapi ia tidak bisa menghentikan langkah kakinya yang terus berjalan menuju pinggir atap.

Dan akhirnya dia sampai di sisi atap gedung. Hembusan angin malam terasa semakin kencang ketika berada di ujung atap. Tapi itu tidak mempengaruhi langkahnya untuk berhenti berjalan.

Sampai akhirnya salah satu kakinya melangkah berpijak pada tepian gedung. Ia tersenyum simpul.

"indahnya..."

Pemandangan yang di lihat dari atas benar-benar indah dan mengagumkan. Bagaimana jika di lihat lebih atas lagi? Tapi sayanynya tidak bisa. Karena ia sudah berada di puncak paling atas gedung. Kecuali jika ia memiliki sayap dan terbang.

Taehyung mencoba memejamkan matanya. Lalu membentangkan kedua tangannya ke udara.

Ah menyenangkan jika hidup seperti burung...

Terbang kemana saja...

Dia tetap hidup. Entah ia hidup bersama keluarganya, atau sendiri.

Dan setelah pergi dari rumah sakit ini, apakah ia bisa hidup tanpa beban seperti seekor burung yang terbang bebas?

'brak!'

"tuan!"

Suara asing terdengar dan mengalihkan perhatian Taehyung. Ia menoleh ke belakang dan melihat beberapa orang dari jarak sekitar lebih dari 10 meter muncul dari pintu keluar. Selain itu juga ia melihat seseorang yang berlari ke arahnya.

Seseorang itu wajahnya tidak asing bahkan Taehyung sangat ingat betul siapa orang itu.

"a..yah..."

Mata Taehyung melebar dan tertegun melihat sang ayah berlari ke arahnya. Tapi dia tidak menyadari sedang dimana ia berdiri. Ketika ia hendak berbalik, ia merasa tak ada pijakan di bawah kakinya.

Ekspresinya kini berubah panik. Apakah ia akan terjatuh? Apakah kehidupannya akan berakhir hari ini?

'srettt'

Brukkk!


We Love You, Hyung...


.

.

"Dia baik-baik saja, biarkan dia istirahat sejenak" ucap salah satu dokter jaga setelah memeriksa kondisi Taehyung. Dan salah satu perawat menutup sebagian tubuh Taehyung dengan selimut tebal.

Setelah itu mereka meninggalkan kamar inap dan membiarkan ayah dan anak berdua disana.

Chanyeol mengusak rambutnya ke belakang dan mengambil nafas panjang. Lalu ia duduk di kursi yang tidak jauh dari ranjang tempat Taehyung berbaring.

Pikirannya masih teringat pada kejadian beberapa saat yang lalu. Dimana ia hampir melihat Taehyung terjatuh dari atas gedung jika saja ia tidak segera menariknya.

Tapi tarikannya terlalu kencang hingga membuat tubuh Taehyung terbanting dan hampir kehilangan kesadaran. Tapi untunglah tidak terjadi cidera berat pada Taehyung.

Chanyeol menatap Taehyung yang sedang terpejam. Dan saat itulah Chanyeol langsung teringat pada Baekhyun mengingat bagaimana miripnya mereka berdua.

Pelan-pelan Chanyeol mengangkat tangannya, lalu mengusap rambut Taehyung yang menutupi dahinya. Dan sebuah senyuman hangat muncul dari bibirnya membayangkan bagaimana reaksi istrinya nanti ketika dia membawa anaknya kembali ke rumah.

Ya, Chanyeol tidak sabar untuk segera kembali ke rumahnya dan bertemu dengan istri juga ketiga malaikat kecilnya lalu memberi mereka kejutan dengan membawa anggota keluarga nya kembali. Tapi malam sudah semakin larut dan Chanyeol juga merasakan tubuhnya sangat lelah. Selain itu kondisi Taehyung juga kembali melemah dan Chanyeol tidak berani untuk mengambil resiko jika ia bersikeras untuk kembali saat ini juga di saat cuaca dan salju semakin lebat.

"kenapa..."

Chanyeol hampir terperanjat ketika dalam situasi tenang dan sepi terdengar suara lain. Sampai ia tersadar bahwa Taehyung yang berbicara. Namun dalam keadaan terpejam.

"Tae, kau sudah sadar?" Chanyeol mendekatkan tubuhnya meyakinkan bahwa Taehyung sedang mengigau.

Tapi ternyata Taehyung membuka sedikit matanya dan langsung menatap ke pria yang ada di hadapannya. "kenapa kau datang kesini?"

Pertanyaan itu lantas membuat Chanyeol terdiam. Tidak mengerti apa yang di ucapkan putra sulungnya.

"apa yang kau katakan?" tanyanya dengan suara pelan.

"pulanglah. istri dan anak-anak kesayanganmu mencarimu"

Chanyeol terdiam. Sejenak ia mencoba mencerna apa yang di katakan oleh Taehyung. Dan kemudian Chanyeol kembali menatap Taehyung. Dia juga mencoba memegang lengan putranya.

"Taehyung, dengar..."

"tidak" sanggah Taehyung cepat. Bahkan ia juga menolak tangan ayah tirinya itu.

Chanyeol mengambil nafas dan menatap nyalang. Lalu ia menunduk dan mencoba mundur menyisakan jarak yang cukup jauh. Mencoba menenangkan diri sejenak.

Ia mengerti bahwa putranya sangat marah. Benar-benar marah. Sangat terlihat dari bagaimana cara Taehyung menatap dan bicara padanya seperti layaknya orang asing. Padahal Ayahnya sendiri!

Ya, Chanyeol tahu dan hal tersebut tidak dapat di hindari mengingat sudah berminggu-minggu masalah itu terjadi dan mereka membiarkan Taehyung, dengan asumsinya, berpikir bahwa ia di benci oleh keluarganya sendiri. Chanyeol juga sudah menduga bahwa Taehyung akan seperti ini, marah padanya, dia sudah mewanti-wanti sebelumnya.

Dan saat inilah ia harus melakukan pendekatan.

"aku paham, tapi setidaknya dengarkan aku. Kau dan ibumu-tidak, maksudku kami, sebenarnya ini semua salah paham, ibumu tidak bermaksud mengusirmu-"

"tidak bermaksud mengusirku bahkan aku pergi selama ini kalian tidak peduli" balas Taehyung lirih, dengan beralih menatap benda lain.

"karena ibumu mengira kau berada di rumah ayahmu-"

"bahkan ayahku juga tidak mau aku berada di rumahnya-"

"Dengarkan aku Taehyung!" sentak pria itu, setelah akhirnya kesabarannya telah habis.

Taehyung terkejut sebenarnya, tapi rasa kesalnya menguatkan tubuhnya untuk tidak terlonjak mendengar suara tinggi ayah tirinya yang baru pertama kali ia dengar.

