"Kalau begitu, kapan kalian akan mulai untuk bertunangan lebih dulu?." Pertanyaannya kembali membuat bungkam semua orang.
Luhan yang gugup. Dan, Sehun yang tersenyum tipis.
Sehun punya jawabannya sendiri untuk itu.
.
.
.
.
.
.
.
" A Lot Like Love "
.
.
.
Main Cast : Sehun and Luhan
Other Cast : Find it by yourself
.
Mature
Multichapter
.
AU. Romance. Drama . Fluffy .
Genderswicth. Typo(s) . DLDR!
Happy Reading !
.
CHAPTER 10
..
Welcome to Paris.
Satu kalimat yang Luhan lukiskan di atas catatan kecilnya di sebuah buku saku miliknya pagi ini. Wajahnya terlihat berseri-seri oleh rasa senang, meski ada rasa kantuk berat yang masih bergelayut disana.
Bukannya apa, terkadang Luhan kesal mengapa kekasihnya harus mengambil penerbangan mendadak di tengah malam demi mendatangi pertemuan penting dengan kolega bisnis di Perancisnya siang ini.
Jangan salahkan Luhan! Semua ini, Sehun-lah penyebabnya. Pada awalnya, Luhan sudah menyiapkan tiket first class untuk mereka berdua yang harusnya di jadwalkan kemarin sore.
Namun, Luhan mengutuk mengapa Ia harus menerima ajakan bercinta kekasihnya terlebih dulu sebelum mereka melakukan penerbangan sore itu. Dengan setengah hati, tentu saja Luhan terpaksa untuk menerimanya. Jika Ia tak ingin melihat kelelakian tegak milik Sehun yang akan terus berdiri di sepanjang perjalanan terbang mereka nanti.
Oh, itu memalukan! Tapi, Luhan akui Ia menikmatinya. Sangat.
Alhasil, mereka melakukan percintaan panas itu melewati batas wajar seperti biasa, yang mengakibatkan keduanya lupa dunia jika sudah ada beberapa awak pesawat dan petugas bandara yang menggeram marah dan terus-menerus memanggil nama mereka tiga kali melalui pengeras suara di Incheon Airport kala itu.
Luhan menolehkan kepalanya ke belakang, melambai ceria ke arah kekasih tampannya yang berjalan tegap bak seorang model papan atas dengan kedua koper besar di sisinya.
Satu koper pink milik Luhan, dan koper abu-abu miliknya sendiri.
"Seharusnya kita mengajak Brian kalau begini," Sehun mulai menggerutu dengan nafas cukup terengah ketika Ia sampai dan berhenti tepat di hadapan Luhan. "Serius, Sayang. Apa 'sih isi kopermu ini? Kau tidak membawa batukan?." Sehun menatap Luhan curiga karena wanita itu hanya tersenyum polos seperti biasa.
Jujur saja, koper pink milik Luhan jauh lebih berat dari koper milik Sehun sendiri.
Dengan santai, Luhan mengangkat dagunya beberapa derajat. Meletakkan kaca mata hitamnya yang semula Ia sematkan di hidung bangirnya ke puncak kepalanya. Mengibaskan surai coklat bergelombangnya ke belakang bahu kanannya.
Kemudian, memberikan Sehun satu senyuman misterius yang mampu membuat bulu kuduk lelaki itu merinding tanpa sadar.
Luhan maju selangkah lebih dekat, berjinjit di atas tumit stiletto mungil sepuluh sentinya.
"Ini musim panas, Sehun. Jadi, aku membawa hampir semua koleksi baju musim panasku di lemari kita dan juga, beberapa lingerie." Bisiknya dengan menekankan setiap kata yang terucapkan.
Luhan menurunkan kakinya, Sehun mengangkat satu alisnya penuh minat dan menatap Luhan dengan percikan api gairah yang membara.
"Kau juga membawa bikini kan, Sayang?." Timpal Sehun.
Luhan mengangguk semangat, "Tentu aku bawa! Aku akan berjemur di pantai nanti dan mendapatkan kulitku sedikit menggelap oleh sinar matahari. Mengoleskan krim sunblock ke seluruh tubuhku, dan berlari dengan riang di sepanjang pesisir pantai dengan bikini. Pasti menyenangkan!." Luhan mengatupkan kedua tangannya di depan dada dengan mata yang menerawang ke atas seolah sungguh-sungguh membayangkan apa yang barusan di ucapkannya tersebut.
Membuat Sehun yang awalnya tampak tertarik kemudian mengeraskan rahangnya tiba-tiba setelah mendengarkan niat kekasihnya yang sesungguhnya.
Tidak, tidak akan pernah Sehun biarkan Luhan dengan seenaknya memamerkan aset miliknya di mata telanjang orang lain.
Sehun harus melakukan sesuatu untuk menguntungkan dirinya sendiri, sekaligus mengabulkan keinginan Luhan. Mungkin, Kali ini Ia harus meminta saran dari Brian lagi.
Pantai mana kira-kira yang paling bagus untuk Ia sewa seharian penuh hanya untuk dirinya dan Luhan? Atau pulau tak berpenghuni? Itu lebih bagus.
"Baiklah, Sayang. Sudah cukup berkhayalnya, dan sekarang kita harus segera ke Hotel untuk mendapatkan morning sexs sebelum pertemuan penting nanti siang. Oke?." Sehun merangkul posesif pinggang ramping kekasihnya, dan berjalan dengan santai tanpa memperdulikan dengusan jengah Luhan di sebelahnya.
Koper mereka? Tenang, para bodyguard Sehun sudah mengambi alih lebih dulu.
.
A Lot Like Love
.
"Sehun,"
"Hum?,"
"Bisakah kau percepat? Aku—h, butuh istirahat—h."
"Oke—h, sebentar la—gi a—aku akan menyelesaikannya, Baby—h."
Kepala Luhan jatuh lebih dalam ke bantal bersamaan dengan hentakan Sehun yang lebih keras kali ini. Ia sudah tidak punya cukup energi untuk membalas, yang bisa dilakukan hanya lah pasrah di bawah kendali kekasihnya.
Mereka saling mendesah, mengerangkan nama masing-masing dalam suara parau yang seksi. Terlebih bagaimana cara bibir Luhan yang mengucapkan nama Sehun berkali-kali, yang membuat Sehun semakin sinting dan seolah lupa bahwa sesi bercinta mereka seharusnya sudah harus masuk dalam kata berhenti.
Luhan merasakan rahimnya yang mulai sesak, merasakan jika kejantanan Sehun semakin membesar dan sudah siap meledak lagi di dalam tubuhnya. Luhan mengalunkan lemah kedua tangannya di leher Sehun untuk menyambut ciuman basah lelaki itu lagi.
Ketika mereka semakin panas membelit lidah, di saat itulah Sehun semakin kuat menghentak ke dalam, kemudian dalam sekali hentak yang keras, Ia meledakkan seluruh hasil dari puncak gairahnya pagi ini di dalam tubuh Luhan.
Habis, tanpa tersisa sedikit pun.
Dan, Biarlah Sehun sedikit berharap untuk perjuangan setiap anak spermanya mulai kini.
Ia hanya ingin mengklaim Luhan sebagai miliknya yang lebih utuh mulai sekarang.
Mereka saling membuka mata dengan sayu. Dan, Sehun pihak pertama kali yang menatap mata rusa Luhan dengan dalam.
Satu kebahagiaan yang menggetarkan hatinya adalah ketika Ia mendapati perasaan puas itu dari Luhan. Meski dalam nafas yang super lemah dan mata yang lelah, Luhan tidak pernah lupa untuk menempatkan senyuman kecilnya itu.
Jemari lentiknya akan bermain ringan di antara surai hitam Sehun yang berantakan dan lengket. Menyalurkan perasaan haru dan nyaman yang membuat Sehun terhanyut dalam belaian kasih sayang.
"Kau selalu hebat, Sehun. Aku sangat menikmatinya meski aku harus sangat kelelahan." Satu bentuk pujian yang selalu Luhan layangkan padanya.
Menumbuhkan rasa keperkasaan di dalam diri Sehun sehingga Ia merasa menjadi lelaki paling tangguh di dunia ini. Mungkin belum sepenuhnya, setelah Ia berhasil memastikan sendiri jika percintaan panas mereka akan membuahkan sebuah hasil yang akurat dan positif.
