FF ini milik TaniaMs, saya hanya meremake dari cerita aslinya.

Cast:

Cho Kyuhyun

Choi Siwon

Etc.

Happy reading

.

.

"Happy Monday!" seru Kyuhyun begitu dia memasuki ruang makan. Dimana sudah ada Mr. Cho, Mrs. Cho juga Donghae. Ini adalah minggu pertamanya setelah mengajar dan dia benar-benar harus menikmatinya baik-baik.

"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Mr. Cho, begitu Kyuhyun sudah duduk disamping Mrs. Cho, dan menerima sodoran setangkup roti.

"Menyenangkan," ujar Kyuhyun disertai senyuman.

Mrs. Cho tersenyum sambil mengusap kepala Kyuhyun. "Kau benar-benar suka menjadi pendidik, hm?"

Kyuhyun mengangguk cepat. Tidak dapat menjawab karena mulutnya penuh dengan roti.

"Bukankah hari ini ulang tahun Siwon?" Donghae menatap Kyuhyun meminta persetujuan.

Kyuhyun menyesap jus jeruknya sebelum berkata, "Ya. Dan jangan lupa, undangan makan malam Choi ahjumma. Jam lima sore."

Mrs. Cho berdecak. "Umma hampir saja melupakannya." Dia lalu menatap Mr. Cho. "Malam ini kau tidak ada acara lain, kan?"

Mr. Cho menggeleng. "Hanya saja siang ini ada acara penggalangan dana."

Donghae menyahut, "Penggalangan dana? Yang appa sebutkan tempo hari?"

Mrs. Cho langsung menatap putranya tajam. "Tidak ada alasan untuk tidak ikut, Hae," ucapnya tegas. "Umma sudah bosan mendengar semua alasanmu."

Donghae bersungut. "Kenapa kalian tidak membawa Kyuhyun? Dia perlu dibawa dalam acara itu sesekali."

Mrs. Cho melirik Kyuhyun yang sudah melotot tajam pada Donghae. "Dia bukan pebisnis, kenapa harus membawanya?"

Jadilah siang itu Kyuhyun menghabiskan waktunya dengan membersihkan lemari games dan novelnya. Bagaimanapun, koleksinya itu selalu mendapat perhatian nomor satu. Tidak peduli apapun yang terjadi, dia harus membersihkannya itu setiap hari Minggu. Atau paling tidak sekali dalam seminggu. Setelah membersihkan dengan kemoceng, dia akan memindahkan posisi-posisi itu dari tempatnya semula.

Kalau tidak membersihkan koleksinya itu, Kyuhyun hanya akan berguling-guling tidak jelas di atas tempat tidur. Atau mungkin pergi keluar dengan Siwon. Lagipula, dia memang tidak pernah ikut ke acara amal seperti penggalangan dana. Biasanya dia hanya akan pergi pada acara-acara makan malam, sebagai pasangan Donghae. Kakaknya itu tidak pernah membawa yeoja lain ke acara makan malam selain dirinya. Namja itu tipikal orang yang tidak ingin masalah pribadinya di bahas. Merupakan hal sulit karena sejak setahun belakangan ini, Donghae sering muncul dalam majalah bisnis.

Kyuhyun baru saja menghempaskan tubuhnya di tempat tidur ketika ponselnya berdering keras. Dia sudah sangat yakin kalau yang menelepon adalah Siwon, karena itu ketika melihat nama Changmin yang terpampang di layar ponselnya, dia merasa sedikit kecewa. Mungkin karena seharian ini dia belum berkomunikasi dengan namja itu.

"Yoboseo Changmin!"

"Yoboseo Kyu saem!"

Kyuhyun mengerutkan kening. Menjauhkan ponselnya dari telinga dan melihat layarnya baik-baik. Memang nama Changmin yang tertulis di layar ponselnya, tapi kenapa dia mendengar suara anak kecil? Seperti suara... "Jiyool?" tanya Kyuhyun tak yakin.

"Aku lebih suka di panggil Yoolie, sebenarnya."

"Oh." Kyuhyun bingung masih harus berkomentar apa. "Waeyo?"

"Yoolie ingin mengajak saem menonton film siang ini. Menonton bersama Changmin samchon tidak menyenangkan sama sekali. Otte?" ucap Jiyol semangat.

"Mwo?"