"ibumu mengira kau sudah tidak nyaman berada di rumah kami, karena itu ibumu meminta kau tinggal dengan ayahmu karena kami mengira kau rindu dengan ayahmu!"

Dan Chanyeol mulai merendahkan nada suaranya. "Tapi kami salah, ternyata kau pergi dan menghilang. Kau tahu? Ibumu bahkan menangis sepanjang malam dan hampir seharian tidak mau makan, karena apa? Karena dia mengkhawatirkanmu. Dia ketakutan. Jika kau melihatnya, kalau biasanya Jesper menunggumu pulang di depan pintu, sekarang ibumu yang menunggumu disana'' Chanyeol tertunduk, tersenyum miris mengingat kelakuan baru istrinya sekarang.

"karena tidak ada yang mengurus Jiwon, mengasuh Jackson, dan menjaga Jesper. Dan kau, kau sebenarnya hanya mengkhawatirkan keadaan ibuku" Taehyung terkekeh disana. Dia membayangkan ibunya tampak berantakan karena harus mengurus ketiga putra 'kesayangannya' dan yang paling 'dicintai' sehingga melupakan penampilannya yang selalu rapih. Dan pria itu, tuan Park Chanyeol, mana peduli dengan kondisinya yang bukan anak kandungnya.

Chanyeol hampir tersulut emosinya ketika mendengar ucapan itu, bahkan tangannya sudah terkepal keras dan bisa jadi saat itu juga ia memukul anak kurang ajar yang mengatakan perkataan yang kurang pantas tentang ibunya bahkan juga dirinya. Tapi dia menyadari sebenarnya kondisi Taehyung saat ini dalam keadaan terpuruk, bahkan anak itu terlihat pucat dan terus menggigit bibirnya, persis seperti kelakuan ibunya ketika pikirannya sedang buruk dan kacau.

Dan Taehyung hanya bisa mengeratkan genggaman tangannya pada pakaian yang ia kenakan. Dia sadar kalau dia sudah bicara tidak sopan, bahkan dia siap untuk mendapat pelajaran dari ayahnya. Tapi yang ia lihat keadaan justru semakin sunyi dan ayahnya hanya menatapnya lurus.

"ya, kau benar. Aku hanya mengkhawatirkan kondisi ibumu" sahut Chanyeol, dan Taehyung sedikit terkejut mendengarnya.

Tapi Taehyung mengerti, memang posisinya bukanlah hal yang sangat penting di keluarganya, walau nyatanya sebenarnya dadanya merasa sedikit sakit mengingat kenyataan itu "ya, aku tahu"

"kalau aku tidak mengkhawatirkan kondisi ibumu, aku...tidak mungkin berkeliling kota, hanya untuk mencarimu. Dan jika aku tidak mengkhawatirkan kondisi ibumu," Chanyeol menjeda untuk mengambil nafas sejenak. "mungkin kita tidak akan saling kenal"

Taehyung mengangkat kepalanya dan sedikit melirik ke arah ayah nya yang masih setia berdiri menghadapnya. Dan disana ayahnya tersenyum simpul.

"kau ingat dulu? Saat itu kau masih kelas 1 SD, dan tiba-tiba kau memintaku untuk membawa ibumu ke dokter karena kau bilang ibumu sedang sakit, padahal kita tidak saling kenal"

Taehyung diam-diam mencoba berusaha mengingat masa kecilnya yang sudah hampir ia lupakan. Saat itu tubuh ibunya terasa panas dan dia langsung berlari keluar rumah untuk mencari tetangga berharap membantunya membawa sang ibu ke rumah sakit. Tapi saat itu kondisi sekitar rumah sedang sepi sehingga ia nekat berjalan jauh sampai ke jalan raya dan akhirnya bertemu dengan seorang pria muda yang sedang menunggu bus dan meminta pertolongannya. Beruntung pria itu mau menolongnya dan mau membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Dan pria itu adalah pria yang ada di hadapannya ini, yang menikahi ibunya dan menjadi ayah tirinya.

Taehyung juga ingat kalau ayah dan ibunya bekerja di satu perusahaan yang sama, namun berbeda divisi sehingga mereka saat itu belum saling kenal, lalu kemudian pria yang sekarang menjadi ayahnya itu sering berkunjung ke rumah sewa yang terbilang sederhana yang menjadi tempat tinggal Taehyung dan ibunya saat itu.

Dan Chanyeol masih senang hati untuk bercerita tentang masa lalunya "kami mungkin masih bisa bertemu, tapi kami tidak yakin kalau kami akan berkeluarga sekarang. Bahkan aku juga tidak yakin bisa menikah dengan ibumu"

Lalu Chanyeol berjalan sedikit mendekat ke arah Taehyung, dan dia duduk di tepi ranjang namun masih dengan jarak yang cukup jauh karena tahu Taehyung sedang tidak ingin di dekati olehnya.

"saat itu kami memang menjalin hubungan, dan aku mencoba mengajaknya ke hubungan yang lebih serius tapi kau tahu? Ibumu langsung menolak ku mentah-mentah, dan kau tahu apa alasannya?" tanya Chanyeol dan Taehyung tanpa sadar menyahut dengan menggelengkan kepalanya dengan gerakkan cukup pelan "aku berkata, aku mau menikahimu, tapi kalau tidak keberatan, bisakah kau berikan anakmu ke ayah kandungnya dan kita hidup berdua dari awal? Dan dia langsung menamparku dan hubungan kami berakhir saat itu"

Taehyung membelalakan matanya mendengar cerita itu, dia ingat kalau saat itu sebelum ibunya menikah lagi, Taehyung kecil memang tidak bertemu lagi dengan Chanyeol sampai beberapa bulan, tapi Taehyung juga tidak tahu kalau ayahnya ini berkata seperti itu dan membuat hubungannya dengan ibunya berakhir. Tapi Taehyung kecil bertemu kembali dengan Chanyeol ketika dia sedang berangkat sekolah dan Chanyeol mengantarnya.