Sehun mencium setiap jengkal wajah lengket Luhan, dan menempatkan kecupan lama yang berarti di bibirnya.
"Kau yang lebih hebat, Sayang. Kau bahkan tak pernah mengecewakan ku. Terimakasih, untuk yang kesekian-kalinya. Bidadariku."
Luhan mengangguk lemah dengan senyum.
"Kau harus mandi dan bergegas, pertemuan itu di adakan saat jam makan siang kan?."
"Apa itu artinya kau tak akan menemaniku kali ini?."
"Maafkan aku, Hun. Tapi, Bolehkah jika aku meminta makan siangku di kamar Hotel saja hari ini? Aku, benar-benar butuh tidur siang."
"Tentu, Sayang. Aku akan meminta pelayan restaurant untuk mengantarkan makan siangmu sebelum aku pergi." Sehun memeluk Luhan yang sudah memejamkan kembali matanya, di sampingnya dengan satu tangan. Sedangkan tangannya yang lain sibuk dengan ponsel untuk mengubungi pelayan Hotel.
"Apa ada menu khusus yang kau inginkan?,"
"Steak ukuran sedang dengan kematangan sempurna. Ah, aku juga ingin segelas susu coklat hangat." Ujarnya lemah di suaranya yang terendam di dalam dada bidang Sehun. Yang lebih terdengar seperti suara rengekan manja.
"Okey, Ma'am." Akhir Sehun dengan mengecup satu kali puncak kepala Luhan. "Steak dan susu coklat." Tukasnya sambil melakukan sambungan telepon ke pelayan Hotel.
Setelah itu, sambungan telepon terhubung dan Sehun langsung melayangkan permintaannya dengan kalimat tegas. Tak lupa untuk memperingatkan kembali pada sang pelayan jika makan siang untuk Luhan haruslah di masak oleh koki yang handal dan berpengalaman, mengantarnya tak kurang dari satu jam kedepan.
Luhan hanya bisa tersenyum dalam tidur, Ia sudah terlalu lelah untuk membuka suara dan matanya. Ia hanya mencoba untuk merasakan kehangatan intim Sehun lebih lama lagi sebelum kekasihnya itu akan meninggalkannya mandi dan pergi ke pertemuan penting itu hingga menjelang malam.
.
A Lot Like Love
.
"Klienku punya pesta penting malam ini. Dan, Aku sudah berjanji untuk datang. Jadi, Yah kita harus pergi kesana Sayang."
"Pesta apa?."
"Perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke sepuluh."
Luhan manggut-manggut di depan cermin meja rias. Tangannya sedang membubuhkan lipstick merah menantang di bibir ranumnya. Kemudian, Ia mengambil parfume Channel favoritnya, menyemprotkannya di perpotongan leher juga sedikit di pergelangan tangannya.
Sehun yang sedang berdiri di cermin tinggi lainnya pun mendengus singkat. Ia sedang sibuk mengancingkan jas formal kebanggaannya, namun sedikit terusik oleh aroma mawar provokatif dari kekasihnya di ujung sana.
"Jangan terlalu banyak menggunakan parfume, Luhan."
Luhan yang baru saja selesai memasang anting mutiara di kedua telinganya pun menoleh pada Sehun. Dengan kerutan dahi kebingungan, Ia mengerjap polos pada eksistensi Sehun yang menatap penuh intimidasi ke arahnya.
"Kenapa?."
"Kenapa?." Beo Sehun.
Ia mengambil salah satu dasi yang sesuai untuk menunjang kesempurnaan dari penampilannya malam ini dari laci lemari, "Karena aku tak ingin penciuman orang lain menangkap sesuatu yang pada dasarnya hanya menjadi milikku." Ia berjalan ke arah kekasih cantiknya yang masih saja bertingkah polos.
"Sehun, Ini hanya parfume. Jangan berlebihan." Luhan tertawa anggun. Ia berdiri dari kursinya. Gaun satin biru shapirenya jatuh dengan ringkas, kelimannya menyentuh hingga ke ujung tumit. Senyumnya masih disana meski tampang sang kekasih yang telah berada di hadapannya sedang tertekuk masam.
"Kau ini kenapa 'sih?," Luhan menyambut dasi yang Sehun genggam, menarik kerah kemeja putih lelaki itu lalu mengaikatkan dasinya disana, "Aku hanya berusaha untuk tampil secantik mungkin agar tidak mengecewakanmu di pertemuan itu." Jemari lentiknya dengan terampil membuat sebuah simpulan dasi yang begitu professional.
Dengusan pelan Sehun terdengar lagi. Ia menatap wajah cantik bidadarinya dengan tatapan cemburu.
"Yah, memang sangat beresiko jika memiliki seorang kekasih secantik Dewi." Ujarnya sarkasme. Namun, berhasil mendatangkan rona merah cantik di pipi tinggi kekasihnya.
Luhan menarik kerah kemeja Sehun yang tadi Ia tegakkan kembali turun. Satu simpulan dasi sudah tersemat begitu apik di tubuh kekasihnya. Kedua tangannya bersandar di bahu Sehun. Menatap puas akan hasil simpulan dasi yang telah di ciptakannya.
Hal yang selalu membuat Luhan memekik tertahan di dalam hati, ketampanan Sehun berjuta kali lipat lebih bertambah jika Ia mengenakan dasi dan kemeja.
Perpaduan yang sempurna!
"Bilang saja jika kau cemburu, Hun." Luhan kembali tertawa ringan, mengadahkan kepala dan menatap teduh pada kekasih tampannya yang masih betah merajuk, "Tenang saja, meski aku berdandan secantik apapun. Kau tetaplah satu-satunya yang paling tampan untukku."
Meski hanya sebatas pujian sederhana, tapi Sehun tidak bisa untuk tidak ikut tersenyum ketika melihat pancaran keteduhan itu di mata rusa Luhannya. Kedua tangannya mengait posesif di pinggul ramping si cantik, sedikit menariknya hingga tubuh mereka saling bersentuhan.
Luhan tersentak, jantungnya berdebar dengan liar. Ia sampai mendorong kepalanya sedikit kebelakang, berbahaya kalau terlalu dekat dengan Sehun.
"Aku mencintaimu, Luhan. Sudah kah aku mengatakannya hari ini untukmu?." Sehun bergumam lembut, menyelami tatapan kekasihnya hingga ke titik terdalam. Kening mereka saling bertaut.
"A—Aku juga mencintaimu, Sehun-ah." Luhan menjawab dengan nada suara yang terdengar gugup. Debaran di jantungnya semakin menggila. Keintiman ini benar-benar membuatnya kewalahan. Padahal, mereka sudah sering lebih jauh dari sekedar berpelukan.
Sehun tersenyum di dalam keheningan. Kepalanya mulai bergerak miring ke suatu sisi untuk lebih dekat lagi dengan wajah Luhannya. Wanita itu membeliak terkejut dan bergerak cepat, menampar halus bibir Sehun yang sedikit lagi akan mengenai bibirnya dengan telapak tangan.
Alhasil, Sehun mencium telapak tangan Luhan yang sehalus bayi.
"Pe—Pestanya, Sehun. Kita harus pergi." Ujar Luhan ketika mata Sehun seperti ingin melayangkan protes pada tindakannya.
"Satu ciuman saja, Sayang. Hum?."
"Tidak, satu ciuman akan berdampak panjang untukmu." Luhan menggeleng, dan tersenyum. Ia melepaskan kukuhan Sehun dari pinggulnya dan melangkah mundur satu langkah, "Aku tidak ingin kau mengacaukan make-up ku kali ini." sambungnya kemudian lalu terkekeh tanpa rasa bersalah.
Satu helaan nafas tidak rela dari kekasih tampannya terdengar keras. Namun, sedetik kemudian lelaki itu tersenyum dan meraih jemari kanan Luhan untuk Ia genggam.
"Baiklah, kita pergi kalau begitu."Lalu, Ia mengerling nakal ke arah kekasihnya, "Lagi pula, aku masih punya banyak kesempatan bukan untuk mendapatkan hal yang lebih dari sekedar ciuman?."
Luhan memasang heelsnya dengan tangan yang bertumpuh oleh pegangan Sehun.