"Annyeong Kyu. Ini aku, Changmin." Suara diseberang sana berubah menjadi suara namja dewasa yang tak lain adalah Changmin. "Aku juga tidak mengerti kenapa Yoolie mengajakmu. Tak usah kau pikirkan perkataannya. Kau tahu anak kecil, kan? Mereka suka sekali mengatakan apapun yang terlintas dipikiran mereka."

Kyuhyun mengangguk, meskipun dia tahu Changmin tidak melihatnya. "Aku tidak keberatan sama sekali."

"Mwo?" tanya Changmin terkejut.

"Ajakan Yoolie, aku tidak keberatan," jawab Kyuhyun. "Jadi, jam berapa filmnya di putar?"

Terdengar suara samar selama beberapa detik, sebelum Changmin berkata, "Yoolie bilang sekitar pukul tiga. Kau mau pergi bersama?"

"Terima kasih atas tawaranmu, tapi aku akan membawa mobil," tolak Kyuhyun halus.

"Baiklah, aku akan mengirimkan alamat bioskopnya padamu. Kita berjumpa disana, oke?"

oOoOoOoOo

Tepat ketika jam menunjukkan pukul setengah lima sore, film yang dia tonton bersama Jiyool juga Changmin berakhir. Film yang mereka tonton menyenangkan. Jiyool yang duduk di antaranya dan Changmin tidak pernah berhenti mengomentari setiap adegan dalam film tersebut. Yeah, film itu memang film anak-anak.

"Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pulang?" tawar Changmin ketika mereka sudah keluar dari bioskop.

Kyuhyun menatap jam tangannya dan tersenyum minta maaf pada kedua orang tersebut. "Mian, tapi aku harus pulang."

"Ayolah, Kyu saenim. Kita makan bersama, ya?" bujuk Yoolie dengan wajah menggemaskannya.

Kyuhyun menggeleng dan mengusap puncak kepala bocah kecil itu. "Aku benar-benar harus pulang. Aku ada acara yang sangat penting."

"Baiklah, tidak masalah," ujar Changmin. Namja itu lalu menatap Yoolie yang sudah menunjukkan wajah sendu. "Kyu saem tidak bisa Yoolie, dia harus datang ke acara temannya. Kalau dia tidak datang, temannya akan sedih." Changmin memberikan penjelasan dengan lancar.

"Bukankah kalau kita sudah berjanji kita harus menepatinya?" tambah Kyuhyun.

Akhirnya dengan wajah tidak rela Yoolie mengangguk. "Baiklah. Sampai jumpa Kyu saenim."

Begitu keluar dari lapangan parkir bioskop dan sudah membaur dengan kendaraan lainnya di jalan utama Seoul, Kyuhyun menginjak pedal gasnya kuat-kuat. Sudah hampir 16.45 dan dia tidak boleh terlambat sama sekali ke tempat itu. Kalau dia terlambat, tempat yang di tujunya sudah akan tutup, dan dia akan mati saat itu juga.

Kyuhyun nyaris membanting pintu mobilnya ketika dia tiba di Lotte mall. Dia berlari menuju lift yang akan mengantarnya menuju lantai 5, dan menghentak-hentakkan kakinya dengan tidak sabar ketika lift itu sedang bergerak menuju tujuannya.

Lotte mall sore itu terlihat ramai. Kebanyakan orang-orang berbondong-bondong menuju tempat makan, sebagian remaja sibuk di arena bermain. Dan anak-anak yang datang bersama orang tuanya asyik berlarian. Di tengah-tengah lantai satu ada pertunjukkan Band, dan orang-orang yang ingin melihatnya bisa berdiri pada pagar pembatas yang ada disetiap lantai.

"Aku ingin mengambil pesananku," ujar Kyuhyun ketika dia tiba di toko yang di maksud.

"Bisa kulihat bukti pembayarannya?" tanya pegawai yeoja berambut hitam tersebut.

Kyuhyun membuka dompet dan menyerahkan bukti yang diminta oleh pegawai toko.

"Oh, nona Cho, di sini ditulis bahwa kau bisa mengambil pesananmu pada pukul 5.30 pm."

Kyuhyun terlonjak. "Mwo?"

Pegawai itu menatap Kyuhyun dengan sabar. Dia menyodorkan kertas yang diberikan Kyuhyun, dan menunjuk pada sebuah sisi. "Kau bisa mengambil pesananmu pada jam 5.30 atau bahkan setelahnya. Tapi tidak bisa sebelum jam itu."