"Ibumu bilang, lebih baik dia kehilangan diriku daripada harus menjauhkanmu dari hidupnya. Ibumu juga bilang dia masih sanggup hidup berdua denganmu dan memintaku untuk mencari wanita lain" dalam keadaan tertunduk, Chanyeol mencoba meraih lengan Taehyung dan memegangnya, pria itu juga tersenyum dan mencoba menatap putranya "dan aku tahu, kalau ibumu benar-benar sangat menyayangimu, dan seharusnya aku tahu mencintai seseorang harus menerima segala apa yang di miliki oleh orang yang kita cintai dan menerima segala konsekuensinya. Padahal...saat itu banyak yang menyukai ibumu, bahkan anak dari presiden direktur hampir mendekati dan ingin melamar ibumu, tapi ibumu justru memilih menerima ku yang hanya karyawan biasa, dan itu juga karena kau, karena kita sudah saling kenal jadi aku lebih mudah mendekati ibumu dan melamar untuk yang kedua kalinya"

Chanyeol tersenyum bodoh saat mengingat kembali masa-masa mudanya. Bertemu dengan cintanya yang ternyata sudah memiliki anak. Untung saja Taehyung kecil saat itu dengan polosnya sering menyapa dan mengajaknya bicara sehingga hubungan mereka menjadi dekat. Dan saat itu Baekhyun yang sudah menolak Chanyeol untuk menjadi suaminya pun menerimanya kembali karena Taehyung terlihat dekat dengan Chanyeol setelah dengan ayah kandungnya, Daehyun.

Namun senyum Chanyeol kembali memudar dan menurunkan tangannya yang sempat memegang pundak Taehyung walau hanya sebentar.

"jadi, sekarang kau boleh membenciku karena aku tidak bisa memperhatikan mu padahal kau sendiri sudah mau menjadi anakku dan menerimaku sebagai ayahmu, dan jika kau marah maka marahlah tapi kepadaku, bukan ibumu atau adik-adikmu" pintanya dengan suara terdengar serak. Jika Taehyung mau menatapnya, ayahnya itu sudah siap untuk menangis.

Kemudian terdengar helaan nafas panjang "tapi aku tidak memaksa, pertemuan kita sekarang benar-benar mendadak, dan aku mengerti dengan kondisi perasaanmu sekarang. Jadi aku akan memberimu waktu, dan aku harap kau mau kembali ke rumah" kemudian Chanyeol bangkit dan berdiri. Dia melepaskan jaket besarnya yang cukup tebal dan memasangkannya ke tubuh Taehyung yang hanya menggunakan piyama milik rumah sakit disini.

"musim dingin sudah datang, udara benar-benar sangat dingin. Aku akan mencari tempat menginap disini sampai kau sehat kembali. Cepat sembuh, anakku" ucapnya pelan sambil menepuk pundak Taehyung dan kemudian beranjak dari kamar inap.

Taehyung tak dapat berkata apa-apa. Dia hanya melihat sosok ayahnya pergi dan menutup pintunya masih dengan posisinya yang memeluk kedua tangannya satu sama lain.

Kemudian Taehyung menatap kosong lantai klinik disana dan mengingat kembali ucapan terakhir ayahnya sebelum pergi. Apa benar yang di ucapkan ayahnya barusan? Tanpa disadari bibirnya tersenyum dan kedua tangannya meraih ujung jaket milik ayahnya dan mengeratkan ke tubuhnya.


We Love You, Hyung...


.

.

Ketidak hadiran seseorang di sebelahnya membuat Baekhyun terbangun dari istirahatnya dan bertanya-tanya. Kemana suaminya pergi?

Sampai ia segera mengambil ponselnya untuk menghubungi suaminya, tapi sebuah pesan singkat langsung mengurungkan niatnya itu.

'aku ke ibu kota untuk mengurus sesuatu, jangan khawatir, aku akan segera kembali. Jaga kondisimu dan jangan terlambat makan. Aku mencintaimu'

Baekhyun hanya diam menatap tidak mengerti, tapi akhirnya ia memilih menyimpan ponselnya di atas meja dan beranjak dari tempat tidurnya. Dan ia langsung di sambut oleh senyuman manis dari bayi kecilnya yang sudah bangun lebih dulu.

"kau sudah bangun hmm? Ayo kita buatkan sarapan untuk hyungmu" Baekhyun mengangkat tubuh Jiwon dan menggendongnya, membawa keluar dari kamar.

Dengan langkah hati-hati Baekhyun melangkah menuruni tangga, masih sambil menggendong Jiwon. Sebenarnya ia masih merasa mengantuk dan tubuhnya pun sangat lelah. Tapi demi menjalankan kewajiban sebagai ibu, Baekhyun menyampingkan rasa lelahnya itu.

Sampainya di lantai dasar, tepatnya di dapur, ketika ingin menyiapkan makanan, ia mendapat selembar kertas berisik pesan yang tertempel di kulkas. Baekhyun mengambil kertas itu dan langsung membacanya.

'aku sudah membuatkan makanan untuk kalian. Cukup hangatkan saja. Makan yang banyak. Love you'

Baekhyun langsung tersenyum dan kembali menempelkan kertas itu ke kulkas.

"ayahmu jadi romantis akhir-akhir ini" ucapnya sembari mencium pipi bayinya.

Di tempatkannya Jiwon di atas kursi bayi dengan posisi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Lalu Baekhyun mengambil beberapa makanan yang berada di dalam lemari dan kulkas. Baekhyun sempat menyernyit, ternyata Chanyeol membuatkan cukup banyak masakan. Lalu kapan suaminya memasak jika di pagi hari ini saja beberapa masakan sudah di hidangkan? Apakah Chanyeol semalam tidak tidur?

'kau bekerja sangat keras suamiku' gumam Baekhyun memuji dalam hati. Dan malam ini Baekhyun berniat untuk membuatkan makanan spesial untuk Chanyeol setelah Chanyeol pulang nanti.

Beruntung hari ini adalah hari libur akhir pekan. Jadi Baekhyun tidak terlalu banyak melakukan aktifitas dan anak-anaknya bisa tidur lebih lama jadi ia bisa melakukan pekerjaan di rumah tanpa tergesa-gesa.

Selang dua jam, rumahnya kedatangan tamu cukup jauh. Baekhyun terkejut karena Kyungsoo datang ke rumahnya tanpa memberitahu. Di sapanya sahabat semasa remaja dan segera membawanya masuk ke dalam.

"apakah kedaimu hari ini sedang libur?" tanya Baekhyun yang saat itu sedang menimang Jiwon.

"Ya, sebenarnya kami sedang berbelanja bahan-bahan makanan. Tapi Jisoo keadaannya sedang kurang baik. Kebetulan kami lewat jalan yang dekat dengan rumahmu jadi suamiku menyarankan untuk kesini" jawab Kyungsoo yang masih memperhatikan putra sulungnya yang sedang bermain dengan kedua putra Baekhyun.

Baekhyun mengedarkan pandangan sebentar, dan saat Kyungsoo datang tadi, tidak ada laki-laki dewasa bersamanya. "lalu dimana suamimu?"

"dia yang berbelanja, setelah selesai dia akan kesini" sahut Kyungsoo sambil tersenyum. "ngomong-ngomong apakah Chanyeol masuk kerja?"

Baekhyun menggeleng pelan "tidak, tapi hari ini dia ada urusan, pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke ibukota"

"dia benar-benar pekerja keras dan sangat bertanggung jawab" puji Kyungsoo. Dan Baekhyun mengangguk setuju dengan perkataan Kyungsoo itu.