"Iya, Iya. Kau selalu punya banyak kesempatan untuk menikmatiku meski jadwal kesibukanmu benar-benar menguras energi. Anehnya, kau tak pernah lelah. Itu mencengangkan." Ketus Luhan. Dan, Sehun menutup pintu kamar Hotel mereka yang langsung otomatis terkunci.
"Bilang saja jika kau bangga akan kegagahanku yang selalu berhasil membuatmu mengerang nikmat, Lu." Goda Sehun.
Mereka mulai menyusuri jalan di sepanjang lorong kamar Hotel berlabel VIP yang sunyi. Irama langkah keduanya terdengar begitu tegas dan serasi.
"Hm, Sialnya. Aku memang bangga karena hal itu." cetus Luhan sedikit merona di tengah kekesalan karena Sehun yang selalu berhasil menggodanya. Meski begitu, lengannya semakin mengait mesra di lengan kokoh Sehun yang berotot di balik jas dan kemejanya.
"Kau semakin cantik jika merona seperti ini."
"Oh Sehun! Berhentilah menggodaku atau kau akan pergi ke pesta itu sendirian."
Sehun hanya tertawa senang. Mengecup pelipis Luhan sekilas. Hingga bibir mencebil kesal wanita itu melambungkan senyum yang kasmaran.
Menyenangkan rasanya ketika Ia bisa membuat pipi kekasih cantiknya itu merona. Sehun menyukai pesona alami itu dari Luhannya. Menjadikannya semakin jatuh dan jatuh cinta berkali-kali.
Oh, Sehun mencintai Luhan untuk setiap waktu! Sampai akhir hayatnya nanti.
.
.
Sebuah pesta perayaan pernikahan yang menganggumkan. Beberapa orang penting dan berkelas hadir disana. Luhan dan Sehun menikmati waktu pestanya dengan senang.
Pada awalnya, Sehun memperkenalkan Luhan sebagai sekretarisnya pada setiap orang penting juga beberapa kolega bisnisnya yang turut di undang disana. Namun, setelah itu Ia juga mengungkapkan jika wanita ini adalah wanita yang paling Ia cintai setelah mendiang Ibunya.
Itu terbukti dari cara Sehun yang merangkap Luhan begitu posesif. Satu lengannya mengalun intim di pinggul Luhan. Ia tidak akan membiarkan wanitanya menjauh darinya barang semeter jarak pun. Bahkan ketika Luhan meminta izin ingin pergi ke toilet, Sehun menunggu kekasih cantiknya itu dengan setia di depan pintu.
Bukan karena apa, semua punya alasan yang kuat mengapa Ia begitu posesif terhadap Luhan. Selama masa pesta yang berjalan itu, Sehun kerap kali menangkap beberapa pasang mata keranjang yang menatap lapar pada Luhannya.
Seharusnya Sehun sadar sejak awal, dan tak membiarkan Luhan untuk memakai gaun biru saphirenya yang memiliki model punggung terbuka. Perpotongan leher gaunnya juga berbentuk 'V yang memanjang sampai ke katupan garis payudaranya.
Begitu mengundang gairah kelelakian siapa saja. Bahkan Sehun sendiri sampai di buat kalang-kabut menahan itu.
Sehun menggeram marah, berkali-kali Ia menyumpah serapah dirinya sendiri yang telah lalai dalam menyadari hal itu. Dan, sialnya lagi. Kekasih cantiknya itu malah menertawakan rasa terbakar cemburunya.
Luhan senang melihat Sehun cemburu. Jadi, Ia hanya biasa-biasa saja meski pasang mata lelaki menatap ke arahnya dengan lapar dan terbakar. Namun, mengapa juga Luhan harus khawatir? Jika Ia punya Sehun yang akan membunuh siapa saja lelaki yang berani mendekat ataupun menyentuhnya.
Alhasil, daripada berdebat dengan kemarahan dewa batinnya sendiri. Sehun mengucapkan salam perpisahan lebih awal pada kliennya dan menyeret kaki bersama Luhan untuk kembali ke kamar lebih dulu. Jauh sebelum pesta itu berakhir.
Tidak ada yang boleh menikmati keindahan Luhan meski itu hanya sebatas melayangkan tatapan. Hanya Ia yang boleh melakukan hal tersebut. Dan, Luhan harus siap menerima kosekuensinya untuk dinikmati lagi dengan panas dan bergairah oleh kekasih tampannya yang pencemburu berat.
Di ranjang, lagi, malam ini.
.
A Lot Like Love
.
"Sehun! Aku bahkan belum pergi ke menara Eiffel. Kenapa mendadak sekali 'sih?!." Luhan menyilangkan kedua tangannya di dada. Dengan wajah super kesal dan dengusan kasar yang berkali-kali terdengar. Ia menatap tajam pada seluet tampan Oh Sehun yang sudah rapi dengan kemeja putihnya.
"Hun-ah, aku masih ingin disini. Kita bahkan belum menikmati coklat dan cake yang ada di café-café terkenal sepanjang jalan kota Paris. Kita juga belum memiliki makan malam yang romantis!." Luhan merengek keras, dan menendang selimut di sebelah kakinya dengan kesal.
Membuat tubuhnya yang hanya berbalut oleh bikini pink berenda terekspos dengan gamblang. Rambutnya masih acak-acakkan. Wajahnya mengusut dan lengket.
Ia baru saja terbangun setelah berhasil mendapatkan waktu tidur yang cukup berkualitas karena kelelahan oleh pergulatan seksnya dengan Sehun semalam. Namun, seusai menggeliat dan membuka mata, Luhan menatap horor pada kekasihnya yang telah rapi dengan stelan kemeja rapinya, juga koper mereka yang berdiri tegak di dekat pintu.
Membuat pemikiran cerdasnya langsung berspekulasi aktif. Mereka akan segera meninggalkan Paris dan coklatnya yang bahkan belum Luhan cicipi satu tetes pun.
Dan, Luhan merengek keras kepada Sehun. Melayangkan protesnya.
Sehun menggulung lengan kemeja putihnya sebatas siku, mengambil jam tangan rolex kesayangannya kemudian memakai itu di pergelangan kiri. Ia melangkahkan kaki ke arah ranjang. Dimana Luhan yang masih bersandar disana, dan mata tajam yang siap menangis.
"Kita harus ke Italia segera, Sayang. Kau tahu bahwa aku punya klien sangat penting disana. Sekretaris klienku menelpon tadi pagi saat kau masih tidur. Jadwal pertemuannya di majukan lebih awal, begitu mendadak. Malam ini jam delapan." Sehun mengusap air mata kesedihan yang jatuh di pipi Luhannya. Ia menangis karena kesal. "Maafkan aku, Hm." Kemudian membawa tubuh mungil Luhan yang masih lengket akan aroma gabungan percintaan mereka semalam dalam pelukan sayang.
Sehun tak masalah kalau kemejanya kotor akan jejak air mata Luhan. Ia masih bisa berganti pakaian untuk itu. Yang terpenting sekarang, membuat tangis kekasihnya mereda.
"Tapi aku ingin coklat paris, Hunnie." Luhan mengalungkan tangannya di pinggang Sehun. Wanita punya banyak cara bagaimana meluluhkan hati seorang pria. Dan, Luhan punya banyak panggilan manis untuk Sehun yang lagi-lagi di buat tak berkutik oleh rengekan manjanya.
Ah, si mungil manja ini.
"Hm, kau akan mendapatkan coklat parismu seberapa banyak yang kau inginkan." Sehun mengusap puncak kepala Luhan, mencium kilat bibir ranumnya yang memerah alami, "Asalkan berhenti menangis, Oke?." Di tatapnya hangat mata rusa yang berlingan itu.
"Bukan hanya coklat Paris. Tapi aku juga mau setengah lusin cup-cake coklat, susu coklat, kemudian pancake nutella untuk sarapan pagiku hari ini, Sehun." ucapnya manja, tegas, dan tak ingin di bantah.
Sehun terkejut di balik punggungnya, Ia melepas Luhan dari pelukannya dan meremat kedua bahu telanjang wanita itu. Matanya terbeliak, dan dahinya mengkerut tak percaya.
"Semuanya? Untuk sarapan pagi? Itu semua coklat, Sayang." Ujar Sehun takjub.