Kyuhyun masih mengerutkan kening. "Bukankah kalian tutup pukul 5?"

"Kami tutup pukul 10 malam, Nona."

Kyuhyun merasakan semua darah dalam tubuhnya berkumpul di pipi, hingga dia yakin pipinya sangat merah. Astaga! Dia mendapat info dari mana sampai-sampai dia sangat yakin kalau toko ini akan tutup pukul lima? Dan tadi pegawai itu bilang... "Aku baru bisa mengambil pesananku pukul 5.30?"

Pegawai itu mengangguk. "Benar nona."

Kyuhyun mendesah putus asa. Dia melihat jam tangannya, dan ingin mengerang saat itu juga ketika jam masih menunjukkan pukul 5.05. "Baiklah. Aku akan datang nanti."

Kyuhyun akhirnya menuju pagar pembatas yang ada di tengah-tengah mall itu, hingga dia bisa menyaksikan pertunjukan band di bawah. Meskipun dia tidak bisa melihat yang menyanyi, setidaknya dia tetap bisa mendengarkan lagu apa yang di bawakan.

Kyuhyun merasakan ponselnya yang ada di dalam tas sandangnya bergetar. Dengan malas, dia mengeluarkan ponselnya dan tidak terkejut ketika orang yang meneleponnya adalah Ibunya. Sudah jam lima lebih sepuluh menit, dan jelas dia terlambat ke acara perayaan ulang tahun Siwon. Terlambat bukan hal baru lagi baginya, dan seharusnya Ibunya tidak perlu cemas. Siwon pasti akan membakar perusahaannya kalau dia bisa datang tepat waktu.

"Aku masih di jalan, Umma. Terjebak macet," ujar Kyuhyun lebih cepat, sebelum Mrs. Cho memulai omelannya.

"Terjebak macet? Kau tidak akan terjebak macet jika berangkat dari rumah. Jalur manapun yang kau lewati, kau tidak akan terkena macet sama sekali."

Kyuhyun menggaruk tengkuknya salah tingkah. Habis sudah hidupnya. Memang tidak ada jalur yang dia lewati akan terkena macet. Kalau dia dari rumah. Masalahnya sekarang adalah, dia tidak di rumah sama sekali. Dia ada di pusat kemacetan.

"Yang penting, aku akan datang ke sana. Umma tidak perlu cemas," ujar Kyuhyun akhirnya. Tidak ingin memperpanjang masalah.

"Kalau umma masih belum melihat batang hidungmu sepuluh menit lagi, jangan marah kalau mobilmu umma sita."

"Tapi Umma—"

Tut...Tut...Tut...

oOoOoOoOo

Kyuhyun hanya bisa menunjukkan cengiran pasrah ketika dia tiba di Old Ebbitt Grill pada pukul 06.45 pm dan semua orang di meja itu menatapnya. Nyaris terlambat dua jam. Dan dia patut bersyukur karena semua orang belum pulang sama sekali.

"Maaf, aku benar-benar terlambat. Aku ada urusan, jadi... terjebak macet. Maafkan aku."

"Kau tahu, akan lebih baik kalau kau tidak datang," sambar Mrs. Cho kesal.

Mrs. Choi mengibaskan tangan sambil tersenyum hangat. "Tidak masalah, Mrs. Cho. Semua orang punya urusannya masing-masing."

Kyuhyun berpelukan dengan Mrs. Choi, Mr. Choi, juga Jiwon. Dan saling bersalaman singkat dengan suami Jiwon, Jason. Dia sempat mencium pipi Sunny, sebelum akhirnya megambil tempat duduk di samping Donghae. Dia mengerutkan kening ketika menyadari tidak ada Siwon di meja itu.

"Dimana Siwon?" tanya Kyuhyun, setelah menelan sepotong kue yang diambilnya dari piring Donghae.

"Ke toilet," jawab Jiwon. "Kekasihmu itu uring-uringan karena kau tidak kunjung datang."

Kyuhyun membulatkan mulut membentuk huruf O. "Aku akan menyusulnya. Dia pasti sangat kesal." Diapun bangkit dari duduknya, sebelum kembali berkata, "Dan Jiwon noona, dia bukan kekasihku. Mengerti?"