Mereka diam sejenak untuk memperhatikan putranya masing-masing. Mereka tersenyum karena anak mereka dapat bermain dengan baik dan terlihat cukup dekat.

Kyungsoo menoleh dan menatap wajah Baekhyun. Sahabatnya itu masih tampak pucat dan kantung matanya masih terlihat sedikit menghitam. Tapi setidaknya Baekhyun tidak terlihat memprihatinkan seperti saat dia mendengar bahwa Taehyung hilang.

Dan sebenarnya Kyungsoo tahu kalau Chanyeol sedang pergi. Dan Kyungsoo tahu Chanyeol sebenarnya pergi ke ibu kota untuk menjemput putra sulungnya, Taehyung.

Pagi tadi Kyungsoo mendapat pesan dari Chanyeol. Pria itu meminta Kyungsoo untuk menemani istrinya di rumah karena kondisi Baekhyun masih belum stabil. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan jika Baekhyun di tinggal pergi sendiri bersama ketiga anaknya.

Awalnya Kyungsoo sempat ingin menolak karena ini adalah jadwal rutin untuk membeli bahan-bahan makanan bersama Jongin. Tapi setelah Kyungsoo tahu alasan Chanyeol pergi ke ibu kota untuk menjemput Taehyung, Kyungsoo langsung berubah pikiran.

Dan keinginan membuat pesta makan malam langsung terlintas di pikiran Kyungsoo.

"kau sudah makan?" tanya Kyungsoo tiba-tiba.

Baekhyun menoleh dan mengangguk. "ya, sedikit. Chanyeol yang membuat sarapan sebelum ia pergi"

"bagaimama jika kita buat masakan untuk malam nanti?"

Baekhyun menatap bingung "makan malam?sekarang kan masih pagi. Dan bukankah besok kau harus..."

"tidak apa-apa. Masih ada besok untuk membereskan kedai. Ayo!" tanpa menunggu jawaban, wanita bermata bulat itu segera menarik tangan Baekhyun menuju dapur untuk membuatkan masakan yang paling terlezat yang pernah ia buat.

.


We Love You, Hyung...


.

.

Setelah memakan waktu beberapa jam untuk berfikir dan menimang-nimang, akhirnya Taehyung memilih ajakan ayahnya untuk kembali ke rumah.

Sejujurnya ada perasaan takut dan enggan untuk bisa kembali ke rumah. Sisi lain dalam hatinya juga terus berkata apakah ayahnya berbohong mengenai kondisi ibunya supaya Taehyung mau kembali ke rumah. Tapi walaupun begitu ketika ayahnya bercerita sebelumnya, Taehyung tidak menemukan celah kebohongan yang di simpan ayahnya.

Sampai akhirnya sebelum ia keluar, Taehyung berkali-kali meyakinkan dirinya atas ucapan ayahnya. Walaupun jika benar soal kebohongan ayahnya, setidaknya Taehyung ingin di berikan kesempatan untuk meminta maaf pada ibunya.

Sambil membawa jaket tebal milik ayahnya, dengan langkah hati-hati Taehyung berjalan keluar dari kamar inap. Dia menoleh ke kanan-kiri mencari keberadaan ayahnya dan ternyata ayahnya sedang duduk di ruang tunggu, dalam keadaan tertidur.

Taehyung coba berjalan mendekat, disana tidak banyak orang. Hanya ada satu dua anggota keluarga pasien dan juga perawat yang menjaga. Sampai di dekat ayahnya, ia duduk di sampingnya dan memperhatikan sejenak ayahnya yang sedang tidur.

Dari jarak dekat, tampak jelas wajah lelah karena kurang tidur yang Taehyung lihat dari wajah ayahnya. Sehingga membuat Taehyung segan untuk membangunkan ayahnya yang begitu pulas tertidur walau dalam keadaan duduk.

Hingga akhirnya anak itu memilih diam menunggu sampai ayahnya terbangun dengan sendirinya.

Selama menunggu, Taehyung hanya duduk tenang dan melihat keadaan sekitar, sesekali juga ia menyaksikan acara siaran televisi yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Lalu ia melihat beberapa gambar yang di pajang di dinding rumah sakit. Salah satunya ada gambar foto beberapa dokter yang berbaris rapih seolah menyapa para pasien dan tamu yang datang ke rumah sakit.

Taehyung juga melihat gambar dokter yang ia kenal, yang ia ketahui adalah ayah dari Jungkook. Taehyung tersenyum karena melihat kondisi keluarga Jungkook yang begitu ramah dan harmonis. Ada rasa perasaan iri tentunya, tapi Taehyung tahu bahwa setiap anak berada dalam kondisi kehidupan yang berbeda. Hanya apakah kita dapat mensyukuri dengan kondisi masing-masing ataukah tidak.

"Taehyung?" suara baritone di sebelahnya mengalihkan perhatiaan Taehyung. Ternyata ayahnya sudah bangun.

Chanyeol langsung mengusap wajahnya dan duduk tegap melihat putranya sudah duduk di sebelahnya. Dan Taehyung disana tersenyum menatapnya.

"ayah, ayo kita pulang"

.

...

.

Tidak ada yang dapat membantu Chanyeol untuk menahan senyumannya. Pria itu terus tersenyum menunjukkan betapa bahagianya ia saat ini. Ia menengok ke sebelahnya sesekali. Melihat putranya yang duduk di sebelahnya yang sedang melihat jalanan di luar. Putranya sudah kembali.

Chanyeol juga tidak dapat membayangkan seperti apa ekspresi istrinya ketika tahu putra sulungnya telah kembali setelah menghilang beberapa minggu.

Tiba-tiba Chanyeol teringat dengan sesuatu yang sebelumnya ia bawa sebelum berangkat ke ibu kota.

"Taehyung. Coba buka itu" titah Chanyeol menunjuk ke arah dashboard di depan Taehyung.

Taehyung bingung. Tapi ia mengikuti perintah ayahnya. Dan setelah membukanya, ia melihat sebuah kotak.

"ambil dan buka lah" perintah ayahnya lagi.

Taehyung mengambil kotak yang terbungkus rapih yang di maksud ayahnya. Ia melihat sekeliling kotak itu lalu mencoba untuk membukanya. Dan setelah membukanya, Taehyung membuka matanya lebih lebar dan menoleh ke ayahnya. Menanti jawaban dari ayahnya.

Dan disana Chanyeol hanya tersenyum "kau sudah besar kan? Ambil lah. Itu hadiah untukmu"

Sebuah ponsel pintar keluaran terbaru! Meski Taehyung belum pernah memiliki ponsel, tapi ia cukup update dengan info barang elektronik terbaru. Dan ponsel yang di pegangnya ini termasuk dalam kategori ponsel mahal!