"Lantas?." Ujar Luhan sambil memutar bola matanya jengah.
"Kau—" Ia mengerjap tak yakin, "Tak takut gemuk? Biasanya wanita sangat sensitif dengan berat badan yang bertambah." Sehun berujar penuh kehati-hatian. Takut jika Luhan merasa tersinggung oleh kalimatnya.
"Lalu kalau aku gemuk kau tak akan mencintaiku lagi, begitu?! Kau akan mencari perempuan lain?!." Sungut Luhan penuh emosi dengan air mata yang kembali menggenang di pelupuk matanya.
Oh, Sehun menghela nafas takut. Kenapa Luhan tiba-tiba jadi sesensitif ini? Mungkin, pacarnya ini akan mendapat tamu bulanan sebentar lagi. Wanita biasanya seperti itu kan jika sudah memasuki masa-masa akan menstruasi?
"Tidak! Tidak! Bukan begitu, Sayang!." Sehun sampai sedikit berteriak dengan kepala menggeleng keras, "Aku tidak masalah kalau pun kau akan gemuk atau apapun itu. Aku mencintaimu murni karena perasaanku, bukan hanya sebatas aku begitu mengagumi dirimu. Aku hanya mencoba untuk membantu mengingatkanmu, Luhan. Tidak ada maksud lainnya. Jadi kumohon jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Lu. Jangan pernah." Sehun berucap tegas dan cepat.
Nafasnya bahkan memburu hebat. Ia mengatakan kalimat tersebut bersamaan dengan kekalutan yang tiba-tiba Ia rasakan. Takut Luhan akan salah paham terhadapnya. Sehun tidak bohong, Ia mencintai Luhan murni karena ketulusan. Bukan soal fisik atau keindahan yang lain.
"Maafkan aku, Lu. Maafkan aku." Kali ini suaranya terdengar lebih lirih.
Lelaki itu kembali membawa Luhan dalam dekap yang lebih erat. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali.
"Jangan katakan itu lagi, Hm? Aku menyayangimu, sangat menyayangimu."
Luhan mengangguk pelan, melepaskan pelukannya. Dan, akhirnya Sehun bisa melihat senyum manis kekasihnya itu lagi pagi ini.
"Jadi aku akan dapat apa yang aku inginkan?." Tanyanya manja.
"Iya, Sayang Ku." Sehun terkekeh geli, menghujani seluruh wajahnya dengan kecupan memabukkan, "Kau akan mendapatkan coklat-coklatmu segera. Pergilah mandi, berdandan yang cantik. Jangan pakai pakaian yang terlalu terbuka dan mencolok. Dan, semua yang kau inginkan akan tersedia dalam tiga puluh menit ke depan."
"Ayey! Terimakasih, Hun-ah!." Luhan menerjang Sehun sampai membuat lelaki itu jatuh tertidur di atas ranjang, Sehun sampai di buat takjub sekaligus ngeri.
Ngeri karena Ia bisa melihat pemandangan menakjubkan di atas matanya saat ini. Payudara Luhan yang menggantung di balik Bra-nya. "Aku mencintaimu." Ujar Luhan, dan melayangakan ciuman kilat di bibir tipisnya.
"Wow." Sehun berseru takjub, Ia menatap intens terhadap payudara Luhan di depan matanya, dan menatap lagi ke arah mata kekasihnya yang masih tersenyum tanpa menyadari jika lelaki tampannya saat ini tengah berpikiran mesum, "Boleh aku dapat susumu juga untuk sarapan kedua ku pagi ini?."
Luhan mengerjap polos, namun seperkian detik kemudian Ia langsung tersadar dan segera bangkit menjauh dari Sehun. Menyilangkan tangan di depan dada, dan menatap tajam ke arah kekasihnya.
"Dasar mesum!." Berteriak, lalu berlari dengan tergesa menuju kamar mandi. Meninggalkan Sehun yang kembali tertawa puas karena selalu berhasil menggodanya.
.
.
Menakjubkan rasanya ketika Sehun harus di buat terperangah oleh cara kecepatan Luhan dalam menghabiskan sarapan paginya yang amat sangat manis. Mereka punya jadwal penerbangan sore hari menuju kota Roma di Italia. Dan, sebelum menuju ke Bandara, Luhan menginginkan Sehun untuk mengajaknya pergi ke menara Eiffel. Meski itu hanya sekedar untuk melihat-lihat.
Pada awalnya Sehun menolak. Tidak akan sempat bagi mereka mengejar pesawat yang akan boarding pada pukul empat sore jika jam sepuluh pagi saja Luhan baru menyelesaikan mandi paginya. Sehun tidak ingin mengambil resiko ketinggalan pesawat lagi, mengingat pertemuannya dengan klien penting di Roma akan berlangsung pukul delapan malam.
Mereka berdebat dengan keinginan kekeuh Luhan yang harus melihat menara Eiffel dulu sebelum terbang. Dan, Sehun terus mengatakan bahwa itu tak memiliki cukup waktu karena Luhan belum menyentuh sarapan pagi menjelang siangnya yang bisa di katakan banyak.
Tetapi nyatanya, Sehun harus puas dalam keterdiaman saat ini. Kali ini Ia kembali kalah oleh argumentnya, dan membiarkan Luhan menang. Bagaimana Sehun bisa menjelaskan rasa kagumnya sekaligus takjub akan kecepatan Luhan yang menghabiskan segala coklat itu dalam waktu singkat?! Wanita itu hanya butuh sepuluh menit untuk melahap semuanya.
Pergi ke kamar mandi satu menit untuk membersihkan bibir dan jemarinya yang di lumeri oleh coklat manis, dan menata ulang make-upnya tak lebih dari tiga menit.
Singkatnya, Luhan hanya butuh lima belas menit untuk menyelesaikan semua urusannya. Dan, Sehun bangga bahwa Ia memang benar-benar beruntung memiliki kekasih sekaligus sekretaris yang cekatan dan cepat.
"Oh! Sehun-ah, bolehkah kita turun sebentar untuk mengambil foto?." Luhan mengungkapkan lagi keinginannya. Menatap sang kekasih tampan dengan deereyes andalannya, bersama senyuman manis terpatri di wajah.
Mereka sedang dalam perjalanan mengunjungi menara Eiffel, yang setelahnya akan langsung putar arah untuk pergi ke Bandara.
Sehun mendengus geli, kenapa Ia tak bisa menolak permintaan apapun dari wanita mungil kesayangannya ini? Dan Luhan kembali mendapat apa yang Ia inginkan.
Sehun menginstrupsi pada supir Taxi VIP pesanannya untuk berhenti sejenak di menara Eiffel dalam bahasa perancis yang fasih. Ia mengatakan itu seperti Ia berbicara dalam bahasa Korea. Terdengar jelas dan padat. Membuat si supir Taxi tersenyum dan menyanggupi keinginan dari customer pentingnya ini.
Luhan berteriak senang, dan mencium kilat pipi Sehun sebagai ungkapan bahwa Ia bahagia. Sehun tersenyum geli, Ia mengusak puncak kepala Luhan dan ikut tertular oleh euphoria sang kekasih.
Mobil berhenti sejenak di parkiran di pinggir jalan. Sehun keluar lebih dulu dan membuka kan pintu untuk kekasih cantiknya.
Angin musim panas bertiup cukup kencang, menggoyangkan bawahan mekar dari dress musim panas Luhan yang berwarna kuning cerah. Motifnya bunga-bunga kecil. Dengan surai kecoklatan kekasihnya yang bergelombang cantik. Menjadikan wanita itu terlihat sangat memukau dan indah.
Sehun tersenyum, memberi lengan kokohnya untuk Luhan kaitkan dengan lengan kurusnya. Mereka berjalan dengan luapan energi kebahagian, menuju ke tengah-tengah taman yang berada tepat di depan menara Eiffel.
"Akhirnya aku bisa melihat Eiffel secara langsung! Oh Tuhan." Luhan melepaskan kaca mata coklatnya, menaruhnya di puncak kepala. Mata rusanya menatap berbinar pada bangunan menara di hadapannya itu.
Langit yang sedang berawan juga cerah terkendali, menyempurnakan segalanya.
Luhan memandang Sehun di sampingnya. Tersenyum dan memeluk lelaki itu dengan pelukan erat.