Kyuhyun menunggu di depan pintu toilet namja dengan tidak sabar. Beberapa namja yang baru keluar dari bilik tersebut menatapnya dengan berbagai ekspresi. Heran, terkejut, bahkan sampai menggoda. Kyuhyun balas memelototi namja muda yang menatapnya dengan tatapan menggoda tersebut. Dia yakin kalau umur namja itu bahkan belum genap 17 tahun.

Dia baru saja ingin memutuskan untuk masuk ke dalam toilet itu, ketika Siwon keluar dari sana dan tidak menunjukkan ekspresi apapun saat melihatnya. Untung saja namja itu segera keluar, karena kalau tidak, dia pasti akan menjadi gila karena masuk ke toilet namja.

"Hei, kau tidak melihatku?" tanya Kyuhyun saat Siwon berlalu begitu saja.

Mereka berhenti di ujung lorong, yang akan membawa mereka kembali ke ruangan makan restoran tersebut.

Siwon menatap jam tangannya, lalu beralih padanya dengan tatapan datar. "Akan lebih baik kalau kau mengirimkanku pesan, yang isinya mengatakan kalau kau tidak bisa datang."

"Kenapa? Setidaknya aku berusaha datang, yah meskipun nyaris terlambat dua jam." Kyuhyun menunjukkan cengirannya berharap wajah dingin Siwon memudar.

Siwon menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan pola pikir yeoja di hadapannya. Dia baru akan melangkah ketika Kyuhyun menahan pergelangan tangannya.

"Kau benar-benar marah?" tanya Kyuhyun cemas. "Aku lupa waktu dan seharusnya kau mencoba meneleponku, jadi aku bisa datang lebih awal."

Siwon menarik tangannya dengan kasar, dan mendengus keras. "Kenapa aku harus meneleponmu? Seharusnya kau sadar diri, dan datang tepat waktu. Kau bukan bocah berusia lima tahun, kan?" Siwon mencibir dengan sinis. "Dan lupa waktu katamu? Ah, kau pasti sangat menikmati film yang kau tonton dengan Changmin, kan? Apa sesudahnya kalian pergi makan malam? dan saat kau melihat jam kau baru ingat kalau kau harus ke perayaan ulang tahunku?"

Kyuhyun sukses tidak bisa berkutik. "Bagaimana—"

"Kenapa aku bisa tahu? Yah, kebetulan saja kita menonton di tempat yang sama, dan aku melihat kalian berdua." Siwon kembali berbicara ketika melihat Kyuhyun hendak membuka mulutnya. "Kenapa aku tidak memanggilmu dan mengajakmu pergi bersama? seperti yang tadi kukatakan, kau bukan bocah lima tahun yang harus diingatkan segala sesuatu yang harus kau lakukan."

Setelah mengucapkan semua hal itu, Siwon langsung meninggalkannya. Membuatnya benar-benar terkejut karena Siwon tidak pernah semarah itu padanya. Buru-buru dia mengejar Siwon yang pasti akan menuju meja mereka. Dia kembali tercengang saat tidak mendapati Siwon disana.

"Dimana Siwon?" tanya Kyuhyun panik.

"Pulang. Dia bilang dia akan merayakan ulang tahunnya dengan teman-temannya," jawab Mrs. Choi.

"Kalian bertengkar? Wajahnya menyeramkan sekali." Jason buka suara.

"Akan lebih baik kalau kalian segera berbaikan. Moodnya yang buruk bisa bertahan selama beberapa hari." Jiwon menambahkan.

Tanpa pamit, Kyuhyun segera berlari keluar. Dan dewi fortuna sedang berpihak kepadanya, karena Siwon masih menunggu mobilnya di depan lobi. Karena kalau namja itu sudah pergi, dia jamin, Siwon tidak akan mengangkat telepon darinya.

"Siwon, aku minta maaf," ujar Kyuhyun sambil mengatur napasnya.

Siwon mengangkat sebelah alisnya. "Mana kadoku?"

Kyuhyun meringis. "Itu—"

Wajah Siwon semakin muram. "Ingat ucapanku tempo hari? Kalau kau tidak membawa kado, aku tidak akan bicara denganmu satu bulan kedepan. Atau hingga musim panas tiba."

"Mwo?"

Siwon segera masuk ke mobilnya begitu valet membukakan pintu mobil untuk Siwon. "Omong-omong, semua barang-barangmu yang ada di apartemenku akan aku kemasi. Paling tidak, dalam tiga hari kedepan kau sudah menerimanya."

"MWO?!"

***TBC***

Thanks for R&R ^_^