"ta..." belum selesai bicara. Chanyeol sudah menginterupsi.

"apapun yang terjadi. Jangan jual ponsel itu. Itu hadiah dariku. Jika kau menjualnya, sama berarti menjual pengorbanan ku"

Dahi Taehyung mengerut tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan ayahnya. Tapi ia juga tidak dapat menahan senyumnya karena mulai hari ini ia memiliki sebuah ponsel. Jadi ia tidak harus di perolok karena ketinggalan jaman dan tidak lagi terus terusan meminjam ponsel Jimin.

"ponselmu sudah aktif. Nomornya dan pulsanya sudah ayah belikan. Jadi kau hanya tinggal memakainya." sambung Chanyeol kemudian.

Taehyung menyangguk. Matanya tidak bisa lepas dari ponsel mahal tersebut. Dan ia juga tidak dapat berbohong seperti apa rasa antusias untuk menggunakan ponsel itu.

Tapi di lain itu, ada perasaan yang terus mengganggu Taehyung. Ia menyimpan kembali ponselnya di dalam dashboard. Lalu melirik ke ayahnya.

"aa...ayah. Apakah aku boleh menanyakan sesuatu?"

"tanyakan saja. Jangan malu-malu" sahut Chanyeol masih fokus mengendarai.

"soal ibu...apakah...apakah..."

"ya?" Chanyeol menoleh sebentar ke arah Taehyung

"apakah...selama aku pergi, ibu benar-benar mengkhawatirkanku?"

"tentu saja!" sahut Chanyeol cepat. "Kenapa kau meragukan kekhawatiran ibumu? Kau tahu? Dia menjadi sulit makan. Bahkan dia tidak fokus melakukan kegiatan seperti biasa. Karena apa? Karena dia-mengkhawatirkan-kondisimu. Dan kau tahu? Dia tidak berhenti menyalahkan dirinya setelah tahu bahwa orang yang menolongnya adalah putranya sendiri. Kau. Setiap malam dia mengigau, dia menangis. Ibumu memang tidak bercerita, tapi aku bisa mengerti sedalam apa rasa takut, cemas, khawatir tentang kondisimu. Dan kau tahu apa yang paling ia takuti selain kondisimu?" tanya Chanyeol dan Taehyung langsung menggeleng "Dia takut kau membencinya"

Taehyung tertegun. Tidak tahu apakah dia harus menangis atau terharu mendengar cerita dari ayahnya mengenai ibunya. Tapi Taehyung benar-benar tidak menduga tentang apa yang terjadi pada ibunya saat ia tidak ada di rumah. Tapi...apakah yang di ucapkan ayahnya benar?

"ayah...tidak berbohong kan?" tanya Taehyung yang masih meragukan ayahnya itu.

Dan Chanyeol langsung menatap dengan pandangan serius "aku bertaruh diriku sendiri"

"jangan mengatakan hal yang belum tentu kita sanggup melakukannya" gumam Taehyung dan hanya di respon oleh senyuman kecil dari Chanyeol.

'drrrtttt drrrtttt'

Ponsel Chanyeol bergetar. Chanyeol melirik ponselnya dan ada pemberitahuan dari salah satu rekan kerjanya. Masih dalam keadaan fokus menyetir ia membuka pesan itu.

Taehyung menatap ayahnya, ekspresi wajah ayahnya yang semula cerah langsung berubah saat membaca pesan. Tapi ia tidak melihat ayahnya mengumpat. Hanya saja mimik wajah ayahnya menjadi berubah serius.

Lalu Taehyung kembali menatap ke arah jalan. Ia belum pernah ke daerah ini sebelumnya, jadi ia tidak mengerti kemana arah mereka pergi. Tapi setidaknya Taehyung masih tahu arah untuk keluar dari ibu kota. Namun tampaknya ayahnya jutru mengarahkan mobilnya ke tempat lain. Tepatnya pusat ibu kota.

Dan di salah satu tempat parkir milik sebuah gedung pencakar langit, ayahnya menghentikan mobilnya disana.

"kita sepertinya akan terlambat sampai rumah. Ayah harus bertemu dengan atasan ayah. Kau tunggu di mobil. Tapi jika kau lapar, belilah makanan apapun yang kau mau. Ini pakai kartu ayah. Jadilah anak yang baik. Mengerti?" ucapnya sambil mengusap kepala Taehyung sebelum ia beranjak dari mobilnya.

Taehyung melihat sosok ayahnya dari kaca spion. Ayahnya itu tampak sangat gagah walau di lihat dari sisi lain. Dan walaupun Chanyeol bukanlah ayah kandungnya, tapi diam-diam Taehyung mengagumi ayahnya tersebut.

.


We Love You, Hyung...


.

Sudah hampir lima jam lebih Kyungsoo berada di rumah Baekhyun. Anak-anak pun saat ini sedang beristirahat tidur siang di lantai dua. Masakan untuk nanti malam juga sudah di siapkan. Jadi malamnya hanya cukup di hangatkan.

Dua jam yang lalu suaminya, Jongin, sudah kembali dan hendak menjemput Kyungsoo. Tapi karena Kyungsoo tidak tega meninggalkan Baekhyun dan mengurus anak-anaknya sendirian di rumah, akhirnya ia meminta ijin pada Jongin untuk bisa lebih lama menemani sahabatnya itu.

Beruntung Kyungsoo memiliki suami yang sangat pengertian. Jadi Kyungsoo bisa menemani Baekhyun sampai Chanyeol pulang dan juga bertemu dengan Taehyung, anak laki-laki yang pernah ia rawat saat balita. Kyungsoo tidak menduga kalau ia bisa bertemu kembali dengan anak itu. Tapi alasan yang membuat mereka bertemu baginya cukup menyedihkan. Karena itu ia sendiri tidak sabar untuk dapat bertemu kembali dengan Taehyung.

Bicara soal Taehyung, Baekhyun masih belum tahu kalau sebenarnya Chanyeol ke ibu kota adalah karena ingin menjemput Taehyung. Kyungsoo sengaja merahasiakannya karena Chanyeol sendiri yang meminta. Jadi sampai saat ini ia masih menyimpan rahasia dan membiarkan ini menjadi kejutan untuk Baekhyun.

Dan mengenai Chanyeol yang masih di ibu kota, terakhir Kyungsoo mendapat pesan dari Chanyeol saat pria itu berhasil menemukan Taehyung dan membujuk Taehyung untuk pulang. Tapi sampai saat ini ia masih belum mendapatkan kabar terbaru dari Chanyeol.