"Sehun, kita harus mengambil gambar beberapa kali disini." Kepalanya mengadah, memandang penuh senyum pada Sehun yang terlihat semakin tampan di bawah sinar matahari.
"Haruskah?." Sehun mengusap puncak kepala Luhan.
"Harus!." Luhan mengangguk lucu, matanya membara oleh pancaran kesungguhan, "Setidaknya, kita harus punya kenangan di Paris sebelum pergi. Kita tidak tahu apakah kita bisa kembali lagi kesini bersama-sama, Sehun." kali ini tatapan matanya melemah. Suara Luhan yang awalnya terdengar ceria mendadak terasa menyakitkan untuk Sehun.
"Kita akan kembali lagi kesini suatu hari nanti. Bersama-sama." Sehun membalas tatapan Luhan dengan tajam dan suara yang tegas. Ia berusaha meyakinkan Luhan lewat tatapan matanya bahwa tidak perlu ada yang harus di khawatirkan untuk masa mendatang.
Luhan mengangguk pelan, dan tersenyum samar. Ia kemudian menghampiri seorang gadis Paris yang memiliki wajah cantik khas Eropa dengan rambut blonde berkilauan. Luhan berbicara dalam bahasa Inggrisnya, dan meminta bantuan pada si gadis lebih muda itu untuk mengambil fotonya dengan Sehun.
"Dia akan membantu kita mengambil foto, Sehun!." ujar Luhan antusias.
Ia menarik lengan kekasihnya dengan semangat. Mereka berdiri di tengah taman, dengan Eiffel sebagai latar belakangnya. Berposisi tepat di tengah-tengah taman hijau dan luas tersebut.
Gadis muda Eropa itu memposisikan ponsel Luhan di depan wajahnya. Memfokuskan pandangannya pada seluet bayangan Luhan dan Sehun di balik kamera.
"Jangan lupa untuk tersenyum, Sehun." Luhan bergumam tanpa menatap Sehun. Pandangannya sudah terfokus pada kamera belakang ponselnya.
Potret pertama di ambil. Memperlihatkan pose dimana Luhan yang memeluk pinggang Sehun dengan posesif juga lengan Sehun yang sama mengait mesra di pinggulnya. Wajah Luhan tersenyum dengan lebar hingga gigi putihnya terlihat indah. Mata rusanya menyipit cantik. Sedangkan Sehun hanya tersenyum seadanya.
Si gadis Eropa mengatakan bahwa Ia akan mengambil gambar yang kedua. Potret selanjutnya yang memperlihatkan Luhan yang tiba-tiba berjinjit dari samping dan mencium pipi kiri Sehun, dengan Sehun yang terkejut menatap kamera.
Terakhir potret ketiga. Gambar yang paling manis dan romantis. Dimana Sehun yang membalikkan tubuh Luhan tepat di hadapannya sehingga mereka kini berada dalam posisi menyampingi si gadis Eropa.
Memeluk lebih intim tubuh kekasihnya itu dan menghadiahkan Luhan ciuman mesra di bibirnya. Mereka saling memejamkan mata. Dan, Gadis Eropa itu memotret mereka sambil bersemu merah.
.
A Lot Like Love
.
"Ini sangat bagus, aku tidak bisa berhenti untuk melihat gambarnya, Sehun." Berkali-kali Luhan mengatakan hal yang sama. Memandang potret mereka di menara Eiffel tadi dengan begitu bahagia.
"Kita akan kesana lagi nanti. Mengambil gambar yang lebih banyak, Sayang." Sehun mengencangkan dengan lembut sabuk pengaman Luhan. Mereka sedang berada di pesawat saat ini, dan pemberitahuan dari Pramugari telah di umumkan bahwa lima menit lagi mereka akan mendarat di Bandar Udara Internasional Leonardo da Vinci, Roma - Italia.
"Benarkah?! Kita akan kembali ke Paris?!." Tanya Luhan antusias.
"Hm," Sehun mengangguk tegas, "Pegang kata-kataku, Oke."
"Oke." Luhan menyandarkan kepalanya di bahu Sehun. Matanya menerawang ke jendela pesawat. Melihat pemandangan sore dari kota bersejarah seperti Roma. Luhan siap untuk memikirkan agenda kerja dan liburan mereka sekaligus di kota ini. Memperoleh lebih banyak kenangan yang romantis.
Pesawat mendarat kemudian, hiruk pikuk ramainya Bandara adalah apa yang Luhan lihat saat ini di jendelanya. Beberapa menit setelahnya pesawat yang mereka tumpangi berhenti dengan mulus. Sehun melepaskan sabuk pengaman Luhan dan juga sabuknya sendiri.
Tak perlu waktu yang lama hingga mereka keluar dari pesawat. Beberapa pengawal pribadi Sehun sudah menunggu di bagian kedatangan, setelah Sehun dan Luhan berhasil melewati bagian keamanan di Imigrasi.
"Selamat sore, Direktur Oh." Pengawal membungkuk pada Sehun, "Selamat sore juga, Nona Lu." Dan, membungkuk pula pada Luhan.
Sehun mengangguk satu kali dan mengizinkan pengawalnya untuk membawa koper besar mereka. Bandar Udara Internasional Roma memang sangat ramai. Sehun bisa melihat sekeliling banyak orang asing dari berbagai ras di belahan dunia datang ke kota ini.
Ia menuntun jalan Luhan dengan perlahan. Mereka berada di jalur luar pintu kedatangan dan sedang melangkah di atas karpet merah yang membentang panjang. Pengawalnya telah membukakan pintu untuk mereka. Sehun dan Luhan mengambil tempatnya masing-masing di kursi penumpang.
Luhan tidak bisa berhenti berdecak kagum. Rasa bahagianya begitu penuh di dalam dirinya. Mata rusanya menerawang ke jalanan kota Roma yang ramai. Bangunan-bangunan tua yang khas akan arsitekturnya yang begitu terlihat aesthetic, sangat indah.
Pukul enam lima belas menit adalah waktu dimana Sehun sudah meletakkan kopernya di kamar Hotel VVIP mereka yang baru. Kamar mewah berukuran besar dengan desain minimalis yang hampir menyerupai apartement. Ada satu ruang kamar, ruang santai dengan televise LED, dan minibar di sudut ruangan.
Sehun membuka pintu kamar tidur, dan meletakkan koper besar mereka di dekat pintu. Luhan langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang besar disana. Mendesah lega ketika tubuhnya yang serasa kaku akibat terlalu banyak duduk, bisa mendapatkan kenyamanan kembali di tempat tidur.
Ia langsung rileks seketika.
Sehun datang menghampiri Luhan dan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang. Melepaskan heels yang membalut di pergelangan kaki kekasihnya, meletakkannya di lantai, dan memijat pelan pergelangan kaki itu.
Luhan kembali mendesah nyaman, matanya bahkan terpejam sepenuhnya.
"Entah kenapa, aku merasa bahwa akhir-akhir ini kau sering terlihat mudah lelah, Lu. Apa kau merasakannya?." Tanya Sehun pelan.
"Hm, Aku menyadarinya." Luhan membuka mata lemah dan menatap ke arah Sehun, "Mungkin perjalanan bisnismu kali ini hampir menguras seluruh energiku. Entahlah, aku juga tidak mengerti." Ia mengedikkan bahunya, melepas tatapannya dari Sehun dan menerawang ke langit-langit kamar mereka dengan dahi yang mengernyit.
Sehun ingin mengatakan hal lain. Menjelaskan mungkin saja Luhan sedang mengalami fase dimana Ia akan mendapatkan tamu bulanannya sebentar lagi. Tetapi keinginan itu hanya tertahan di dalam lidahnya, entah mengapa seperti ada yang menahan dirinya untuk tak mengungkapkan hal tersebut.
"Aku akan pergi mandi, dan menyiapkan air hangat untukmu setelahnya. Berendamlah sedikit lebih lama nanti, tubuhmu memerlukannya Luhan."
"Seharusnya aku yang menyiapkan air hangat untukmu mandi. Juga yang memijat kakimu, Sehun." gumam Luhan sedih. Ia bangkit dan bersandar di kepala ranjang. "Aku seperti merasa bukan kekasih yang sepenuhnya baik untukmu." desahnya kemudian.