Ada perasaan cemas tentunya. Kyungsoo takut kalau Taehyung kecewa dengan orang tuanya terutama ibunya sehingga tidak ingin kembali. Tapi Kyungsoo tetap yakin Taehyung mau kembali ke rumahnya. Karena, walau ia belum lama bertemu kembali dengan Taehyung, Kyunysoo tahu kalau Taehyung sangat menyayangi ibunya.

Selang setengah jam kemudian Kyungsoo masih juga belum mendapatkan kabar terbaru. Dan pesan yang ia kirim juga belum di baca Chanyeol. Merasa cukup lelah dan bosan menunggu, akhirnya ia menyimpan poselnya ke dalam saku dan kembali mengasuh putri kecilnya yang mulai terbangun setelah puas beristirahat.

Kyungsoo langsung membawa Jisoo ke lantai satu dimana Baekhyun berada. Disana Baekhyun sedang duduk tenang sambil menyaksikan acara televisi sendirian .

Kyungsoo berjalan mendekati lalu kemudian duduk di samping Baekhyun. Baekhyun menoleh dan tersenyum sebentar menyambut kedatangan Kyungsoo di sebelahnya.

"apa dia lapar?" tanya Baekhyun yang melihat ke arah Jisoo.

Seperti pada umumnya, jika bayi terbangun selain karena buang air, pasti karena lapar. Atau mungkin karena suara bising. Tapi disini keadaan cukup tenang dan anak-anak yang lain masih tertidur.

"mungkin belum terbiasa tidur di tempat orang lain" jawab Kyungsoo sambil menepuk pelan punggung putri kecilnya.

"biar aku buatkan susu untuknya ya"

Kyungsoo menggeleng "tidak perlu repot-repot. aku bawa kok"

"tidak apa-apa. Tunggu sebentar" Baekhyun segera bangkit dan beranjak menuju dapurnya. Meninggalkan Kyungsoo dan Jisoo yang masih sedikit mengantuk.

Sambil mengelus-elus rambut putri kecilnya, Kyungsoo menyaksikan acara televisi yang sebenarnya ia tidak tahu acara apa yang sedang ia saksikan. Kyungsoo memang jarang sekali untuk menonton acara televisi karena kesibukannya dalam berwirausaha. Tapi walau jarang menyaksikan acara-acara televisi, Kyungsoo cukup tahu apa yang sedang ramai pada saat ini.

Tak berselang lama, Kyungsoo merasakan ponselnya bergetar. Saat di lihat nama Chanyeol tertera pada layar dan Kyungsoo dengan cepat langsung menerima panggilan telepon itu.

"halo? Chanyeol? Bagimana?" tanya Kyungsoo dengan suara rendah. Sesekali ia menoleh ke belakang memastikan keberadaan Baekhyun.

Tapi tidak ada jawaban dari ujung sana. Kyungsoo mencoba memastikan dan panggilan masih dalam keadaan aktif.

"halo? Chanyeol?" panggil Kyungsoo lagi.

Masih belum ada respon dari Chanyeol. Apakah terjadi sesuatu? Atau mungkin saja Chanyeol tidak sengaja menekan acak panggilan.

Akhirnya Kyungsoo menyerah dan hendak mematikan saluran telepon. Tapi saat akan menekan tombol merah, ia merasa ada getaran dari ponselnya. Kyungsoo mencoba mendekatkan ponsel pada telinganya lagi .

"ya halo Chanyeol?"

'bibi...ini aku...' suara lain menyahutnya darisana.

Kyungsoo menyernyit karena suara Chanyeol sedikit berbeda dan lebih rendah dari biasa.

"siapa ini?"

'aa...ku. V'

Mata Kyungsoo melebar. V? Apa ia salah dengar? Kalau yang menyahut dari seberang sana adalah V, itu berarti...

"Taehyung? Kau kah itu?"

Sunyi kembali. Namun telepon masih tetap dalam keadaan aktif.

"Taehyung? Halo? Dimana kalian sekarang?"

Dan orang yang Kyungsoo duga adalah Taehyung masih terdiam.

"Taehyung. Bibi sudah tahu. Kau berada dimana sekarang? Pulanglah nak" ucap Kyungsoo dengan suara lembut. Sebisa mungkin untuk tidak membuat Taehyung takut.

'mmm...maaf. Bi. Aku...aku tidak bisa pulang sekarang...'

"kenapa? Orang-orang mencarimu. Ibumu mengkhawatirkanmu. Apa kau tidak rindu dengan kami?"

'aku...tidak bisa meninggalkan ayah'

Kyungsoo menyernyit tidak mengerti "kenapa?"

'ayah..." Taehyung kembali terdiam.

"ya sayang, ada apa dengan ayahmu?" sungguh Kyungsoo sudah tidak bisa menahan kesabarannya . Tapi ia harus tetap pada posisinya sekarang, apalagi saat menghadapi Taehyung.

'halo. Kami dari pihak rumah sakit. Apa kami sedang berbicara dengan istri dari tuan Park Chanyeol?' suara dari ujung sana berubah. Menjadi suara seorang wanita.

"Bbukan. Aku...aku keluarganya dari istrinya Park Chanyeol. Dengan siapa aku bicara? Dimana Taehyung?"

'Mohon maaf nyonya. Saya dari pihak rumah sakit. Kami mendapat informasi bahwa salah satu anggota keluarga kalian harus di rawat di rumah sakit karena menjadi korban tabrakan. Saat ini kondisinya kritis'

Bagai tersambar petir di siang hari, Kyungsoo terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak dan suaranya tertahan di ujung tenggorokan.

'dan kami sangat harap...' suara di ujung sana menjadi lebih rendah. 'kalian untuk segera datang, karena putranya, saat ini masih dalam kondisi terguncang' sambungnya.

Kyungsoo masih bingung ingin menjawab apa. Ini benar-benar di luar dugaan. Ia hanya berharap Chanyeol segera pulang bersama Taehyung untuk bertemu kembali dengan keluarganya, dan hubungan anak dan ibu kembali membaik. Hanya itu. Lalu setelah itu Kyungsoo bisa kembali ke rumah dengan tenang dan melanjutkan membantu sang suami di kedai. Bukan justru mendapat kabar yang sama sekali sangat tidak ingin di dengar. Bahkan membayangkannya saja tidak mau.

'nyonya?' suara itu kembali terdengar dan menyadarkan lamunan Kyungsoo.

Kyungsoo segera menarik nafas dan berdeham pelan. "baik, kami akan segera kesana. Tolong jaga dan tenangkan keponakanku. Beri kami alamat rumah sakitnya"

Dan orang di seberang sana lalu menyebutkan alamat rumah sakit dengan sangat jelas. Setelah itu sambungan telepon terputus. Kyungsoo langsung menunduk lemas dan menyender ke pinggiran kursi.

"astaga...bukankah kalian ingin memberi kejutan untuk Baekhyun. Kenapa aku juga di beri kejutan oleh kalian"

"kejutan apa?" suara dari arah belakang langsung mengejutkan Kyungsoo.

Kyungsoo berbalik dan melihat Baekhyun sudah berdiri di belakangnya. Tanpa berlama-lama Kyungsoo (masih dalam menggendong Jisoo) segera bangkit lalu menghampiri Baekhyun dan memeluk Baekhyun.

Dahi Baekhyun mengerut dan menatap Kyungsoo tidak mengerti.

"Baekhyun. aku harap kau bisa lebih sabar"

"sabar apa maksudmu? Ceritakan Ada apa?"

Kyungsoo masih belum melepaskan pelukannya dan justru semakin mempererat.

"ikut aku. Kita ke rumah sakit"

.


We Love You, Hyung...


.

Taehyung duduk menyender sambil memeluk kedua lututnya. Anak itu sengaja mengasingkan diri dari beberapa orang yang juga adalah korban. Dia melihat ke kerumunan orang-orang itu. Mereka semua tidak ada yang tenang. Memaksa meminta mendapat pengobaran lebih dulu. Padahal luka yang mereka derita tidak seberapa. Berbeda dengan kondisi ayahnya sekarang.

Taehyung menoleh ke arah ruangan yang berada paling ujung dari lorong rumah sakit. Dengan lampu yang masih menyala menandakan operasi darurat tengah di laksanakan. Menolong seseorang yang nyawanya sedang berada di antara hidup dan mati. Karena kecelakaan yang terjadi pada beberapa saat yang lalu.

Sudah hampir satu jam Taehyung menunggu ayahnya yang masih berada di dalam gedung. Ia masih duduk sendiri di dalam mobil sambil memperhatikan hadiah yang baru saja di berikan oleh ayahnya.

Sampai rasa jenuh melanda pikirannya dan rasa lapar menyusul setelahnya. Akhirnya anak itu keluar dari mobil. Berjalan keluar dari area parkir, melihat ke sekitar dan mengadahkan wajahnya ke langit.

Beberapa gedung tinggi menjulang menarik perhatiannya dan membuat Taehyung terkagum-kagum dengan pesonanya. Tapi rasa laparnya langsung mengalihkan perhatiannya sehingga anak itu berjalan lebih cepat untuk menemukan kedai makanan.

Tapi mencari kedai makanan di sekitaran daerah ibu kota tidak semudah di kota lain. Ia harus berjalan lebih jauh untuk menemukan kedai yang menjajakan makanan atau camilan untuk mengganjal perut.

Lalu ia sampai di salah satu tempat yang menjual berbagai makanan. Disana makanan khas, kue, manisan lain. Dan salah satu toko kue menarik perhatiannya.

Taehyung melihat kue-kue yang di pajang di dalam etalase. Kue itu terlihat sangat lezat dan menggiurkan , dan sepertinya sayang jika di makan disini sendiri. Akhirnya ia berinisiatif membeli satu kotak kue dan beberapa kue kecil. Kue ini akan ia berikan untuk ibunya dan juga ketiga adik kecilnya sebagai oleh-oleh. Dan satu potong roti isi sebagai pengganjal perut saar berada di jalan.

Usai membeli kue, Taehyung akhirnya berjalan kembali ke tempat dimana mobil ayahnya terparkir di salah satu gedung.

Di tengah perjalanan ada beberapa pejalan kaki yang juga sedang menikmati jalanan ibu kota atau sekedar mencuci mata melihat beberapa toko yang menjual barang-barang.

Namun di seberang sana, ada salah satu anak kecil bermain bersama temannya. Mereka asik bermain lempar bola di atas trotoar yang bersalju. Sedangkan orang tua mereka sedang asik mengobrol di atas kursi panjang yang di sediakan.

Namun bola yang di lempar salah satu anak kecil itu cukup jauh sehingga terlempar ke badan jalan. Dan mereka hendak mengambil bola tersebut. Tapi anak kecil memang tidak seharusnya di biarkan bermain dan jauh dari pantauan orang tua. Mereka tidak peduli dengan keadaan sekitar sampai ada salah satu mobil melaju ke arah mereka yang berada di jalan.

Beruntung mobil itu masih mampu mengendalikan mobilnya. Tapi tidak dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Mobil dari arah berlawanan itu melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Melihat ada kendaraan di seberang mengambil jalan orang lain mau tidak mau ia harus mendadak banting setir ke arah lain agar mobilnya tidak menabrak mobil di depannya.

Tapi supir itu justru tidak menyadari ada kendaraan lain berjalan di sebelah kanannya sehingga ia terlambat menginjak rem dan mobil yang ia kendarai menabrak dengan benturan sangat kencang sehingga mobil di depannya terdorong dan mobil yang menabrak tidak bisa di hentikan.

Beberapa orang di sekitar berteriak berlari mencoba menyelamatkan diri. Tapi langkah mereka tidak lebih cepat dari roda-roda mobil itu.

Dan Taehyung, anak itu terkejut mendengar benturan keras dari arah belakang. Ia menoleh dan melihat mobil bertabrakan secara beruntun. Ia pikir mobil itu tetap pada posisi dimana mereka tertabrak. Tapi ternyata salah satu mobil masih melaju menembus mobil-mobil yang sudah hancur dan kini menuju ke arahnya!

Tidak ada kesempatan baginya untuk berlari menyelamatkan diri karena jaraknya kurang dari tiga meter. Anak itu memejamkan matanya seolah tidak ingin melihat kematian yang hendak menghampirinya.

Dan akhirnya mobil itu berhasil membenturkan ke tubuh remaja itu hingga membuatnya terlempar melewati atap mobil dan terbanting ke atas aspal. Taehyung meringis merasakan tubuhnya terpental cukup keras. Tapi ia merasa ada keganjalan saat mobil itu menabraknya seakan pada saat detik terakhir seperti ada seseorang yang memeluknya erat dan ikut membawanya terlempar sampai terjatuh.

Begitu ia membuka mata, ia terkejut melihat sosok orang yang di kenalnya sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan darah segar mengalir dari belakang kepalanya.

Tubuh Taehyung gemetar bahkan tulangnya terasa rapuh sehingga tidak mampu untuk bangkit. Suaranya seakan hilang dari dalam tenggorokannya bahkan ia merasa matanya tidak mampu untuk berkedip.

Sosok yang baru saja di temuinya dan mengajaknya untuk pulang bersama, kini sudah terbujur kaku di atas jalanan aspal.

.


...


.