"Kau yang terbaik untukku, Sayang." Sehun tersenyum menenangkan, mencium singkat dahi Luhan, "Aku akan mandi sekarang. Berbaringlah kembali selagi kau menungguku selesai."
Luhan mengangguk menyetujuinya. Sehun langsung beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Sepeninggalan lelaki itu membuat Luhan kembali berbaring dan menatap ke atas.
Menyelami pikirannya sendiri. Ia memang menyadari jika akhir-akhir ini tubuhnya terasa mudah lelah. Namun terkadang Ia bisa sangat bersemangat. Luhan tidak mengerti apa sebabnya, Ia pikir mungkin ini ada kaitannya dengan perjalanan bisnis mereka yang begitu melelahkan.
Atau mungkin karena tubunya terlalu sering diforsir untuk menerima ajakan bercinta dari Sehun. Dan, Luhan membenarkan opsi keduanya.
"Ah, Aku harus membatasinya mulai sekarang. Setidaknya sampai aku kembali lagi ke Korea." Ujarnya dengan menutup mata menggunakan satu lengannya.
Ia benar-benar lelah.
.
.
"Jadi wanita cantik di sebelah Anda ini bukan hanya sekedar sekretaris Anda kan? Tuan Oh?."
"Anda benar," Sehun tertawa sungkan, "Sekretaris sekaligus wanita yang begitu Saya cintai setengah mati." Sambungnya kemudian.
Kliennya ikut tertawa senang mendengarnya. Suara dentingan pisau yang beradu di atas piring berisi steak daging terdengar cukup menyenangkan. Klien itu menatap lagi ke arah Luhan.
Melihat pada sosok wanita dewasa yang paling cantik dan bersinar di antara mereka. Jamuan makan malam ini sedikit membuatnya canggung. Hingga Luhan hanya berusaha untuk tetap santai dalam menikmati makanannya kendati perutnya tengah bergejolak oleh rasa tak nyaman.
"Anda punya wanita yang sangat cantik." Ujar Klien itu lagi. Menatap Luhan dengan beribu kegaguman lain yang terpancar dari sorot matanya. Ia seorang lelaki Eropa dengan bahasa Korea yang cukup fasih.
Hingga Luhan dan Sehun bisa mendengar pujian itu dengan jelas.
Sehun terlihat sedikit mengeraskan rahangnya, namun Ia berusaha untuk menjaga matanya agar tetap terlihat bersahabat dalam bersitatap dengan sang Klien pentingnya ini. Jika saja Ia tidak memikirkan berapa keuntungan yang akan di dapatkan perusahaannya setelah perjanjian kerja sama mereka terjalin usai makan malam ini, maka sudah di pastikan bahwa Sehun akan menghajar wajahnya yang bule itu.
"Iya, Saya beruntung mendapatkannya." Sehun mengambil pergelangan tangan Luhan yang bebas, mengecupnya mesra dan jantan, "Apapun akan Saya pertaruhkan untuknya. Meski itu harus membunuh sekalipun, bagi siapa saja yang sudah membuatnya merasa tak nyaman." Kali ini Ia berucap tegas. Sarkasnya menusuk tepat di wajah si Klien.
Klien itu langsung berdehem kikuk dan melepaskan tatapan menyelamnya pada sosok Luhan. Ia menghabiskan potongan terakhir dagingnya dengan cepat lalu meneguk setengah gelas dari winenya yang masih tersisa.
Luhan meremas tangan Sehun yang menggenggamnya. Tersenyum sekilas padanya dengan mata yang seolah mengatakan bahwa Ia begitu berterimakasih telah di selamatkan dari pandangan intimidasi lelaki bule itu.
"Selamat untuk kerja sama kita," Mereka berdua berjabat tangan dengan hangat, "Saya harap ini akan sangat menguntungkan untuk perusahaan kita kedepannya."
"Tentu saja, tidak ada yang pernah bisa meragukan bagaimana untungnya menjalin kerja sama dengan perusahaan saya." Sehun berucap bangga dengan nada sedikit angkuh, tapi bibirnya tersenyum ramah, "Kita akan bertemu lagi di rapat perusahaan nanti."
Kliennya mengangguk puas. Jabatan tangan itu terlepas. Dan kedua orang berwibawa ini saling menepuk bahu satu sama lain. Sebagai salam perpisahan.
"Kalau begitu Saya undur diri, Tuan Oh. Sampai jumpa di Korea, dan terimakasih untuk makan malamnya. Sangat menikmati."
"Tentu." Sehun dan Luhan berdiri dari mejanya. Luhan sedikit membungkuk sopan ketika lelaki bule itu juga membungkuk dan tersenyum tipis padanya.
Kecanggungan di antara mereka mereda mana kala seluet bayangan si klien itu sudah menghilang di balik pintu restaurant. Luhan bisa mendesah lega dan menjatuhkan tubuhnya dengan nyaman di atas kursi yang tadi di dudukinya.
"Kau baik, Sayang?."
"Iya, tidak pernah merasa sebaik ini semenjak Klienmu angkat kaki dari sini." Luhan menggeram kesal, "Dia mengintimidasiku, Sehun." keluhnya.
"Aku tahu. Jika saja aku bisa memukul rahangnya maka sudah kulakukan sejak tadi. Tetapi, sial! Dia orang penting perusahaanku juga. Maafkan aku, hm." Sehun membawa tubuh mungil Luhan dalam pelukan hangat, "Masih pukul setengah sepuluh. Kau ingin jalan-jalan malam sebelum kembali ke Hotel?."
Wajah Luhan langsung cerah seketika. Matanya menatap berbinar pada Sehun. "Oh, Sungguh?! Roma di malam hari adalah apa yang saat ini aku inginkan, Sehun! Aku mau!."
"Baiklah," mereka berdua lekas berdiri dan Sehun langsung mengaitkan lengannya di pinggang Luhan, "Kita pergi." Luhan mengangguk menyetujuinya.
Malam ini Sehun mencoba untuk membawa mobilnya sendiri. Kendaraan roda empat dengan satu pintu dan body metallic yang berkilauan mewah. Ia menyewah satu unit Ferrari keluaran terbaru selama perjalanannya di Italia.
Luhan masuk setelah Sehun membukakan pintu untuknya, di susul lelaki itu kemudian di bangku kemudi. Mereka lekas beranjak dari sana. Luhan tidak bisa untuk menatap ke arah lain selain pemandangan di luar jendelanya. Diam-diam berdecak kagum akan kemewahan bangunan unik bahkan lampu jalanan kota yang menyorot indah dimana-mana.
Ini bukan pertama kalinya Ia pergi ke Negara ini. Sehun sering kesini sebelumnya, jadi menjelajahi setiap sudut Italia bukanlah hal sulit baginya. Matanya melirik ke arah Luhan dengan intens. Sejujurnya, jalan-jalan malam ini bukan hanya sekedar tawaran biasa. Sehun memiliki maksud tersendiri.
Ia punya kejutan besar yang akan mempertaruhkan seluruh rasa kegelisahan di hatinya. Namun, Ia sepenuhnya yakin bahwa apa yang akan di ucapkannya beberapa menit kedepan akan mendapatkan jawaban seperti yang di harapkannya.
Sambil terus melihat pemandangan di luar melalui kaca jendela mobil. Luhan di buat semakin takjub kala Sehun ternyata membawanya pergi ke sebuah pelabuhan besar yang ternyata menyimpan banyak kapal pesiar disana. Atau Luhan pernah membaca di Internet bahwa yang mereka datangi saat ini adalah pelabuhan kapal pesiar Civitavecchia.
Oh menakjubkan! Luhan berteriak dalam hati dan langsung menoleh ke arah kekasih tampannya yang sibuk menyetir.
"Kita akan naik kapal pesiar?! Benarkah, Sehun?!." cecar Luhan tak sabar. Ia sampai mengguncang bahu Sehun saking tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Iya, Sayang." Sehun menoleh ke arah Luhan, Ferrarinya sudah memasuki kawasan jembatan gantung untuk menuju kapal pesiar di depan mereka, "Tak apakan jika kita malam ini menginap di tengah laut?" tanyanya bergurau.
"Sehun-ah." Luhan serasa ingin menangis mendengarnya, Ia mencium kilat pipi kekasihnya dengan senyum haru yang tak bisa di buatnya menghilang, "Aku mencintaimu!." Teriaknya keras.