Beberapa perawat disana melihat ke arah Taehyung yang terlihat sangat memprihatinkan setelah salah satu perawat yang lain baru saja membantu menghubungi keluarganya. Remaja itu memang tampak diam dan tenang. Tapi tatapan matanya tidak dapat di bohongi bahwa jiwanya saat ini sedang terguncang. Ia tidak menangis menjerit seperti pasien yang lain. Tapi air matanya terus berusaha untuk keluar menghiasi wajahnya yang terlihat dengan ekspresi dingin.

Salah satu perawat mendekatinya sambil membawakan sebotol air mineral di tangannya. Lalu dia berjongkok dan memberikan botol itu pada Taehyung.

"minumlah. Supaya perasaan sedihmu sedikit berkurang"

Taehyung melirik perawat itu sebentar, lalu kemudian menunduk dan menggelengkan kepalanya.

Perawat itu hanya menghela nafas dan menarik kembali botol minum yang sebelumnya ingin dia berikan. Kemudian ia bangkit dan mengambil duduk di sebelah Taehyung.

"aku dengar, ayahmu menyelamatkan mu" ucap perawat itu memulai pembicaraan.

Taehyung menoleh sedikit ke arah si perawat dan kembali menunduk ke bawah "dan sekarang ayah kritis. Aku...aku merasa menjadi anak pembawa sial"

Perawat itu menatap Taehyung dengan serius "apa yang kau katakan? Apakah itu berarti ayahmu memilih menyelamatkan pembawa sial daripada dirinya?"

Tidak ada jawaban. Taehyung justru semakin menunduk seolah menutupi air matanya yang tidak berhenti mengalir.

"jika ya. Berarti ayahmu bodoh"

"ya. Karena aku anak sial!" sahut Taehyung dengan cepat. Dan kemudian bahunya terlihat bergerak menandakan tangisnya mulai pecah.

"jika ayahmu bodoh. Dia akan memilih membiarkan anak sial sepertimu di tabrak dan memilih pergi membiarkanmu tergeletak di jalan seperti mayat." balas perawat itu dengan suara lebih tenang.

"lalu kenapa dia melalukan itu?! Seharusnya aku yang tertabrak. Seharusnya waktu itu aku tidak pergi jauh. Seharusnya kami bisa pulang ke rumah. Dan...dan jika saja ayah tidak menjemputku, dia tidak berada disini. Dan seharusnya-"

"seharusnya kau bersyukur kau memiliki malaikat sepertinya" Taehyung langsung terdiam. Dan perawat itu tersenyum "kau tahu kisah pengembara yang rela pergi jauh demi mencari harta karun? Dia banyak sekali melewati banyak rintangan selama di perjalanan. Termasuk mengorbankan dirinya. Dan kau tahu sebab orang rela mengorbankan sesuatu?"

"karena harta karun" jawah Taehyung seadanya meski dengan suara kecil.

"betul. Dan kau tahu seperti apa harta karun yang di inginkan orang tua? Yaitu anak. Jadi kau tahu kenapa ayahmu mengorbankan dirinya? Karena kau adalah harta karunnya."

Taehyung langsung terdiam sesaat setelah mendengar ucapan perawat tersebut. Ia kembali melirik dan mengusap bawah matanya. Karena sedikit demi sedikit perkataan perawat itu mulai menenangkan perasaannya.

"demi apapun, orang tua rela melakukan apa saja, mengorbankan apa saja, termasuk nyawanya. Karena demi harta karunnya, yaitu anaknya. Dan setelah itu ia akan membanggakannya pada semua" dengan lembut perawat itu mulai mengusap kepala Taehyung "Kau bukan anak pembawa sial. Berhentilah menyiksa perasaanmu dengan sebutan itu. Itu sama saja kau tidak menghargai pengorbanan ayahmu. Tidak semua ayah berani melakukan apa yang sudah dia lakukan untukmu"

Melihat Taehyung sudah mulai tenang, ia memberikan botol air mineral itu kepada Taehyung. Lalu perawat itu kembali tersenyum karena akhirnya Taehyung menerima pemberiannya meski anak itu sedikit malu-malu.

Di teguknya air mineral itu dengan pelan, dan membiarkan air sejuk itu melewati tenggorokannya yang terasa kering. Lalu kemudian Taehyung memejamkan matanya dan menarik nafas lebih dalam.

"lalu...apakah ayahku masih bisa diselamatkan?"

"siapa yang ingin orang tercinta pergi? Berdoa saja karena hanya itu yang bisa kita lakukan" kata perawat itu.

Merasa keadaan mulai lebih tenang, perawat itu meminta ijin kembali ke tempatnya bekerja. Taehyung mengangguk mengijinkan dan tidak lupa ia mengucapkan terimakasih kepada perawat tersebut.

Akhirnya ia bisa duduk menyender, memainkan botol air minum dan melihat ke sebuah pintu ruangan di ujung sana. Tampaknya belum ada tanda-tanda dokter yang menangani ayahnya akan keluar. Perasaannya kini mulai cemas. Karena sungguh saat tragedi itu terjadi, banyak darah yang keluar dari kepala ayahnya dan wajah ayahnya sangat terlihat pucat. Taehyung takut jika ternyata ayahnya tidak bisa di selamatkan dan yang lebih di takutkan baginya adalah, orang lain termasuk ibunyaakan menyalahkan nya.

Apa yang akan ia jelaskan nanti dan apakah ibunya nanti akan semakin membencinya? Seperti yang di katakan perawat barusan, yang hanya bisa ia lakukan adalah berdoa.

Hampir dua jam berlalu dan dokter yang menangani ayahnya akhirnya keluar. Tapi Taehyung tidak bisa langsung melihat kondisi ayahnya karena beberapa perawat memindahkan ayahnya ke ruang ICU sehingga hanya orang tertentu yang bisa masuk. Taehyung pun hanya bisa melihat kondisi ayahnya dari balik kaca di pintu.

Perasaannya kini benar-benar tidak dapat di jelaskan. Beberapa jam yang lalu ia masih berbicara dengan ayahnya dalam perjalanan menuju rumah. Tapi keadaan saat ini jauh berbeda, ayahnya terbaring koma dengan alat-alat medis yang menempel pada tubuhnya.

Taehyung kembali duduk menyender sambil mengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tidak kembali jatuh. Tapi air matanya yang keluar cukup banyak hingga tidak dapat di bendung. Dan yang hanya bisa ia lakukan saat ini adalah kembali menangis.

Terdengar suara langkah sepatu hak dari arah lain yang mengalihkan pandangan Taehyung. Taehyung menoleh ke samping dan matanya terbuka lebar.

Di lorong sana terlihat bibi Kim bersama putri kecilnya sedang berjalan cepat menuju ke arahnya. Dan yang membuat Taehyung tidak percaya adalah, bibi Kim datang bersama Baekhyun, ibunya!

.

.

.

tbc