Sehun tertawa geli, Ia masuk ke bagian lahan parkir di dalam kapal. Kemewahan cahaya keemasan adalah yang pertama menyambut mereka kala Sehun telah menghentikan mobilnya.
"Ayo kita turun."
Luhan sampai tak sabar, bahkan Ia membuka pintunya sendiri. Keramahan penuh hormat dari beberapa pelayan menjadi yang pertama kali menyapa mereka. Bahkan seorang nahkoda yang berumur sekitar empat puluhan tahun –menurut perkiraan Luhan—juga ikut menyambut kedatangan mereka.
"Selamat malam, Mr. Oh."
"Selamat malam juga, Mr. Adam." Balas Sehun dengan sedikit membungkuk sopan.
"Kami merasa terhormat atas kedatangan Anda kemari. Hampir setengah tahun Anda tidak lagi mengunjungi Civitavecchia. Membuat Saya cukup merasa khawatir." Tawa berderai pelan setelahnya dari Mr. Adam.
"Korea sangat sibuk, Sir. Apa semuanya aman dan terkendali?."
"Sesuai dengan laporan yang Anda terima setiap bulannya, Director."
Luhan yang sejak tadi hanya diam menyimak perbincangan Sehun dengan lelaki tua ini mulai mengerutkan dahinya. Kejanggalan terjadi setelah kalimat pertama dari Mr. Adam terdengar. Kemudian, secara sengaja terpintas di pikirannya jika kapal pesiar dengan kemewahan melimpah ini adalah milik Sehun.
Luhan terperanjat dan mulai melempar tanya serta kecurigaan.
"Direktur?! Kau pasti berbohong kalau kapal pesiar ini adalah milikmu, Sehun." ujar Luhan setengah tak yakin.
"Sayangnya ini adalah kebenaran, Sayangku. Setidaknya aku memiliki satu dari sekian banyak kapal pesiar disini." Sehun menyeringai tampan.
"Luar biasa. Mulai sekarang aku akan menghitung berapa banyak uang yang kau miliki karena kekayaanmu."
"Tak terhingga, Babe." Sehun berbisik di telinga Luhan dan merangkul pinggangnya lagi.
Para pelayaan serta Mr. Adam memimpin langkah mereka di depan. Sehun juga terlibat perbincangan ringan dengan lelaki tua itu. Luhan hanya bisa membungkamkan pita suaranya, hatinya sudah di buat terperangah akan kemegahan kapal pesiar ini. Dan, semakin di buat terperangah mana kala Ia baru mengetahui fakta bahwa alat transportasi mewah ini nyatanya milik Sehun.
Sungguh di luar perkiraan Luhan. Sekarang Ia jadi penasaran bagaimana sejarah dari seluruh asset kekayaan ini yang di dapati oleh Sehun dari mendiang Kakek kemudian Ayahnya. Luhan harus bertanya padanya suatu hari nanti.
Mereka masuk ke dalam kapal dan menggunakan lift untuk mencapai lantai teratas. Beberapa pegawai asing yang berkerja di kapal pesiar ini mengenali Sehun dengan amat baik. Semuanya memberikan sanjungan hormat yang patuh.
Luhan dan Sehun terus di ajak berkeliling. Ini seperti ketika Ia mengikuti acara tour masa sekolahnya. Yang tentu saja guide mereka adalah si nahkoda tua tadi. Menyusuri setiap sudut dan tempat, melewati restaurant Italia dan lantai dansa yang menakjubkan. Berjalan lurus hingga mereka mencapai di bagian luar kapal ini.
Sebuah lantai dansa terbuka tanpa atap. Hanya ada langit malam cerah dengan taburan jutaan bintang dan satu bulan sabit di atas. Alunan music klasik dan dentingan piano serta gesekkan senar biola yang senantiasa mengalunkan nada-nada romantis terdengar begitu mengundang hasrat bagi siapa saja untuk berdansa.
Luhan di buat bergeming hingga kuku-kuku jarinya terasa membeku.
"Kami akan meninggalkan kalian."
"Terimakasih atas tour guide nya."
"Bayarannya dua kali lipat, Sir. Karena Anda membawa wanita sangat cantik malam ini." mata Mr. Adam mengerling jenaka kepada Luhan. Membuatnya bersemu cantik.
"Bisa di pertimbangkan." Sehun menjalin jabat tangan pada si nahkodanya. Saling melempar senyum dan berpisah.
Kapal sudah mulai menjauhi tepi pelabuhan. Mereka mulai bergerak untuk menyusuri laut hingga ke tengah.
Sehun menarik tangan Luhan dan membawanya ke tengah lantai dansa. Mereka saling mengaitkan kedua tangan mereka di tubuh pasangan masing-masing.
Sehun yang merengkuh pinggang Luhan posesif, dan Luhan yang mengalunkan tangannya erat di leher Sehun. Mereka melakukan tarian dansa yang intim dan mesra.
"Kau seharusnya sudah berhenti untuk mengerutkan dahimu, Sayang."
"Aku tidak bisa. Kau selalu membuatku terkejut oleh apapun."
"Benarkah? Ini belum ada apa-apanya." Sehun mencium gemas bibir ranum Luhan yang berpoleskan lipstick merah menantang.
"Maksudmu?." Luhan berujar bingung. Bahkan Ia tampak biasa-biasa saja meski Sehun sekali lagi mencium bibirnya kilat.
Ada jeda beberapa saat.
Sehun membenamkan kepalanya di celuk leher Luhan. Ia menghirup aroma mawar polos kekasihnya yang selalu berhasil membuat bagian selatannya menggeram.
"Aku punya kejutan lain." Sehun berbisik di telinga Luhan, "Dan, mungkin bisa membuatmu tidak bisa tidur semalaman." Ujarnya seduktif.
"Sekarang, lihatlah ke belakangmu, Luhan." Intrupsi Sehun lagi ketika Luhan sudah siap untuk bertanya kembali.
Luhan sudah membuka bibirnya untuk terus bertanya. Tetapi, jemari-jemari Sehun lebih cepat mendapatkan kedua bahunya kemudian membalikkan tubuhnya dengan pelan.
Semua tampak seperti mimpi ketika Luhan sudah menemukan tubuhnya yang telah membalik ke arah belakang punggungnya tadi. Semula yang tak ada apapun disana menyita perhatiannya secara penuh.
Tangannya bergetar dan terkepal satu di depan dada yang menyimpan letak jantungnya. Ia berdebar, merasakan kakinya tak lagi berpijak pada lantai dansa. Jiwanya seperti di bawa terbang ke puncak langit tertinggi. Tak lagi berada di dalam tubuhnya.
Oh, Tuhan! Tanpa bisa di tahan kedua mata rusanya mulai berkabut oleh air mata. Menciptakan pantulan layaknya kaca bening yang beriak disana. Kemudian, Luhan merasakan tetes demi tetes air mulai berlomba-lomba untuk turun dari matanya. Menuruni pipi tingginya dengan dramatis hingga jatuh menyentuh lantai di bawah heelsnya.
Luhan melihat semuanya. Sekumpulan karangan bunga mawar merah kesukaannya yang telah di bentuk huruf-huruf berbeda berjejer amat rapi di hadapannya. Karangan bunga sangat besar dengan tiang kayu kecoklatan mengkilat yeng berdiri kokoh.
Luhan membacanya lagi sekali agar Ia tak boleh keliru. Melihat dari sisi kiri ke kanan. Deretan huruf yang membentuk kalimat ungkapan pengakuan dan permintaan dari Sehun yang telah di cita-citakannya selama menjadi kekasih lelaki itu.
Will You Marry Me? Mrs. Lu? –itulah apa yang Luhan lihat saat ini.
"Sehun. . ." Luhan memanggil lelaki itu sambil terisak parah. Biarlah Ia terlihat sedikit berantakan dan kacau malam ini.
Memangnya siapa yang akan peduli? Ia sedang berada di puncak kebahagiaan tertinggi sekarang!
Lalu suara langkah kaki di belakangnya terdengar tegas. Sehun melangkahkan kakinya dan secara mengejutkan untuk pertama kalinya Ia berlutut di hadapan Luhan.
Sebuah kotak merah mungil berlapis kain beludru apa yang di keluarkan Sehun dari saku jasnya. Lelaki itu dengan senyuman menawan, membuka kotak merah tersebut dan sekarang Luhan bisa melihat dengan jelas apa yang ada di dalamnya.
Sebuah cincin emas putih berkilauan dengan satu mata berlian berukuran cukup besar terdapat di dalamnya. Secara langsung, pantulan cahaya lampu yang menyorot ke tengah pada mereka memantul dengan amat menakjubkan di mata berlian itu.
Menciptakan kilauan cahaya layaknya pelangi yang membias di mana-mana. Sangat Indah.
Sehun mengambil satu tangan kiri Luhan, menggenggamnya bak seorang Ratu. Senyumnya semakin luas kala itu, hingga mata elangnya hampir menyerupai bulan sabit di atas mereka.
"Selama ini aku terlalu bodoh untuk tak mengikuti kata hatiku. Orangtua kita telah menyepakati sebuah perjanjian. Aku menolak untuk bertemu denganmu dan hanya mengetahui sosokmu dari sebuah nama Luxiana Kim. Tanpa ku sadari bahwa selama ini sebenarnya Tuhan telah mempertemukan kita lebih awal."
Sehun menjeda dan kembali mengambil nafas panjang.
"Kau tidak terduga, bahkan kau memiliki keinginan yang sama untuk menolak perjodohan kita. Tetapi jika kita tidak memiliki keinginan saling menolak kala itu, tidak mungkin bukan kita akan bertemu kemudian menjalin kasih seperti ini?."
Luhan masih punya selera humor di sela tangisnya yang pecah. Ia tertawa sedikit dan membenarkan ucapan Sehun dengan anggukan kepala.
"Lalu, fakta mengejutkan aku dapatkan dari cerita Ibumu. Menyadari jika kau adalah malaikat baik hati yang pernah menolongku di masa kecil. Sungguh tak disangka bahwa Tuhan mempertemukan kita dengan cara seunik ini. Luhan, Aku sungguh mencintaimu setengah mati!." Sehun mengecup gemas pergelangan tangan wanitanya yang harum.
"Sehun—"
"Tidak. Aku belum selesai."
Luhan kembali mengatupkan bibirnya.
"Dan hari ini, aku berlutut di hadapanmu. Memohon dengan seluruh genap jiwaku, mempertaruhkan nyali dan kekhawatiran terbesarku. Bahwa, aku ingin kau membantuku untuk mewujudkan mimpi indah yang selama ini aku idamkan."
Sehun merunduk sekali dan menghela nafas gusar. Ia mengambil nafas panjang, mencoba untuk mengendalikan emosinya agar terlihat stabil. Alih-alih jantungnya tengah berpacu gila-gilaan.
Sehun mengangkat kepalanya, menatap mata berair Luhan dengan intens dan tegas.
"Sayangku. Maukah kau menerima lelaki tampan yang kau cintai ini untuk menjadi suamimu nanti? Maukah kau membangun keluarga kecil bersama-sama denganku? Selamanya? Kumohon cium aku jika kau menerima lamaranku ini." Sehun memohon dengan sarat. Ia khawatir, tetapi Ia yakin Luhan tak akan menolak lamarannya.
"Sehun-ah. . ."
"Jawab sekarang, Luhan!."
"Iya! Aku ingin menciummu! Sekarang dan selamanya, Oh Sehun." Luhan menarik tubuhnya turun dengan lekas. Melepas tangannya yang di genggam Sehun. Menangkup rahangnya dan menciumnya dengan panas.
Sehun sampai di buat kewalahan hingga pantatnya jatuh menampar lantai. Terjungkal dengan mata membeliak terkejut. Antara menahan rasa geli atau menahan rasa sakit karena Luhan terlalu mendorongnya keras.
Namun, hanya di seperkian detik. Setelah itu, Sehun langsung mengambil alih ciuman panas mereka. Menjadi pihak yang lebih dominant dengan menangkup rahang kekasihnya, menariknya perlahan hingga Sehun dan Luhan sama-sama telah kembali berdiri.
Sehun memindahkan satu tangannya untuk merengkuh pinggang Luhan dan menarik tubuhnya hingga mereka saling menempel tanpa celah satu sama lain. Satu tangannya lagi Ia letakkan di belakang leher Luhan, menekannya untuk semakin memperdalam ciuman panas mereka.
Udara malam yang dingin membuat keduanya merasakan gerah. Lumatan yang dalam, lidah yang saling membelit, dan pasokan oksigen yang semakin menghimpit paru-paru membuat mereka tak gentar untuk berhenti.
Teriakan dan siulan menggoda dari para penumpang kapal pesiar yang lain membuat keduanya sadar. Luhan pihak yang lebih dulu memukul bahu Sehun. Dan, Sehun langsung melepaskan pagutan mereka kala itu juga.
"Kau agresif sekali, Lu." Sehun terengah-engah dalam nafasnya. Kening mereka saling menempel.
"Aku tidak bisa menahan euphoria ini." Luhan menatap Sehun intens. Nafasnya juga sama kacaunya dengan Sehun.
"Itu artinya kau menerima lamaranku kan, Sayang?." Senyum Sehun sambil mengusap lembut pipi halus Luhan.
Luhan mengangguk mantap, air matanya kembali turun.
"Iya! Aku menerimanya Sehun. Aku ingin menikah denganmu! Aku ingin menjadi istrimu." Jawab Luhan sambil terisak ringan.
"Terimakasih." Sehun mengecup kening Luhan lama. Mengambil tangan kanan wanitanya, menyematkan cincin berlian yang telah Ia ambil dari kotak merah beludru miliknya di jemari manis Luhan.
Cincin itu masuk dengan begitu mulus di jemari Luhannya. Tanpa hanbatan, dan keraguan. Menyatu dengan sempurna hingga membuat jemari kekasihnya tampak semakin indah.
Bersamaan dengan itu, terdengarlah suatu bunyi petasan yang keras. Rupanya kembang api dengan cahaya warna-warninya telah ikut memeriahkan ungkapan lamaran Sehun pada Luhan malam ini. Terpecah di atas langit, di tengah laut malam. Memperindah segalanya.
Sehun tersenyum puas melihat cincinnya. Ia begitu bahagia hari ini.
"Aku mencintaimu, Selamanya." Sehun memeluk Luhan erat.
Tepuk tangan riuh dan sorak-sorai dari penumpang kapal yang lain tertujukan untuk mereka.
"Aku juga mencintaimu, Sehun-ah. Aku juga mencintaimu selamanya." Bisik Luhan dalam dekapannya. Menenggelamkan kepalanya di dada bidang Sehun yang mengguarkan aroma maskulin menenangkan. Memejamkan matanya dan tersenyum penuh rasa bahagia.
Ya Tuhan. Akhirnya mimpinya terwujud. Ia semakin tidak sabar menantikan kapan Ia benar-benar akan resmi menjadi istri dari seorang CEO tampan seperti Oh Sehun.
Lelaki yang mencintainya dengan tulus dan setengah mati.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Countinue
..
..
06 July 2018
A/N:
Hallo, Readersnim.
Setelah memantau Voting dari kalian kemarin, dan hasilnya ada tiga FF yang seri. Aku putuskan buat UP CH 10 dari A Lot Like Love lebih dulu ya. ^^
Maaf sebelumnya, buat pembaca aku yang juga follow aku di Instagram. Terus yang udah aku kasih Spoiler lewat Snapgram sebelumnya. Maaf belum aku sempatkan Spoiler itu untuk masuk di CH 10 ini ya. Soalnya bakal panjang banget nanti. Ini aja udah tembus 7.6K lebih wordsnya. /ehehedeepbow
Spoiler yang kemarin aku kasih di CH 11 nanti aja ya. Sekalian muncul cast-cast yang lain. Ini full Hunhan duluuu, Okey.
Author sampai senyum nahan gemes sendiri pas ngetik moment Hunhan disini! Ugh! Gemes terus sweets abis! Mana Luhan udah di lamar lagi sama Sehun! Gak jadi mau nikung kan! /eh?
Ini mereka udah kayak bulan madu aja wkwkwk.
Habis ini antara Complete atau Crestfallen atau Be Beautiful to You ya yang di UP. Sampai nanti di Chapter selanjutnya!
Big Love, Thanks. ^^
